Rabu, 17 Desember 2014

Pesan Natal Bersama KWI-PGI Tahun 2014


Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga
“Mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu” (Luk 2:16)
DALAM  perayaan Natal tahun ini, kami mengajak seluruh umat Kristiani untuk menyadari kehadiran Allah di dalam keluarga dan bagaimana keluarga berperan penting dalam sejarah keselamatan. Putera Allah menjadi manusia. Dialah Sang Imanuel; Tuhan menyertai kita. Ia hadir di dunia dan terlahir sebagai Yesus dalam keluarga yang dibangun oleh pasangan saleh Maria dan Yusuf.
Melalui keluarga kudus tersebut, Allah mengutus Putera Tunggal-Nya ke dalam dunia yang begitu dikasihi-Nya. Ia datang semata-mata untuk menyelamatkan manusia dari kekuasaan dosa. Setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa, tetapi akan memperoleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16-17).
Natal: Kelahiran Putera Allah dalam Keluarga
Kelahiran Yesus menguduskan keluarga Maria dan Yusuf dan menjadikannya sumber sukacita yang mengantar orang berjumpa dengan Allah. Gembala datang bergegas menjumpai keluarga Maria, Yusuf, dan Yesus yang terbaring dalam palungan.
Perjumpaan itu menyebabkan mereka pulang sebagai kawanan yang memuliakan Allah (Luk 2: 20). Orang-orang Majus dari Timur sampai pada Yesus dengan bimbingan bintang, tetapi pulang dengan jalan yang ditunjukkan Allah dalam mimpi (Mat 2: 12). Perjumpaan dengan Yesus menyebabkan orientasi hidup para gembala dan Majus berubah. Mereka kini memuji Allah dan mengikuti jalan-Nya.
Natal merupakan sukacita bagi keluarga karena Sumber Sukacita memilih hadir di dunia melalui keluarga. Sang Putera Allah menerima dan menjalani kehidupan seorang manusia dalam suatu keluarga. Melalui keluarga itu pula, Ia tumbuh dan berkembang sebagai manusia yang taat pada Allah sampai mati di kayu salib. Di situlah Allah yang selalu beserta kita turut merasakan kelemahan-kelemahan kita dan kepahitan akibat dosa walaupun ia tidak berdosa (bdk. Ibr. 4:15).
Keluarga sebagai Tanda Kehadiran Allah
Allah telah mempersatukan suami-istri dalam ikatan perkawinan untuk membangun keluarga kudus. Mereka dipanggil untuk menjadi tanda kehadiran Allah bagi satu sama lain dalam ikatan setia dan bagi anak-anaknya dalam hubungan kasih. Keluarga merekapun menjadi tanda kehadiran Allah bagi sesama.
Berkat perkawinan Kristen, Yesus, yang dahulu hadir dalam keluarga Maria dan Yusuf, kini hadir juga dalam keluarga kita masing-masing. Allah yang bertahta di surga tetap hadir dalam keluarga dan menyertai para orangtua dan anak-anak sepanjang hidup.
Dalam keluarga, sebaiknya Firman Tuhan dibacakan dan doa diajarkan. Sebagai tanggapan atas Firman-Nya, seluruh anggota keluarga bersama-sama menyampaikan doa kepada Allah, baik yang berupa pujian, ucapan syukur, tobat, maupun permohonan. Dengan demikian, keluarga bukan hanya menjadi rumah pendidikan, tetapi juga sekolah doa dan iman bagi anak-anak.
Dalam Perjanjian Lama kita melihat bagaimana Allah yang tinggal di surga hadir dalam dunia manusia. Kita juga mengetahui bahwa lokasi yang dipergunakan untuk beribadah disebut tempat kudus karena Allah pernah hadir dan menyatakan diri di tempat itu untuk menjumpai manusia. Karena Sang Imanuel lahir dalam suatu keluarga, keluargapun menjadi tempat suci. Di situlah Allah hadir. Keluarga menjadi ”bait suci”, yaitu tempat pertemuan manusia dengan Allah.
Tantangan Keluarga Masa Kini
Perubahan cepat dan perkembangan dahsyat dalam berbagai bidang bukan hanya memberi manfaat, tetapi juga membawa akibat buruk pada kehidupan keluarga. Kita jumpai banyak masalah keluarga yang masih perlu diselesaikan, seperti kemiskinan, pendidikan anak, kesehatan, rumah yang layak, kekerasan dalam rumah tangga, ketagihan pada minuman dan obat-obatan terlarang, serta penggunaan alat komunikasi yang tidak bijaksana.
Apalagi ada produk hukum dan praktek bisnis yang tidak mendukung kehidupan seperti pengguguran, pelacuran, dan perdagangan manusia. Permasalahan-permasalahan tersebut mudah menyebabkan konflik dalam keluarga. Sementara itu, banyak orang cenderung mencari selamat sendiri; makin mudah menjadi egois dan individualis.
Dalam keadaan tersebut, keluhuran dan kekudusan keluarga mendapat tantangan serius. Nilai-nilai luhur yang mengekspresikan hubungan cinta kasih, kesetiaan, dan tanggungjawab bisa luntur. Saat-saat kudus untuk beribadat dan merenungkan Sabda Allah mungkin pudar. Kehadiran Allah bisa jadi sulit dirasakan. Waktu-waktu bersama untuk makan, berbicara, dan berekreasipun menjadi langka. Pada saat itu, sukacita keluarga yang menjadi dasar bagi perkembangan pribadi, kehidupan menggereja, dan bermasyarakat tak mudah dialami lagi.
Natal: Undangan Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga
Natal adalah saat yang mengingatkan kita akan kehadiran Allah melalui Yesus dalam keluarga. Natal adalah kesempatan untuk memahami betapa luhurnya keluarga dan bernilai- nya hidup sebagai keluarga karena di situlah Tuhan yang dicari dan dipuji hadir. Keluarga sepatutnya menjadi bait suci di mana kesalahan diampuni dan luka-luka disembuhkan.
Natal menyadarkan kita akan kekudusan keluarga. Keluarga sepantasnya menjadi tempat di mana orang saling menguduskan dengan cara mendekatkan diri pada Tuhan dan saling mengasihi dengan cara peduli satu sama lain. Para anggotanya hendaknya saling mengajar dengan cara berbagi pengetahuan dan pengalaman yang menyelamatkan. Mereka sepatutnya saling menggembalakan dengan memberi teladan yang baik, benar, dan santun.
Natal mendorong kita untuk meneruskan sukacita keluarga sebagai rumah bagi setiap orang yang sehati-sejiwa berjalan menuju Allah, saling berbagi satu sama lain hingga merekapun mengalami kesejahteraan lahir dan batin. Natal mengundang keluarga kita untuk menjadi oase yang menyejukkan, di mana Sang Juru Selamat lahir.
Di situlah sepantasnya para anggota keluarga bertemu dengan Tuhan yang bersabda: ”Datanglah kepadaKu, kamu yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat 11: 29) Dalam keluarga di mana Yesus hadir, yang letih disegarkan, yang lemah dikuatkan, yang sedih mendapat penghiburan, dan yang putus asa diberi harapan.
Kami bersyukur atas perjuangan banyak orang untuk membangun keluarga Kristiani sejati, di mana Allah dijumpai. Kami berdoa bagi keluarga yang mengalami kesulitan supaya diberi kekuatan untuk membuka diri agar Yesus pun lahir dan hadir dalam keluarga mereka.
Marilah kita menghadirkan Allah dan menjadikan keluarga kita sebagai tempat layak untuk kelahiran Sang JuruSelamat. Di situlah keluarga kita menjadi rahmat dan berkat bagi setiap orang; kabar sukacita bagi dunia.
Selamat Natal 2014 dan Tahun Baru 2015
Jakarta, November 2014
Atas nama,
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia
Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe
Ketua Umum
Pdt. Gomar Gultom
Sekretaris Umum
Konferensi Waligereja Indonesia
Mgr. Ignatius Suharyo
Ketua
Mgr. Johannes Pujasumarta
Sekretaris Jenderal

Selasa, 18 November 2014

Doa untuk Anggota Keluarga yang Sudah Meninggal

Ini adalah judul sebuah doa dalam buku Puji Syukur, tepatnya Puji Syukur nomor 169. Setiap kali ada doa 7 hari, 40 hari, 100 hari dan seterusnya, doa ini kerap ditengok dan dibacakan baik secara pribadi maupun bersama. Bulan November ini, judul doa tersebut menginspirasi anggota keluarga besar Ruang Podjok untuk mengadakan acara pengenangan bagi mereka yang telah berpulang. Bulan November memang menjadi bulan istimewa bagi para arwah orang beriman. Di bulan ini, Gereja secara khusus memberikan kesempatan untuk mengingat mereka yang telah mendahului. Seperti biasa, di Minggu I, jadwal di Ruang Podjok adalah jadwal doa bersama. Doa bersama kali ini yang memang dikhususkan bagi orang yang telah meninggal dunia dilaksanakan Jumat I (07/11).
Seminggu sebelum doa, Penjaga Podjok mengedarkan sebuah kertas folio bergaris dengan judul “Mereka yang Akan Didoakan.” Kertas itu beredar dari kesempatan ke kesempatan, dipegang dan ditulisi oleh para anggota Ruang Podjok yang ingin mendoakan sanak saudaranya yang telah mendahului menghadap Allah. Ada berbagai tulisan di sana, mulai dari nama lengkap seperti Margareta Lasmani dan Catharina Widyastuti sampai panggilan sayang nan singkat seperti Mbah Lasimin dan Nenek Yuli. Sejenak terbayang bagaimana mereka menuliskan nama-nama itu dengan seluruh kenangan yang menyertainya. Doa bersama tersebut berlangsung selama kurang lebih setengah jam dengan format Ibadat Sabda. 





Sebagai renungan, hal inilah yang disampaikan:

“Hidup di dunia ini hanya sementara dan setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Penciptanya. Bacaan yang kita dengar hari ini mengingatkan kita akan kenyataan bahwa pada akhirnya, setiap manusia pasti akan kembali kepada Allah. Kehidupan yang ada di dunia ini akan diubah menjadi kehidupan bersama dengan Allah. Tidak ada yang tahu bagaimana bentuk kehidupan bersama Allah itu karena sampai sekarang belum ada orang mati yang pernah hidup kembali dan berkotbah tentang kehidupan bersama Allah. Oleh karena itu, semua gambaran tentang akhir hidup manusia merupakan gambaran pengharapan. Hari ini Paulus menyatakan bahwa kita, orang beriman yang percaya kepada Yesus, adalah warga Kerajaan Allah sehingga kita menantikan Tuhan Yesus yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini menjadi tubuh yang mulia. Bagaimana tubuh yang mulia itu juga tidak ada yang tahu. Semua itu merupakan gambaran pengharapan di masa depan. Nah, persoalannya sekarang adalah bagaimana kita bisa mengusahakan diri selama hidup di dunia agar kita bisa mendapat tubuh yang mulia nantinya? Kita bisa belajar dari bacaan Injil. Bacaan ini mengisahkan bendahara yang pokil atau cerdik.
Karena dipecat dari jabatannya, bendahara tersebut mencari cara untuk mempertahankan hidupnya. Caranya adalah dengan memperbarui surat utang seseorang yang pernah berhutang kepada majikannya. Hutang yang tadinya ditulis dalam jumlah banyak dikurangi sehingga orang yang berhutang mendapat kesan bahwa bendahara tersebut adalah bendahara yang baik. Dengan demikian, orang yang berhutang tersebut akan berhutang budi kepada bendahara tersebut. Akibatnya, karena berhutang budi pada bendahara tersebut, orang yang berhutang harus membalas budi kepada bendahara tersebut. Benar-benar cara yang cerdik. Belajar dari bendahara tersebut, sebagai warga Kerajaan Allah, kita juga harus secara cerdik mencari cara untuk mengusahakan diri agar hidup kita berkenan di hadapan Allah. Kita diajak untuk membangun hidup yang berkenan di hadapan Allah agar nantinya tubuh kita yang hina ini diubah menjadi tubuh yang mulia.
Kita sebagai anak-anak terang perlu belajar dari anak-anak dunia soal kecerdikan ini. Bagaimana hidup yang berkenan di hadapan Allah dapat dilakukan? Mudah. Caranya sangat sederhana: mencintai Allah dengan segenap hati, pikiran, akal budi serta mencintai manusia seperti diri sendiri. Pedomannya hanya dua ini. Semoga kita semakin mampu mencintai Allah dengan segenap hati, pikiran, dan akal budi serta mencintai manusia seperti diri sendiri. Berkah Dalem.

Terima kepada para anggota keluarga Ruang Podjok yang telah terlibat dalam kegiatan tersebut. Para arwah anggota keluarga yang telah meninggal tentunya akan sangat berbahagia karena sudah dikirim doa oleh mereka yang masih hidup dan sangat mencintai mereka. Tuhan memberkati.

Senin, 10 November 2014

Sembah Bakti untuk Hormati Maria




Bulan Oktober sudah berlalu beberapa waktu yang lalu. Ruang Podjok telah melewatkan bulan Oktober ini dengan melakukan sembah bakti kepada Bunda Maria. Sembah bakti bulan Oktober dimulai dengan Doa Rosario pada Jumat pertama, 3 Oktober, dilanjutkan dengan Sekolah Iman pada 17 Oktober, dan diakhiri dengan Doa Rosario pada Jumat terakhir, 31 Oktober. Kebetulan, hari terakhir di bulan Oktober ini adalah hari Jumat tanggal 31 Oktober sehingga Ruang Podjok dapat menutup devosi kepada Maria di hari terakhir bulan Oktober. Terima kasih atas keterlibatan keluarga besar Ruang Podjok yang telah mengikuti Doa Rosario maupun Sekolah Iman. Tuhan memberkati...

Sabtu, 18 Oktober 2014

Menghormati Maria secara Katolik

Gereja Katolik dan Maria
Maria itu orang kudus paling populer dalam Gereja Katolik, bahkan mungkin bagi seluruh dunia. Jika kita mencari berapa versi lagu Ave Maria, kita akan menemukan ratusan versi. Setidaknya, ada beberapa versi yang lazim dinyanyikan, antara lain: Ave Maria Schubert, Ave Maria Bach Gounod, dan Ave Maria Caccini. Gereja Katolik menempatkan Maria secara istimewa. Dikatakan bahwa “De Maria numquam satis – Berbicara tentang Maria tidak akan ada habisnya.” Gereja Katolik mengakui peran istimewa Maria dalam rencana keselamatan Allah serta merefleksikan dan meneladan pribadi Maria. Maria berada di posisi antara manusia dan Allah. Lewat Maria, umat Katolik memohonkan karunia keselamatan dan merasakan kedekatan dengan Allah. Oleh karena itu, praktek kebaktian terhadap Maria tumbuh dan berkembang di kalangan umat Katolik.

Awal Mulanya
Pada dua abad pertama, Maria belum dihormati seperti sekarang, meskipun saat itu sudah ada penghormatan kepada para rasul dan martir. Penghormatan kepada para rasul dan para martir itu didasarkan pada tindakan mereka yang mengikuti Yesus dalam kematian (Mrk 8:34 dan Luk 14:27). Penghormatan kepada Maria mulai muncul sejak abad 2. Saat itu, diinspirasikan oleh peran Kristus sebagai Adam baru (Rm 5:12-21), berkembanglah pandangan Maria sebagai Hawa baru yang turut membawa keselamatan karena ketaatannya kepada Allah. Gelar Hawa baru yang diterapkan kepada Maria diungkapkan oleh Santo Yustinus Martir (+ 163 M). “Hawa ditipu oleh ucapan malaikat yang jahat sehingga ia tidak taat kepada perintah  Allah dan semua itu membawa kematian, sedangkan Maria, Perawan  yang setia memperhatikan perkataan malaikat dengan baik sehingga dengan kesediaannya melahirkan Sumber Kehidupan bagi dunia.” Bahkan, Santo Hieronimus (+ 419 M) menyatakan, “Kematian ada melalui Hawa, kehidupan lahir melalui Maria.” Lukisan dinding paling awal tentang Perawan Maria dibuat pertengahan abad 2 dan ditemukan di Katakombe Priscilla.

Doa Awali untuk Maria
Penghormatan kepada Maria semakin lazim mulai abad 3 seiring semakin lazimnya penghormatan kepada orang-orang kudus. Bahkan, sekitar tahun 250, sudah muncul doa “Di Bawah Perlindunganmu,” sebuah doa singkat untuk memohon perlindungan kepada Maria. Teks paling awal doa ini ditemukan dalam liturgi Natal Gereja Ortodox Koptik dan tertulis dalam bahasa Yunani. Doa tersebut digunakan baik dalam liturgi Gereja Koptik maupun ritus Konstantinopel, Ambrosius, dan Romawi sampai sekarang. Dokumen ini pertama kali dimuat dalam buku Catalogue of the Greek and Latin Papyri in the John Rylands Library, III,Theological and Literacy Texts, Manchester pada  tahun 1938. Doanya kurang lebih seperti berikut, “Kami mengungsi ke dalam perlindungan-Mu, ya Bunda Allah yang Amat Suci; janganlah menganggap remeh permohonan yang kami panjatkan dalam kesesakan ini, tetapi lepaskanlah kami selalu dari segala marabahaya, ya Perawan yang mulia dan terberkati. Amin.” Jejak-jejak doa ini terekam dalam kidung-kidung yang digunakan dalam Ibadat Penutup (Completorium) seperti dinyatakan dalam kidung berikut ini: “Santa Maria, Bunda Kristus, kami berlindung padamu, janganlah mengabaikan doa kami bila kami dirundung nestapa, bebaskanlah kami selalu dari segala mara bahaya, ya Perawan yang terpuji” atau “Salam ya Ratu, Bunda yang berbelas kasih, kami semua memanjatkan permohonan, kami amat susah, mengeluh mengesah, dalam lembah duka ini. Ya Ibunda, ya Pelindung kami, limpahkanlah kasih sayangmu yang besar kepada kami. Dan Yesus Puteramu yang terpuji itu, smoga Kautunjukkan kepada kami, o Ratu, o Ibu, o Maria, Bunda Kristus.”

Perkembangan Ajaran Iman
Sejak abad keempat, para teolog mulai memikirkan hubungan antara Yesus dan BundaNya. Ajaran yang paling terkenal pada masa itu adalah ajaran mengenai Maria sebagai Bunda Allah atau Theotokos yang dikeluarkan oleh Konsili Efesus pada tahun 431. Sekitar tahun 430, dibuatlah mosaik pada Basilika Santa Maria Maggiore, Roma. Dalam mosaik itu, belum ada halo (lingkaran kudus) di sekitar kepala Maria. Bisa disimpulkan bahwa Maria saat itu belum begitu populer sebagai orang yang dikuduskan. Mulai abad 5, dirayakanlah beberapa pesta Santa Maria seperti Kelahiran Maria (8 September), Kabar Sukacita (25 Maret), dan Yesus Dipersembahkan ke Kenisah (2 Februari). Saat itu, lagu dan madah pujian bagi Maria mulai disusun. Seiring dengan itu, lukisan-lukisan mengenai Maria mulai dibuat. Awalnya, lukisan Maria selalu digambarkan dengan Puteranya. Lama-lama, mulai abad 6, Maria banyak digambarkan sendiri sebagai Ratu. Berikut ini adalah beberapa kisah seputar lukisan tentang Maria:

1)        Eudokia (istri Theodosius II, + 460) mengirimkan lukisan Bunda Allah" yang diberi nama Ikon Hodegetria dari Yerusalem kepada Pulcheria, puteri Kaisar Arcadius
2)        Gereja Santa Maria Antiqua memiliki lukisan yang menggambarkan Maria menerima kabar gembira yang dibuat antara tahun 565-578
3)       Pada abad 6, dilukislah sebuah ikon Maria yang tersimpan di Biara Santa Katarina
4)       Ukiran tentang Maria dari gading dibuat sekitar tahun 800 sebagai sampul buku Kodeks Aureus dari Lorsch, Jerman
5)       Pertapaan Vatopedi, Gunung Athos, Yunani menyimpan sebuah ikon Maria yang dibuat sebelum tahun 870
6)       Evengelarium Svanhild memiliki sampul lukisan Maria yang dibuat antara tahun 1058-1085
7)       Ikon Kristen Orthodoks Theotokos Iverskaya dibuat sekitar abad 10
8)       Sekitar abad 13 dibuatlah ikon Maria bergaya Italo-Konstantinopel

Perkembangan Devosi
Mulai abad 14, para teolog, sastrawan, seniman dan umat berlomba-lomba memuji Maria dan mengharapkan pertolongan melalui perantaraan Maria. Saat itu, mulai muncul devosi populer kerakyatan seperti Doa Rosario, Angelus, dan Ziarah. Bahkan, devosi saat itu kadang-kadang agak menyimpang dari akal sehat. Terimakasih kepada kalangan Protestan karena kritikan mereka membuat Gereja Katolik kembali memberikan arah yang benar terhadap devosi ini. Pada awal abad 19 sampai Konsili Vatikan II, para teolog dan umat semakin memperlihatkan devosi yang besar kepada Maria. Dalam kurun waktu ini, mulai bermunculan tempat-tempat ziarah yang terkenal seperti: La Salette (1846), Lourdes (1858), Sendangsono (1904), dan Fatima (1917).

Puncak Penghormatan
Penghormatan Gereja Katolik kepada Maria semakin berpuncak pada tahun 1854 dan 1950. Tahun 1854, Paus Pius IX mengeluarkan dogma Maria yang dikandung tanpa noda. Dosa asal pada diri Maria terhapus oleh rahmat yang luar biasa dari Tuhan. Tahun 1950, Paus Pius XII mengeluarkan dogma Maria diangkat ke surga. Penghapusan dosa Maria memberikan dampak bahwa dia tidak dapat mati. Penghapusan dosa ini membuat Maria lepas dari hukum kematian badan.

Pedoman Berdevosi
Inilah cara-cara kita menghormati Maria sepanjang masa. Devosi kepada Maria menjadi jawaban orang beriman Katolik atas peranan Maria dalam rencana keselamatan Allah. Sekarang, devosi terhadap Maria diatur dalam ajaran Konsili Vatikan II, khususnya Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium artikel 52-69 (1964) dan Surat Apostolik Marialis Cultus (1974).

Bahan di atas yang telah dituliskan ini merupakan bahan sekolah iman Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta pada tanggal 17 Oktober 2014. Bulan Oktober adalah bulan yang dipakai oleh Gereja Katolik sebagai saat untuk menghormati Maria. Oleh karena itu, sekolah iman yang dilaksanakan bulan ini juga mengambil tema tentang Maria. Semoga bermanfaat bagi semuanya. 




Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.

Jumat, 17 Oktober 2014

Keluarga Beribadah dalam Sabda

Selama bulan September ini, Ruang Podjok mengadakan kegiatan berkenaan dengan Bulan Kitab Suci Nasional. Di bulan ini, ada dua pertemuan yang diadakan untuk membahas tema BKSN 2014, yaitu “Keluarga Beribadah dalam Sabda.” Tema ini merupakan kelanjutan dari tema tahun 2013. Tema BKSN 2013 adalah “FirmanMu Pelita bagi Langkahku”. Tema ini merupakan penjabaran dari tema besar “Keluarga yang Bersekutu dan Mendengarkan Sabda Allah” Tema 2013 mengajak keluarga untuk menghayati sabda Allah sebagai penuntun hidup. Melalui tema tahun 2014, keluarga diharapkan mampu menggunakan sabda Allah sebagai bahan ibadat, doa, maupun olah rohani yang dilakukan dalam kehidupan pribadi maupun keluarga.
Pertemuan BKSN yang normal dilakukan sebanyak empat kali. Namun, karena disesuaikan dengan agenda kegiatan Ruang Podjok, pertemuan BKSN dilaksanakan sebanyak dua kali. Oleh karena itu, Penjaga Podjok memutar otak untuk membuat bahan yang seharusnya dibahas empat kali menjadi bahan yang dapat dibahas dua kali. Dalam pertemuan pertama, anggota Ruang Podjok diajak untuk membahas tema “Iman akan Allah dalam Keluarga” dan dalam pertemuan kedua, akan dibahas tema “Ibadah dan Kehidupan yang Benar.” Semoga ini tidak menyalahi arahan dan gagasan dasar yang diajukan oleh Komisi Kitab Suci. Atas dasar dua tema itu, dilangsungkanlah pertemuan pada hari Jumat, 5 September dan Jumat, 19 September. Nah, inilah hasil pengolahan itu.
Dalam pertemuan pertama, peserta pertemuan diajak untuk menyadari adanya iman akan Allah dalam keluarga. Pertemuan pertama ini melihat bagaimana cara beriman dalam keluarga dan bagaimana iman tersebut diwariskan turun-temurun dalam keluarga. Adapun bahan yang digunakan adalah Kej 18:1-15 dan Ul 6:20-25. Untuk bahan pertama, diajukanlah beberapa pertanyaan: 1) Bagaimana Abraham menyambut tamunya?, 2) Hidangan apa yang disuguhkan Abraham pada tamunya?, 3) Apa pendapatmu tentang pribadi Abraham dan Sara?, 4) Persoalan apa yang dihadapi Abraham?, 5) Bagaimana persoalan Abraham tersebut diselesaikan?, 6) Siapa yang menyelesaikan persoalan tersebut?, dan 7) Bagaimana tanggapan Abraham dan Sara terhadap penyelesaian persoalan tersebut? Untuk bahan kedua, ada beberapa pertanyaan yang harus ditanggapi: 1) Apa yang kamu yakini menjadi tanda kehadiran Allah dalam kehidupan pribadi atau keluargamu?, 2) Siapa yang bertugas mewariskan iman?, 3) Apa yang diwariskan dalam iman?, 4) Bagaimana seharusnya iman diwariskan?, 5) Bagaimana pengaruh iman dalam hidup sehari-hari?, dan 5) Apa tantangan yang sering muncul dalam mengembangkan iman di zaman sekarang? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang kemudian diolah dalam kelompok kecil.

Setelah mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan tersebut, dipaparkanlah bahan berikut ini. Perjanjian Lama mengajarkan bahwa Allah sering hadir menjumpai manusia dan menolongnya. Tempat di mana Allah hadir sering dipandang suci sekaligus sering dikunjungi manusia untuk berjumpa dengan Allah. Ada beberapa sarana yang digunakan oleh Allah untuk menjumpai manusia. Beberapa contohnya adalah: Tabut Perjanjian, Tempat Suci (Sikhem, Gilgal, Betel, Hebron, Silo), dan Bait Allah. Perjumpaan itulah yang dialami oleh Abraham dan Sara. Secara istimewa, Abraham dan Sara didatangi oleh Tuhan dalam wujud tiga manusia yang menjadi tamu di perkemahan mereka. Dalam kesempatan itu, Abraham menyambut tamunya dengan cara yang istimewa. Abraham sangat antusias menjamu tamunya (ay.6-7). Ada 3 kata segera yang dinyatakan dalam kutipan tersebut. Abraham juga menghidangkan jamuan mewah (ay.6-10). Hidangan makannya adalah roti dari 3 sukat tepung terbaik. Satu sukat sama dengan 12 liter. Jadi, tiga sukat sama dengan 36 liter. Bahan ini menghasilkan roti pipih berdiameter 45 cm. Minumannya adalah dadih, air susu sapi atau kambing yang telah dikentalkan. Pengembara tidak minum anggur, tetapi air. Menjamu dadih berarti tuan rumah itu menjamu pengembara dengan pesta. Tiga tamu istimewa ini ternyata utusan Allah atau Allah sendiri yang ingin membantu Abraham dan Sara menyelesaikan persoalannya, yaitu tiadanya keturunan bagi mereka. Tidak punya keturunan dalam tradisi Israel berarti tidak mendapat berkat dari Tuhan bahkan dianggap mendapat kutuk. Kehadiran Allah dalam keluarga Abraham dan Sara ini telah membawa keselamatan bagi mereka. Allah hadir dan menyelamatkan keluarga mereka dari pandangan masyarakat yang ada saat itu. Kehadiran Allah dalam keluarga menjadi sarana penyelamatan Allah.
Telah disampaikan tadi bahwa Allah hadir melalui berbagai cara dalam kehidupan ini. Salah satu cara untuk menghayati kehadiran Allah adalah melalui ibadah. Ibadah dalam dilakukan kapan saja dan dimana saja. Ibadah merupakan cara kita untuk berbakti kepada Tuhan. Ibadah yang paling sederhana dan dapat dilakukan secara pribadi adalah doa. Ibadah selalu melibatkan iman yang diwariskan turun temurun. Musa mengajak selu-ruh bangsa Israel untuk mewariskan imannya kepada generasi berikutnya (ay.1-2.20). Pewarisan iman merupakan cara untuk menjaga kelestarian nilai-nilai kehidupan dari generasi ke generasi. Pewarisan iman merupakan tugas kita orang Katolik. Setiap orang Katolik dituntut untuk bisa mewartakan imannya sendiri kepada orang lain. Setiap orang Katolik perlu belajar tentang imannya sendiri. Paus Paulus VI menulis, “Ibu-ibu, benarkah anda mengajarkan doa-doa Kristiani kepada anak-anak anda? Benarkah anda, bersama dengan para imam, menyiapkan mereka untuk menyambut sakramen-sakramen, yang mereka terima selagi masih muda: sakramen Tobat, Komuni, dan Krisma? Benarkah anda mendorong mereka, kalau sedang sakit, untuk mengenangkan Kris-tus yang menderita sengsara, untuk memohon pertolongan kepada Santa Perawan Maria dan para kudus? Apakah anda bersama mendoakan Rosario keluarga? Dan anda, bapak-bapak, benarkah anda berdoa bersama dengan anak-anak anda, dengan seluruh keluarga, setidaknya kadang-kadang? Contoh kejujuran anda dalam pikiran maupun perbuatan, berpadu dengan doa bersama, menjadi pelajaran untuk hidup, tindakan ibadat yang bernilai istimewa. Itulah cara anda membawa damai dalam rumahtangga anda: Pax hic domui, semoga damai turun di atas rumah ini! Ingat, begitulah anda membangun Gereja.” Kita semua dipanggil untuk merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan kita. Kita semua dipanggil untuk mewartakan dan mewariskan iman kita kepada generasi yang akan datang.
Dalam pertemuan kedua, peserta diingatkan kembali tentang bahan-bahan yang didalami dalam pertemuan pertama. Pertemuan pertama mengajak para peserta melihat bagaimana Allah hadir di setiap kesempatan, terutama dalam kehidupan dan bagaimana iman diwariskan dalam keluarga. Allah hadir dalam kehidupan sekarang dan kita masing-masing bertugas untuk mewariskan sambil mewartakan iman kepada generasi berikutnya. Dalam pertemuan kedua, peserta diajak untuk mencermati bagaimana ibadat dilakukan dalam kehidupan dan bagaimana ibadat tersebut seharusnya berpengaruh pada kehidupan harian. Bahan yang digunakan dalam pertemuan ini adalah Am 5:21-27 dan Yoh 4:1-26. Berkenaan dengan bahan pertama, ada beberapa pertanyaan yang dibahas: 1) Ibadah macam apa yang dinyatakan di sana?, 2) Mengapa Allah tidak senang terhadap ibadah yang dilakukan oleh bangsa Israel?, 3) Apa yang harus dilakukan untuk melakukan ibadah yang benar?, 4) Selama ini, bagaimana cara kamu beribadah?, dan 5) Bagaimana seharusnya ibadah berpengaruh pada kehidupan sehari-hari? Sementara itu, bahan kedua didalami dengan bantuan pertanyaan berikut: 1) Apa yang dialami oleh Yesus saat itu?, 2) Apa yang dibicarakan oleh Yesus?, 3) Menurutmu, apa maksud kata-kata “Barang-siapa minum air yang Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya”?, dan 4) Bagaimana kamu memahami kata-kata “menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran”? Dalam pertemuan kedua ini, sangat terasa bahwa bahan dari Injil Yohanes agak sulit dipahami. Ya ini mungkin wajar karena Injil Yohanes memang tidak mudah dipahami sekalipun oleh orang yang sudah lebih dahulu belajar.

Setelah membahas pertanyaan-pertanyaan, Penjaga Podjok menyampaikan materi mengenai “Ibadah dan Kehidupan yang Benar.” Ibadah lazim dilakukan dalam kehidupan bangsa Israel. Kehidupan bangsa Israel diwarnai dengan ibadah yang tiada henti. Kata “ibadah” (Ibr: abodah) berarti “mengabdi Allah” Praktek ibadah dalam bangsa Israel memunculkan berbagai perayaan, antara lain: Perayaan Paska, Hari Raya Roti Tak Beragi, Hari Raya Tujuh Minggu, dan Hari Raya Pondok Daun, yang dirayakan setiap laki-laki Israel. Namun, perjumpaan bangsa Israel dengan bangsa-bangsa Kanaan telah mempengaruhi cara pandang mereka terhadap ibadah kepada TUHAN. Tujuan mereka beribadah bukan lagi untuk mengungkapkan bakti kepadaNya, tetapi untuk memenuhi kepentingan mereka sendiri. Mereka memeras orang miskin lalu mempersembahkannya kepada Allah. Mereka melakukan ketidakadilan dalam hidup harian lalu dengan khusuk bisa memberikan persem-bahan kepada Allah. Bangsa Israel melakukan ibadah hanya demi “menyenangkan” Allah. Hidup mereka hayati dengan sesuka hati dibayar dengan persembahan kepada Allah (Am 5:21-22). Selain itu, dalam ibadah Israel pun masuk unsur-unsur yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, misalnya ritual seksual seperti yang dilakukan agama Kanaan. Bangsa Israel juga “memenjarakan” Allah dengan membangun pemahaman bahwa Allah hanya dapat ditemui di tempat-tempat khusus. Padahal, Allah hadir di manapun Ia menghendaki (Yes 66:1). Melihat kenyataan itu, para nabi melontarkan berbagai kritik terhadap ibadah yang dilakukan oleh umat Israel. Para nabi menyatakan bahwa ibadah adalah wujud ketaatan kepada Allah. Kalau mereka mau hidup sesuai dengan kehendakNya, yang harus mereka lakukan adalah memperhatikan sesama. Orang yang tunduk dan taat kepada Allah, pasti mengasihi sesamanya. Ibadat itu tidak terpisah dari kehidupan yang nyata, tetapi merupakan bagian dari kehidupan tersebut. Ketaatan untuk hidup sebagai umat Allah sama sekali tidak dapat dibatasi dalam tempat-tempat ibadah, tetapi menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia (Hos 6:6). Bagi para nabi, ibadah itu tidak memiliki peran mutlak, apalagi bila dianggap sebagai cara terbaik untuk menyenangkan hati Allah. Ada hal lain yang perlu lebih mendapat perhatian, yakni kehidupan nyata. Kalau orang tidak mengabaikan perhatian pada sesamanya, ibadah yang dilakukannya akan kehilangan nilainya. Semua kritik itu mereka sampaikan agar umat Israel dapat menjalankan ibadah yang sejati kepada Allah yang telah menyelamatkan mereka
Dalam pembicaraan dengan perempuan Samaria, Yesus menyebut pada suatu masa yang akan datang, tidak lagi menjadi soal di mana Allah harus disembah (Yoh 4:23). Soal tempat penyembahan akan lenyap sama sekali. Segala bangsa, termasuk Yahudi dan Samaria, akan menyembah Allah di segala tempat. Untuk dapat berjumpa dan menyembah Allah, orang tidak perlu datang ke tempat tertentu karena kehadiran-Nya tidak terikat pada hal-hal fisik. Menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran berarti menyembah Allah karena digerakkan oleh Roh yang telah menyatakan kebenaran tentang Allah. Roh memperkenalkan dan menyatakan siapakah Allah yang sebenarnya, yaitu Allah sebagaimana Dia ada. Hal ini dilakukan dengan mengingatkan orang beriman pada semua yang telah diajarkan oleh Yesus mengenai Allah Bapa yang mengasihi manusia. Roh yang sama menggerakkan orang untuk menyembah Allah yang sebenarnya (sebagaimana adanya) dengan sikap hati yang benar, yakni dengan menempatkan diri di hadapan Allah yang mengasihi dia. 
Keluarga perlu menyediakan waktu untuk bertemu dengan Tuhan dalam suasana yang tenang namun menggembirakan. Ketika Kitab Suci dibacakan, Allah hadir dan berbicara kepada keluarga. Kemudian dalam doa para anggota menanggapi Sabda yang telah didengarkan. Perjumpaan keluarga itu dengan Allah akan menciptakan hubungan yang lebih akrab dan mesra denganNya. Dari kebiasaan ibadah itu, keluarga diharapkan dapat mengalami kasih Allah dan membawa kasih itu kepada sesama.
Inilah sedikit catatan dari kegiatan Ruang Podjok Agama Katolik SMK Negeri 3 Surakarta di bulan September yang lalu.

Senin, 08 September 2014

Mengolah Iman untuk Awali Tahun Pelajaran Baru

Tahun pelajaran baru merupakan momen yang sangat rutin di setiap sekolah. Momen itu selalu dilewatkan dengan berbagai macam kegiatan orientasi atau pengenalan bagi siswa-siswi yang baru bergabung di suatu sekolah. Beruntunglah siswa-siswi Kristen Katolik di SMK Negeri 3 Surakarta. Di awal tahun pelajaran baru ini, siswa-siswi SMK Negeri 3 Surakarta diberi kesempatan untuk mengawali tahun ajaran baru dengan olah kerohanian. Hari pertama masuk sekolah yang bertepatan dengan bulan Ramadhan tahun ini menjadi berkah tersendiri bagi siswa-siswi Kristen dan Katolik. Karena bersamaan dengan bulan Ramadhan, otomatis bagi siswa-siswi Islam akan ada kegiatan Pesantren Kilat. Dengan demikian, bagi siswa-siswi Katolik akan ada acara Gladi Rohani dan Retret. Acara Gladi Rohani dan Retret tahun ini diadakan mulai tanggal 17-19 Juli 2014.
Setelah menjalani Masa Orientasi Peserta Didik Baru bersama-sama teman-teman mereka yang lain, siswa-siswi Kristen dan Katolik SMK Negeri 3 Kelas X diberi kesempatan untuk menimba kekuatan iman dan mengolah kerohanian. Tidak seperti tahun-tahun yang lalu, acara Gladi Rohani tahun ini dilaksanakan di Gereja Baptis Indonesia Gading pada 17 Juli 2014. Dalam kesempatan itu, Bapak Pendeta Paulus Bantara Nusantara berkenan memberikan firman kepada siswa-siswi SMK Negeri 3 Surakarta. Firman yang diambil pada kesempatan itu diinspirasikan dari Efesus 5:1-21 yang mengajak semua orang Kristiani untuk menjalani hidup sebagai anak-anak terang. Pada kesempatan itu, Bapak Pendeta mengajak semua saja yang hadir untuk menjadi anak-anak terang dengan melakukan hal-hal yang pantas: tidak berkata kotor, sembrono, dan kosong serta melakukan kebaikan, keadilan, dan kebenaran. Sabda yang disampaikan itu terasa sangat pas untuk memulai hidup baru sebagai siswa-siswi di SMK Negeri 3 Surakarta. Setiap siswa-siswi Kristiani dipanggil untuk menjadi anak-anak terang yang melakukan kebaikan, keadilan, dan kebenaran.
Hari berikutnya, siswa-siswi Kristiani SMK Negeri 3 kemudian mengadakan perjalanan ke Tawangmangu untuk melanjutkan proses olah rohani melalui Retret. Retret kali ini dilakukan di Villa Indrasari, Tawangmangu, Karanganyar. Dalam retret kali ini, tema yang masih ingin diolah adalah Hidup sebagai Anak-anak Terang. Retret yang berlangsung sejak tanggal 18 sampai 19 Juli 2014 itu dibagi menjadi beberapa sesi, antara lain sesi Siapakah Aku, sesi Kebangunan Rohani, sesi Outbound, dan sesi Apa yang Harus Aku Lakukan. Dalam kesempatan retret ini, yang diminta untuk memberikan pendalaman rohani adalah Bapak Pendeta Waskita Wibowo dari Gereja Kristen Indonesia Nusukan dan Ibu Azkaria dari Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum.


Pada sesi Siapakah Aku, Bapak Pendeta Waskita Wibowo mengajak seluruh peserta retret untuk mengenali dirinya sendiri yang sebenar-benarnya. Dalam kesempatan itu, seluruh peserta diajak untuk melihat dan menyadari diri, baik hal-hal positif maupun negatif serta pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Setelah itu, beliau juga mengajak seluruh peserta untuk bersikap terhadap segala hal yang telah ditemukan itu. Melalui sesi ini, beliau mengajak seluruh peserta retret untuk menggunakan segala hal yang ada dalam dirinya demi perkembangan diri yang lebih baik. Semua ini diarahkan untuk menjadi anak-anak terang dalam kehidupan harian. Setelah sesi berakhir, seluruh peserta diberi kesempatan untuk beristirahat sejenak.






Sore harinya, acara dimulai kembali dengan sesi Kebangunan Rohani. Acara ini diisi oleh panitia. Dalam sesi ini, para peserta dan panitia diajak untuk menimba kekuatan dari Kitab Suci dan pengalaman yang dibagikan di antara peserta maupun panitia. Malam harinya, acara dilanjutkan dengan acara Api Unggun. Acara api unggun yang dilakukan malam hari itu terasa semakin istimewa dengan kehadiran Ibu Kepala Sekolah, Ibu Dra. Sri Haryanti, MM. Dalam kesempatan itu, Ibu Kepala Sekolah ikut larut terlibat dalam kegiatan yang menggembirakan itu. Setelah sesi berakhir, seluruh peserta diberi kesempatan untuk beristirahat malam.






Pagi harinya, seluruh peserta dibangunkan pagi untuk mengadakan Doa Pagi. Setelah Doa Pagi, seluruh peserta diajak untuk berjalan-jalan pagi. Setelah itu, diadakanlah Outbound di antara peserta. Permainan-permainan dalam Outbound terasa seru dan menggembirakan. Tawa lebar dan lepas mengiringi berbagai permainan yang dilakukan. Semuanya itu dilakukan dalam rangka mensyukuri hari baru yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita semua. Setelah makan pagi, seluruh peserta kembali mengikuti sesi. Sesi dengan tema Apa yang Akan Aku Lakukan ini dibawakan oleh Ibu Azkaria. Dalam sesi tersebut, seluruh peserta diajak untuk berpikir mengenai hal-hal yang mungkin dilakukan dalam hidup harian selanjutnya. Hidup sebagai anak terang adalah hidup yang memancarkan cahaya. Cahaya disebut berguna jika cahaya tersebut dapat menerangi lingkungan sekitarnya. Setelah sesi berakhir, seluruh peserta kemudian diberi kesempatan untuk melakukan acara bebas sebelum pulang. Dalam kesempatan itu, beberapa peserta menggunakan waktunya untuk berjalan-jalan, berbelanja, jajan dan melakukan berbagai aktivitas termasuk bersiap-siap untuk kembali pulang ke rumah. Setelah acara retret ini, seluruh siswa SMK Negeri 3 Surakarta diberi kesempatan untuk mendapatkan libur dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 1435 Hijriyah.












Sekitar sebulan setelah liburan, siswa-siswi Katolik kembali mendapat kesempatan untuk menimba kekuatan rohani. Tanggal 29 Agustus 2014, bertepatan dengan Peringatan Wajib Wafatnya Santo Yohanes Pembaptis, diadakanlah Perayaan Ekaristi untuk memohon berkat bagi tahun pelajaran yang baru. Hari itu, Romo Agustinus Sudarisman, romo paroki San Inigo Dirjodipuran yang membawahi reksa pastoral dimana SMK Negeri 3 termasuk di dalamnya, berkenan untuk mempersembahkan Ekaristi. Dalam kesempatan itu, hadir 22 siswa dan 3 guru. Dalam kesempatan Ekaristi itu, Romo Daris menyampaikan homili yang mengajak para guru dan siswa untuk tidak bersikap seperti Herodes yang bingung. Keputusan yang tidak didasari dengan kejelasan dan kemantapan dapat berakibat buruk bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, bahkan bisa menyebabkan hilangnya nyawa orang lain. Oleh karena itu, kita semua diajak untuk bertahan dalam keputusan selagi masih berada dalam kebingungan dan mendasari seluruh keputusan kita dengan kemantapan. Ekaristi Jumat kelima ini pun menjadi momen untuk kembali membangkitkan semangat sebelum menempuh perjalanan di tahun pelajaran baru. Terima kasih kepada Romo Daris yang berkenan mempersembahkan Ekaristi dan Bapak Ibu Guru serta siswa yang hadir dalam kesempatan itu.
Semoga olah kerohanian di awal tahun pelajaran ini menjadi awal yang baik bagi perkembangan iman Katolik di SMK Negeri 3 Surakarta.