Senin, 18 Desember 2017

Menjalankan Tradisi Doa Devosi kepada Maria

Memasuki bulan Oktober, Ruang Podjok bersama seluruh Gereja Katolik menjalankan tradisi doa devosi melalui Maria. Doa Rosario... inilah doa yang dipilih dalam bulan ini. Doa yang termasuk devosi kepada Maria ini dilakukan dua kali dalam bulan Oktober, yaitu Jumat Pertama (6/10/2017) dan Jumat Ketiga (20/10/2017). 


Doa Rosario merupakan doa sederhana yang dilakukan dengan cara mengulangi doa Salam Maria sebanyak 50 kali... Inilah catatan yang dapat diberikan Penjaga Podjok mengenai Doa Salam Maria dan Doa Rosario:

Salah satu doa dan devosi sederhana yang populer di kalangan umat Katolik ialah “Salam Maria” dan “Rosario”. Dalam keduanya, umat Katolik merenungkan karya penebusan Kristus yang menjadi inti sejarah keselamatan. Kedua doa itu memiliki sejarah yang sangat panjang dan saling mempengaruhi.

Berawal di Abad VI
Doa Salam Maria mulai dikenal secara luas sejak abad XI. Namun, tradisi doa itu konon sudah dimulai sejak abad VI. Adalah Ildephonsus, seorang pemuda turunan bangsawan yang memiliki banyak harta kekayaan dan dihormati masyarakat. Kehidupannya dihiasi dengan kesenangan-kesenangan duniawi bersama dengan kawan-kawannya. Namun, Tuhan mempunyai suatu rencana khusus Atas rahmat Allah, Ildephonsus mengubah cara hidupnya, meninggalkan segala kefanaan duniawinya, lalu mengikuti Yesus. Ia pun mengajukan permohonan kepada pimpinan sebuah biara, dekat Toledo, Spanyol untuk menjadi seorang biarawan. Permohonannya diterima. Sejak itu ia mulai menjalani sebuah corak hidup yang baru, yang bisa lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan. 
Perkembangan hidup rohani menjadi perhatiannya yang utama. Devosi kepada Bunda Maria merupakan kecintaannya. Ia kemudian dipilih menjadi Abbas biara itu. Sebagai pimpinan biara, Ildephonsus mengerahkan seluruh perhatian dan dayanya demi kemajuan biaranya. Dengan bijaksana dan pandangan-pandangannya yang baik, ia mampu melawan ajaran yang tidak benar. Pernah ia menulis sebuah buku untuk melawan ajaran sesat yang menyangkal Keperawanan Bunda Maria sebagai Bunda Allah. Pada tahun 657, ia diangkat menjadi Uskup Agung kota Toledo. Dengan bijaksana ia memimpin umatnya. 
Konon, dari mulut Ildephonsus inilah lahir doa Salam Maria yang sangat terkenal itu. Dialah yang mulai mendaraskan bagian pertama doa Salam Maria yang dikenal dengan kata-kata “Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu”. Namun, kisah ini tidak pernah dicatat dalam tulisan dan hanya menjadi cerita dari mulut ke telinga orang-orang pada saat itu. Ini menunjukkan bahwa sangatlah sedikit jejak doa Salam Maria sebelum tahun 1000 M.

Dicatat Paling Awal Abad XI
Catatan paling awal yang bisa ditemukan perihal doa kepada Ibu Maria itu ditemukan dalam dua manuskrip Anglo Saxon yang berangka tahun kira-kira 1030. Saat itu, berkembanglah kebiasaan memberi salam kepada Bunda Maria bila seseorang melewati patung Maria. Rumusan doanya pun masih sangat sederhana “Salam Maria, terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu.” Abas Baldwin, seorang rahib Cisterciensis yang saat itu menjadi Uskup Agung Cantebury, mencatat kebiasaan mendoakan Salam Maria itu sebagai berikut: 

“Terhadap salam malaikat yang kami gunakan untuk menghormati Perawan Tersuci melalui devosi, kami terbiasa menambahkan kata-kata, “dan terpujilah buah tubuhmu,” ungkapan yang dinyatakan oleh Elizabeth saat mendengar salam Maria. Dengan demikian melengkapi kata-kata malaikat, ‘terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu.’”

Tidak lama kemudian, tercatatlah dalam dekrit sinode milik Eudes de Sully, Uskup Paris, (sekitar tahun 1196) yang menyatakan bahwa “Salam kepada Perawan Tersuci” sangatlah dikenal oleh para jemaatnya, seperti halnya Syahadat dan Doa Bapa Kami. Setelah, kebiasaan yang sama menjadi sangat lazim di berbagai dunia, dimulai dari Inggris seperti dinyatakan Sinode Durham pada tahun 1127.
Kebiasaan memberikan salam kepada Maria ini merupakan kebiasaan yang sudah mentradisi disertai dengan berbagai gerak tubuh. Santo Aybert, pada abad XII, memiliki kebiasaan mengulangi 150 Salam Maria dengan 100 kali menekuk lutut dan 50 kali bersujud. Santo Louis dari Prancis berlutut dan berdiri sebanyak 50 kali setiap sore sambil mendaraskan Salam Maria secara pelan-pelan. Kebiasaan ini sangatlah umum dalam beberapa kelompok religius. Dalam dokumen Ancren Riwle, sebuah risalah yang mengulas manuskrip Corpus Christi 402 yang berumur lebih tua dari tahun 1200 menunjukkan bahwa para biarawati diperintahkan untuk menekuk lutut sesuai dengan masa liturgi pada saat mendaraskan Doa Kemuliaan dan Salam Maria. Pada masa ini, pendarasan doa Salam Maria disertai dengan tindakan menekuk lutut dan bersujud dianggap sebagai denda dosa seperti dicatat oleh Santa Margareta († 1292), saudara perempuan Raja Hungaria, yang mempraktekkan pendarasan doa Salam Maria disertai tindakan bersujud. 

