Senin, 18 Desember 2017

Mengenang dan Mendoakan Anggota Keluarga yang Telah Meninggal

Memasuki bulan November, kegiatan Ruang Podjok pun mengikuti gerak Gereja Katolik pada umumnya. Seperti biasa, di bulan November, seluruh anggota Gereja Katolik diajak untuk memasuki bulan arwah yang digunakan untuk mendoakan mereka yang telah lebih dahulu dipanggil kembali menghadap kepada Allah. Di Jumat Pertama bulan November (3/11/2017), Penjaga Podjok mengajak seluruh anggota Ruang Podjok untuk mendoakan mereka yang telah berpulang dalam kedamaian abadi. Hari itu, cara berdoa yang diperkenalkan adalah Doa Taize. Doa Taize merupakan suatu cara berdoa yang dimiliki oleh komunitas Taize. Komunitas Taize adalah komunitas yang didirikan oleh Bruder Roger Schutz. Ia memulai sebuah komunitas yang terdiri dari para pria beragama Katolik dan Protestan. Para pria ini hidup bersama dalam sebuah persekutuan dan menjalankan hidupnya seperti cara hidup para biarawan dalam Gereja Katolik. Komunitas ini hidup di sebuah desa bernama Taize, sebuah desa kecil di pedalaman Perancis. Meskipun berada di pedalaman, desa ini berhasil menarik banyak kaum muda dari seluruh penjuru dunia untuk datang dan berdoa bersama. Tidak hanya dari kalangan Katolik dan Protestan saja, desa ini didatangi oleh banyak kaum muda untuk menggalang kebersamaan demi perdamaian dunia. Mereka tinggal beberapa hari, beberapa minggu, bahkan beberapa bulan untuk menyelami hidup harian bersama komunitas ekumenis para bruder yang ada di sana. Doa Taize termasuk dalam doa hening yang diiringi dengan lagu-lagu meditatif. Dalam keheningan, anggota Ruang Podjok yang hadir diajak untuk mengenang kembali arwah sanak saudara, keluarga atau siapapun yang akan didoakan. 

Dalam renungan, Penjaga Podjok menyadarkan kembali bahwa bulan arwah ini merupakan salah satu kekhasan Gereja Katolik. Hal ini pulalah yang membedakan antara orang yang percaya kepada Allah dan orang yang tidak percaya kepada Allah. Orang yang percaya kepada Allah itu setelah mati, memiliki sebuah tujuan yaitu kembali kepada Allah atau dalam istilah Jawa disebut “sowan Gusti.” Jika dibandingkan dengan orang yang tidak beriman kepada Allah, siapakah yang akan dituju setelah ia mati? Gereja Katolik mengajak setiap warganya untuk sadar siapakah pemilik kehidupan ini. Setiap orang yang lahir di dunia ini suatu saat nanti pasti akan kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan, yaitu Allah sendiri, yang diwartakan oleh Yesus dengan sebutan Bapa. Melalui kegiatan ini, Penjaga Podjok secara pribadi bersyukur karena boleh menjadi salah satu warga Gereja Katolik yang selalu mendampingi para anggotanya dalam setiap peristiwa hidup manusia dengan ajaran-ajaran iman, mulai sejak lahir sampai kematian. Terima kasih kepada Tuhan yang telah memanggilku menjadi orang yang beriman kepadaNya melalui Gereja Katolik... Semoga kesadaran ini membuat imanku semakin teguh dan kuat...

Tamasya Lintas Agama Bersama PaPPIRus

Masih di bulan Oktober, Penjaga Podjok mendapatkan kesempatan yang sangat unik... Di akhir bulan September, Penjaga Podjok menerima telpon dari seorang sahabat yang bekerja di Komisi Kateketik Keuskupan Agung Semarang, Mas Ipung. Beliau memberikan informasi mengenai acara lintas agama yang ditawarkan kepada Penjaga Podjok. Awalnya, Penjaga Podjok merasa ragu untuk mengiyakan, tetapi setelah mempertimbangkan beberapa saat, jawaban "Ya" diberikan atas tawaran itu. Akhirnya, Penjaga Podjok pun berkesempatan untuk mendatangi sebuah kegiatan yang sangat unik, menarik, dan membawa kesan tersendiri. Berikut ini adalah catatan Penjaga Podjok terhadap kegiatan itu...
Bertempat di Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan, sebanyak 30 perwakilan guru Pendidikan Agama dari lima agama – Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha – mengikuti kegiatan Penguatan Wacana Pengelolaan Keragaman dan Peningkatan Kompetensi Metode Pembelajaran Pendidikan Inter Religius. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Paguyuban Penggerak Pendidikan Inter Religius (PaPPIRus) selama tiga hari (Jumat–Minggu, 6-8/10). Kegiatan ini dibuka dengan refleksi tentang profesionalitas guru dan semangat kebangsaan. Dalam refleksi, para para guru diajak untuk melihat tanggung jawab, kekuatan, keberhasilan, kendala, dan pengembangan profesi guru dalam meningkatkan semangat kebangsaan di tengah kehidupan masyarakat Indonesia. Guru memiliki peran strategis untuk membangun masyarakat Indonesia agar memiliki kesadaran akan keberagaman dan rasa saling menghargai satu sama lain. PaPPIRus menyadari pentingnya sikap saling menghargai keberagaman masyarakat Indonesia sebagai modal untuk membangun bangsa ini menjadi bangsa yang besar, maju, dan berkembang.


Seiring dengan visi yang digotong untuk memajukan Pendidikan Inter Religius, PaPPIRus mengajak para guru agama untuk belajar dari agama-agama lain melalui model touring culture. Touring culture merupakan sebuah metode belajar yang dilakukan dengan berkunjung atau tamasya ke komunitas agama-agama sebagai sarana untuk saling mengenal para pemeluk agama dan kepercayaan lain. Komunitas agama pertama yang dikunjungi adalah Komunitas Paguyuban Umat Pran Soeh. Komunitas Pran Soeh merupakan komunitas penghayat agama asli Pran Soeh yang dicetuskan oleh Romo Resi Pran Soeh Sastrosoewignjo. Romo Resi Pran Soeh Sastrosoewignjo merupakan salah satu anggota keluarga Kraton Yogyakarta yang karena pendalaman ilmu kasukman-nya, menemukan wisik atau wangsit untuk mendirikan agama baru di Tanah Jawa. Tempat yang disucikan oleh agama ini berada di daerah Pepe Muntilan, tepat di sebelah utara Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan dan diberi nama Balai Suci Agung Gedong Pran Soeh Tlaga Mahardo. Dari komunitas Pran Soeh, para peserta diajak menuju Klenteng Hok An Kiong. Klenteng ini merupakan satu-satunya klenteng yang ada di daerah Muntilan. Klenteng yang disebut juga Tempat Ibadah Tri Darma ini menjadi tempat ibadah bagi tiga aliran, yaitu Kong Hu Cu, Taoisme, dan Buddhisme. Yang menjadi tuan rumah atau pusat pemujaan di klenteng ini adalah Dewa Bumi. Di klenteng ini, para peserta mendapatkan penjelasan mengenai simbol-simbol yang dipakai oleh para penganut agama Kong Hu Cu ini. Dari Klenteng Hok An Kiong, para peserta diajak mengunjungi Museum Misi Muntilan. Museum Misi Muntilan merupakan salah satu museum yang dimiliki oleh Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang. Museum Misi Muntilan menjadi wahana edukasi untuk memahami bagaimana Gereja Katolik berkembang di wilayah Keuskupan Agung Semarang yang meliputi sebagian daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Di Museum Misi ini, para peserta belajar menggali kekayaan iman yang ada dalam Gereja Katolik, khususnya penyebaran dan perkembangan iman Katolik di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang dirintis oleh Pastor Fransiskus Georgius Josephus van Lith, SJ melalui pendidikan yang diberikan kepada anak-anak pribumi.

Bicara dalam konteks keberagaman agama, wadah ini menjadi salah satu cara untuk menerobos prasangka antar agama dalam rangka saling memahami kekayaan dan tradisi agama satu dengan yang lain. Prasangka seringkali menjadi tembok pemisah yang membuat agama-agama ini tidak dapat saling memahami. Kegiatan ini menjadi salah satu cara untuk meruntuhkan prasangka itu dan kemudian membangun pemahaman yang baru terhadap penganut agama lain.

Menjalankan Tradisi Doa Devosi kepada Maria

Memasuki bulan Oktober, Ruang Podjok bersama seluruh Gereja Katolik menjalankan tradisi doa devosi melalui Maria. Doa Rosario... inilah doa yang dipilih dalam bulan ini. Doa yang termasuk devosi kepada Maria ini dilakukan dua kali dalam bulan Oktober, yaitu Jumat Pertama (6/10/2017) dan Jumat Ketiga (20/10/2017). 


Doa Rosario merupakan doa sederhana yang dilakukan dengan cara mengulangi doa Salam Maria sebanyak 50 kali... Inilah catatan yang dapat diberikan Penjaga Podjok mengenai Doa Salam Maria dan Doa Rosario:

Salah satu doa dan devosi sederhana yang populer di kalangan umat Katolik ialah “Salam Maria” dan “Rosario”. Dalam keduanya, umat Katolik merenungkan karya penebusan Kristus yang menjadi inti sejarah keselamatan. Kedua doa itu memiliki sejarah yang sangat panjang dan saling mempengaruhi.

Berawal di Abad VI
Doa Salam Maria mulai dikenal secara luas sejak abad XI. Namun, tradisi doa itu konon sudah dimulai sejak abad VI. Adalah Ildephonsus, seorang pemuda turunan bangsawan yang memiliki banyak harta kekayaan dan dihormati masyarakat. Kehidupannya dihiasi dengan kesenangan-kesenangan duniawi bersama dengan kawan-kawannya. Namun, Tuhan mempunyai suatu rencana khusus Atas rahmat Allah, Ildephonsus mengubah cara hidupnya, meninggalkan segala kefanaan duniawinya, lalu mengikuti Yesus. Ia pun mengajukan permohonan kepada pimpinan sebuah biara, dekat Toledo, Spanyol untuk menjadi seorang biarawan. Permohonannya diterima. Sejak itu ia mulai menjalani sebuah corak hidup yang baru, yang bisa lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan. 
Perkembangan hidup rohani menjadi perhatiannya yang utama. Devosi kepada Bunda Maria merupakan kecintaannya. Ia kemudian dipilih menjadi Abbas biara itu. Sebagai pimpinan biara, Ildephonsus mengerahkan seluruh perhatian dan dayanya demi kemajuan biaranya. Dengan bijaksana dan pandangan-pandangannya yang baik, ia mampu melawan ajaran yang tidak benar. Pernah ia menulis sebuah buku untuk melawan ajaran sesat yang menyangkal Keperawanan Bunda Maria sebagai Bunda Allah. Pada tahun 657, ia diangkat menjadi Uskup Agung kota Toledo. Dengan bijaksana ia memimpin umatnya. 
Konon, dari mulut Ildephonsus inilah lahir doa Salam Maria yang sangat terkenal itu. Dialah yang mulai mendaraskan bagian pertama doa Salam Maria yang dikenal dengan kata-kata “Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu”. Namun, kisah ini tidak pernah dicatat dalam tulisan dan hanya menjadi cerita dari mulut ke telinga orang-orang pada saat itu. Ini menunjukkan bahwa sangatlah sedikit jejak doa Salam Maria sebelum tahun 1000 M.

Dicatat Paling Awal Abad XI
Catatan paling awal yang bisa ditemukan perihal doa kepada Ibu Maria itu ditemukan dalam dua manuskrip Anglo Saxon yang berangka tahun kira-kira 1030. Saat itu, berkembanglah kebiasaan memberi salam kepada Bunda Maria bila seseorang melewati patung Maria. Rumusan doanya pun masih sangat sederhana “Salam Maria, terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu.” Abas Baldwin, seorang rahib Cisterciensis yang saat itu menjadi Uskup Agung Cantebury, mencatat kebiasaan mendoakan Salam Maria itu sebagai berikut: 

“Terhadap salam malaikat yang kami gunakan untuk menghormati Perawan Tersuci melalui devosi, kami terbiasa menambahkan kata-kata, “dan terpujilah buah tubuhmu,” ungkapan yang dinyatakan oleh Elizabeth saat mendengar salam Maria. Dengan demikian melengkapi kata-kata malaikat, ‘terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu.’”

Tidak lama kemudian, tercatatlah dalam dekrit sinode milik Eudes de Sully, Uskup Paris, (sekitar tahun 1196) yang menyatakan bahwa “Salam kepada Perawan Tersuci” sangatlah dikenal oleh para jemaatnya, seperti halnya Syahadat dan Doa Bapa Kami. Setelah, kebiasaan yang sama menjadi sangat lazim di berbagai dunia, dimulai dari Inggris seperti dinyatakan Sinode Durham pada tahun 1127.
Kebiasaan memberikan salam kepada Maria ini merupakan kebiasaan yang sudah mentradisi disertai dengan berbagai gerak tubuh. Santo Aybert, pada abad XII, memiliki kebiasaan mengulangi 150 Salam Maria dengan 100 kali menekuk lutut dan 50 kali bersujud. Santo Louis dari Prancis berlutut dan berdiri sebanyak 50 kali setiap sore sambil mendaraskan Salam Maria secara pelan-pelan. Kebiasaan ini sangatlah umum dalam beberapa kelompok religius. Dalam dokumen Ancren Riwle, sebuah risalah yang mengulas manuskrip Corpus Christi 402 yang berumur lebih tua dari tahun 1200 menunjukkan bahwa para biarawati diperintahkan untuk menekuk lutut sesuai dengan masa liturgi pada saat mendaraskan Doa Kemuliaan dan Salam Maria. Pada masa ini, pendarasan doa Salam Maria disertai dengan tindakan menekuk lutut dan bersujud dianggap sebagai denda dosa seperti dicatat oleh Santa Margareta († 1292), saudara perempuan Raja Hungaria, yang mempraktekkan pendarasan doa Salam Maria disertai tindakan bersujud. 

Berkembang Mulai Abad XII
Lama kelamaan, jumlah doa Salam Maria didaraskan dihitung pada tali Pater Noster. Saat itu, berkembanglah kebiasaan menggantikan doa Bapa Kami dengan doa Salam Maria. Tradisi ini meniru kebiasaan doa di kalangan para rahib di dalam kehidupan monastik zaman dahulu. Pada masa itu, para rahib biasanya setiap hari mendaraskan 150 buah Mazmur (Doa Ofisi) sebagaimana terdapat di dalam Kitab Suci. Para rahib yang buta huruf mengganti pendarasan Mazmur itu dengan 150 buah doa yang lain. Biasanya doa pengganti itu ialah doa Pater Noster (Bapa Kami) yang memang sudah sejak Gereja perdana dianggap sebagai doa Gereja yang paling penting disamping Kredo. Untuk mempermudah mereka mengetahui sudah berapa kali doa Bapa Kami yang didaraskan, mereka menggunakan seutas tali bersimpul atau bermanik-manik. Oleh karena itulah, tali itu disebut juga Pater Noster.
Pada jaman dulu doa-doa Gereja berpusat pada mazmur Daud. Ada sekitar 150 mazmur yang biasa didoakan oleh para rahib di biara. Mereka membagi 150 mazmur itu atas tiga bagian yaitu waktu doa  pagi, siang dan malam sehingga menjadi 3 kali 50 mazmur. Namun demikian tidak semua umat dapat membaca atau memiliki buku doa mazmur. Sebagai gantinya mereka mendaraskan doa Bapa Kami (sebagai ganti dari 150 mazmur Daud). Dan untuk menjamin konsentrasi dalam berdoa, mereka memakai bantuan hitungan tasbih.
Jumlah doa Salam Maria yang didaraskan tetap 150 sesuai jumlah Mazmur yang didaraskan oleh para rahib. Karena pada masa itu 150 buah Mazmur sudah dibagi dalam tiga bagian masing-masing terdiri 50 buah, maka doa Salam Maria yang didaraskan para rahib itu pun dibagi dalam tiga bagian. Rangkaian Salam Maria yang terdiri dari 50 buah itu disebut “Corona” (mahkota). Kata ini mengingatkan kita akan hiasan-hiasan kembang yang menyerupai mahkota yang biasanya dibuat pada arca Bunda Maria. Saat itulah mulai berkembang devosi Rosario.
Rosario berasal dari kata bahasa Latin yaitu rosa yang artinya bunga mawar. Rosario sendiri dapat diartikan sebagai rangkaian bunga mawar. Dalam budaya masyarakat Eropa bunga mempunyai arti yang sangat penting yaitu sebagai tanda cinta atau hormat. Pada abad pertengahan umat Kristen yang menyadari diri sebagai hamba-hamba Maria merangkaikan bunga mawar untuk dipersembahkan kepada Maria. Mereka meletakannya di rumah ibadat di depan gambar atau patung Santa Maria. Dalam proses merangkaikan bunga mawar itu, mereka mengucapkan litani pujian kepada Maria.
Struktur rosario perlahan-lahan berkembang antara abad ke-12 dan abad ke-15 seiring juga dengan perkembangan doa Salam Maria. Dominikus dari Prussia, seorang biarawan Carthusian, pada tahun 1409 mempopulerkan praktek mempertalikan 50 ayat mengenai hidup Yesus dan Maria dengan 50 Salam Maria. Pada masa itu, bentuk doa ini dikenal sebagai rosarium (“kebun mawar”) yang berarti bunga rampai. Istilah ini dipergunakan untuk menyebut suatu kumpulan bahan yang serupa, misalnya suatu bunga rampai kisah-kisah dengan subyek atau tema yang sama. Tahun 1568, bagian kedua doa Salam Maria yaitu “Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati. Amin”, menjadi doa resmi semenjak Paus Pius V ( 1566-1572) meresmikan terbitan “Breviarium” (doa harian Gereja). Namun bagian dua itu baru diterima umum pada abad XVII. Sejak saat itu, rumusan doa Salam Maria menjadi lebih panjang, yaitu “Salam Maria penuh rahmat. Tuhan sertamu. Tepujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus. Santa Maria Bunda Allah. Doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati. Amin.”
Pada abad ke-16, struktur lima misteri rosario didasarkan pada tiga rangkaian peristiwa: Peristiwa GEMBIRA, Peristiwa SEDIH dan Peristiwa MULIA. Setelah penampakan Bunda Maria di Fatima pada tahun 1917, pada akhir setiap misteri ditambahkan doa : “Ya Yesus yang baik, ampunilah segala dosa kami, lindungilah kami dari api neraka. Hantarlah segala jiwa ke dalam surga, terlebih jiwa yang sangat membutuhkan kasih sayang-Mu.” Sedangkan Peristiwa CAHAYA ditetapkan pada tahun 2002 oleh Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II. 
Semangat dan minat umat Katolik terhadap doa rosario mendorong Paus Leo XIII secara resmi menetapkan bulan Oktober sebagai bulan Rosario. Beliau menulis: "Kepada Bunda Surgawi ini kita telah persembahkan kembang-kembang mawar pada bulan Mei, maka kepadanya kita juga hendak mempersembahkan panen buah-buahan yang berlimpah pada bulan Oktober dengan hati yang penuh ikhlas." Pada tahun 1885, beliau mengatakan bahwa umat dapat memperoleh indulgensi dengan berdoa Rosario pada bulan Oktober.

Yang Kita Alami Kini
Tiap butir Salam Maria yang kita daraskan dalam Rosario mengajak kita melangkah bersama Maria. Dalam Rosario, kita memohon pencurahan Roh Kudus seperti Elisabeth yang dikuatkan Roh Kudus dalam perjumpaannya dengan Maria dalam peristiwa gembira. Dengan kepenuhan Roh Kudus, kita mohon agar iman kita dikuatkan dan kita diajak belajar untuk menanggalkan sikap egois dan menjadi rendah hati seperti Elisabeth. Tiap doa Salam Maria yang kita daraskan membuat kita menempati posisi Elisabeth saat mengatakan “Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.”
Bunda Maria senantiasa menjadi teladan iman dan pelindung orang-orang Kristen yang percaya. Ketika Malaikat Gabriel datang kepadanya, ia percaya akan warta yang disampaikan malaikat dan tetap teguh pada imannya tanpa ragu sedikit pun meskipun harus melewati pencobaan gelap Kalvari. Bunda Maria mendampingi kita juga, yang adalah saudara dan saudari Putra-nya, sepanjang ziarah kita di dunia yang penuh dengan kesulitan dan mara bahaya.
Selama berabad-abad telah banyak umat Kristiani mengakui bahwa doa Salam Maria dan Rosario merupakan sumber rahmat rohani. Iman Maria pada Yesus tak dapat diragukan lagi. Iman Maria itu layak kita teladani dalam hidup kita sebagai umat beriman. Semoga kita bisa lebih memahami apa yang dialami Bunda Maria saat mengalami peristiwa-peristiwa gembira, sedih, mulia, maupun cahaya dan kita dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Jadi, dengan segala macam fakta yang sudah diakui berabad-abad lamanya akan manfaat doa Rosario, janganlah kita ragu untuk mendaraskannya dalam hari-hari di kehidupan kita. 



