Senin, 02 Mei 2016

Sadar sebagai Garam dan Terang Dunia

Tidak terasa bahwa Prapaska tahun ini datang begitu cepat. Hari Rabu, 10 Februari 2016, seluruh orang Katolik sedunia memasuki Masa Prapaska yang diawali dengan Hari Rabu Abu. Hari Rabu Abu merupakan hari pengenangan awal masa pantang dan puasa yang akan dijalani oleh Gereja. Di Ruang Podjok, sebelum hari Rabu Abu, Penjaga Podjok mengingatkan para anggotanya untuk mengikuti Perayaan Ekaristi atau Ibadat Penerimaan Abu pada hari Rabu Abu itu. Menerima abu menjadi tanda bahwa manusia itu rapuh dan penuh dosa yang memerlukan pertobatan yang terus-menerus. Masa Prapaska tahun ini terasa istimewa karena Masa Prapaska ini berjalan seiring dengan Tahun Kerahiman Allah yang telah ditetapkan oleh Paus Fransiskus. Alangkah indahnya menghayati Masa Prapaska yang penuh dengan nuansa pertobatan sekaligus mencoba menghayati betapa Allah itu maharahim dan mau menerima kembali manusia yang mau datang kepadaNya.
Untuk menanggapi Masa Prapaska ini, Ruang Podjok pun membuat beberapa program yang diharapkan mampu menambah penghayatan dan pendalaman iman. Di Keuskupan Agung Semarang, tema yang dipilih untuk Masa Prapaska dan Aksi Puasa Pembangunan adalah Akulah Garam dan Terang Dunia. Inilah yang diungkapkan dalam Surat Gembala Prapaska 2016 Keuskupan Agung Semarang, "Tema ini menyadarkan jatidiri kita sebagai murid Yesus yang siap diutus untuk menaburkan garam kebaikan di tengah masyarakat sehingga kehidupan bersama tidak terasa hambar; untuk membawa terang sehingga memungkinkan setiap orang menemukan kebenaran dan jalan keselamatan. Seperti Simon dan Yesaya, semoga kita, murid Tuhan ini, juga berani menanggapi panggilan Yesus dengan memberikan jawaban: 'Inilah aku; utuslah aku menjadi garam dan terang dunia.'" 
Masih dari Surat Gembala Prapaska 2016 Keuskupan Agung Semarang, dinyatakan juga perutusan sebagai garam dan terang dunia, ​"Kita yakin bahwa panggilan dan perutusan kita sebagai garam dan terang dunia akan semakin meman tap kan iman kita. Dengan iman yang mantap itu kita memberi kesaksian melalui keteladan dan perbuatan yang berkenan kepada Allah serta berguna bagi masyarakat. Gagasan Romo Albertus Soegijapranata SJ tentang lingkungan, sewaktu masih berkarya di Bintaran pada tahun 1934, mendorong umat katolik untuk hadir dan terlibat dalam kehidupan bermasya rakat. Romo Soegija mengung kap kan: 'Alangkah baiknya kalau dalam setiap wilayah pemukiman terdapat ‘seorang pribumi yang bersemangat’ yang dapat mengumpulkan orang-orang katolik, supaya orang katolik tidak ‘berkedudukan’ di luar lingkungan hidup mereka (berkumpul pada hari Minggu di gedung gereja), melainkan supaya orang katolik tinggal di tengah-tengah masyarakat, sebagai orang beriman menjadi satu dengan hidup sosial'. Pemikiran itulah yang kemudian melahirkan sistem lingkungan dalam tata penggembalaan umat di paroki-paroki dan sangat khas di Jawa. Sistem lingkungan bukan semata-mata sistem administrasi, melainkan sebagai sarana keterlibatan sosial, supaya iman kristiani benar-benar berakar di masyarakat. Melalui karya nyata dalam keterli batan sosial di tengah masyarakat, kita mengem ban tugas perutusan sebagai garam dan terang dunia."
Tema inilah yang akan didalami selama Masa Prapaska. Akhirnya, dibuatlah rancangan dua kali pertemuan APP untuk mendalami tema Akulah Garam dan Terang Dunia. Pertemuan APP tahun ini diadakan pada dua kali hari Jumat (20/2 dan o4/3).
Pertemuan pertama APP 2016 di Ruang Podjok dimulai dengan penjelasan mengenai tema  APP 2016, yaitu “Akulah Garam dan Terang Dunia” Melalui tema ini, umat, terutama kaum muda Katolik, beriman diajak membangun Iman yang Inklusif, Inovatif, dan Transformatif. Inklusif berarti terbuka pada siapapun dan apapun yang baik. Setiap orang beriman diajak untuk membuka diri kepada kehadiran hal-hal baik di sekitarnya. Hal-hal baik ditemukan tidak hanya dalam kelompok sendiri, tetapi hal baik juga ditemukan dalam diri orang lain, termasuk mereka yang menganut agama dan kepercayaan yang lain. Kepada mereka juga, kita harus terbuka. Orang yang tidak mau membuka diri kepada orang lain akan menjadi orang yang fanatik dan tidak mampu melihat kebaikan dalam diri orang lain. Hidupnya akan menjadi semakin terkungkung dalam pandangan sendiri. Inovatif berarti melakukan pembaruan-pembaruan sebagai hasil kreativitas serta pengolahan cipta, rasa dan karsa. Sebagai hasil dari keterbukaan kepada pihak lain, orang mulai menggunakan daya cipta mereka untuk menemukan hal-hal baru untuk semakin mengembangkan kehidupan diri sendiri maupun kehidupan orang lain. Inovasi diperlukan agar hidup tidak monoton. Orang yang penuh inovasi selalu memiliki alternatif-alternatif dalam pemecahan masalah. Transformatif berarti mengusahakan tindakan-tindakan yang mengubah kehidupan. Keterbukaan dan inovasi diharapkan mampu membawa perubahan dalam masyarakat. Perubahan yang dibuat diharapkan akan membawa masyarakat pada situasi yang lebih baik. Transformasi diharapkan membawa situasi baru dalam masyarakat. Satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah perubahan. Perubahan juga merupakan tanda dari pertobatan. Orang berubah menuju hidup yang baik. Dalam pertemuan Kaum Muda Asia 2014 di Daejon, Korea, Paus Fransiskus mengatakan “Bangun! Bangun! Orang bernyanyi, menari dan bergembira dalam keadaan bangun. Tidak baik ketika orang muda tidur. Jangan! Bangun, majulah.” Paus Fransiskus mengajak seluruh kaum muda Katolik untuk “Bangun!”, Bangun dan bergerak, berbuat dan berkarya dalam masyarakat serta Gereja. Iman yang inklusif, inovatif, dan transformatif harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga orang secara konkret menjadi garam dan terang dunia. 
Setiap orang mampu untuk mewujudkan iman dalam kehidupannya. Untuk mewujudkan iman, diperlukan sebuah persekutuan yang mewadahi orang-orang yang beriman sama. Dalam Gereja Katolik, wadah itu disebut Lingkungan. Lingkungan ini diajak untuk menjadi garam dan terang dunia. Penjaga Podjok pun mengajak anggota Ruang Podjok yang mengikuti pertemuan APP untuk melihat pengalaman dengan beberapa panduan pertanyaan: 1) Menurut pendapatmu, lingkungan semacam apa yang terjadi dalam Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta? 2) Hal-hal baik apa yang menurutmu sudah terjadi dalam Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta? 3) Hal-hal apa kurang baik apa yang menurutmu harus dibuang jauh dalam Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta? 4) Apa yang dapat kita buat sehingga Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta dapat semakin guyub dan semakin hidup? 5) Hal-hal apa yang dapat kita buat sehingga Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta dapat menampakkan hidup sebagai garam dan terang dunia di lingkungan SMK Negeri 3 Surakarta? Ada banyak pendapat dan gagasan yang terungkap saat itu.
Setelah melihat pengalaman, pendalaman inspirasi Kitab Suci dilakukan dengan membaca Kis 2:41-47. Kutipan itu menunjukkan bahwa cara hidup jemaat perdana memberikan gambaran yang paling tepat mengenai persekutuan orang Kristiani dan dilestarikan sampai sekarang dalam lingkungan. Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul, memecahkan roti, dan berdoa (Kis 2:42). Hal-hal ini sekarang juga dilakukan dalam lingkungan melalui pembacaan Sabda, Ekaristi, dan doa bersama. Mereka bersatu, sehati, dan berbagi (Kis 2:44-46). Kesatuan jiwa dan raga serta kerelaan untuk berbagi sekarang juga masih dihidupi sebagai tindakan konkret untuk peduli sesama. Mereka disukai banyak orang dan tiap hari Tuhan menambahkan jumlah orang yang diselamatkan (Kis 2:47). Kehidupan orang Kristiani tampil sebagai garam dan terang dunia sehingga semakin banyak orang melihat kasih Allah. Lingkungan merupakan wadah yang ditetapkan oleh Gereja Katolik bagi pribadi-pribadi maupun keluarga-keluarga untuk terlibat dalam persekutuan umat. 
Kehidupan jemaat perdana pun dilestarikan oleh Gereja Katolik Indonesia dalam wujud Lingkungan. Gagasan pembentukan lingkungan berawal dari gagasan perlunya pembagian wilayah paroki menjadi wilayah-wilayah yang lebih kecil dalam “Konferensi tentang Perkembangan Pastoral Umat Katolik di Bintaran” Yogyakarta pada tanggal 22 September 1934. Pertemuan dihadiri oleh tiga pastur Jawa (A. Soegijapranata, SJ, A. Djajasepoetra, SJ, dan A. Prawirapraptama) serta dua pastur Belanda (A. de Kuijper dan H. Snijders). “Agar supaya perkenalan paroki-paroki ditingkatkan diperlukan sekali bahwa paroki-paroki itu dibagi-bagi menjadi wilayah-wilayah dan bahwa wilayah-wilayah itu dikepalai seorang Jawa yang bersemangat ('een flinke katholieke Javaan'). Dialah yang dapat memahami sendiri keadaan wilayahnya dan dapat memberikan laporan tentangnya kepada pastor Paroki. Dia sebaiknya dibantu oleh orang katolik lainnya khususnya para muda (anggota konggregasi). Demi pengakuan yang sedikit resmi maka sebaiknya dia mendapat suatu lencana. Pada waktu-waktu tertentu kepala-kepala wilayah tersebut berapat dengan Pastor Paroki demi informasi Pastor. Surat-surat tentang keadaan keluarga (parochiebriefjes) hendaknya diisi untuk sebagian besar oleh kepala-kepala ini bersama pembantu-pembantunya”. Gagasan pembentukan wilayah-wilayah yang lebih kecil ini kemudian diterapkan di Stasi Wedi, Gereja Bintaran, dan Gereja Kotabaru.
Menjelang tahun 2000-an, ada dua macam lingkungan yang dikenal dalam Gereja Katolik, yaitu LINGKUNGAN TERITORIAL dan LINGKUNGAN KATEGORIAL. Lingkungan Teritorial adalah lingkungan yang dibatasi oleh wilayah teritorial dalam sebuah paroki. Lingkungan Kategorial adalah lingkungan yang dibatasi oleh kategori-kategori tertentu, seperti usia, profesi, minat, status, dan kesamaan kategori lainnya serta biasanya terjadi secara lintas paroki. Kerohanian Katolik di SMK Negeri 3 Surakarta termasuk dalam Lingkungan Kategorial karena disatukan dengan kesamaan profesi sebagai pelajar dan status sebagai orang yang sedang belajar serta terdiri dari orang-orang yang berasal dari berbagai macam paroki yang ada di wilayah Kevikepan Surakarta. 
Pertemuan pertama APP diakhiri dengan nasehat dari Santo Filipus Neri yang mengatakan, “Beruntunglah kalian orang-orang muda karena kalian punya banyak waktu untuk berbuat baik.” Semoga Penjaga Podjok dan anggota Ruang Podjok semakin tergerak untuk berbuat baik dalam kehidupan. 
Melanjutkan dinamika pertemuan APP pertama, telah dinyatakan bahwa setiap orang beriman memerlukan persekutuan yang mewadahi orang-orang untuk mewujudkan iman tersebut. Dalam Gereja Katolik, wadah itu disebut Lingkungan. Lingkungan yang menjadi bagian dari Gereja Katolik itu diajak untuk menjadi garam dan terang dunia. Setiap lingkungan perlu mewujudnyatakan imannya dalam tindakan yang konkret dan dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya. Pada tahun 2016 ini, Gereja Keuskupan Agung Semarang memberikan tiga alternatif kepada umat lingkungan untuk mewujudnyatakan iman dalam kehidupan sehari-hari. Tiga alternatif yang diusulkan untuk mewujudkan iman tersebut adalah 1) Tulus Menolong Sesama, 2) Memelihara Keutuhan Alam Ciptaan, dan 3) Berani Melawan Korupsi. Tiga wujud iman tersebut memerlukan prinsip hidup serta kepedulian yang harus kita hayati dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika kita tidak memiliki prinsip hidup yang kuat dan kepedulian terhadap situasi sekitar kita, kita tidak akan bisa melaksanakan wujud iman dalam kehidupan sehari-hari kita. Pada pertemuan ini, diputarkan beberapa film pendek yang bisa menginspirasi untuk melakukan tiga wujud iman itu. 




Setelah melihat film sebagai pengantar, Penjaga Podjok mengajak anggota Ruang Podjok untuk membaca Kitab Suci dari Mat 5:1-12. Di sana, Yesus memberikan ajaran mengenai bagaimana manusia bisa menjalani hidupnya. Cara menjalani hidup seorang manusia akan mempengaruhi sikap manusia tersebut kepada Allah. Kita diajak untuk murah hati sebagai dasar untuk bersikap tulus dalam menolong sesama (Mat 5:7). Kita diajak untuk bersikap lembut sehingga peduli kepada alam sekitar dengan cara memiliki dan memelihara bumi tempat kita hidup (Mat 5:5). Kita diajak untuk hidup suci dan berpegang teguh pada kebenaran karena orang-orang semacam inilah yang akan melihat Allah dan diperhitungkan oleh Allah (Mat 5:8.10). Setelah menimba inspirasi dari Kitab Suci, anggota Ruang Podjok juga diajak untuk menimba kekayaan penghayatan iman melalui dua tokoh orang muda Katolik yang sudah diangkat ke dalam martabat orang kudus, yaitu Beato Alberto Marvelli (1918-1946) dan Beato Pier Giorgio Frassati (1901-1925).

“Aku menginginkan hidupku menjadi tindakan kasih yang terus-menerus .... Kasih itu iman, amal, kerasulan, pelaksanaan tugas, dan hasrat untuk menjadi suci” 
(Beato Alberto Marvelli)

“Jika kamu menempatkan Tuhan sebagai pusat seluruh tindakanmu, kamu akan mencapai tujuan yang telah kamu tetapkan”
(Beato Pier Giorgio Frassati)  













Orang-orang muda Katolik... jadilah garam dan terang dunia...

Minggu, 01 Mei 2016

Menyongsong Masa Prapaska dengan Memperbarui Kepengurusan

Waktu berlalu begitu cepat... ternyata hari-hari ini sudah sampai pada penghujung Masa Paska, bahkan sudah sampai Hari Minggu Paska VI. Ada baiknya ditorehkan catatan-catatan peristiwa yang sudah dialami di Ruang Podjok.
Setelah perayaan Natal Bersama lewat, Ruang Podjok kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa. Yang mendesak dilakukan setelah Natalan biasanya adalah pembentukan kepengurusan baru. Langkah ini diambil seiring sejalan dengan yang dilaksanakan oleh pengurus OSIS SMK Negeri 3 Surakarta yang memperbarui kepengurusannya. Tahun 2016 ini, yang mengembang tanggung jawab untuk mengkoordinir siswa-siswi Katolik di SMK Negeri 3 Surakarta melalui Seksi Kerohanian Katolik adalah Erisa Kusuma Dewi, siswi kelas XI AK 1. Erisa menggantikan Cicil yang telah mengakhiri masa pelayanannya. 
Agar keberlanjutan pelayanan dapat berjalan dengan lancar, perlu dibentuk kepengurusan. Idealnya, kepengurusan merupakan kesepakatan antara siswa-siswi kelas XI dan siswa-siswi kelas X. Namun, karena pada bulan Februari, siswa-siswi kelas XI masih berada di tempat Praktek Kerja Lapangan, dibentuklah kepengurusan di antara siswa-siswi kelas X terlebih dahulu. Akhirnya, pada hari Jumat (30/1), dibentuklah kepengurusan untuk siswa-siswi kelas X dengan sub koordinator Catharina Vivi Wijayanti. Pembentukan kepengurusan ini didampingi oleh Sie Rohkat yang sudah purna tugas. 
Terima kasih kepada Cicilya Onni Yosyana Ochtifani yang telah menyelesaikan tugas pelayanan dengan baik. Tuhan memberkati langkah hidupmu selanjutnya. Bagi yang melanjutkan, semoga dapat membawa Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta ini menuju masa depan yang lebih baik...Berkah Dalem
  

Kamis, 11 Februari 2016

Ajakan untuk Semakin Menghayati Hidup Bersama sebagai Keluarga Allah

Sabtu (16/1), suasana Aula Gereja Katolik San Inigo Dirjodipuran berubah dari yang biasanya sepi menjadi ingar bingar. Hari itu, warga Kristiani SMK Negeri 3 Surakarta, baik dari siswa-siswi kelas X, XI, dan XII sampai Bapak Ibu Guru dan Karyawan memadati ruangan aula untuk mengadakan Perayaan Natal Bersama Keluarga Besar Kristiani SMK Negeri 3 Surakarta. Perayaan Natal Bersama ini mengambil tema sesuai dengan tema Natal Nasional, yaitu HIDUP BERSAMA SEBAGAI KELUARGA ALLAH. Tahun ini, Natal dikoordinir oleh Catharina Vivi Wijayanti dari Sub Seksi Kerohanian Katolik. Karena yang menjadi panitia tahun ini dari Kerohanian Katolik, pelaksanaannya pun di Gereja Katolik. Tradisi ini sudah dimulai tahun lalu. Sejak tahun lalu, Perayaan Natal diadakan di luar sekolah. Tahun yang lalu, Perayaan Natal diselenggarakan di GBI Gading. Tahun ini, giliran Perayaan Natal diadakan di Gereja Katolik San Inigo Dirjodipuran.

Penyelenggaraan Perayaan Natal tahun ini tidak lepas dari perjuangan panitia yang begitu gigih. Sebenarnya, panitia Natal sudah sejak lama merencanakan kegiatan ini. Sudah sejak awal Desember diadakan rapat dan dibuat proposal. Namun, proposal tersebut memerlukan waktu yang panjang untuk diperjuangkan sehingga perayaan Natal kali ini layak disebut perayaan Natal yang penuh perjuangan. Tidak sedikit hambatan dan kedala yang dihadapi oleh panitia, tetapi yang perlu sangat dihargai adalah kegigihan panitia untuk memperjuangkan acara ini sehingga acara ini dapat berlangsung dengan baik. Tidak mudah menyatukan gerak bersama dan kadangkala gerak bersama ini diliputi oleh kesalahpahaman. Oleh karena itu, salut untuk panitia yang telah memperjuangkan dan mengelola acara ini dengan baik. Perayaan Natal Bersama ini dimulai sekitar pukul 09.30. Seperti biasanya, puji-pujian dilantunkan untuk membuka perayaan. Setelah beberapa pujian, diadakanlah penyalaan lilin oleh Romo Agustinus Sudarisman, Bapak Sutopo Priyo Hutomo, Penjaga Podjok, dan Ketua Panitia Natal 2015 SMK Negeri 3. Setelah itu, disambung dengan firman yang diberikan oleh Romo Agustinus Sudarisman. 
Dalam renungannya, Romo Sudarisman mengajak para warga Kristiani SMK Negeri 3 Surakarta untuk semakin menghayati hidup bersama sebagai keluarga Allah. Warga Kristiani SMK Negeri 3 Surakarta sebenarnya sudah menghayati hidup bersama sebagai keluarga Allah karena setiap hari warga Kristiani sudah hidup bersama dengan warga SMK Negeri 3 yang beragama lain. Ketika seorang Kristiani hidup bersama dengan orang yang beragama lain, sebenarnya sudah dihayati hidup bersama sebagai keluarga Allah karena orang beragama lain itu pun juga menyembah Allah. Bukankah kita semua orang beragama menyembah Allah yang sama dan hidup sebagai keluarga Allah yang sama? Hidup bersama sebagai keluarga Allah berarti menghargai orang lain juga sebagai keluarga Allah meskipun orang tersebut memiliki cara yang berbeda untuk menyembah Allah. Namun, Gereja juga tetap mewartakan bahwa Yesus adalah jalan kebenaran dan hidup. Ini sejalan dengan apa yang diamanatkan oleh Konsili Vatikan II melalui dokumen Nostra Aetate, “Gereja katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, Tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun, Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya” (NA 3). Melalui Natal kali ini, warga Kristiani SMK Negeri 3 diajak untuk semakin hidup bersama sebagai keluarga Allah bersama dengan warga SMK Negeri 3 yang memeluk iman dan kepercayaan lain. 
Setelah renungan, acara kembali dilanjutkan sampai kira-kira pukul 11.30. Ibu Kepala Sekolah berkenan memberikan sambutan. Ada berbagai pertanyaan untuk membagikan doorprize. Ada banyak foto-foto narsis yang diambil bersama.  Perayaan Natal kali ini tampak lebih guyub karena banyak Bapak Ibu Guru dan Karyawan Kristiani yang hadir. Terima kasih kepada Bapak Ibu Guru Kristiani yang sudah berkenan hadir. Namun sayang, Pembina Kerohanian Kristen SMK Negeri 3, Bapak Heru Siswanto, tidak dapat hadir karena baru pulang dari perjalanan melayat keluarga di Malang. Meskipun demikian, tentu Bapak Heru Siswanto mendukung dalam doa sehingga acara tersebut dapat berjalan dengan lancar. Terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam Perayaan Natal Bersama kali ini. Semoga Tuhan semakin memampukan kita untuk hidup bersama sebagai keluarga Allah.


Rangkaian Perayaan Natal tersebut ditutup dengan rapat evaluasi. Rapat Evaluasi kali ini membahas banyak seputar pelaksanaan Perayaan Natal Bersama 2015. Ada banyak masukan, gagasan, dan usulan untuk lebih membuat semuanya baik. Kiranya semua hal yang disampaikan membuat semuanya menjadi lebih baik. Rapat evaluasi ini juga sekaligus menentukan panitia untuk pelaksanaan Retret untuk peserta didik baru. Terima kasih kepada seluruh panitia yang telah merelakan waktu dan tenaganya untuk menyelenggarakan Perayaan Natal Bersama pada tahun ini. Tuhan memberkati kita semua.

Jumat, 22 Januari 2016

Menyiapkan Diri untuk Merasakan Kerahiman Allah

Tahun ini, kita mengalami masa yang sangat luar biasa. Tahun ini, kita memasuki masa yang ditetapkan oleh Paus Fransiskus sebagai Tahun Yubelium Luar Biasa. Pada perayaan syukur dua tahun diangkat sebagai pimpinan tertinggi Gereja (13 Maret 2015), Paus Fransiskus mengumumkan tahun 2016 sebagai Tahun Suci (Yubileum) Luar Biasa Kerahiman Allah. Tahun Suci ini dimulai pada tanggal 8 Desember 2015 (Pesta Maria dikandung tanpa noda dan peringatan 50 tahun penutupan Konsili Vatikan II) dan akan berakhir pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, tanggal 20 November 2016. Pemakluman resmi dilakukan oleh Paus Fransiskus pada Hari Minggu Kerahiman Ilahi, 11 April 2015, dengan mengeluarkan bulla yang berjudul “Misericordiae Vultus” (Wajah Kerahiman). 
Tahun Suci (Yubelium) berasal dari tradisi Perjanjian Lama. Setiap lima puluh tahun, Tahun Suci dirayakan untuk mengembalikan keseimbangan hidup bersama sebagai Umat Allah. Pada tahun itu semua warga Umat Allah yang menjadi hamba harus dibebaskan, semua tanah yang dijual harus dikembalikan kepada pemiliknya, semua hutang dihapus (lih. Im 25). Gereja mengambil alih tradisi ini dan sejak tahun 1475, atas penetapan Paus Paulus II, merayakannya setiap 25 tahun. Tahun Suci Biasa terakhir kita rayakan pada tahun 2000, ketika umat manusia memasuki milenium yang ketiga. Selain Tahun Suci Biasa, Gereja juga merayakan Tahun Suci Luar Biasa. Tahun Suci Luar Biasa terakhir kita rayakan pada tahun 1983, untuk mengenangkan seribu sembilan ratus lima puluh tahun karya penebusan Kristus. 
Tema yang diambil untuk Yubelium ini adalah "Berbelaskasih seperti Allah - Merciful Like the Father" (Luk 6:36). Tema ini merupakan undangan bagi setiap orang untuk mengikuti teladan belas kasih seperti yang dilakukan Allah, yang mengajak kita tidak untuk mengadili atau mengutuk, tetapi untuk memaafkan, mencintai, dan memberikan pengampunan tanpa batas (lih, Luk 6:37-38). Logo Yubelium Kerahiman Allah dibuat oleh RP Marko I. Rupnik, SJ. Logo ini menampakan gagasan teologis mengenai belas kasih. Logo itu menampakkan gambar yang memiliki arti penting dalam kehidupan Gereja Perdana, dimana tergambar Sang Putera yang memanggul jiwa-jiwa yang hilang. Logo ini menunjukkan cinta Kristus yang mengarahkan pemenuhan misteri inkarnasiNya yang berpuncak pada penebusan. Logo ini didesain sedemikian rupa agar mengeskpresikan bagaimana Sang Gembala Baik menyentuh kemanusiaan dan kedagingan dengan cinta yang mampu mengubah hidup seseorang. Unsur unik yang perlu diperhatikan dalam logo itu adalah bahwa ketika Sang Gembala Baik, dalam belas kasihnya yang amat besar, memanggul manusia, mata Sang Gembala Baik bersatu dengan manusia yang dipanggulnya. Kristus melihat dengan mata Adam dan Adam melihat dengan mata Kristus. Setiap orang menemukan Adam baru dalam diri Kristus. Setiap orang yang memiliki rasa kemanusiaan dan masa depan merenungkan cinta kasih Allah dalam Kristus.
Dalam bulla pemakluman Tahun Suci Luar Biasa ini, Paus Fransiskus menyatakan, “Janganlah jatuh ke dalam pola pikir yang mengerikan, yang beranggapan bahwa kebahagiaan bergantung pada uang dan bahwa, dibandingkan dengan uang, semua yang lain tidak ada nilai atau martabatnya… Kekerasan yang ditimpakan kepada orang lain demi menimbun kekayaan yang berlumuran darah tidak akan mampu membuat seorang pun berkuasa atau tidak mati.” Dalam tulisan yang sama, Paus juga menyinggung gejala korupsi dan menulis, “Luka-luka bernanah akibat korupsi merupakan dosa berat yang berteriak keras ke surga untuk mendapatkan pembalasan, karena luka itu merongrong dasar-dasar kehidupan pribadi dan masyarakat. Korupsi membuat kita tidak mampu melihat masa depan dengan penuh harapan, karena kerakusannya yang lalim itu menghancurkan harapan-harapan kaum lemah dan menginjak-injak orang yang paling miskin di antara kaum miskin. Korupsi adalah …skandal publik yang berat.” Di tengah-tengah keadaan dunia yang seperti inilah, Paus Fransiskus mengajak kita semua untuk memperdalam pemahaman dan keyakinan kita bahwa Allah adalah Maharahim, mengalaminya secara pribadi, menjalankan pertobatan dan mewujudkan pertobatan itu dalam kehidupan yang nyata.
Dalam Tahun Suci Kerahiman Allah ini, Paus mengajak kita semua untuk merefleksikan kerahiman Allah melalui pewartaan Nabi Zefanya. Pertama, Tuhan telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atas umat-Nya (3:15). Kedua, Ia hadir di tengah-tengah umat-Nya (3:17) menyatakan belarasa dan kesetiakawanan-Nya. Ketiga, Ia membarui umat dengan kasih-Nya (3:17). Kerahiman Allah itu menjelma dan masuk ke dalam sejarah umat manusia, dalam diri Yesus Kristus. Dialah wajah sempurna kerahiman Allah. “Semoga warta kerahiman menjangkau setiap orang, dan semoga tidak seorang pun acuh tak acuh terhadap panggilan untuk mengalami kerahiman-Nya. Dengan penuh harapan saya menyampaikan undangan untuk bertobat ini kepada orang-orang yang perilaku hidupnya menjauhkan mereka dari rahmat Allah.” Kita dipanggil untuk menampakkan wajah belas kasih Allah. Ada pihak-pihak tertentu yang secara khusus diundang untuk menjalankan pertobatan, antara lain para pelaku dan organisasi-organisasi kriminal, para koruptor, orang-orang yang menjadikan uang sebagai berhala baru. 
Lalu, apa yang dapat kita perbuat dalam Tahun Suci Kerahiman Allah ini? Laman Youcat Indonesia membantu kita dalam melewatkan waktu dengan membangun kehidupan rohani selama masa khusus ini. 



Kita semua diajak untuk bertobat, memperbarui haluan hidup dan mewujudkannya dalam tindakan nyata. Dengan demikian, kita bisa merasakan dan membagikan kerahiman Allah yang begitu besar. Apa pun yang baik dapat kita lakukan untuk mewartakan kerahiman Allah yang membaharui kehidupan. Tuhan memberkati. 

Sumber:
http://www.im.va/content/gdm/en/giubileo/logo.html
https://www.facebook.com/youcatid/
Komisi Liturgi dan Jaringan Persaudaraan Antar Kelompok Doa (Jaringan KODOK) KAS. Panduan Umum Tahun Yubelium Kerahiman Allah Keuskupan Agung Semarang. Muntilan: Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan. 2016.

Senin, 18 Januari 2016

Dibuang Sayang: Rangkaian Catatan Peristiwa Ruang Podjok 2015

Sudah lama sekali Penjaga Podjok tidak menulis di laman ini. Tulisan terakhir dibuat sepeninggal Monsinyur Johanes Pujasumarta pada bulan November lalu. Saat itu, Penjaga Podjok sedang banyak pekerjaan. Lagipula, Ruang Podjok mengalami perbaikan sehingga harus berpindah ke lantai 3 untuk sementara karena Ruang Podjok sedang terdampak pembangunan ruang kelas baru. Ketidaknyamanan inilah yang membuat Penjaga Podjok tidak jenak di ruang baru sehingga tidak muncul ide untuk tulis menulis. Di awal tahun 2016 ini, Ruang Podjok sudah kembali normal. Kenormalan di Ruang Podjok ini pun menggerakkan hati untuk kembali menulis berbagai peristiwa yang telah terlewat. Tulisan ini sedikit demi sedikit akan mencoba merekam aktivitas yang telah terlewat. Semoga catatan-catatan yang sayang untuk dibuang ini menjadi pengingat bahwa jantung kehidupan Ruang Podjok Agama Katolik di SMK Negeri 3 Surakarta tetap hidup. 

Diskusi Bulan Kitab Suci Nasional pada bulan September 
Rekaman peristiwa terakhir yang sempat ditulis oleh Penjaga Podjok adalah seputar kegiatan awal tahun pelajaran yang terjadi bulan Agustus. Saat itu, semua warga Ruang Podjok mengadakan pertemuan awal tahun dan Ekaristi untuk menentukan arah ke depan. Memasuki bulan September, seturut dengan geliat yang ada dalam Gereja Katolik Indonesia, Ruang Podjok mengadakan kegiatan pertemuan bulan Kitab Suci Nasional. Pertemuan ini diadakan sebanyak dua kali yang diadakan seperti biasa pada bulan ganjil. Tema yang didalami dalam pertemuan tahun 2015 adalah “Keluarga Melayani Seturut Sabda Allah.” Tema BKSN 2015 meru-pakan kelanjutan dari tema tahun 2014 dan 2013 yang juga bicara seputar keluarga. Sudah sejak 2013, BKSN bicara mengenai keluarga: “Keluarga Beribadah dalam Sabda” (2014) dan “Keluarga yang Bersekutu dan Mendengarkan Sabda Allah” (2013). Tema 2013 mengajak keluarga untuk menghayati sabda Allah sebagai penuntun hidup. Tema 2014 mengajak keluarga melakukan ibadah menurut sabda Allah. Melalui tema tahun 2015, keluarga diharapkan mampu menggunakan sabda Allah sebagai dasar dan semangat pelayanan yang dilakukan dalam  kehidupan. 

Pertemuan pertama yang diadakan Jumat (4/9) membahas keberadaan Yesus dalam keluarga dan meneladani pelayananNya. Disana dilihat bagaimana Yesus menjadi teladan pelayanan dalam keluarga dan bagaimana keluarga dapat  saling melayani seturut teladan Yesus dengan bahan Yoh 13:1-15 dan Kol 3:18-4:1. Seperti biasa, ada beberapa pertanyaan yang perlu dibicarakan dalam pertemuan itu. Masing-masing kelompok membahas pertanyaan-pertanyaan yang harus ditanggapi. 

Setelah diskusi kelompok, secara bersamaan dibahas mengenai arti “pelayanan.” Orang Katolik sangat akrab dengan kata “pelayanan.” Dalam berbagai kesempatan, kita banyak menggunakan istilah tersebut. Perjanjian Lama meng-gunakan kata “abad” yang berarti mengabdi atau melayani. Istilah itu ingin menyebut orang yang bekerja untuk orang lain. Pekerjaan yang ditujukan untuk kepentingan orang lain akhirnya disebut pengabdian atau pelayanan. Perjanjian Baru menggunakan beberapa kata: “diakonia” – pekerjaan rumah), “diakoneo” – melayani, “diakonos” – orang  yang melayani meja), dan “diakonat” – jabatan pelayanan jemaat dalam Gereja. Semua istilah dalam Perjanjian Baru itu merujuk pada pekerjaan yang ditujukan bagi kepentingan orang lain, baik dalam jemaat, rumah tangga, maupun persekutuan lain. Dalam tradisi Gereja Katolik, Yesus merupakan model pelayanan yang diikuti. Paulus sendiri mengatakan kepada jemaat agar menjadi pengikut Kristus (1 Kor 11:1). Mengikuti teladan Kristus, umat beriman diundang untuk hidup “dalam Kristus.”   Paulus menyebutnya “mengenakan   Kristus” meninggalkan manusia lama dan hidup seperti Kristus. Dalam pelayananNya, Yesus menghayati dua peran, yaitu Hamba Allah Yang Menderita (Mrk 9:31; 10:33) dan Anak Manusia yang Datang untuk Melayani (Mat 20: 28). Kristus menjadi teladan pelayanan karena telah memberikan dirinya sendiri kepada orang lain, bahkan rela mati untuk kepentingan orang lain lewat jalan salib (Rm 12:1-2). Yang menjadi dasar pemberian diri Kristus ini adalah kasih tanpa batas. Kasih tanpa batas ini dinyatakan lewat pemberian nyawa (Ef 5:1-2). Kasih harus dinyatakan lewat perbuatan. Kasih kepada Allah dinyatakan melalui kasih kepada sesama dan kasih itu harus dilakukan lewat tindakan harian (1 Yoh 4:7-8. 20). Salah satu wujud kasih dalam tindakan itu adalah pelayanan kepada sesama. Karena kasih harus dinyatakan lewat pelayanan, Yesus pun melibatkan manusia yang lain untuk melaksanakan kasih itu. Dalam hal ini, Yesus pertama-tama memanggil dua belas rasul. Mereka diutus untuk   memberikan pelayanan kepada sesamanya (Mrk 3:13-15). Selain itu, Yesus juga memanggil tujuh puluh murid yang lain untuk diutus dengan tugas yang mirip dengan dua belas rasul (Luk 10:1-12). Bahkan, di dalam kelompok yang dibentuk Yesus dalam perjalanan pelayananNya, juga ada perempuan-perempuan yang memberikan pelayanan kepada kelompok tersebut (Luk 8:3). Seruan Yesus untuk melayani juga berlaku dalam keluarga kristiani. Allah menjadi alasan keluarga kristiani untuk melayani dan mengasihi. Dalam setiap keluarga kristiani, harus ada sikap pelayanan dan kasih. Perlu disadari bahwa setiap anggota keluarga memerlukan pelayanan dan kasih yang saling dibagikan. Dalam keluarga, suami istri memerlukan dukungan, kekaguman, ucapan terima kasih, perhatian, komunikasi, kejujuran, dan keter-bukaan yang akan menguatkan. Anak-anak memerlukan rasa dipercaya, diterima, dipahami, didukung, dikasihi, disayangi, diberi kebebasan, yang akan meneguhkannya. Jika masing-masing kebutuhan dasar anggota keluarga ini terpenuhi, tangki cinta yang dalam keluarga akan selalu penuh dan tidak akan mencari pemenuhan di tempat lain. Bagaimana anggota keluarga dapat saling memenuhi tangki cinta yang ada di setiap anggota keluarga? Untuk memenuhi tangki cinta itu, ada lima hal yang bisa dilakukan: 
1) Kata-kata peneguhan. Kata-kata peneguhan dapat berupa kata-kata yang menegaskan, memantapkan, mendorong, menyenangkan, memohon, memuji, berterima kasih; 
2) Waktu bersama khusus. Waktu bersama merupakan waktu khusus yang diluangkan untuk berelasi dengan sesama anggota keluarga, omong-omong, bepergian bersama, rekreasi bersama, dll; 
3) Hadiah. Hadiah berupa pemberian yang dilakukan dengan hati yang tulus dan perhatian yang penuh kepada sesama anggota keluarga untuk saat istimewa, rasa terima kasih, dll.; 
4) Pelayanan. Pelayanan berupa tindakan yang ditujukan demi kepentingan sesama anggota keluarga dan bukan untuk kepentingan diri sendiri; dan 
5) Sentuhan fisik. Sentuhan fisik dapat berupa pelukan, sentuhan tangan, bergandengan tangan, dan berbagai aktivitas fisik yang memperlihatkan perhatian kepada sesama anggota keluarga. 
Semoga dengan begitu, kita mampu untuk meneladan sikap pelayanan Yesus untuk melakukan sesuatu demi orang lain dalam keluarga kita sendiri terlebih dahulu.
Dua minggu kemudian, hari Jumat (18/9), diadakanlah pertemuan kedua BKSN. Dalam pertemuan pertama, sudah dibahas bagaimana Yesus menjadi teladan pelayanan kita dan bagaimana kita seharusnya memberikan pelayanan dan keluarga. Yesus memberikan model sebagai pelayan yang rendah hati dan keluarga perlu memberikan pelayanan sebagai bentuk perhatian dan cinta kasih antar anggota keluarga. Pertemuan kedua mengajak untuk mencermati bagaimana keluarga bisa melayani Gereja dan bagaimana keluarga bisa melayani masyarakat dengan bahan: Luk 10:38-42 dan 1 Ptr 2:13-17. Model pembahasan tema masih dilakukan dengan diskusi kelompok dengan menjawab pertanyaan. 

Setelah itu ada beberapa pokok yang perlu ditekankan. Dari Injil Lukas, kita belajar mengenai pelayanan dalam Gereja. Penginjil Lukas menempatkan sikap Marta dan Maria dalam posisi sejajar. Penginjil tidak bermaksud menilai dan tidak menyuruh kita untuk membuat pilihan. Marta memang berusaha menjadi tuan rumah yang baik dan Yesus menghargainya.Namun, Yesus mau memberi arti yang lebih dalam atas pertemuan itu. Saat berhadapan dengan Yesus, ada sesuatu yang lebih perlu, yaitu mendengarkan. Maria menangkap mak-sud kedatangan Yesus. Dengan mendengarkan Yesus, Maria menangkap yang dikehendaki oleh Yesus. Mendengarkan Yesus adalah jalan masuk untuk mengasihiNya. Menjalankan aktivitas untuk memberikan pe-layanan dalam Gereja merupakan perbuatan terpuji. Namun, jangan sampai pelayanan dan aktivitas itu tidak memiliki makna bagi kita sendiri. Karena itu, sebelum melakukan sesuatu, kita perlu mendengarkan sabda Allah. Teladan mendengarkan sabda Allah ini telah diteladankan oleh Maria. 
Selain menjalankan aktivitas dalam Gereja, orang Katolik juga diminta untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pelayanan kita kepada masyarakat harus dilandasi dengan sikap pengabdian kepada Allah. Pelayanan kepada Allah dihayati sebagai wujud pelayanan atau sembah bakti kita kepada Allah (Kol 3:23). Surat Petrus mengajarkan bahwa jemaat harus patuh kepada pemerintah namun juga harus memberikan kritik apabila ada hal-hal yang menyimpang dalam pemerintahan. Oleh karena itu, dasar kepatuhan jemaat adalah Allah. Jika ada yang menyimpang, jemaat perlu mengingatkan karena Allah adalah dasar segala kebenaran. Orang Kristiani harus menghormati semua orang karena setiap orang adalah makhluk Tuhan yang dipanggil untuk hidup mulia. Sikap penghormatan itu tampak pada sikap melayani semua orang. Kita harus memberikan pelayanan kepada setiap orang yang kita jumpai tanpa membeda-bedakan. Setiap manusia adalah saudara. Berkenaan dengan pelayanan kepada masyarakat, kita diberi contoh oleh para pahlawan nasional yang beragama Katolik: Albertus Soegijapranata, Ignatius Slamet Riyadi, Yosafat Sudarso, Agustinus Adisoetjipto, serta Ignatius Jozef Kasimo. Orang Katolik di Indonesia mendapat warisan berharga dari Monsinyur Albertus Soegijapranata yang pernah mengatakan bahwa orang Katolik Indonesia harus menjadi 100 % Katolik dan 100 % Nasional. Panggilan kita adalah menjadi benar-benar umat Katolik dan benar-benar warga negara Indonesia.
Dua pertemuan BKSN ini diharapkan mampu mendorong semua anggota Ruang Podjok untuk semakin melayani dengan tulus di manapun dan dalam situasi apapun. Semoga demikian yang terjadi.

Menghormati Maria di Bulan Oktober
Memasuki bulan Oktober, Gereja Katolik mengajak seluruh warganya untuk menghormati Maria, Bunda Gereja yang Tersuci. Ruang Podjok pun tidak ketinggalan untuk mengadakan kegiatan yang berkenaan dengan penghormatan pada Maria. Kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan yang sangat sederhana, yaitu devosi kepada Maria melalui Doa Rosario. Ada banyak orang kudus yang memiliki devosi Rosario ini. Doa Rosario ini juga dilakukan untuk sekaligus menandai peristiwa peringatan Bunda Maria sebagai Ratu Rosario setiap tanggal 7 Oktober untuk mengenang kemenangan armada Kristiani dalam pertempuran di Lepanto. 

Bulan Oktober juga menjadi penanda usia Ruang Podjok yang semakin bertambah. Tahun 2015, Ruang Podjok berulang tahun yang keempat. Usia empat tahun adalah usia yang masih perlu banyak belajar dan berkembang. Semoga ke depan, Ruang Podjok semakin dapat mengembangkan para warganya. Empat tahun sudah Ruang Podjok ini berkiprah. Diharapkan dari tahun ke tahun, pelayanan yang diberikan bisa semakin berkualitas.

Kebaktian Bersama Minggu Kelima Bulan Oktober

Menutup bulan Oktober, Ruang Podjok bersama dengan teman-teman dari Kerohanian Kristen mengadakan kebaktian bersama. Direncanakan kebaktian semacam ini akan terselenggara setiap ada Minggu Kelima. Hal ini diharapkan semakin membangun persaudaraan dan persekutuan antar sesama murid Kristus meskipun berbeda gereja dan berbeda aliran Kristiani. Kebaktian bersama ini dilaksanakan pada hari Jumat (30/10) terakhir dalam bulan Oktober. Beberapa hari sebelum kebaktian bersama itu, siswa-siswi Kristen dan Katolik telah menyiapkan kegiatan dengan baik. Mereka mulai berlatih bernyanyi dan bermusik. Mereka mencari pembicara yang akan menyampaikan firman. Mereka meminta ijin kepada sekolah untuk menggunakan tempat yang lebih luas daripada ruangan agama. Banyak hal yang telah dilakukan sehingga acara tersebut akhirnya dapat dilaksanakan di Aula SMK Negeri 3 Surakarta. 
Dalam kebaktian bersama itu, datanglah seorang pembicara muda bernama Henokh Anugrah Adhi Bargowo. Teman muda ini memberikan pelayanan di Kantor Pelayanan Notosuman. Kesaksian demi kesaksian dilontarkan yang membuat banyak teman-teman Kristiani semakin ditantang untuk menampilkan imannya tentang Yesus kepada orang banyak. Kebaktian yang terlaksana sampai jam 13.00 ini pun membawa semangat bagi siswa-siswi Kristiani. Memang... harus disadari bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Semoga siswa-siswi Kristiani semakin mampu mewartakan iman mereka tanpa takut. 

Mendalami Indulgensi di Bulan November
Kegiatan Ruang Podjok terakhir yang dapat dilaksanakan di tahun 2015 adalah Sekolah Iman. Sekolah Iman bulan November ini bicara mengenai indulgensi dalam Gereja Katolik. Dalam sekolah iman ini, Penjaga Podjok sudah menyiapkan teks untuk pembahasan bersama yang diambil dari website katolisitas. Ada dua laman yang sempat dikutip, yaitu: yang pertama adalah http://www.katolisitas.org/2193/indulgensi-harta-kekayaan-gereja dan yang kedua adalah http://www.katolisitas.org/8829/bagaimana-agar-memperoleh-indulgensi. Diharapkan dengan bahan-bahan ini, para pengikut Sekolah Iman menjadi paham tentang indulgensi dan dapat mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.



Belajar Bersama Teman-teman Guru Menelaah Kurikulum 2013
Di sela-sela waktu berkegiatan di Ruang Podjok, Penjaga Podjok di tahun 2015 diberi kepercayaan oleh Kantor Kementrian Agama Kota Surakarta untuk memberikan pendampingan kepada teman-teman Guru Agama Katolik dari SD sampai SMA-SMK untuk semakin mendalami Kurikulum 2013. Sebagai tindak lanjut dari Bimbingan Teknis Kurikulum 2013 yang diselenggarakan pada bulan Juli 2015, Penjaga Podjok diminta untuk membagikan ilmu yang didapatkan kepada teman-teman Guru Agama Katolik di wilayah Surakarta. Ada dua kesempatan dimana Penjaga Podjok diminta untuk berbicara dalam forum tersebut, yaitu pada tanggal 27 Agustus 2015 dan 4 November 2015 di Hotel Sarila, Jalan Kalilarangan 103, Surakarta. Materi yang disampaikan Penjaga Podjok saat itu adalah Penilaian dalam Kurikulum 2013. 



Menjadi penyampai materi bukan berarti Penjaga Podjok tahu segala akan materi yang disampaikan. Penjaga Podjok lebih menempatkan diri sebagai orang yang lebih dulu tahu tentang materi yang dibicarakan dan siap menjadi orang yang mau belajar jika ada orang lain yang memberikan wawasan baru. Penjaga Podjok menekankan bahwa penilaian dalam Kurikulum 2013 adalah penilaian yang menggunakan pendekatan penilaian autentik. Penilaian Autentik adalah bentuk penilaian yang menghendaki peserta didik menampilkan sikap, menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari pembelajaran dalam melakukan tugas pada situasi yang sesungguhnya. Penilaian dalam Kurikulum 2013 juga harus memenuhi prinsip-prinsip berikut: Sahih, Objektif, Adil, Terbuka, Terpadu, Menyeluruh dan Berkesinambungan, Sistematis, Beracuan Kriteria, Akuntabel, dan Edukatif. Kesempatan belajar bersama selama sehari dalam dua kesempatan itu dimanfaatkan sungguh oleh Penjaga Podjok untuk membagikan wawasan kepada teman-teman Guru Agama Katolik. Harapannya, jika semua guru benar-benar paham tentang Kurikulum yang dihadapinya, niscaya pelayanan kepada siswa akan menjadi lebih baik. Terima kasih kepada Ibu Penyelenggara Katolik Kementrian Agama Kota Surakarta yang telah memberi kepercayaan sebesar ini kepada Penjaga Podjok. Mengingat itu semua, Penjaga Podjok hanya bisa merenung sambil menelaah kutipan berikut ini, “Kami ini adalah hamba-hamba yang tidak berguna. Kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan” (Luk 17:10). Semoga wawasan yang sedikit dari hamba yang tidak berguna ini dapat membantu teman-teman Guru Agama Katolik untuk menjalankan tugas pelayanannya.

Menemani Panitia Natal Mempersiapkan Natal Bersama SMK Negeri 3 Surakarta
Di penghujung tahun 2015, ada tugas rutin yang selalu disandang oleh Penjaga Podjok dan Bapak Heru Siswanto, pembina Kerohanian Kristen, yaitu menemani panitia Natal untuk mempersiapkan Natal Bersama Guru-Karyawan-Siswa-siswi Kristiani SMK Negeri 3 Surakarta. Seperti biasa, panitia telah berkumpul dan berdiskusi jauh hari sebelum perayaan dimulai. Setiap tahun, ketika Perayaan Natal disiapkan, selalu ada hal-hal yang menarik. Kisah seputar perayaan Natal akan diceritakan di bagian lain. Berkah Dalem...

Minggu, 15 November 2015

In Memoriam Monsinyur Johanes Pujasumarta: Meneladan Yesus, Sang Pelikan Sejati

"Aku sudah menyerupai burung undan di padang gurun, sudah menjadi seperti burung ponggok pada reruntuhan. Aku tak bisa tidur dan sudah menjadi seperti burung terpencil di atas sotoh" (Mzm 102:6-7)

"Pie Pellicane, Iesu Domine, veni in corde meo! O Pelikan yang saleh, Yesus Tuhan, datanglah dalam hati saya!" inilah status Blackbery Messenger milik Monsinyur Johannes Maria Trilaksyanta Pujasumarta, Uskup Agung Semarang sampai meninggalnya dengan gambar tiga pelikan yang sedang berenang di air yang tenang seperti yang terlihat pada gambar di bagian ini. Profil status itu pulalah yang mengiringi Monsinyur Pujasumarta masuk ke dalam kedamaian abadi, kembali ke rumah Bapa. Jauh sebelum menuliskan status itu, Monsinyur Puja telah menggubah lirik tersebut menjadi sebuah lagu yang berjudul "Pie Pellicane.Lagu ini merupakan pengembangan dari bait keenam lagu "Adoro te devote" ciptaan Santo Thomas Aquinas: “Pie pellicane, Iesu Domine, me immundum munda tuo sanguine; cuius una stilla salvum facere totum mundum quit ab omni scelere.” Lagu Thomas Aquinas itu mengisahkan Yesus, Sang Pelikan yang baik.
Pelikan menjadi simbol dalam Ekaristi dan sering dilukiskan pada dinding, kanvas, dan kaca patri. Kisah pelikan itu bercerita tentang burung pelikan yang mematuk leher dengan paruhnya sendiri supaya darah yang mengucur bisa menjadi makanan bagi anak-anaknya. Simbol ini ditemukan dalam Physiologus, sebuah karya Kristiani awal yang muncul sekitar abad kedua di Alexandria, Mesir. Karya ini disinggung oleh Santo Epifanius, Santo Basilius, dan Santo Petrus dari Alexandria. Karya ini menjadi terkenal pada Abad Pertengahan serta menjadi sumber simbol-simbol yang terukir pada batu atau karya seni pada saat itu. Dalam karya seni Kristiani, pelikan menyimbolkan pengurbanan Kristus yang paling sempurna di salib untuk keselamatan manusia. Seperti si pelikan, Kristus menumpahkan darahnya di salib untuk penebusan dosa kita dan Kristus menyerahkan dirinya sendiri dalam kurban Ekaristi untuk menyuburkan dan menguatkan kerohanian kita. Sepanjang prosesi persemayaman di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Randusari, Semarang sampai pemakaman di Seminari Tinggi Santo Paulus Yogyakarta, lirik lagu Pie Pellicane senantiasa mengiringi. 
Pendalaman Monsinyur Pujasumarta tentang burung pelikan ternyata sudah mulai dilakukan sejak awal karyanya di Keuskupan Agung Semarang. Pada peristiwa instalasi Uskup Agung Semarang pada tanggal 7 Januari 2011, Monsinyur Pujasumarta mendapatkan warisan tongkat gembala dengan simbol burung pelikan. Desain tongkat gembala itu disesuaikan dengan simbol yang dipakai oleh Kardinal Yustinus Darmojuwono. Sesudah Kardinal Damajuwono, pemakaian tongkat gembala itu dilanjutkan oleh uskup-uskup berikutnya. Pada peringatan Hari Pangan Sedunia Tahun 2011, Monsinyur Pujasumarta juga menulis refleksi tentang burung pelikan dalam Surat Gembala yang dibacakan pada tanggal 15-16 Oktober 2011. Kisah itu dinyatakan sebagai berikut:

Di kalangan bangsa burung ada kisah tentang keluarga burung pelikan di hutan yang subur. Konon, ketika musim kemarau tiba, kekeringan terjadi. Makhluk-makhluk hutan menderita, tidak terkecuali keluarga burung pelikan. Bencana kelaparan melanda hutan tersebut. Induk pelikan tidak diam saja menyaksikan anak-anaknya hampir mati kelaparan dan kehausan. Ada suara lirih namun jelas terdengar oleh induk pelikan, “Kamu harus memberi mereka makan!” Namun, tidak tersedia makan dan minum lagi untuk mereka. Induk pelikan tidak kehilangan akal. Ia sorongkan temboloknya, seakan berkata kepada anak-anaknya, “Makanlah tubuhku, minumlah darahku!”

Kisah burung pelikan ini nampaknya begitu menjadi inspirasi tersendiri bagi Monsinyur Pujasumarta sampai-sampai ia memiliki gagasan agar kolam yang akan dibangun di Pusat Pastoral Sanjaya Muntilah dirancang menjadi habitat burung pelikan seperti yang dituliskan pada tanggal 20 September 2014 ini:

Saya mendengar ada rencana untuk membuat kolam air di kawasan Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan (PPSM). Sebagai sarana animasi yang hidup saya berpikir, sangatlah baik bila kolam tersebut dirancang untuk menjadi habitat yang nyaman bagi burung pelikan. Pemeliharaan dan pengamatan langsung mengenai kehidupan pelikan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi hidup beriman kita.
Ayo kita bermimpi dapat berternak burung pelikan di PPSM. Siapa mau membantu untuk mewujudkan mimpi itu? May the dreams come true.

Yesus, Sang Pelikan Sejati, yang sudah mengurbankan tubuh dan darahnya sendiri demi keselamatan manusia, telah menjadi inspirasi yang tiada habisnya bagi Monsinyur Pujasumarta. Inspirasi rohani ini juga ditawarkan kepada kita. Kita diajak untuk meneladan Yesus, Sang Pelikan Sejati. Selamat jalan Monsinyur Pujasumarta. Selamat bertemu dengan Sang Pelikan Sejati, Yesus Kristus, yang telah memanggil Monsinyur Pujasumarta saat ini dan kami pada saatnya nanti menuju rumah kediaman abadi di surga. Terima kasih atas warisan ajaran yang ditinggalkan. Semoga kami juga boleh meneladan Yesus, Sang Pelikan Sejati.