Kamis, 09 Juli 2015

Membangun Harapan lewat Bangau Kertas

Hari ini adalah hari pertama tahun ajaran baru 2015/2016. Hari pertama selalu menentukan dalam berbagai kegiatan. Di manapun, hari pertama selalu membawa harapan-harapan untuk waktu ke depan. Itulah yang terjadi di Ruang Podjok. Suasana Ruang Podjok di tahun ini tampaknya ingin menyiratkan harapan itu. Tahun ini, Ruang Podjok dihiasi dengan berbagai lipatan kertas berbentuk bangau. Lipatan kertas bangau itu digantungkan dengan tali di plafon dan kipas angin. Bulan Mei lalu, beberapa teman membuat hiasan-hiasan ini. Kebetulan, Penjaga Podjok beberapa kali menemani prosesnya. Setelah dipasang, hiasan-hiasan bangau ini terasa sangat memeriahkan Ruang Podjok.

Saat memandang hiasan-hiasan ini, Penjaga Podjok sempat teringat pada sebuah kisah dari Jepang. Setelah melakukan penelusuran secara daring, Penjaga Podjok menemukan kisah ini:

“Seribu Bangau Kertas (Senbazuru) adalah kumpulan origami berbentuk bangau (tsuru) yang dirangkai bersama dengan benang. Legenda Jepang menyatakan bahwa siapapun yang melipat kertas-kertas menjadi seribu bangau maka satu permohonannya akan dikabulkan, misalnya memperoleh umur yang panjang atau sembuh dari penyakit. Rakyat Jepang percaya bahwa bangau adalah salah satu makhluk suci yang konon dapat hidup selama ribuan tahun. Di Jepang, ada kisah turun temurun bahwa melipat seribu bangau kertas dapat mengabulkan permohonan seseorang. Ini membuatnya menjadi hadiah spesial bagi keluarga dan teman. Secara tradisional, seribu bangau kertas diberikan sebagai hadiah pernikahan oleh pihak ayah, yang mengharapkan kebahagiaan dan kemakmuran jangka panjang kepada anak dan menantunya. Seribu bangau kertas juga dapat diberikan kepada bayi yang baru lahir agar berumur panjang dan sehat sentosa. Menggantung seribu bangau kertas di rumah juga dipercaya sebagai jimat pembawa keberuntungan. 
Seribu bangau kertas menjadi simbol perdamaian dunia melalui kisah Sadako Sasaki, seorang gadis kecil berusia 12,5 tahun. Di pagi yang kelabu, 25 Oktober 1955, ia sedang berjuang untuk tetap hidup. Tubuhnya kepayahan. Kakinya bengkak dan berwarna ungu. Ia sempat menelan sesuap nasi yang dicampur teh panas. “Rasanya enak,” kata dia sebelum menghembuskan nafas penghabisan. Penderitaannya berawal dari tragedi besar yang mengguncang dunia. 6 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom 'Little Boy' di Hiroshima, Jepang dan membunuh 140.000 orang di kota itu. Sadako yang masih berusia 2 tahun berada dalam jarak 1 mil dari titik jatuhnya bom di dekat Jembatan Misasa. Ia dan seluruh keluarganya berhasil lari. Neneknya yang kembali ke rumah untuk mengambil barang yang tertinggal tak pernah diketahui nasibnya. Seusai perang, Sadako menjalani masa kecil yang relatif normal meski serba kekurangan. Ia seorang gadis yang ceria juga pelari unggul. Berkat kemampuannya itu, kelasnya langganan juara lari estafet. 
Suatu hari, di tengah perlombaan, Sadako terjatuh. Usianya saat itu 11 tahun. Hari demi hari, tubuhnya makin lunglai. Pada November 1954, leher dan bagian belakang telinga Sadako membengkak. Dua bulan kemudian bercak ungu bermunculan di kedua kakinya. Sadako dilarikan ke rumah sakit pada Februari 1955. Dokter mendiagnosis penyakit leukemia, kanker darah seperti yang banyak diderita para korban bom atom. Orangtuanya diberi tahu bahwa putri kesayangan mereka hanya punya waktu kurang dari setahun. “Aku dan suamiku menangis di dekat Sadako yang sedang tertidur tenang,” demikian isi surat yang ditulis sang ibu, Fujiko Sasaki pada 1956 seperti dimuat situs The Global Human. Menghadapi penyakit Sadako, orangtuanya menulis, “Jika di dunia ada obat untuk menyembuhkan penyakitnya, aku akan pinjam uang, 10 juta yen sekalipun. Atau, jika mungkin, biarkan aku mati untuknya...” 
Suatu hari, seorang sahabat Sadako, Chizuko Hamamoto datang menjenguk dan bercerita tentang sebuah legenda. Konon, seseorang yang bisa melipat 1000 bangau kertas akan dikabulkan permintaannya. Bangau adalah simbol panjang umur. “Kau ingat legenda yang menyebut jika kau melipat 1.000 bangau kertas, para Dewa akan mengabulkan keinginanmu?” kata dia. Hamamoto lalu melipat selembar kertas berwarna emas menjadi sebuah bangau kertas. Lipatannya sangat bagus. Ia memberikannya ke Sadako. “Ini milikmu yang pertama.” Sadako tak punya kertas lipat karena harganya sangat mahal saat itu. Jadi, ia menggunakan apapun, koran, bungkus obat, juga kertas pelapis bingkisan semoga cepat sembuh. Ia melipat dan terus melipat. 
Masahiro Sasaki, kakak Sadako, mengatakan bahwa origami adalah semacam pelarian Sadako yang tahu soal usianya yang tak bakal panjang tapi memilih diam dan berpura-pura tak tahu di depan keluarganya. “Kupikir, melipat bangau membantunya mengalihkan pikiran dari kesedihan, penderitaan, dan rasa sakit...Itu bukan hanya sekedar lipatan kertas, namun penuh dengan seluruh emosi Sadako,” kata dia seperti dimuat Japan Times. Dalam menyelesaikan lipatan bangaunya, Sadako hanya bisa setengah jalan saat maut menjemputnya. Namun, hingga kematiannya, gadis kecil itu tak pernah menyerah, tabah, dan bersikap ceria hingga akhir hidupnya. Masahiro mengatakan, dengan bantuan keluarga dan teman, Sadako berhasil menyelesaikan 1.000 bangau kertas. Sadako mencoba membuat seribu bangau kertas, namun hanya mampu mencapai jumlah 644 sebelum meninggal. Teman-temannya pun melanjutkan impiannya. Setelah genap seribu, mereka menguburkan semuanya bersamanya. 
Teman-teman sekelas Sadako yang sangat terpukul karena kepergiannya menggalang dana untuk mendirikan peringatan untuk Sadako dan anak-anak lain yang tewas akibat bom atom. Mereka menulis dan mempublikasikan buku tentang Sadako. Butuh tiga tahun bagi mereka untuk mendapatkan cukup dana pembangunan Children's Peace Monument di Peace Memorial Park, Hiroshima. Ada patung Sadako di puncak monumen. Di bawahnya terdapat plakat berisi pesan dari anak-anak bertuliskan, “Kore wa bokura no sakebi desu. Kore wa watashitachi no inori desu. Sekai ni heiwa o kizuku tame no - Ini adalah seruan kami. Ini adalah doa kami. Untuk membangun perdamaian di dunia.” Setiap tahun, ribuan anak-anak datang ke sana, meninggalkan lipatan origami burung bangau untuk mengenang jiwa-jiwa kecil yang tewas akibat bom atom. Patung Sadako juga terdapat di Taman Perdamaian di Seattle. Ia menjadi simbol dampak perang nuklir. 
Setelah kematiannya, sang ayah membagikan hampir semua bangau kertas ke orang-orang yang datang dan ingin mendengar kisah Sadako. Setelah dibagikan, hanya lima yang tersisa. Alih-alih menyimpannya, Masahiro Sasaki memutuskan untuk menyumbangkan sisa lipatan bangau itu ke beberapa tempat di dunia. Bangau pertama pada tahun 2010 disumbangkan ke Tribute WTC Visitor Center di New York, yang didirikan untuk memperingati orang-orang yang tewas dalam serangan teror 11 September 2001. Satu bangau lagi diberkan kepada museum perdamaian di Austria. Bangau kertas ketiga, dengan bantuan Clifton Truman Daniel, cucu tertua Presiden AS Harry Truman, yang memerintahkan pemboman di Hiroshima dan Nagasaki, diletakkan di USS Arizona Memorial di Pearl Harbor.”


Mendengar kisah ini, Penjaga Podjok semakin diteguhkan. Ternyata, secara kebetulan, teman-teman yang menyemarakkan Ruang Podjok telah memberikan harapan baik di tahun pelajaran ini. Semoga harapan-harapan baik yang disimbolkan melalui lipatan bangau-bangau kertas ini semakin membuat kegiatan dan aktivitas di Ruang Podjok semakin baik. Tuhan memberkati kegiatan dan aktivitas yang akan dilaksanakan di Ruang Podjok.

Sumber Pustaka:
http://news.liputan6.com/read/2124194/25-10-1955-kisah-tragis-gadis-sadako-dan-1000-bangau-kertas
https://id.wikipedia.org/wiki/Seribu_bangau_kertas


Rabu, 24 Juni 2015

Tiada Syukur Tanpa Peduli, Sekelumit Catatan tentang Paska

Perayaan Paska Bersama di SMK Negeri 3 Surakarta sudah beberapa waktu berlalu. Seiring berjalannya Waktu, Cicilya Oni Yosyana Ochtifani, Ketua Panitia Paska tahun ini, mencoba menggoreskan ingatannya untuk menemukan pelajaran-pelajaran hidup yang diambil dari Perayaan Paska tahun ini...

“Pelayanan sebagai ketua panitia dalam suatu kepengurusan bukanlah suatu tugas yang mudah karena harus dapat mempersatukan semua orang untuk saling membantu demi kelangsungan dan keberhasilan sebuah acara yang direncanakan. Benar-benar sebuah pengalaman besar bagi saya dilibatkan sebagai ketua pelaksana Perayaan Paska tahun ini. Tidak mudah mempersatukan teman-teman dalam sebuah panitia karena dalam sebuah kepanitiaan pasti ada yang cocok dan ada yang tidak cocok. Barangkali, ada beberapa teman yang tidak cocok dengan cara kerja saya. Dalam kepanitiaan ini, saya bekerja agak santai, tidak terlalu tegas, dan banyak mengerem perkataan. Ini memang saya lakukan untuk mengurangi konflik antar panitia. Jujur saja, saya senang ketika saya bisa membuat kejutan, terlebih ketika semua orang berpikir bahwa pekerjaan belum selesai padahal pekerjaan itu sudah dalam kendali saya.
Berbagai dinamika yang dialami oleh panitia akhirnya membawa kami kepada tujuan akhir yang membuat kami cukup lelah. Ada banyak faktor yang membuat kami lelah: bolak-balik merevisi proposal, komentar tentang penggunaan dana, komentar tentang susunan panitia, dan sebagainya. Bagaimana saya bisa bertahan untuk membela kegiatan kerohanian ini? Memang sempat terpikir bahwa kegiatan Kerohanian Katolik dan Kristen ini jarang mendapat dukungan karena memang minoritas. Namun, meskipun kecil, kami tetap akan bertahan dan berjuang. Tujuan saya hanya satu, yaitu membuat Kerohanian Katolik dan Kristen tetap hidup di tengah keluarga besar SMK Negeri 3 Surakarta.  Setelah kami mendapatkan izin dan bantuan keuangan yang kami ajukan dalam proposal, kami pun mulai menyebarkan undangan dan meminta kontribusi dari teman-teman siswa-siswi maupun Bapak Ibu Guru Kristiani. Berbagai persiapan kami lakukan, termasuk membereskan perlengkapan, konsumsi, doorprize, MMT, souvenir, serta mempersiapkan bakti sosial yang akan kami lakukan di Panti Asuhan Karuna.
Hari yang dinantikan pun tiba. Di hari Sabtu (25/4), tibalah perayaan itu. Satu hal yang tidak kami duga bahwa salah satu pembimbing dalam kegiatan ini dan Kepala Sekolah tidak dapat hadir karena menjalankan tugas dinas di luar kota. Kami sedikit kecewa tetapi semua itu kami kesampingkan demi kelancaran acara yang telah direncanakan. Acara Perayaan Paska berjalan cukup lancar. Keseruan, kebersamaan, dan sukacita terluap di antara panitia dan peserta. Pada acara itu, Romo Agustinus Nunung Wuryantoko berkenan untuk memberikan renungan. Kedatangan beliau sangat kami tunggu-tunggu. Dalam renungan itu, beliau bercerita tentang pengalamannya berkumpul bersama orang-orang yang menyukai batu akik. Ada seorang anak kecil yang kemudian mendekati beliau dan dengan polosnya berkata, “Mas kok mirip dengan Romo saya ya?” Semua orang pun pasti akan sedikit heran dan terkejut saat bertemu kembaran Romonya di pasar batu akik. Dalam renungan itu, beliau berpesan untuk menjadi pribadi yang hebat dan berani meninggalkan daerah nyaman untuk bergerak ke daerah yang penuh resiko, untuk hidup bagi orang lain. Hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi hidup untuk orang lain. Di akhir renungan itu, ada pesan yang ditandaskan: Marilah kita peduli. Seusai perayaan di sekolah, acara dilanjutkan dengan membagikan telur asin kepada masyarakat yang ditemui di sekitar wilaya sekolah. Namun, saya tidak mengikuti acara pembagian telur ini karena sudah ada teman-teman yang lebih dulu berangkat melakukan pembagian telur. Akhirnya, saya dengan beberapa panitia yang masih di sekolah berkemas-kemas untuk acara selanjutnya di Panti Asuhan Karuna. Puji Tuhan karena acara di sekolah tidak mengalami kesulitan. Semua ini berkat kerja keras dan kerja sama panitia sehingga acara berlangsung tepat waktu.




















