Kamis, 05 Maret 2026

Menelisik Puasa dan Pantang dalam Gereja Katolik

Dalam perjumpaan dengan orang-orang di sekitar kita, kadangkala orang Katolik mendapatkan beberapa pertanyaan seperti berikut: "
Bagaimana orang Katolik menjalankan puasa? Apa yang disebut pantang dan puasa dalam Gereja Katolik dan bagaimana cara menjalankannya? Mengapa puasa orang Katolik berbeda dengan puasa orang Islam?" Nah, dalam kesempatan kali ini, kita diajak untuk menyelami bagaimana praktik Pantang dan Puasa dalam Gereja Katolik. 
Dalam masyarakat Yahudi zaman Yesus, ada tiga olah kesalehan yang diwariskan turun temurun yakni berdoa, berderma dan berpuasa. Yesus menurunkan kebiasaan olah kesalehan ini kepada murid-muridNya. Lalu, bagaimana berpuasa menurut Gereja Katolik? Bagi kita orang Katolik, puasa dan pantang artinya adalah tanda pertobatan, tanda penyangkalan diri, dan tanda kita mempersatukan sedikit pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai silih dosa kita dan demi keselamatan dunia. Jadi puasa dan pantang bagi kita tak pernah terlepas dari doa. Dalam Masa Prapaskah, puasa, pantang dan doa disertai juga dengan perbuatan amal kasih bersama-sama dengan anggota Gereja yang lain. Dengan demikian, pantang dan puasa bagi kita orang Katolik merupakan latihan rohani yang mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama, dan bukan untuk hal lain, seperti diet supaya kurus, menghemat, dan lainnya.

Aturan seputar Pantang dan Puasa
Ada beberapa aturan umum yang berkaitan dengan pantang dan puasa dalam Gereja Katolik, terutama yang tercantum dalam Kitab Hukum Kanonik seperti dinyatakan berikut ini:
Kan. 1249 – Semua orang beriman kristiani wajib menurut cara masing-masing melakukan tobat demi hukum ilahi; tetapi agar mereka semua bersatu dalam suatu pelaksanaan tobat bersama, ditentukan hari-hari tobat, dimana umat beriman kristiani secara khusus meluangkan waktu untuk doa, menjalankan karya kesalehan dan amal-kasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang, menurut norma kanon-kanon berikut.
Kan. 1250 – Hari dan waktu tobat dalam seluruh Gereja ialah setiap hari Jumat sepanjang tahun, dan juga Masa Prapaskah.
Kan. 1251 – Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus.
Kan. 1252 – Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun keenam puluh; namun para gembala jiwa dan orang tua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya masih kurang tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina ke arah cita-rasa tobat yang sejati.
Kan. 1253 – Konferensi para Uskup dapat menentukan dengan lebih rinci pelaksanaan puasa dan pantang; dan juga dapat menggantikan seluruhnya atau sebagian wajib puasa dan pantang itu dengan bentuk-bentuk tobat lain, terutama dengan karya amal-kasih serta latihan-latihan rohani.  
Dari beberapa aturan umum tersebut, Konferensi Para Uskup Indonesia menetapkan beberapa hal yang bisa dijadikan pedoman untuk melakukan pantang dan puasa. Pertama, Hari Puasa dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung, sedangkan Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama Masa Prapaskah sampai dengan Jumat Agung. Kedua, yang wajib berpuasa adalah semua orang Katolik yang berusia 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang adalah semua orang Katolik yang berusia genap 14 tahun ke atas. Ketiga, puasa (dalam arti yuridis) berarti makan kenyang hanya sekali sehari, sedangkan pantang (dalam arti yuridis) berarti memilih untuk tidak melakukan kesenangan, baik makanan atau kebiasaan seperti pantang daging, atau ikan atau garam, atau jajan atau rokok. Bila dikehendaki, seseorang masih bisa menambah sendiri puasa dan pantang secara pribadi tanpa dibebani dengan dosa bila melanggarnya.

Penerapan Pantang dan Puasa dalam Kehidupan Beriman Katolik
Idealnya, kita berpantang setiap hari Jumat sepanjang tahun (contoh: pantang daging, pantang rokok dll) kecuali jika hari Jumat itu jatuh pada hari raya, seperti dalam oktaf masa Natal dan oktaf masa Paskah. Penetapan pantang setiap Jumat ini didasarkan pada ketentuan Gereja yang menetapkan hari Jumat sepanjang tahun (kecuali yang jatuh di hari raya) adalah hari tobat. Meskipun demikian, Gereja Katolik Indonesia memberikan kelonggaran kepada umat untuk melakukan pantang hanya pada hari Rabu Abu, hari Jumat selama Masa Prapaska, dan Jumat Agung. Oleh karena itu, biasanya umat hanya mengetahui bahwa pantang hanya dilakukan pada hari-hari itu. Padahal secara umum, kita boleh berpantang setiap hari Jumat. Namun, jika kita mau melakukan yang lebih, silakan berpantang setiap hari selama Masa Prapaska. 
Jika berpantang, pilihlah makanan atau minuman yang paling kita sukai. Pantang daging adalah contohnya, atau yang lebih sukar mungkin pantang garam. Tapi ini bisa juga berarti pantang minum kopi bagi orang yang suka sekali kopi, dan pantang sambal bagi mereka yang sangat suka sambal, pantang rokok bagi mereka yang merokok, pantang jajan bagi mereka yang suka jajan. Jadi jika kita pada dasarnya tidak suka jajan, jangan memilih pantang jajan, sebab itu tidak ada artinya.
Pantang tidak terbatas hanya makanan. Pantang makanan dapat dianggap sebagai hal yang paling mendasar dan dapat dilakukan oleh semua orang. Namun, jika satu dan lain hal tidak dapat dilakukan, terdapat pilihan lain, seperti pantang kebiasaan yang paling mengikat, seperti pantang nonton TV, pantang ’shopping’, pantang ke bioskop, pantang ‘gosip’, pantang main ‘game’ dll. Jika memungkinkan tentu kita dapat melakukan gabungan antara pantang makanan atau minuman dan pantang kebiasaan.
Puasa minimal dalam setahun adalah Hari Rabu Abu dan Jumat Agung, namun bagi yang dapat melakukan lebih, silakan juga berpuasa dalam ketujuh hari Jumat dalam masa Prapaska (atau bahkan setiap hari dalam masa Prapaska). Waktu berpuasa, kita makan kenyang satu kali, dapat dipilih sendiri pagi, siang atau malam. Harap dibedakan makan kenyang dengan makan sekenyang-kenyangnya. Karena maksud berpuasa juga adalah untuk melatih pengendalian diri, jika tiba waktunya kita makan, kita juga tetap makan seperti biasa, tidak berlebihan.
Saat berpuasa, kita tidak boleh makan snack atau cemilan berkali-kali sehari. Ingatlah tolok ukurnya adalah pengendalian diri dan keinginan untuk turut merasakan sedikit penderitaan Yesus, dan mempersatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib demi keselamatan dunia.
Saat kita berpuasa, kita dapat mendoakan untuk pertobatan seseorang atau mohon pengampunan atas dosa kita. Di sela-sela kesibukan sehari-hari kita dapat mengucapkan doa sederhana, “Ampunilah aku, ya Tuhan. Aku mengasihi-Mu, Tuhan Yesus. Mohon selamatkanlah …..” (sebutkan nama orang yang kita kasihi) Doa-doa seperti inilah yang sebaiknya mendahului puasa, kita ucapkan di tengah-tengah kita berpuasa, terutama saat kita merasa haus atau lapar, dan doa ini pula yang menutup puasa kita atau sesaat sebelum kita makan. 
Karena yang ditetapkan di sini adalah syarat minimal, kita sendiri boleh menambahkannya sesuai dengan kekuatan kita. Jadi, boleh saja kita berpuasa dari pagi sampai siang, atau sampai sore, atau bagi yang memang dapat melakukannya, sampai satu hari penuh. Bagi yang kuat, puasa juga dapat dilakukan dengan cara sama sekali tidak makan dan minum atau minum sedikit air. Diperlukan kebijaksanaan sendiri untuk memutuskan hal ini: seberapa banyak kita mau menyatakan kasih kita kepada Yesus dengan berpuasa, dan seberapa jauh itu memungkinkan dengan kondisi tubuh kita. Walaupun tentu, jika kita terlalu banyak ‘excuse’ ya berarti kita perlu mempertanyakan kembali, sejauh mana kita mengasihi Yesus dan mau sedikit berkorban demi mendoakan keselamatan dunia.

Dasar Kitab Suci Pantang dan Puasa
Pantang dan puasa dalam Gereja Katolik memiliki beberapa dasar Kitab Suci. Pertama, pantang dan puasa merupakan sarana olah rohani pribadi. Ini didasarkan pada firman Tuhan yang tertulis dalam Kitab Yoel, “'Tetapi sekarang juga,' demikianlah firman TUHAN, 'berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh. Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya'” (Yl 2:12-13). Kedua, pantang dan puasa harus membimbing atau mengarahkan kita pada tindakan semakin peduli pada sesama seperti yang disampaikan dalam Kitab Nabi Yesaya, "Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!" (Yes 58:6-7). Ketiga, pantang dan puasa merupakan tindakan olah kesalehan yang tidak perlu ditampakkan seperti yang diajarkan oleh Yesus dalam Injil Matius, "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (Mat 6:16-18)

Makna Pantang dan Puasa
Puasa bukan juga sekedar soal makanan minuman. Juga bukan untuk mencari kesaktian diri. Puasa bukanlah pula sekedar melakukan apa yang ditulis oleh Hukum Taurat tanpa mengerti mengenai maknanya. Tetapi, puasa adalah salah satu cara agar orang dapat lebih dekat dengan Tuhan dan peduli pada sesama. Puasa memungkinkan kesenangan daging tunduk pada kuasa Allah dan mengalami kasih Allah. Pantang-puasa mempunyai dua makna, yaitu mengajak kita untuk semakin dekat mengandalkan Tuhan (dimensi vertikal) serta mengajak kita untuk peduli pada sesama yang membutuhkan (dimensi horizontal). Puasa Katolik itu makan hanya satu kali sehari, sedangkan pantang itu mengurangi atau menolak sebagian kesenangan (misal: rokok, kopi, gula, nasi, lauk pauk, jajan, hiburan, dsb). 

"Pantang dan puasa itu tidak sekedar menahan lapar dan haus, tetapi tidak membiarkan sesama kita mengalami kelaparan dan kehausan"
(R.D. Yohanes Rasul Edy Purwanto - Pastor Paroki Kristus Raja Solo Baru)

Mari dalam hidup ini kita menghayati olah matiraga dengan sungguh-sungguh. Tidak untuk dipuji atau pamer kesalehan (flexing). Kita biarkan diri kita dibentuk dan dituntun Allah lewat pantang-puasa. Selamat menghayati pantang dan puasa secara layak dan benar dalam Gereja Katolik. Berkah Dalem.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar