Minggu, 25 Juli 2021

Catatan Penjaga Podjok: Cura Personalis, Mencari dan Menyelamatkan...

Sejak diberi kepercayaan mengelola Ruang Podjok, Penjaga Podjok mencoba mengadopsi cara-cara sekolah Katolik bertindak untuk memberikan pelayanan kepada para anggota Ruang Podjok. Salah satu kekhasan yang coba diterapkan adalah Cura Personalis. 

Istilah Cura Personalis berasal dari tradisi pendidikan sekolah-sekolah yang dikelola para Yesuit. Pater Wladimir Ledochowski, SJ. mencetuskan istilah ini pada tahun 1934 untuk menekankan pentingnya perhatian  pribadi kepada  para  siswa  serta mengarahkan  setiap  individu  dengan  jalan petuah dan nasehat. 

Sebelum pandemi melanda, Penjaga Podjok sudah mencoba menerapkan Cura Personalis. Ada beberapa siswa-siswi yang sempat diperhatikan secara pribadi. Biasanya, langkah ini dilakukan dengan memanggil siswa (beserta orangtua jika diperlukan), lalu ada proses pembinaan bersama antara sekolah dan orangtua. 




Nah, untuk lebih jelasnya, mari sedikit mengenal tentang Cura Personalis... 

Cura Personalis adalah ungkapan dalam lembaga kerasulan atau komunitas Yesuit. Ungkapan dari bahasa Latin ini tidak digunakan secara langsung oleh Ignasius, pendiri Serikat Yesus, tempat para Yesuit hidup dan berkarya. Ungkapan Cura Personalis digunakan pertama kali oleh Pater Wladimir Ledochowski, SJ., Superior Jendral Serikat Yesus antara 1915 sampai 1942. Pada tahun 1934, dia mengirimkan New Instruction kepada Yesuit di Amerika Serikat mengenai ciri-ciri penting pendidikan Yesuit  di sana. Dia memberikan kejelasan dan arah kepada para Yesuit yang bersikukuh untuk tidak setuju terhadap kebutuhan akademik katolik Roma setelah perang dunia. Dua hal ditekankan Pater Ledochowski adalah keunggulan akademik dan kerjasama yang lebih  besar diantara kolese dan universitas pada level nasional. Di bawah sub judul “The Spirit behind Our Plan of Studies” (Iuxta Spiritum Rationis Studiorum), Pater Ledochowski menegaskan bahwa tujuan akhir pendidikan Yesuit adalah membantu  siswa mengetahui dan mencintai Tuhan lebih mendalam. Sebagai jalan menuju tujuan itu, dia menyinggung sebuah doktrin katolik dan filsafat skolastik, yaitu sebuah pendekatan pada pendidikan  yang  memandang belajar intelektual dalam perkembangan pribadi manusia yang utuh. Pater Ledochowski menekankan  dua  poin,  yaitu: perhatian pribadi kepada  para  siswa  dan mengarahkan setiap  individu  dengan  jalan petuah dan nasehat. 

Pada bulan Oktober 1972, ketika Pater Pedro Arrupe, SJ., Superior Jendral Serikat Yesus pada waktu itu, mempersiapkan diri mengunjungi St.  Peter College di Jersey untuk perayaan seratus tahun, Pater Laurence J. McGinley, SJ., Presiden Fordham University, mempersiapkan  kotbah  untuk kedatangan Pater Arrupe. Pater McGinley mengemukakan naskah lima halaman. Di akhir naskah itu dia mengungkapkan tiga hal yang    menjadi fokus  perhatiannya, yaitu: 1) kepercayaan abadi kepada para hadirin bahwa yang mereka kerjakan semuanya  adalah  penting,  2)  pendidikan kita yang unik telah diterima dan dimiliki sebagai warisan, dan 3) apa yang oleh para Yesuit  telah  ditemukan ialah suasana Cura Personalis - yaitu konsern, perhatian, atensi, cinta seorang guru pada muidnya dalam atmosfer kepercayaan personal. 

Pada tahun 1986, Cura Personalis mendapat penekanan yang menonjol pada sebuah dokumen  berjudul Ciri Khas Pendidikan pada Lembaga Pendidikan Yesuit. Dokumen ini merupakan dokumen Pendidikan Serikat setelah Ratio Studiorum yang  berlaku  lama  sejak  Abad Pertengahan. Dalam dokumen itu disampaikan bahwa 1) para  guru diharapkan mampu menghormati kebebasan para siswa dan 2) para guru diharapkan mendengarkan masalah-masalah  dan  kebingungan mereka tentang makna hidup, ikut ambil bagian dalam duka dan  sukanya, menolong mereka demi pertumbuhan pribadi dan hubungan dengan sesamanya. Dengan cara itu, anggota komunitas pendidikan yang dewasa membimbing para siswa dalam memperkembangkan seperangkat nilai untuk sampai kepada keputusan hidup yang mengatasi egoisme: keprihatinan pada kebutuhan orang lain. Disampaikan pula bahwa para  guru harus berusaha hidup dengan   memberikan teladan bagi para siswa dan rela berbagi pengalaman hidupnya sendiri. 

Cura Personalis, perhatian pada pribadi orang, hendaknya tetap menjadi ciri dasar pendidikan Jesuit. Pater Barton T. Geger, S.J., menyatakan bahwa instruksi Pater Ledochowski  jelas menyatakan bahwa  guru dan   dosen   di  lembaga   pendidikan Yesuit bertanggungjawab tidak hanya secara akademik, tetapi mereka diminta  menghayati   hidup   sebagai jalan panggilan. Selain untuk urusan akademis, mereka diajak memberikan hidupnya untuk para murid dan mahasiswa. Mengenai Cura Personalis ini, ada sebuah ungkapan yang saya temukan dalam dokumen Ways of Proceeding in Jesuit Schools, based upon ‘Characteristics’ yang diterbitkan oleh Serikat Yesus Provinsi Spanyol pada tahun 2006, “Kasih pastoral adalah suatu dimensi "cura personalis" yang memungkinkan tumbuhnya benih iman dan komitmen religius dalam diri setiap individu karena memungkinkan setiap pribadi mengenali dan menanggapi pesan kasih ilahi."

Pada masa pandemi, Cura Personalis menjadi salah satu andalan Penjaga Podjok untuk mengembangkan pendidikan karakter bagi siswa-siswi. Ada beberapa siswi yang kemudian diminta hadir ke sekolah. Di sana, para guru menyampaikan persoalan yang dihadapi berkenaan dengan mereka. Para siswi pun didengarkan kesulitan dan persoalan yang mereka alami. Ada kesempatan untuk memberikan nasehat. Bahkan, para siswi pun diberi solusi jika sekolah bisa membantu. 






Pandemi atau tidak pandemi, Cura Personalis tetap coba dijalankan di Ruang Podjok. Bagi saya pribadi, Cura Personalis ini merupakan cara yang sejalan dengan arahan Bapak Uskup Agung Semarang, yaitu untuk mencari dan menyelamatkan. Mencari karena selama pandemi, mungkin ada siswa-siswi yang menempuh jalan yang tidak seharusnya dilalui. Menyelamatkan karena Cura Personalis ini ingin menolong siswa-siswi untuk kembali menempuh jalan yang seharusnya. Meskipun demikian, Cura Personalis tetap memerlukan peran dua pihak, yaitu guru dan siswa. Guru harus tulus mencari dan menyelamatkan, sedangkan siswa juga harus mau dicari dan diselamatkan. Ibarat menolong orang yang jatuh ke jurang, orang yang ditolong harus mau menyambut tangan penolong yang sudah mengulurkan tangannya. Tanpa peran serta dua pihak ini, Cura Personalis tidak akan berhasil dengan baik. Semoga dengan demikian, siswa-siswi boleh mendapatkan bimbingan yang baik untuk menemukan kehendak Tuhan dalam dirinya.

Selasa, 16 Maret 2021

Catatan Penjaga Podjok: Setahun Pembelajaran Jarak Jauh, Tetap Semangat atau Sudah Loyo?


Tepat hari ini, 16 Maret 2021, resmi sudah saya melakukan Pembelajaran Jarak Jauh selama setahun. Saya mencoba melihat catatan presensi saya setahun yang lalu. Dalam aplikasi yang saya gunakan, pada tanggal 16 Maret 2020 tercatat bahwa saya melakukan presensi pagi pukul 06.57 dan setelah itu tertulis keterangan FM (
Force Majeure). Force Majeure adalah keadaan memaksa yang terjadi di luar kemampuan manusia sehingga kerugian tidak dapat dihindari. Saat itu, keadaan tersebut terjadi karena merebaknya virus yang menyebabkan pandemi Covid-19. Saat itulah yang mengubah semua keadaan, termasuk dunia pendidikan. Sekolah yang menjadi salah satu tempat publik, terpaksa harus ditutup untuk mencegah penyebaran penyakit secara masif. Akhirnya, pembelajaran di sekolah pun harus dilakukan dengan cara jarak jauh yang membuat pembelajaran terjadi meskipun guru dan murid tidak saling bertatap muka, bahkan terpisahkan dengan jarak yang relatif jauh.