Inilah sedikit catatan yang dapat diberikan oleh Penjaga Podjok untuk mengenang bulan Oktober sebagai bulan Rosario...

Menyelami Kabar Gembira di Tengah Gaya Hidup Modern

Bulan September di Ruang Podjok selalu diisi dengan kegiatan yang sama dengan gerak Gereja Katolik di Indonesia. Bulan September adalah Bulan Kitab Suci Nasional atau yang sering disebut BKSN. Sudah beberapa tahun ini, Ruang Podjok melaksanakan pertemuan BKSN. Tema BKSN Tahun 2017 adalah “Kabar Gembira di Tengah Gaya Hidup Modern.” Tema ini merupakan tema pertama dari tema besar “Mewartakan Injil di Tengah Arus Zaman.” Selama 4 tahun, akan dibahas pewartaan kabar gembira di tengah dunia modern dengan tema: Kabar Gembira di tengah Gaya Hidup Modern (2017), Kabar Gembira di tengah Kemajemukan (2018), Kabar Gembira di tengah Krisis Lingkungan Hidup (2019), Kabar Gembira di tengah Krisis Iman dan Identitas Diri (2020). 
Tema ini juga erat dengan dokumen Evangelii Gaudium (2013) yang diterbitkan oleh Paus Fransiskus. Dokumen tersebut melukiskan masalah-masalah besar yang sedang melanda dunia seperti konsumerisme, hedonisme, sekularisme, inividualisme, kesenjangan sosial, dan fundamentalisme agama. Arus-arus zaman ini juga melingkupi kita. Kita hidup di tengah arus-arus tersebut dan harus bersikap atasnya. Melalui tema Bulan Kitab Suci Nasional tahun ini, kita diajak untuk mengambil sikap atas arus-arus yang ada dalam zaman kita. Untuk itulah, pada tahun ini, kita diajak untuk mendalami beberapa gaya hidup modern, yaitu Teknologi, Materialisme, Individualisme, dan Hedonisme.

Pertemuan BKSN Pertama: Menyikapi Teknologi dan Harta
Untuk melaksanakan pertemuan BKSN, Penjaga Podjok menjadwalkan dua kali pertemuan. Pertemuan pertama BKSN Ruang Podjok dilakukan pada hari Jumat Ketiga (15/09/2017). Dalam pertemuan pertama, anggota Ruang Podjok diajak untuk belajar menyikapi dua hal yang erat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu Teknologi dan Harta. Kita akan belajar bersikap tepat terhadap teknologi dan harta yang dipercayakan kepada kita dalam hidup harian. Bahan yang ditawarkan adalah Kej 11:1-9 dan Luk 12:13-31. 
Berkenaan dengan Kej 11:1-9, ada beberapa pertanyaan yang akan dibahas, yaitu: 1) Mengapa manusia mendirikan Menara Babel; 2) Apa yang dilakukan Allah terhadap rencana manusia tersebut; 3) Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah Menara Babel; 4) Sebutkan berbagai teknologi yang ada dalam hidup kita; 5) Apa manfaat teknologi bagi kita dalam kehidupan sehari-hari; dan 6) Bagaimana seharusnya kita memanfaatkan teknologi dalam hidup. Berkenaan dengan Luk 12:13-31, ada beberapa pertanyaan yang akan dibahas, yaitu: 1) Dalam perumpamaan, apa cita-cita orang kaya itu dan bagaimana dia mencapainya; 2) Tuhan melakukan apa pada orang kaya tersebut setelah cita-citanya tercapai; 3) Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah orang kaya tersebut; 4) Apakah arti harta bagi kehidupan kita; 5) Bagaimanakah manfaat harta dalam kehidupan sehari-hari kita; dan 6) Menurutmu, bagaimana menggunakan harta secara baik dalam kehidupan kita.
Seperti biasa, yang ikut pertemuan hari itu dibagi dalam beberapa kelompok. Hari itu, ada 4 kelompok yang dibagi untuk membahas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Bicara mengenai Menara Babel, anggota Ruang Podjok memiliki pendapat bahwa Menara Babel didirikan sebagai tanda atau patokan agar manusia tidak terserak ke seluruh bumi. Berhadapan dengan hal tersebut, yang dilakukan Allah adalah mengacaukan bahasa mereka sehingga mereka tidak lagi dapat saling mengerti. Yang dipelajari dari kisah Menara Babel adalah agar kita selalu taat kepada Allah. Berhadapan dengan kehidupan saat ini, ada beberapa teknologi yang ada dalam kehidupan kita antara lain handphone, laptop, tablet. Manfaat teknologi dalam kehidupan harian kita adalah membantu kita agar mudah melaksanakan tugas sehari-hari dan mempermudah manusia dalam mencari informasi. Cara yang seharusnya dilakukan dalam memanfaatkan teknologi tersebut adalah memanfaatkannya dengan baik, digunakan untuk mencari informasi yang dibutuhkan, dan tidak digunakan untuk melihat hal yang negatif. Berkenaan dengan Orang Kaya yang Bodoh, yang ikut kegiatan saat itu mengungkapkan pendapat bahwa orang kaya itu bercita-cita memiliki tempat yang lebih besar dan dapat digunakan untuk menyimpan hasil tanahnya. Ia pun merombak lumbung-lumbungnya sehingga menjadi lebih besar serta akan menyimpah di dalamnya segala gandum dan barang-barangnya. Namun malang, bahwa setelah cita-citanya tercapai, Allah mengambil jiwa orang kaya itu. Dari kisah Orang Kaya yang Bodoh, kita diingatkan untuk tidak menjadi orang yang tamak dan tidak memikirkan diri sendiri karena di hadapan Allah, hal itu tidak berguna. Harta adalah segala sesuatu yang dimiliki seseorang yang berwujud dan tidak berwujud dan bersifat duniawi. Manfaat harta adalah memenuhi kebutuhan sehari-hari, memenuhi kepuasan duniawi, dan sarana untuk berbagi kepada sesama. Cara yang baik untuk memanfaatkan harta adalah tidak berfoya-foya, suka menabung, tidak sombong, tidak takabur, suka berbagi, tidak korupsi, dan tidak serakah. 



Menanggapi sharing kelompok-kelompok tersebut, Penjaga Podjok memberikan catatan berikut ini:

“Manusia selalu berhubungan erat dengan teknologi dan harta. Hidup manusia semakin mudah karena adanya teknologi dan hidup manusia dapat menjadi bahagia karena adanya harta. Teknologi dan harta merupakan sarana untuk mempermudah dan membahagiakan manusia. Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia (Wikipedia). Dapatkah kita membayangkan apa yang akan terjadi jika manusia tidak menemukan roda? Atau dapatkah kita membayangkan yang terjadi jika tidak ada api dan listrik? Teknologi memang diciptakan untuk membuat kehidupan manusia semakin mudah. Melalui daya cipta, manusia menciptakan banyak hal yang dapat membantunya dalam menjalani kehidupan. Dengan berkembangnya teknologi, manusia semakin dapat menjalankan aktivitas secara efektif dan efisien. 
Selain teknologi, manusia juga menciptakan barang untuk dimiliki. Pada masa dimana kehidupan manusia masih sangat sederhana, yang dianggap sebagai harta adalah hasil panen, ternak, logam mulia, dan berbagai hal yang dapat dipakai sebagai alat tukar menukar dalam kehidupan ekonomi antar manusia. Lama kelamaan, manusia menciptakan bentuk harta yang lebih ringkas dan mudah disimpan, yaitu uang. Uang sangatlah bermanfaat karena praktis, mudah dibuat, mudah disimpan, dan bisa digunakan kapan saja. Uang  membuat orang dapat memiliki hal-hal yang diinginkan. Jumlah uang sangat menentukan kualitas barang atau jasa yang akan kita dapatkan. Intinya, uang itu enak, bagus, cantik, empuk, nyaman dan lain-lain.
Dalam kehidupannya, manusia dapat mengalami dimana hidupnya dikuasai oleh teknologi dan uang. Kehidupan manusia yang sangat dikuasai teknologi disebut kecanduan teknologi dan kehidupan manusia yang sangat dikuasai oleh harta disebut situasi materialistik. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana manusia bisa memanfaatkan teknologi dan harta dengan cara yang dikehendaki Tuhan? Untuk menjawabnya, kita akan merenungkan terlebih dahulu tujuan manusia diciptakan. Untuk itu, kita akan belajar dari pendapat Santo Ignatius Loyola. Ignatius Loyola menuliskan tujuan hidup manusia dalam bukunya yang berjudul “Latihan Rohani”: “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan”  Manusia diciptakan untuk memuji, memuliakan, dan mengabdi Allah dengan menggunakan seluruh cara yang ada. Melalui tindakan itu, manusia mencapai tujuannya dan  menyelamatkan dirinya sendiri. Dari tulisan tersebut, jelas bahwa semua yang ada di dunia ini harus digunakan oleh manusia untuk mencapai tujuan penciptaan. Karena itu, semua hal yang ada harus digunakan oleh manusia untuk memuji, memuliakan, dan mengabdi Allah. Dengan demikian, teknologi dan harta pun harus digunakan untuk memuji,  memuliakan, dan mengabdi Allah.
Pertanyaannya sekarang adalah apakah aku sudah menggunakan teknologi dan hartaku untuk memuji, memuliakan dan mengabdi Allah? Mari kita semakin memanfaatkan teknologi dan harta untuk memuji, memuliakan dan mengabdi Allah... Semoga kita boleh mengusahakan diri untuk melakukan itu semua...”

Pertemuan BKSN Kedua: Aktif Bersatu dan Berbagi
Selepas pertemuan pertama, pertemuan kedua BKSN dijalankan pada hari Jumat Kelima (29/09/2017). Dalam pertemuan kedua ini, anggota Ruang Podjok akan diajak untuk belajar menyikapi dua sikap hidup berkenaan dengan orang lain, yaitu Sikap Mau Hidup Bersama dan Mau Berbagi. Dua sikap hidup ini akan kita perdalam agar kita menyikapi dengan baik paham Individualisme dan Hedonisme. Bahan yang menjadi materi pendalaman hari ini adalah Kis 2:41-47 dan Yak 3:14–4:3. 
Berkenaan dengan Kis 2:41-47, ada beberapa pertanyaan yang dapat didalami, yaitu: 1) Hal-hal apa yang dilakukan oleh Jemaat Perdana saat itu; 2) Sikap hidup semacam apa yang ingin dicapai oleh Jemaat Perdana dengan melakukan hal-hal tersebut; 3)  Akibat atau dampak apa yang didapatkan dari cara hidup yang dipraktekkan oleh Jemaat Perdana itu; dan 4) Pelajaran apa yang dapat kita petik dari cara hidup Jemaat Perdana itu. Berkenaan dengan Yak 3:14-4:3, ada beberapa pertanyaan yang diajukan, yaitu: 1) Sebutkan yang termasuk “hikmat  yang datang dari atas” dalam Surat Yakobus tersebut; 2) Sebutkan yang termasuk “hikmat  yang datang dari dunia” dalam Surat Yakobus tersebut; 3) Apa akibatnya jika seseorang menuruti “hikmat yang datang dari atas” dan “hikmat yang datang dari dunia”; dan 4) Pelajaran apa yang dapat kita petik dari pengajaran yang diberikan oleh Surat Yakobus tersebut. 
Sama seperti pada pertemuan pertama, hari itu, ada 4 kelompok yang dibagi untuk membahas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Bicara mengenai Surat Yakobus, para peserta pendalaman menemukan bahwa yang termasuk hikmat dari atas adalah murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan, buah-buah yang baik, tidak memihak, dan tidak munafik; sedangkan yang termasuk hikmat dari dunia adalah iri hati, mementingkan diri sendiri, memegahkan diri, dan berdusta melawan kebenaran. Akibat yang ditimbulkan jika seseorang menuruti hikmat dari atas adalah kedamaian, sedangkan yang ditimbulkan jika seseorang menuruti hikmat dari dunia dalah kekacauan dan segala perbuatan yang jahat. Surat Yakobus ini mengajarkan agar tidak menaruh perasaan iri hati, tidak mementingkan diri sendiri, tidak memegahkan diri, dan tidak berdusta melawan kebenaran. Bicara mengenai Kisah Para Rasul, para peseta pendalaman menemukan bahwa ada banyak hal yang dilakukan dalam jemaat perdana, yaitu memberi diri dibaptis, bertekun dalam pengajaran para rasul, selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa, selalu ada yang menjual harta miliknya dan membagikan kepada setiap orang sesuai keperluannya, serta memuji Allah. Sikap hidup tersebut diarahkan pada satu cita-cita, yaitu taat dan percaya kepada Allah, serta menganggap segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. 



Sebagai peneguhan, Penjaga Podjok memberikan catatan berikut ini: 

“Dalam pertemuan kedua ini, kita diajak untuk meminimalisir dua arus zaman kita, yaitu Individualisme dan Hedonisme. Individualisme adalah sikap hidup yang melulu mementingkan diri sendiri dan tidak mau peduli dengan rasa kebersamaan sehingga orang tidak lagi mau menjadi     satu dan peduli dengan orang lain. Hedonisme adalah cara hidup yang menem-patkan kesenangan dan kenikmatan pribadi sebagai prioritas tertinggi sehingga orang tidak lagi mau peduli dengan situasi orang-orang sekitarnya. Individualisme dan Hedonisme berakibat pada sikap tidak mau  tau, tidak mau hidup bersama, tidak peduli dan tidak mau berbagi dengan orang lain. Kebersamaan, kepedulian dan kemauan untuk berbagi menjadi mati. Gereja Katolik ingin mengajak kembali seluruh umat untuk menyadari dirinya sebagai bagian dari orang lain serta tidak melulu memikirkan kesenangan dan kenikmatan pribadinya. Gereja Katolik ingin mengajak seluruh umat untuk mau hidup bersama, peduli, dan berbagi bersama dengan orang lain. Kebersamaan merupakan nilai yang penting karena kebersamaan itu menguatkan relasi di antara manusia. Manusia menjadi lebih kuat jika bersama. Kita mengenal pepatah “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Artinya, melalui kebersamaan, kita akan menjadi kuat dalam menghadapi segala sesuatu. 
Gereja Katolik dapat bertahan hidup karena unsur kesatuan yang ada di dalamnya. Gereja itu diwarnai dengan persekutuan, persatuan, perkumpulan, komunio. Inilah dimensi pertama dalam Gereja. Almarhum Kardinal Darmajoewana pernah mengatakan, “Yen ora kumpul mesthi ucul – Jika orang Katolik tidak pernah berkumpul dengan saudaranya, lambat laun dia akan terlepas dari persekutuan Gereja Katolik.” Dalam kebersamaan dan kesatuan itu, Gereja mengembangkan sikap mau peduli dan berbagi. Jemaat perdana telah memberi-kan contoh bahwa dalam persekutuan, mereka berbagi dan peduli dengan sesama anggota jemaat. Mereka tidak hanya mementingkan kesenangan dan kenikmatan pribadi, tetapi juga keperluan sesamanya. Kita diberi contoh menggunakan kesenangan dan kenikmatan yang kita alami. Kita boleh mengejar kesenangan dan kenikmatan, tetapi tidak boleh keterlaluan dan harus memperhatikan sesama kita. Setiap kali kita meng-ikuti Ekaristi, kita juga diajak untuk membangun sikap mau peduli dan berbagi kepada sesama kita. Kolekte yang kita berikan tidak saja untuk kepentingan gereja kita sendiri, tetapi juga orang lain. Santa Teresa dari Kalkuta pernah mengatakan, “Bukanlah seberapa banyak jumlah yang engkau berikan tetapi seberapa banyak kasih yang engkau berikan dalam pemberian itu.” Hidup bersama, mau peduli, dan mau berbagi merupakan panggilan setiap orang Katolik. Hidup kita sebagai orang Katolik ditandai dengan hal-hal tersebut. Pertanyaannya sekarang adalah apakah aku mau aktif, mau peduli dan berbagi dalam Gereja maupun masyarakat? Mari kita semakin semakin aktif dalam kegiatan Gereja dan masyarakat serta mau peduli dan berbagi. Santo Filipus Neri mengatakan, 'Beruntunglah kalian orang-orang muda karena kalian punya banyak waktu untuk berbuat baik.' Semoga kita semakin tergerak untuk berbuat baik..."

Pembinaan Rohani Susulan untuk Siswa-siswi Kelas XI yang Tidak Ikut Retret

Sehari setelah pemaparan program, Kerohanian Katolik dengan Kerohanian Kristen bekerjasama untuk melaksanakan program Pembinaan Rohani Susulan untuk Siswa-siswi Kelas XI yang Tidak Ikut Retret. Sabtu (19/08/2017),  Pembinaan Rohani ini dilaksanakan selama satu hari dan mengambil tempat di kompleks Gereja Kristen Jawa (GKJ) Kerten, Laweyan, Surakarta. Hari itu, para peserta dibimbing oleh Ibu Pendeta Magdalena Eli dari GKJ Kerten. Materi yang disampaikan beliau adalah materi penemuan diri. Materi ini menjadi dasar untuk pendalaman rohani agar setiap peserta menemukan hal-hal baik yang dapat mereka kembangkan untuk hidup di kemudian hari. Pagi itu, para peserta diajak untuk melihat ke dalam diri sendiri dan berpikir mengenai apa yang dapat dilakukan setelah memahami dirinya sendiri.


Setelah sesi materi penemuan diri, acara pembinaan rohani dilanjutkan dengan sesi outbond. Outbond ini dilaksanakan di seputar kompleks GKJ Kerten. Dengan cerdas, panitia mengolah sesi outbond ini dengan memanfaatkan situasi lingkungan sekitar. Permainan-permainan yang disajikan di dalam sesi outbond ini berhasil membangkitan kegembiraan bagi para peserta. Outbond merupakan sarana untuk menemukan pembelajaran sambil melakukan permainan-permainan. Manusia pada dasarnya adalah manusia yang bermain – homo ludens. Oleh karena itu, manusia harus bermain dengan serius agar tidak menjadi main-main. Dalam permainan outbond ini, peserta dibagi menjadi 4 kelompok. Dalam satu permainan, kadangkala ada dua kelompok yang bermain dan bersaing. Dalam permainan itu, ada 4 pos yang harus dilewati oleh masing-masing kelompok, yaitu Estafet Rafia, Apit Bola, Estafet Karet Bertepung, dan Estafet Air dalam Spons. 







Setelah bermain, masing-masing kelompok pun menuliskan nilai-nilai yang didapatkan melalui permainan itu. Berikut inilah catatan dari masing-masing kelompok:

Kelompok Kaos Polos menuliskan bahwa nilai yang mereka pelajari adalah kerjasama, kekompakan, dan kelincahan (Pos 1); kecepatan, kelincahan, dan kerjasama (Pos 2); konsentrasi (Pos 3); serta berani dan tepat dalam mengambil keputusan (Pos 4).

Kelompok Baju Kotak-kotak menuliskan bahwa nilai yang mereka pelajari adalah kerjasama dan kekompakan (Pos 1); kecepatan dan kelincahan (Pos 2); kerjasama dan ketepatan waktu (Pos 3); serta kerjasama, kekompakan, dan ketepatan dalam waktu (Pos 4).

Kelompok Baju Bunga-bunga menuliskan bahwa nilai yang mereka pelajari adalah kerjasama dan kekompakan (Pos 1); konsentrasi, kecerdasan, dan keseimbangan (Pos 2); konsentrasi, kelincahan, dan teknik (Pos 3); serta kerjasama dan kelincahan (Pos 4).

Kelompok Kemeja Polos menuliskan bahwa nilai yang mereka pelajari adalah kerjasama dan kesabaran (Pos 1); konsisten dan tanggung jawab (Pos 2); kejujuran dan kerjasama (Pos 3); serta kerjasama, kekompakan, dan kejujuran (Pos 4).

