Senin, 02 Mei 2016

Sadar sebagai Garam dan Terang Dunia

Tidak terasa bahwa Prapaska tahun ini datang begitu cepat. Hari Rabu, 10 Februari 2016, seluruh orang Katolik sedunia memasuki Masa Prapaska yang diawali dengan Hari Rabu Abu. Hari Rabu Abu merupakan hari pengenangan awal masa pantang dan puasa yang akan dijalani oleh Gereja. Di Ruang Podjok, sebelum hari Rabu Abu, Penjaga Podjok mengingatkan para anggotanya untuk mengikuti Perayaan Ekaristi atau Ibadat Penerimaan Abu pada hari Rabu Abu itu. Menerima abu menjadi tanda bahwa manusia itu rapuh dan penuh dosa yang memerlukan pertobatan yang terus-menerus. Masa Prapaska tahun ini terasa istimewa karena Masa Prapaska ini berjalan seiring dengan Tahun Kerahiman Allah yang telah ditetapkan oleh Paus Fransiskus. Alangkah indahnya menghayati Masa Prapaska yang penuh dengan nuansa pertobatan sekaligus mencoba menghayati betapa Allah itu maharahim dan mau menerima kembali manusia yang mau datang kepadaNya.
Untuk menanggapi Masa Prapaska ini, Ruang Podjok pun membuat beberapa program yang diharapkan mampu menambah penghayatan dan pendalaman iman. Di Keuskupan Agung Semarang, tema yang dipilih untuk Masa Prapaska dan Aksi Puasa Pembangunan adalah Akulah Garam dan Terang Dunia. Inilah yang diungkapkan dalam Surat Gembala Prapaska 2016 Keuskupan Agung Semarang, "Tema ini menyadarkan jatidiri kita sebagai murid Yesus yang siap diutus untuk menaburkan garam kebaikan di tengah masyarakat sehingga kehidupan bersama tidak terasa hambar; untuk membawa terang sehingga memungkinkan setiap orang menemukan kebenaran dan jalan keselamatan. Seperti Simon dan Yesaya, semoga kita, murid Tuhan ini, juga berani menanggapi panggilan Yesus dengan memberikan jawaban: 'Inilah aku; utuslah aku menjadi garam dan terang dunia.'" 
Masih dari Surat Gembala Prapaska 2016 Keuskupan Agung Semarang, dinyatakan juga perutusan sebagai garam dan terang dunia, ​"Kita yakin bahwa panggilan dan perutusan kita sebagai garam dan terang dunia akan semakin meman tap kan iman kita. Dengan iman yang mantap itu kita memberi kesaksian melalui keteladan dan perbuatan yang berkenan kepada Allah serta berguna bagi masyarakat. Gagasan Romo Albertus Soegijapranata SJ tentang lingkungan, sewaktu masih berkarya di Bintaran pada tahun 1934, mendorong umat katolik untuk hadir dan terlibat dalam kehidupan bermasya rakat. Romo Soegija mengung kap kan: 'Alangkah baiknya kalau dalam setiap wilayah pemukiman terdapat ‘seorang pribumi yang bersemangat’ yang dapat mengumpulkan orang-orang katolik, supaya orang katolik tidak ‘berkedudukan’ di luar lingkungan hidup mereka (berkumpul pada hari Minggu di gedung gereja), melainkan supaya orang katolik tinggal di tengah-tengah masyarakat, sebagai orang beriman menjadi satu dengan hidup sosial'. Pemikiran itulah yang kemudian melahirkan sistem lingkungan dalam tata penggembalaan umat di paroki-paroki dan sangat khas di Jawa. Sistem lingkungan bukan semata-mata sistem administrasi, melainkan sebagai sarana keterlibatan sosial, supaya iman kristiani benar-benar berakar di masyarakat. Melalui karya nyata dalam keterli batan sosial di tengah masyarakat, kita mengem ban tugas perutusan sebagai garam dan terang dunia."
Tema inilah yang akan didalami selama Masa Prapaska. Akhirnya, dibuatlah rancangan dua kali pertemuan APP untuk mendalami tema Akulah Garam dan Terang Dunia. Pertemuan APP tahun ini diadakan pada dua kali hari Jumat (20/2 dan o4/3).
Pertemuan pertama APP 2016 di Ruang Podjok dimulai dengan penjelasan mengenai tema  APP 2016, yaitu “Akulah Garam dan Terang Dunia” Melalui tema ini, umat, terutama kaum muda Katolik, beriman diajak membangun Iman yang Inklusif, Inovatif, dan Transformatif. Inklusif berarti terbuka pada siapapun dan apapun yang baik. Setiap orang beriman diajak untuk membuka diri kepada kehadiran hal-hal baik di sekitarnya. Hal-hal baik ditemukan tidak hanya dalam kelompok sendiri, tetapi hal baik juga ditemukan dalam diri orang lain, termasuk mereka yang menganut agama dan kepercayaan yang lain. Kepada mereka juga, kita harus terbuka. Orang yang tidak mau membuka diri kepada orang lain akan menjadi orang yang fanatik dan tidak mampu melihat kebaikan dalam diri orang lain. Hidupnya akan menjadi semakin terkungkung dalam pandangan sendiri. Inovatif berarti melakukan pembaruan-pembaruan sebagai hasil kreativitas serta pengolahan cipta, rasa dan karsa. Sebagai hasil dari keterbukaan kepada pihak lain, orang mulai menggunakan daya cipta mereka untuk menemukan hal-hal baru untuk semakin mengembangkan kehidupan diri sendiri maupun kehidupan orang lain. Inovasi diperlukan agar hidup tidak monoton. Orang yang penuh inovasi selalu memiliki alternatif-alternatif dalam pemecahan masalah. Transformatif berarti mengusahakan tindakan-tindakan yang mengubah kehidupan. Keterbukaan dan inovasi diharapkan mampu membawa perubahan dalam masyarakat. Perubahan yang dibuat diharapkan akan membawa masyarakat pada situasi yang lebih baik. Transformasi diharapkan membawa situasi baru dalam masyarakat. Satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah perubahan. Perubahan juga merupakan tanda dari pertobatan. Orang berubah menuju hidup yang baik. Dalam pertemuan Kaum Muda Asia 2014 di Daejon, Korea, Paus Fransiskus mengatakan “Bangun! Bangun! Orang bernyanyi, menari dan bergembira dalam keadaan bangun. Tidak baik ketika orang muda tidur. Jangan! Bangun, majulah.” Paus Fransiskus mengajak seluruh kaum muda Katolik untuk “Bangun!”, Bangun dan bergerak, berbuat dan berkarya dalam masyarakat serta Gereja. Iman yang inklusif, inovatif, dan transformatif harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga orang secara konkret menjadi garam dan terang dunia. 
Setiap orang mampu untuk mewujudkan iman dalam kehidupannya. Untuk mewujudkan iman, diperlukan sebuah persekutuan yang mewadahi orang-orang yang beriman sama. Dalam Gereja Katolik, wadah itu disebut Lingkungan. Lingkungan ini diajak untuk menjadi garam dan terang dunia. Penjaga Podjok pun mengajak anggota Ruang Podjok yang mengikuti pertemuan APP untuk melihat pengalaman dengan beberapa panduan pertanyaan: 1) Menurut pendapatmu, lingkungan semacam apa yang terjadi dalam Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta? 2) Hal-hal baik apa yang menurutmu sudah terjadi dalam Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta? 3) Hal-hal apa kurang baik apa yang menurutmu harus dibuang jauh dalam Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta? 4) Apa yang dapat kita buat sehingga Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta dapat semakin guyub dan semakin hidup? 5) Hal-hal apa yang dapat kita buat sehingga Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta dapat menampakkan hidup sebagai garam dan terang dunia di lingkungan SMK Negeri 3 Surakarta? Ada banyak pendapat dan gagasan yang terungkap saat itu.
Setelah melihat pengalaman, pendalaman inspirasi Kitab Suci dilakukan dengan membaca Kis 2:41-47. Kutipan itu menunjukkan bahwa cara hidup jemaat perdana memberikan gambaran yang paling tepat mengenai persekutuan orang Kristiani dan dilestarikan sampai sekarang dalam lingkungan. Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul, memecahkan roti, dan berdoa (Kis 2:42). Hal-hal ini sekarang juga dilakukan dalam lingkungan melalui pembacaan Sabda, Ekaristi, dan doa bersama. Mereka bersatu, sehati, dan berbagi (Kis 2:44-46). Kesatuan jiwa dan raga serta kerelaan untuk berbagi sekarang juga masih dihidupi sebagai tindakan konkret untuk peduli sesama. Mereka disukai banyak orang dan tiap hari Tuhan menambahkan jumlah orang yang diselamatkan (Kis 2:47). Kehidupan orang Kristiani tampil sebagai garam dan terang dunia sehingga semakin banyak orang melihat kasih Allah. Lingkungan merupakan wadah yang ditetapkan oleh Gereja Katolik bagi pribadi-pribadi maupun keluarga-keluarga untuk terlibat dalam persekutuan umat. 
Kehidupan jemaat perdana pun dilestarikan oleh Gereja Katolik Indonesia dalam wujud Lingkungan. Gagasan pembentukan lingkungan berawal dari gagasan perlunya pembagian wilayah paroki menjadi wilayah-wilayah yang lebih kecil dalam “Konferensi tentang Perkembangan Pastoral Umat Katolik di Bintaran” Yogyakarta pada tanggal 22 September 1934. Pertemuan dihadiri oleh tiga pastur Jawa (A. Soegijapranata, SJ, A. Djajasepoetra, SJ, dan A. Prawirapraptama) serta dua pastur Belanda (A. de Kuijper dan H. Snijders). “Agar supaya perkenalan paroki-paroki ditingkatkan diperlukan sekali bahwa paroki-paroki itu dibagi-bagi menjadi wilayah-wilayah dan bahwa wilayah-wilayah itu dikepalai seorang Jawa yang bersemangat ('een flinke katholieke Javaan'). Dialah yang dapat memahami sendiri keadaan wilayahnya dan dapat memberikan laporan tentangnya kepada pastor Paroki. Dia sebaiknya dibantu oleh orang katolik lainnya khususnya para muda (anggota konggregasi). Demi pengakuan yang sedikit resmi maka sebaiknya dia mendapat suatu lencana. Pada waktu-waktu tertentu kepala-kepala wilayah tersebut berapat dengan Pastor Paroki demi informasi Pastor. Surat-surat tentang keadaan keluarga (parochiebriefjes) hendaknya diisi untuk sebagian besar oleh kepala-kepala ini bersama pembantu-pembantunya”. Gagasan pembentukan wilayah-wilayah yang lebih kecil ini kemudian diterapkan di Stasi Wedi, Gereja Bintaran, dan Gereja Kotabaru.
Menjelang tahun 2000-an, ada dua macam lingkungan yang dikenal dalam Gereja Katolik, yaitu LINGKUNGAN TERITORIAL dan LINGKUNGAN KATEGORIAL. Lingkungan Teritorial adalah lingkungan yang dibatasi oleh wilayah teritorial dalam sebuah paroki. Lingkungan Kategorial adalah lingkungan yang dibatasi oleh kategori-kategori tertentu, seperti usia, profesi, minat, status, dan kesamaan kategori lainnya serta biasanya terjadi secara lintas paroki. Kerohanian Katolik di SMK Negeri 3 Surakarta termasuk dalam Lingkungan Kategorial karena disatukan dengan kesamaan profesi sebagai pelajar dan status sebagai orang yang sedang belajar serta terdiri dari orang-orang yang berasal dari berbagai macam paroki yang ada di wilayah Kevikepan Surakarta. 
Pertemuan pertama APP diakhiri dengan nasehat dari Santo Filipus Neri yang mengatakan, “Beruntunglah kalian orang-orang muda karena kalian punya banyak waktu untuk berbuat baik.” Semoga Penjaga Podjok dan anggota Ruang Podjok semakin tergerak untuk berbuat baik dalam kehidupan. 
Melanjutkan dinamika pertemuan APP pertama, telah dinyatakan bahwa setiap orang beriman memerlukan persekutuan yang mewadahi orang-orang untuk mewujudkan iman tersebut. Dalam Gereja Katolik, wadah itu disebut Lingkungan. Lingkungan yang menjadi bagian dari Gereja Katolik itu diajak untuk menjadi garam dan terang dunia. Setiap lingkungan perlu mewujudnyatakan imannya dalam tindakan yang konkret dan dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya. Pada tahun 2016 ini, Gereja Keuskupan Agung Semarang memberikan tiga alternatif kepada umat lingkungan untuk mewujudnyatakan iman dalam kehidupan sehari-hari. Tiga alternatif yang diusulkan untuk mewujudkan iman tersebut adalah 1) Tulus Menolong Sesama, 2) Memelihara Keutuhan Alam Ciptaan, dan 3) Berani Melawan Korupsi. Tiga wujud iman tersebut memerlukan prinsip hidup serta kepedulian yang harus kita hayati dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika kita tidak memiliki prinsip hidup yang kuat dan kepedulian terhadap situasi sekitar kita, kita tidak akan bisa melaksanakan wujud iman dalam kehidupan sehari-hari kita. Pada pertemuan ini, diputarkan beberapa film pendek yang bisa menginspirasi untuk melakukan tiga wujud iman itu. 