Berhadapan dengan kenyataan tersebut, dunia persekolahan pun dipaksa untuk berubah. Satu hal yang pasti: Berubah atau Punah. Dengan segera, saya pun juga mengubah paradigma yang selama ini bercokol dalam kepala saya. Tadinya, saya menganggap bahwa pembelajaran jarak jauh tidak akan banyak bermanfaat. Tadinya, saya menganggap bahwa soal esai adalah bentuk soal yang paling mengasah kemampuan siswa. Tadinya, saya menganggap bahwa teknologi hanya berperan sebagai pelengkap dalam pembelajaran. Dan pandemi Covid-19 memaksa saya untuk mengubah semuanya itu. Dengan cepat, saya pun mengadopsi perubahan. Awalnya saya ragu untuk membuat perubahan, tetapi sekali lagi semua harus dilakukan. 

Tidak butuh waktu lama ternyata untuk berubah. Yang lebih diperlukan adalah kemauan untuk berubah. Nyatanya, dalam waktu enam minggu, pembelajaran yang tadinya dilakukan dengan tatap muka penuh bisa diubah menjadi pembelajaran daring. Kisah ini sudah saya coretkan melalui tulisan berikut: Catatan Penjaga Podjok: Mengelola Kelas Daring #1 Perubahan yang harus dilakukan dengan segera ini terus diperbarui dari waktu ke waktu. Ada banyak gagasan yang kemudian membuat pembelajaran daring menjadi semakin matang dan cukup bisa dipertanggungjawabkan (meskipun masih harus diakui bahwa tatapmuka tetap menjadi pilihan utama). Pembelajaran daring pun kemudian terus berjalan dari waktu ke waktu sampai sekarang.

Di tengah kegamangan yang terjadi selama pembelajaran daring, sering muncul pertanyaan: kapan situasi ini akan berakhir? Dalam waktu dekat? Atau masih jauh dari selesai? Dalam proses yang belum selesai ini, ada banyak reaksi. Ada yang bertahan dalam pembelajaran daring. Ada yang curi-curi pembelajaran tatap muka. Untuk yang curi-curi pembelajaran tatap muka seringkali muncul lelucon seperti ini:

Orang Dewasa : "Dik, mau kemana?"

Anak : "Sekolah, Om..." 

Orang Dewasa : "Lho, kok gak pakai seragam?"

Anak : "Iya Om, biar Corona gak tau kalau kita sedang sekolah..."

Orang Dewasa : &^%$#@$*!???

Memang situasi yang terjadi membuat banyak reaksi. Saya sendiri termasuk yang memilih reaksi bertahan. Ya mau bagaimana lagi? Virusnya menyebar ketika banyak orang berkumpul. Mana berani saya membuat kerumunan. Ini juga sekaligus supaya saya tidak termasuk golongan Covidiot. Covidiot merupakan istilah yang muncul selama pandemi ini. Dilansir dari laman Health, covidiot adalah mereka yang tidak menganggap serius Covid-19 dan risikonya, terlepas dari apa yang dikatakan pejabat pemerintah dan komunitas kesehatan global. Pada saat yang sama, mereka mungkin melakukan perilaku egois yang tidak mendukung upaya memperlambat dan menghentikan penyebaran virus corona. Saya sendiri menganggap bahwa dengan bertahan dalam pembelajaran daring, saya ikut terlibat menghambat penyebaran virus karena kita tidak tahu siapa yang membawa dan siapa yang menularkan. 

Sampai hari ini saya memang masih memilih reaksi bertahan dalam pembelajaran daring. Efeknya apa? Banyak... Salah satunya adalah kelelahan dalam menjalani pembelajaran daring. Memang pembelajaran daring ini tidak memiliki banyak variasi. Ya cuma itu itu saja... Namun, saya sendiri merasakan bahwa pembelajaran daring ini membuat saya banyak belajar: belajar untuk setia dalam hal yang itu-itu saja, belajar untuk membuat persiapan jauh hari, belajar untuk merencanakan, belajar untuk melakukan yang sudah direncanakan, belajar untuk mengatasi kesulitan dan banyak lainnya... 

Lalu kalau ditanya: Masih Semangat atau Sudah Loyo? Jawabannya pasti: Harus Terus Semangat... Mengapa? Ya karena bisanya cuma menjalani. Kalau saya kemudian menjadi kendor, pasti keadaan akan semakin buruk. Lalu siapa yang rugi? Banyak pihak: saya sendiri rugi, siswa-siswi saya rugi, bahkan masa depan pun dirugikan. Oleh karena itu jawabannya pasti... Harus Semangat... Saya menyadari bahwa pembelajaran jarak jauh bukanlah hal yang saya inginkan, tetapi kalau saya menyerah dengan keadaan, menjadi pasti bahwa saya sendirilah yang akan menanggung kerugian... Oleh karena itu, mari tetap semangat... Kata Abah Lala, "Rasah Aleman..." Semoga Anda sekalian yang membaca tulisan ini pun boleh menimba semangat yang sama... untuk tetap semangat... Berkah Dalem...

Rabu, 17 Februari 2021

Catatan Penjaga Podjok: Kita dan Asesmen Kompetensi Minimum

Sudah lama terdengar bahwa Ujian Nasional akan digantikan dengan Asesmen Nasional? Benarkah seperti itu? Apakah Asesmen Nasional menjadi pengganti Ujian Nasional? Semoga tulisan berikut sedikit memberikan informasi kepada kita...
Selama pandemi Covid-19, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan mengadakan pelatihan bagi guru yang diselenggarakan secara daring melalui program Guru Belajar. Salah satu seri dari  program tersebut adalah Seri Asesmen Kompetensi Minimum atau AKM.
Asesmen Kompetensi Minimum adalah salah satu instrumen dari Asesmen Nasional. Asesmen Nasional adalah program penilaian terhadap mutu setiap satuan pendidikan dan program kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah. Ada tiga instrumen utama Asesmen Nasional, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. AKM menjadi alat ukur mutu pendidikan dari segi kompetensi literasi dan numerasi yang dimiliki peserta didik.Oleh karena itu, guru diajak untuk belajar mendalami AKM secara khusus agar dapat menyiapkan strategi pembelajaran yang akan diterapkan pada satuan pendidikan dimana dia bertugas.
Bimtek Seri AKM berlangsung dalam 11 angkatan (4 Januari - 27 Februari 2021). Tujuan Bimtek Seri AKM adalah 1) Memahami konsep Asesmen Nasional; 2) Memahami bentuk pelaksanaan Asesmen Nasional; 3) Menganalisis contoh soal literasi membaca pada Asesmen Kompetensi Minimum; 4) Menganalisis contoh soal literasi numerasi pada Asesmen Kompetensi Minimum; 5) Membaca dan menindaklanjuti laporan hasil Asesmen Kompetensi Minimum; 6) Mengajak rekan guru untuk mengikuti program Guru Belajar Seri AKM. Peserta Program Seri AKM adalah semua Guru SD, SMP dan SMA/SMK; Kepala Sekolah SD, SMP dan SMA/SMK; Pengawas SD, SMP dan SMA/SMK; semua Guru SDLB, SMPLB, dan SMALB; Kepala Sekolah SDLB, SMPLB, dan SMALB; Peserta yang berasal dari Pendidikan Kesetaraan Jenjang Dasar dan Menengah dan telah memiliki Akun SIMPKB.
Asesmen Nasional adalah program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah, dan program kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah. Asesmen Nasional mengukur mutu setiap satuan pendidikan dinilai berdasarkan hasil belajar murid yang mendasar (literasi, numerasi, dan karakter) serta kualitas proses belajar-mengajar dan iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran. Asesmen Nasional terdiri dari tiga instrumen utama, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut: 1) Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) untuk mengukur literasi membaca dan literasi matematika (numerasi) murid, 2) Survei Karakter untuk mengukur sikap, nilai, keyakinan, dan kebiasaan yang mencerminkan karakter murid; 3) Survei Lingkungan Belajar untuk mengukur kualitas berbagai aspek input dan proses belajar-mengajar di kelas maupun di tingkat satuan pendidikan. Asesmen Nasional dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Asesmen Nasional dirancang untuk menghasilkan informasi akurat untuk memperbaiki kualitas belajar-mengajar, yang pada gilirannya akan meningkatkan hasil belajar murid. Asesmen Nasional bertujuan untuk menunjukkan apa yang seharusnya menjadi tujuan utama satuan pendidikan, yakni pengembangan kompetensi dan karakter murid. Asesmen Nasional juga memberi gambaran tentang karakteristik esensial sebuah satuan pendidikan yang efektif untuk mencapai tujuan utama tersebut.
Asesmen Nasional tidak menentukan kelulusan dan tidak diberikan kepada murid yang ada di akhir jenjang satuan pendidikan. Asesmen Nasional tidak digunakan untuk menilai peserta didik yang menjadi peserta asesmen. Hasil Asesmen Nasional tidak akan memuat skor atau nilai peserta didik secara individual. Penilaian kelulusan peserta didik merupakan kewenangan pendidik dan satuan pendidikan. Melalui Asesmen Nasional, pemerintah melakukan evaluasi sistem pendidikan. Asesmen Nasional merupakan cara untuk memotret dan memetakan mutu sekolah dan sistem pendidikan secara keseluruhan. Karena itu, tidak semua murid menjadi peserta dalam Asesmen Nasional. Yang diperlukan adalah informasi sampel dari setiap satuan pendidikan pada jenjang kelas yang menjadi target dari Asesmen Nasional. Asesmen Nasional tidak menggantikan peran Ujian Nasional dalam mengevaluasi prestasi atau hasil belajar murid secara individual. Asesmen Nasional menggantikan peran Ujian Nasional sebagai sumber informasi untuk memetakan dan mengevaluasi mutu sistem pendidikan. Sebagai alat evaluasi mutu sistem, Asesmen Nasional akan menghasilkan potret yang lebih utuh tentang kualitas hasil belajar dan proses pembelajaran di satuan pendidikan. 
Laporan Hasil Asesmen Nasional akan dirancang untuk menjadi “cermin” atau umpan balik yang berguna bagi satuan pendidikan, Dinas Pendidikan, dan lembaga penyelenggara pendidikan dalam proses evaluasi diri dan perencanaan program penyelenggaraan pelayanan pendidikan.
Peserta Asesmen Nasional terdiri dari Murid, Guru, dan Kepala Sekolah. Murid akan dipilih secara acak oleh Kemdikbud. Satuan pendidikan mengirim daftar murid yang akan dijadikan sampel. Semua guru baik status kepegawaian tetap maupun pegawai lepas atau honorer boleh mengikuti Asesmen Nasional dan tidak ada batasan jumlah. Asesmen Nasional untuk murid akan dilaksanakan dua hari. Hari pertama untuk Asesmen Literasi Membaca dan Survei Karakter serta hari kedua untuk Asesmen Numerasi dan Survei Lingkungan Belajar.Bentuk Soal dalam AKM dapat dilihat melalui https://pusmenjar.kemdikbud.go.id/akm/ 
Berikut ini adalah beberapa infografis yang dapat disimak untuk lebih memahami Asesmen Kompetensi Minimum:



Apa kepentingan kita terhadap Asesmen Nasional, terutama Asesmen Kompetensin Minimum? Kita terlibat untuk menyiapkan peserta didik dalam menguasai kompetensi literasi dan numerasi serta karakter yang diukur melalui Asesmen Kompetensi Minimum. Oleh karena itu, kita berkepentingan untuk memahami Asesmen Kompetensi Minimum agar kita bisa menyiapkan generasi mendatang yang cakap, kompeten, dan berkarakter. 
Menurut informasi terbaru, Asesmen Kompetensi Minimum memang belum jadi dilaksanakan dalam waktu dekat ("Mendikbud: Pelaksanaan Asesmen Nasional Diundur Jadi September 2021" yang dapat diakses melalui https://setkab.go.id/mendikbud-pelaksanaan-asesmen-nasional-diundur-jadi-september-2021/). Namun, kapanpun dilaksanakan, satuan pendidikan tetap harus mempersiapkan diri untuk terlibat dalam penilaian tersebut. Mumpung masih ditunda, semoga waktu yang ada ini bisa menjadi saat yang baik dan memadai untuk menyiapkan diri. Semoga tulisan ini boleh menambah informasi bagi siapa saja yang ingin tahu tentang Asesmen Nasional, khususnya Asesmen Kompetensi Minimum...

Jumat, 25 Desember 2020

Gua (Kandang) Natal, Warisan Tradisi Iman untuk Diteruskan

Foto yang disertakan dalam posting ini diambil tahun berapa saya lupa, tetapi foto ini menjadi bermakna sekarang karena foto ini menampakkan tradisi iman yang diwariskan oleh keluarga saya. Tradisi iman itu berkenaan dengan Natal, yaitu Gua atau Kandang Natal. Mengapa Gua atau Kandang Natal ini menarik bagi saya? Tradisi ini merupakan salah satu tradisi Katolik yang perlu dihayati dan diwariskan oleh keluarga-keluarga Katolik.

Setahun lalu, menjelang Natal, Paus Fransiskus menulis Surat Apostolik tentang makna dan pentingnya gambaran kelahiran Kristus atau yang sering kita kenal dengan Gua atau Kandang Natal. Dia menandatangani surat itu dalam kunjungannya ke kota Greccio, Italia, pada Minggu, 1 Desember 2019. Greccio adalah desa pegunungan tempat Santo Fransiskus Assisi menciptakan palungan dan Gua atau Kandang Natal pertama pada tahun 1223 untuk memperingati kelahiran Yesus. Paus Fransiskus kembali ke Vatikan untuk merilis Surat Apostolik yang diberi judul Admirabile Signum (Tanda yang Menakjubkan). 

Judul berbahasa Latin dari surat itu merujuk pada “gambar yang mempesona” yang ditampakkan oleh gambaran Natal yang “tidak pernah berhenti membangkitkan keheranan dan ketakjuban.” Lebih lanjut, Paus menulis, “Penggambaran kelahiran Yesus sendiri merupakan pewartaan yang sederhana dan menyenangkan atas misteri Inkarnasi Anak Allah.” Paus Fransiskus mengatakan bahwa “gambaran kelahiran Yesus itu seperti sebuah Injil hidup yang muncul dari halaman-halaman Kitab Suci.” Merenungkan kisah Natal itu bak memulai perjalanan rohani karena setiap orang beriman “ditarik oleh kerendahan hati Allah yang menjadi manusia untuk menjumpai setiap orang.” Selanjutnya, karena begitu besar kasih-Nya bagi kita, Paus menulis, “Ia menjadi salah satu dari kita, sehingga pada gilirannya kita menjadi satu dengan-Nya.” Paus berharap surat ini akan mendorong tradisi keluarga dalam mempersiapkan gambaran kelahiran Kristus, juga di tempat-tempat lain, antara lain “di tempat kerja, di sekolah, rumah sakit, penjara dan alun-alun kota.” Sambil memuji imajinasi dan kreativitas yang menjadi hasil karya-karya indah sederhana ini, Paus Fransiskus berharap agar kebiasaan ini tidak akan pernah hilang “dan bahwa, di mana pun kebiasaan itu telah tidak digunakan, hendaknya dapat ditemukan kembali dan dihidupkan kembali.”

Paus Fransiskus mengingat asal usul gua Natal seperti yang disebut dalam Injil, “Datang ke dunia ini, Anak Allah dibaringkan di tempat binatang diberi makan. Jerami menjadi alas tidur pertama dari Dia yang akan menyatakan diri-Nya sebagai ‘roti yang telah turun dari surga’. Gambaran kelahiran Yesus membangkitkan sejumlah misteri hidup Yesus dan mendekatkan misteri itu kepada kehidupan kita sehari-hari.” Paus Fransiskus membawa kita kembali ke kota Greccio, Italia, yang dikunjungi Santo Fransiskus pada tahun 1223. Gua-gua kecil yang dilihatnya di sana mengingatkannya akan wilayah pedesaan Betlehem. “Pada 25 Desember para biarawan dan penduduk setempat datang bersama-sama, membawa bunga dan obor. Ketika Fransiskus tiba, dia menemukan palungan penuh jerami, seekor lembu dan seekor keledai,” demikian tulis Paus. Seorang imam merayakan Ekaristi di atas palungan,  dengan “menunjukkan ikatan antara Inkarnasi Anak Allah dan Ekaristi.” 

Paus mengatakan bahwa tradisi Gua atau Kandang Natal ini berawal dengan sangat sederhana, “Beginilah bagaimana tradisi kita dimulai: bersama semua orang berkumpul dengan gembira di sekitar gua, tanpa jarak antara peristiwa asli dan mereka yang berbagi dalam misterinya... Dengan kesederhanaan tanda itu, Santo Fransiskus melakukan karya penginjilan yang hebat". Ajarannya berlanjut hingga hari ini “untuk menawarkan cara yang sederhana namun autentik untuk melukiskan keindahan iman kita.” Selain itu, Paus Fransiskus menjelaskan bahwa gua Natal sangat menyentuh kita karena itu menunjukkan kasih Allah yang lembut. "Gambaran kelahiran telah mengundang kita untuk ‘merasakan’ dan ‘menyentuh’ kemiskinan yang ditanggung Anak Allah sendiri dalam Inkarnasi...Gambaran itu memanggil kita untuk menjumpai-Nya dan melayani-Nya dengan menunjukkan belas kasihan kepada saudara-saudari kita yang sangat membutuhkan.”

Dalam surat itu, Paus merefleksikan makna di balik unsur-unsur yang membentuk gambaran kelahiran Yesus. Dia mulai dengan latar belakang “langit berbintang yang diselimuti kegelapan dan kesunyian malam.” Kita berpikir ketika kita telah mengalami kegelapan malam, katanya, namun ternyata, Tuhan tidak meninggalkan kita. “Kedekatan-Nya membawa terang di mana ada kegelapan dan menunjukkan jalan kepada mereka yang tinggal dalam bayang-bayang penderitaan.” Paus kemudian menulis tentang panorama alam yang sering berupa reruntuhan atau bangunan kuno. Dia menjelaskan bagaimana reruntuhan ini adalah “tanda nyata dari runtuhnya kemanusiaan, dari segala sesuatu yang pasti mengalami kehancuran, kerusakan, dan kekecewaan.” Latar belakang yang indah ini menyampaikan pada kita bahwa Yesus telah datang “untuk menyembuhkan dan membangun kembali, untuk memulihkan dunia dan hidup kita pada kemuliaan aslinya." Beralih ke para gembala, Paus Fransiskus menulis bahwa, “tidak seperti banyak orang lain, yang sibuk dengan banyak hal, para gembala menjadi yang pertama melihat hal yang paling penting dari semuanya: karunia keselamatan. Orang yang rendah hati dan miskinlah yang menyambut peristiwa Inkarnasi.” Para gembala menanggapi Allah “yang datang untuk menjumpai kita dalam Bayi Yesus dengan pergi menemui Dia dengan kasih, rasa syukur dan kekaguman.” Kehadiran orang miskin dan kaum, menurut Paus, adalah pengingat bahwa “Allah menjadi manusia demi mereka yang paling membutuhkan kasih-Nya dan yang meminta-Nya mendekat kepada mereka.” Dari palungan, “Yesus mewartakan, dengan cara yang lemah lembut namun kuat, perlunya berbagi dengan orang-orang miskin sebagai jalan menuju dunia yang lebih manusiawi dan bersaudara di mana tidak ada yang dikecualikan atau dipinggirkan.” Lalu ada juga figur-figur yang tidak memiliki hubungan jelas dengan kisah Injil. Paus Fransiskus menulis, “dari gembala ke pandai besi, dari tukang roti ke para musisi, dari perempuan yang membawa kendi air kepada anak-anak yang bermain: semua ini berbicara tentang kekudusan sehari-hari, kegembiraan melakukan hal-hal biasa dengan cara yang luar biasa.” Paus kemudian berfokus pada tokoh-tokoh Maria dan Yusuf. “Maria adalah seorang ibu yang merenungkan Anaknya dan menunjukkan-Nya kepada mereka yang datang mengunjungi-Nya,” tulisnya. “Di dalam dirinya, kita melihat Bunda Allah yang tidak menyimpan Anaknya hanya bagi dirinya sendiri, tetapi mengundang semua orang untuk mematuhi Sabda-Nya dan melaksanakannya.” Santo Yusuf  berdiri di sampingnya, “melindungi Anak dan ibu-Nya.” Yusuf adalah penjaga, orang yang adil, yang “mempercayakan dirinya pada kehendak Allah, dan melaksanakannya.” Refleksi mendalam juga disampaikan Paus saat berbicara mengenai bayi Yesus. “Pada waktu kita menempatkan patung Bayi Yesus di palungan, adegan Natal tiba-tiba menjadi hidup... Tampaknya mustahil, tetapi itu benar: di dalam Yesus, Allah adalah seorang anak, dan dengan cara ini Dia ingin menyatakan keagungan kasih-Nya: dengan tersenyum dan mengulurkan tangan-Nya kepada semua orang.” Natal memungkinkan kita untuk melihat dan menyentuh peristiwa unik dan tak tertandingi ini yang mengubah arah sejarah, “tetapi itu juga membuat kita merenungkan bagaimana hidup kita menjadi bagian dari hidup Allah sendiri.” Ketika Hari Raya Epifani mendekat, pada gambaran Gua atau Kandang Natal ditambahkan Tiga Raja. Paus menulis, "Kehadiran mereka mengingatkan kita akan tanggung jawab setiap orang Kristiani untuk menyebarkan Injil... Orang Majus mengajarkan kepada kita bahwa orang-orang dapat datang kepada Kristus melalui jalan yang sangat panjang,” tetapi ketika kembali ke negara mereka, mereka menceritakan kepada orang lain tentang perjumpaan yang menakjubkan ini dengan Mesias, “sehingga mulailah penyebaran Injil di antara bangsa-bangsa.”

Gambaran Gua atau Kandang Natal ini merupakan warisan iman yang sudah diajarkan oleh orangtua saya kepada saya. Beberapa tahun setelah membangun keluarga, saya mulai memasang Gua atau Kandang Natal ini di rumah saya... Inilah gambaran Gua atau Kandang Natal yang pertama kali saya pasang di rumah saya... Gambaran ini selalu mengingatkan saya akan tradisi yang diwariskan oleh orangtua saya setiap Natal tiba. Sekarang, sudah menjadi kewajiban saya bersama istri saya - sebagai orangtua untuk meneruskan warisan tradisi iman ini kepada anak saya. Inilah warisan tradisi iman yang harus diteruskan. Paus Fransiskus meneguhkan hal ini, Kenangan-kenangan pada saat berdiri di depan gua Natal saat kita masih kanak-kanak mengingatkan kita “tentang kewajiban kita untuk membagikan pengalaman sukacita yang sama kepada anak-anak dan cucu kita.”  Tidak masalah bagaimana gua Natal itu disusun, “yang penting adalah bahwa gambaran kelahiran Yesus itu berbicara kepada hidup kita.” Paus Fransiskus mengakhiri surat itu dengan mengatakan, “Gua Natal adalah bagian dari proses yang berharga namun menuntut untuk meneruskan iman. Dimulai sejak masa kanak-kanak, dan pada setiap tahap kehidupan kita, hal itu mengajarkan kita untuk merenungkan Yesus, untuk mengalami kasih Allah bagi kita, untuk merasakan dan percaya bahwa Allah beserta kita dan bahwa kita bersama Dia.”

Terima kasih sudah mau menyimak kisah tentang Gua atau Kandang Natal ini... Semoga kita semakin boleh menghayati hidup sebagai orang Katolik dengan berbagai macam tradisi iman yang kita miliki...

Kamis, 24 Desember 2020

Catatan Penjaga Podjok: Pembelajaran Daring dan Pembinaan Karakter

"Adakah hubungan antara pembelajaran daring dan pembinaan karakter?" Sudah lama sebenarnya saya mencoba menelisik tema ini. Ketika menyelami proses pembelajaran daring ini, saya bertanya apakah ada peluang untuk membina karakter selama proses pembelajaran daring?

Saya mengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti. Menurut mereka yang ahli dalam bidang pendidikan, pendidikan agama itu erat kaitannya dengan pendidikan karakter. T. Ramli (2003) pernah mengatakan bahwa pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk  pribadi anak supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pendidikan nilai, yakni  pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda. 

Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolut) - juga dari agama - yang disebut sebagai golden rule. Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan yang pasti apabila berpijak dari nilai-nilai karakter dasar tersebut. Menurut para ahli psikologi, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah cinta kepada Allah dan ciptaan-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia terdiri dari: dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab; kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya integritas. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak kepada nilai-nilai karakter dasar, yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (yang bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri. Inilah yang menjadi pembicaraan seputar pendidikan karakter...

Penanaman karakter ini kiranya tidak akan menjadi masalah jika pendidikan terjadi secara langsung - dalam arti guru dan murid berjumpa dalam satu lokalitas yang sama, baik tempat maupun waktu. Nah, pandemi Covid-19 ini membuat batasan dimana orang-orang tidak mudah berjumpa, apalagi membuat kerumunan dalam jumlah besar seperti sekolah. Kalau sudah begini, apakah pendidikan karakter lalu tidak bisa dilakukan? Nah, mari kita ngobrol sebentar tentang hal ini...

Sebagai pengampu mata pelajaran yang "berbau" moral, menjadi tantangan tersendiri bagi saya untuk menyelipkan pendidikan karakter dalam pembelajaran daring. Ada doktrin yang selama ini berlaku tentang pendidikan karakter yang sulit terbantahkan, yaitu bahwa "pendidikan karakter itu hanya bisa terjadi melalui keteladanan..." Doktrin ini membuat saya sempat berpikir bahwa pendidikan karakter tidak mungkin terjadi dalam pembelajaran daring karena pembelajaran daring tidak mengenal perjumpaan secara langsung. Namun, saya tidak menyerah begitu saja. Masih saja pikiran saya nekad berpikir apa yang bisa saya lakukan untuk menyelipkan pendidikan karakter dalam pembelajaran daring. Kementerian Pendidikan Nasional sejak tahun 2011 telah memperkenalkan 18 nilai pendidikan karakter yang meliputi nilai Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Menghargai Prestasi, Bersahabat atau Komunikatif, Cinta Damai, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, dan Tanggung Jawab. Kedelapanbelas nilai ini ditanamkan dengan cara mengitegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam seluruh kegiatan di sekolah. Sebagai bagian dari kegiatan sekolah, pembelajaran daring pun perlu mengintegrasikan nilai-nilai ini. 

Dalam perjalanan waktu, saya menemukan beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menyelipkan pendidikan karakter dalam pembelajaran daring mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti. Terus terang, saya tidak bisa menanamkan semua nilai dalam pembelajaran daring, namun ada beberapa nilai yang bisa diserempetkan sedikit untuk dihayati. Ini beberapa contohnya...

Disiplin. Bagaimana saya mencoba mengajak siswa-siswi saya untuk menghayati nilai ini? Saya memakai Daftar Hadir Online untuk menanamkan nilai ini. Untung saya mengajar di SMK. SMK katanya adalah terminal bagi mereka yang ingin langsung merasakan dunia kerja. Nah, Daftar Hadir Online ini saya gunakan untuk melatih siswa-siswi saya menghayati nilai disiplin. Besok, ketika bekerja, salah satu hal yang paling menentukan adalah kehadiran. Dalam pembelajaran daring, saya melatih murid-murid saya untuk disiplin dalam kehadiran. Mereka saya ajak untuk mengisi Daftar Hadir Online tepat waktu. Link Daftar Hadir Online pun saya bagikan saat jam pembelajaran berlangsung agar mereka terkondisikan untuk mengisi tepat waktu. Sejak awal tahun pelajaran, saya sudah mengatakan pada mereka bahwa nilai kehadiran meliputi 75 % dari seluruh proses. Artinya, dengan mengisi Daftar Hadir Online tepat waktu, mereka secara otomatis sudah meraih 75 % dari nilai mereka. Inilah penghargaan saya terhadap siswa-siswi saya yang disiplin...
Mandiri. Jelas bahwa pembelajaran daring sangat memerlukan sikap mandiri. Dalam proses pembelajaran jarak jauh, saya cenderung memberikan kebebasan kepada siswa-siswi saya. Kebanyakan, tugas saya berikan dalam jangka waktu tertentu, bisa seminggu atau dua minggu. Bahkan, ulangan, kalau bentuknya esai, saya juga akan memberikan waktu paling tidak lima hari. Saya berpikir bahwa kebebasan akan membuat seseorang menjadi lebih mandiri. Seorang kawan pernah menulis, "Pada akhirnya, dalam setiap model pembelajaran jarak jauh, semakin banyak hal tergantung pada diri kita sendiri: apakah mau mendengarkan penjelasan dosen atau mengabaikannya. Apakah kita merasa butuh untuk mengerti materi itu atau tidak. Inilah kelemahan yang sekaligus menjadi kekuatan kelas daring. Kekuatan, karena ia memberi tantangan kepada kita untuk berani menentukan prioritas: mana yang penting, mana yang tidak. Kemampuan memilah seperti ini, menurut saya, merupakan keterampilan yang bakal semakin relevan di zaman banjir informasi ini." (Tri Joko Her Riadi. "Sebuah Surat Terbuka Tentang Kelas Kita, Pandemi, Harari, Orang-orang ‘Komunis’, dan Hal-hal Lain yang Akan Datang"). Dengan kebebasan yang ada selama pembelajaran daring, sebenarnya secara tidak langsung saya sudah menanamkan nilai kemandirian.
Jujur. Nilai kejujuran selama pembelajaran daring saya bangun dengan cara memberikan kesempatan kepada seluruh siswa-siswi saya untuk menggunakan berbagai alat dan media yang mereka miliki dalam mengerjakan ulangan. Setiap ulangan, bahkan sampai Penilaian Akhir Semester, selalu menggunakan metode pengerjaan soal open book. Saya tahu diri bahwa saya tidak bisa mengendalikan siswa-siswi saya sepenuhnya. Oleh karena itu, daripada mereka curi-curi kesempatan untuk berbuat curang, mending sekalian saja kanal saya buka agar mereka bisa berlaku jujur dalam mengerjakan soal. Hanya saja memang harus agak berpikir bagaimana membuat soal yang tingkat kesulitannya tidak hanya hapalan tetapi harus sampai kepada analisis ☺ 
Kerja Keras. Selama pembelajaran daring, saya mengajak siswa-siswi saya untuk bekerja keras. Ada sekitar 5 sampai 7 tugas yang harus dikumpulkan selama semester yang lalu. Batas waktu pengerjaan tugas ini bervariasi, antara satu sampai dua minggu. Jika tidak mau terbebani dan menumpuk di akhir, setiap siswa harus secara rutin mengerjakan tugas mereka. Ketekunan mengerjakan tugas dan mengumpulkan tepat waktu menjadi kunci. Bukankah untuk tekun dan tepat waktu butuh kerja keras bagi mereka yang tidak terbiasa?
Rasa Ingin Tahu dan Gemar Membaca. Bagaimana saya berusaha membangkitkan rasa ingin tahu dan gemar membaca pada siswa-siswi saya? Selama pembelajaran daring, sudah saya sampaikan di postingan sebelumnya bahwa saya menggunakan Google Sites. Inilah media yang saya pakai untuk menanamkan nilai tersebut. Dengan materi yang saya posting di sana, siswa-siswi yang ingin maju saya paksa untuk membaca teks. Membaca teks panjang bagi anak sekarang memang tidak mudah. Berdasarkan laporan PISA yang baru rilis, Selasa 3 Desember 2019, skor membaca Indonesia ada di peringkat 72 dari 77 negara, lalu skor matematika ada di peringkat 72 dari 78 negara, dan skor sains ada di peringkat 70 dari 78 negara. Posisi Indonesia yang berada di ekor peringkat ini menunjukkan bahwa rasa ingin tahu dan gemar membaca masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi dunia pendidikan. 
Komunikatif. Nilai ini sebenarnya sangat mungkin ditanamkan dalam pembelajaran daring karena komunikasi dalam pembelajaran daring terjadi secara personal. Saya mencoba membangun penghayatan akan nilai ini melalui Catatan Pembelajaran yang saya buat pada tengah semester dan akhir semester. Catatan Pembelajaran merupakan lembar berisi data pembelajaran siswa mulai dari kehadiran, tugas, ulangan, dan saran masukan dari guru. Kehadiran Catatan Pembelajaran ini sangat istimewa bagi saya karena melalui catatan ini, saya semakin bisa melihat siswa-siswi saya secara unik, personal, dan tidak lagi secara klasikal. Dengan memberi Catatan Pembelajaran, saya berharap agar murid-murid saya bisa semakin maju dan berkembang dalam menghayati karakter baik yang ditawarkan.
Tanggung Jawab. Nilai ini bagi saya menjadi muara dari pendidikan karakter. Tanggung jawab merupakan kemampuan untuk menerima segala konsekuensi atas segala tindakan yang telah diputuskan dan dilakukan. Tanggung jawab merupakan konsekuensi sekaligus kontrol dari kebebasan. Bagi saya, nilai ini yang menjadi tujuan akhir pendidikan karakter, yaitu membentuk manusia yang bertanggungjawab. Segala macam nilai yang ditanamkan itu akhirnya akan membangun rasa tanggung jawab. Tanggung jawab ini merupakan tanda bahwa seorang manusia sudah beranjak menjadi dewasa. Dalam diri murid saya, nilai tanggung jawab ini saya lihat melalui proses dan tidak instan. Saya sendiri meyakini bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil. 

Saya menyadari bahwa perjuangan untuk membina karakter tidak akan bisa langsung dirasakan manfaatnya. Sama seperti pendidikan, karakter tidak akan langsung terlihat hasilnya. Selama pembelajaran daring, saya sendiri cenderung mencoba menghayati apa yang dikatakan oleh Pak Nadiem Makarim dengan istilah merdeka belajar. Mengapa begitu? Saya sadar bahwa saya tidak bisa sepenuhnya mengontrol dan mengendalikan siswa-siswi saya. Kendali saya hanya sebatas jam pembelajaran yang diberikan kepada saya. Oleh karena itu, saya memanfaatkan jam pembelajaran itu sebagai wahana untuk menanamkan karakter baik kepada siswa-siswi saya. Di luar itu, saya hanya bisa menghimbau. Satu yang menjadi pegangan saya, yaitu sabda Yesus yang mengatakan, "Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka" (Mat 7:17-20). Inilah yang saya nasehatkan kepada siswa-siswi saya di akhir semester gasal kemarin. "Ibarat mengelola tanaman, ini adalah masa panen. Hasil panen merupakan cerminan bagaimana selama ini kita mengelola dan merawat tanaman kita. Oleh karena itu, apa yang kalian dapatkan ini merupakan cerminan dari usaha kalian. Fungsi saya adalah membantu kalian merawat tanaman yang dipercayakan kepada kalian. Semoga ke depan kalian semakin bisa mengusahakan tanaman yang dipercayakan kepada kalian dengan semakin baik." Terima kasih sudah mau berproses menghidupi nilai-nilai karakter selama pembelajaran daring... Berkah Dalem.

Sabtu, 01 Agustus 2020

Catatan Penjaga Podjok: Mengelola Kelas Daring #3

Tahun pelajaran yang baru telah dimulai dan tampaknya kebijakan Belajar dari Rumah masih akan dilakukan untuk waktu yang agak lama. Dilansir dari KOMPAS.com, pemerintah telah memutuskan untuk kembali membuka sekolah di kabupaten/kota yang termasuk dalam golongan zona hijau Covid-19. Nadiem menyebut bahwa tahun ajaran baru 2020/2021 akan dimulai sekitar pertengahan Juli 2020. Zona hijau, kuning, oranye, dan merah Hingga 15 Juni 2020, pihaknya mengatakan bahwa ada 94 persen peserta didik yang tinggal di 429 kabupaten/kota zona kuning, oranye, dan merah. Para peserta didik di dalam tiga zona ini tetap wajib mengikuti pembelajaran namun melalui metode jarak jauh (PJJ). Adapun 6 persen peserta didik yang berada di 85 kabupaten/kota yang masuk dalam zona hijau Covid-19 bisa melakukan pembelajaran tatap muka. Namun untuk dapat menyelenggarakan pembelajaran tatap muka di zona hijau, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Pertama, lokasi sekolah tersebut harus berada di zona hijau. Kemudian, mengantongi izin dari Pemerintah Daerah dan kantor wilayah/kantor Kementerian Agama setempat. Ketiga, pemenuhan oleh satuan pendidikan terhadap seluruh daftar protokol kesehatan dan siap melakukan pembelajaran tatap muka. Terakhir, orang tua/wali murid menyetujui anaknya untuk melakukan pembelajaran tatap muka.  

Melansir Keputusan Bersama dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Dalam Negeri, berikut adalah tahapan pembukaan kembali sekolah: Tahap I: SMA, SMK, MA, MAK, SMTK, SMAK, Paket C, SMP, MTs, Paket B Tahap II dilaksanakan dua bulan setelah tahap I: SD, MI, Paket A, dan SLB Tahap III dilaksanakan dua bulan setelah tahap II: PAUD formal (TK, RA, TKLB) dan non formal Namun, ditambahkan pula catatan, begitu ada penambahan kasus atau level risiko daerah naik, maka satuan pendidikan diwajibkan untuk menutup kembali pembelajaran tatap muka tersebut. Adapun pembelajaran tatap muka di zona hijau sendiri terdiri atas dua fase, yaitu fase transisi dan normal baru. Mengutip Harian Kompas, 16 Juni 2020, waktu paling cepat untuk memenuhi kesiapan di jenjang SMA, SMP, dan sederajat untuk fase transisi adalah Juli 2020 dan fase normal baru pada September 2020. Sedangkan waktu paling cepat untuk memenuhi kesiapan fase transisi jenjang SD, MI, Paket A, dan SLB adalah September 2020 dan normal baru pada November 2020. Kemudian, waktu paling cepat untuk memenuhi kesiapan fase transisi pada jenjang PAUD formal dan non formal adalah November 2020 dan normal baru pada Januari 2021.

Menghadapi kenyataan bahwa sekolah masih harus tutup, namun pembelajaran tetap harus berjalan, Penjaga Podjok pun menyiapkan sebuah alat bantu yang semoga bisa digunakan oleh siswa-siwi untuk melakukan pembelajaran mandiri terbimbing. Dan inilah alat bantu yang disiapkan oleh Penjaga Podjok untuk melaksanakan kelas daring, yaitu tiga situs berisi materi pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti tingkat SMA dan SMK dengan rincian:

  1. Situs berjudul "Aku dan Imanku seturut Ajaran Gereja Katolik" bisa diakses melalui link https://sites.google.com/view/kelasxdaringruangpodjokskaga
  2. Situs berjudul "Hidup dalam Gereja Katolik" bisa diakses melalui link https://sites.google.com/view/kelasxidaringruangpodjokskaga 
  3. Situs berjudul "Hidup dalam Masyarakat" bisa diakses melalui link https://sites.google.com/view/kelasxiidaringruangpodjokskaga 
Alat bantu berisi materi pembelajaran ini diharapkan dapat diakses oleh siswa-siswi di manapun dan kapanpun mereka sempat belajar. Situs yang difasilitasi oleh Google ini ingin mengajak siswa-siswi Katolik SMK Negeri 3 Surakarta untuk mengembangkan kemampuan literasi mereka. Sesuai yang digaungkan oleh pemerintah melalui program "Belajar dari Rumah" yang ditayangkan oleh TVRI, Penjaga Podjok juga ingin agar pembelajaran yang dilakukan oleh siswa-siswi dari rumah akan semakin meningkatkan kemampuan literasi, numerasi dan karakter peserta didik. 
Selain digunakan oleh siswa-siswi SMK Negeri 3 Surakarta, link situs ini juga dibagikan oleh Penjaga Podjok melalui grup WhatsApp MGMP Pendidikan Agama Katolik SMK Cabang Dinas Wilayah VII Propinsi Jawa Tengah. Harapannya, semakin banyak guru Agama Katolik dan siswa-siswi Katolik SMK yang terbantu dalam melakukan pembelajaran Agama Katolik dari rumah. Inilah yang bisa dilakukan oleh Penjaga Podjok untuk tetap mendampingi siswa-siswi untuk belajar dari rumah... Semoga ada sedikit manfaatnya, tidak hanya bagi Penjaga Podjok dan siswa-siswinya, tetapi juga guru-guru Agama Katolik yang lain beserta siswa-siswi yang mereka layani... Salam... Berkah Dalem

Daftar Pustaka:
Vina Fadhrotul Mukaromah. "Sekolah Akan Kembali Dibuka, Simak Waktu dan Tahapan dari Kemendikbud" dalam https://www.kompas.com/tren/read/2020/06/16/113000365/sekolah-akan-kembali-dibuka-simak-waktu-dan-tahapan-dari-kemendikbud?page=all.

Jumat, 19 Juni 2020

Menyelami Liturgi yang Mengubah Kehidupan

Ini merupakan hal baru yang sangat pantas disyukuri. Baru kali ini rasanya Ruang Podjok mengalami Pendalaman Bulan Katekese Liturgi. Pandemi Covid-19 malah memungkinkan pendalaman itu terjadi. 
Selama hampir 9 tahun berjaga di Ruang Podjok, Penjaga Podjok merasa belum pernah mengadakan pendalaman Bulan Katekese Liturgi karena biasanya bulan Mei sudah masuk bulan-bulan akhir pembelajaran sehingga tidak dimungkinkan untuk diadakan pertemuan siswa. Tahun ini, karena wabah, pendalaman malah bisa dilakukan. Pendalaman Bulan Katekese Liturgi kali ini dilakukan secara daring melalui wadah Whatsapp Grup Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta. Pendalaman kali ini menjadi selingan di antara pembelajaran daring yang dilakukan. Seminggu sekali, siswa-siswi diajak untuk menyelami bahan pendalaman yang ditawarkan. 
Tema Bulan Katekese Liturgi tahun ini adalah Ekaristi, Sumber Transformasi Hidup. Tema ini sebenarnya ingin menyiapkan umat untuk menyongsong Kongres Ekaristi Keuskupan Agung Semarang dan Kongres Ekaristi Internasional yang sedianya dilaksanakan pada tahun ini. Namun, karena situasi pandemi, tampaknya acara tersebut akan dijadwalkan ulang. Selama 31 hari di bulan Mei, seluruh umat Keuskupan Agung Semarang diajak untuk mendalami berbagai hal seputar liturgi, terutama Ekaristi. Inilah ringkasan bahan pendalaman yang bisa disajikan.


Hari 1:
Renungan hari ini mau mengatakan bahwa Ekaristi yang diikuti oleh umat beriman seharusnya berdampak pada hidup sehari-hari. Seperti apa yang dilakukan keluarga Pak Tarjo itu merupakan buah-buah dari Ekaristi yang diikutinya. Salah satu ajaran Gereja Katolik menyatakan, "Apa yang diterima umat dengan iman dan secara sakramental dalam Perayaan Ekaristi harus memberikan dampak nyata dalam tingkah laku mereka...Dengan demikian, setiap orang yang mengambil bagian dalam Perayaan Ekaristi haruslah penuh gairah ingin berbuat baik, menyenangkan Allah dan hidup pantas sambil membaktikan diri kepada Gereja, melaksanakan apa yang diajarkan kepadanya,dan bertumbuh dalam kesalehan.." (Dokumen Eucharistium Mysterium no. 13. 25 Mei 1967)

Hari 2:
Renungan hari ini mengajak kita mendalami berbagai macam devosi Ekaristi: Adorasi, Prosesi dan Kongres. Adorasi Ekaristi itu yang biasa kita ikuti setelah Misa Jumat Pertama pas pentahtaan Sakramen Mahakudus. Prosesi Sakramen Mahakudus itu perarakan Sakramen Mahakudus dari satu tempat ke tempat lain dalam rangka pemberkatan. Kongres Ekaristi itu adalah pertemuan para klerus (mereka yang menerima Tahbisan) dan awam dalam Gereja Katolik untuk mendalami,  menghidupi dan menghayati Ekaristi melalui devosi, ajaran-ajaran, ceramah dan diskusi. Kongres Ekaristi ini bisa dalam skala internasional, nasional atau keuskupan. Dalam skala internasional, utusannya dari negara-negara. Kalau skala Nasional, utusannya dari keuskupan-keuskupan. Kalau skalanya Keuskupan, utusannya dari paroki-paroki.

Hari 3:
Hari ini kita merayakan Hari Minggu Panggilan yang dirayakan pada Minggu Paskah IV. Hari Minggu Panggilan ini dicetuskan oleh Paus Paulus VI pada tahun 1963. Pada Hari Minggu ini, kita diajak untuk berdoa bagi suburnya panggilan pelayan Gereja, terutama imam,bruder dan suster. Renungan hari ini mau mengatakan bahwa semua panggilan itu pada dasarnya adalah jalan menuju kekudusan. Maka, apapun panggilan yang dipilih (menjadi imam, bruder, suster, atau bapak ibu keluarga) adalah panggilan yang suci. Konsili Vatikan II mengajarkan, "...bahwa semua orang Kristiani,bagaimanapun status dan corak hidup.mereka,dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan cinta kasih... Kekudusan itu dengan aneka cara terungkapkan pada masing-masing orang, yang dalam corak hidupnya menuju kesempurnaan cinta kasih dengan memberi teladan baik kepada sesama." (Dokumen Lumen Gentium no. 39-40)

Hari 4:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan Ekaristi yang menumbuhkan semangat persaudaraan di antara kita. Ekaristi membangun kebersamaan di antara kita karena Ekaristi pertama-tama menunjukkan dimensi persekutuan umat beriman. Lalu bagaimana Ekaristi menampakkan kebersamaan di tengah wabah seperti ini dimana saat ini kita kan tidak boleh berkumpul? Pada dasarnya, Ekaristi itu menyatukan umat apapun kondisinya. Dalam situasi seperti ini, kebersamaan umat dihayati dalam keluarga masing-masing. Keluarga seringkali disebut Gereja Mini atau ecclesia domestica. Keluarga sebagai Gereja Mini menghadirkan seluruh Gereja di dunia dalam bentuknya yang paling konkret dan sederhana. Dalam keluarga yang merayakan Ekaristi secara online atau lewat tayangan, dimensi kebersamaan ini tetap tampak dalam keluarga. Selain itu, kebersamaan juga dihayati dalam kesatuan bersama keluarga-keluarga lain yang juga ikut merayakan Ekaristi secara online.

Hari 5:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan hubungan Ekaristi dan Evangelisasi.Evangelisasi adalah tindakan mewartakan kabar gembira.Ekaristi dihayati sebagai peristiwa yang menggerakan dan memberi semangat kepada umat untuk mewartakan kabar gembira. Setelah dikuatkan dengan sabda dan roti dalam Ekaristi, kita pun diutus untuk mewartakan kabar gembira.

Hari 6:
Hari ini kita diajak bercermin dari apa yang dialami para rasul.  "Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan" (Kis 2:42-47). Ekaristi membawa sukacita, kepedulian dan semangat berbagi.Kepedulian dan semangat berbagi ini kita lakukan secara konkret melalui kolekte. Sebagian dari kolekte kita setiap Minggu dikhususkan untuk membantu orang miskin yang disebut Dana Papa Miskin atau Danpamis.

Hari 7:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan Liturgi sebagai peristiwa yang membawa semangat dalam hidup. Artinya,Liturgi itu harus memberikan kekuatan dalam hidup kita. Dokumen Sacrosanctum Concillium no. 10 menyatakan bahwa Liturgi itu merupakan puncak dan sumber kehidupan dan kegiatan Gereja. Oleh karena itu, kita sebagai umat beriman diajak mengarahkan hidup dan menimba kekuatan hidup dari liturgi. Inilah mengapa kita selalu diundang untuk merayakan Ekaristi Hari Minggu. Ekaristi Hari Minggu menjadi saat untuk mempersembahkan seluruh jerih payah kehidupan dari hari Senin-Sabtu serta saat untuk memohon berkat untuk hari Senin-Sabtu berikutnya. Kalau kita tidak mengikuti Ekaristi di Hari Minggu bagaimana kita mempersembahkan dan menimba kekuatan untuk hidup kita?

Hari 8:
Hari ini kita diajak untuk bersyukur atas Lingkungan yang menjadi bagian hidup kita. Lingkungan merupakan persekutuan yang dibentuk oleh keluarga-keluarga yang tinggal di lokasi yang berdekatan. Lingkungan merupakan perwujudan yang paling nyata Gereja sebagai satu Tubuh. Keluarga merupakan Gereja Mini. Gereja-gereja Mini itu membentuk persekutuan paguyuban yang mewujud nyata dalam Lingkungan. Semoga Lingkungan kita semakin guyub dan dijiwai oleh Ekaristi yang kita ikuti setiap kali.

Hari 9:
Hari ini kita diajak untuk belajar bagaimana Liturgi membantu kita untuk memiliki hidup rohani yang semakin baik. Prosesnya memang tidak bisa instan. Harus sedikit demi sedikit.Maka Gereja Katolik itu sangat menghargai proses. Lihat saja bahwa setiap pertumbuhan rohani umat selalu mengutamakan proses. Mau menikah ya harus pacaran,kursus perkawinan dan penyelidikan kanonik. Mau menerima sakramen-sakramen ya harus ada persiapan dulu. Inilah yang diajarkan Gereja bahwa semua itu ada prosesnya.

Hari 10 dan 11:
Dua hari ini kita diajak menyelami Kongres Ekaristi. Pada hari ke-10, kita diajak mendalami tema Kongres Ekaristi Internasional Tahun 2020 yang sedianya akan dilaksanakan di Budapest. Namun,berita terakhir menyatakan bahwa Tahta Suci telah memutuskan untuk menunda pelaksanaan kongres itu karena wabah Covid-19. Tema kongres itu ingin mengajak kita kembali menyadari bahwa Ekaristi adalah sumber hidup dan kekuatan untuk menjalankan misi atau perutusan bagi orang Katolik. Jadi, dalam Ekaristi,kita diajak untuk menimba kekuatan hidup dan perutusan. Kongres Ekaristi Internasional sudah diadakan sejak tahun 1881. Kongres Ekaristi pertama diadakan di Perancis dan digagas oleh seorang awam perempuan bernama Emile Tamisier. Kongres itu awalnya diadakan setahun sekali. Namun, dalam perkembangan waktu menjadi 2 tahun sekali, 3 tahun sekali dan akhirnya menjadi 4 tahun sekali sampai sekarang.
Pada hari ke-11, kita diajak mendalami Kongres Ekaristi Keuskupan. Kongres Ekaristi Keuskupan diadakan pada tahun 2008 di Ambarawa dan digagas oleh Romo Pujasumarta yang saat itu menjadi Vikjen KAS. Kongres Ekaristi Keuskupan memang diadakan untuk memeriahkan gema Kongres Ekaristi Internasional yang juga diadakan pada tahun yang sama.
Inilah salah satu hal yang bagi saya membuat bangga sebagai orang Katolik. Orang Katolik itu jaringannya internasional di bawah satu komando. Untunglah kita punya Petrus dan para pengganti-penggantinya...

Hari 12:
Hari ini kita masih diajak untuk mendalami sejarah Kongres Ekaristi Keuskupan. Sampai saat ini, Keuskupan Agung Semarang sudah pernah mengadakan 3 kali kongres: 2008, 2012, dan 2016. Rencananya tahun ini akan ada kongres lagi. Namun,karena wabah ini, sejauh saya dengar belum ada keputusan lagi. Semoga Kongres Ekaristi yang sudah dan akan berlangsung boleh membuat kita, umat Keuskupan Agung Semarang, semakin mencintai Ekaristi.

Hari 13:
Hari ini kita diajak merenungkan tema Kongres Ekaristi Keuskupan IV yang menyatakan bahwa Roh Kudus yang satu dan sama itu memberi karunia yang berbeda-beda tetapi itu semua demi kepentingan Gereja. Syukur karena kita boleh menyadari bahwa perbedaan itu justru akan membawa kepada kebaikan.

Hari 14:
Hari ini kita diajak untuk belajar dua hal yang agak sulit,yaitu Gnostisisme dan Pelagianisme. Ini adalah paham yang pernah berkembang melawan Gereja saat Gereja Katolik masih muda pada abad-abad pertama. Sekarang, berkembang paham yang baru tentang dua hal itu. Gnostisisme baru merupakan sikap dan pandangan bahwa keselamatan dan kesucian dapat dicapai melalui ilmu yang dipelajari oleh diri sendiri dan tidak memerlukan praktek kasih kepada sesama. Pelagianisme baru merupakan pandangan bahwa keselamatan dapat dicapai dengan perbuatan baik dari manusia saja tanpa bantuan rahmat Allah. Dua hal ini merupakan gejala masyarakat modern yang dilihat oleh Paus Fransiskus. Dua hal ini disampaikan dalam dokumen Gaudete et Exultate.

Hari 15:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan istilah Ars Celebrandi. Istilah ini digunakan untuk menerangkan bagaimana kita seharusnya merayakan liturgi. Dengan istilah ini,kita disadarkan bahwa liturgi tidak sama dengan  aktivitas biasa yang lain. Liturgi merupakan aktivitas yang berhubungan dengan Allah. Maka,perlu penghayatan yang khusus. Kita diarahkan dengan istilah Ars Celebrandi ini. Contoh penghayatan yang mengikuti Ars Celebrandi itu termasuk tidak membuka aplikasi hape saat Ekaristi berlangsung atau membuka aplikasi lain saat Misa Online. Saya sendiri sering merasa terganggu dan risih melihat orang yang membuka aplikasi di ponsel saat Misa di Gereja. Harus disadari bahwa kita memang senang membuka hape - apalagi WA - tapi semoga kita bisa belajar menahan diri. Bukan berarti saya lebih baik, tapi ini merupakan usaha untuk menghayati Perayaan Liturgi dengan baik.

Hari 16:
Hari ini kita diajak merenungkan bagaimana kita mengembangkan musik liturgi. Bagi siswa-i yang aktif dalam kelompok koor, perlu diperhatikan bahwa jangan sampai lagu yang dipilih dan dinyanyikan menyulitkan umat untuk ikut bernyanyi. Seperti kata Paus Fransiskus, koor itu melayani umat dalam berliturgi. Silakan melihat link berikut: Paus minta koor membantu umat bernyanyi, bukan mengganti suara umat 


Hari 17:
Hari ini kita masih diajak untuk merenungkan tentang musik liturgi. Yang dibahas kali ini adalah nyanyian Liturgi. Kita diajak untuk sadar bahwa ada 4 hal penting dalam memilih nyanyian liturgi. Ini penting juga bagi kalian yang tergabung dalam kelompok paduan suara. Semoga dengan renungan malam ini kita boleh semakin sadar bahwa perayaan liturgi merupakan ajang pelayanan kelompok paduan suara dan bukan ajang untuk mencari popularitas atau pujian.

Hari 18:
Hari ini kita masih diajak untuk merenungkan bahwa Perayaan Ekaristi bukan pertunjukan. Dasarnya adalah Ars Celebrandi atau Seni Merayakan Liturgi.Ekaristi bukan One Man Show atau A Group Show. Ekaristi adalah perayaan seluruh umat, bahkan seluruh Gereja. Semoga kita boleh terus menyadari hal ini.

Hari 19:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan Ekaristi sebagai ungkapan Syukur. Jadi,inti dari Ekaristi adalah syukur. Maka,Gereja Katolik memandang Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan umat beriman. Dalam Ekaristi, umat diajak untuk mensyukuri segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya sekalipun kadangkala ada yang tidak menyenangkan. Dalam Ekaristi,kita satukan segala hal yang terjadi dalam hidup kita dan kita syukuri.

Hari 20:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan Busana dan Ruang Liturgi. Busana Liturgi merupakan pakaian khusus yang dipakai untuk merayakan liturgi, sedangkan Ruang Liturgi adalah tempat khusus untuk merayakan liturgi. Saya masih ingat bahwa dulu busana liturgi tidak boleh digunakan sembarangan, sekalipun oleh mereka yang sedang menjadi calon imam. Kasula dan stola seorang imam tidak boleh dikenakan oleh para frater yang belum menerima tahbisan. Ruang Liturgi juga menjadi tempat yang dikhususkan untuk kegiatan liturgi. Oleh karena itu,selama wabah Corona ini, setiap kali kita merayakan Ekaristi di rumah, kita diajak untuk mengikuti dari tempat yang pantas supaya Ruang Liturgi bisa tercipta.

Hari 21:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan salah satu bagian dari Perayaan Ekaristi, yaitu Pengantar. Dalam buku disebutkan bahwa pengantar Ekaristi itu harus singkat dan tidak boleh panjang-panjang. Fungsinya memang hanya mengantar umat untuk masuk dalam inti perayaan. Maka, tidak boleh mendominasi. Semoga para pemuka jemaat juga belajar agar kalau memberi pengantar juga tidak usah panjang-panjang,secukupnya saja. Sejalan dengan pendalaman hari ke-21 itu, Paus Fransiskus pernah juga mengatakan agar homili juga tidak bertele-tele. Silakan melihat link berikut: Pesan Paus kepada Para Imam "Jaga Homili Singkat, Tidak Lebih dari 10 Menit!" Kalau pengantarnya saja sudah panjang,bisa jadi homilinya akan lebih panjang lagi.

Hari 22:
Hari ini kita masih diajak merenungkan hakikat Perayaan Ekaristi.Ekaristi merupakan perayaan kurban Kristus untuk keselamatan manusia. Oleh karena itu,tidak boleh ada tujuan lain yang "menggeser" makna Ekaristi. Jika memang ada "tujuan khusus," harus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan tatacara yang digariskan oleh Gereja Katolik. Kalau misalnya ada Misa untuk Penggalangan Dana, tujuan itu harus disampaikan secara pantas dan elegan, misalnya diumumkan Minggu sebelumnya supaya tidak "mengganggu" hakikat Ekaristi.

Hari 23:
Hari ini kita diajak untuk belajar tentang bentuk pewartaan verbal yang termasuk pewartaan mimbar, yaitu Homili dan Kotbah. Dalam Buku Panduan Bulan Katekese Liturgi, sudah dipaparkan perbedaan antara Homili dan Kotbah. Semoga kita terbantu untuk lebih menghayati iman kita, terutama dalam kegiatan liturgi.

Hari 24:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan penggunaan teknologi dalam Ekaristi. Hal ini sangat lazim kita lakukan saat wabah ini terutama ketika kita mengikuti Misa Online atau Live Streaming.yang jelas, ketika ikut Misa Online, sikap harus seperti ikut Misa Langsung, tidak boleh "nyambi" WA-nan, Youtube-an, ngobrol, gojek dan sebagainya. Dalam wabah ini, kita diajak untuk semakin dewasa dalam beriman. Karena kalau tidak mengikuti Perayaan liturgi, tidak ada orang lain yang menegur. Kontrolnya adalah diri sendiri. Yang ingin tahu bagaimana menghayati Misa Online bisa membuka kembali link ini: Misa Online Cara Baru Menghayati Warisan Tradisi? Saya ingin membagikan apa yang pernah saya tulis. Sekedar berbagi penghayatan Misa Online.

Hari 25:
Renungan Bulan Katekese Liturgi hari ini berbicara mengenai bagaimana Ekaristi mempererat persaudaraan. Bicara mengenai persaudaraan,memang secara nyata terlihat saat kita bisa berkumpul. Kardinal Darmoyuwono pernah mengatakan seperti yang disampaikan dalam renungan hari. Pertanyaan kemudian adalah bagaimana kita mempererat persaudaraan kita saat kita tidak mungkin berkumpul seperti waktu terjadi wabah ini? Semoga kita boleh semakin menyadari betapa berarti dan berharganya perjumpaan dengan orang lain.

Hari 26:
Hari ini kita masih diajak merenungkan Ekaristi sebagai sumber persaudaraan. Kisah inspiratif yang disajikan bercerita tentang persaudaraan yang dibangun oleh Angelo Roncalli (yang akhirnya terpilih menjadi Paus Yohanes XXIII). Ia berhasil membangun relasi yang baik antara Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodox. Gereja Katolik Roma itu ya Gereja Katolik yang kita ikuti ini, yaitu Gereja yang mengakui kepemimpinan Paus di Roma.Gereja Katolik Roma mengaku diri sebagai Gereja yang asali yang didirikan oleh Yesus dan dipercayakan di bawah kepemimpinan Petrus. Gereja Katolik Ortodox adalah "sempalan" pertama Gereja Katolik Roma.Gereja Ortodox ini mulai berdiri pada tahun 1054 di wilayah Eropa Timur. Saat itu,wilayah Gereja Katolik itu sangat luas,meliputi Eropa Barat dan Eropa Timur. Dalam perkembangan waktu,tata liturgi dan ajaran antara Barat dan Timur agak berbeda. Inilah yang membuat hubungan antara wilayah Barat dan Timur merenggang. Gereja bagian Timur kemudian sedikit demi sedikit melepaskan diri sampai akhirnya benar-benar lepas pada tahun 1054. Gereja Ortodox tidak mengakui kepemimpinan Paus serta memiliki hirarki kepemimpinan yang berbeda dan lepas dari Gereja Katolik. Pemimpin Gereja Katolik Ortodox disebut Batrik atau Patriark. Ada beberapa Patriark dalam Gereja Katolik Ortodox. Sampai sekarang,Gereja Katolik Roma dan Gereja Katolik Ortodox merupakan lembaga yang berbeda dengan tata kepemimpinan sendiri-sendiri. Gereja Katolik Roma dan Gereja Katolik Ortodox pernah tidak saling menyapa selama 900 tahun. Baru pada zaman Paus Paulus VI,komunikasi antara keduanya dijalin kembali. Sampai sekarang Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodox belum bisa bersatu sepenuhnya. Masih ada beberapa unsur yang belum bisa disatukan. Salah satu tokoh yang merintis perbaikan relasi antara Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodox adalah Angelo Roncalli yang dikisahkak dalam Buku Pendalaman Katekese Liturgi pada hari ke-26 itu.

Hari 27:
Hari ini kita diajak merenungkan Ekaristi sebagai sumber kekudusan. Paham ini berkaitan erat dengan Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan umat beriman. Ekaristi menjadi saat kita untuk menimba kesucian dari Yesus Kristus melalui Sakramen Mahakudus. Di tengah wabah ini, kita tetap bisa menimba kekudusan dalam Ekaristi melalui Komuni Batin atau Komuni Spiritual. Jika dihayati secara benar, Komuni Batin membuat Kristus benar-benar hadir dalam diri kita. Semoga kita boleh menimba kekudusan dari Ekaristi meskipun sedang berada dalam masa sulit ini.

Hari 28: 
Hari ini kita masih diajak merenungkan Ekaristi sebagai sumber kekudusan. Dikisahkan bahwa ada pasangan suami istri yang diangkat sebagai orang kudus karena berhasil membangun keluarganya sebagai persekutuan yang kudus. Diyakini bahwa Ekaristi menjadi sumber kekudusan bagi keluarga tersebut. Semoga kisah tersebut menginspirasi kita untuk semakin mencintai Ekaristi.

Hari 29: 
Hari ini kita diajak belajar dari Maria yang disebut sebagai Wanita Ekaristi. Maria digambarkan sebagai perempuan yang memiliki hubungan erat dengan Ekaristi. Dalam beberapa film yang berkisah tentang Yesus, Maria digambarkan sebagai perempuan yang menyertai Sang Putra dalam mewartakan Kerajaan Allah. Bahkan, saat Yesus menetapkan Ekaristi dalam Perjamuan Terakhir, Maria juga digambarkan ada disana. Oleh karena itu, sangat tepatlah Maria disebut Wanita Ekaristi. Kisah Para Rasul juga menceritakan bagaimana Maria hadir saat para rasul menantikan Roh Kudus dan saat terjadi peristiwa Pentakosta. Semoga kita boleh belajar mencintai Ekaristi dari Maria.

Hari 30: 
Hari ini kita diajak untuk merenungkan peran para kudus dalam kehidupan iman kita. Orang kudus adalah orang-orang yang pernah hidup dunia dan setelah meninggal dinyatakan sebagai orang suci serta pantas diteladani hidupnya oleh umat beriman. Orang kudus yang paling dekat dengan kita adalah santo atau santa pelindung kita. Sudahkah kita mengenal dengan baik kisah santo atau santa pelindung kita?

Hari 31: 
Hari ini kita diajak merenungkan perutusan kita untuk menjadi Gereja yang Misioner. Roh Kudus yang hari ini dicurahkan kepada kita setelah kita mohon selama 9 hari melalui Novena diharapkan menjadi kekuatan kita untuk bersaksi dengan cara mempraktekkan apa yang kita Imani dalam hidup sehari-hari. Nah,setelah kita diajak belajar tentang Liturgi selama sebulan ini, kita diutus untuk menghayati Perayaan Liturgi dengan lebih baik lagi. Tentu tidak boleh dilupakan bahwa kita tidak boleh berhenti hanya menghayati liturgi saja, tetapi juga harus berbuat nyata dalam hidup sehari-hari demi kesejahteraan umum dan kebaikan bersama.


Demikianlah selama 31 hari Penjaga Podjok sudah mengajak seluruh warga Ruang Podjok untuk menyelami liturgi. Harapannya, semoga liturgi yang sudah didalami ini mengubah kehidupan setiap orang yang sudah terlibat mendalaminya.