Pukul 12 siang, teman-teman panitia sudah berangkat satu per satu ke Panti Asuhan Karuna. Saya dan Ardi Kurniawan menunggu Pak Heru yang akan membantu membawa perlengkapan ke panti asuhan. Menunggu memang bukan waktu yang bersahabat. Gelisah, merasa tidak enak, dan takut semuanya tidak berjalan sesuai rencana menghantui. Akhirnya Pak Heru datang juga. Begitu Pak Heru datang, kami langsung mengemasi perlengkapan dengan bantuan kakak kelas. Alat musik, air minum dan sumbangan bakti sosial yang telah terkumpul kami masukkan ke dalam mobil dan kami langsung berangkat ke panti asuhan.
Sesampai di sana, saya terkejut karena teman-teman panti asuhan sudah berkumpul sejak pukul 1 siang sedangkan acara direncanakan mulai pukul 2 siang. Melihat semua yang sudah berkumpul, perasaan saya tidak menentu dan terdengar bisikan-bisikan yang membuat nyali saya menciut: Bagaimana jika tidak berjalan dengan baik? Bagaimana kalau saya tidak dapat melakukan yang terbaik? Hal-hal inilah yang membuat saya khawatir. Dalam situasi itu, Pak Heru memanggil saya dan mengatakan bahwa beliau tidak bisa mengikuti acara bakti sosial sampai selesai karena ada acara keluarga. Waduh, semakin kacau perasaan saya karena tidak didampingi sampai selesai. Namun, saya segera mengatasi diri dengan mulai merencanakan yang harus kami lakukan. Saya pun mulai menurunkan barang-barang bawaan dan membawanya ke tempat berlangsungnya acara.
Panitia pun dengan segera berkoordinasi. Susunan acara yang telah dibuat diusahakan dilaksanakan sesuai rencana. Acara pun kami mulai dengan Pujian dan Doa Pembuka. Pandangan saya menjelajah seisi ruangan. Saya terkejut dengan kehadiran teman-teman dari Rokris Rokat yang sebenarnya tidak masuk dalam panitia tetapi ikut terlibat dalam kegiatan bakti sosial. Terima kasih untuk kehadiran teman-teman baik panitia maupun bukan panitia untuk menyemarakkan kegiatan bakti sosial. Niat teman-teman untuk bergembira bersama teman-teman panti asuhan yang sangat besar membuat saya semakin bersemangat. Awalnya teman-teman dari Rokris Rokat agak canggung bergabung dengan teman-teman panti, tetapi rasa canggung itu mulai terlepas ketika kami benar-benar bergabung dengan teman-teman panti, terutama ketika menyanyikan lagi “Hari Ini Kurasa Bahagia,” saya mulai memberanikan diri bergabung dengan keasyikan teman-teman panti asuhan. Saya bersyukur diberi kelebihan mudah bergaul dengan orang baru sehingga saya boleh menjadi cepat akrab dengan teman-teman baru saya. Mungkin sampai disini dulu cerita saya. Barangkali kapan-kapan akan disambung lagi...” 




Rabu, 20 Mei 2015

Mari Tebarkan Damai Sejahtera untuk Membangun Persaudaraan Sejati

Beberapa minggu yang lalu, Pejaga Podjok didatangi oleh pengelola Mading Karya Ilmiah Remaja SMK Negeri 3 Surakarta. Kedatangannya memberikan tugas yang tidak begitu mudah karena Penjaga Podjok harus membuat siraman rohani yang akan dimuat di Mading. Setelah merenung beberapa saat, inilah siraman rohani yang berhasil ditulis itu. Semoga dapat bermanfaat bagi semua...

Ketika tulisan ini dibuat, Gereja Katolik masih merayakan Masa Paska, sebuah masa yang digunakan untuk mengenangkan kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Setelah bangkit dari kematian, Yesus menampakkan diri kepada murid-muridNya selama 40 hari. Dalam berbagai kisah penampakan yang dicatat dalam Alkitab, ada sebuah pesan dominan yang dibawa oleh Yesus. Pesan itu berbunyi, “Damai Sejahtera Bagimu” atau “Salam Bagimu.” Damai sejahtera atau salam merupakan bentuk sapaan yang berakar dari kata “shalom” dari bahasa Ibrani. Dari sudut pandang Katolik, damai berkaitan dengan kata “shalom” yang muncul dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.  Dalam Perjanjian Lama, “shalom” berarti kesejahteraan pribadi dan masyarakat yang terus-menerus harus diusahakan (bdk. Mzm 34:15). Dalam Perjanjian Baru, “shalom” berarti upaya membersihkan dunia ini dari segala macam kejahatan dan kedurhakaan. Damai terjadi jika kita berani mengampuni (lih. Mat 18:22). Damai tidak tergantung pada manusia lain. Damai diciptakan oleh setiap orang dan berakar dalam kebenaran. Orang yang menghidupi kebenaran akan memperoleh damai. 
Pesan damai ini bukan monopoli Gereja Katolik. Pesan damai itu juga dikenal dalam tradisi agama lain. Umat Islam memiliki sebuah salam yang sangat indah. Kata-kata dari bahasa Arab, “Assalamu 'alaikum” secara harafiah berarti “Semoga damai besertamu.” Nabi Muhammad menasehatkan kepada kaum muslim untuk memberikan salam kepada saudara-saudari umat Muslim dengan mengucapkan kalimat lengkap “Assalamu 'laikum warahmatullahi wabarakatuh.” Kata 'rahmah' dan 'barakah' yang dtambahkan disana secara lugas berarti “berkat” dan “kesejahteraan.” Jadi, kalimat salam tersebut secara lengkap berarti “Semoga damai yang diiringi berkat dan kesejahteraan yang berasal dari Allah selalu besertamu.” Umat Hindu juga memiliki salam yang sangat mendalam maknanya dan kurang lebih bermakna sama yaitu “Om swastiastu” dan “Om Shanti Shanti Shanti Om.” Salam ini merupakan sebuah doa agar Tuhan memberi berkat kepada semua makhluk. Kata “Om” menunjuk pada Yang Mahakuasa, “Swasti” berarti keadaan sejahtera, dan “Shanti” berarti damai. Umat Kristen Protestan pun memiliki salam khas untuk menyapa saudara-saudari seimannya dengan kata “Shalom.” Shalom berarti damai sejahtera. Berbagai macam salam dalam beragam tradisi agama ini menunjukkan bahwa semua agama mengenal konsep damai sejahtera.
Melalui hubungan yang harmonis antar sesama umat beragama, pesan “Damai Sejahtera” yang disampaikan oleh Yesus Kristus yang sudah bangkit pada Masa Paska ini terasa sangat relevan. Damai sejahtera merupakan keadaan yang memungkinkan setiap orang berkembang dan hidup secara penuh. Kepenuhan hidup yang dialami manusia membuat manusia mampu bersyukur atas segala yang diterimanya dalam kehidupan. Kalau setiap orang bisa bersyukur atas hidup yang diberikan oleh Allah, niscaya tidak akan ada lagi perselisihan dan terciptalah perdamaian di antara semua manusia.
Setiap manusia dipanggil untuk menjadi saudara bagi manusia lain. Ilmu Filsafat memandang bahwa manusia memiliki dua hakikat yang berkenaan dengan manusia lain, yaitu sebagai homo sociale dan sebagai zoon politikon. Sebagai homo sociale, manusia memiliki kemampuan bersosialisasi dengan manusia lain dan selalu membutuhkan manusia lain. Sebagai zoon politikon, manusia memiliki kemampuan untuk menciptakan relasi dan menetapkan tata aturan dalam berelasi dengan manusia lain. Dalam kenyataannya sebagai homo sociale dan zoon politikon, manusia dipanggil untuk membangun persaudaraan sejati dengan mewujudkan damai sejahtera dalam kehidupan bersama. Dengan kemampuan sebagai homo sociale dan zoon politikon, kita diajak untuk menebarkan pesan damai sejahtera untuk membangun persaudaraan sejati dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga demikianlah yang terjadi. Tuhan memberkati.

Selasa, 19 Mei 2015

Memberikan Sedikit Bagian dari Hidup Kita

Paska dalam tradisi Gereja Katolik menjadi peringatan akan pemberian diri Yesus kepada manusia melalui salib. Yesus tahu bahwa diriNya akan mengalami penderitaan di salib. Dengan merentangkan tangan di kayu salib, Yesus memberikan hidupNya sepenuh-penuhnya dan sehabis-habisnya. Teladan pemberian diri inilah yang seringkali menjadi poin refleksi bagi umat beriman. Dalam Masa Paska ini, Penjaga Podjok juga mengajak siswa-siswinya untuk memberikan diri kepada sesama. Kegiatan yang dilakukan untuk menghayati pemberian diri ini adalah Pelayanan Sosial yang dilakukan untuk siswa kelas X dan XI. Tentang pelayanan sosial ini, Penjaga Podjok pernah menulis posting ini: Mengujicobakan Pelayanan Sosial dalam Proses Pendidikan. 
Tahun ini, pelayanan sosial dibagi dalam dua kegiatan, yaitu Pelayanan Sosial untuk Panti Asuhan dan Pelayanan Sosial Pengambilan Donasi untuk lembaga Karitas Indonesia Keuskupan Agung Semarang. Pelayanan Sosial untuk Panti Asuhan sebenarnya sudah dimulai sejak tahun lalu. Tahun lalu, Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta bekerjasama dengan Panti Asuhan Karuna Putri sebagai tempat pelayanan sosial. Tahun ini, kerjasama dilebarkan dengan Panti Asuhan Karuna Putra. Sementara itu, Pelayanan Sosial Pengambilan Donasi Karina Keuskupan Agung Semarang baru dimulai tahun ini karena di tahun-tahun sebelumnya, pengambilan donasi dilakukan oleh para sukarelawan. Kegiatan Pelayanan Sosial ini digagas untuk memfasilitasi amanat Kurikulum 2013 yang salah satu karakteristiknya adalah “mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik; menjadikan sekolah sebagai bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar terencana dimana peserta didik menerapkan apa yang dipelajari di sekolah ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar; memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta  menerapkannya dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat; serta memberi waktu yang cukup leluasa untuk mengembangkan berbagai sikap, pengetahuan, dan keterampilan.” Untuk  menanggapi hal tersebut, dicetuskanlah kegiatan Pelayanan Sosial untuk memberi tempat bagi siswa dalam mengembangkan dirinya. Disesuaikan dengan agenda kegiatan sekolah, kegiatan Pelayanan Sosial ini dibuat saat siswa-siswi kelas X dan XI sedang tidak ada kegiatan. Setelah dipertimbangkan masak-masak, waktu yang dipilih adalah saat sekolah mengadakan Ujian Sekolah dan Ujian Nasional bagi kelas XII. 
Dalam Pelayanan Sosial Panti Asuhan, siswa-siswi diajak untuk berempati bersama warga panti asuhan. Mereka diajak untuk terlibat langsung dalam kegiatan panti asuhan. Siswa-siswi diajak untuk memberikan tenaga dan waktunya untuk kepentingan panti asuhan. Ada yang diutus untuk memasak, mengepel, bersih-bersih, mendampingi adik-adik panti asuhan untuk belajar dan sebagainya. Sementara itu, Pelayanan Sosial Pengambilan Donasi dilakukan dengan cara mendatangi alamat para donatur yang telah ditetapkan dalam daftar dan mengambil donasi yang telah mereka kumpulkan selama periode tertentu. Pengambilan donasi ini memerlukan waktu yang cukup karena harus ada janji untuk ketemu dan mengambil donasi agar perjalanan pengambilan donasi itu tidak sia-sia. Dalam pelaksanaannya, kedua kegiatan ini dilakukan dalam waktu yang tidak bersamaan. Pelayanan Sosial Pengambilan Donasi dimulai terlebih dahulu sejak tanggal 16 Maret 2015 sampai 16 April 2015, sedangkan Pelayanan Sosial Panti Asuhan diadakan tanggal 13-15 April 2015.









Tidak banyak yang diharapkan dari kegiatan pelayanan sosial ini. Penjaga Podjok hanya ingin memberikan pengalaman berbagi hidup dengan orang lain. Kegiatan ini tentu tidak akan lengkap kalau tidak ada sesuatu yang direfleksikan. Refleksi menjadi salah satu cara belajar dari kehidupan. Melalui refleksi, diharapkan seorang manusia menjadi pribadi yang semakin manusiawi. Satu hal yang menarik dari kegiatan Pelayanan Sosial Panti Asuhan ini adalah siswi-siswi yang melakukan pelayanan sosial di Panti Asuhan tergerak untuk memberikan sedikit dari apa yang mereka punyai kepada Panti Asuhan. Ini merupakan awal dari kepedulian. Semoga ke depan, kegiatan-kegiatan semacam ini semakin dapat membangun kepedulian dalam diri orang-orang muda yang sedang belajar di sekolah. Terima kasih atas kerelaan dalam berbagi hidup. Seperti Yesus yang telah lebih dulu membagikan hidupnya, semoga kita juga mampu memberikan sedikit dari hidup kita sebagai tanda pembagian diri. Seperti roti yang dipecah dan dibagikan kepada setiap orang dalam Perayaan Ekaristi, kita diajak untuk memecah hidup kita dan membagikannya kepada mereka yang ada di sekitar kita, terutama yang memerlukan perhatian dan bantuan kita. 

Kamis, 16 April 2015

Buku Perdana Kolaborasi Warga Ruang Podjok

Bulan-bulan ini, warga Ruang Podjok Agama Katolik SMK Negeri 3 Surakarta menerima kado istimewa. Bukan uang, bukan perhiasan, apalagi batu akik yang sekarang sedang ngetren. Kado istimewa yang diterima adalah sebuah buku. Mengapa buku ini menjadi istimewa? Karena buku ini adalah hasil kolaborasi Penjaga Podjok dengan sebagian warga Ruang Podjok.
Buku ini berawal dari sepenggal kisah yang terjadi kira-kira dua tahun yang lalu. Saat itu, Penjaga Podjok mendapat inspirasi yang muncul menjelang Ujian Praktek Pendidikan Agama Katolik tahun 2013. Saat itu, terbersit sebuah ide untuk membuka peti depositum fidei (harta kekayaan iman) Gereja Katolik. Kebetulan, saat itu juga baru dicanangkan Tahun Iman oleh Paus (sekarang Paus Emeritus) Benediktus XVI. Jadi cocok. Ide yang muncul saat itu adalah menantang siswa-siswi untuk mengungkap kembali pengetahuan iman mereka tentang Gereja Katolik. Saat itu, idenya masih sangat sederhana sehingga yang diungkapkan oleh siswa-siswi saat itu adalah materi-materi yang sudah pernah mereka pelajari. Memang ada beberapa yang kemudian berani mengangkat materi yang baru. Oleh karena itu, sangat patut diacungi jempol untuk siswa-siswi yang berani keluar dari zona nyamannya ini. Untuk kisah ini, para pembaca bisa menengok ke posting berikut: UjianPraktek Agama: Belajar Berani dan Berani Belajar Mengungkapkan Iman”
Setelah Ujian tahun 2013 itu, gagasan untuk membuka peti depositum fidei menjadi semakin liar. Penjaga Podjok ingin semakin menantang anak-anaknya untuk semakin berani masuk ke dalam peti depositum fidei itu dan menemukan hal-hal berharga. Akhirnya, muncullah gagasan untuk membahas tema yang sama sekali baru dan tampaknya belum banyak dibahas dalam kehidupan iman umat, yaitu “Orang-orang Kudus dari Kaum Awam.” Untuk merealisasikan ide ini, Penjaga Podjok terlebih dulu harus melakukan riset untuk menentukan nama-nama orang-orang yang bisa dibahas para siswa. Sekian banyak penelusuran dibuat. Akhirnya ditemukanlah beberapa puluh nama yang kiranya dapat dibahas dalam Ujian Praktek tahun berikutnya. Gagasan terus bergulir, membesar, dan matang.
Ketika tiba masa untuk mempersiapkan Ujian Praktek tahun 2014, gagasan itupun digulirkan. Para siswa mengambil undian untuk menentukan nama dari orang yang akan dibuat biografinya. Saat itu, ada beragam tanggapan dari para siswa: ada yang bingung, ada yang antusias, ada yang mengeluh. Ya wajarlah. Terhadap sebuah perubahan, reaksi spontan manusia adalah defensif. Namun, mau tidak mau  ya harus mau karena Ujian Praktek adalah salah satu syarat kelulusan. Dari waktu ke waktu, para siswa mengerjakan tugas tersebut. Mereka menelusuri berbagai kisah orang yang menjadi bagian mereka. Ada berbagai kesan yang muncul selama mereka mendalami kisah orang-orang kudus tersebut. Dengan bimbingan Penjaga Podjok, mereka menyusun sebuah teks yang dapat disajikan dalam presentasi Ujian Praktek.
Pasca Ujian Praktek selesai, tiba-tiba muncullah ide untuk mengumpulkan teks-teks yang terserak itu dalam satu kompilasi. Penjaga Podjok pun mulai mengumpulkan, menambah, memperkaya, dan mengomposisi teks yang berisi kisah orang-orang kudus dari kaum awam. Kira-kira bulan Mei 2014, Penjaga Podjok mengirimkan naskah tersebut kepada Penerbit Kanisius dengan harapan tulisan sederhana itu bisa diterbitkan dan bermanfaat bagi khalayak luas. Beberapa waktu ditunggu, akhirnya keputusan untuk terbit pun datang. Terima kasih kepada Penerbit Kanisius yang telah membuat tulisan sederhana ini dapat beredar untuk semakin banyak orang.   
Ingin tahu tentang bagaimana proses pengangkatan sebagai orang kudus? Ingin tahu berapa banyak awam yang sudah diproses menjadi orang kudus? Buku ini kiranya dapat memberikan gambaran awal tentang orang-orang kudus dari kaum awam. Ada berbagai kisah yang terungkap di dalamnya. Ada orang kudus yang dulunya adalah seorang budak. Ada orang kudus yang dulunya adalah seorang pemuja setan. Ada orang kudus yang bekerja sebagai ahli ekonomi dan sebagainya. Kisah-kisah para awam kudus itu membuat kita semakin diteguhkan bahwa siapapun dalam Gereja Katolik bisa memeluk hidup baik nan suci. Dengan demikian, nyatalah yang diamanatkan oleh Konsili Vatikan II melalui dokumen Lumen Gentium tentang Panggilan untuk Menjadi Kudus (LG 40) berikut ini:

“Jadi bagi semua jelaslah, bahwa semua orang kristiani, bagaimanapun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan cinta kasih. Dengan kesucian itu juga dalam masyarakat di dunia ini cara hidup menjadi lebih manusiawi. Untuk memperoleh kesempurnaan itu hendaklah kaum beriman mengerahkan tenaga yang mereka terima menurut ukuran yang dikurniakan oleh Kristus, supaya dengan mengikuti jejak-Nya dan menyerupai citra-Nya, dengan melaksanakan kehendak Bapa dalam segalanya, mereka dengan segenap jiwa membaktikan diri kepada kemuliaan Allah dan pengabdian terhadap sesama. Begitulah kesucian Umat Allah akan bertumbuh dan menghasilkan buah berlimpah, seperti dalam sejarah Gereja telah terbukti dengan cemerlang melalui hidup sekian banyak orang kudus.”

Oleh karena itu, ambil dan bacalah buku ini! Informasi tentang buku ini dapat dilihat dalam tautan berikut: Sumber Tak Pernah Mengering. Para pembaca sekalian bisa belajar untuk menjalani hidup yang baik. Semua ini kita lakukan demi kemuliaan Allah karena kemuliaan Allah tampak dalam hidup manusia seperti yang dikatakan oleh Santo Irenius.

Selasa, 31 Maret 2015

Menghidupkan Iman Melalui Perbuatan

Tahun ini, Ruang Podjok kembali mengadakan pertemuan Aksi Puasa Pembangunan. Pertemuan yang oleh Keuskupan Agung Semarang direncanakan dalam 5 kali pertemuan terpaksa disingkat menjadi 2 kali pertemuan karena keterbatasan waktu. Meskipun dengan cara dan bentuk yang amat terbatas, Ruang Podjok Agama Katolik SMK Negeri 3 Surakarta berusaha mewujudkan imannya melalui perbuatan sehari-hari. Semoga dengan demikian, iman yang kami hidupi menjadi semakin hidup lewat perbuatan kami.

Tema APP 2015
Tema APP 2015 adalah “Iman Disertai Perbuatan Kasih Semakin Hidup.” Melalui tema ini, umat beriman diajak membangun Iman yang Cerdas, Tangguh, dan Misioner. Beriman cerdas: memiliki pemahaman yang benar dan tepat akan iman Katolik serta menjadikannya sebagai dasar untuk mengambil keputusan harian. Iman mendasari tindakan harian. Agar tindakannya benar, iman yang dimiliki juga harus benar. Untuk mendapatkan iman yang benar, kita perlu belajar tentang imannya sendiri. Orang yang tidak memahami imannya secara benar ibarat orang memakai baju tetapi tidak tahu warna baju yang dipakainya. Beriman tangguh: berakar dalam iman sehingga tak mudah goyah, tak mudah putus asa dalam segala persoalan, dan tetap tegak berdiri walaupun godaan dan tantangan iman terus menerpa. Iman menjadi teguh karena berakar pada Yesus. Ketangguhan iman tidak muncul karena ujian dari luar tetapi lebih karena pengolahan serius dari dalam diri manusia. Jika iman rapuh dari dalam, tak usah digoda atau diuji dari luar pun pasti iman akan runtuh dengan sendirinya. Beriman misioner: berani menjadi saksi atas imannya, berani bicara tentang Kristus, serta mampu mengakui dan menunjukkan kekatolikannya. Setelah dibaptis, orang Katolik menjadi saksi atas iman. Menjadi saksi atas iman tidak cukup sekedar menyatakan iman dengan kata-kata tetapi harus berbuat sesuatu melalui tindakan. Dunia sekarang lebih menyukai kesaksian nyata daripada kata-kata yang diucapkan tanpa bukti. Paus Paulus VI menyatakan, Manusia modern lebih suka mendengarkan saksi-saksi daripada guru-guru, dan kalau ia mendengarkan guru-guru, itu karena mereka saksi.

APP dan Kaum Muda
Dalam pertemuan Kaum Muda Asia 2014 di Daejon, Korea, Paus Fransiskus mengatakan “Bangun! Bangun! Orang bernyanyi, menari dan bergembira dalam keadaan bangun. Tidak baik ketika orang muda tidur. Jangan! Bangun, majulah.” Paus Fransiskus mengajak seluruh kaum muda Katolik untuk “Bangun!”, Bangun dan bergerak, berbuat dan berkarya dalam masyarakat serta Gereja. Hal itu menunjukkan bahwa iman harus diwujudkan lewat perbuatan seperti ditulis dalam Surat Yakobus (Yak 2:17).
Di Ruang Podjok, tema APP yang telah dipaparkan tersebut coba diolah dalam dua kali pertemuan. Pertemuan 1 bicara tentang Iman sebagai Anugerah dan Proses Beriman sedangkan Pertemuan 2 bicara mengenai Iman dan Perbuatan serta Menjadi Manusia Baru. Berikut ini adalah bahan-bahan dalam setiap pertemuan.

Pertemuan 1
Setiap orang memiliki iman dan iman itu ditemukan dalam kehidupan. Mengapa orang bisa beriman? Karena orang memiliki Roh yang memungkinkan seseorang dapat berelasi dengan Allah. Oleh karena itu, salah satu sudut pandang filsafat terhadap manusia menyatakan manusia sebagai Homo Religiousus. Setiap orang memiliki kisah imannya masing-masing. Silakan hening sejenak dan menuliskan kisah imanmu sendiri dengan bantuan pertanyaan berikut: 1) Bagaimana kita mengenal iman Kristiani: dari apa atau siapa, sejak kapan, dan dimana, apa yang menarik dalam pengenalan iman itu? 2) Bagaimana perasaan kita menjadi orang Kristiani? Mengapa kita merasakan hal yang demikian dalam kehidupan kita? 3) Apakah kita mengalami pasang surut dalam beriman: kadang bersemangat dan kadang tidak? Apa yang menyebabkan?







Membaca Yoh 4:1-42. Setiap orang memiliki kisah iman masing-masing. Perempuan Samaria yang kita saksikan dalam cuplikan film maupun dalam kisah Kitab Suci juga memiliki kisah imannya sendiri. Perempuan itu meng-alami perubahan sete-lah bertemu Yesus. Awalnya, ketika Yesus menyapa meminta air, perempuan itu ragu-ragu karena orang Yahudi tidak boleh bergaul dengan orang Samaria (Yoh 4:7-9). Tindakan Yesus meminta air menjadi jalan pembuka bagi perempuan itu untuk berubah. Ia mulai membangun keyakinan pada Yesus dengan memberikan air kepadanya. Interaksi antara perempuan dengan Yesus ini menjadi kesempatan bagi Yesus untuk mengajar. Yesus pun mulai mengajar tentang air hidup dan iman yang membuat orang tidak haus lagi (Yoh 4:13-24). Pengajaran itu diterima oleh perempuan Samaria itu karena ia mulai membuka hatinya dan meninggalkan keraguannya sehingga ia pun mulai percaya pada yang dikatakan oleh Yesus (Yoh 4:25). Yesus pun meneguhkan apa yang diyakini oleh perempuan Samaria itu dengan mengatakan bahwa diriNyalah yang disebut Mesias atau Kristus yang kedatangannya telah diramalkan (Yoh 4:26). Setelah beriman, perempuan Samaria itu pun mewartakan apa yang diimaninya kepada orang-orang lain dan orang-orang lain pun datang kepada Yesus (Yoh 4:28-30).
Iman merupakan tanggapan kita terhadap pernyataan diri Allah yang menyapa dan menyelamatkan. Kehadiran Allah ini disebut wahyu. Dalam sejarah manusia, wahyu Allah muncul dalam berbagai cara dan sarana. Ada yang melalui mimpi, tanda-tanda alam, kejadian-kejadian yang luar biasa dan sebagainya. Dalam tradisi Kristiani, sebagai puncaknya, Allah mewahyukan diri melalui Yesus Kristus yang hadir di dunia dan menyelamatkan manusia. Selama hidupNya, Yesus mewartakan Kerajaan Allah yang menyatakan bagaimana Allah sangat mengasihi manusia dan sangat ingin memberikan keselamatan kepada manusia. Oleh karena itu, Yesus membuat banyak hal yang menjadi bentuk kasih Allah melalui berbagai mujizat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang tuli mendengar, orang lapar dikenyangkan, orang mati dibangkitan, dan sebagainya (Luk 7:22-23). Terhadap apa yang dilakukan Yesus, ada berbagai tanggapan. Ada orang yang menerima dan kemudian percaya. Ada yang menerima tetapi tidak begitu percaya dan meninggalkan Yesus. Ada juga yang menolak, bahkan sampai membenci Yesus. Ini adalah tanggapan yang manusiawi. Salah satu tanggapan yang baik diberikan oleh perempuan Samaria yang kisahnya kita saksikan hari ini. Kita juga mengalami seperti perempuan Samaria itu. Iman yang kita miliki juga iman yang berproses. Proses yang benar akan membuat iman kita semakin matang dan dewasa. Tanda dari iman yang matang dan dewasa adalah iman yang cerdas, tangguh, dan misioner. Cerdas berarti tahu tentang imannya dan bisa mempraktekkan. Tangguh berarti berani bertahan karena iman. Misioner berarti dapat menerapkan imannya dalam tindakan sehari-hari. Langkah yang harus kita lakukan dalam beriman ada tiga: MENDALAMI IMAN, MENGAKARKAN IMAN, dan   MEWARTAKAN IMAN. Seperti perempuan Samaria, kita pun diajak untuk mendalami, mengakarkan, dan mewartakan iman kita, baik melalui kata-kata maupun melalui tindakan dalam hidup sehari-hari. Santo Filipus Neri pernah mengatakan, “Beruntunglah kalian orang-orang muda karena kalian punya banyak waktu untuk berbuat baik.” Semoga kita semakin tergerak untuk berbuat baik dalam kehidupan kita.

Pertemuan 2
Dalam pertemuan yang lalu, kita sudah melihat iman sebagai karunia Allah dan manusia menanggapi karunia Allah itu dengan proses beriman. Masing-masing orang memiliki kisah imannya sendiri. Kisah iman itulah yang terus dibangun melalui kehidupan sehari-hari sampai nanti Tuhan memanggil kita untuk kembali kepadaNya. Dalam pertemuan yang lalu, kita sudah melihat contoh yang diberikan oleh perempuan Samaria yang juga memiliki kisah imannya sendiri. Perempuan itu awalnya ragu-ragu terhadap Yesus, namun ia membuka hati dan mulai percaya. Bahkan, ia tidak berhenti sampai percaya tetapi juga mewar-takan imannya kepada orang lain. Hari ini, kita diajak untuk mewujudkan iman kita dalam tindakan sehari-hari. Iman harus diwujudkan melalui perbuatan sebagaimana ditegaskan oleh penulis Surat Yakobus, “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yak 2:17). Iman harus diwujudkan dalam hidup sehari-hari supaya iman itu bermakna. Iman tidak bisa hanya disimpan dalam diri tetapi harus diungkapkan dan diwujudkan. Kita akan melihat beberapa kisah yang menggambarkan bagaimana keyakinan atau gagasan yang baik harus diungkapkan agar bermakna bagi orang-orang di sekitarnya (Lead India).