Berkembang Mulai Abad XII
Lama kelamaan, jumlah doa Salam Maria didaraskan dihitung pada tali Pater Noster. Saat itu, berkembanglah kebiasaan menggantikan doa Bapa Kami dengan doa Salam Maria. Tradisi ini meniru kebiasaan doa di kalangan para rahib di dalam kehidupan monastik zaman dahulu. Pada masa itu, para rahib biasanya setiap hari mendaraskan 150 buah Mazmur (Doa Ofisi) sebagaimana terdapat di dalam Kitab Suci. Para rahib yang buta huruf mengganti pendarasan Mazmur itu dengan 150 buah doa yang lain. Biasanya doa pengganti itu ialah doa Pater Noster (Bapa Kami) yang memang sudah sejak Gereja perdana dianggap sebagai doa Gereja yang paling penting disamping Kredo. Untuk mempermudah mereka mengetahui sudah berapa kali doa Bapa Kami yang didaraskan, mereka menggunakan seutas tali bersimpul atau bermanik-manik. Oleh karena itulah, tali itu disebut juga Pater Noster.
Pada jaman dulu doa-doa Gereja berpusat pada mazmur Daud. Ada sekitar 150 mazmur yang biasa didoakan oleh para rahib di biara. Mereka membagi 150 mazmur itu atas tiga bagian yaitu waktu doa  pagi, siang dan malam sehingga menjadi 3 kali 50 mazmur. Namun demikian tidak semua umat dapat membaca atau memiliki buku doa mazmur. Sebagai gantinya mereka mendaraskan doa Bapa Kami (sebagai ganti dari 150 mazmur Daud). Dan untuk menjamin konsentrasi dalam berdoa, mereka memakai bantuan hitungan tasbih.
Jumlah doa Salam Maria yang didaraskan tetap 150 sesuai jumlah Mazmur yang didaraskan oleh para rahib. Karena pada masa itu 150 buah Mazmur sudah dibagi dalam tiga bagian masing-masing terdiri 50 buah, maka doa Salam Maria yang didaraskan para rahib itu pun dibagi dalam tiga bagian. Rangkaian Salam Maria yang terdiri dari 50 buah itu disebut “Corona” (mahkota). Kata ini mengingatkan kita akan hiasan-hiasan kembang yang menyerupai mahkota yang biasanya dibuat pada arca Bunda Maria. Saat itulah mulai berkembang devosi Rosario.
Rosario berasal dari kata bahasa Latin yaitu rosa yang artinya bunga mawar. Rosario sendiri dapat diartikan sebagai rangkaian bunga mawar. Dalam budaya masyarakat Eropa bunga mempunyai arti yang sangat penting yaitu sebagai tanda cinta atau hormat. Pada abad pertengahan umat Kristen yang menyadari diri sebagai hamba-hamba Maria merangkaikan bunga mawar untuk dipersembahkan kepada Maria. Mereka meletakannya di rumah ibadat di depan gambar atau patung Santa Maria. Dalam proses merangkaikan bunga mawar itu, mereka mengucapkan litani pujian kepada Maria.
Struktur rosario perlahan-lahan berkembang antara abad ke-12 dan abad ke-15 seiring juga dengan perkembangan doa Salam Maria. Dominikus dari Prussia, seorang biarawan Carthusian, pada tahun 1409 mempopulerkan praktek mempertalikan 50 ayat mengenai hidup Yesus dan Maria dengan 50 Salam Maria. Pada masa itu, bentuk doa ini dikenal sebagai rosarium (“kebun mawar”) yang berarti bunga rampai. Istilah ini dipergunakan untuk menyebut suatu kumpulan bahan yang serupa, misalnya suatu bunga rampai kisah-kisah dengan subyek atau tema yang sama. Tahun 1568, bagian kedua doa Salam Maria yaitu “Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati. Amin”, menjadi doa resmi semenjak Paus Pius V ( 1566-1572) meresmikan terbitan “Breviarium” (doa harian Gereja). Namun bagian dua itu baru diterima umum pada abad XVII. Sejak saat itu, rumusan doa Salam Maria menjadi lebih panjang, yaitu “Salam Maria penuh rahmat. Tuhan sertamu. Tepujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus. Santa Maria Bunda Allah. Doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati. Amin.”
Pada abad ke-16, struktur lima misteri rosario didasarkan pada tiga rangkaian peristiwa: Peristiwa GEMBIRA, Peristiwa SEDIH dan Peristiwa MULIA. Setelah penampakan Bunda Maria di Fatima pada tahun 1917, pada akhir setiap misteri ditambahkan doa : “Ya Yesus yang baik, ampunilah segala dosa kami, lindungilah kami dari api neraka. Hantarlah segala jiwa ke dalam surga, terlebih jiwa yang sangat membutuhkan kasih sayang-Mu.” Sedangkan Peristiwa CAHAYA ditetapkan pada tahun 2002 oleh Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II. 
Semangat dan minat umat Katolik terhadap doa rosario mendorong Paus Leo XIII secara resmi menetapkan bulan Oktober sebagai bulan Rosario. Beliau menulis: "Kepada Bunda Surgawi ini kita telah persembahkan kembang-kembang mawar pada bulan Mei, maka kepadanya kita juga hendak mempersembahkan panen buah-buahan yang berlimpah pada bulan Oktober dengan hati yang penuh ikhlas." Pada tahun 1885, beliau mengatakan bahwa umat dapat memperoleh indulgensi dengan berdoa Rosario pada bulan Oktober.

Yang Kita Alami Kini
Tiap butir Salam Maria yang kita daraskan dalam Rosario mengajak kita melangkah bersama Maria. Dalam Rosario, kita memohon pencurahan Roh Kudus seperti Elisabeth yang dikuatkan Roh Kudus dalam perjumpaannya dengan Maria dalam peristiwa gembira. Dengan kepenuhan Roh Kudus, kita mohon agar iman kita dikuatkan dan kita diajak belajar untuk menanggalkan sikap egois dan menjadi rendah hati seperti Elisabeth. Tiap doa Salam Maria yang kita daraskan membuat kita menempati posisi Elisabeth saat mengatakan “Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.”
Bunda Maria senantiasa menjadi teladan iman dan pelindung orang-orang Kristen yang percaya. Ketika Malaikat Gabriel datang kepadanya, ia percaya akan warta yang disampaikan malaikat dan tetap teguh pada imannya tanpa ragu sedikit pun meskipun harus melewati pencobaan gelap Kalvari. Bunda Maria mendampingi kita juga, yang adalah saudara dan saudari Putra-nya, sepanjang ziarah kita di dunia yang penuh dengan kesulitan dan mara bahaya.
Selama berabad-abad telah banyak umat Kristiani mengakui bahwa doa Salam Maria dan Rosario merupakan sumber rahmat rohani. Iman Maria pada Yesus tak dapat diragukan lagi. Iman Maria itu layak kita teladani dalam hidup kita sebagai umat beriman. Semoga kita bisa lebih memahami apa yang dialami Bunda Maria saat mengalami peristiwa-peristiwa gembira, sedih, mulia, maupun cahaya dan kita dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Jadi, dengan segala macam fakta yang sudah diakui berabad-abad lamanya akan manfaat doa Rosario, janganlah kita ragu untuk mendaraskannya dalam hari-hari di kehidupan kita. 



Inilah sedikit catatan yang dapat diberikan oleh Penjaga Podjok untuk mengenang bulan Oktober sebagai bulan Rosario...

Menyelami Kabar Gembira di Tengah Gaya Hidup Modern

Bulan September di Ruang Podjok selalu diisi dengan kegiatan yang sama dengan gerak Gereja Katolik di Indonesia. Bulan September adalah Bulan Kitab Suci Nasional atau yang sering disebut BKSN. Sudah beberapa tahun ini, Ruang Podjok melaksanakan pertemuan BKSN. Tema BKSN Tahun 2017 adalah “Kabar Gembira di Tengah Gaya Hidup Modern.” Tema ini merupakan tema pertama dari tema besar “Mewartakan Injil di Tengah Arus Zaman.” Selama 4 tahun, akan dibahas pewartaan kabar gembira di tengah dunia modern dengan tema: Kabar Gembira di tengah Gaya Hidup Modern (2017), Kabar Gembira di tengah Kemajemukan (2018), Kabar Gembira di tengah Krisis Lingkungan Hidup (2019), Kabar Gembira di tengah Krisis Iman dan Identitas Diri (2020). 
Tema ini juga erat dengan dokumen Evangelii Gaudium (2013) yang diterbitkan oleh Paus Fransiskus. Dokumen tersebut melukiskan masalah-masalah besar yang sedang melanda dunia seperti konsumerisme, hedonisme, sekularisme, inividualisme, kesenjangan sosial, dan fundamentalisme agama. Arus-arus zaman ini juga melingkupi kita. Kita hidup di tengah arus-arus tersebut dan harus bersikap atasnya. Melalui tema Bulan Kitab Suci Nasional tahun ini, kita diajak untuk mengambil sikap atas arus-arus yang ada dalam zaman kita. Untuk itulah, pada tahun ini, kita diajak untuk mendalami beberapa gaya hidup modern, yaitu Teknologi, Materialisme, Individualisme, dan Hedonisme.

Pertemuan BKSN Pertama: Menyikapi Teknologi dan Harta
Untuk melaksanakan pertemuan BKSN, Penjaga Podjok menjadwalkan dua kali pertemuan. Pertemuan pertama BKSN Ruang Podjok dilakukan pada hari Jumat Ketiga (15/09/2017). Dalam pertemuan pertama, anggota Ruang Podjok diajak untuk belajar menyikapi dua hal yang erat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu Teknologi dan Harta. Kita akan belajar bersikap tepat terhadap teknologi dan harta yang dipercayakan kepada kita dalam hidup harian. Bahan yang ditawarkan adalah Kej 11:1-9 dan Luk 12:13-31. 
Berkenaan dengan Kej 11:1-9, ada beberapa pertanyaan yang akan dibahas, yaitu: 1) Mengapa manusia mendirikan Menara Babel; 2) Apa yang dilakukan Allah terhadap rencana manusia tersebut; 3) Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah Menara Babel; 4) Sebutkan berbagai teknologi yang ada dalam hidup kita; 5) Apa manfaat teknologi bagi kita dalam kehidupan sehari-hari; dan 6) Bagaimana seharusnya kita memanfaatkan teknologi dalam hidup. Berkenaan dengan Luk 12:13-31, ada beberapa pertanyaan yang akan dibahas, yaitu: 1) Dalam perumpamaan, apa cita-cita orang kaya itu dan bagaimana dia mencapainya; 2) Tuhan melakukan apa pada orang kaya tersebut setelah cita-citanya tercapai; 3) Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah orang kaya tersebut; 4) Apakah arti harta bagi kehidupan kita; 5) Bagaimanakah manfaat harta dalam kehidupan sehari-hari kita; dan 6) Menurutmu, bagaimana menggunakan harta secara baik dalam kehidupan kita.
Seperti biasa, yang ikut pertemuan hari itu dibagi dalam beberapa kelompok. Hari itu, ada 4 kelompok yang dibagi untuk membahas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Bicara mengenai Menara Babel, anggota Ruang Podjok memiliki pendapat bahwa Menara Babel didirikan sebagai tanda atau patokan agar manusia tidak terserak ke seluruh bumi. Berhadapan dengan hal tersebut, yang dilakukan Allah adalah mengacaukan bahasa mereka sehingga mereka tidak lagi dapat saling mengerti. Yang dipelajari dari kisah Menara Babel adalah agar kita selalu taat kepada Allah. Berhadapan dengan kehidupan saat ini, ada beberapa teknologi yang ada dalam kehidupan kita antara lain handphone, laptop, tablet. Manfaat teknologi dalam kehidupan harian kita adalah membantu kita agar mudah melaksanakan tugas sehari-hari dan mempermudah manusia dalam mencari informasi. Cara yang seharusnya dilakukan dalam memanfaatkan teknologi tersebut adalah memanfaatkannya dengan baik, digunakan untuk mencari informasi yang dibutuhkan, dan tidak digunakan untuk melihat hal yang negatif. Berkenaan dengan Orang Kaya yang Bodoh, yang ikut kegiatan saat itu mengungkapkan pendapat bahwa orang kaya itu bercita-cita memiliki tempat yang lebih besar dan dapat digunakan untuk menyimpan hasil tanahnya. Ia pun merombak lumbung-lumbungnya sehingga menjadi lebih besar serta akan menyimpah di dalamnya segala gandum dan barang-barangnya. Namun malang, bahwa setelah cita-citanya tercapai, Allah mengambil jiwa orang kaya itu. Dari kisah Orang Kaya yang Bodoh, kita diingatkan untuk tidak menjadi orang yang tamak dan tidak memikirkan diri sendiri karena di hadapan Allah, hal itu tidak berguna. Harta adalah segala sesuatu yang dimiliki seseorang yang berwujud dan tidak berwujud dan bersifat duniawi. Manfaat harta adalah memenuhi kebutuhan sehari-hari, memenuhi kepuasan duniawi, dan sarana untuk berbagi kepada sesama. Cara yang baik untuk memanfaatkan harta adalah tidak berfoya-foya, suka menabung, tidak sombong, tidak takabur, suka berbagi, tidak korupsi, dan tidak serakah. 



Menanggapi sharing kelompok-kelompok tersebut, Penjaga Podjok memberikan catatan berikut ini:

“Manusia selalu berhubungan erat dengan teknologi dan harta. Hidup manusia semakin mudah karena adanya teknologi dan hidup manusia dapat menjadi bahagia karena adanya harta. Teknologi dan harta merupakan sarana untuk mempermudah dan membahagiakan manusia. Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia (Wikipedia). Dapatkah kita membayangkan apa yang akan terjadi jika manusia tidak menemukan roda? Atau dapatkah kita membayangkan yang terjadi jika tidak ada api dan listrik? Teknologi memang diciptakan untuk membuat kehidupan manusia semakin mudah. Melalui daya cipta, manusia menciptakan banyak hal yang dapat membantunya dalam menjalani kehidupan. Dengan berkembangnya teknologi, manusia semakin dapat menjalankan aktivitas secara efektif dan efisien. 
Selain teknologi, manusia juga menciptakan barang untuk dimiliki. Pada masa dimana kehidupan manusia masih sangat sederhana, yang dianggap sebagai harta adalah hasil panen, ternak, logam mulia, dan berbagai hal yang dapat dipakai sebagai alat tukar menukar dalam kehidupan ekonomi antar manusia. Lama kelamaan, manusia menciptakan bentuk harta yang lebih ringkas dan mudah disimpan, yaitu uang. Uang sangatlah bermanfaat karena praktis, mudah dibuat, mudah disimpan, dan bisa digunakan kapan saja. Uang  membuat orang dapat memiliki hal-hal yang diinginkan. Jumlah uang sangat menentukan kualitas barang atau jasa yang akan kita dapatkan. Intinya, uang itu enak, bagus, cantik, empuk, nyaman dan lain-lain.
Dalam kehidupannya, manusia dapat mengalami dimana hidupnya dikuasai oleh teknologi dan uang. Kehidupan manusia yang sangat dikuasai teknologi disebut kecanduan teknologi dan kehidupan manusia yang sangat dikuasai oleh harta disebut situasi materialistik. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana manusia bisa memanfaatkan teknologi dan harta dengan cara yang dikehendaki Tuhan? Untuk menjawabnya, kita akan merenungkan terlebih dahulu tujuan manusia diciptakan. Untuk itu, kita akan belajar dari pendapat Santo Ignatius Loyola. Ignatius Loyola menuliskan tujuan hidup manusia dalam bukunya yang berjudul “Latihan Rohani”: “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan”  Manusia diciptakan untuk memuji, memuliakan, dan mengabdi Allah dengan menggunakan seluruh cara yang ada. Melalui tindakan itu, manusia mencapai tujuannya dan  menyelamatkan dirinya sendiri. Dari tulisan tersebut, jelas bahwa semua yang ada di dunia ini harus digunakan oleh manusia untuk mencapai tujuan penciptaan. Karena itu, semua hal yang ada harus digunakan oleh manusia untuk memuji, memuliakan, dan mengabdi Allah. Dengan demikian, teknologi dan harta pun harus digunakan untuk memuji,  memuliakan, dan mengabdi Allah.
Pertanyaannya sekarang adalah apakah aku sudah menggunakan teknologi dan hartaku untuk memuji, memuliakan dan mengabdi Allah? Mari kita semakin memanfaatkan teknologi dan harta untuk memuji, memuliakan dan mengabdi Allah... Semoga kita boleh mengusahakan diri untuk melakukan itu semua...”

Pertemuan BKSN Kedua: Aktif Bersatu dan Berbagi
Selepas pertemuan pertama, pertemuan kedua BKSN dijalankan pada hari Jumat Kelima (29/09/2017). Dalam pertemuan kedua ini, anggota Ruang Podjok akan diajak untuk belajar menyikapi dua sikap hidup berkenaan dengan orang lain, yaitu Sikap Mau Hidup Bersama dan Mau Berbagi. Dua sikap hidup ini akan kita perdalam agar kita menyikapi dengan baik paham Individualisme dan Hedonisme. Bahan yang menjadi materi pendalaman hari ini adalah Kis 2:41-47 dan Yak 3:14–4:3. 
Berkenaan dengan Kis 2:41-47, ada beberapa pertanyaan yang dapat didalami, yaitu: 1) Hal-hal apa yang dilakukan oleh Jemaat Perdana saat itu; 2) Sikap hidup semacam apa yang ingin dicapai oleh Jemaat Perdana dengan melakukan hal-hal tersebut; 3)  Akibat atau dampak apa yang didapatkan dari cara hidup yang dipraktekkan oleh Jemaat Perdana itu; dan 4) Pelajaran apa yang dapat kita petik dari cara hidup Jemaat Perdana itu. Berkenaan dengan Yak 3:14-4:3, ada beberapa pertanyaan yang diajukan, yaitu: 1) Sebutkan yang termasuk “hikmat  yang datang dari atas” dalam Surat Yakobus tersebut; 2) Sebutkan yang termasuk “hikmat  yang datang dari dunia” dalam Surat Yakobus tersebut; 3) Apa akibatnya jika seseorang menuruti “hikmat yang datang dari atas” dan “hikmat yang datang dari dunia”; dan 4) Pelajaran apa yang dapat kita petik dari pengajaran yang diberikan oleh Surat Yakobus tersebut. 
Sama seperti pada pertemuan pertama, hari itu, ada 4 kelompok yang dibagi untuk membahas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Bicara mengenai Surat Yakobus, para peserta pendalaman menemukan bahwa yang termasuk hikmat dari atas adalah murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan, buah-buah yang baik, tidak memihak, dan tidak munafik; sedangkan yang termasuk hikmat dari dunia adalah iri hati, mementingkan diri sendiri, memegahkan diri, dan berdusta melawan kebenaran. Akibat yang ditimbulkan jika seseorang menuruti hikmat dari atas adalah kedamaian, sedangkan yang ditimbulkan jika seseorang menuruti hikmat dari dunia dalah kekacauan dan segala perbuatan yang jahat. Surat Yakobus ini mengajarkan agar tidak menaruh perasaan iri hati, tidak mementingkan diri sendiri, tidak memegahkan diri, dan tidak berdusta melawan kebenaran. Bicara mengenai Kisah Para Rasul, para peseta pendalaman menemukan bahwa ada banyak hal yang dilakukan dalam jemaat perdana, yaitu memberi diri dibaptis, bertekun dalam pengajaran para rasul, selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa, selalu ada yang menjual harta miliknya dan membagikan kepada setiap orang sesuai keperluannya, serta memuji Allah. Sikap hidup tersebut diarahkan pada satu cita-cita, yaitu taat dan percaya kepada Allah, serta menganggap segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. 



Sebagai peneguhan, Penjaga Podjok memberikan catatan berikut ini: 

“Dalam pertemuan kedua ini, kita diajak untuk meminimalisir dua arus zaman kita, yaitu Individualisme dan Hedonisme. Individualisme adalah sikap hidup yang melulu mementingkan diri sendiri dan tidak mau peduli dengan rasa kebersamaan sehingga orang tidak lagi mau menjadi     satu dan peduli dengan orang lain. Hedonisme adalah cara hidup yang menem-patkan kesenangan dan kenikmatan pribadi sebagai prioritas tertinggi sehingga orang tidak lagi mau peduli dengan situasi orang-orang sekitarnya. Individualisme dan Hedonisme berakibat pada sikap tidak mau  tau, tidak mau hidup bersama, tidak peduli dan tidak mau berbagi dengan orang lain. Kebersamaan, kepedulian dan kemauan untuk berbagi menjadi mati. Gereja Katolik ingin mengajak kembali seluruh umat untuk menyadari dirinya sebagai bagian dari orang lain serta tidak melulu memikirkan kesenangan dan kenikmatan pribadinya. Gereja Katolik ingin mengajak seluruh umat untuk mau hidup bersama, peduli, dan berbagi bersama dengan orang lain. Kebersamaan merupakan nilai yang penting karena kebersamaan itu menguatkan relasi di antara manusia. Manusia menjadi lebih kuat jika bersama. Kita mengenal pepatah “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Artinya, melalui kebersamaan, kita akan menjadi kuat dalam menghadapi segala sesuatu. 
Gereja Katolik dapat bertahan hidup karena unsur kesatuan yang ada di dalamnya. Gereja itu diwarnai dengan persekutuan, persatuan, perkumpulan, komunio. Inilah dimensi pertama dalam Gereja. Almarhum Kardinal Darmajoewana pernah mengatakan, “Yen ora kumpul mesthi ucul – Jika orang Katolik tidak pernah berkumpul dengan saudaranya, lambat laun dia akan terlepas dari persekutuan Gereja Katolik.” Dalam kebersamaan dan kesatuan itu, Gereja mengembangkan sikap mau peduli dan berbagi. Jemaat perdana telah memberi-kan contoh bahwa dalam persekutuan, mereka berbagi dan peduli dengan sesama anggota jemaat. Mereka tidak hanya mementingkan kesenangan dan kenikmatan pribadi, tetapi juga keperluan sesamanya. Kita diberi contoh menggunakan kesenangan dan kenikmatan yang kita alami. Kita boleh mengejar kesenangan dan kenikmatan, tetapi tidak boleh keterlaluan dan harus memperhatikan sesama kita. Setiap kali kita meng-ikuti Ekaristi, kita juga diajak untuk membangun sikap mau peduli dan berbagi kepada sesama kita. Kolekte yang kita berikan tidak saja untuk kepentingan gereja kita sendiri, tetapi juga orang lain. Santa Teresa dari Kalkuta pernah mengatakan, “Bukanlah seberapa banyak jumlah yang engkau berikan tetapi seberapa banyak kasih yang engkau berikan dalam pemberian itu.” Hidup bersama, mau peduli, dan mau berbagi merupakan panggilan setiap orang Katolik. Hidup kita sebagai orang Katolik ditandai dengan hal-hal tersebut. Pertanyaannya sekarang adalah apakah aku mau aktif, mau peduli dan berbagi dalam Gereja maupun masyarakat? Mari kita semakin semakin aktif dalam kegiatan Gereja dan masyarakat serta mau peduli dan berbagi. Santo Filipus Neri mengatakan, 'Beruntunglah kalian orang-orang muda karena kalian punya banyak waktu untuk berbuat baik.' Semoga kita semakin tergerak untuk berbuat baik..."

Pembinaan Rohani Susulan untuk Siswa-siswi Kelas XI yang Tidak Ikut Retret

Sehari setelah pemaparan program, Kerohanian Katolik dengan Kerohanian Kristen bekerjasama untuk melaksanakan program Pembinaan Rohani Susulan untuk Siswa-siswi Kelas XI yang Tidak Ikut Retret. Sabtu (19/08/2017),  Pembinaan Rohani ini dilaksanakan selama satu hari dan mengambil tempat di kompleks Gereja Kristen Jawa (GKJ) Kerten, Laweyan, Surakarta. Hari itu, para peserta dibimbing oleh Ibu Pendeta Magdalena Eli dari GKJ Kerten. Materi yang disampaikan beliau adalah materi penemuan diri. Materi ini menjadi dasar untuk pendalaman rohani agar setiap peserta menemukan hal-hal baik yang dapat mereka kembangkan untuk hidup di kemudian hari. Pagi itu, para peserta diajak untuk melihat ke dalam diri sendiri dan berpikir mengenai apa yang dapat dilakukan setelah memahami dirinya sendiri.


Setelah sesi materi penemuan diri, acara pembinaan rohani dilanjutkan dengan sesi outbond. Outbond ini dilaksanakan di seputar kompleks GKJ Kerten. Dengan cerdas, panitia mengolah sesi outbond ini dengan memanfaatkan situasi lingkungan sekitar. Permainan-permainan yang disajikan di dalam sesi outbond ini berhasil membangkitan kegembiraan bagi para peserta. Outbond merupakan sarana untuk menemukan pembelajaran sambil melakukan permainan-permainan. Manusia pada dasarnya adalah manusia yang bermain – homo ludens. Oleh karena itu, manusia harus bermain dengan serius agar tidak menjadi main-main. Dalam permainan outbond ini, peserta dibagi menjadi 4 kelompok. Dalam satu permainan, kadangkala ada dua kelompok yang bermain dan bersaing. Dalam permainan itu, ada 4 pos yang harus dilewati oleh masing-masing kelompok, yaitu Estafet Rafia, Apit Bola, Estafet Karet Bertepung, dan Estafet Air dalam Spons. 







Setelah bermain, masing-masing kelompok pun menuliskan nilai-nilai yang didapatkan melalui permainan itu. Berikut inilah catatan dari masing-masing kelompok:

Kelompok Kaos Polos menuliskan bahwa nilai yang mereka pelajari adalah kerjasama, kekompakan, dan kelincahan (Pos 1); kecepatan, kelincahan, dan kerjasama (Pos 2); konsentrasi (Pos 3); serta berani dan tepat dalam mengambil keputusan (Pos 4).

Kelompok Baju Kotak-kotak menuliskan bahwa nilai yang mereka pelajari adalah kerjasama dan kekompakan (Pos 1); kecepatan dan kelincahan (Pos 2); kerjasama dan ketepatan waktu (Pos 3); serta kerjasama, kekompakan, dan ketepatan dalam waktu (Pos 4).

Kelompok Baju Bunga-bunga menuliskan bahwa nilai yang mereka pelajari adalah kerjasama dan kekompakan (Pos 1); konsentrasi, kecerdasan, dan keseimbangan (Pos 2); konsentrasi, kelincahan, dan teknik (Pos 3); serta kerjasama dan kelincahan (Pos 4).

Kelompok Kemeja Polos menuliskan bahwa nilai yang mereka pelajari adalah kerjasama dan kesabaran (Pos 1); konsisten dan tanggung jawab (Pos 2); kejujuran dan kerjasama (Pos 3); serta kerjasama, kekompakan, dan kejujuran (Pos 4).

Setelah menjalani beberapa permainan, para peserta pun menutup kegiatan pembinaan rohani dengan sesi pengembangan diri. Sesi ini disampaikan oleh Penjaga Podjok. Dalam sesi ini, para peserta diajak untuk mendalami tema “Menjadi Terang dalam Kemuliaan Tuhan.” Tema ini tidak lepas dari visi Gereja untuk  membangun jemaat yang memiliki iman yang semakin mendalam dan tangguh. Iman yang Mendalam artinya mampu mengetahui imannya secara benar dan dapat menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan iman yang mendalam, orang mulai mau belajar tentang imannya sendiri serta menggunakan iman itu untuk semakin mengembangkan kehidupan diri sendiri maupun kehidupan orang lain. Iman yang mendalam diperlukan agar kita menjalani hidup dengan benar. Orang yang beriman mendalam selalu memiliki jawaban iman dalam menghadapi setiap masalah. Iman yang mendalam itu membuat manusia dapat mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Kehidupan orang yang beriman mendalam pasti berbeda dengan orang lain karena ia selalu melibatkan Tuhan dalam setiap persoalan hidupnya. Hidupnya tidak lagi berada di permukaan tetapi ia dapat menemukan kehendak Tuhan dalam setiap langkah hidup yang ditempuhnya. Satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah perubahan. Perubahan hidup menjadi lebih baik merupakan tanda dari pertobatan. Iman yang Tangguh artinya tahan terhadap segala tantangan dan godaan. Dewasa ini, banyak tantangan dan godaan yang hadir dalam kehidupan kita. Banyak arus zaman - seperti kenyamanan, kemalasan, kepraktisan, keinginan untuk dapat hasil besar tanpa berusaha – yang menjadi tantangan dalam kehidupan kita. Untuk itu, kita harus memiliki iman yang tangguh. Iman yang mendalam dan tangguh harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga orang secara konkret menjadi garam dan terang dunia.
Inspirasi Kitab Suci yang diambil adalah Kisah Musa (Kel 3:1-12). Musa menjadi teladan kaum muda yang terpanggil untuk melaksanakan kehendak Allah. Awalnya Musa ragu, tetapi dia kemudian mau untuk melaksanakan panggilan itu. Para peserta pembinaan rohani diajak untuk menjadi seperti Musa. Meskipun muda, setiap orang Kristiani diajak untuk menjawab panggilan Tuhan. Kemudaan bukan halangan untuk memenuhi panggilan Tuhan. Memang kadangkala kita yang muda merasa ragu, tetapi Tuhan akan membantu. Allah sendiri berjanji bahwa Ia akan mendampingi Musa yang akan diutus kepada bangsa Mesir. Ia memberikan tanda pengutusan kepada orang yang diutus dan dipilihnya (Kel 3:12). Allah membekali kita dengan berbagai kemampuan dan talenta. Temukan kekuatan dan keterbatasanmu. Kembangkan secara maksimal sehingga dapat menjadi berkat bagi sesama. Inspirasi Kitab Suci ini menjadi penting karena kaum muda saat ini menghadapi berbagai hal yang kadangkala tidak mudah, antara lain: pengaruh teknologi informasi yang tidak terbendung, budaya instan merajalela, jarang membaca, logika dan penalaran lemah, komunikasi lemah dan terbatas, kreativitas menurun, serta kemampuan untuk memecahkan masalah melemah. Situasi saat ini tampaknya mewakili apa yang dirisaukan oleh Albert Einstein, “Saya takut bahwa tampaknya telah tiba saat dimana teknologi melampaui hubungan antar manusia. Hal itu akan membuat dunia memiliki generasi idiot.” Hal ini membuat kaum muda bisa bertanya pada diri sendiri, “Bagaimana dengan kita? Akankah kita menjadi generasi idiot seperti yang diramalkan Einstein?” Kaum muda diajak untuk berbuat sesuatu bagi lingkungan sekitarnya. Soekarno mengatakan, “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” 
Mari menjadi pemuda-pemudi yang memiliki terang untuk mengubah dunia menjadi lebih baik...

Minggu, 17 Desember 2017

Rangkuman Kegiatan Satu Semester...

Tidak terasa ternyata waktu berlalu begitu cepat... Hari ini, ternyata sudah hampir sampai di penghujung Semester Gasal... Kalau sudah seperti ini, tandanya bahwa Penjaga Podjok sudah harus menuliskan berbagai kegiatan yang ada di Ruang Podjok... Dalam beberapa posting berikut ini, Penjaga Podjok ingin sedikit berkisah tentang berbagai kegiatan yang telah terjadi di semester ini... Silakan diikuti dalam empat posting berikut ini: 1) Pembinaan Rohani Susulan untuk Siswa-siswi Kelas XI yang Tidak Ikut Retret, 2) Menyelami Kabar Gembira di Tengah Gaya Hidup Modern, 3) Menjalankan Tradisi Doa Devosi kepada Maria, dan 4) Mengenang dan Mendoakan Anggota Keluarga yang Telah Meninggal. Selamat membaca kisah-kisah yang ada di Ruang Podjok...

Salam...
Penjaga Podjok

Rabu, 27 September 2017

Paparan Rencana Kegiatan dan Kenalan Anggota Baru Ruang Podjok

Setelah mengadakan Misa Jumat Pertama, Ruang Podjok kembali mengadakan kegiatan pada Jumat Ketiga. Hari itu, Jumat (18/08/2017), diselenggarakanlah rembugan untuk menyusun rencana kegiatan selama setahun. Dalam pertemuan itu, ditetapkanlah kegiatan-kegiatan yang akan diselenggarakan. Secara umum, kegiatan di Ruang Podjok masih mengikuti alur kegiatan gereja seperti Bulan Kitab Suci Nasional, Bulan Rosario, Bulan Arwah, Natalan, APP, Paska, dan sebagainya. Yang baru pada tahun ini adalah pelaksanaan Dana Sosial Pendidikan yang semula diadakan setiap Jumat menjadi program setiap minggu pertama dalam bulan.Selain menjadi ajang rembugan, acara kumpul awal tahun Ruang Podjok ini menjadi ajang kenalan satu sama lain. Tahun ini, anggota Rohkat SMK Negeri 3 Surakarta ada 36 siswa/i. Puji Tuhan ada 14 tambahan sahabat di Ruang Podjok. Ada 13 orang dari kelas X dan ada 1 orang dari kelas XI. Yang dari kelas X adalah Cicilia Deviana Riesta Liestyowati, Fajar Purnami, Yustina Putri Mardianti, Tri Astuti Elizabeth, Frenni Ismaya, Intan Putri Kawuri, Dwi Puspita Asri, Fryca Adinda Saputri, Gracia Leoni Sekar Gusmiari, Oktavia Dini Probo Saputri, Nanda Wahyu Natalia, Patrik Ananda Dian Nugraha, Reginatalia Cahyaning Putri Menge. Ada satu orang dari Kelas Akuntansi, dua orang dari Kelas Administrasi Perkantoran, tiga orang dari Kelas Pemasaran, empat orang dari Kelas Tata Busana, serta tiga orang dari Kelas Multimedia. Sedangkan, yang dari kelas XI adalah Jonathan Satria Finendra dari Kelas Multimedia. 


Terima kasih Tuhan karena Engkau mengirimkan sahabat-sahabat baru untuk bergabung dalam Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta. Semoga semuanya boleh berjalan bersama untuk mencari kehendak Tuhan dalam kehidupan...

Selasa, 26 September 2017

Memulai Kegiatan dengan Misa Awal Tahun

Minggu pertama bulan Agustus menjadi titik awal seluruh kegiatan Ruang Podjok. Untuk memulai seluruh kegiatannya, akhir bulan Juli, Penjaga Podjok sowan ke Paroki San Inigo Dirjodipuran untuk nyuwun Misa. Permohonan untuk pelayanan Ekaristi sengaja dijatuhkan pada Jumat pertama agar tidak terlalu jauh dengan awal Tahun Pelajaran. Beberapa hari sebelum hari Jumat, Penjaga Podjok mendapat kepastian bahwa yang berkenan mempersembahkan Misa adalah Romo Agustinus Sudarisman atau yang sering disapa dengan Romo Daris, Romo Kepala Paroki San Inigo Dirjodipuran. Terima kasih atas kesediaan dan pelayanan Romo kepada kami. 
Hari Jumat (04/08/2017) pada waktu istirahat kedua, Ekaristi Mohon Berkat untuk Tahun Pelajaran baru dilaksanakan. Menjelang pelaksanaan Misa, Ruang Podjok disulap menjadi ruang yang dapat menampung kira-kira 30-an anggota Ruang Podjok. Meja kursi dipinggirkan supaya ada ruangan yang cukup luas untuk kegiatan rohani. Tidak seperti tahun-tahun yang lalu, kegiatan Ruang Podjok tidak lagi bisa dilaksanakan di kelas-kelas karena kelas-kelas pun sekarang terpakai untuk kegiatan siswa akibat kebijakan lima hari sekolah. Akhirnya, Ruang Podjok pun diupayakan untuk dapat menampung anggotanya dalam melaksanakan kegiatan. Memang Misa kali ini menjadi trial untuk penempatan perabot di Ruang Podjok saat kegiatan bersama. Semoga ke depan, muncul gagasan-gagasan kreatif untuk semakin membuat Ruang Podjok sebagai ruang yang nyaman untuk berbagai kegiatan rohani. 
Siang itu, sekitar 20 anggota Ruang Podjok mengikuti Perayaan Ekaristi. Ada pula dua orang Bapak Ibu Guru, selain Penjaga Podjok yang mengikuti Ekaristi hari itu, yaitu Ibu Herwijati dan Bapak Yudhi. 


Dalam kotbahnya, Romo Daris menyinggung keutamaan-keutamaan yang ada dalam diri Santo Yohanes Maria Vianney. Santo Yohanes Maria Vianney adalah seorang imam yang berkarya di Desa Ars, Perancis. Ia ditempatkan di desa karena semasa pendidikan imamat, ia bukanlah imam yang pandai dan cemerlang seperti teman-temannya yang lain. Berkat kesalehannya, ia pun membukakan mata dunia untuk melihat sisi lain dari dirinya. Ia pun berhasil mempertobatkan banyak orang di Desa Ars. Semakin banyak orang yang tertarik karena kesalehan Vianney. Konon, ia dapat menjalankan tugas-tugasnya dengan baik meskipun hanya makan sebutir kentang setiap hari. Ia dapat berjam-jam duduk di kamar pengakuan memberikan pelayanan Sakramen Tobat. Kehidupan Yohanes Maria Vianney menjadi cermin bagi kita semua untuk menjalani hal-hal yang utama dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai pelajar, apa yang sudah dilakukan untuk menjalani hidup baik dalam kehidupan kita. Semoga teladan Santo Yohanes Maria Vianney menggerakkan kita untuk mencari hal-hal yang utama dalam hidup kita.

Jumat, 22 September 2017

Belajar Bersama Para Guru Agama Katolik Kota Surakarta dalam Peningkatan Kompetensi

Beberapa hari menjelang Tahun Pelajaran Baru 2017/2018, datanglah permintaan dari Kantor Kementrian Agama Kota Surakarta kepada Penjaga Podjok untuk memberikan materi peningkatan kompetensi guru bagi Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kota Surakarta yang dilaksanakan pada hari Kamis, 13 Juli 2013 di Hotel Sarila Solo. Dalam acara itu, Penjaga Podjok diminta membagikan hasil pelatihan yang didapatkan pada bulan Mei di @ HOM Platinum Hotel, Jogjakarta.Hari H pun tiba. Kamis (13/07/2017), Penjaga Podjok datang pagi-pagi untuk mempersiapkan diri. Dalam kesempatan itu, Penjaga Podjok diminta untuk membawakan dua materi, yaitu Literasi dalam Pembelajaran Agama Katolik dan Penilaian Kurikulum 2013 Terbaru. Materi Literasi sebenarnya sudah lama diperkenalkan. Sudah sejak Mei 2016, gerakan ini disampaikan kepada para guru untuk dilaksanakan di sekolah. Selama setahun, ada berbagai pembelajaran mengenai Literasi. Mulai tahun ini, Literasi diterapkan dalam pembelajaran Agama Katolik. Literasi dimengerti sebagai kemampuan untuk mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas. Literasi dianggap merupakan inti kemampuan dan modal utama bagi siswa maupun generasi muda dalam belajar dan menghadapi tantangan-tantangan masa depan. Dengan Literasi, kaum muda dibekali dengan kemampuan membaca dan memahami bahan belajar agar dapat mengembangkan kompetensinya secara mandiri.
Dalam materi Literasi, Penjaga Podjok mengajak pada peserta untuk bersama-sama berpikir mengenai implementasi atau penerapan literasi dalam pembelajaran. Mengapa begitu? Karena belum ada contoh yang dapat diacu berkenaan dengan pembuatan dan pelaksanaan proses pembelajaran yang melibatkan literasi. Solusi yang ditawarkan adalah memasukkan literasi dalam proses 5 M. Adapun alurnya adalah sebagai berikut: Guru diajak untuk menggunakan proses literasi sejak tahap awal, yaitu Mengamati. Guru dapat menyiapkan sebuah “teks” yang cukup relevan untuk memancing minat siswa dalam mengikuti pembelajaran. Teks tidak harus dalam bentuk tulisan, tetapi juga dapat berbentuk media, gambar, grafik, foto atau perangkat multimedia yang berhubungan dengan materi.Setelah guru menyajikan “teks” kepada siswa, guru dapat mengamati sikap siswa terhadap “teks” tersebut dengan beberapa indikator berikut ini: 1) apakah siswa dapat mengidentifikasi informasi yang relevan dengan materi, 2) apakah siswa menanyakan istilah-istilah atau peristiwa yang sulit dipahami, 3) apakah siswa dapat membuat simpulan sementara atas teks. Langkah yang dilakukan oleh siswa ini dapat diintegrasikan dalam tahap Menanya.
Tahap ketiga adalah Mengumpulkan Informasi. Ini adalah tahap yang paling memungkinkan untuk melibatkan literasi secara optimal. Dalam tahap ini, guru berperan untuk menyediakan informasi selengkap mungkin dan sebanyak mungkin yang dapat diakses oleh siswa sebagai pendukung dalam proses belajar. Namun, tahap ketiga ini mungkin juga yang paling tidak memungkinkan untuk melibatkan literasi secara optimal karena alasan keterbatasan ini itu dan sebagainya. Yang pertama-tama dapat dilakukan adalah jadikan diri sendiri kaya akan bahan bacaan...Lanjut ke tahap keempat, Mengasosiasi, siswa dilibatkan untuk menemukan sesuatu dari kekayaan bacaan yang diberikan pada tahap ketiga. Guru dapat mengamati apakah siswa: 1) membuat ringkasan, 2) mengevaluasi teks, 3) mengonfirmasi, merevisi, atau menolak simpulan sementara yang mereka bentuk ketika berada dalam tahap Mengamati.
Tahap terakhir, Mengomunikasikan, siswa dilibatkan untuk bisa mengomunikasikan hasil pembelajaran yang mereka dapatkan. Guru dapat mengamati apakah siswa: 1) membahasakan pengertahuan dalam bahasanya sendiri, 2) memahami benar pengetahuan yang diperoleh, 3)  menggunakan moda lain untuk mengomunikasikan pengetahuan.
Inilah alternatif solusi yang dapat dipaparkan untuk mengimplementasikan literasi dalam pembelajaran.

Setelah memaparkan literasi dalam pembelajaran, Penjaga Podjok pun membawakan materi yang kedua, yaitu Penilaian Terbaru dalam Kurikulum 2013. Dua tahun lalu, Penjaga Podjok pernah juga membawakan materi tentang Penilaian Kurikulum 2013. Ada hal-hal yang baru yang disampaikan dalam pemaparan tahun ini. Memang demikianlah, pembelajaran harus selalu berubah dan berkembang seiring perkembangan zaman. Terima kasih atas kepercayaan dari Kantor Kementrian Agama Kota Surakarta yang telah memberi mandat kepada Penjaga Podjok untuk menyampaikan materi dalam Kegiatan Peningkatan Kompetensi Guru Agama Katolik Kota Surakarta... Semoga yang sedikit ini boleh membantu teman-teman guru untuk bersama-sama berkembang demi pelayanan yang lebih baik...