Kamis, 24 Desember 2020

Catatan Penjaga Podjok: Pembelajaran Daring dan Pembinaan Karakter

"Adakah hubungan antara pembelajaran daring dan pembinaan karakter?" Sudah lama sebenarnya saya mencoba menelisik tema ini. Ketika menyelami proses pembelajaran daring ini, saya bertanya apakah ada peluang untuk membina karakter selama proses pembelajaran daring?

Saya mengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti. Menurut mereka yang ahli dalam bidang pendidikan, pendidikan agama itu erat kaitannya dengan pendidikan karakter. T. Ramli (2003) pernah mengatakan bahwa pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk  pribadi anak supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pendidikan nilai, yakni  pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda. 

Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolut) - juga dari agama - yang disebut sebagai golden rule. Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan yang pasti apabila berpijak dari nilai-nilai karakter dasar tersebut. Menurut para ahli psikologi, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah cinta kepada Allah dan ciptaan-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia terdiri dari: dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab; kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya integritas. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak kepada nilai-nilai karakter dasar, yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (yang bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri. Inilah yang menjadi pembicaraan seputar pendidikan karakter...

Penanaman karakter ini kiranya tidak akan menjadi masalah jika pendidikan terjadi secara langsung - dalam arti guru dan murid berjumpa dalam satu lokalitas yang sama, baik tempat maupun waktu. Nah, pandemi Covid-19 ini membuat batasan dimana orang-orang tidak mudah berjumpa, apalagi membuat kerumunan dalam jumlah besar seperti sekolah. Kalau sudah begini, apakah pendidikan karakter lalu tidak bisa dilakukan? Nah, mari kita ngobrol sebentar tentang hal ini...

Sebagai pengampu mata pelajaran yang "berbau" moral, menjadi tantangan tersendiri bagi saya untuk menyelipkan pendidikan karakter dalam pembelajaran daring. Ada doktrin yang selama ini berlaku tentang pendidikan karakter yang sulit terbantahkan, yaitu bahwa "pendidikan karakter itu hanya bisa terjadi melalui keteladanan..." Doktrin ini membuat saya sempat berpikir bahwa pendidikan karakter tidak mungkin terjadi dalam pembelajaran daring karena pembelajaran daring tidak mengenal perjumpaan secara langsung. Namun, saya tidak menyerah begitu saja. Masih saja pikiran saya nekad berpikir apa yang bisa saya lakukan untuk menyelipkan pendidikan karakter dalam pembelajaran daring. Kementerian Pendidikan Nasional sejak tahun 2011 telah memperkenalkan 18 nilai pendidikan karakter yang meliputi nilai Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Menghargai Prestasi, Bersahabat atau Komunikatif, Cinta Damai, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, dan Tanggung Jawab. Kedelapanbelas nilai ini ditanamkan dengan cara mengitegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam seluruh kegiatan di sekolah. Sebagai bagian dari kegiatan sekolah, pembelajaran daring pun perlu mengintegrasikan nilai-nilai ini. 

Dalam perjalanan waktu, saya menemukan beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menyelipkan pendidikan karakter dalam pembelajaran daring mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti. Terus terang, saya tidak bisa menanamkan semua nilai dalam pembelajaran daring, namun ada beberapa nilai yang bisa diserempetkan sedikit untuk dihayati. Ini beberapa contohnya...

Disiplin. Bagaimana saya mencoba mengajak siswa-siswi saya untuk menghayati nilai ini? Saya memakai Daftar Hadir Online untuk menanamkan nilai ini. Untung saya mengajar di SMK. SMK katanya adalah terminal bagi mereka yang ingin langsung merasakan dunia kerja. Nah, Daftar Hadir Online ini saya gunakan untuk melatih siswa-siswi saya menghayati nilai disiplin. Besok, ketika bekerja, salah satu hal yang paling menentukan adalah kehadiran. Dalam pembelajaran daring, saya melatih murid-murid saya untuk disiplin dalam kehadiran. Mereka saya ajak untuk mengisi Daftar Hadir Online tepat waktu. Link Daftar Hadir Online pun saya bagikan saat jam pembelajaran berlangsung agar mereka terkondisikan untuk mengisi tepat waktu. Sejak awal tahun pelajaran, saya sudah mengatakan pada mereka bahwa nilai kehadiran meliputi 75 % dari seluruh proses. Artinya, dengan mengisi Daftar Hadir Online tepat waktu, mereka secara otomatis sudah meraih 75 % dari nilai mereka. Inilah penghargaan saya terhadap siswa-siswi saya yang disiplin...
Mandiri. Jelas bahwa pembelajaran daring sangat memerlukan sikap mandiri. Dalam proses pembelajaran jarak jauh, saya cenderung memberikan kebebasan kepada siswa-siswi saya. Kebanyakan, tugas saya berikan dalam jangka waktu tertentu, bisa seminggu atau dua minggu. Bahkan, ulangan, kalau bentuknya esai, saya juga akan memberikan waktu paling tidak lima hari. Saya berpikir bahwa kebebasan akan membuat seseorang menjadi lebih mandiri. Seorang kawan pernah menulis, "Pada akhirnya, dalam setiap model pembelajaran jarak jauh, semakin banyak hal tergantung pada diri kita sendiri: apakah mau mendengarkan penjelasan dosen atau mengabaikannya. Apakah kita merasa butuh untuk mengerti materi itu atau tidak. Inilah kelemahan yang sekaligus menjadi kekuatan kelas daring. Kekuatan, karena ia memberi tantangan kepada kita untuk berani menentukan prioritas: mana yang penting, mana yang tidak. Kemampuan memilah seperti ini, menurut saya, merupakan keterampilan yang bakal semakin relevan di zaman banjir informasi ini." (Tri Joko Her Riadi. "Sebuah Surat Terbuka Tentang Kelas Kita, Pandemi, Harari, Orang-orang ‘Komunis’, dan Hal-hal Lain yang Akan Datang"). Dengan kebebasan yang ada selama pembelajaran daring, sebenarnya secara tidak langsung saya sudah menanamkan nilai kemandirian.
Jujur. Nilai kejujuran selama pembelajaran daring saya bangun dengan cara memberikan kesempatan kepada seluruh siswa-siswi saya untuk menggunakan berbagai alat dan media yang mereka miliki dalam mengerjakan ulangan. Setiap ulangan, bahkan sampai Penilaian Akhir Semester, selalu menggunakan metode pengerjaan soal open book. Saya tahu diri bahwa saya tidak bisa mengendalikan siswa-siswi saya sepenuhnya. Oleh karena itu, daripada mereka curi-curi kesempatan untuk berbuat curang, mending sekalian saja kanal saya buka agar mereka bisa berlaku jujur dalam mengerjakan soal. Hanya saja memang harus agak berpikir bagaimana membuat soal yang tingkat kesulitannya tidak hanya hapalan tetapi harus sampai kepada analisis ☺ 
Kerja Keras. Selama pembelajaran daring, saya mengajak siswa-siswi saya untuk bekerja keras. Ada sekitar 5 sampai 7 tugas yang harus dikumpulkan selama semester yang lalu. Batas waktu pengerjaan tugas ini bervariasi, antara satu sampai dua minggu. Jika tidak mau terbebani dan menumpuk di akhir, setiap siswa harus secara rutin mengerjakan tugas mereka. Ketekunan mengerjakan tugas dan mengumpulkan tepat waktu menjadi kunci. Bukankah untuk tekun dan tepat waktu butuh kerja keras bagi mereka yang tidak terbiasa?
Rasa Ingin Tahu dan Gemar Membaca. Bagaimana saya berusaha membangkitkan rasa ingin tahu dan gemar membaca pada siswa-siswi saya? Selama pembelajaran daring, sudah saya sampaikan di postingan sebelumnya bahwa saya menggunakan Google Sites. Inilah media yang saya pakai untuk menanamkan nilai tersebut. Dengan materi yang saya posting di sana, siswa-siswi yang ingin maju saya paksa untuk membaca teks. Membaca teks panjang bagi anak sekarang memang tidak mudah. Berdasarkan laporan PISA yang baru rilis, Selasa 3 Desember 2019, skor membaca Indonesia ada di peringkat 72 dari 77 negara, lalu skor matematika ada di peringkat 72 dari 78 negara, dan skor sains ada di peringkat 70 dari 78 negara. Posisi Indonesia yang berada di ekor peringkat ini menunjukkan bahwa rasa ingin tahu dan gemar membaca masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi dunia pendidikan. 
Komunikatif. Nilai ini sebenarnya sangat mungkin ditanamkan dalam pembelajaran daring karena komunikasi dalam pembelajaran daring terjadi secara personal. Saya mencoba membangun penghayatan akan nilai ini melalui Catatan Pembelajaran yang saya buat pada tengah semester dan akhir semester. Catatan Pembelajaran merupakan lembar berisi data pembelajaran siswa mulai dari kehadiran, tugas, ulangan, dan saran masukan dari guru. Kehadiran Catatan Pembelajaran ini sangat istimewa bagi saya karena melalui catatan ini, saya semakin bisa melihat siswa-siswi saya secara unik, personal, dan tidak lagi secara klasikal. Dengan memberi Catatan Pembelajaran, saya berharap agar murid-murid saya bisa semakin maju dan berkembang dalam menghayati karakter baik yang ditawarkan.
Tanggung Jawab. Nilai ini bagi saya menjadi muara dari pendidikan karakter. Tanggung jawab merupakan kemampuan untuk menerima segala konsekuensi atas segala tindakan yang telah diputuskan dan dilakukan. Tanggung jawab merupakan konsekuensi sekaligus kontrol dari kebebasan. Bagi saya, nilai ini yang menjadi tujuan akhir pendidikan karakter, yaitu membentuk manusia yang bertanggungjawab. Segala macam nilai yang ditanamkan itu akhirnya akan membangun rasa tanggung jawab. Tanggung jawab ini merupakan tanda bahwa seorang manusia sudah beranjak menjadi dewasa. Dalam diri murid saya, nilai tanggung jawab ini saya lihat melalui proses dan tidak instan. Saya sendiri meyakini bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil. 

Saya menyadari bahwa perjuangan untuk membina karakter tidak akan bisa langsung dirasakan manfaatnya. Sama seperti pendidikan, karakter tidak akan langsung terlihat hasilnya. Selama pembelajaran daring, saya sendiri cenderung mencoba menghayati apa yang dikatakan oleh Pak Nadiem Makarim dengan istilah merdeka belajar. Mengapa begitu? Saya sadar bahwa saya tidak bisa sepenuhnya mengontrol dan mengendalikan siswa-siswi saya. Kendali saya hanya sebatas jam pembelajaran yang diberikan kepada saya. Oleh karena itu, saya memanfaatkan jam pembelajaran itu sebagai wahana untuk menanamkan karakter baik kepada siswa-siswi saya. Di luar itu, saya hanya bisa menghimbau. Satu yang menjadi pegangan saya, yaitu sabda Yesus yang mengatakan, "Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka" (Mat 7:17-20). Inilah yang saya nasehatkan kepada siswa-siswi saya di akhir semester gasal kemarin. "Ibarat mengelola tanaman, ini adalah masa panen. Hasil panen merupakan cerminan bagaimana selama ini kita mengelola dan merawat tanaman kita. Oleh karena itu, apa yang kalian dapatkan ini merupakan cerminan dari usaha kalian. Fungsi saya adalah membantu kalian merawat tanaman yang dipercayakan kepada kalian. Semoga ke depan kalian semakin bisa mengusahakan tanaman yang dipercayakan kepada kalian dengan semakin baik." Terima kasih sudah mau berproses menghidupi nilai-nilai karakter selama pembelajaran daring... Berkah Dalem.

Sabtu, 01 Agustus 2020

Catatan Penjaga Podjok: Mengelola Kelas Daring #3

Tahun pelajaran yang baru telah dimulai dan tampaknya kebijakan Belajar dari Rumah masih akan dilakukan untuk waktu yang agak lama. Dilansir dari KOMPAS.com, pemerintah telah memutuskan untuk kembali membuka sekolah di kabupaten/kota yang termasuk dalam golongan zona hijau Covid-19. Nadiem menyebut bahwa tahun ajaran baru 2020/2021 akan dimulai sekitar pertengahan Juli 2020. Zona hijau, kuning, oranye, dan merah Hingga 15 Juni 2020, pihaknya mengatakan bahwa ada 94 persen peserta didik yang tinggal di 429 kabupaten/kota zona kuning, oranye, dan merah. Para peserta didik di dalam tiga zona ini tetap wajib mengikuti pembelajaran namun melalui metode jarak jauh (PJJ). Adapun 6 persen peserta didik yang berada di 85 kabupaten/kota yang masuk dalam zona hijau Covid-19 bisa melakukan pembelajaran tatap muka. Namun untuk dapat menyelenggarakan pembelajaran tatap muka di zona hijau, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Pertama, lokasi sekolah tersebut harus berada di zona hijau. Kemudian, mengantongi izin dari Pemerintah Daerah dan kantor wilayah/kantor Kementerian Agama setempat. Ketiga, pemenuhan oleh satuan pendidikan terhadap seluruh daftar protokol kesehatan dan siap melakukan pembelajaran tatap muka. Terakhir, orang tua/wali murid menyetujui anaknya untuk melakukan pembelajaran tatap muka.  

Melansir Keputusan Bersama dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Dalam Negeri, berikut adalah tahapan pembukaan kembali sekolah: Tahap I: SMA, SMK, MA, MAK, SMTK, SMAK, Paket C, SMP, MTs, Paket B Tahap II dilaksanakan dua bulan setelah tahap I: SD, MI, Paket A, dan SLB Tahap III dilaksanakan dua bulan setelah tahap II: PAUD formal (TK, RA, TKLB) dan non formal Namun, ditambahkan pula catatan, begitu ada penambahan kasus atau level risiko daerah naik, maka satuan pendidikan diwajibkan untuk menutup kembali pembelajaran tatap muka tersebut. Adapun pembelajaran tatap muka di zona hijau sendiri terdiri atas dua fase, yaitu fase transisi dan normal baru. Mengutip Harian Kompas, 16 Juni 2020, waktu paling cepat untuk memenuhi kesiapan di jenjang SMA, SMP, dan sederajat untuk fase transisi adalah Juli 2020 dan fase normal baru pada September 2020. Sedangkan waktu paling cepat untuk memenuhi kesiapan fase transisi jenjang SD, MI, Paket A, dan SLB adalah September 2020 dan normal baru pada November 2020. Kemudian, waktu paling cepat untuk memenuhi kesiapan fase transisi pada jenjang PAUD formal dan non formal adalah November 2020 dan normal baru pada Januari 2021.

Menghadapi kenyataan bahwa sekolah masih harus tutup, namun pembelajaran tetap harus berjalan, Penjaga Podjok pun menyiapkan sebuah alat bantu yang semoga bisa digunakan oleh siswa-siwi untuk melakukan pembelajaran mandiri terbimbing. Dan inilah alat bantu yang disiapkan oleh Penjaga Podjok untuk melaksanakan kelas daring, yaitu tiga situs berisi materi pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti tingkat SMA dan SMK dengan rincian:

  1. Situs berjudul "Aku dan Imanku seturut Ajaran Gereja Katolik" bisa diakses melalui link https://sites.google.com/view/kelasxdaringruangpodjokskaga
  2. Situs berjudul "Hidup dalam Gereja Katolik" bisa diakses melalui link https://sites.google.com/view/kelasxidaringruangpodjokskaga 
  3. Situs berjudul "Hidup dalam Masyarakat" bisa diakses melalui link https://sites.google.com/view/kelasxiidaringruangpodjokskaga 
Alat bantu berisi materi pembelajaran ini diharapkan dapat diakses oleh siswa-siswi di manapun dan kapanpun mereka sempat belajar. Situs yang difasilitasi oleh Google ini ingin mengajak siswa-siswi Katolik SMK Negeri 3 Surakarta untuk mengembangkan kemampuan literasi mereka. Sesuai yang digaungkan oleh pemerintah melalui program "Belajar dari Rumah" yang ditayangkan oleh TVRI, Penjaga Podjok juga ingin agar pembelajaran yang dilakukan oleh siswa-siswi dari rumah akan semakin meningkatkan kemampuan literasi, numerasi dan karakter peserta didik. 
Selain digunakan oleh siswa-siswi SMK Negeri 3 Surakarta, link situs ini juga dibagikan oleh Penjaga Podjok melalui grup WhatsApp MGMP Pendidikan Agama Katolik SMK Cabang Dinas Wilayah VII Propinsi Jawa Tengah. Harapannya, semakin banyak guru Agama Katolik dan siswa-siswi Katolik SMK yang terbantu dalam melakukan pembelajaran Agama Katolik dari rumah. Inilah yang bisa dilakukan oleh Penjaga Podjok untuk tetap mendampingi siswa-siswi untuk belajar dari rumah... Semoga ada sedikit manfaatnya, tidak hanya bagi Penjaga Podjok dan siswa-siswinya, tetapi juga guru-guru Agama Katolik yang lain beserta siswa-siswi yang mereka layani... Salam... Berkah Dalem

Daftar Pustaka:
Vina Fadhrotul Mukaromah. "Sekolah Akan Kembali Dibuka, Simak Waktu dan Tahapan dari Kemendikbud" dalam https://www.kompas.com/tren/read/2020/06/16/113000365/sekolah-akan-kembali-dibuka-simak-waktu-dan-tahapan-dari-kemendikbud?page=all.

Jumat, 19 Juni 2020

Menyelami Liturgi yang Mengubah Kehidupan

Ini merupakan hal baru yang sangat pantas disyukuri. Baru kali ini rasanya Ruang Podjok mengalami Pendalaman Bulan Katekese Liturgi. Pandemi Covid-19 malah memungkinkan pendalaman itu terjadi. 
Selama hampir 9 tahun berjaga di Ruang Podjok, Penjaga Podjok merasa belum pernah mengadakan pendalaman Bulan Katekese Liturgi karena biasanya bulan Mei sudah masuk bulan-bulan akhir pembelajaran sehingga tidak dimungkinkan untuk diadakan pertemuan siswa. Tahun ini, karena wabah, pendalaman malah bisa dilakukan. Pendalaman Bulan Katekese Liturgi kali ini dilakukan secara daring melalui wadah Whatsapp Grup Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta. Pendalaman kali ini menjadi selingan di antara pembelajaran daring yang dilakukan. Seminggu sekali, siswa-siswi diajak untuk menyelami bahan pendalaman yang ditawarkan. 
Tema Bulan Katekese Liturgi tahun ini adalah Ekaristi, Sumber Transformasi Hidup. Tema ini sebenarnya ingin menyiapkan umat untuk menyongsong Kongres Ekaristi Keuskupan Agung Semarang dan Kongres Ekaristi Internasional yang sedianya dilaksanakan pada tahun ini. Namun, karena situasi pandemi, tampaknya acara tersebut akan dijadwalkan ulang. Selama 31 hari di bulan Mei, seluruh umat Keuskupan Agung Semarang diajak untuk mendalami berbagai hal seputar liturgi, terutama Ekaristi. Inilah ringkasan bahan pendalaman yang bisa disajikan.


Hari 1:
Renungan hari ini mau mengatakan bahwa Ekaristi yang diikuti oleh umat beriman seharusnya berdampak pada hidup sehari-hari. Seperti apa yang dilakukan keluarga Pak Tarjo itu merupakan buah-buah dari Ekaristi yang diikutinya. Salah satu ajaran Gereja Katolik menyatakan, "Apa yang diterima umat dengan iman dan secara sakramental dalam Perayaan Ekaristi harus memberikan dampak nyata dalam tingkah laku mereka...Dengan demikian, setiap orang yang mengambil bagian dalam Perayaan Ekaristi haruslah penuh gairah ingin berbuat baik, menyenangkan Allah dan hidup pantas sambil membaktikan diri kepada Gereja, melaksanakan apa yang diajarkan kepadanya,dan bertumbuh dalam kesalehan.." (Dokumen Eucharistium Mysterium no. 13. 25 Mei 1967)

Hari 2:
Renungan hari ini mengajak kita mendalami berbagai macam devosi Ekaristi: Adorasi, Prosesi dan Kongres. Adorasi Ekaristi itu yang biasa kita ikuti setelah Misa Jumat Pertama pas pentahtaan Sakramen Mahakudus. Prosesi Sakramen Mahakudus itu perarakan Sakramen Mahakudus dari satu tempat ke tempat lain dalam rangka pemberkatan. Kongres Ekaristi itu adalah pertemuan para klerus (mereka yang menerima Tahbisan) dan awam dalam Gereja Katolik untuk mendalami,  menghidupi dan menghayati Ekaristi melalui devosi, ajaran-ajaran, ceramah dan diskusi. Kongres Ekaristi ini bisa dalam skala internasional, nasional atau keuskupan. Dalam skala internasional, utusannya dari negara-negara. Kalau skala Nasional, utusannya dari keuskupan-keuskupan. Kalau skalanya Keuskupan, utusannya dari paroki-paroki.

Hari 3:
Hari ini kita merayakan Hari Minggu Panggilan yang dirayakan pada Minggu Paskah IV. Hari Minggu Panggilan ini dicetuskan oleh Paus Paulus VI pada tahun 1963. Pada Hari Minggu ini, kita diajak untuk berdoa bagi suburnya panggilan pelayan Gereja, terutama imam,bruder dan suster. Renungan hari ini mau mengatakan bahwa semua panggilan itu pada dasarnya adalah jalan menuju kekudusan. Maka, apapun panggilan yang dipilih (menjadi imam, bruder, suster, atau bapak ibu keluarga) adalah panggilan yang suci. Konsili Vatikan II mengajarkan, "...bahwa semua orang Kristiani,bagaimanapun status dan corak hidup.mereka,dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan cinta kasih... Kekudusan itu dengan aneka cara terungkapkan pada masing-masing orang, yang dalam corak hidupnya menuju kesempurnaan cinta kasih dengan memberi teladan baik kepada sesama." (Dokumen Lumen Gentium no. 39-40)

Hari 4:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan Ekaristi yang menumbuhkan semangat persaudaraan di antara kita. Ekaristi membangun kebersamaan di antara kita karena Ekaristi pertama-tama menunjukkan dimensi persekutuan umat beriman. Lalu bagaimana Ekaristi menampakkan kebersamaan di tengah wabah seperti ini dimana saat ini kita kan tidak boleh berkumpul? Pada dasarnya, Ekaristi itu menyatukan umat apapun kondisinya. Dalam situasi seperti ini, kebersamaan umat dihayati dalam keluarga masing-masing. Keluarga seringkali disebut Gereja Mini atau ecclesia domestica. Keluarga sebagai Gereja Mini menghadirkan seluruh Gereja di dunia dalam bentuknya yang paling konkret dan sederhana. Dalam keluarga yang merayakan Ekaristi secara online atau lewat tayangan, dimensi kebersamaan ini tetap tampak dalam keluarga. Selain itu, kebersamaan juga dihayati dalam kesatuan bersama keluarga-keluarga lain yang juga ikut merayakan Ekaristi secara online.

Hari 5:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan hubungan Ekaristi dan Evangelisasi.Evangelisasi adalah tindakan mewartakan kabar gembira.Ekaristi dihayati sebagai peristiwa yang menggerakan dan memberi semangat kepada umat untuk mewartakan kabar gembira. Setelah dikuatkan dengan sabda dan roti dalam Ekaristi, kita pun diutus untuk mewartakan kabar gembira.

Hari 6:
Hari ini kita diajak bercermin dari apa yang dialami para rasul.  "Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan" (Kis 2:42-47). Ekaristi membawa sukacita, kepedulian dan semangat berbagi.Kepedulian dan semangat berbagi ini kita lakukan secara konkret melalui kolekte. Sebagian dari kolekte kita setiap Minggu dikhususkan untuk membantu orang miskin yang disebut Dana Papa Miskin atau Danpamis.

Hari 7:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan Liturgi sebagai peristiwa yang membawa semangat dalam hidup. Artinya,Liturgi itu harus memberikan kekuatan dalam hidup kita. Dokumen Sacrosanctum Concillium no. 10 menyatakan bahwa Liturgi itu merupakan puncak dan sumber kehidupan dan kegiatan Gereja. Oleh karena itu, kita sebagai umat beriman diajak mengarahkan hidup dan menimba kekuatan hidup dari liturgi. Inilah mengapa kita selalu diundang untuk merayakan Ekaristi Hari Minggu. Ekaristi Hari Minggu menjadi saat untuk mempersembahkan seluruh jerih payah kehidupan dari hari Senin-Sabtu serta saat untuk memohon berkat untuk hari Senin-Sabtu berikutnya. Kalau kita tidak mengikuti Ekaristi di Hari Minggu bagaimana kita mempersembahkan dan menimba kekuatan untuk hidup kita?

Hari 8:
Hari ini kita diajak untuk bersyukur atas Lingkungan yang menjadi bagian hidup kita. Lingkungan merupakan persekutuan yang dibentuk oleh keluarga-keluarga yang tinggal di lokasi yang berdekatan. Lingkungan merupakan perwujudan yang paling nyata Gereja sebagai satu Tubuh. Keluarga merupakan Gereja Mini. Gereja-gereja Mini itu membentuk persekutuan paguyuban yang mewujud nyata dalam Lingkungan. Semoga Lingkungan kita semakin guyub dan dijiwai oleh Ekaristi yang kita ikuti setiap kali.

Hari 9:
Hari ini kita diajak untuk belajar bagaimana Liturgi membantu kita untuk memiliki hidup rohani yang semakin baik. Prosesnya memang tidak bisa instan. Harus sedikit demi sedikit.Maka Gereja Katolik itu sangat menghargai proses. Lihat saja bahwa setiap pertumbuhan rohani umat selalu mengutamakan proses. Mau menikah ya harus pacaran,kursus perkawinan dan penyelidikan kanonik. Mau menerima sakramen-sakramen ya harus ada persiapan dulu. Inilah yang diajarkan Gereja bahwa semua itu ada prosesnya.

Hari 10 dan 11:
Dua hari ini kita diajak menyelami Kongres Ekaristi. Pada hari ke-10, kita diajak mendalami tema Kongres Ekaristi Internasional Tahun 2020 yang sedianya akan dilaksanakan di Budapest. Namun,berita terakhir menyatakan bahwa Tahta Suci telah memutuskan untuk menunda pelaksanaan kongres itu karena wabah Covid-19. Tema kongres itu ingin mengajak kita kembali menyadari bahwa Ekaristi adalah sumber hidup dan kekuatan untuk menjalankan misi atau perutusan bagi orang Katolik. Jadi, dalam Ekaristi,kita diajak untuk menimba kekuatan hidup dan perutusan. Kongres Ekaristi Internasional sudah diadakan sejak tahun 1881. Kongres Ekaristi pertama diadakan di Perancis dan digagas oleh seorang awam perempuan bernama Emile Tamisier. Kongres itu awalnya diadakan setahun sekali. Namun, dalam perkembangan waktu menjadi 2 tahun sekali, 3 tahun sekali dan akhirnya menjadi 4 tahun sekali sampai sekarang.
Pada hari ke-11, kita diajak mendalami Kongres Ekaristi Keuskupan. Kongres Ekaristi Keuskupan diadakan pada tahun 2008 di Ambarawa dan digagas oleh Romo Pujasumarta yang saat itu menjadi Vikjen KAS. Kongres Ekaristi Keuskupan memang diadakan untuk memeriahkan gema Kongres Ekaristi Internasional yang juga diadakan pada tahun yang sama.
Inilah salah satu hal yang bagi saya membuat bangga sebagai orang Katolik. Orang Katolik itu jaringannya internasional di bawah satu komando. Untunglah kita punya Petrus dan para pengganti-penggantinya...

Hari 12:
Hari ini kita masih diajak untuk mendalami sejarah Kongres Ekaristi Keuskupan. Sampai saat ini, Keuskupan Agung Semarang sudah pernah mengadakan 3 kali kongres: 2008, 2012, dan 2016. Rencananya tahun ini akan ada kongres lagi. Namun,karena wabah ini, sejauh saya dengar belum ada keputusan lagi. Semoga Kongres Ekaristi yang sudah dan akan berlangsung boleh membuat kita, umat Keuskupan Agung Semarang, semakin mencintai Ekaristi.

Hari 13:
Hari ini kita diajak merenungkan tema Kongres Ekaristi Keuskupan IV yang menyatakan bahwa Roh Kudus yang satu dan sama itu memberi karunia yang berbeda-beda tetapi itu semua demi kepentingan Gereja. Syukur karena kita boleh menyadari bahwa perbedaan itu justru akan membawa kepada kebaikan.

Hari 14:
Hari ini kita diajak untuk belajar dua hal yang agak sulit,yaitu Gnostisisme dan Pelagianisme. Ini adalah paham yang pernah berkembang melawan Gereja saat Gereja Katolik masih muda pada abad-abad pertama. Sekarang, berkembang paham yang baru tentang dua hal itu. Gnostisisme baru merupakan sikap dan pandangan bahwa keselamatan dan kesucian dapat dicapai melalui ilmu yang dipelajari oleh diri sendiri dan tidak memerlukan praktek kasih kepada sesama. Pelagianisme baru merupakan pandangan bahwa keselamatan dapat dicapai dengan perbuatan baik dari manusia saja tanpa bantuan rahmat Allah. Dua hal ini merupakan gejala masyarakat modern yang dilihat oleh Paus Fransiskus. Dua hal ini disampaikan dalam dokumen Gaudete et Exultate.

Hari 15:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan istilah Ars Celebrandi. Istilah ini digunakan untuk menerangkan bagaimana kita seharusnya merayakan liturgi. Dengan istilah ini,kita disadarkan bahwa liturgi tidak sama dengan  aktivitas biasa yang lain. Liturgi merupakan aktivitas yang berhubungan dengan Allah. Maka,perlu penghayatan yang khusus. Kita diarahkan dengan istilah Ars Celebrandi ini. Contoh penghayatan yang mengikuti Ars Celebrandi itu termasuk tidak membuka aplikasi hape saat Ekaristi berlangsung atau membuka aplikasi lain saat Misa Online. Saya sendiri sering merasa terganggu dan risih melihat orang yang membuka aplikasi di ponsel saat Misa di Gereja. Harus disadari bahwa kita memang senang membuka hape - apalagi WA - tapi semoga kita bisa belajar menahan diri. Bukan berarti saya lebih baik, tapi ini merupakan usaha untuk menghayati Perayaan Liturgi dengan baik.

Hari 16:
Hari ini kita diajak merenungkan bagaimana kita mengembangkan musik liturgi. Bagi siswa-i yang aktif dalam kelompok koor, perlu diperhatikan bahwa jangan sampai lagu yang dipilih dan dinyanyikan menyulitkan umat untuk ikut bernyanyi. Seperti kata Paus Fransiskus, koor itu melayani umat dalam berliturgi. Silakan melihat link berikut: Paus minta koor membantu umat bernyanyi, bukan mengganti suara umat 


Hari 17:
Hari ini kita masih diajak untuk merenungkan tentang musik liturgi. Yang dibahas kali ini adalah nyanyian Liturgi. Kita diajak untuk sadar bahwa ada 4 hal penting dalam memilih nyanyian liturgi. Ini penting juga bagi kalian yang tergabung dalam kelompok paduan suara. Semoga dengan renungan malam ini kita boleh semakin sadar bahwa perayaan liturgi merupakan ajang pelayanan kelompok paduan suara dan bukan ajang untuk mencari popularitas atau pujian.

Hari 18:
Hari ini kita masih diajak untuk merenungkan bahwa Perayaan Ekaristi bukan pertunjukan. Dasarnya adalah Ars Celebrandi atau Seni Merayakan Liturgi.Ekaristi bukan One Man Show atau A Group Show. Ekaristi adalah perayaan seluruh umat, bahkan seluruh Gereja. Semoga kita boleh terus menyadari hal ini.

Hari 19:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan Ekaristi sebagai ungkapan Syukur. Jadi,inti dari Ekaristi adalah syukur. Maka,Gereja Katolik memandang Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan umat beriman. Dalam Ekaristi, umat diajak untuk mensyukuri segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya sekalipun kadangkala ada yang tidak menyenangkan. Dalam Ekaristi,kita satukan segala hal yang terjadi dalam hidup kita dan kita syukuri.

Hari 20:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan Busana dan Ruang Liturgi. Busana Liturgi merupakan pakaian khusus yang dipakai untuk merayakan liturgi, sedangkan Ruang Liturgi adalah tempat khusus untuk merayakan liturgi. Saya masih ingat bahwa dulu busana liturgi tidak boleh digunakan sembarangan, sekalipun oleh mereka yang sedang menjadi calon imam. Kasula dan stola seorang imam tidak boleh dikenakan oleh para frater yang belum menerima tahbisan. Ruang Liturgi juga menjadi tempat yang dikhususkan untuk kegiatan liturgi. Oleh karena itu,selama wabah Corona ini, setiap kali kita merayakan Ekaristi di rumah, kita diajak untuk mengikuti dari tempat yang pantas supaya Ruang Liturgi bisa tercipta.

Hari 21:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan salah satu bagian dari Perayaan Ekaristi, yaitu Pengantar. Dalam buku disebutkan bahwa pengantar Ekaristi itu harus singkat dan tidak boleh panjang-panjang. Fungsinya memang hanya mengantar umat untuk masuk dalam inti perayaan. Maka, tidak boleh mendominasi. Semoga para pemuka jemaat juga belajar agar kalau memberi pengantar juga tidak usah panjang-panjang,secukupnya saja. Sejalan dengan pendalaman hari ke-21 itu, Paus Fransiskus pernah juga mengatakan agar homili juga tidak bertele-tele. Silakan melihat link berikut: Pesan Paus kepada Para Imam "Jaga Homili Singkat, Tidak Lebih dari 10 Menit!" Kalau pengantarnya saja sudah panjang,bisa jadi homilinya akan lebih panjang lagi.

Hari 22:
Hari ini kita masih diajak merenungkan hakikat Perayaan Ekaristi.Ekaristi merupakan perayaan kurban Kristus untuk keselamatan manusia. Oleh karena itu,tidak boleh ada tujuan lain yang "menggeser" makna Ekaristi. Jika memang ada "tujuan khusus," harus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan tatacara yang digariskan oleh Gereja Katolik. Kalau misalnya ada Misa untuk Penggalangan Dana, tujuan itu harus disampaikan secara pantas dan elegan, misalnya diumumkan Minggu sebelumnya supaya tidak "mengganggu" hakikat Ekaristi.

Hari 23:
Hari ini kita diajak untuk belajar tentang bentuk pewartaan verbal yang termasuk pewartaan mimbar, yaitu Homili dan Kotbah. Dalam Buku Panduan Bulan Katekese Liturgi, sudah dipaparkan perbedaan antara Homili dan Kotbah. Semoga kita terbantu untuk lebih menghayati iman kita, terutama dalam kegiatan liturgi.

Hari 24:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan penggunaan teknologi dalam Ekaristi. Hal ini sangat lazim kita lakukan saat wabah ini terutama ketika kita mengikuti Misa Online atau Live Streaming.yang jelas, ketika ikut Misa Online, sikap harus seperti ikut Misa Langsung, tidak boleh "nyambi" WA-nan, Youtube-an, ngobrol, gojek dan sebagainya. Dalam wabah ini, kita diajak untuk semakin dewasa dalam beriman. Karena kalau tidak mengikuti Perayaan liturgi, tidak ada orang lain yang menegur. Kontrolnya adalah diri sendiri. Yang ingin tahu bagaimana menghayati Misa Online bisa membuka kembali link ini: Misa Online Cara Baru Menghayati Warisan Tradisi? Saya ingin membagikan apa yang pernah saya tulis. Sekedar berbagi penghayatan Misa Online.

Hari 25:
Renungan Bulan Katekese Liturgi hari ini berbicara mengenai bagaimana Ekaristi mempererat persaudaraan. Bicara mengenai persaudaraan,memang secara nyata terlihat saat kita bisa berkumpul. Kardinal Darmoyuwono pernah mengatakan seperti yang disampaikan dalam renungan hari. Pertanyaan kemudian adalah bagaimana kita mempererat persaudaraan kita saat kita tidak mungkin berkumpul seperti waktu terjadi wabah ini? Semoga kita boleh semakin menyadari betapa berarti dan berharganya perjumpaan dengan orang lain.

Hari 26:
Hari ini kita masih diajak merenungkan Ekaristi sebagai sumber persaudaraan. Kisah inspiratif yang disajikan bercerita tentang persaudaraan yang dibangun oleh Angelo Roncalli (yang akhirnya terpilih menjadi Paus Yohanes XXIII). Ia berhasil membangun relasi yang baik antara Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodox. Gereja Katolik Roma itu ya Gereja Katolik yang kita ikuti ini, yaitu Gereja yang mengakui kepemimpinan Paus di Roma.Gereja Katolik Roma mengaku diri sebagai Gereja yang asali yang didirikan oleh Yesus dan dipercayakan di bawah kepemimpinan Petrus. Gereja Katolik Ortodox adalah "sempalan" pertama Gereja Katolik Roma.Gereja Ortodox ini mulai berdiri pada tahun 1054 di wilayah Eropa Timur. Saat itu,wilayah Gereja Katolik itu sangat luas,meliputi Eropa Barat dan Eropa Timur. Dalam perkembangan waktu,tata liturgi dan ajaran antara Barat dan Timur agak berbeda. Inilah yang membuat hubungan antara wilayah Barat dan Timur merenggang. Gereja bagian Timur kemudian sedikit demi sedikit melepaskan diri sampai akhirnya benar-benar lepas pada tahun 1054. Gereja Ortodox tidak mengakui kepemimpinan Paus serta memiliki hirarki kepemimpinan yang berbeda dan lepas dari Gereja Katolik. Pemimpin Gereja Katolik Ortodox disebut Batrik atau Patriark. Ada beberapa Patriark dalam Gereja Katolik Ortodox. Sampai sekarang,Gereja Katolik Roma dan Gereja Katolik Ortodox merupakan lembaga yang berbeda dengan tata kepemimpinan sendiri-sendiri. Gereja Katolik Roma dan Gereja Katolik Ortodox pernah tidak saling menyapa selama 900 tahun. Baru pada zaman Paus Paulus VI,komunikasi antara keduanya dijalin kembali. Sampai sekarang Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodox belum bisa bersatu sepenuhnya. Masih ada beberapa unsur yang belum bisa disatukan. Salah satu tokoh yang merintis perbaikan relasi antara Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodox adalah Angelo Roncalli yang dikisahkak dalam Buku Pendalaman Katekese Liturgi pada hari ke-26 itu.

Hari 27:
Hari ini kita diajak merenungkan Ekaristi sebagai sumber kekudusan. Paham ini berkaitan erat dengan Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan umat beriman. Ekaristi menjadi saat kita untuk menimba kesucian dari Yesus Kristus melalui Sakramen Mahakudus. Di tengah wabah ini, kita tetap bisa menimba kekudusan dalam Ekaristi melalui Komuni Batin atau Komuni Spiritual. Jika dihayati secara benar, Komuni Batin membuat Kristus benar-benar hadir dalam diri kita. Semoga kita boleh menimba kekudusan dari Ekaristi meskipun sedang berada dalam masa sulit ini.

Hari 28: 
Hari ini kita masih diajak merenungkan Ekaristi sebagai sumber kekudusan. Dikisahkan bahwa ada pasangan suami istri yang diangkat sebagai orang kudus karena berhasil membangun keluarganya sebagai persekutuan yang kudus. Diyakini bahwa Ekaristi menjadi sumber kekudusan bagi keluarga tersebut. Semoga kisah tersebut menginspirasi kita untuk semakin mencintai Ekaristi.

Hari 29: 
Hari ini kita diajak belajar dari Maria yang disebut sebagai Wanita Ekaristi. Maria digambarkan sebagai perempuan yang memiliki hubungan erat dengan Ekaristi. Dalam beberapa film yang berkisah tentang Yesus, Maria digambarkan sebagai perempuan yang menyertai Sang Putra dalam mewartakan Kerajaan Allah. Bahkan, saat Yesus menetapkan Ekaristi dalam Perjamuan Terakhir, Maria juga digambarkan ada disana. Oleh karena itu, sangat tepatlah Maria disebut Wanita Ekaristi. Kisah Para Rasul juga menceritakan bagaimana Maria hadir saat para rasul menantikan Roh Kudus dan saat terjadi peristiwa Pentakosta. Semoga kita boleh belajar mencintai Ekaristi dari Maria.

Hari 30: 
Hari ini kita diajak untuk merenungkan peran para kudus dalam kehidupan iman kita. Orang kudus adalah orang-orang yang pernah hidup dunia dan setelah meninggal dinyatakan sebagai orang suci serta pantas diteladani hidupnya oleh umat beriman. Orang kudus yang paling dekat dengan kita adalah santo atau santa pelindung kita. Sudahkah kita mengenal dengan baik kisah santo atau santa pelindung kita?

Hari 31: 
Hari ini kita diajak merenungkan perutusan kita untuk menjadi Gereja yang Misioner. Roh Kudus yang hari ini dicurahkan kepada kita setelah kita mohon selama 9 hari melalui Novena diharapkan menjadi kekuatan kita untuk bersaksi dengan cara mempraktekkan apa yang kita Imani dalam hidup sehari-hari. Nah,setelah kita diajak belajar tentang Liturgi selama sebulan ini, kita diutus untuk menghayati Perayaan Liturgi dengan lebih baik lagi. Tentu tidak boleh dilupakan bahwa kita tidak boleh berhenti hanya menghayati liturgi saja, tetapi juga harus berbuat nyata dalam hidup sehari-hari demi kesejahteraan umum dan kebaikan bersama.


Demikianlah selama 31 hari Penjaga Podjok sudah mengajak seluruh warga Ruang Podjok untuk menyelami liturgi. Harapannya, semoga liturgi yang sudah didalami ini mengubah kehidupan setiap orang yang sudah terlibat mendalaminya.

Jumat, 29 Mei 2020

Catatan Penjaga Podjok: Mengelola Kelas Daring #2

Minggu ini adalah minggu terakhir untuk seluruh proses pembelajaran di tahun pelajaran ini. Minggu ini menjadi minggu untuk menyelesaikan seluruh bahan yang akan digunakan untuk Ulangan Kenaikan Kelas. Penjaga Podjok pun melakukan hal yang sama meskipun pada saat ini semua harus dilakukan secara daring. Minggu ini, Penjaga Podjok kembali akan menorehkan catatan yang sudah dilakukan selama kurang lebih lima minggu sebagai pertanggungjawaban kinerja selama mengelola kelas daring, tentunya dari rumah saja... Dalam catatan Mengelola Kelas Daring #1, Penjaga Podjok sudah bercerita mengenai bagaimana kelas daring Ruang Podjok diampu selama kurang lebih enam minggu. Dalam catatan kali ini, akan dilanjutkan cerita untuk mengelola kelas daring sampai minggu ini.

Menyelenggarakan Kelas Whatsapp
Setelah enam minggu mengelola kelas daring dengan berbagai dinamikanya, Penjaga Podjok merasakan ada sesuatu yang kurang dalam kelasnya. Entah mengapa, selama enam minggu itu, serasa ada yang kurang dalam proses pembelajaran daring ini. Setelah dicari dan direnung-renungkan, ternyata ketemu yang membuat kurang. Kekurangan kelas daring yang selama ini dijalankan adalah interaksi dengan siswa-siswi. Selama enam minggu, dinamika yang dibangun adalah penugasan. Relasi yang dibangun selama itu adalah guru memberikan tugas dan murid merespon dengan mengerjakan tugas. Kalau relasi semacam itu yang dilakukan lagi, kemungkinan guru dan siswa akan mengalami kebosanan. Oleh karena itu, di akhir minggu keenam, Penjaga Podjok mulai berpikir bagaimana membangun dinamika baru di kelas daring yang dikelolanya. Akhirnya, diputuskan bahwa akan diadakan sesi pembahasan materi. Prinsip penyelenggaraan sesi pembahasan materi ini masih sama, yaitu 1) harus terjangkau oleh semua siswa, 2) mudah, 3) murah, serta 4) tidak terlalu menyulitkan bagi siswa maupun orangtua. 
Cara yang dipilih kemudian adalah Kelas Whatsapp. Inspirasi dari Kelas Whatsapp ini adalah Kulwap. Apa itu Kulwap? Menurut pengertian yang didapat dari https://kursusku.id/blogs/Kulwap, Kulwap adalah singkatan dari Kuliah Whatssap yang dibuat oleh suatu grup untuk melakukan sharing materi yang bermanfaat. Jadi narasumber akan memberikan sharing materi di grup Whatsapp yang sudah dibuat kepada anggota yang bergabung dalam grup tersebut. Ada banyak orang yang sudah memulai Kulwap ini, bahkan ada yang bisa meraup penghasilan tambahan dari sana. Nah, belajar dari pengalaman itu, Penjaga Podjok pun menginisiasi Kelas Whatsapp sebagai model baru pembelajaran di Ruang Podjok. Kelas Whatsapp ini memungkinkan guru dan siswa untuk berinteraksi meskipun hanya lewat aplikasi Whatsapp, tapi paling tidak ada dialog yang dijalin di sana.
Lalu bagaimana teknis pembahasan materi yang dilakukan? Setiap minggu, akan diambil waktu 3 x 45 menit atau 135 menit seperti pembelajaran reguler per minggu sebagai kesempatan pembahasan tentang materi yang sudah dicatat. Sesi pembahasan materi dibagi dalam dua hari per minggu; di hari pertama 2 x 45 menit dan di hari kedua 1 x 45 menit. Jamnya pun selalu sama. Pembahasan materi untuk kelas X selalu dimulai pukul 08.30 sedangkan untuk kelas XI selalu dimulai pukul 10.30. Mengapa itu dilakukan? Supaya suasana pembahasan materi tidak terlalu melelahkan sekaligus menjaga ritme. 
Pembahasan materi lewat Kelas Whatsapp ini memang tidak sangat ideal. Penjaga Podjok kadangkala mengalami bahwa yang diajar adalah kelas kosong. Artinya, tidak ada atau belum ada siswa yang join tetapi pembahasan sudah dimulai (Bisa dicek lewat siapa yang sudah membaca pesan Whatsapp saat itu juga). Tapi ya sudahlah... paling tidak sudah mencoba... Meskipun banyak hal yang dirasakan sebagai kekurangan, Kelas Whatsapp ini dirasakan cukup membantu dalam membangun relasi antara guru dan siswa. Sebenarnya, Penjaga Podjok sesekali ingin mengadakan tatapmuka melalui konferensi video, entah itu Zoom atau Google Meet. Namun, Penjaga Podjok sadar bahwa siswa-siswi yang dilayaninya tidak semua berasal dari kalangan yang mampu, bahkan kuota internet pun mungkin harus dibeli harian atau mingguan. Oleh karena itu, tampaknya untuk konferensi video belum bisa dilakukan. Mungkin besok kalau sekolah mampu menanggung seluruh pembiayaan pembelajaran daring, termasuk untuk siswa, kesempatan tatapmuka ini bisa diselenggarakan.
Kesempatan untuk menjalankan Kelas Whatsapp ini dilakukan Penjaga Podjok selama beberapa minggu: minggu ketujuh (28-30 April 2020), minggu kedelapan (4-8 Mei 2020), minggu kesembilan (11-15 Mei 2020), dan minggu kesepuluh (18-20 Mei 2020). Kelas Whatsapp minggu ketujuh sampai kesembilan diisi dengan pembahasan materi yang sudah ada dalam silabus, sedangkan minggu kesepuluh diisi dengan pembahasan kisi-kisi Ulangan Kenaikan Kelas.

Meskipun Daring, Tetap Ada Ulangan
Pembelajaran daring di Ruang Podjok memang tidak sempurna, tetapi Penjaga Podjok terus berusaha untuk membangun dinamika yang hidup.  Semoga bisa terus begitu... Nah, satu hal yang tetap dilakukan di Ruang Podjok selama kelas daring ini adalah Ulangan. Ada pepatah Latin yang mengatakan, "Repetitio est mater studiorum - Pengulangan adalah induk dari proses pembelajaran." Inilah yang sangat disadari oleh Penjaga Podjok. Kalau ada siswa yang bertanya: mengapa tetap ada ulangan selama pembelajaran daring, inilah jawaban yang akan diberikan. Pengulangan itu merupakan induk dari proses belajar. Belajar itu butuh pengulangan. Jika orang belajar sesuatu tetapi tidak pernah diulangi, pembelajaran itu akan sirna. Proses pengulangan menjadi sebuah latihan dari proses pembelajaran. Salah satu pepatah Inggris menyatakan, "Practice makes perfect - Latihan itu menyempurnakan." Oleh karena itu, logikanya jelas: pengulangan itu akan menyempurnakan proses pembelajaran. Maka dari itu, di Kelas Daring Ruang Podjok, tetap ada ulangan selama pembelajaran daring ini. 
Ulangan di Kelas Daring Ruang Podjok terjadi antara minggu kesepuluh (18-20 Mei 2020) dan kesebelas (26-29 Mei 2020). Ulangan untuk kelas X terjadi satu kali dan Ulangan untuk kelas XI terjadi dua kali. Selain alasan yang sudah dikemukakan di atas, ulangan di Kelas Daring Ruang Podjok bisa menjadi alat untuk mendeteksi karakter siswa. Dari ulangan  yang diikuti, akan tampak mana siswa yang sungguh-sungguh dan mana siswa yang seenaknya sendiri. Sebenarnya, karakter siswa ini tidak hanya bisa dideteksi dari ulangan saja. Penjaga Podjok sebenarnya malah bersyukur dengan adanya wabah virus Corona ini. Wabah virus Corona yang membuat sekolah dipaksa berevolusi melalui pembelajaran daring ini dengan sendirinya akan menunjukkan karakter siswa yang sebenarnya: mana yang penuh perhatian, mana yang tidak perhatian, mana yang rajin, mana yang malas, mana yang belajar sungguh-sungguh, mana yang hanya rebahan, mana yang hanya main game, mana yang malas-malasan, mana yang suka sambat, mana yang gigih, mana yang hatinya baik, dan banyak lagi. Semuanya menjadi terungkap. Saya sudah pernah menulis bahwa belajar di rumah menjadi saat manusia untuk kembali menyadari jati diri sebagai manusia pembelajar. Di tengah wabah ini, saya juga semakin belajar untuk memahami karakter siswa-siswi saya melalui pembelajaran daring yang saya kelola.

Mengembangkan Administrasi Pembelajaran
Cerita lain yang mewarnai perjalanan minggu-minggu ini adalah pembuatan administrasi pembelajaran. Sudah menjadi kebiasaan bagi para guru untuk mulai menyusun perangkat adminitrasi pembelajaran ketika suatu tahun pelajaran hampir usai. Penjaga Podjok pun demikian. Di sela-sela kelas daring, Penjaga Podjok pun mengisi waktu untuk menyiapkan perangkat pembelajaran untuk tahun pelajaran baru. Tahun ini formatnya bebas... RPPnya satu lembar... sesuai dengan konsep yang diusung yaitu Merdeka Belajar. Konsep ini memang konsep yang baru sama sekali... Entah bagaimana konsep ini diimplementasikan... Namun, kebebasan yang diberikan di awal tampaknya ingin memberikan tekanan bahwa belajar itu harus dilandasi dengan sikap merdeka dan tidak terkekang. Dengan memegang penuh kebebasan dan kemerdekaan (tentu dilandasi dengan tanggung jawab), seseorang diajak untuk belajar secara maksimal. Inilah konsep yang sekilas ditangkap.
Sejalan dengan konsep Merdeka Belajar itu, Penjaga Podjok sedang menyiapkan sebuah alat bantu baru bagi siswa-siswi yang akan bergabung di Ruang Podjok. Alat bantu yang berisi materi pembelajaran ini semoga nantinya bisa membantu siswa-siswi belajar dengan merdeka, tanpa rasa terkekang, bahkan diharapkan mampu mengembangkan apa yang dipelajarinya agar bisa diterapkan dan menjadi inspirasi bagi hidup sehari-hari. Apa alat bantu itu? Tunggu saja nanti... pasti akan ditulis.

Inilah cerita Penjaga Podjok dalam mengelola kelas daring dari minggu ketujuh sampai kesebelas. Cerita apalagi yang nanti bisa dikisahkan, kita sambung di tulisan berikutnya...

Senin, 04 Mei 2020

Bukan Pejuang Garis Depan, Tidak Ingin Populer, dan Hanya Melakukan yang Bisa Dilakukan

Hari ini, ketika membuka Facebook, saya menemukan posting yang menyentuh hati... Posting ini bukan milik saya. Saya melihatnya di alamat https://www.facebook.com/Roy.Lo81/posts/10158456323937074
Melihat posting itu, izinkan saya membagikannya di laman ini...
Sungguh ini adalah posting sederhana, tetapi posting ini menyuarakan apa yang ada dalam hati saya sebagai seorang guru...
Kami memang tidak berada di garis depan untuk membantu masyarakat selama pandemi ini. Kami hanya melakukan yang kami bisa lakukan, tidak untuk mencari popularitas tetapi semata-mata supaya anak-anak yang kami layani boleh mencapai tujuan hidupnya dengan baik meskipun saat ini tidak bisa berjumpa secara fisik
Terima kasih karena boleh merasa terwakili melalui posting ini...

Minggu, 03 Mei 2020

Catatan Penjaga Podjok: Pendidikan dalam Keluarga dengan Kolaborasi antara Orangtua, Guru, dan Teknologi

https://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/wp-content/uploads/2017/09/16.12.28-Mendampingi-Anak-Belajar-di-Rumah.pdf
Kemarin kita baru saja memperingati Hari Pendidikan Nasional. Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini dirayakan dalam saat yang sangat istimewa dimana pendidikan dipaksa untuk berubah karena wabah virus Corona yang sedang melanda. Wabah ini memang memaksa manusia untuk berubah secara cepat. Yang termasuk harus cepat menyesuaikan adalah sektor pendidikan. Semoga refleksi ini boleh memberikan wawasan yang baru tentang pendidikan yang sedang dipaksa untuk berubah itu.
Beberapa hari sebelum peringatan Hari Pendidikan Nasional, beredar link Youtube yang berjudul “#Covid19 Masa Depan Dunia Pendidikan & Keluarga Akibat Pandemi dari kacamata Akademis & Rohaniwan.” Link ini menampilkan perbincangan antara Vidion Widyantara, Bapak B. Danang Setianto (Wakil Rektor Unika Soegijapranata Semarang), dan Romo P. Sunu Hardianto, SJ (Provinsial Serikat Yesus Indonesia). Dalam perbincangan tersebut, didiskusikan bagaimana nasib dunia pendidikan dan keluarga akibat pandemi Covid-19. Harus diakui bahwa pandemi ini mengubah proses pembelajaran. Proses pembelajaran online mengubah wajah pendidikan. Pendidikan yang selama ini terkesan tidak mau berubah dipaksa untuk berubah.  Selama ini, pendidikan selalu punya alasan untuk mempertahankan sistem yang dipakainya. Pendidikan tidak mau online dengan alasan pengajaran nilai-nilai. Wabah ini memporakporandakan semua alasan yang ingin mempertahankan sistem itu. Situasi yang tidak memungkinkan perjumpaan membuat pendidikan harus membuat formula yang baru untuk mengajarkan nilai-nilai yang selama ini diusungnya. Demikian pula keluarga. Keluarga yang selama ini sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri sekarang dipaksa untuk bertemu dan saling berinteraksi. Pandemi ini telah mengubah wajah keluarga karena keluarga dipaksa menjadi tempat berlangsungnya pendidikan. Sebenarnya ini mengembalikan pendidikan dalam bentuknya yang paling asli. Pendidikan yang paling asli itu terjadi dalam keluarga. Yang penting dalam pendidikan itu adalah Kedalaman Spiritualitas, Kedalaman Intelektual, dan Kedalaman Sosial. Pandemi Covid ini menjadi kesempatan bagi keluarga untuk bergerak lebih mendalam karena kedalaman ini berasal dari keluarga. 
Senada dengan gerak diskusi itu, peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini juga menyatakan hal yang kurang lebih sama. Dikutip dari pemberitaan KOMPAS, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim menyatakan bahwa dampak terkecil pandemi ini dimulai dari keluarga. “Dampak mikro ialah di dalam keluarga. Karena keluarga itu luar biasa sebagai unit terpenting kita,” ujar Nadiem Makarim saat berdiskusi dengan Najwa Shihab dalam tayangan live streaming di kanal Youtube Kemdikbud RI, Sabtu (2/5/2020) malam. Sedangkan yang kedua, lanjut Nadiem, adalah kemampuan orang untuk bisa beroperasi dari manapun. Potensi untuk bekerja menjadi lebih efektif dari manapun juga menjadi pembelajaran. Dampak ketiga ialah masyarakat semakin sadar begitu pentingnya kesehatan. Tak heran jika sekarang masyarakat mulai kembali menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Ini jadi salah satu dampak positif bagi masyarakat. Pada diskusi dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2020 bertema “Belajar dari Covid-19” tersebut, Nadiem juga menyinggung persoalan pendidikan di masa wabah virus corona. Mas Menteri, begitu sapaan Nadiem Makarim menjelaskan bahwa pembelajaran daring yang saat ini diterapkan menjadikan orang tua sadar betapa sulitnya mendidik anak. “Kini, empati orang tua terhadap guru jadi meningkat. Tapi, guru juga menyadari tanpa adanya peran orang tua maka pendidikan itu tidak akan selesai,” kata Mas Menteri. “Krisis ini antara kolaborasi orang tua dan guru. Itulah dimana pembelajaran terjadi,” imbuhnya. “Mau secanggih apapun teknologi, tapi ujung-ujungnya yang melakukan perubahan ialah guru. Kini guru dan orang tua yang melakukan perubahan itu,” tegas Nadiem. 
Pembicaraan demi pembicaraan yang berkembang tentang pendidikan pada saat wabah ini seakan ingin menggali kembali kebijaksanaan yang telah dimiliki oleh para pendahulu seputar pendidikan. Adalah Ki Hadjar Dewantara yang tanggal lahirnya dipakai sebagai tanggal peringatan Hari Pendidikan Nasional. Dalam buku berjudul Karja I (Pendidikan) yang diterbitkan oleh Pertjetakan Taman Siswa Jogjakarta pada tahun 1962, Ki Hadjar Dewantara menulis bahwa pendidikan  adalah  daya upaya untuk  memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh anak, dalam rangka kesempurnaan hidup dan keselarasan dengan dunianya. Jika dicermati, pertama-tama yang menjadi fokus dalam pendidikan adalah budi pekerti, baru kemudian rasio, dan yang terakhir fisik. Oleh karena itu, dalam pendidikan, budi pekerti ini seharusnya mendapatkan perhatian yang sangat besar. Dan sekarang lazim dipahami bahwa budi pekerti salah satunya merupakan pokok yang diajarkan dalam agama sehingga mata pelajaran agama dalam Kurikulum 2013 selalu ditambah dengan frasa “Budi Pekerti” seperti “Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti,” “Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti,” dan sebagainya. Selain itu, jauh hari sebelum terjadi fenomena “sekolah di rumah,” beliau sudah pernah mengatakan pernyataan yang kurang lebihnya seperti ini, “Setiap orang menjadi guru dan setiap rumah menjadi sekolah.” Menjelang Hari Pendidikan Nasional kemarin, inilah yang menjadi status saya di media sosial. Konsep pendidikan yang dimiliki oleh beliau ini sebenarnya ingin menekankan bahwa pendidikan itu bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, tidak tergantung apakah ada sekolah atau lembaga pendidikan. Jika setiap rumah menjadi sekolah, orang yang lebih tualah yang harus menjadi guru di sana.
Sejalan dengan pendapat Ki Hadjar Dewantara, Gereja Katolik juga memiliki pendapat tentang pendidikan. Pendapat itu berbunyi seperti ini, “Karena orang tua telah menyalurkan kehidupan kepada anak- anak, terikat kewajiban amat berat untuk mendidik anak mereka. Maka orang tualah yang harus diakui sebagai pendidik mereka yang pertama dan utama. Begitu pentinglah tugas mendidik itu, sehingga bila diabaikan, sangat sukar pula dapat dilengkapi. Sebab merupakan kewajiban orang tua: menciptakan lingkungan keluarga, yang diliputi semangat bakti kepada Allah dan kasih sayang terhadap sesama sedemikian rupa, sehingga menunjang keutuhan pendidikan pribadi dan sosial anak-anak  mereka. Maka keluarga itulah lingkungan pendidikan pertama keutamaan-keutamaan sosial, yang dibutuhkan oleh setiap masyarakat.” (Gravissimum Educationis nomor 3). Dari sini, para orangtua harus terus menyadari bahwa mereka adalah pendidik yang pertama dan utama dalam keluarga dari segi iman dan moral. Melanjutkan pendapat itu, Gereja juga menyatakan, Hak maupun kewajiban orangtua untuk mendidik bersifat hakiki,  karena berkaitan dengan penyaluran hidup manusiawi. Selain itu bersifat asali dan utama terhadap peranserta orang-orang lain dalam pendidikan, karena keistimewaan hubungan cinta  kasih antara orangtua dan anak-nak. Lagi pula  tidak tergantikan dan tidak dapat diambil-alih, dan karena itu tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada orang-orang lain atau direbut oleh mereka” (Familiaris Consortio nomor 36). Sejalan dengan tanggung jawab orangtua terhadap pendidikan, Gereja Katolik memberikan catatan mengenai kerjasama antara orangtua, negara dan Gereja dalam mendidik anak, Negara dan Gereja wajib sedapat mungkin membantu keluarga-keluarga, supaya mereka mampu menjalankan peranan mereka  sebagai pendidik seperti layaknya. Maka dari itu baik Gereja maupun  negara wajib menciptakan dan mendukung lembaga-lembaga serta kegiatan-kegiatan, yang secara wajar diminta oleh keluarga-keluarga, dan  bantuan itu harus sepadan dengan kebutuhan keluarga-keluarga. Akan tetapi dalam masyarakat mereka yang diserahi pengelolaan sekolah-sekolah jangan pernah lupa, bahwa para orangtua telah ditetapkan oleh Allah sendiri sebagai pendidik-pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anak mereka, dan bahwa hak mereka  sama sekali tidak boleh diganggu gugat. Akan tetapi selaras dengan hak mereka para orangtua mempunyai kewajiban serius, untuk sepenuhnya menyanggupkan diri memelihara hubungan yang akrab dan aktif dengan para guru serta para pemimpin sekolah (Familiaris Consortio nomor 40).
Dalam situasi pandemi seperti ini, berbagai pendapat yang pernah diungkap di atas menjadi sangat relevan. Saya sendiri mencoba melihat bahwa pandemi ini menjadi saat untuk kembali. Keluarga kembali menjadi tempat pendidikan yang pertama dan utama. Pendidikan kembali dalam bentuk yang paling asli, yaitu di dalam keluarga. Bapak Ibu yang putra-putrinya sedang belajar di rumah sebenarnya kembali mengalami apa yang disabdakan oleh Kitab Suci. Kitab Amsal sudah jauh hari mengajarkan bahwa orangtualah yang wajib membimbing dan mendidik anak-anak, "Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu" (Ams 1:8). Kitab Amsal menyatakan bahwa tugas ayah ibu merupakan tugas yang sangat mulia karena dari merekalah anak-anak mendapat didikan yang pertama kalinya. Meskipun demikian, sungguh tidak mudah bagi orangtua yang kemudian hari-hari ini dipaksa untuk mendampingi anak-anak dalam pendidikan di rumah karena mereka sudah tidak terbiasa lagi mendidik anak-anak secara penuh. Urusan pendidikan kemudian sebagian besar diserahkan kepada sekolah. Pandemi ini mengembalikan urusan pendidikan kepada orangtua. Sekolah dan guru menjadi pendukung. Bagi orangtua yang ingin menemukan gagasan bagaimana mendampingi anak belajar di rumah, silakan klik link ini: https://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/wp-content/uploads/2017/09/16.12.28-Mendampingi-Anak-Belajar-di-Rumah.pdf  
Yang terakhir, berkaitan dengan pendidikan dan keluarga di tengah pandemi ini, satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah kehadiran teknologi. Untunglah ada teknologi yang memudahkan orangtua berkolaborasi dengan sekolah dan guru meskipun kehadirannya belum merata. Perlu disadari bahwa teknologi itu pedang bermata dua. Kalau digunakan secara baik, buahnya positif. Kalau digunakan secara tidak baik, hasilnya negatif. Teknologi yang berdampak negatif terlihat saat seluruh anggota keluarga: ayah, ibu, dan anak lengkap tampak berkumpul tetapi masing-masing memegang smartphone dan sibuk dengan smartphone masing-masing. Mereka asyik dengan “screen time” mereka masing-masing dan tak peduli satu sama lain. Tak jarang mereka senyum-senyum sendiri sambil mata tak bisa lepas dari screen. Mereka highly-connected (sangat terhubung) dengan jagad internet, tapi celakanya highly-disconnected (sangat terlepas) dengan sesama anggota keluarga. Di sisi lain, teknologi yang berdampak terlihat saat orangtua bisa memanfaatkan teknologi untuk membantu anak-anak mereka menemukan hal-hal baik. Teknologi menjadi jalan untuk belajar hal-hal untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik. Pandemi Covid-19 ini sebenarnya memberi peluang bagi orangtua (dan guru) untuk menemukan dampak positif dari teknologi. Teknologi yang sebelumnya hanya dipakai untuk eksis dan narsis, sekarang berubah menjadi alat yang sangat efektif untuk mengembangkan diri. Media sosial yang tadinya hanya dipakai untuk update status dan haha hihi sekarang berubah peran menjadi ruang diskusi.  
Di Hari Pendidikan Nasional tahun ini, saya bersyukur karena boleh merayakan pendidikan dalam bentuk aslinya, yaitu keluarga. Situasi pendidikan yang berlangsung dalam kelarga ini ternyata memerlukan kerjasama antara orangtua dan guru. Kerjasama itu semakin efektif bila masing-masing pihak sadar dalam memanfaatkan teknologi sejauh ada. Ternyata, pandemi ini juga ada sisi positifnya ya... Selamat merayakan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2020... Selamat menempuh bentuk baru pendidikan Indonesia...  

Sumber Pustaka:
Albertus Adit. “Diskusi Mendikbud dan Najwa Shihab, Ini Dampak Positif-Negatif Corona di Dunia Pendidikan” dalam https://www.kompas.com/edu/read/2020/05/03/092749071/diskusi-mendikbud-dan-najwa-shihab-ini-dampak-positif-negatif-corona-di?page=all. Diakses 3 Mei 2020.
Bartolomeus Samho dan Oscar Yasunari. Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Tantangan-tantangan Implementasinya di Indonesia Dewasa ini. Bandung: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Katolik Parahyangan. 2010.
Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia. Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia. 1993.
Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia. Familiaris Consortio (Keluarga), Seri Dokumen Gerejawi No. 30. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia. 2019.