Membaca Yak 2:14-26. Penulis Surat Yakobus menyatakan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Seseorang yang tahu saudaranya kelaparan tetapi tidak memberi makan tidak berbuat apa-apa untuk kebaikan (Yak 2:15-16). Iman seseorang terlihat dari perbuatannya. Oleh karena itu, tindakan sangatlah penting dalam usaha mewujudkan iman kita. Tanpa tindakan, iman tidak akan ada guna dan manfaatnya. Iman selalu bekerjasama dengan perbuatan. Perbuatan membuat iman menjadi sempurna (Yak 2:22). Dalam hidup sehari-hari, kita mungkin sering mengatakan bahwa kita percaya pada Tuhan. Namun, kadangkala tindakan kita tidak menunjukkan kepercayaan itu. Apakah orang bisa dikatakan beriman kalau dia tidak pernah berdoa? Apakah orang bisa dikatakan jujur kalau tidak pernah menjalankan kejujuran? Apakah orang bisa dikatakan setia jika dia tidak pernah menunjukkan kesetiaan itu? Apakah orang bisa dikatakan tertib kalau terus melanggar? Keyakinan, sifat, karakter, pembawaan seseorang selalu tampak dari apa yang dilakukannya.  
Dalam masa APP ini, kita diajak untuk berbuat sesuatu berdasarkan iman kita. Melihat situasi yang ada di sekitar kita, kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, “apa yang akan aku lakukan untuk meringankan beban orang-orang di sekitarku?” Berbuat sesuatu dapat dimulai dari lingkungan yang terdekat. Mari kita lakukan sesuatu yang baik untuk diri kita sendiri, untuk orangtua kita, untuk keluarga kita, untuk teman kita, untuk lingkungan hidup kita, untuk kelas kita, untuk sekolah kita, dan untuk Gereja kita. Lambat laun, kita akan bisa melakukan hal yang baik untuk lingkungan yang semakin luas. Dengan perbuatan baik yang kita usahakan, kita diajak untuk menjadi manusia baru. Kita diajak untuk menghayati hidup baru dengan menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Manusia baru adalah manusia yang berani mengubah dirinya menjadi lebih baik karena sudah mengenal Yesus (Ef 4:20-21). Menjadi manusia baru berarti menjadi pribadi yang lebih baik daripada yang sekarang. Mari kita menjadi pribadi yang lebih baik karena kita mengenal Yesus yang memberi teladan kebaikan. Yang dapat kita pedomani adalah JADIKAN DIRI KITA BERKAT BAGI ORANG DI SEKITAR KITA dan LAKUKAN MINIMAL SATU PERBUATAN BAIK SETIAP HARI (Giving is The Best Communication).

Selasa, 24 Februari 2015

Awali Semester dengan Kepengurusan dan Semangat Baru

Segera setelah perayaan Natal Bersama, kegiatan di Ruang Podjok mulai berjalan. Kegiatan Ruang Podjok mulai terlaksana di akhir Januari (30/1). Di minggu terakhir bulan Januari itu, diadakan perjumpaan singkat antar anggota Ruang Podjok. Perjumpaan ini sebenarnya ditujukan untuk acara Serah Terima Kunci seperti yang telah dilakukan tahun lalu. Namun, karena pengurus Rokat yang lama – Sinta Raras Swargani – berhalangan hadir, acara diubah menjadi pertemuan awal semester.

Dalam perjumpaan itu, disampaikan beberapa informasi seputar kegiatan Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta. Pertama, kegiatan Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 mulai dilaksanakan secara efektif sejak minggu pertama bulan Februari 2015 dengan Perayaan Ekaristi. Kedua, seluruh anggota Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta – khususnya yang masih duduk di kelas X dan XI – dilibatkan dalam kepengurusan yang berlaku selama 1 tahun. Ketiga, untuk menjaga kebersihan Ruang Podjok, diadakanlah pembagian kerja piket per minggu. Pembagiannya adalah sebagai berikut: 1) Minggu I untuk kelas X dan XI AK, 2) Minggu II untuk kelas X dan XI AP, 3) Minggu III untuk kelas X dan XI PM, 4) Minggu IV untuk kelas X dan XI MM, serta 5) Minggu V untuk Sie Kebersihan. Keempat, diucapkan terima kasih kepada kepengurusan yang lalu, terutama kepada Sinta Raras Swargani, yang telah menjalankan tugas dengan baik. Untuk selanjutnya, Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta mulai semester ini akan dilayani oleh Cicilya Onny Yosyana Ochtifani. Selamat bekerja untuk kepengurusan baru. Tuhan memberkati.
Seminggu setelah perjumpaan awal, Perayaan Ekaristi dipersembahkan oleh Romo Marcelinus Tanto dari Paroki San Inigo Dirjodipuran. Ide untuk merayakan Ekaristi di Ruang Podjok ini telah dimulai sejak tahun lalu sebelum Ujian Sekolah bagi Kelas XII. Karena ini dipandang sebagai tradisi yang baik, kebiasaan ini dilanjutkan. Seperti semester gasal yang telah dibuka dengan Ekaristi, semester genap ini pun juga diawali dengan Ekaristi. Sekitar seminggu sebelum Ekaristi, Penjaga Podjok menghubungi Romo Tanto untuk memohon kesediaan mempersembahkan Ekaristi. Syukur karena beliau kebetulan memiliki waktu longgar sehingga berkenan untuk membantu memberikan pelayanan ini. Hari Jumat (6/2) seusai jam pelajaran sekolah, ruang kelas di dekat Ruang Podjok disulap menjadi tempat untuk merayakan Ekaristi. Seperti situasi jemaat perdana yang menurut ceritanya sering berkumpul di rumah-rumah dengan situasi seadanya untuk memecahkan roti dan memuji Allah, begitu pula situasi yang dialami oleh anggota Ruang Podjok. Dengan segala peralatan yang dimiliki, sebuah Perayaan Ekaristi disiapkan sebaik-baiknya.

Perayaan Ekaristi sederhana tanpa nyanyian yang dirayakan pada hari Peringatan Santo Paulus Miki ini terasa sangat menggugah semangat. Dalam homilinya, Romo Tanto mengajak semua warga Ruang Podjok untuk mengembangkan semangat militansi dalam beriman seperti Santo Paulus Miki yang menjadi martir  dan memberi contoh orang yang berani membela iman. Mati membela iman tampaknya menjadi tindakan bodoh bagi sebagian orang, tetapi tidak bagi orang Katolik. Membela iman merupakan salah satu tugas bagi orang Katolik. Membela iman dapat dilakukan melalui berbagai macam tindakan. Pergi ke gereja setiap hari Minggu menjadi perwujudan membela iman karena dengan tindakan itu seseorang menunjukkan kesetiaan terhadap iman yang diyakininya. Berpegang teguh pada prinsip merupakan perwujudan membela iman karena dengan tindakan itu seseorang berani memperjuangkan keyakinan yang selama ini dipegangnya. Masih banyak hal lain yang dapat dilakukan untuk membela iman. Membela iman merupakan bagian dalam semangat militansi iman. Militansi iman sangat dibutuhkan, terutama di sekolah negeri karena di sekolah negeri, anak-anak Katolik secara khusus dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia. Semoga demikianlah yang terjadi...






Semester ini telah diawali dengan berbagai hal yang baik. Kiranya hal-hal baik yang telah terjadi ini semakin mengundang hal-hal baik yang lain demi kemajuan kegiatan di Ruang Podjok.