Setelah menjalani beberapa permainan, para peserta pun menutup kegiatan pembinaan rohani dengan sesi pengembangan diri. Sesi ini disampaikan oleh Penjaga Podjok. Dalam sesi ini, para peserta diajak untuk mendalami tema “Menjadi Terang dalam Kemuliaan Tuhan.” Tema ini tidak lepas dari visi Gereja untuk  membangun jemaat yang memiliki iman yang semakin mendalam dan tangguh. Iman yang Mendalam artinya mampu mengetahui imannya secara benar dan dapat menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan iman yang mendalam, orang mulai mau belajar tentang imannya sendiri serta menggunakan iman itu untuk semakin mengembangkan kehidupan diri sendiri maupun kehidupan orang lain. Iman yang mendalam diperlukan agar kita menjalani hidup dengan benar. Orang yang beriman mendalam selalu memiliki jawaban iman dalam menghadapi setiap masalah. Iman yang mendalam itu membuat manusia dapat mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Kehidupan orang yang beriman mendalam pasti berbeda dengan orang lain karena ia selalu melibatkan Tuhan dalam setiap persoalan hidupnya. Hidupnya tidak lagi berada di permukaan tetapi ia dapat menemukan kehendak Tuhan dalam setiap langkah hidup yang ditempuhnya. Satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah perubahan. Perubahan hidup menjadi lebih baik merupakan tanda dari pertobatan. Iman yang Tangguh artinya tahan terhadap segala tantangan dan godaan. Dewasa ini, banyak tantangan dan godaan yang hadir dalam kehidupan kita. Banyak arus zaman - seperti kenyamanan, kemalasan, kepraktisan, keinginan untuk dapat hasil besar tanpa berusaha – yang menjadi tantangan dalam kehidupan kita. Untuk itu, kita harus memiliki iman yang tangguh. Iman yang mendalam dan tangguh harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga orang secara konkret menjadi garam dan terang dunia.
Inspirasi Kitab Suci yang diambil adalah Kisah Musa (Kel 3:1-12). Musa menjadi teladan kaum muda yang terpanggil untuk melaksanakan kehendak Allah. Awalnya Musa ragu, tetapi dia kemudian mau untuk melaksanakan panggilan itu. Para peserta pembinaan rohani diajak untuk menjadi seperti Musa. Meskipun muda, setiap orang Kristiani diajak untuk menjawab panggilan Tuhan. Kemudaan bukan halangan untuk memenuhi panggilan Tuhan. Memang kadangkala kita yang muda merasa ragu, tetapi Tuhan akan membantu. Allah sendiri berjanji bahwa Ia akan mendampingi Musa yang akan diutus kepada bangsa Mesir. Ia memberikan tanda pengutusan kepada orang yang diutus dan dipilihnya (Kel 3:12). Allah membekali kita dengan berbagai kemampuan dan talenta. Temukan kekuatan dan keterbatasanmu. Kembangkan secara maksimal sehingga dapat menjadi berkat bagi sesama. Inspirasi Kitab Suci ini menjadi penting karena kaum muda saat ini menghadapi berbagai hal yang kadangkala tidak mudah, antara lain: pengaruh teknologi informasi yang tidak terbendung, budaya instan merajalela, jarang membaca, logika dan penalaran lemah, komunikasi lemah dan terbatas, kreativitas menurun, serta kemampuan untuk memecahkan masalah melemah. Situasi saat ini tampaknya mewakili apa yang dirisaukan oleh Albert Einstein, “Saya takut bahwa tampaknya telah tiba saat dimana teknologi melampaui hubungan antar manusia. Hal itu akan membuat dunia memiliki generasi idiot.” Hal ini membuat kaum muda bisa bertanya pada diri sendiri, “Bagaimana dengan kita? Akankah kita menjadi generasi idiot seperti yang diramalkan Einstein?” Kaum muda diajak untuk berbuat sesuatu bagi lingkungan sekitarnya. Soekarno mengatakan, “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” 
Mari menjadi pemuda-pemudi yang memiliki terang untuk mengubah dunia menjadi lebih baik...

Minggu, 17 Desember 2017

Rangkuman Kegiatan Satu Semester...

Tidak terasa ternyata waktu berlalu begitu cepat... Hari ini, ternyata sudah hampir sampai di penghujung Semester Gasal... Kalau sudah seperti ini, tandanya bahwa Penjaga Podjok sudah harus menuliskan berbagai kegiatan yang ada di Ruang Podjok... Dalam beberapa posting berikut ini, Penjaga Podjok ingin sedikit berkisah tentang berbagai kegiatan yang telah terjadi di semester ini... Silakan diikuti dalam empat posting berikut ini: 1) Pembinaan Rohani Susulan untuk Siswa-siswi Kelas XI yang Tidak Ikut Retret, 2) Menyelami Kabar Gembira di Tengah Gaya Hidup Modern, 3) Menjalankan Tradisi Doa Devosi kepada Maria, dan 4) Mengenang dan Mendoakan Anggota Keluarga yang Telah Meninggal. Selamat membaca kisah-kisah yang ada di Ruang Podjok...

Salam...
Penjaga Podjok

Rabu, 27 September 2017

Paparan Rencana Kegiatan dan Kenalan Anggota Baru Ruang Podjok

Setelah mengadakan Misa Jumat Pertama, Ruang Podjok kembali mengadakan kegiatan pada Jumat Ketiga. Hari itu, Jumat (18/08/2017), diselenggarakanlah rembugan untuk menyusun rencana kegiatan selama setahun. Dalam pertemuan itu, ditetapkanlah kegiatan-kegiatan yang akan diselenggarakan. Secara umum, kegiatan di Ruang Podjok masih mengikuti alur kegiatan gereja seperti Bulan Kitab Suci Nasional, Bulan Rosario, Bulan Arwah, Natalan, APP, Paska, dan sebagainya. Yang baru pada tahun ini adalah pelaksanaan Dana Sosial Pendidikan yang semula diadakan setiap Jumat menjadi program setiap minggu pertama dalam bulan.Selain menjadi ajang rembugan, acara kumpul awal tahun Ruang Podjok ini menjadi ajang kenalan satu sama lain. Tahun ini, anggota Rohkat SMK Negeri 3 Surakarta ada 36 siswa/i. Puji Tuhan ada 14 tambahan sahabat di Ruang Podjok. Ada 13 orang dari kelas X dan ada 1 orang dari kelas XI. Yang dari kelas X adalah Cicilia Deviana Riesta Liestyowati, Fajar Purnami, Yustina Putri Mardianti, Tri Astuti Elizabeth, Frenni Ismaya, Intan Putri Kawuri, Dwi Puspita Asri, Fryca Adinda Saputri, Gracia Leoni Sekar Gusmiari, Oktavia Dini Probo Saputri, Nanda Wahyu Natalia, Patrik Ananda Dian Nugraha, Reginatalia Cahyaning Putri Menge. Ada satu orang dari Kelas Akuntansi, dua orang dari Kelas Administrasi Perkantoran, tiga orang dari Kelas Pemasaran, empat orang dari Kelas Tata Busana, serta tiga orang dari Kelas Multimedia. Sedangkan, yang dari kelas XI adalah Jonathan Satria Finendra dari Kelas Multimedia. 


Terima kasih Tuhan karena Engkau mengirimkan sahabat-sahabat baru untuk bergabung dalam Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta. Semoga semuanya boleh berjalan bersama untuk mencari kehendak Tuhan dalam kehidupan...

Selasa, 26 September 2017

Memulai Kegiatan dengan Misa Awal Tahun

Minggu pertama bulan Agustus menjadi titik awal seluruh kegiatan Ruang Podjok. Untuk memulai seluruh kegiatannya, akhir bulan Juli, Penjaga Podjok sowan ke Paroki San Inigo Dirjodipuran untuk nyuwun Misa. Permohonan untuk pelayanan Ekaristi sengaja dijatuhkan pada Jumat pertama agar tidak terlalu jauh dengan awal Tahun Pelajaran. Beberapa hari sebelum hari Jumat, Penjaga Podjok mendapat kepastian bahwa yang berkenan mempersembahkan Misa adalah Romo Agustinus Sudarisman atau yang sering disapa dengan Romo Daris, Romo Kepala Paroki San Inigo Dirjodipuran. Terima kasih atas kesediaan dan pelayanan Romo kepada kami. 
Hari Jumat (04/08/2017) pada waktu istirahat kedua, Ekaristi Mohon Berkat untuk Tahun Pelajaran baru dilaksanakan. Menjelang pelaksanaan Misa, Ruang Podjok disulap menjadi ruang yang dapat menampung kira-kira 30-an anggota Ruang Podjok. Meja kursi dipinggirkan supaya ada ruangan yang cukup luas untuk kegiatan rohani. Tidak seperti tahun-tahun yang lalu, kegiatan Ruang Podjok tidak lagi bisa dilaksanakan di kelas-kelas karena kelas-kelas pun sekarang terpakai untuk kegiatan siswa akibat kebijakan lima hari sekolah. Akhirnya, Ruang Podjok pun diupayakan untuk dapat menampung anggotanya dalam melaksanakan kegiatan. Memang Misa kali ini menjadi trial untuk penempatan perabot di Ruang Podjok saat kegiatan bersama. Semoga ke depan, muncul gagasan-gagasan kreatif untuk semakin membuat Ruang Podjok sebagai ruang yang nyaman untuk berbagai kegiatan rohani. 
Siang itu, sekitar 20 anggota Ruang Podjok mengikuti Perayaan Ekaristi. Ada pula dua orang Bapak Ibu Guru, selain Penjaga Podjok yang mengikuti Ekaristi hari itu, yaitu Ibu Herwijati dan Bapak Yudhi. 


Dalam kotbahnya, Romo Daris menyinggung keutamaan-keutamaan yang ada dalam diri Santo Yohanes Maria Vianney. Santo Yohanes Maria Vianney adalah seorang imam yang berkarya di Desa Ars, Perancis. Ia ditempatkan di desa karena semasa pendidikan imamat, ia bukanlah imam yang pandai dan cemerlang seperti teman-temannya yang lain. Berkat kesalehannya, ia pun membukakan mata dunia untuk melihat sisi lain dari dirinya. Ia pun berhasil mempertobatkan banyak orang di Desa Ars. Semakin banyak orang yang tertarik karena kesalehan Vianney. Konon, ia dapat menjalankan tugas-tugasnya dengan baik meskipun hanya makan sebutir kentang setiap hari. Ia dapat berjam-jam duduk di kamar pengakuan memberikan pelayanan Sakramen Tobat. Kehidupan Yohanes Maria Vianney menjadi cermin bagi kita semua untuk menjalani hal-hal yang utama dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai pelajar, apa yang sudah dilakukan untuk menjalani hidup baik dalam kehidupan kita. Semoga teladan Santo Yohanes Maria Vianney menggerakkan kita untuk mencari hal-hal yang utama dalam hidup kita.

Jumat, 22 September 2017

Belajar Bersama Para Guru Agama Katolik Kota Surakarta dalam Peningkatan Kompetensi

Beberapa hari menjelang Tahun Pelajaran Baru 2017/2018, datanglah permintaan dari Kantor Kementrian Agama Kota Surakarta kepada Penjaga Podjok untuk memberikan materi peningkatan kompetensi guru bagi Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kota Surakarta yang dilaksanakan pada hari Kamis, 13 Juli 2013 di Hotel Sarila Solo. Dalam acara itu, Penjaga Podjok diminta membagikan hasil pelatihan yang didapatkan pada bulan Mei di @ HOM Platinum Hotel, Jogjakarta.Hari H pun tiba. Kamis (13/07/2017), Penjaga Podjok datang pagi-pagi untuk mempersiapkan diri. Dalam kesempatan itu, Penjaga Podjok diminta untuk membawakan dua materi, yaitu Literasi dalam Pembelajaran Agama Katolik dan Penilaian Kurikulum 2013 Terbaru. Materi Literasi sebenarnya sudah lama diperkenalkan. Sudah sejak Mei 2016, gerakan ini disampaikan kepada para guru untuk dilaksanakan di sekolah. Selama setahun, ada berbagai pembelajaran mengenai Literasi. Mulai tahun ini, Literasi diterapkan dalam pembelajaran Agama Katolik. Literasi dimengerti sebagai kemampuan untuk mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas. Literasi dianggap merupakan inti kemampuan dan modal utama bagi siswa maupun generasi muda dalam belajar dan menghadapi tantangan-tantangan masa depan. Dengan Literasi, kaum muda dibekali dengan kemampuan membaca dan memahami bahan belajar agar dapat mengembangkan kompetensinya secara mandiri.
Dalam materi Literasi, Penjaga Podjok mengajak pada peserta untuk bersama-sama berpikir mengenai implementasi atau penerapan literasi dalam pembelajaran. Mengapa begitu? Karena belum ada contoh yang dapat diacu berkenaan dengan pembuatan dan pelaksanaan proses pembelajaran yang melibatkan literasi. Solusi yang ditawarkan adalah memasukkan literasi dalam proses 5 M. Adapun alurnya adalah sebagai berikut: Guru diajak untuk menggunakan proses literasi sejak tahap awal, yaitu Mengamati. Guru dapat menyiapkan sebuah “teks” yang cukup relevan untuk memancing minat siswa dalam mengikuti pembelajaran. Teks tidak harus dalam bentuk tulisan, tetapi juga dapat berbentuk media, gambar, grafik, foto atau perangkat multimedia yang berhubungan dengan materi.Setelah guru menyajikan “teks” kepada siswa, guru dapat mengamati sikap siswa terhadap “teks” tersebut dengan beberapa indikator berikut ini: 1) apakah siswa dapat mengidentifikasi informasi yang relevan dengan materi, 2) apakah siswa menanyakan istilah-istilah atau peristiwa yang sulit dipahami, 3) apakah siswa dapat membuat simpulan sementara atas teks. Langkah yang dilakukan oleh siswa ini dapat diintegrasikan dalam tahap Menanya.
Tahap ketiga adalah Mengumpulkan Informasi. Ini adalah tahap yang paling memungkinkan untuk melibatkan literasi secara optimal. Dalam tahap ini, guru berperan untuk menyediakan informasi selengkap mungkin dan sebanyak mungkin yang dapat diakses oleh siswa sebagai pendukung dalam proses belajar. Namun, tahap ketiga ini mungkin juga yang paling tidak memungkinkan untuk melibatkan literasi secara optimal karena alasan keterbatasan ini itu dan sebagainya. Yang pertama-tama dapat dilakukan adalah jadikan diri sendiri kaya akan bahan bacaan...Lanjut ke tahap keempat, Mengasosiasi, siswa dilibatkan untuk menemukan sesuatu dari kekayaan bacaan yang diberikan pada tahap ketiga. Guru dapat mengamati apakah siswa: 1) membuat ringkasan, 2) mengevaluasi teks, 3) mengonfirmasi, merevisi, atau menolak simpulan sementara yang mereka bentuk ketika berada dalam tahap Mengamati.
Tahap terakhir, Mengomunikasikan, siswa dilibatkan untuk bisa mengomunikasikan hasil pembelajaran yang mereka dapatkan. Guru dapat mengamati apakah siswa: 1) membahasakan pengertahuan dalam bahasanya sendiri, 2) memahami benar pengetahuan yang diperoleh, 3)  menggunakan moda lain untuk mengomunikasikan pengetahuan.
Inilah alternatif solusi yang dapat dipaparkan untuk mengimplementasikan literasi dalam pembelajaran.

Setelah memaparkan literasi dalam pembelajaran, Penjaga Podjok pun membawakan materi yang kedua, yaitu Penilaian Terbaru dalam Kurikulum 2013. Dua tahun lalu, Penjaga Podjok pernah juga membawakan materi tentang Penilaian Kurikulum 2013. Ada hal-hal yang baru yang disampaikan dalam pemaparan tahun ini. Memang demikianlah, pembelajaran harus selalu berubah dan berkembang seiring perkembangan zaman. Terima kasih atas kepercayaan dari Kantor Kementrian Agama Kota Surakarta yang telah memberi mandat kepada Penjaga Podjok untuk menyampaikan materi dalam Kegiatan Peningkatan Kompetensi Guru Agama Katolik Kota Surakarta... Semoga yang sedikit ini boleh membantu teman-teman guru untuk bersama-sama berkembang demi pelayanan yang lebih baik...

Selasa, 12 September 2017

Merekam Kegiatan Selama Satu Semester

Tidak terasa bahwa waktu terus berjalan dan sudah masuk bulan September... Tidak terasa juga bahwa sudah lama tidak menulis untuk merekam kegiatan Kerohanian Katolik di SMK Negeri 3 Surakarta... Catatan singkat ini semoga dapat menjadi ingatan tentang peristiwa-peristiwa yang telah berlalu...

Memulai Kegiatan dengan Ikut Ekaristi Siswa-siswi Katolik Kota Surakarta
Kegiatan di tahun 2017 dimulai dengan Ekaristi untuk Seluruh Siswa Katolik Kota Surakarta. Ekaristi ini diadakan pada hari Jumat, 6 Januari 2017. Saat itu, masih dalam suasana Natal, sebagian siswa Katolik di Kota Surakarta memenuhi Gereja Santo Antonius Purbayan untuk mengikuti Ekaristi. Ekaristi menjadi sumber yang ingin ditimba di awal tahun ini. Sayang, tidak ada anggota Ruang Podjok yang mengikuti Ekaristi ini karena sekolah sudah menerapkan lima hari sekolah. Hal ini membuat siswa-siswi tidak begitu longgar untuk mengikuti Ekaristi. Ya sudahlah... yang penting tahun baru sudah dimulai dengan menimba kekuatan dari Ekaristi... Paling tidak Penjaga Podjok sudah ikut bergabung disana...

Menyesuaikan Diri dengan Aturan Lima Hari Sekolah
Awal tahun 2017 ini, disambut oleh Ruang Podjok dengan penyesuaian diri terhadap siklus baru. Mulai semester genap, SMK Negeri 3 Surakarta menerapkan sistem lima hari sekolah. Lima hari sekolah ini membuat para siswa hanya menempuh proses pembelajaran dalam lima hari sepekan. Dengan demikian, jadwal pun disesuaikan karena hari Sabtu ditetapkan sebagai hari libur. Praktis, seluruh elemen sekolah ini pun menyesuaikan, termasuk Ruang Podjok. Akhirnya, seluruh kegiatan berjalan menyesuaikan dengan ritme sekolah... Beberapa kegiatan memang tidak dapat terlaksana, tetapi puji Tuhan beberapa tetap berjalan dengan baik... Semoga ke depan, seluruh kegiatan di Ruang Podjok dapat berjalan dengan baik.

Natalan di GKJ Danukusuman
Salah satu kegiatan yang terlaksana di bulan Januari 2017 adalah Natalan Bersama di GKJ Danukusuman. Natalan tahun ini sudah dipersiapkan sejak bulan Desember 2016. Panitia dari kelas X yang dikoordinir oleh Josefa Sindy telah menyiapkan rangkaian acara untuk memperingati Natal yang memiliki tema yang ditetapkan oleh Konferensi Waligereja Indonesia dan Persatuan Gereja-gereja Indonesia, “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus Tuhan di Kota Daud” (Luk 2:11). Sengaja memang Natalan kali ini diselenggarakan di GKJ Danukusuman karena Kerohanian Katolik dan Kristen SMK Negeri 3 Surakarta ingin melibatkan gereja-gereja sekitar untuk dijadikan tempat perayaan.
Setelah disiapkan beberapa saat, tibalah hari yang telah ditetapkan. Hari itu, Sabtu (21/01/2017), berbagai persiapan telah dibuat untuk memeriahkan suasana gedung GKJ Danukusuman. Panitia telah bekerja sekuat tenaga untuk menyiapkan berbagai hal untuk merayakan Natal Bersama Siswa, Guru, dan Karyawan Kristiani SMK Negeri 3 Surakarta.  Sekitar jam 09.oo pagi, acara pun dimulai.












Dalam perayaan Natal kali ini, Bapak Pendeta Uri Kristian Sakti Labeti, pemimpin jemaat GKJ Danukusuman, dimohon untuk memberikan renungan. Dalam renungan yang dibawakannya, beliau menyinggung pentingnya unsur kebaruan pada setiap diri orang Kristiani saat merayakan Natal, “Natal itu adalah cerita tentang kebaruan. Maka, ada Dies Natalis, hari yang dipakai untuk merayakan kelahiran sekaligus kebaruan. Kebaruan itu pasti ada spirit. Natal selalu mengingatkan kita aka hidup dan semangat baru.” Beliau pun juga mengaitkan Natal dengan masa remaja yang sangat berharga, “Usia sekolah merupakan usia yang sangat berharga untuk mengembangkan diri. Oleh karena itu, usia seperti ini sudah seharusnya diarahkan dan diatur. Natal itu harus memperbarui hidup, Bagaimana kemudian Natal mempengaruhi kita dalam membarui hidup di usia remaja ini.” Di akhir renungannya, beliau mengajak seluruh hadirin untuk meneladan para gembala. Dalam Injil Lukas dikisahkan para malaikat yang menyampaikan kabar dan gembala menerima kabar itu dengan penuh sukacita. Meneladan para gembala, setiap orang Kristiani diajak untuk menjadi orang yang luar biasa. Kita diberi banyak anugerah yang siap untuk kita kembangkan. Tuhan telah memberikan banyak hal kepada kita dan sudah seharusnya semua itu kita kembangkan dengan penuh sukacita.











Siang itu, acara perayaan Natal dipungkasi sekitar pukul 13.00. Terima kasih kepada seluruh panitia yang telah terlibat dalam seluruh acara Natalan pada tahun ini... Tuhan memberkati kalian semua...

Membaca Keteladanan Awam Muda dalam Ujian Sekolah
Kegiatan berikutnya yang terjadi di Ruang Podjok adalah penyelenggaraan Ujian Nasional Praktek Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk Kelas XII. Masih melanjutkan tema tahun yang lalu seputar orang kudus dari kaum awam, tahun ini, Ruang Podjok mengajak teman-teman kelas XII untuk mendalami dan membaca keteladanan awam muda. Tema yang diusung tahun ini adalah “Young Saints: Joyful and Holy.” Tema ini diangkat seiring dengan penyelenggaraan Asian Youth Day of Catholic Church yang melibatkan Keuskupan Agung Semarang sebagai tuan rumah pada bulan Juli sampai Agustus 2017 dengan tema  “Joyful Asian Youth! Living the Gospel in Multicultural Asia.” Menjadi orang muda dalam Gereja merupakan suatu anugerah. Dalam Ujian Praktek tahun ini, teman-teman kelas XII diajak untuk mendalami hidup dan perjuangan anak-anak muda yang telah memperjuangkan hidup mereka seutuhnya demi kesucian dan pengabdian kepada Allah.
Terima kasih kepada seluruh siswa-siswi kelas XII yang telah terlibat dalam seluruh proses Ujian Sekolah. Terima kasih atas kerja keras dan perjuangan kalian untuk mendalami kehidupan para kudus yang masih belia ini. Karya kalian akan menjadi warisan yang sangat berharga untuk banyak orang dalam belajar beriman.

Menemani Doa Bersama untuk Kelas XII
Tidak lama berselang, di penghujung bulan Maret, Penjaga Podjok kembali menemani siswa-siswi kelas XII untuk mengadakan Doa Bersama. Seperti biasa, Doa Bersama kali ini diselenggarakan untuk mohon berkat dalam rangka persiapan Ujian Nasional. Seperti biasanya, Doa Bersama ini diselenggarakan untuk seluruh siswa-siswi kelas XII. Yang beragama Islam ada kajian tersendiri. Yang beragama Kristen dan Katolik bergabung salam satu persekutuan.






Tahun ini, Penjaga Podjok dipercaya untuk memberikan renungan sekaligus penguatan bagi siswa-siswi dalam menyiapkan Ujian Nasional. Semoga sabda Kitab Suci dan pendalamannya yang sedikit ini boleh menjadi bekal untuk mengikuti Ujian Nasional pada bulan April 2017.

Mengenalkan Pelayanan Sosial Kepada Siswa-siswi Kelas X
Kesempatan hari kosong Ujian Nasional pada tanggal 3-6 April 2017 dimanfaatkan oleh  Penjaga Podjok untuk mengenalkan pelayanan sosial kepada siswa-siswi kelas X. Karya sosial menjadi salah satu karya khas yang dimiliki oleh Gereja Katolik. Melalui karya sosial ini, Gereja Katolik secara khusus memberikan perhatian kepada kaum Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, dan Difabel. Tahun ini merupakan tahun ketiga pelaksanaan Pelayanan Sosial Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta. Terselip harapan bahwa kegiatan ini akan memberikan sedikit kesan kepada siswa-siswi Katolik kelas X. Ada harapan bahwa suatu hari nanti, pengalaman ini menjadi pengalaman berharga yang dapat dibagikan kepada orang-orang dalam perjumpaan bersama dengan yang lain...




Merayakan Paska untuk Bebas dari Kuasa Kematian dan Membuat Diri Menjadi Pelopor Peradaban Kasih
Selepas menemani siswa-siswi kelas XII untuk menempuh ujian akhir dan siswa-siswi kelas X untuk kegiatan pelayanan sosial, kegiatan di Ruang Podjok berlanjut untuk menyiapkan Paska. Tahun ini, Perayaan Paska Bersama seperti biasa dikoordinir oleh siswa-siswi kelas XI. Mereka yang baru pulang dari kegiatan Praktek Kerja Lapangan langsung diberi tanggung jawab untuk menyelenggarakan kegiatan perayaan Paska. Tahun ini, korodinator panitia Paska menjadi bagian Kerohanian Katolik. Akhirnya, setelah berbagai pembicaraan disana sini, posisi Ketua Panitia Paska ditangani oleh Frisca Bunga Avilia. Dalam waktu yang tidak begitu lama, panitia mulai dibentuk dan mulai ada pembicaraan-pembicaraan untuk menentukan jalannya kegiatan Paska. Tema Paska pada tahun ini adalah “Kebangkitan Kristus Membebaskan Kita dari Kuasa Kematian dan Menjadikan Kita Pelopor Peradaban Kasih” (Rm 6 : 10). Tema ini adalah tema gabungan yang telah ditetapkan oleh PGI dan Panitia APP Keuskupan Agung Semarang.

Awalnya, panitia Paska mengalami kesulitan dalam menyelenggarakan acara ini. Salah satu hal yang menjadi pergulatan adalah apakah kegiatan dilaksanakan langsung di panti asuhan atau ada kegiatan dulu di sekolah baru bakti sosial di panti asuhan. Penjaga Podjok dan Pak Heru yang menemani dinamika panitia menyerahkan seluruh format acara kepada panitia Paska. Akhirnya diputuskan bahwa kegiatan akan diselenggarakan di dua tempat: ibadah dilakukan di sekolah dan dilanjutkan dengan bakti sosial di panti asuhan. Setelah format acara diputuskan, kendala yang kemudian muncul adalah pemberi renungan. Tidak mudah bagi panitia untuk mencari pemberi renungan karena berbagai kesibukan yang dimiliki oleh para imam yang melayani umat di Solo. Setelah pembicaraan demi pembicaraan, akhirnya diputuskan membuat permohonan kepada Bruder Carolus, BM untuk memberikan renungan. Puji Tuhan, pada hari dan jam yang diminta, beliau sedang tidak ada jadwal. Terima kasih kepada Bruder Carolus, BM yang telah berkenan memberikan pelayanan firman dalam Paska tahun ini.
Akhirnya, tibalah hari pelaksanaan. Jumat (12/05/2017), Perayaan Paska untuk Siswa, Guru, dan Karyawan Kristiani diselenggarakan di sekolah mulai pukul 08.30-an. Hari itu, Penjaga Podjok didaulat untuk menjemput Bruder Carolus, BM dan memandu beliau sampai di SMK Negeri 3 Surakarta. Dalam perayaan itu, seluruh acara diselenggarakan sesuai dengan rencana. Semua berjalan dengan lancar dan baik. Dalam renungannya, Bruder Carolus, BM menyatakan makna Paska yang erat dengan pembicaraan tentang kebangkitan. Di awal renungannya, beliau membawa sebuah kertas putih dan mengandaikan hal itu sebagai hidup manusia yang masih bersih. Dalam perjalanan waktu, kertas yang putih itu mulai ditulisi, dicorat-coret, bahkan diremas-remas. “Kisah penciptaan menyatakan kepada kita bagaimana manusia diciptakan dalam keadaan yang bersih. Saat berada di dunia, hidup manusia mulai mengalami kotor dan kusut. Namun, Allah tetap mengasihi kita. Kasih Allah itu perlu kita tanggapi dengan sikap bangkit melalui pembaruan diri.” Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah bagaimana pembaruan diri itu diwujudkan? Bruder Carolus memberikan jawaban, “Gampang. Yang dapat kita lakukan adalah Senyum, Sapa, dan Salam. Tiga hal ini akan melatih kita dalam memperlakukan orang lain. Senyum, sapa, dan salam membuat hubungan kita dengan orang lain menjadi lebih baik.”  Yang diungkapkan Bruder Carolus ini – kebetulan atau tidak – merupakan tiga hal yang selalu didengungkan oleh Bagian Kesiswaan SMK Negeri 3 Surakarta. Semoga renungan ini selalu mengingatkan siswa-siswi Kristiani SMK Negeri 3 Surakarta untuk melakukan tiga hal itu... Sekitar jam 10-an, Perayaan Paska pun berakhir dan panitia akan melanjutkan acara Bakti Sosial di Panti Asuhan Karuna, Gentan, Sukoharjo. 


Setelah sejenak bersiap-siap, seluruh panitia Paska pun menuju Panti Asuhan Karuna, Gentan, Sukoharjo. Siang itu, selain Penjaga Podjok, ada beberapa Bapak Ibu Guru Kristiani yang menemani kegiatan di panti asuhan. Acara di panti asuhan berlangsung lancar dengan perkenalan, pujian, dan permainan. Suasana gembira menyelimuti acara bakti sosial itu. Acara bakti sosial siang itu diakhiri dengan makan siang bersama dan penyerahan bantuan dari Kerohanian Katolik dan Kristen SMK Negeri 3 Surakarta untuk kepentingan penyelenggaraan karya sosial Panti Asuhan Karuna. Terima kasih kepada seluruh siswa-siswi Kristiani yang telah tergerak untuk memberikan sumbangan dalam acara bakti sosial ini. 



Terima kasih kepada Bapak Ibu Guru Kristiani yang telah terlibat dalam penyelenggaraan acara Paska dari ibadah sampai bakti sosial. Terima kasih kepada panitia Paska yang telah berjuang sekuat tenaga untuk mengelola acara ini dengan baik...

Bersama Umat Keuskupan Agung Semarang Menyambut Uskup Baru
Hari Sabtu (18/03/2017), seluruh umat Keuskupan Agung Semarang mendengar berita bahwa Paus Fransiskus menunjuk gembala baru bagi Keuskupan Agung Semarang. Romo Robertus Rubiyatmoko, Vikaris Yudisial yang sekaligus Formator Seminari Tinggi Keuskupan Agung Semarang, dipilih menjadi Uskup Agung yang baru. Keuskupan Agung Semarang mengalami kekosongan gembala sejak Uskup Agung Yohannes Pujasumarta meninggal pada tanggal 10 November 2015.  Penunjukan Paus ini terjadi menjelang perhelatan Asian Youth Day of the Catholic ‎Church ke-7 yang melibatkan Keuskupan Agung Semarang sebagai tuan rumah pada tanggal 30 Juli sampai 9 Agustus tahun ini.  “Joyful Asian Youth! Living the Gospel in Multicultural Asia” adalah tema perayaan kaum muda yang berpusat di Yogyakarta.
Sebenarnya sudah lama terdengar bahwa Romo Rubi merupakan kandidat kuat Uskup Agung Semarang. Romo Rubi – begitu beliau sering dipanggil oleh para mahasiswanya  di Fakultas Teologi Kepausan – lahir di Sleman, 10 Oktober 1963. Ia menyelesaikan studi di Fakultas Teologi Kepausan Yogyakarta dan ditahbiskan sebagai imam Keuskupan Agung Semarang pada tanggal 12 Agustus 1992. Setelah itu, ia menjalankan beberapa tugas berikut ini: Pastor Pembantu Paroki di Gereja Santa Maria Assumpta Pakem (1992-1993); Menempuh Studi Hukum Gereja di Universitas Kepausan Gregoriana, Roma (1993-1997); Menjadi Dosen Hukum Gereja di Fakultas Teologi Wedhabakti Yogyakarta sekaligus formator di Seminari Tinggi Santo Paulus Yogyakarta (sejak 1998), Wakil Rektor Fakultas Teologi Wedhabakti Yogyakarta (2004-2011), dan Vikaris Yudisialis Keuskupan Agung Semarang (sejak 2011). Pada bulan Maret 2017, ia terpilih untuk menggembalakan lebih dari 400.000 umat Keuskupan Agung Semarang. Di Keuskupan Agung Semarang, ada 98 paroki dengan 399 imam (203 imam diosesan dan 196 imam religius). Selain itu, ada 221 biarawan, 1162 biarawati, serta 60 calon imam.

Dua bulan setelah penunjukannya, Misa Tahbisan Uskup digelar di Lapangan Akademi Kepolisian Semarang Jawa Tengah pada hari Jumat (19/05/2017). Betapa gembiranya seluruh umat Keuskupan Agung Semarang saat itu karena telah kembali mendapatkan gembala. Uskup Agung Semarang yang baru ini memiliki motto penggembalaan “Quarere et Salvum Facere – Mencari dan Menyelamatkan.” Semoga ke depan semakin banyak umat Keuskupan Agung Semarang yang merasakan bagaimana sang Uskup mencari dan menyelamatkan seluruh umat. Bersama dengan seluruh umat Keuskupan Agung Semarang, 











Ruang Podjok pun bergembira menyambut Uskup yang baru ini.. Puji Tuhan atas kehadiran Imam Agung di wilayah kami...

Menyepi untuk Meningkatkan Kompetensi
Tidak lama setelah bergembira bersama umat Keuskupan Agung Semarang dan Uskupnya yang baru, datanglah surat tugas kepada Penjaga Podjok untuk mengikuti kegiatan peningkatan kompetensi Guru Pendidikan Agama Katolik se Regio Jawa. Kegiatan ini merupakan undangan dari Bimas Katolik Kementrian Agama Republik Indonesia. Undangan ini mengharuskan Penjaga Podjok meninggalkan Ruang Podjoknya untuk pergi ke Jogja, tempat pelaksanaan kegiatan ini. Selama 4 hari, mulai tanggal 23 sampai 26 Mei, Penjaga Podjok mengikuti kegiatan di @HOM Platinum Hotel, Gowongan, Malioboro, Jogjakarta. Bagi Penjaga Podjok, kegiatan seperti ini menjadi sarana untuk semakin memperkaya wawasan demi pelayanan pendidikan. 
Selama 3 hari, Penjaga Podjok menerima berbagai materi untuk meningkatkan kompetensi sebagai guru. Ada materi Visi Misi serta Kebijakan Bimas Katolik; Pembinaan Guru Agama Katolik di Yogyakarta; Spiritualitas Guru Pendidikan Agama Katolik, Implementasi Kurikulum 2013; Proses Pembelajaran di Era Digital; Literasi dalam Pembelajaran; Penilaian (Terbaru) dalam Kurikulum 2013; Kesadaran Berbangsa dan Bernegara; serta Pencegahan dan Penanggulangan Narkoba dan Pornografi. Materi-materi ini menjadi tambahan wawasan bagi Penjaga Podjok agar boleh semakin melayani denga baik. Terima kasih kepada Kementrian Agama Republik Indonesia yang telah memperhatikan pengembangan kompetensi para guru Pendidikan Agama Katolik. 

Memuncaki Tahun Pelajaran dengan Pendalaman Rohani
Kegiatan paling akhir yang terjadi di Ruang Podjok adalah Retret Pendalaman Rohani untuk siswa-siswi Kelas X. Tidak lama setelah acara Paska, siswa-siswi kelas XI kembali diberi tanggung jawab untuk menyelenggarakan acara. Kali ini, acara yang diadakan adalah Retret Pendalaman Rohani untuk siswa-siswi kelas X. Retret merupakan acara rutin yang diadakan oleh Kerohanian Kristen dan Katolik SMK Negeri 3 Surakarta. Acara retret biasanya memang diadakan dalam rangka pendalaman rohani bersamaan dengan kegiatan Pesantren Kilat di bulan Ramadhan bagi siswa yang beragama Islam. Tahun ini, retret pun diadakan pada bulan Ramadhan yang tahun ini jatuh mulai akhir bulan Mei. Karena di bulan Mei, sekolah biasanya mengadakan Ulangan Kenaikan Kelas, kegiatan retret pun mengalami penyesuaian dan diselenggarakan pada akhir tahun pelajaran. Akhirnya, ditetapkan bahwa retret diselenggarakan pada tanggal 15-16 Juni 2017. Dengan segera, panitia retret pun dibuat. Retret kali ini dikoordinir oleh Kerohanian Kristen dan dikomandoi oleh Ayu Febita Sari. Begitu selesai acara Paska, panitia pun segera diberitahu untuk bekerja menyiapkan retret. Panitia pun dengan sigap bekerja, mulai dari survei lokasi sampai persiapan acara. Semua dilaksanakan dalam waktu yang tidak begitu lama. Puji Tuhan semua persoalan dapat teratasi sehingga persiapan pun berjalan dengan lancar.


Begitu selesai Ulangan Kenaikan Kelas, persiapan akhir untuk retret pun dibuat. Segala persiapan dilakukan dengan matang agar hasilnya pun baik. Penjaga Podjok tidak henti-hentinya mengingatkan panitia untuk mengiringinya dengan doa. Penjaga Podjok ingin belajar meyakini ajaran iman ini, “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yak 5:16b). Penjaga Podjok menyadari bahwa doa memiliki kekuatan yang luar biasa. Inilah yang ingin coba dibagikan kepada seluruh panitia.
Hari H pun tiba. Siang hari, Kamis (15/06/2017), mulailah dinamika retret. Siang itu, para peserta mulai berangkat bersama dari sekolah pukul 13.00. Penjaga Podjok menemani panitia sampai semua berangkat karena Pak Heru, Ibu Susi, dan Ibu Setya telah lebih dulu berangkat ke lokasi untuk mempersiapkan beberapa hal. Setelah seluruh peserta berangkat, barulah Penjaga Podjok beranjak menuju tempat pelaksanaan.


Retret kali ini dilaksanakan di Wisma Suwandi, Tawangmangu. Selama satu hari satu malam, para peserta dibimbing oleh Ibu Pendeta Magdalena Eli dari GKJ Kerten. Materi yang disampaikan beliau adalah materi penemuan diri. Materi ini menjadi dasar untuk pendalaman rohani agar setiap peserta menemukan hal-hal baik yang dapat mereka kembangkan untuk hidup di kemudian hari. Materi penemuan diri disampaikan dalam dua kali sesi. Sore itu, para peserta diajak untuk melihat ke dalam diri sendiri dan berpikir mengenai apa yang dapat dilakukan setelah memahami dirinya sendiri. Rangkaian acara retret malam itu ditutup dengan Jelajah Malam dan penampilan dalam Api Unggun. Setelah itu, para peserta pun beristirahat malam.

Pagi harinya, dinamika retret dilanjutkan kembali. Agenda pagi itu ialah outbound. Kemeriahan acar outbound dengan segera melingkupi para peserta. Berbagai permainan dialami untuk dipetik nilai-nilainya. Permainan dalam outbound memang tidak sekedar permainan, tetapi permainan itu mengandung nilai-nilai yang siap untuk diambil dan direfleksikan oleh para peserta. Berikut ini adalah beberapa refleksi yang diungkapkan oleh peserta retret:

“Melalui retret, kami dapat lebih mengenal satu sama lain, mengerti tentang pentingnya kebersamaan, memperoleh pengalaman baru, belajar tentang kedisiplinan, serta mendapatkan pengalaman berharga tentang asin, pahit, dan manisnya kehidupan...”

“Melalui retret, kami mendapatkan pelajaran untuk melangkah menjadi anak terang, belajar mengenali diri sendiri, mengatur diri, melakukan tugas yang menjadi utusan Tuhan dengan penuh kerelaan dan kesetiaan, mendalami kebersamaan dengan saudara seiman, mendapatkan berbagai rasa kehidupan, serta mendapatkan pelajaran tentang makna menjadi garam dan terang dunia...”

“Melalui retret, kami diajarkan tentang arti kebersamaan, menghargai, menolong, dan kekompakan, belajar tentang kehidupan, terutama saat pahit harus tetap bersyukur kepada Tuhan dan menerima semuanya, diajari untuk menjadi garam dan terang dunia, diajari menghadapi masalah dengan kerelaan hati dan sabar, serta diajari untuk selalu berdoa, berusaha, saling bekerjasama, dan saling menghargai dalam menjalankan setiap kegiatan...”

“Melalui retret, kami menjadi sadar bahwa kebersamaan itu sangat penting, diajari untuk menjadi terang dunia bagi diri sendiri maupun orang lain, diajari untuk bekerja keras saat menghadapi persoalan hidup entah itu pahit atau manis sambil percaya bahwa semua akan indah pada waktunya, serta diajari untuk mengenali diri, mengatur diri, dan melakukan apa yang ditugaskan dan diutuskan oleh Tuhan...”












Selesai outbound, para peserta segera membersihkan diri untuk masuk dalam sesi terakhir. Sesi terakhir ini merupakan sesi kesimpulan yang disampaikan oleh Penjaga Podjok. Siang itu, para peserta diajak untuk membangun diri menjadi remaja yang menampakkan terang kepada banyak orang. Kadangkala orang menjadi ragu untuk bertindak hanya karena dia masih merasa muda. Namun, sebenarnya kemudaan bukanlah halangan untuk berbuat sesuatu. Sesi ini ingin membakar semangat para peserta untuk melakukan sesuatu, terlebih sebagai remaja Kristiani di SMK Negeri 3 Surakarta. 
Semangat yang ingin ditularkan adalah semangat yang diungkapkan oleh Santo Filipus Neri, “Beruntunglah kalian orang-orang muda karena kalian punya banyak waktu untuk berbuat baik.” Semoga retret ini semakin menggerakkan para peserta untuk berbuat baik dalam kehidupan.