Setelah melihat film sebagai pengantar, Penjaga Podjok mengajak anggota Ruang Podjok untuk membaca Kitab Suci dari Mat 5:1-12. Di sana, Yesus memberikan ajaran mengenai bagaimana manusia bisa menjalani hidupnya. Cara menjalani hidup seorang manusia akan mempengaruhi sikap manusia tersebut kepada Allah. Kita diajak untuk murah hati sebagai dasar untuk bersikap tulus dalam menolong sesama (Mat 5:7). Kita diajak untuk bersikap lembut sehingga peduli kepada alam sekitar dengan cara memiliki dan memelihara bumi tempat kita hidup (Mat 5:5). Kita diajak untuk hidup suci dan berpegang teguh pada kebenaran karena orang-orang semacam inilah yang akan melihat Allah dan diperhitungkan oleh Allah (Mat 5:8.10). Setelah menimba inspirasi dari Kitab Suci, anggota Ruang Podjok juga diajak untuk menimba kekayaan penghayatan iman melalui dua tokoh orang muda Katolik yang sudah diangkat ke dalam martabat orang kudus, yaitu Beato Alberto Marvelli (1918-1946) dan Beato Pier Giorgio Frassati (1901-1925).

“Aku menginginkan hidupku menjadi tindakan kasih yang terus-menerus .... Kasih itu iman, amal, kerasulan, pelaksanaan tugas, dan hasrat untuk menjadi suci” 
(Beato Alberto Marvelli)

“Jika kamu menempatkan Tuhan sebagai pusat seluruh tindakanmu, kamu akan mencapai tujuan yang telah kamu tetapkan”
(Beato Pier Giorgio Frassati)  













Orang-orang muda Katolik... jadilah garam dan terang dunia...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar