Sabtu, 22 Februari 2014

Kasih adalah Hukum Tertinggi


Mengikuti tema populer yang sering muncul setiap bulan Februari akibat adanya hari Valentine, Ruang Podjok mengangkat KASIH sebagai tema Sekolah Iman bulan ini.

Pengantar untuk Memahami Kasih
Kasih merupakan tema pokok yang selalu dibicarakan oleh Gereja. Tema ini tidak habis-habisnya dibicarakan. Tema pokok tentang kasih ini pertama-tama perlu kita dekati melalui apa yang tertulis dalam Kitab Suci. Dalam Kitab Suci, tema kasih tersebar luas mulai dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Bahkan dapat dikatakan bahwa seluruh Kitab Suci adalah uraian mengenai bagaimana kasih Allah diwujudkan kepada umatnya. Allah mulai mewujudkan kasih kepada umatNya melalui pemilihan bangsa Israel sebagai umatNya dan akhirnya memberikan Yesus Kristus PutraNya sendiri untuk menebus dosa umat manusia yang telah dipilih menjadi umatNya. Meskipun manusia tidak membalas kasih Allah secara sepadan, Allah tetap mencintainya dengan kasih yang tidak terbatas. Dalam pembahasan ini, kita akan membatasi pembicaran dalam beberapa pokok mengenai kasih.

Mengapa Allah adalah Kasih?
Dalam Surat Yohanes, tertulis, “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah sebab Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:8). Dalam kutipan ini, kita diberi pemahaman bahwa Allah adalah kasih. Dengan demikian, orang yang tidak mengasihi adalah orang yang tidak mengenal Allah. Allah adalah sumber kasih karena kebaikan hatinya yang begitu melimpah kepada ciptaanNya, terutama kepada manusia. Pernahkah kita berpikir mengapa kita diciptakan di dunia ini? Kalau dipikir-pikir, tindakan menciptakan atau tidak menciptakan sebenarnya tidak akan menambah keuntungan sedikitpun bagi Allah. Malah, tindakan menciptakan itu kadangkala menjadi kerugian bagi Allah karena ciptaan – terutama manusia – sering tidak taat kepadaNya. Namun, Allah tetap menciptakan kita. Mengapa begitu? Salah satu kemungkinan jawaban yang saya temukan adalah karena Allah mengasihi kita dan memberi kesempatan kepada ciptaanNya untuk melakukan sesuatu. Dengan menciptakan kita, Ia ingin mengutus kita untuk berbuat sesuatu di dunia ini. Kita tidak mungkin diciptakan di dunia ini tanpa suatu tujuan. Kalau kita diciptakan, pasti ada tujuan yang diinginkan Allah dengan penciptaan kita. Kalau dilihat dalam kerangka penciptaan, kiranya dapat dipahami bahwa satu-satunya motivasi Allah untuk menciptakan adalah karena Ia mengasihi ciptaanNya. Penjelasan ini kiranya dapat memberi gambaran kepada kita mengapa Allah adalah kasih. Ia adalah kasih karena Ia mengasihi dengan memberikan kesempatan bagi ciptaanNya untuk menjalani kehidupan.    

Allah Mengasihi Manusia Sepanjang Perjalanan Hidupnya
Kita mengetahui bahwa Allah begitu mengasihi manusia sehingga Ia ingin bahwa manusia senantiasa selamat. Sejak awal mula dunia, Allah telah menunjukkan kasih ini dengan menempatkan manusia pertama di Taman Eden, di mana segala hal yang dibutuhkan manusia disediakan oleh Allah (bdk. Kej 1:29). Tetapi, manusia menjadi makhluk yang kurang berterima kasih dengan melanggar larangan Allah. Allah pun menghukum manusia dengan mengusirnya dari Taman Eden. Meskipun diusir, Allah tetap membekali manusia dengan kemampuan untuk mengusahakan kehidupannya (Kej 3). Setelah manusia keluar dari Taman Eden, Allah tetap memperhatikan hidup manusia. Ia selalu menginginkan agar ciptaanNya selamat. Ini terlihat salah satunya melalui kisah Nuh (Kej 6:9 dst). Ia pun memilih suatu bangsa untuk dijadikan umatNya dan memberikan janji-janji keselamatan kepadanya. Abraham dipilih untuk mewakili pemilihan ini. Ia diberi janji sebagai tanda keselamatan dari Allah (Kej 12 dan 17).
Dalam perjalanan waktu, Allah menyertai kehidupan bangsa pilihannya ini. Ia hadir melalui berbagai macam hal. Kepada Musa, Ia menampakkan penyertaannya “dari muka ke muka” (Kel 3 dan 24) Kepada bangsa Israel, ia hadir melalui tiang awan dan tiang api pada saat pembebasan dari Mesir (Kel 13) dan melalui Tabut Perjanjian dan Kemah Suci pada saat mengembara di padang gurun (Kel 25 dan 26). Setelah masa itu berlalu, Allah tetap menunjukkan kasihNya kepada umat pilihannya melalui kehadiran orang-orang terpilih mulai dari Yosua, hakim-hakim, raja-raja, dan para nabi. Kisah penyertaan Allah kepada manusia pilihannya ini dapat kita lihat dalam kisah Perjanjian Lama, baik Protonakonika maupun Deuterokanonika.

Yesus Kristus sebagai Puncak Wujud Kasih Allah kepada Manusia
Menurut Gereja, kasih yang dimiliki oleh Allah itu kemudian diejawantahkan dalam kehidupan manusia secara penuh dalam diri Yesus Kristus Putra Allah. Penulis Injil Yohanes menyatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal” (Yoh 3:16). Yesus Kristus adalah wujud kasih Allah sehabis-habisnya karena Dialah menampakkan kasih Allah yang total. Kalau kita melihat kisah hidup Yesus dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam Injil, kita akan melihat bagaimana kasih Allah itu ditampakkan secara nyata dalam kehidupanNya. Yesus hidup bersama dan mengalami pahit getir kehidupan manusia. Ia sungguh tahu bagaimana manusia harus menjalani hidupnya. Ia tertawa tetapi juga menangis. Ia dipuja namun juga pernah ditolak. Ia bergembira namun pernah juga bersedih. Melalui hidupNya yang sederhana, Ia mengalami bagaimana senang dan sulitnya menjadi manusia normal.   
Kehidupan Yesus sebagai perwujudan kasih tidak berhenti sampai di situ saja. Ia bahkan memberikan contoh untuk melakukan kasih secara total, yaitu dengan mengorbankan dirinya. Pengorbanan diri itu dilakukan melalui wafatNya di kayu salib. Ia memberikan nyawanya sebagai tebusan dosa manusia. Hidupnya menjadi pembelaan bagi orang-orang yang ingin diselamatkannya. Pengorbanan Yesus ini secara indah dinyatakan oleh rasul Paulus bahwa Yesus Kristus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:6-8). Yesus memberikan hidupNya secara total bagi manusia. Maka, sangat wajarlah jika kita menganggap Yesus sebagai puncak perwujudan kasih Allah kepada manusia. Inilah yang diajarkan Benediktus XVI dalam ensiklik Deus Caritas Est yang manyatakan bahwa puncak karya kasih Allah tampak dalam seluruh hidup Yesus. Dia adalah kasih Allah yang menjelma (Deus Caritas Est 12).

Kasih Sebagai Hukum yang Utama
Dalam hidupNya, Yesus membawa kasih sebagai hukum yang terutama. Penulis Injil Markus mengisahkan sebagai berikut, “Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepadaNya dan bertanya: Hukum manakah yang paling utama? Jawab Yesus: Hukum yang terutama ialah: Dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini. Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: Tepat sekali, Guru, benar kataMu itu, bahwa Dia esa dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan. Yesus melihat bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah! Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus (Mrk 12:28-34).
Hukum ini bukanlah hukum baru. Hukum ini sudah ada sejak lama. Hukum ini ada dalam kehidupan bangsa Israel di Perjanjian Lama. Hukum tentang mengasihi Allah dapat kita lihat dalam Kitab Ulangan (Ul 6:4-5) dan hukum tentang mengasihi manusia dapat kita lihat dalam Kitab Imamat (Im 19:18). Yesus tidak membawa hukum baru tetapi Ia mengungkap kembali kebijaksanaan-kebijaksanaan yang sudah ada sebelumnya. Ia ingin agar manusia di zamannya – dan tentunya di zaman kita – untuk melihat berbagai kebijaksanaan yang sebenarnya sudah ada dalam kehidupan kita. Ia menyatakan, “Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini” (Mrk 12:31b). Hukum terutama yang diajarkan oleh Yesus adalah kasih. Kasih dijadikan dasar oleh Yesus untuk bertindak dalam kehidupan. Dengan demikian, setiap pengikut Yesus dan orang yang mengakui ajaranNya diajak untuk melakukan yang diajarkan oleh Yesus ini.

Tanggapan Manusia (Seharusnya) terhadap Kasih
Kita telah memahami bagaimana kasih yang berasal dari Allah itu hidup sepanjang sejarah manusia. Kasih itu hidup dan menjiwai relasi antara Allah dan manusia. Nah, setelah Allah memberikan kasihNya kepada manusia, pertanyaan yang dapat diajukan sekarang adalah bagaimana manusia harus membalas kasih itu? Jawaban yang singkat tetapi mengena diberikan oleh penulis Surat Yohanes, “Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yoh 4:19). Kutipan ini dengan jelas menyatakan pada kita bahwa yang seharusnya kita lakukan adalah mengasihi.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana melakukan kasih itu? Saya menawarkan dua konsep yang kiranya dapat dijadikan sarana untuk melakukan kasih, yaitu mengasihi sesama manusia dan mengasihi sesama ciptaan. Pertama, mengasihi sesama manusia dapat dilakukan melalui tindakan memanusiakan manusia. Memanusiakan manusia merupakan pemahaman dasar yang wajib dipunyai saat manusia ingin berhubungan dengan sesamanya. Konsep “memanusiakan manusia” akan membimbing kita kepada nilai persaudaraan, kebersamaan, persatuan, dan sebagainya. Dengan memanusiakan manusia, seseorang menempatkan dirinya dalam derajat yang sama dengan orang lain, tidak lebih tinggi dan tidak lebih rendah. Bahkan, orang yang derajatnya rendah diangkat agar mempunyai derajat yang sama. Kedua, mencintai sesama ciptaan diwujudkan melalui tindakan menciptakan keutuhan alam ciptaan. Keutuhan alam ciptaan adalah keseluruhan hidup dan relasi yang harmonis dan terjadi serta berkembang di antara manusia dan ciptaan lainnya. Pelestarian keutuhan alam ciptaan mendesak untuk diwujudkan karena merupakan panggilan dan tugas mendasar manusia untuk mengusahakan dan memelihara alam ciptaan. Dua hal inilah yang saya pikir dapat kita lakukan untuk mewujudkan kasih kita kepada dunia.


Keteladanan Kasih yang Konkret
Bulan Februari ini, Paus Fransiskus melelang Harley-Davidson Dyna Super Glide miliknya. Proses pelelangannya ditangani oleh rumah lelang Bonhams. Motor itu menarik banyak perhatian peminat lelang dari berbagai penjuru dunia. Sehari menjelang acara lelang pada Kamis di  Paris, Prancis, rumah lelang Bonhams mengemukakan bahwa telah menerima sekitar 30 tawaran yang harganya jauh di atas perkiraan. Seperti dilaporkan AFP,  Bonhams memperkirakan moge Dyna Super Glide dengan tanda tangan Paus Fransiskus itu akan lepas dengan harga antara 12 ribu hingga 15 ribu euro. “Seperti yang kami perkirakan, peminatnya banyak. Lelang moge Paus akan menjadi bintang. Hasilnya pasti akan sesuai dengan keinginan si pemilik pertama. Tanda tangan paus, yang pertama kali ada pada kendaraan jenis ini, membuat moge tersebut unik,” kata juru bicara Rumah Lelang Bohhams Prancis. Moge tersebut dipajang di Grand Palais, Paris, tempat lelang berlangsung.
Motor Harley Davidson berjenis Dyna Super Glide 1.585cc itu adalah hadiah dari perusahaan Harley-Davidson kepada Paus Fransiskus pada Juni 2013. Motor itu diberikan oleh Willie G. Davidson, cucu pendiri Harley-Davidson, kepada Paus Fransiskus dalam rangka ulang tahun ke-110 perusahaan motor tersebut. Hadiah tersebut diberikan karena  Roma menjadi salah satu kota yang menjadi tuan rumah pesta perayaan ulang tahun perusahaan motor itu. Tanda tangan  "Francesco" ada di tangki Harley-Davidson itu. Perusahaan sepeda motor asal Milwaukee itu memberikan sebuah sepeda motor plus jaket kepada pemimpin umat Katolik itu untuk ditandatangani. Pada November 2013, Paus Fransiskus menyumbangkan motor dan jaket yang diterimanya tersebut kepada Caritas Roma yang merupakan badan amal Gereja Katolik Roma. Dana dari penjualan dua barang itu akan dipakai untuk biaya renovasi hostel Don Luigi di Liegro dan  dapur umum di stasiun kereta Termini, Roma yang menjadi tempat penampungan dan dapur umum bagi para tunawisma.
Pada hari Jumat, 7 Februari 2014, Harley-Davidson milik Paus Fransiskus tersebut laku terjual senilai Rp 4 miliar. Pembeli di Balai Lelang Bonhams tersebut adalah seorang Eropa yang tidak disebutkan namanya. Pria yang menolak disebut namanya itu membayar jauh melebihi harga penawaran yaitu Rp 192 juta. “Ini bakal jadi rekor penjualan Harley-Davidson di abad XXI,” kata Ben Walker, kepala pelelangan sepeda motor di Bonhams. Selain sepeda motor, Bonhams juga melepas jaket kulit Harley-Davidson dengan tanda tangan Paus Fransiskus seharga Rp 939 juta. Pembelinya hanya disebut seorang dari luar Prancis. “Tidak ada jaket lain semahal itu,” kata Walker.
Kisah ini hanya salah satu dari sekian banyak perwujudan kasih dalam kehidupan kita. Pemimpin Gereja kita telah memberikan teladan untuk berbuat kasih. Ia tidak mementingkan kesenangan pribadinya namun berpikir mengenai keperluan orang lain yang lebih membutuhkan.

Pengantar Memasuki Masa Prapaska
Melalui sedikit contoh dan pembahasan ini, kita diajak bersiap untuk memasuki Masa Prapaska tahun 2014 ini. Tema Aksi Puasa Pembangunan Keuskupan Agung Semarang kali ini adalah “Berikanlah Hatimu untuk Mencintai, Ulurkanlah Tanganmu untuk Melayani.” Tema ini merupakan kutipan dari seorang pelayan Gereja yang sangat terkenal, yaitu Ibu Teresa dari Kalkuta. Melalui sedikit permenungan ini, marilah kita memasuki Masa Prapaska dengan hati yang terbuka untuk mencintai dan tangan yang terulur untuk melayani.

Jumat, 07 Februari 2014

Alih Tangan Kunci

Setiap orang selalu memiliki ritual. Ritual ini menandai saat-saat khusus dalam kehidupan seseorang. Ruang Podjok pun juga memiliki beberapa ritual. Dan salah satu ritual yang dimiliki oleh Ruang Podjok adalah Alih Tangan Kunci.
Ritual Alih Tangan Kunci merupakan ritual yang digagas oleh Penjaga Podjok sebagai tanda bahwa penerusan tanggung jawab pelayanan Kerohanian Katolik dari koordinator yang lama kepada koordinator yang baru. Alih Tangan Kunci ini terinspirasi dari kisah Petrus yang diberi kunci Kerajaan Surga oleh Yesus (Mat 16:19). Kunci inilah yang kemudian menjadi lambang dalam jabatan Paus karena Gereja Katolik meyakini bahwa Paus menjadi menjadi pengganti Petrus untuk melaksanakan tugas sebagai wakil Kristus di dunia ini.


Dalam refleksi saya, kunci melambangkan tanggung jawab yang besar. Seseorang yang diberi kunci berarti diberi kepercayaan atas apa saja yang ada dalam sebuah bangunan. Jika sebuah rumah kehilangan barang, yang pertama kali akan dicari adalah si pemegang kunci. Dia akan dimintai pertanggungjawaban atas tugas yang dipercayakan kepadanya. Dalam sebuah majalah komputer terbitan luar negeri, saya pernah melihat iklah komputer dengan kata-kata “for keyholder.” Digambarkan disana ada seorang bapak sepuh yang membawa tongkat dengan kunci yang bergelantungan disana. Ia adalah penjaga kota selama kota itu ditinggalkan warganya yang berlibur saat kota tersebut mengalami musim salju. Setiap warga kota memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjaga rumah-rumah mereka selama mereka tinggalkan. Untuk tugas itu, ia pasti membutuhkan sarana. Sebuah perusahaan komputer membidik peluang itu dengan menawarkan komputer sebagai sarana bantu baginya untuk melaksanakan tugas itu. Memegang kunci berarti memegang tanggung jawab. Penjaga Podjok ingin setiap siswa yang memegang kunci menyadari hal ini.



Ritual Alih Tangan Kunci ini telah dilaksanakan dua kali. Tahun lalu, pada tahun 2013, diadakanlah Alih Tangan Kunci dari Dominica Tiffani Dewi Artyanti kepada Fransisca Dea Triastuti. Tiffani adalah Koordinator Sub Seksi Kerohanian Katolik OSIS SMK Negeri 3 Surakarta Tahun Pelajaran 2011-2012, sedangkan Sisca adalah Koordinator Sub Seksi Kerohanian Katolik OSIS SMK Negeri 3 Surakarta Tahun Pelajaran 2012-2013. Tahun ini, di tahun 2014, terjadilah Alih Tangan Kunci dari Fransisca Dea Triastuti kepada Sinta Raras Swargani, Koordinator Sub Seksi Kerohanian Katolik OSIS SMK Negeri 3 Surakarta Tahun Pelajaran 2013-2014. Dengan Alih Tangan Kunci ini, tanggung jawab pun beralih. Namun, Koordinator Kerohanian Katolik yang lama tidak langsung berhenti tetapi tetap menjadi Koordinator Kerohanian Katolik bagi teman-temannya yang seangkatan. 
Terima kasih kepada Koordinator Kerohanian Katolik yang sudah selesai menjalankan tugas strukturalnya. Selamat bekerja kepada Koordinator Kerohanian Katolik yang sedang menjalankan tugas selama masa jabatannya. Tuhan memberkati pelayanan kalian semua. Mari bekerjasama dan bekerja bersama untuk semakin menjadikan kita semua berkat bagi sesama.

Sumber gambar:
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/b4/Entrega_de_las_llaves_a_San_Pedro_%28Perugino%29.jpg

Jumat, 31 Januari 2014

Mencari Terang Natal dalam Kegelapan

Perayaan Natal Bersama SMK Negeri 3 Surakarta memang telah berlangsung selama beberapa tahun. Beberapa tahun ini, Natal memberikan berbagai macam kesan. Tahun ini, seperti digambarkan dalam judul posting, Perayaan Natal terjadi di SMK Negeri 3 Surakarta di tengah kegelapan. Mengapa begitu? Perayaan Natal tahun ini memang sungguh-sungguh gelap karena terjadi dalam situasi mati lampu. Dua hari sebelum Perayaan Natal, datanglah sebuah surat dari Perusahaan Listrik Negara yang memberikan kabar bahwa hari Senin akan diadakan pemadaman listrik mulai jam 09.00 sampai 15.00. Padahal, acara Natal Bersama diadakan sekitar pukul 10.00 sampai 12.00. Akhirnya, Perayaan Natal yang diadakan pada Senin (13/1) itu terjadi di tengah kegelapan. Namun, meskipun berada dalam kegelapan, Perayaan Natal SMK Negeri 3 Surakarta dapat berlangsung dengan lancar.







Acara Natal yang terjadi di tengah kegelapan ini malah menimbulkan kesan tersendiri. Bukankah memang setiap Natal kita selalu mencari dan menunggu-nunggu Sang Terang? Bukankah orang Kristiani memang selalu dipanggil untuk menjadi terang di tengah dunia yang kadangkala dipenuhi dengan kegelapan ini? Diterangi dengan sinar temaram empat buah lilin Natal, seluruh keluarga besar warga Kristiani SMK Negeri 3 berusaha menemukan terang yang dibawa oleh Yesus Kristus, Sang Juruselamat. Yesus Kristus adalah Sang Terang yang mengusir kegelapan hati kita. Hal ini mengingatkan saya pada homili yang disampaikan oleh Paus Fransiskus pada Misa Malam Natal tahun lalu:

“Orang yang berjalan dalam kegelapan akan melihat terang yang besar” (Yes 9:1). Nubuat nabi Yesaya ini tidak pernah berhenti menyentuh kita, khususnya ketika kita mendengarnya saat diwartakan dalam liturgi Malam Natal. Ini bukanlah sesuatu yang emosional atau sentimental saja. Nubuat ini menggerakkan kita karena menyatakan kenyataan yang sebenar-benarnya siapa diri kita: orang-orang yang sedang berjalan dan di sekeliling kita dan dalam diri kita ada gelap dan terang. Pada malam ini, seiring kuasa kegelapan yang menutupi dunia, ada peristiwa yang memperbarui serta selalu mengherankan dan mengejutkan kita: orang-orang yang berjalan melihat terang besar. Sebuah terang mengajak kita merefleksikan misteri ini: misteri perjalanan dan penglihatan.
Perjalanan. Kata ini mengajak kita merefleksikan soal sejarah, yaitu perjalanan panjang sejarah keselamatan, dimulai dari Abraham, bapa kita dalam iman, yang pada suatu hari telah dipanggil Allah untuk pergi meninggalkan tanah airnya menuju daerah yang akan ditunjukkan kepadanya. Sejak saat itu, identitas kita sebagai orang-orang beriman adalah orang-orang yang melakukan perjalanan ziarah menuju tanah yang dijanjikan. Sejarah ini selalu didampingi oleh Allah. Dia setia kepada perjanjian dan janjiNya. “Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan” (1 Yoh 1:5). Meskipun demikian, dalam diri manusia, ada terang dan gelap, kesetiaan dan ketidaksetiaan, kepatuhan dan pemberontakan; saat menjadi peziarah dan saat menjadi pembelot.
Dalam sejarah pribadi kita, ada peristiwa terang dan gelap, cahaya dan bayang-bayang. Jika kita mencintai Allah dan saudara-saudari kita, kita berjalan dalam terang; tapi jika hati kita tertutup, jika kita didominasi oleh kebanggaan, tipu daya, dan kepentingan diri sendiri, kegelapan akan melingkupi diri dan sekitar kita. “Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi karena kegelapan itu telah membutakan matanya” (1 Yoh 2:11).
Pada malam ini, seperti percikan cahaya yang sangat terang, ada seruan keras dari Sang Rasul: “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata” (Tit 2:11). Rahmat yang terungkap dalam dunia kita adalah Yesus, yang lahir dari Perawan Maria, sungguh manusia dan sungguh Allah. Dia telah memasuki sejarah kita. Dia terlibat dalam perjalanan kita. Dia datang untuk membebaskan kita dari kegelapan dan menganugerahkan terang kepada kita. Dalam dia, kita menyingkap rahmat, belas kasih, dan cinta yang lembut dari Allah. Yesus adalah cinta yang mewujudnyata.  Dia bukan sekedar guru kebijaksanaan, dia bukanlah idola yang dengan susah payah kita perjuangkan sementara kita tahu bahwa kita tidak dapat menggapainya. Dia, memberi makna pada kehidupan dan sejarah, yang mendirikan kemahNya di tengah-tengah kita.
Pada gembala pertama-tama melihat “kemah” ini dan menerima kabar kelahiran Yesus. Merekalah yang pertama karena mereka berada di antara yang terakhir, yang tersingkir. Mereka menjadi yang pertama karena mereka waspada, berjaga di waktu malam, melindungi kawanan ternaknya. Bersama dengan mereka, marilah kita berdiam sejenak di hadapan Sang Putra, berhenti sejenak dalam keheningan. Bersama dengan mereka, marilah kita bersyukur pada Tuhan yang telah memberikan Yesus kepada kita, dan bersama mereka kita mengangkat pujian dari kedalaman hati kita bagi kesetiaan Allah: Kami memujiMu, Allah yang Mahatinggi, yang telah merendahkan diri bagi kepentingan kami. Sangat agunglah Engkau namun Engkau membuat dirimu kecil; Sangat kayalah engkau namun Engkau membuat dirimu miskin; Sangat berkuasalah Engkau namun Engkau membuat dirimu sangat rapuh.
Pada malam ini, marilah kita membagikan kegembiraan Injil: Allah mencintai kita. Dia sangat mencintai kita sehingga memberikan anakNya sebagai saudara kita, sebagai terang dalam kegelapan kita. Kepada kita, Tuhan menyatakan: “Jangan takut!” (Luk 2:10). Dan saya mengulangi: Jangan takut! Bapa kita sabar. Dia mencintai kita. Dia memberi kita Yesus untuk membimbing kita pada jalan yang akan mengarahkan kita ke tanah terjanji. Yesus adalah terang yang mencerahkan kegelapan. Dialah damai kita. Amin.


Tahun ini, acara Perayaan Natal Bersama dikoordinir oleh Sub Seksi Kerohanian Katolik, yaitu Sinta Raras Swargani. Bersama dengan sekitar 20 teman, dia berusaha mengorganisir acara Natal Bersama. Tidak mudah perjuangan yang dialami oleh panitia. Ketidakmudahan itu antara lain disebabkan karena acara yang kemudian terpaksa diundur. Perayaan Natal Bersama yang sedianya dilaksanakan tanggal 10 Januari itu harus diundur ke tanggal 13 Januari karena tanggal 10 Januari ada acara Peresmian Gedung Baru SMK Negeri 3 Surakarta oleh Bapak Walikota Surakarta yang dihadiri pula oleh Bapak Menteri Pemuda dan Olahraga. Karena sifat acara peresmian yang lebih besar itu, acara Natal Bersama pun diundur pada tanggal 13.



Pemunduran acara ini juga mempengaruhi perubahan pemberi renungan karena tidak mudah menemukan romo yang berkenan memberi renungkan dikarena jadwal para romo yang begitu padat. Akhirnya, Romo Mateus Wahyudi, MSF dari Paroki Santo Petrus Purwosari Surakarta dengan rela hati berkenan hadir dan memberikan renungan bagi seluruh warga Kristiani SMK Negeri 3 Surakarta. Dalam renungan yang dibawakan, Romo Wahyudi memberikan tiga hal untuk direnungkan, yaitu Berdoa, Bersyukur, dan Berusaha. Dengan tiga hal itu, kita menanggapi kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari. Tiga hal itu juga merupakan usaha manusia untuk menemukan terang Allah. Melalui tiga hal itu, kita diajak untuk memancarkan terang dalam kehidupan sehari-hari. Ingat bahwa kita orang Kristiani adalah garam dan terang dunia. Tiga hal ini yang dapat menjadi sarana kesaksian kita. Orang Kristiani adalah orang yang selalu berdoa, bersyukur, dan berusaha.











Perayaan Natal Bersama ini akhirnya dipungkasi sekitar pukul 12.00. Setelah itu, panitia bekerjasama membereskan segala hal yang digunakan dalam perayaan ini. 


Tidak ada kata lain yang bisa diucapkan selain kata TERIMA KASIH kepada segenap panitia, Bapak Ibu Guru dan Karyawan, seluruh siswa Kristiani dan semua pihak yang telah membantu dalam penyelenggaraan Natal ini. Seluruh perhatian dan bantuan merupakan sumbangan yang besar bagi kami sehingga Perayaan Natal dalam kegelapan di tahun ini benar-benar menerbitkan terang. Tuhan memberkati kita semua. Berkah Dalem

Minggu, 05 Januari 2014

Persembahan Seluruh Hidup dari Tiga Orang Majus




“Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur” 
(Mat 2:11)

Setiap tahun, Perayaan Natal selalu merupakan rangkaian panjang. Masa ini dimulai dengan Masa Adven yang menjadi masa bagi umat beriman untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan. Perayaan Natal ditutup dengan Perayaan Epifani atau Hari Raya Penampakan Tuhan, yaitu perayaan datangnya tiga orang majus untuk menyembah Yesus. Penampakan Tuhan kepada orang majus dari timur itu ternyata sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya. Ketika bernubuat kepada Yerusalem, Yesaya berkata, “Terang Tuhan terbit atasmu dan kemuliaanNya menjadi nyata atasmu. Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu dan raja-raja menyongsong cahaya yang terbit bagimu. Sejumlah besar unta akan datang menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan-perbuatan masyhur Tuhan” (Yes 60:2.6). Hari ini adalah Hari Raya Penampakan Tuhan itu.
Dalam perayaan liturgi Gereja Katolik, hari ini dibacakan kisah tiga orang majus dari timur yang datang menyembah bayi Yesus dan membawa tiga buah persembahan: emas, kemenyan, dan mur. Kisah inilah yang diingat dalam Hari Raya Epifani atau Hari Raya Penampakan Tuhan. Sebenarnya, Kitab Suci hanya menyebut “orang-orang majus” (lih. Mat 2:1). Tidak ada keterangan berapa banyak jumlah mereka. Namun, karena ada tiga benda yang dipersembahkan, kemudian muncullah pandangan yang mengatakan bahwa para Majus yang datang ke tempat kelahiran Yesus ada tiga orang. Tulisan ini tidak hendak membahas jumlah para Majus, namun akan menyoroti tiga benda pemberian para Majus itu yang ternyata mewakili seluruh kehidupan Yesus sendiri. Selain itu, kita akan sedikit merefleksikan apa yang disampaikan oleh cerita tersebut.



EMAS: Pemberian Untuk Seorang Raja 

Emas sering disebut di dalam Alkitab, bahkan emas adalah logam pertama yang disebutkan (Kej.2:11). Emas adalah logam mulia yang mudah ditempa dan dibentuk menjadi peralatan atau perhiasan. Emas adalah satu-satunya logam yang ketika dipanaskan dengan api tidak kehilangan sifat, berat, dan warnanya. Kesempurnaan logam inilah yang secara simbolis melambangkan kedudukan tertinggi, datangnya seorang raja.
Pada zaman Yesus, ada kebiasaan dimana tidak seorang pun dapat datang kepada Raja tanpa membawa persembahan. Seorang raja tidak mungkin dapat ditemui tanpa membawa berbagai macam pemberian. Emas adalah persembahan yang paling cocok. Emas adalah raja dari segala logam. Maka, pemberian emas adalah pemberian terhormat dan tepat untuk seorang raja. Emas dipersembahkan kepada bayi Yesus. Jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah seorang Raja.Persembahan emas menyatakan bahwa Yesus dilahirkan untuk menjadi Raja. Ia adalah penguasa Kerajaan Allah dan Raja di atas segala raja. Ia tidak memerintah dengan menggunakan pasukan, tetapi menggunakan bahasa kasih; bukan dengan tangan besi atau dengan kekuatan senapan, tetapi dengan cinta kasih. Ia tidak memerintah dari atas tahta kerajaan, namun dari atas kayu salib. Ia memerintah dengan merendahkan diri, mengorbankan diri demi rakyat Kerajaan-Nya.
Kalau kita ingin menjadikan Yesus sebagai Raja dalam kehidupan kita, maka langkah awalnya adalah kita perlu datang dan bertemu dengan Dia; meletakkan seluruh kehidupan kita di hadapan-Nya atau dengan kata lain kita perlu takluk dibawah kehendak dan kuasa Yesus.

KEMENYAN: Pemberian Untuk Seorang Imam

Kemenyan adalah hasil pengeringan getah pohon tertentu yang digunakan sebagai wangi-wangian. Pohon yang menghasilkan kemenyan ini sering disebut ‘arbor thurisfrom’  dan tumbuh  di daerah Persia, Arab, dan India. Getah itu dikumpulkan dan dikeringkan selama tiga bulan sehingga menjadi seperti damar yang keras atau permen karet. Kemenyan digunakan  sebagai wangi-wangian dan dipakai sebagai bau-bauan harum selama pelaksanaan ibadah. Di dalam kitab Keluaran, Harun membakar kemenyan di altar sebagai persembahan yang harum bagi Tuhan.
Sejak dulu sampai sekarang, kemenyan dipakai sebagai pewangian yang digunakan didalam ibadat dan upacara. Kemenyan digunakan oleh para imam untuk menguduskan persembahan. Tradisi ini masih dijalankan di kalangan gereja Katolik. Wangi-wangian hasil bakaran yang harum menyerbak memenuhi ruangan melambangkan cinta kasih yang dibagi kepada semua orang. Persembahan kemenyan kepada bayi Yesus hendak menunjukkan bahwa Yesus adalah seorang imam, Imam yang Agung. Tugas imam adalah menjadi perantara antara umat dan Allah. Imam menjadi penengah. Seperti sifat kemenyan, imam harus membawa jemaat kepada kemuliaan dan kebesaran Tuhan. Dan ini yang dilakukan Yesus. Dialah Imam Agung yang membuka jalan untuk manusia, yang membawa manusia kepada Allah. Dia membangun jembatan – hubungan baru dengan Sang Bapa. Bahkan Yesus sendirilah jembatan itu. Melalui Yesus hubungan manusia – Allah yang pernah putus di zaman Adam dan Hawa dipulihkan. Melalui Yesus manusia dapat menghampiri Allah, yang kemudian dipanggil Bapa.
Kalau kita datang, berusaha mencari, dan menemukan Yesus; kita sedang mencari jalan untuk bertemu dengan Allah. Kita mengembangkan kerinduan untuk datang pada Allah. Yesus Kristus adalah jembatan kerinduan itu karena Dialah jalan, kebenaran dan hidup serta tidak seorangpun dapat datang kepada Bapa tanpa melaluiNya.

MUR: Pemberian Untuk Seorang yang Akan Mati

Mur adalah persembahan bagi orang yang akan meninggal. Seperti halnya kemenyan, mur juga merupakan getah pohon yang dikeraskan dan kemudian digunakan. Namun, tidak sama dengan kemenyan yang wangi, mur rasanya pahit. Mur sering kali digunakan untuk membalsam orang mati karena orang mati itu memiliki harta yang harus dijaga. Mur juga digunakan sebagai wewangian, bahan untuk minyak urapan yang disebutkan di kitab Keluaran. Akan tetapi, bagi Maria dan Yusuf, mur digunakan untuk pengobatan. Saat ini, mur banyak digunakan untuk pasta gigi, pencuci mulut, dan tata rias.Mur yang dipersembahkan kepada bayi Yesus menunjukkan bahwa kelak Yesus akan mati juga untuk manusia. Dengan demikian lengkaplah penggambaran akan bayi Yesus. Dia adalah seorang Raja yang memerintah dengan kasih, Dia adalah seorang Imam yang menjadi pengantara manusia dan Allah, Dia juga yang akhirnya mati bagi seluruh umat manusia. Yesus datang ke dunia untuk hidup bagi manusia, bersama manusia – namun akhirnya Dia juga mati untuk manusia. Mur melambangkan cawan pahit yang harus diminum oleh Yesus, di mana cawan pahit adalah penderitaan-Nya untuk menebus dosa manusia sekaligus lambang persatuan yang hidup dan yang mati. Persembahan ini menggambarkan bahwa Yesus datang ke dunia: Dia HIDUP untuk manusia dan MATI untuk manusia.

Kalau kita datang menghormati Yesus, kita diperingatkan bahwa Dia mengorbankan nyawa; menyerahkan hidup untuk menebus dosa-dosa kita. Dalam Dia kita menjadi anak-anak Allah. Melalui pengorbananNya, dosa kita ditebus dan kita dipulihkan kembali agar dapat bersatu dengan Allah.Pemberian para majus merupakan persembahan yang melambangkan kehidupan Yesus sendiri. Pemberian para majus menggambarkan perjalanan hidup yang akan dilalui oleh Yesus. Walaupun baru saja dilahirkan, arah hidupnya sudah ditentukan dengan pasti. Ia tidak melawan kehendak Bapa-Nya. Ia setia, bahkan setia sampai di kayu salib. Tampak jelas bahwa semua pemberian ini melambangkan perjalanan hidup yang akan dilalui Yesus Sang Bayi Mungil yang lahir di kandang hina itu. Namun, di balik semuanya itu, ada sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu bahwa kehadiran orang-orang bijak ini mengungkapkan pengakuan dunia atas kehadiran Yesus. 

Catatan Kecil untuk Kisah Ini...

Kitab Suci menyebutkan apa yang ingin dicari oleh para majus itu, “Kami telah melihat bintangNya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia” (Mat 2:2). Sikap inilah yang perlu kita miliki saat kita memutuskan untuk mencari Yesus. Ada berbagai macam tradisi Kristiani. Ada berbagai macam profesi yang kita miliki. Kita berasal dari latar belakang yang beragam. Namun, kita datang bukan untuk menunjukkan kehebatan masing-masing, tetapi kita datang untuk menyembah Dia, Sang Raja Damai. Bersama dengan para majus, kita melakukan dua perjalanan: 1) perjalanan menuju Betlehem untuk menemukan Raja Damai dan 2) perjalanan dari Betlehem untuk membawa Damai kepada dunia luas. Dalam perjalanan menuju Betlehem, seperti para majus yang mengikuti bintang, kita belajar untuk menjalani hidup sesuai arahan Sang Bintang. Sang Bintang telah  menjadi pedoman para majus dan kita dalam mencari Yesus. Bintang zaman sekarang adalah firman Allah. Firman Allah itulah yang perlu menjadi pegangan untuk melakukan hal-hal yang lebih baik dalam kehidupan kita. Kita disadarkan bahwa kita memiliki Allah yang berfirman baik melalui sabda dalam Kitab Suci maupun sapaan dalam kehidupan sehari-hari. Kita pun diajak untuk hidup sesuai dengan sabda dan sapaan Allah. Dalam perjalanan pulang dari Betlehem, seperti para majus yang diminta kembali kepada Herodes, kita kadangkala ditarik untuk bertemu dengan Herodes. Herodes-Herodes zaman sekarang adalah orang yang tidak ingin hidup baik dan mengembangkan hidup yang tidak baik. Maka sadar atau tidak, seperti para majus yang mengikuti bintang dan diperingatkan untuk mengambil jalan lain, kita pun sedang diperingatkan untuk selalu ambil mengikuti bintang, sabda Allah dalam kehidupan kita dan selalu siap jika harus menempuh jalan lain, bukan jalan Herodes, tetapi jalan menuju damai.
Selamat Tahun Baru 2014. Semoga kita selalu dikuatkan untuk selalu mengambil jalan lain, jalan yang dikehendaki Allah untuk membuat hidup yang lebih baik seraya berdoa, “Ya Allah, pada hari ini dengan bimbingan bintang, Engkau telah mewahyukan Putra TunggalMu kepada bangsa-bangsa. Kami mohon semoga kami yang telah mengenal Engkau dalam iman kelak Engkau perkenankan memandang wajahMu dalam kemuliaan. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, PuteraMu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.”

Gambar diambil dari:
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/f4/The_magi_henry_siddons_mowbray_1915.jpg

Selasa, 31 Desember 2013

Catatan Akhir Tahun Ruang Podjok


Setahun ini, banyak yang ingin disyukuri di Ruang Podjok. Tahun ini, Ruang Podjok semakin berkembang. Suasana di awal tahun 2013 dipenuhi dengan kesegaran. Cat di Ruang Podjok pun diperbarui. Terima kasih kepada pihak sekolah SMK Negeri 3 Surakarta yang memperhatikan kelangsungan hidup Ruang Podjok sehingga dapat menikmati kesegaran-kesegaran baru. Beberapa catatan telah digoreskan seputar perkembangan Ruang Podjok. Namun, beberapa ada yang terlewat. Catatan akhir tahun ini ingin mengabadikan beberapa hal yang terlewat itu.
Di tahun ini, ada beberapa anggota Ruang Podjok yang menerima sakramen-sakramen dalam Gereja Katolik. Ada dua orang yang menerima Sakramen Komuni Pertama dan ada tiga yang menerima Sakramen Penguatan. Yang menerima Sakramen Komuni Pertama adalah Maria Regina Chintya Nifan Ngeliau di Gereja Santo Antonius Purbayan dan Agustinus Haryanto Robert di Gereja San Inigo Dirjodipuran. Yang menerima Sakramen Penguatan tahun ini adalah Advendiyanto, Fransisca Dea Triastuti, dan Yakobus Bayu Sigit Pamungkas. Ketiganya menerima sakramen itu di Gereja San Inigo Dirjodipuran. Bagi Penjaga Podjok, inilah pelayanan yang bisa dilakukan untuk melanjutkan pembinaan iman melalui Gereja Katolik. Targetnya adalah paling tidak diusahakan para anggota Ruang Podjok sudah menerima Sakramen Penguatan selama bergabung di SMK Negeri 3 Surakarta. Pelayanan penerimaan sakramen-sakramen ini dimungkinkan dengan bekerjasama dengan paroki-paroki tempat asal siswa. Dengan demikian, siswa tidak dicabut dari paroki asalnya tetapi dibantu untuk tetap menerima pembinaan di paroki asal.
Di pertengahan tahun ini, Ruang Podjok juga kembali mendapatkan anggota baru. Anggota baru ini adalah para murid kelas X yang mulai tahun pelajaran ini bergabung dengan SMK Negeri 3 Surakarta. Di tahun ini, Ruang Podjok mendapat 8 anggota baru yang berasal dari program keahlian Akuntansi, Administrasi Perkantoran, Pemasaran, dan Multimedia. Kebetulan, 8 anggota baru ini adalah perempuan semua dan sama sekali tidak ada laki-lakinya. Dari program keahlian Akuntansi, ada 2 orang bernama Margareta Inggrid Enan Falentina dan Laurencia Sinta Raras Swargani. Inggrid berasal dari SMP Negeri 6 Surakarta dan Raras lulus dari SMP Kanisius 1 Surakarta. Yang bergabung dari program keahlian Administrasi Perkantoran adalah Riska Devi Safitri. Siswi satu-satunya dari program ini berasal dari SMP Negeri 10 Surakarta. Dua orang lagi berasal dari program keahlian Pemasaran, yaitu Florentina Oktafiani Ayuningtyas dan Cicilia Oni Yosyana Octhifani. Dua anggota ini berasal dari sekolah dan kota yang berbeda. Ayu berasal dari SMP Negeri 6 Surakarta dan Cicil berasal dari SMP Mardi Yuana Cilegon. Yang terakhir dan paling banyak ada tiga orang dari program keahlian Multimedia. Mereka adalah Bernadetta Siska Affeliana, Lucia Elisa Ambarwati, dan Fransiska Nunuk Tri Handayani. Mereka bertiga berasal dari sekolah yang berbeda. Detta dari SMP Negeri 26 Surakarta, Elisa dari SMP Negeri 25 Surakarta, dan Handa dari SMP Negeri 22 Surakarta. Selamat bergabung kepada para anggota baru. Semoga waktu setengah tahun yang sudah berlalu ini menjadi waktu yang cukup untuk segera menyesuaikan diri dengan dinamika Ruang Podjok Agama Katolik Skaga. 
Yang terakhir, satu kegiatan yang perlu dicatat di laman ini. Untuk menutup rangkaian pembelajaran selama satu semester ini, Ruang Podjok mengadakan pemutaran film setelah Ulangan Umum Semester. Pemutaran film itu dilakukan setelah selesainya Ulangan Umum Semester dan Remidiasi, yaitu pada tanggal 16 dan 17 Desember 2013. Pada kesempatan itu, ada dua film yang diputar, yaitu Prince of Egypt di hari pertama dan The Nativity Story di hari kedua. Prince of Egypt merupakan sebuah film animasi yang bercerita tentang Musa dan didasarkan pada Kitab Keluaran. Film ini berkisah tentang bagaimana Musa membebaskan bangsa Israel dari penindasan bangsa Mesir sampai menyeberangi Laut Merah dengan sedikit pengantar seputar kelahiran dan penyelamatan Musa. Sementara itu, The Nativity Story adalah film yang berkisah tentang pergulatan Yusuf dan Maria untuk menerima kehendak Allah sebagai ayah dan ibu Yesus, Sang Juru Selamat yang telah dijanjikan. Film yang menggunakan alur mundur ini mendasarkan ceritanya dari kisah-kisah Injil, terutama Injil Matius dan Lukas. Kedua film ini sengaja dipilih sebagai alat bantu untuk belajar lebih mendalam tentang Kitab Suci sekaligus mempersiapkan diri dalam merayakan hari Natal. Musa dan Yesus merupakan dua pribadi yang kerap disejajarkan, apalagi oleh penginjil Matius. Dalam kedua film itu digambarkan bahwa kelahiran kedua tokoh itu pun diwarnai dengan pembunuhan bayi-bayi yang tidak bersalah. Kedua film ini diharapkan menjadi alternatif lain untuk belajar beriman.
Inilah catatan-catatan yang terlepas di tahun 2013 ini. Mari kita bersyukur atas segala rahmat yang diberikan Tuhan di tahun ini dan berharap akan hal-hal baik yang akan dianugerahkan Tuhan di tahun mendatang.

Senin, 23 Desember 2013

Keluarga, Sekolah, Lingkungan, dan Paroki Dipanggil Menjadi Komunitas Kateketis


Iman yang Mendalam dan Tangguh tampaknya menjadi cita-cita besar yang ingin dicapai oleh Keuskupan Agung Semarang pada tahun 2013 ini. Satu kesadaran baru yang akan terus dikembangkan oleh Keuskupan Agung Semarang dalam rangka mewujudkan iman mendalam dan tangguh adalah perlunya pembinaan iman yang terus-menerus. Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang telah mengadakan sebuah studi dengan tema Formatio Iman bagi Anak, Remaja dan Orang Muda. Juga telah diadakan studi bersama mengenai Katekese Total dan Integral dalam rangka Formatio Iman. Dari hasil studi itu, direkomendasikan untuk membuat formatio iman secara berjenjang, mulai dari keluarga, anak, remaja, orang muda dan orang dewasa. Formatio iman ini bukan garapan satu kelompok saja tetapi merupakan usaha bersama yang melibatkan keluarga, sekolah dan paroki. Kelompok-kelompok itu merupakan promotor terbentuknya formatio iman dalam setiap jenjang. Inilah dasar pemikiran yang melatarbelakangi tema pertemuan Adven tahun 2013 ini.
Dalam empat kali pertemuan Adven yang telah kita lalui, kita diajak untuk mengembangkan iman itu melalui keluarga, sekolah, lingkungan dan paroki. Iman mendalam dan tangguh itulah yang diarah. Iman Mendalam berarti iman yang sungguh dewasa dan matang dalam pemahaman, pengertian atau pengetahuan tentang imannya serta sungguh dewasa dan matang dalam kebijaksanaan penghayatan imannya di hidup keseharian baik secara pribadi, di tengah keluarga, paguyuban ataupun masyarakat. Segala perilaku kehidupannya terinpirasi dan termotivasi oleh imannya. Iman yang Tangguh berarti iman yang sungguh kuat, tak terpengaruh oleh apapun dan siapapapun sampai kapanpun dalam keadaan bagaimana­pun. Iman menjadi sesuatu yang diyakini, jalan hidup, karakter­, dan jalan keselamatan satu-satunya.
Mengapa kita harus “beriman mendalam dan tangguh”? Kita hidup di dunia ini dalam keberagaman dan perbedaan merupakan hal biasa meskipun tidak semua bisa menerima perbedaan. Banyak paham, keyakinan, kepercayaan, atau agama menebar pengaruh lewat caranya masing-masing. Begitu banyak godaan dan tawaran yang menggiurkan, baik melalui harta benda, jabatan, karier, pekerjaan, lawan jenis yang sungguh menguji dan menantang iman seseorang. Kita hidup di tengah fakta kehidupan yang nyata dimana korupsi, kolusi dan nepotisme masih begitu mewarnai kehidupan. Keadilan, kesejahteraan, kedamaian masih jauh dari harapan dan masih harus terus menerus diperjuangkan bersama dengan tekun. Dengan iman yang mendalam dan tangguh, umat beriman diharapkan siap berdialog dengan situasi yang ada di sekitarnya. Iman yang mendalam dan tangguh menjadi modal dasar bagi Gereja – melalui umat beriman - untuk berkiprah di kancah kehidupan bermasyarakat sehingga Gereja menjadi signifikan dan relevan. Inilah pentingnya membina iman.
Pembinaan iman dalam Gereja Katolik selalu dimulai dari keluarga. Keluarga adalah basis yang paling dasar dalam hidup beriman. Maka, Gereja memiliki hari yang khusus untuk menghormati dan menempatkan keluarga pada derajat yang tinggi melalui Hari Raya Keluarga Kudus yang diperingati pada hari Minggu setelah Natal. Keluarga Kudus merupakan kiblat seluruh keluarga Katolik. Dari kisah keluarga kudus, ada 3 hal yang setidaknya dapat kita pelajari:
Pertama, kesediaan Maria dan Yusuf menyambut Yesus menjadi tonggak terwujudnya sejarah keselamatan manusia melalui Yesus Kristus. Meskipun pada awalnya Maria dan Yusuf merasa ragu untuk menyambut Yesus, mereka berdua akhirnya dengan legawa menerima kehadiran Dia yang telah dijanjikan oleh Allah sebagai Juru Selamat dunia (lih Mat 1:19-24 dan Luk 1: 29-38). Keluarga Katolik diajak untuk bersikap seperti Keluarga Kudus yang menyambut Yesus dengan penuh kegembiraan. Artinya, kita diajak menyambut dan menerima iman dengan gembira.
Kedua, Keluarga Kudus mengajarkan bahwa tugas pembinaan iman merupakan tugas yang menuntut pengorbanan. Kepergian Yusuf dan Maria untuk menyingkir ke Mesir dan Nazaret menjadi gambaran konkret mereka untuk memilihkan tempat yang aman dan memungkinkan Yesus tumbuh dan berkembang (lih Mat 2:13-15.16-19). Keluarga Katolik pun diajak untuk melakukan pengorbanan untuk memilihkan tempat-tempat yang aman bagi perkembangan iman seluruh keluarga. Dengan demikian, iman yang berkembang dapat semakin dikembangkan terus-menerus.
Ketiga, Yusuf dan Maria menampakkan sikap hidup yang menyatakan untuk mengembangkan iman dibutuhkan kerjasama dari lingkungan sekitarnya. Hal ini nampak dalam kisah Yesus di Bait Allah. Ketika Yesus hilang dari pengawasan mereka, mereka menyangka bahwa Yesus sudah ikut kaum keluarga dan kenalannya. Namun setelah dicari, ternyata Dia sedang bertanyajawab dengan alim ulama di Bait Allah (lih Luk 2:44-47). Interaksi Yusuf dan Maria terhadap kaum keluarga, kenalan, dan alim ulama ini menunjukkan bahwa keluarga membutuhkan lingkungan sekitarnya untuk mengembangkan iman. Lingkungan, sekolah, dan paroki pun dipanggil untuk membantu keluarga dalam mengembangkan imannya. Setiap komunitas yang ada di sekitar keluarga ini dipanggil menjadi komunitas kateketis, yaitu komunitas yang membimbing seseorang agar hidupnya semakin beriman. Oleh karena itu, lingkungan, sekolah, dan paroki diharapkan dapat melaksanakan tugas untuk membina iman dan bekerjasama dengan keluarga untuk membangun kehidupan iman yang semakin mendalam dan tangguh.
Dari tiga hal yang kita pelajari dari Keluarga Kudus itu, kita dapat merefleksikan bahwa iman berawal dari kesediaan menyambut Tuhan dalam baptisan; menghayati iman melalui doa dan ibadat; menyingkiri segala hal yang bertentangan; dan menghidupi iman dalam tindakan kasih hidup sehari-hari di tengah-tengah sesama.    
Bagaimana kita dapat mewujudkan iman mendalam dan tangguh? Iman yang mendalam dan tangguh diwujudkan pertama-tama dari keluarga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Perwujudan iman mendalam dan tangguh ini kuncinya terletak pada teladan dan pembiasaan. Maka, disini letak pentingnya orangtua atau mereka yang lahir lebih dulu untuk dapat menjadi teladan dan membiasakan nilai-nilai iman pada generasi penerusnya. Iman mendalam dan tangguh menjadi nyata jika kita menjadikan  “Yesus Kristus sebagai sumber inspirasi dan motivasi” dalam setiap langkah hidup yang dipilih. Menjadikan Yesus sebagai sumber inspirasi dan motivasi dapat membuat kita mampu membawa damai, pen­cerahan, manfaat, pertobatan, bagian dari solusi, pengampunan, cinta kasih sejati di hatinya. Ketika ada hal-hal yang membuat kita bingung dan ragu-ragu, kita perlu berdiam sejenak dan mencoba menemukan kehendak Allah dalam situasi itu. Paling sederhana, bertanya, “dalam situasi seperti ini, kira-kira apa yang dilakukan oleh Yesus?”
Dalam membina iman dan mewariskan kepada generasi penerus ini, beruntunglah kita sebagai orang Katolik. Mengapa? Karena seluruh ajaran iman yang diajarkan merupakan ajaran yang satu. Di manapun kita melaksanakan iman kita, ajarannya sama. Maka, dalam Gereja Katolik, yang diajarkan baik dalam keluarga, lingkungan, sekolah, dan paroki merupakan ajaran yang satu dan sama. Kesatuan ajaran inilah yang membuat kita dimudahkan dalam pembinaan iman. Kesatuan ajaran iman itu dimungkinkan karena kita memiliki satu kepemimpinan terpusat di bawah wakil Kristus, pengganti Petrus, yaitu Paus yang bertahta di Vatikan. Beliaulah yang menjadi pucuk pimpinan hirarki Gereja yang menjamin kesatuan ajaran Gereja Katolik di manapun berada. Dengan kesatuan ajaran iman ini, kita seharusnya tidak ragu-ragu untuk memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang dapat “mengamankan” iman keluarga kita berupa sekolah Katolik, lingkungan dan paroki. Setiap orang sesuai dengan pertumbuhan hidupnya perlu mendapatkan pendampingan mulai dari anak dan dewasa. Beruntunglah kita karena sejak kecil sampai tua dan di manapun berada kita memiliki satu ajaran iman.

Dalam merenungkan pembinaan iman ini, kita bisa belajar dari Albert Einstein, "Ilmu tanpa agama itu lumpuh dan agama tanpa ilmu itu buta." Seorang tidak bisa beriman dengan mendalam dan tangguh jika tidak bisa menyeimbangkan antara pengetahuan dan agama. Jika seorang hanya beragama namun tidak bisa menyelami dengan benar ajarannya, dia hanya akan menjadi orang yang agamis. Namun, jika seseorang hanya berilmu namun tidak beragama, dia akan menjadi orang yang tidak berperikemanusiaan karena tidak ada kasih di dalamnya. Semua hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Lumen Fidei, Iman bukanlah terang yang menguraikan seluruh kegelapan kita, tetapi sebuah lampu yang menuntun langkah kita di malam hari dan memadai untuk perjalanan. Bagi mereka yang menderita, Allah tidak memberikan argumentasi yang menjelaskan semuanya; sebaliknya, tanggapan-Nya yaitu suatu kehadiran yang menyertai, suatu sejarah kebaikan yang menyentuh setiap kisah penderitaan dan menyingkapkan suatu cahaya terang. Dalam Kristus, Allah sendiri ingin berbagi jalan ini dengan kita dan menawarkan kita tatapan-Nya sehingga kita dapat melihat terang di dalamnya. Kristus adalah pribadi yang, telah mengalami penderitaan, adalah "pembuka jalan dan penyempurna iman kita" (Ibr 12:2)" (LF 57). Semoga melalui pengembangan iman yang  kita lakukan, orang yang melihat kita dapat mengalami dan mengatakan apa yang diungkapkan oleh Paulus yang mensyukuri kehidupan umat yang tumbuh dalam iman dan kasih. Kita diajak untuk tumbuh dalam iman dan kasih agar kita semakin layak hidup di hadapan Allah dalam segala hal. Semoga semua ini menguatkan kita dalam membangun iman bersama dengan keluarga, lingkungan, sekolah, dan paroki. Selamat mempersiapkan Natal. Berkah Dalem.

Rabu, 04 Desember 2013

Adven dan Pernak-perniknya


Sejak hari Minggu, 1 Desember, Gereja Katolik memasuki masa khusus yang disebut Masa Adven. Masa Adven merupakan masa yang dinantikan oleh seluruh umat karena di masa ini, umat beriman diajak mempersiapkan pengenangan akan kedatangan Yesus Kristus yang lahir ke dunia. Bagaimana kita bisa menghayati masa ini? Semoga tulisan kecil ini dapat membantu Anda sekalian untuk memasuki Masa Adven dengan penuh penghayatan. 
Masa Adven adalah sebuah masa yang dimulai dari hari Minggu yang terdekat dengan pesta Santo Andreas pada tanggal 30 November dan terdiri dari 4 minggu sebelum Hari Raya Natal. Masa Adven menandai dimulainya Tahun Liturgi yang baru di Gereja Katolik Roma. Selama masa ini, umat beriman setidaknya diingatkan akan tiga hal: 1) menyiapkan diri agar semakin pantas untuk merayakan kedatangan Tuhan di dunia sebagai perwujudan kasih Allah; 2) memantaskan diri untuk menerima Penebus yang datang melalui komuni kudus dan rahmat; dan 3) menyiapkan diri untuk kedatangannya sebagai Hakim pada saat kematian dan akhir dunia.Masa Adven mengalami perkembangan dalam kehidupan rohani Gereja. Kisah mengenai Masa Adven sulit ditentukan dengan tepat. Dalam bentuk awalnya, Masa Adven berasal dari tradisi umat di Perancis. Mereka membuat masa persiapan menyambut Hari Raya Epifani (Hari Raya Pembaptisan Tuhan) yang digunakan sebagai hari para calon dibaptis menjadi warga Gereja. Jadi, persiapan Adven amat mirip dengan MasaPrapaskah dengan penekanan pada doa dan puasa yang berlangsung selama tiga minggu dan kemudian diperpanjang menjadi 40 hari.Pada tahun 380, Konsili yang diadakan di Saragossa, Spanyol menetapkan tiga minggu masa puasa sebelum Epifani. Diilhami oleh peraturan Prapaskah, Konsili Macon (Perancis) pada tahun 581 menetapkan bahwa mulai tanggal 11 November (pesta St. Martinus dari Tours) hingga Hari Natal, umat beriman berpuasa pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Lama-kelamaan, praktek serupa menyebar ke Inggris. Di Roma, masa persiapan Adven belum ada hingga abad keenam, dan dipandang sebagai masa persiapan menyambut Natal dengan ikatan pantang puasa yang lebih ringan.Gereja secara bertahap mulai lebih membakukan perayaan Adven. Buku Doa Misa yang diterbitkan oleh Paus Gelasius I (wafat thn 496), adalah buku pertama yang menerapkan Liturgi Adven selama lima Hari Minggu. Di kemudian hari, Paus Gregorius I (wafat thn 604) memperkaya liturgi ini dengan menyusun doa-doa, antifon, bacaan-bacaan dan tanggapan. Sekitar abad kesembilan, Gereja menetapkan Minggu Adven Pertama sebagai awal tahun penanggalan Gereja. Dan akhirnya, Paus Gregorius VII (wafat thn 1095) mengurangi jumlah hari Minggu dalam Masa Adven menjadi empat.
Sesuai makna katanya, Masa Adven ingin mengajak umat memusatkan diri pada kedatangan Kristus. Adven berasal dari bahasa Latin “adventus”, artinya “datang”. Kedatangan Kristus yang dimaksud adalah kedatangan pertama (datang sebagai bayi) maupun kedatangan kedua (datang sebagai raja). Katekismus Gereja Katolik nomor 524 menekankan makna ini, “Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua.”Umat beriman diajak merefleksikan kembali dan merayakan kedatangan Kristus yang pertama ke dalam dunia ini. Kita merenungkan kembali misteri inkarnasi yang agung ketika Kristus merendahkan diri, mengambil rupa manusia, dan masuk dalam dimensi ruang dan waktu guna membebaskan kita dari dosa. Seiring dengan itu, umat diingatkan bahwa Kristus akan datang kembali untuk mengadili orang yang hidup dan mati dan kita harus siap untuk bertemu dengannya.
Suatu cara yang baik dan saleh untuk membantu kita dalam masa persiapan Adven adalah dengan memasang Lingkaran Adven. Lingkaran Adven ini merupakan sebuah simbol yang berasal dari Eropa Utara. Lingkaran ini diduga berasal dari Abad Pertengahan. Sebuah pendapat mengatakan bahwa masyarakat Jerman – sebelum kedatangan agama Kristen – telah  menggunakan lilin yang bernyala selama bulan Desember yang dingin dan gelap sebagai simbol harapan akan Musim Semi yang hangat dan penuh sinar mentari. Sementara itu, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa lingkaran Adven belum digunakan sampai abad XIX.Penelitian Profesor Haemig dari Seminari Lutheran Santo Paulus menyatakan bahwa Johann Hinrich Wichern (1808-1881), pendeta Protestan di Jerman dan perintis pekerjaan misi di tengah kaum miskin sebagai penemu Lingkaran Adven modern. Selama Masa Adven, anak-anak di sekolah misi Rauhes Haus, yang didirikan oleh Wichern di Hamburg, bertanya setiap hari kapan Natal datang. Pada tahun 1839, ia membangun cincin kayu (dari roda kereta kuda yang sudah tua) yang diisi 20 lilin merah kecil dan 4 lilin putih besar. Sebuah lilin kecil dinyatakan secara berurutan setiap hari selama masa Adven. Tradisi ini pun mengakar di berbagai gereja Protestan di Jerman dan kemudian membuat mereka pun melakukan tradisi yang sama dengan cara membangun lingkaran yang lebih kecil dengan 4 lilin seperti yang dikenal sekarang. Gereja Katolik Roma pun mengadopsi tradisi ini pada tahun 1920-an. Pada tahun 1930-1n, kebiasaan ini menyebar di Amerika Utara. Penelitian Profesor Haemig juga menengarai bahwa kebiasaan ini belum sampai di Amerika Serikat sampai tahun 1930-an dan juga belum dipraktekkan oleh para imigran Jerman dari aliran Lutheran.Beberapa aliran Ortodox juga mengadopsi kebiasaan ini dengan menempatkan 6 lilin. Di gereja-gereja Protestan, lilin yang digunakan berwarna merah karena melambangkan warna yang dipakai dalam hiasan Natal. Warna biru juga menjadi alternatif dalam lingkaran Adven, terutama bagi gereja Anglikan dan Lutheran. Warna biru melambangkan harapan dan penantian yang juga menjadi inti masa Adven. Dalam Gereja Katolik, warna lilin yang digunakan adalah ungu dan merah muda. 
Gereja Katolik memberikan berbagai makna dalam lingkaran Adven tersebut. Penjelasan mengenai lingkaran Adven tersebut dapat kita lihat dalam beberapa hal berikut: Pertama, karangan tersebut selalu berbentuk lingkaran. Lingkaran tidak mempunyai awal dan tidak mempunyai akhir. Maka, lingkaran melambangkan Tuhan yang abadi, tanpa awal dan akhir. Kedua, Lingkaran Adven dihiasi daun-daun evergreen yang biasanya diwakili dengan daun pinus atau cemara. Dahan-dahan evergreen yang senantiasa hijau melambangkan senantiasa hidup. Evergreen melambangkan Kristus, yang mati namun hidup kembali untuk selamanya. Evergreen juga melambangkan keabadian jiwa kita. Kristus datang ke dunia untuk memberikan kehidupan yang tanpa akhir bagi kita. Tampak tersembul di antara daun-daun evergreen yang hijau adalah buah-buah beri merah. Buah-buah itu serupa tetesan-tetesan darah, lambang darah yang dicurahkan oleh Kristus demi umat manusia. Buah-buah itu mengingatkan kita bahwa Kristus datang ke dunia untuk wafat bagi kita dan dengan demikian menebus kita. Oleh karena Darah-Nya yang tercurah itu, kita beroleh hidup yang kekal. Ketiga, empat batang lilin diletakkan sekeliling Lingkaran Adven, tiga lilin berwarna ungu dan yang lain berwarna merah muda. Lilin-lilin itu melambangkan keempat minggu dalam Masa Adven, yaitu masa persiapan kita menyambut Natal. Setiap hari, dalam bacaan Liturgi Perjanjian Lama dikisahkan tentang penantian bangsa Yahudi akan datangnya Sang Mesias, sementara dalam Perjanjian Baru mulai diperkenalkan tokoh-tokoh yang berperan dalam Kisah Natal. Pada awal Masa Adven, sebatang lilin dinyalakan, kemudian setiap minggu berikutnya lilin lain mulai dinyalakan.  Dalam perayaan liturgi, yang menyalakan lilin Adven adalah pemimpin liturgi. Seiring dengan bertambah terangnya Lingkaran Adven setiap minggu dengan bertambah banyaknya lilin yang dinyalakan, kita pun diingatkan bahwa kelahiran Sang Terang Dunia semakin dekat. Lilin itu membuat hati kita semakin menyala dalam kasih kepada Bayi Yesus. Keempat, warna-warni keempat lilin juga memiliki makna tersendiri. Lilin ungu sebagai lambang pertobatan. Warna ungu mengingatkan kita bahwa Adven adalah masa di mana kita mempersiapkan jiwa kita untuk menerima Kristus pada Hari Natal. Lilin merah muda dinyalakan pada Hari Minggu Adven III yang disebut Minggu “Gaudete”. “Gaudete” adalah bahasa Latin yang berarti “sukacita”, melambangkan adanya sukacita di tengah masa pertobatan karena sukacita Natal hampir tiba. Warna merah muda dibuat dengan mencampurkan warna ungu dengan putih. Artinya, seolah-olah sukacita yang kita alami pada Hari Natal (yang dilambangkan dengan warna putih) sudah tidak tertahankan lagi dalam masa pertobatan ini (ungu) dan sedikit meledak dalam Masa Adven. Pada Hari Natal, keempat lilin tersebut digantikan dengan lilin-lilin putih yang melambangkan bahwa masa persiapan kita telah usai dan kita masuk dalam sukacita yang besar. Kelima, pada kaki setiap lilin atau pada kaki Lingkaran Adven, ditempatkan sebuah mangkuk berwarna biru. Warna biru mengingatkan kita pada Bunda Maria, Bunda Allah, yang mengandung-Nya di dalam rahimnya serta melahirkan-Nya ke dunia pada hari Natal.
Lingkaran Adven diletakkan secara menyolok di gereja. Keluarga-keluarga sebaiknya memasang Lingkaran Adven yang lebih kecil di rumah mereka. Lingkaran Adven kecil ini mengingatkan mereka akan Lingkaran Adven di Gereja dan dengan demikian mengingatkan hubungan antara mereka dengan Gereja. Lilin dinyalakan pada saat doa atau makan bersama. Berdoa bersama sekeliling meja makan mengingatkan mereka akan meja perjamuan Tuhan di mana mereka berkumpul bersama setiap minggu untuk merayakan perjamuan Ekaristi - santapan dari Tuhan bagi jiwa kita.
Masa Adven bukanlah sekedar atribut saja. Masa Adven mengingatkan kita akan perlunya persiapan jiwa sehingga kita dapat sepenuhnya ambil bagian dalam sukacita besar Kelahiran Kristus, Putera Allah, yang telah memberikan Diri-Nya bagi kita agar kita beroleh hidup yang kekal. Oleh karena itu, di Masa Adven ini, marilah kita berharap dengan berseru seperti yang dicanangkan oleh pesan Natal bersama PGI dan KWI, “Datanglah ya Raja Damai!” (bdk. Yes 9:5).