Sabtu, 24 Desember 2016

Mariologi Para Paus

Mariologi Para Paus adalah studi teologis berkenaan dengan peran Paus dalam perkembangan, perumusan, dan perubahan ajaran dan devosi Gereja terhadap Bunda Perawan Maria. Perkembangan ini telah berlangsung selama berabad-abad akibat berbagai sebab. Peran para Paus sangatlah penting dalam perkembangan ajaran dan kebaktian terhadap Bunda Perawan Maria. Mereka memberikan keputusan tidak saja dalam hal iman dan kepercayaan kepada Maria tetapi juga praktek dan devosinya. Paus mempromulgasikan berbagai hal penting berkenaan dengan iman dan kebaktian kepada Maria. Uraian berikut mencoba memberikan paparan bagaimana peran para Paus dalam perkembangan ajaran dan kebaktian terhadap Maria tersebut.

Leo I atau Leo Agung (440 – 461) menetapkan bahwa Mariologi (cabang ilmu Teologi yang mempelajari tentang Maria) selalu berkaitan erat dengan Kristologi (cabang ilmu Teologi yang mempelajari tentang Yesus Kristus).
Klemens IV (1265 – 1268) menciptakan puisi mengenai tujuh kebahagiaan Maria yang dianggap sebagai bentuk awal rosario Fransiskan.
Pius V (1566 – 1572) menerbitkan bulla Consueverunt Romani Pontifices (17 September 1569) yang menetapkan cara berdoa Rosario dan mengajak umat Katolik untuk berdoa Rosario demi kemenangan armada Katolik di Pertempuran Lepanto pada tahun 1571.
Klemens VIII (1592 – 1605) menetapkan kesalehan Maria sebagai dasar pembaruan Gereja; mengeluarkan bulla Dominici gregis (3 Februari 1603) untuk mengutuk paham yang menyangkal keperawanan Maria; merestui pendirian Kongregasi Maria; dan mendukung budaya Rosario dengan 19 bulla kepausan.
Klemens X (1670 – 1676) menetapkan indulgensi dan hak istimewa bagi lembaga religius dan beberapa kota untuk merayakan pesta Maria dan menghapuskan beberapa cara devosi kepada Maria.
Klemens XI (1700 – 1721) mempersiapkan dasar bagi dogma Maria Dikandung tanpa Noda serta menetapkan Peringatan Maria Dikandung Tanpa Noda dan Maria Ratu Rosario untuk dirayakan di seluruh dunia
Benediktus XIII (1724 – 1730) menetapkan beberapa indulgensi berkenaan dengan Doa Rosario dan Prosesi Rosario; menghapuskan Rosario Serafine pada tahun 1727; dan menetapkan Peringatan Maria Sapta Duka dan Maria Bunda Karmel untuk dirayakan di seluruh dunia.
Klemens XII (1758 – 1769) menetapkan Litani Loreto sebagai satu-satunya litani Maria yang boleh didoakan dan melarang penggunaan doa litani yang lain; mengizinkan Spanyol untuk menggunakan Maria Immaculata sebagai pelindung negara pada tahun 1770.
Benediktus XIV (1740 – 1758) menulis buku tentang peringatan-peringatan Yesus dan Maria; mendukung Kongregasi Maria; serta menetapkan tingkat indulgensi yang lebih tinggi kepada mereka yang berdoa Rosario.
Klemens XIV (1769 – 1775) memberi hak khusus kepada biarawan Fransiskan di Palermo untuk merayakan Pesta Maria Dikandung Tanpa Noda.
Pius IX (1846 – 1878) menerbitkan dogna Maria Dikandung Tanpa Noda pada tahun 1854.
Leo XIII (1878 – 1903) menerbitkan sebelas ajaran berkenaan dengan Maria (Supremi apostolatus officio tentang devosi Rosario - 1 September 1883; Superiore anno tentang pendarasan Rosario - 30 August 1884; Vi è ben noto tentang Rosario dan Kehidupan Publik - 20 September 1887;  Octobri mense tentang Rosario - 22 September 1891; Magnae Dei Matris tentang Rosario - 8 September 1892; Laetitiae sanctae tentang Pujian terhadap Rosario – 8 September 1893; Iucunda semper expectatione tentang Rosario – 8 September 1894; Adiutricem Adjutrix tentang Rosario – 5 September 1895; Fidentem piumque animum tentang Rosario – 20 September 1896; Augustissimae Virginis Mariae tentang Persaudaraan Rosario Suci – 12 September 1897; Diuturni temporis tentang Rosario – 5 September 1898); menggunakan kuasa Paus untuk mendukung pemuliaan Maria di tempat penampakannya; menerbitkan dokumen Parte humanae generi untuk mendukung ziarah ke Lourdes dan tempat ziarah Maria lainnya; menetapkan Perawan dari Montserrat sebagai pelindung Catalunia; menetapkan perayaan Medali Wasiat pada tahun 1894; melawan bidaah seputar Maria Dikandung Tanpa Noda; memberikan ajaran tentang hubungan Santo Yosef terhadap Maria dalam ensiklik Quanquam Pluries (15 Agustus 1889); mengajarkan Rosario sebagai salah satu jalan kepada Allah; memberikan ajaran Maria sebagai pengantara segala rahmat; dan menetapkan penggunaan skapulir dalam devosi kepada Maria.
Pius X (1903 – 1914) memberikan ajaran dalam ensiklik Ad diem illum bahwa Maria adalah Bunda semua orang sehingga ia harus dihormati sebagai Ibu.
Benediktus XV (1914 – 1922) mengirim banyak surat kepada para peziarah di tempat-tempat ziarah Maria; mengizinkan perayaan Maria Guadalupe di Mexico; menetapkan perayaan Maria Pengantara Segala Rahmat; meluruskan penyimpangan seputar pemanfaatan gambar dan patung Maria; menetapkan bulan Mei sebagai bulan devosi kepada Maria; dan memohon perlindungan Maria untuk dunia pada saat Perang Dunia I.
Pius XI (1922 – 1939) mengirimkan delegasi pada perayaan Maria di Loreto serta mengajak Gereja Ortodox untuk bersama memuliakan Maria  dan menyelesaikan skisma.
Pius XII (1939 – 1958) menempatkan masa kepausannya dalam perlindungan Maria; membahas dogma Maria Dikandung Tanpa Noda dalam ensiklik Mystici corporis (1943); mengangkat santo atau santa yang berdevosi mendalam kepada Maria; memberikan penghormatan khusus kepada Maria dari Fatima; menetapkan tahun 1954 sebagai Tahun Maria melalui ensiklik Fulgens corona (8 September 1953); menerbitkan ensiklik Le pèlerinage de Lourdes (2 Juli 1957) yang menyatakan ajaran yang kuat mengenai penampakan Maria dalam sejarah Gereja Katolik; mengajarkan dogma Maria Diangkat ke Surga (1 November 1950); menetapkan peringatan Hati Maria yang Tak Bernoda dan Maria Ratu; serta mendukung penelitian akademis atas kebaktian terhadap Maria.
Paulus VI (1963 – 1978) mencoba menampilkan ajaran tentang Maria dalam perspektif ekumenis; menggambarkan Maria sebagai jalan kepada Yesus dalam ensiklik Mense maio (1965); melalui ensiklik Christi Matri (1966) mengajak seluruh umat untuk berdoa Rosario bagi Perang Vietnam dan ketegangan akibat nuklir; memberikan ajaran untuk menyuburkan devosi Maria dengan pokok perhatian pada Rosario dan Angelus melalui anjuran Marialis Cultus (1974); mengajarkan bahwa Rosario adalah rangkuman dari Injil; serta menjadi Paus pertama yang berziarah ke Fatima pada ulang tahun kelimapuluh penampakan di Fatima.
Yohanes Paulus II (1978 – 2005) mempopulerkan kembali gelar Maria Bunda Gereja melalui ensiklik Redemptoris Mater (1987) dan menulis surat apostolik  Rosarium Virginis Mariae (2002) untuk memaparkan pujian kepada Maria seperti terungkap dalam motto pribadinya “Totus Tuus”.

Rangkaian ajaran para Paus ini menunjukkan betapa Maria dihormati dalam khasanah kehidupan Gereja Katolik. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa Bunda Maria dihormati karena tempatnya yang istimewa dalam karya penyelamatan Allah. Dengan kemerdekaan pribadinya yang sempurna, ia menyatakan ketaatan yang utuh kepada Allah (Luk 1:38). Bagi Maria, kemerdekaan pribadinya sama persis dengan ketaatan yang utuh untuk menerima kehendak Alah.
Seorang beriman yang menyatakan sembah baktinya kepada Maria seakan-akan ingin menyatakan tiga hal ini. Pertama, ia menyatakan harapannya. Sebagaimana Bunda Maria telah mulia di surga, seorang beriman berharap akan masuk ke dalam kemuliaan yang sama. Kedua, ia menyatakan penyerahan dirinya. Sebagaimana Bunda Maria menemani para murid yang sedang mengalami kecemasan, ketakutan, dan ketidakpastian di awal hidup Gereja, seorang beriman yang berbakti kepada Maria menyerahkan diri kepada perlindungan Bunda Maria. Ketiga, ia menyatakan niat dan keinginan hati untuk meneladan Maria. Sebagaimana Maria bersedia menjadi alat di tangan Tuhan, seorang beriman ingin menyediakan diri digunakan oleh Allah untuk melaksanakan kehendakNya. Semoga, seperti para Paus yang telah memberikan ajaran dan penghayatan kebaktian kepada Maria, kita boleh belajar untuk melakukan tiga hal itu – berharap, menyerahkan diri, dan meneladan – dalam sembah bakti kita kepada Bunda Tuhan kita Yesus Kristus, Perawan Maria yang Tersuci.

Sembah bekti kawula, Dèwi Maria, kekasihing Allah, Pangéran nunggil ing panjenengan dalem. Sami-sami wanita Sang Dèwi pinuji piyambak, saha pinuji ugi wohing salira Dalem, Sri Yésus. Dèwi Maria, Ibuning Allah, kawula tiyang dosa sami nyuwun pangèstu dalem, samangké tuwin bénjing dumugining pejah. Amin.

Ave Maria, gratia plena, Dominus tecum,
benedicta tu in mulieribus, et benedictus fructus ventris tui, Jesus.
Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc, et in hora mortis nostrae. Amen.

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu;
terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.
Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin.

Surakarta, 10 Oktober 2016                                                        Paulus Widyawan Widhiasta

Sumber Pustaka:
https://en.wikipedia.org/wiki/Mariology_of_the_popes
Mgr. Ignatius Suharyo. The Catholic Way, Kekatolikan dan Keindonesiaan Kita. Yogyakarta: Kanisius. 2009.

Sumber Gambar:
http://www.thecompassnews.org/wp-content/uploads/2014/11/1436cns-pope-allsaints1.jpgweb2.jpg
https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/62/db/03/ 62db03fba4a3d60b35b1116f1c86d578.jpg

Rabu, 12 Oktober 2016

Bergabung dalam Yubileum Katekis Keuskupan Agung Semarang

Tahun ini adalah Tahun Yubileum Luar Biasa Kerahiman Allah yang ditetapkan oleh Paus Fransiskus pada tanggal 8 Desember 2015. Untuk menyambut perayaan ini, telah ditetapkan berbagai agenda yang dijadwalkan di Keuskupan Agung Semarang, baik dalam skala keuskupan maupun dalam skala paroki. Salah satu agenda yang telah ditetapkan dalam skala keuskupan adalah Perayaan Yubileum Tahun bagi Katekis yang dijadwalkan pada tanggal 25 September 2016. Di Keuskupan Agung Semarang, perayaan ini akan diselenggarakan di Seminari Santo Petrus Kanisius Mertoyudan. Perayaan semacam ini adalah perayaan yang tidak terjadi setiap tahun. Oleh karena itu, Penjaga Podjok pun meluangkan waktu untuk merapat dan bergabung dengan para katekis lain untuk bersama-sama bersyukur dan menimba kekuatan dalam tugas pewartaan yang diemban.
Sekitar bulan Agustus, Penjaga Podjok menerima sebuah surat undangan melalui paroki Santo Petrus Purwosari untuk bergabung dalam perayaan Yubileum Katekis Keuskupan Agung Semarang yang akan diselenggarakan di Seminari Santo Petrus Kanisius Mertoyudan pada tanggal 25 September 2016. Setelah lama mempertimbangkan, akhirnya diputuskan untuk ikut dalam perayaan tersebut. Sebenarnya, dari Purwosari ada rombongan yang berangkat dengan bus, tetapi karena ada keperluan dulu sehari sebelumnya di Jogja, diputuskan untuk berangkat sendiri. 

Hari Minggu (25/9), perjalanan ditempuh dari rumah simbah di Sleman. Perjalanan selama kurang lebih satu jam itu betul-betul menyenangkan. Ternyata, jalan antara Muntilan dan Magelang itu sudah menjadi jalan yang halus, mulus, lebar dan sudah dua jalur. Sebuah pemandangan yang berbeda dibandingkan 15-20 tahun yang lalu. Setiba di Mertoyudan, ternyata sudah ada banyak rombongan yang hadir. Ada yang hadir dengan bus. Ada yang mengendarai sepeda motor. Dan banyak cara kehadiran yang lain. Hari itu, menurut data yang tercatat, lebih dari 1000 katekis dan guru agama berkumpul di Sport Centre 'Laudato Si' Seminari Santo Petrus Kanisius Metoyudan. Katanya, yang hadir ini melebihi ekspektasi. Panitia tadinya sudah pesimis apakah para katekis dan guru agama akan berminat. Namun, fakta berbicara lain. Ternyata, acara itu berlangsung dengan meriah dan disambut dengan sukacita.
Tema perayaan Yubileum Katekis Keuskupan Agung Semarang adalah "Gelora Katekis, Sukacita Gereja." Tema ini seolah ingin mengapresiasi peran katekis dan guru agama dalam kehidupan Gereja. Administrator Diosesan Keuskupan Agung Semarang, Romo Fransiskus Xaverius Sukendar menuliskan, "Gelora semangat katekis yang mewartakan Yesus Kristus dalam Gereja Katolik menjadi pintu masuk bagi seluruh kawanan dan terus dibawa ke padang rumpur hijau. Gelora semangat katekis bersama pengurus Gereja lainnya menjadi kesaksian kehidupan yang tidak mudah diambil oleh orang lain ataupun keadaan yang tidak menguntungkan. Gelora semangat para katekis yang muncul dari kedekatan pribadi dengan Yesus tidak akan mudah digerogoti oleh tantangan serta iming-iming duniawi kendati ada keperluan nyata yang tak terelakkan. Gelora semangat katekis juga dipupuk melalui aneka pembinaan, upgrading pengetahuan serta kebersamaan sebagai bagian Gereja Universal dan lokal yang bersama masyarakat Indonesia menjadi bentara peradaban kasih." Mengutip Anjuran Apostolik Amoris Laetitia yang diterbitkan Paus Fransiskus pada 19 Maret 2016, ditekankan bahwa, "Gelora semangat katekis ditempatkan dalam tugas perutusan Gereja yang dilandasi oleh sukacita dalam keluarga serta komunitas yang berani menuntun, menegaskan, dan menguntegrasikan." Acara dibuka dengan penampilan dari kelompok Wiridan Sarikraman, sekelompok orang yang mencoba menjadi rumah bagi siapapun yang ingin tumbuh menjadi manusia biasa dalam relasinya dengan Yang Ilahi. Kelompok ini mencoba berdialog dengan Yang Ilahi, sesama manusia dan sesama ciptaan melalui jalur budaya. Dalam kesempatan perayaan Yubelium Katekis ini, hadirlah dua orang pembicara yang menyemangati para katekis dalam menjalankan tugasnya, yaitu Kardinal Julius Riyadi Darmaatmaja, SJ dan Bapak Haryanto Santosa. Dua narasumber ini mendapat kesempatan untuk meneguhkan pelayanan para katekis. Pada sesi pertama, Kardinal Julius Darmaatmaja mengucapkan terima kasih kepada seluruh katekis dan guru agama karena sudah terlibat dalam gerak gereja Keuskupan Agung Semarang. "Ini menjadi kesempatan langka", kata beliau, "karena dulu sebagai uskup, saya belum pernah mengucapkan terima kasih kepada anda sekalian." Dalam kesempatan itu, beliau juga mengajak seluruh katekis dan guru agama di Keuskupan Agung Semarang untuk berlaku laksana sumur yang siap ditimba airnya. "Anda (dan Gereja) bagaikan sumur iman yang siap ditimba oleh mereka yang mendapatkan pengajaran dari Anda dan karenanya Anda menjadi sumur yang semakin jernih. Ungkapan bahasa Jawanya adalah sumur lumaku tinimba." Selain itu, beliau juga menekankan agar para katekis dan guru agama mengarahkan sasaran pastoral kepada seluruh orang yang ada di sekitarnya. Terhadap mereka yang terbuka terhadap Yesus, para katekis dan guru agama diajak untuk membantu mereka untuk menjadi murid Yesus. Terhadap mereka yang tidak mampu menerima Yesus, para katekis dan guru agama diajak untuk mendoakan, memberikan kesaksian hidup, serta melakukan dialog baik dalam bidang budaya maupun agama. Dalam sesi kedua, Bapak Haryanto mengajak para katekis dan guru agama untuk mencintai dan bersukacita dalam panggilan dan pelayanan yang dipercayakan kepada mereka. Panggilan untuk menjadi pewarta menjadi wujud bagaimana Allah mencintai kita sehingga ia memilih dan mempercayakan kita panggilan dan pelayanan untuk mewartakan sabda Allah. Di akhir refleksi yang diberikan, ada sebuah pertanyaan yang perlu direnungkan oleh para katekis dan guru agama: "Apakah kehadiranku menjadi sukacita bagi sesama yang aku layani dan aku jumpai?" 


Poin-poin yang disampaikan dalam perayaan Yubileum Katekis ini seakan-akan menyadarkan kembali semangat yang ingin digelorakan oleh panitia dengan ungkapan, "I'm A Catechist!" Ungkapan ini seolah-olah ingin menggugah semangat para katekis dan guru agama di Keuskupan Agung Semarang dengan kesadaran bahwa saya adalah seorang katekis. Katekis membimbing orang-orang di sekitarnya untuk datang, mengenal dan percaya kepada Yesus, bukan hanya sebagai nabi tetapi juga sebagai Penyelamat. Dengan semangat "I'm A Catechist!" seorang katekis diajak untuk menjadi orang yang sadar akan panggilannya untuk membawa orang lain kepada Yesus, Sang Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Semangat yang ingin dikobarkan ini seolah sesuai benar dengan yang dihomilikan oleh Paus Fransiskus pada hari itu juga dalam Yubileum Katekis di Roma berikut ini, "Dalam Yubileum Katekis ini, kita diajak untuk tidak lelah menjaga pesan kunci iman ini, yaitu Tuhan sudah bangkit. Tidak ada yang lebih penting dan tidak ada yang lebih jelas dan relevan daripada hal tersebut. Setiap hal di dalam iman menjadi indah jika dihubungkan dengan pusatnya, yaitu warta Paska. Jika tidak, iman akan hilang makna dan kekuatannya." Dalam kesempatan Yubileum Katekis, Paus Fransiskus juga mengajak para katekis untuk belajar dari Injil. "Injil Minggu ini membantu kita untuk mengerti arti mencintai dan lebih dari segalanya bagaimana menghindari resiko tertentu. Dalam perumpamaan itu, ada orang kaya yang tidak memperhatikan Lazarus, orang miskin yang sedang berada "dekat pintu" (Luk 16:20). Orang kaya ini, faktanya, tidak berbuat jahat kepada siapapun agar tidak mengatakannya sebagai orang jahat. Namun, orang kaya ini mengalami sakit lebih daripada Lazarus yang "penuh borok". Orang kaya ini menderita kebutaan yang sangat parah karena dia tidak dapat melihat kenyataan yang terjadi di luar dunianya. Dia tidak melihat karena tidak tertarik. Dia tidak dapat melihat karena dia tidak dapat merasakan dengan hatinya. Semangat duniawi telah mematikan jiwanya. Hal ini juga telah membuat banyak orang memalingkan perhatian kepada Lazarus Lazarus masa ini, orang miskin, orang menderita yang dicintai Tuhan. Tuhan memperhatikan yang tersisih dan tersingkir oleh dunia. Tuhan tidak melupakan Lazarus. Dia menyambut dia dalam perjamuan kerajaannya, bersama Abram, dalam perekutuan orang-orang yang menderita. Di sisi lain, orang kaya itu tidak mendapat nama, hidupnya berlalu begitu saja dan terlupakan karena siapa saja yang hidup untuk dirinya sendiri tidak akan tertulis dalam sejarah. Seorang Kristiani harus menulis sejarah! Ia harus keluar dari dirinya sendiri untuk menulis sejarah! Saat ini, ketidakpedulian sudah menciptakan jurang yang begitu dalam sehingga tidak terseberangi. Dan kita telah jatuh dalam penyakit tidak peduli, mementingkan diri sendiri, dan mementingkan hal-hal duniawi. Ada kontras lain dalam perumpamaan ini. Kehidupan orang kaya tanpa nama ini dinyatakan sebagai tindakan suka pamer: segala yang dipikirkannya berkenaan dengan kebutuhan dan hak. Bahkan, ketika dia mati, dia masih mendesak untuk ditolong dan dipenuhi apa yang menjadi kebutuhannya. Kemiskinan Lazarus disejajarkan dengan martabat luhur: dari mulutnya tidak pernah muncul keluhan, protes, atau caci maki. Ini merupakan ajaran yang berharga: sebagai pelayan sabda Tuhan, kita dipanggil untuk tidak memamerkan penampilan kita dan tidak mencari kemuliaan ataupun tidak bersedih dan selalu mengeluh. Sikap skeptis bukanlah milik mereka yang dekat dengan sabda Tuhan. Siapapun yang mewartakan harapan Tuhan akan membawa kegembiraan dan melihat jauh ke depan. Mereka memiliki cakrawala yang terbuka. Tidak ada tembok yang menutupinya. Mereka melihat jauh ke depan karena mereka tahu bagaimana melihat melampaui hal-hal buruk dan persoalan-persoalan mereka. Pada saat yang sama, mereka melihat dengan jelas dari dekat karena mereka memperhatikan sesama mereka, terutama yang membutuhkan. Tuhan memerintahkan kepada kita hari ini: terhadap Lazarus Lazarus yang kita jumpai, kita diajak untuk menemui dan membantu tanpa melimpahkannya kepada orang lain atau berkata "Aku akan membantumu besok. Aku tidak punya waktu hari ini, Aku akan membantumu besok." Hal semacam ini adalah dosa. Waktu yang diberikan untuk membantu orang lain adalah waktu yang diberikan kepada Yesus. Kasihlah yang akan tetap tinggal dan kasih itulah harta kita di surga yang kita cari selama di dunia ini."
Yubileum Katekis ini telah membawa semangat baru dalam menjalankan tugas pewartaan. Semoga ajakan Paus Fransiskus ini juga bergema dalam hati setiap katekis dan guru agama di Keuskupan Agng Semarang, "Para katekis yang terkasih, semoga Tuhan memberi kita rahmat yang selalu diperbarui dengan kegembiraan pewartaan perdana yang diberikan kepada kita: Yesus sudah wafat dan bangkit. Yesus mengasihi kita secara pribadi! Semoga Ia memberi kita kekuatan untuk hidup dan mewartakan perintah kasih. Semoga Ia membuat kita tergerak untuk memperhatikan orang miskin yang tidak hanya direnungkan hari ini namun juga yang selalu kita jumpai." Berkah Dalem. I'm A Catechist!

Rabu, 28 September 2016

Untuk Mencatat yang Sudah Terlewat: Kegiatan di Akhir Tahun Pelajaran

Eh...tidak terasa bahwa tahun ajaran baru sudah lewat banyak. Ada banyak peristiwa yang terlewat tentunya yang belum tercatat. Tulisan ini diharapkan dapat membantu untuk mencatat yang sudah terlewat. Berikut ini adalah catatan-catatan yang bisa tersampaikan...

Doa Bersama Menjelang Ujian
Peristiwa pertama yang belum tercatat adalah Doa Bersama Menjelang Ujian. Masih di bulan Maret, siswa-siswi kelas XII dengan segera akan menyongsong Ujian Sekolah dan Ujian Nasional. Penjaga Podjok dan Bapak Heru Siswanto pun segera dihubungi oleh Bagian Kesiswaan SMK Negeri 3 Surakarta untuk menyiapkan acara Doa Bersama. Acara Doa Bersama ini diselenggarakan pada hari Jumat (11/3). Dengan segera, kami berdua mengumpulkan siswa-siswi kelas XII untuk menyiapkan acara tersebut. Pagi itu, semua persiapan sudah dilakukan dan sekitar jam 07.45, dimulailah acara Doa Bersama. Acara Doa Bersama ini digelar saat Gereja masih menjalani Masa Prapaska, masa yang dikhususkan untuk berdoa, berpuasa dan matiraga. Dalam kerangka itu, siswa-siswi Kristiani SMK Negeri 3, khususnya yang duduk di kelas XII, diajak untuk menyangkal diri dan memikul salib menghadapi Ujian Nasional yang berlangsung bulan April. 


Hari itu, yang kami undang untuk memberikan renungan sekaligus penguatan bagi siswa-siswi kelas XII adalah Bapak Ponco Widiarso, Vikaris GKJ Kerten. Dalam acara itu, hanya satu ayat yang ingin direnungkan, yaitu, "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya" (1 Kor 10:13). 

Memang benarlah perkataan ini, Allah tidak akan membiarkan hambaNya menanggung beban yang tidak tertanggung. Jika Allah menghendaki agar manusia menerima sebuah beban tertentu, pasti Allah pun akan memberi kekuatan dan Ia tidak akan meninggalkan manusia yang disayangiNya itu. Berdasarkan ayat tersebut, siswa-siswi kelas XII diajak untuk tidak takut menghadapi ujian karena keyakinan bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang melampaui kekuatan manusia. Artinya, jika ada beban yang harus ditanggung oleh manusia, Tuhan tentu akan memberikan kekuatan. Hal ini mengingatkan saya atas apa yang biasanya disampaikan oleh guru saya, Romo Antonius Budi Wihandono, "Rahmat Tuhan Cukup Bagimu (RTCB) dan Gusti Mesthi Paring Dalan (GMPD)." Dua pesan inilah yang selalu menghiasi laman Facebook beliau. Sebuah ajakan untuk percaya kepada Allah yang tentunya akan terus menjamin kehidupan manusia. Melalui pengalaman ini, Penjaga Podjok semakin disadarkan bahwa di dunia ini, tujuan utama hidup manusia adalah belajar percaya kepada Allah dan kemudian mengasihiNya dengan sepenuh hati.
Di akhir acara, Ibu Kepala Sekolah memberikan sambutan sekaligus penguatan kepada siswa-siswi kelas XII. Terima kasih kepada siapa saja yang sudah terlibat dalam acara Doa Bersama ini.  Usai Doa Bersama, siswa-siswi kelas XII pun mendapatkan pembekalan untuk menghadapi Ujian Sekolah dan Ujian Nasional. Kiranya acara Doa Bersama ini akan mengantar siswa-siswi kelas XII untuk bersiap diri menyongsong masa depan yang penuh kebahagiaan... Semoga siswa-siswi kelas XII diberkati dalam menempuh perjalanan hidup yang sedemikian panjang setelah lulus dari tempat pendidikan ini... Berkah Dalem...

Misa Pelajar untuk Merayakan Paska
Peristiwa kedua yang belum tercatat adalah Misa Pelajar bagi siswa-siswi Katolik se Kota Surakarta. Misa Pelajar ini diadakan pada hari Jumat (1/4). Hari itu, seluruh pelajar Katolik se Kota Surakarta diundang ke Gereja Santo Antonius Purbayan untuk mengikuti Misa. Hari itu, Misa dipersembahkan oleh beberapa romo, yaitu Romo Antonius Budi Wihandono, Romo Tiburtius Agus Sriyono, SJ., dan Romo Didik Cahyono, SJ. Antusiasme pelajar untuk mengikuti Misa hari itu sangat luar biasa. Gereja Santo Antonius Purbayan tampak penuh sesak dengan pelajar yang datang dari berbagai sekolah.
Dari bangku paling depan sampai bangku paling belakang, semuanya diduduki oleh pelajar dari mana-mana. Sungguh pemandangan yang membanggakan. Dalam homili yang disampaikan, Romo Antonius Budi Wihandono sebagai selebran utama mengajak anak-anak muda mengambil peran sebagai pemenang kehidupan. Renungan ini didasarkan pada pengalaman Romo Budi bertemu dengan mantan muridnya yang menjadi pengamen. Romo Budi merasa kasihan karena melihat mantan muridnya mengamen, namun setelah ditelusur lebih lanjut, ternyata pilihan anak muda tersebut untuk mengamen membuat Romo Budi dapat menerima pilihannya. Anak muda tersebut menempatkan dirinya sebagai bagian dari solusi dan bukan menjadi bagian dari masalah. Pilihan inilah yang disebut Romo Budi sebagai pilihan yang membuat anak muda itu menjadi pemenang kehidupan.


Dalam kesempatan Misa Pelajar ini, diadakan pula pelantikan pengurus baru Ikatan Siswa Katolik Surakarta (ISKS). Satu hal lagi yang sangat membanggakan adalah adanya seorang siswi SMK Negeri 3 Surakarta yang terlibat dalam kepengurusan ISKS tahun ini. Dia adalah Anna Niken Kresno Wati, siswi kelas XII AP 1. Semoga keterlibatan ini membuat siswa-siswi SMK Negeri 3 yang lain menjadi semakin aktif menjadi anak muda Katolik yang berani beriman dengan gembira. Hari itu, setelah Misa, diadakan pula Temu Pelajar Katolik oleh ISKS untuk memaparkan program yang akan dijalankan.

Pelayanan Sosial di Panti Asuhan Karuna dan Pengambilan Donasi KARINA
Masih dalam Masa Paska, sementara siswa-siswi kelas XII menempuh Ujian Nasional, siswa-siswi kelas X dan XI mendapat tugas untuk melakukan pelayanan sosial. Seperti yang sudah terjadi tahun kemarin, pelayanan sosial tahun ini masih dilakukan dengan pelayanan di panti asuhan dan pengambilan kaleng donasi KARINA. Pelayanan sosial di panti asuhan dilakukan di Panti Asuhan Karuna pada hari Senin-Rabu (4-6/4), sedangkan pengambilan kaleng donasi KARINA dilakukan dalam jangka waktu satu bulan. Terima kasih kepada siswa-siswi kelas X dan XI yang telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.



Menyelami Makna dan Tradisi Paska
Masih dalam rangka Masa Paska, di bulan April, anggota Ruang Podjok juga diajak untuk mendalami makna dan tradisi Paska melalui Sekolah Iman. Sekolah Iman ini dilaksanakan hari Jumat (15/4). Kegiatan Sekolah Iman ini merupakan kelanjutan kegiatan yang diintrodusir pada tahun 2013 dimana saat itu Paus Benediktus XVI menetapkan tahun 2012-2013 sebagai Tahun Iman. Karena maksud dan tujuannya baik, program Sekolah Iman ini pun dilanjutkan oleh Penjaga Podjok sampai sekarang. Sekolah Iman bulan April itu juga merupakan momen untuk mengenalkan buku Youcat, Katekismus untuk Anak Muda yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Buku ini menjadi salah satu alternatif sarana belajar bagi anak muda Katolik mengenai iman yang mereka hidupi. 





Selain itu, Sekolah Iman saat itu ingin mendalami lebih lanjut mengenai maknanya Paska seperti yang ditulis dalam tulisan di link ini.

Paska Bersama secara Mandiri
Akhir bulan April, tepatnya Sabtu (30/4), anggota Ruang Podjok mengadakan Perayaan Paska Bersama. Ada cerita yang tidak akan tidak akan terlupa seumur hidup dalam Perayaan Paska tahun ini karena Perayaan Paska tahun ini adalah perayaan Paska mandiri. Artinya, tidak ada dana dari sekolah untuk membantu perayaan Paska tahun ini. Mengapa begitu? Ceritanya panjang untuk dikisahkan, tetapi singkatnya, sekolah tidak bisa mengeluarkan dana untuk Perayaan Paska. Karena kepalang tanggung, panitia pun ditawari untuk mengadakan Perayaan Paska secara mandiri. Panitia pun bersedia berjuang untuk mencari dana mandiri bagi Perayaan Paska. Dengan modal uang sekitar Rp 200.000,-, panitia bergerak untuk mencari dana. Yang dilakukan adalah menjual makanan kecil. Akhirnya, dengan dana yang seadanya, Perayaan Paska berhasil juga diselenggarakan. 
Perayaan Paska ini sudah direncanakan sejak awal bulan April. Saat itu, rencana dimulai dengan survei ke panti asuhan yang akan didatangi. Pilihan pun jatuh pada Panti Asuhan Griya Kasih Victory Jogjakarta. Mengapa panti asuhan ini yang dipilih? Karena panti asuhan ini yang informasinya muncul di jaringan internet. Dari internet, beginilah informasi yang tersedia:

"Panti asuhan ini didirikan oleh Yayasan Victory dan diresmikan pada tanggal 5 Agustus 2001, dengan tujuan melayani anak-anak dari keluarga tidak mampu sehingga memiliki harapan taraf hidup yang lebih baik. Sejak tahun 2009, panti asuhan ini dikelola oleh Perkumpulan Griya Kasih Victory.
Panti asuhan ini semula berlokasi di desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Akibat erupsi gunung Merapi tahun 2009, panti asuhan ini pindah lokasi, menempati bangunan baru di desa Kadirojo 1, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta, atas bantuan dari para donator.
Hingga tahun 2011, panti asuhan ini telah menampung 40 anak dari berbagai daerah di Indonesia dan telah mengentaskan 9 anak lulus SLTA, 5 diantaranya berhasil melanjutkan ke perguruan tinggi atas bantuan dari donator."

Sambil bertanya kepada Mbah Google, ada enam orang yang melakukan survei. Selasa (3/4) sekitar jam 07.00, sebuah mobil meluncur dari kediaman Bapak Heru Siswanto menuju kota Jogjakarta. Sampai di daerah Kalasan, mobil itu menyusuri selokan Mataram menuju tempat panti asuhan Griya Kasih Victory berada. Sekitar jam 09.3o pihak panti asuhan menyambut kedatangan tim survei. Pembicaraan itu menghasilkan kesepakatan bahwa Sabtu (30/4) akan diadakan kunjungan dari Keluarga Besar Kristiani SMK Negeri 3 Surakarta dalam rangka Bakti Sosial Paska. Sepulang dari survei, panitia pun mulai merancang acara.
Acara sudah dibuat sedemikian rupa sampai terdengar berita yang bagaikan petir di siang bolong yang menyatakan bahwa tidak akan ada dana dari sekolah untuk Paskahan. Ya sudah, cerita menjadi lain. Berbagai tarik ulur menyertai persiapan Paskahan. Pembimbing dan siswa sempat saling bersitegang karena situasi. Akhirnya diputuskan bahwa acara Paskahan dilaksanakan secara sederhana namun tetap mengadakan bakti sosial ke Jogja. 




Hari Sabtu (30/4), Perayaan Paska berlangsung simpel dan sederhana. Pagi itu, Bapak Ponco Widiarso didaulat untuk memberikan renungan. Ia membuka renungan itu dengan pertanyaan, "Apa yang kita ikuti di dunia ini: kekayaan atau kebermanfaatan?"  Pertanyaan penting ini menjadi titik tolak seluruh renungan. Di sela-sela renungan, ia mengajak para hadirin untuk menyaksikan film pendek tentang Susan Boyle. Susan Boyle adalah seorang wanita paruh baya yang dulunya tidak diperhitungkan. Ia pernah ditolak untuk ikut dalam paduan suara Gereja. Pada seleksi ajang Britain Got Talents, ia pernah diremehkan karena ingin seperti penyanyi terkenal idolanya, Elaine Paige. Begitu membuka mulut, Susan Boyle ini mencengangkan para juri dengan suara indahnya. Bahkan, salah seorang juri mengatakan, "Suatu kehormatan dapat mendengar suara yang begitu indah itu." Susan Boyle sekarang sudah memiliki album. Album lagu-lagunya tidak ada yang mengalahkan. Kisah Susan Boyle ini menunjukkan bahwa kebermanfaatan perlu lebih dulu diupayakan. Renungan itu ditutup dengan kisah uang kertas. Suatu hari, terjadilah pertemuan antara uang kertas seribuan dengan uang kertas seratus ribuan. Mereka pun bercakap-cakap. Merasa bangga dengan penampilannya, uang kertas seratus ribuan menegur uang kertas seribuan, "Mengapa kamu sangat kotor, lecek, dan kumal? Apa yang kamu lakukan dan darimana saja kamu? Adakah yang kamu banggakan?" Uang kertas seribuan hanya diam. Setelah didesak lebih jauh dan diejek bertubi-tubi, uang kertas seribuan angkat bicara, "Aku berpetualang ke berbagai daerah. Aku berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Aku pernah dipegang oleh seorang pengemis di jalan sampai seorang gubernur di ibukota provinsi. Aku bepergian dari pasar ke pasar. Aku berpindah dari satu gereja ke gereja lain. Bahkan, aku seringkali masuk ke kotak sumbangan yang tersebar di berbagai daerah. Aku sudah mengalami berbagai hal sehingga rupaku tidak begitu bagus, tetapi aku berguna untuk banyak orang." Mendengar jawaban itu, uang seratus ribuan hanya tertegun. Ia merasa sedih karena ternyata penampilannya yang kelihatannya terhormat tidak membawa manfaat sebanyak yang diceritakan oleh uang seribuan. Dengan sedih, uang seratus ribuan pun mundur sambil terdiam seribu bahasa. Kisah ini menjadi inspirasi bagi kita bahwa yang penting adalah berguna bagi orang lain. Meskipun kita merasa kecil dan hina, akan sangat baik jika kita berguna bagi semakin banyak orang. Renungan Paska ini menjadi pengingat agar setiap orang bisa melakukan hal-hal yang berguna bagi dirinya sendiri dan sekitarnya. Perayaan Paska yang singkat itupun diakhiri sekitar pukul 09.00.





Setelah pungkas acara di sekolah, sebagian siswa-siswi Kristiani melanjutkan perjalanan ke Jogjakarta menuju Panti Asuhan Griya Kasih Victory. Yang ikut dalam perjalanan ini hanyalah panitia dan beberapa guru sebagai pendamping. Hal ini dilakukan karena keterbatasan dana yang ada. 


Sesampai di Panti Asuhan Griya Kasih Victory, kami serombongan disambut dengan sangat meriah. Acara dimulai dengan perkenalan, sambutan dan dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan bersama. Siang itu, sebagai bentuk keakraban, diselenggarakanlah permainan antara teman-teman panitia Paska SMK Negeri 3 Surakarta dengan teman-teman panti asuhan. Riuh, gembira dan suasana yang menyenangkan tercipta pada siang hari yang terik itu. Acara permainan diselingi dengan pemberian tali asih dari siswa-siswi Kristiani SMK Negeri 3 Surakarta. Tali asih sederhana ini menjadi perwujudan keinginan dari siswa-siswi SMK Negeri 3 Surakarta untuk berbagai kepada teman-teman panti asuhan. Siang itu, teman-teman panitia juga membawa kejutan bagi seorang teman dari panti asuhan yang sedang berulang tahun. Selamat ulang tahun kami ucapkan dengan cinta dari SMK Negeri 3 Surakarta. 


Tidak disangka-sangka, teman-teman SMK Negeri 3 pun disuguhi persembahan yang membuat kami terkagum-kagum. Hari itu, teman-teman panti asuhan mempersembahkan paduan suara berupa medley lagu-lagu daerah dari seantero Nusantara. Ini menjadi simbol bahwa Indonesia itu sangatlah kaya dan terdiri dari beragam budaya. Lirik lagu yang dinyanyikan secara lincah dan sempurna itu membuat saya terperangah. Begitu mengagumkan... Tidak mengira kami boleh mendengarkan lagu-lagu Nusantara yang begitu indah ini. Sajian ini seolah-oleh menyentil ke-Indonesiaan saya. Saya yang bekerja di sekolah negeri sudah jarang mendengar lagu-lagu seperti ini. Padahal, sekolah negeri adalah sekolah pemerintah yang seharusnya dapat menjadi wadah untuk membangun diri menjadi orang Indonesia dan menjadi semakin Indonesia. Selepas suguhan lagu-lagu Nusantara itu, acara pun ditutup dengan makan siang bersama dan kemudian sayonara...
Terima kasih kepada teman-teman Panti Asuhan Griya Kasih Victory yang sudah menerima kami dengan senang hati, memberikan suguhan yang tidak terkira kepada kami. Semoga selanjutnya kita pun bisa bersua lagi... Jika ada sumur di ladang, bolehlah kita menumpang mandi; jika ada umur yang panjang, bolehlah kita bersua lagi.

Begitulah kurang lebih kisah-kisah yang masih tercecer dalam ingatan. Kiranya catatan ini boleh menjadi catatan untuk yang sudah terlewat... Berkah Dalem.

Rabu, 31 Agustus 2016

Politik Orang Katolik: Belajar dari Soegijapranata dan Mangunwijaya

Orang Katolik berpolitik? Pertanyaan semacam ini tampaknya membuat orang Katolik sendiri merasa heran. Politik dalam pemahaman kebanyakan orang adalah tempat yang kotor, dipenuhi dengan nafsu, korupsi dan dosa. Tidak banyak orang Katolik yang tertarik untuk terjun dalam dunia politik karena sudah terlanjur memiliki image semacam itu. Lewat tulisan sederhana ini, ingin dibangkitkan kembali kesadaran bahwa setiap orang Katolik harus berpolitik. Politik macam apa dan harus bagaimana? Itulah pertanyaan yang perlu ditemukan jawabannya secara bersama-sama.

Mencari Makna Politik secara Katolik  
Kata politik sudah dikenal sejak zaman para filsuf Yunani. Para filsuf terkenal sudah memakai kata ini dalam ajaran-ajarannya. Makna kata politik yang paling sederhana dapat kita temukan dari pendapat Aristoteles. Menurut Aristoteles, manusia menurut kodrat merupakan zôion politikon: makhluk yang hidup dalam polis (lih. Prof. Dr. K. Bertens. Sejarah Filsafat Yunani, Dari Thales ke Aristoteles. Yogyakarta: Kanisius. 2002. Cetakan XVIII.). Polis adalah suatu negara kecil atau suatu negara kota sekaligus menunjuk pada rakyat yang hidup dalam negara kota itu. Bentuk kemasyarakatan baru ini timbul antara abad VIII dan VII SM. Polis merupakan pusat segala keaktifan ekonomi, sosial, politik, dan religius. Suatu polis mempunyai ciri-ciri berikut ini otonom (mempunyai hukum sendiri), swasembada dalam bidang ekonomi, dan mempunyai kemerdekaan politik. Ciri-ciri semacam itu tentu mengakibatkan beberapa hal. Pertama, pengembangan rasio antar warga dimungkinkan karena logos (ilmu) mendapat tempat yang istimewa di dalamnya. Kedua, dimungkinkan adanya keterbukaan antar warga. Urusan negara adalah urusan umum. Ketiga, muncul kesederajatan semua warga negara. Tiap-tiap warga polis mengambil bagian dalam urusan negara (lih. Prof. Dr. K. Bertens. Sejarah Filsafat Yunani, Dari Thales ke Aristoteles. Yogyakarta: Kanisius. 2002. Cetakan XVIII.).
Untuk menjadi sadar berpolitik, orang Katolik kiranya perlu belajar dari Y.B. Mangunwijaya. Ia adalah seorang Imam Diosesan untuk Keuskupan Agung Semarang. Ia diutus untuk belajar di Institut Teknologi Bandung dan Sekolah Tinggi Teknik di Aachen, Jerman sampai meraih gelar insinyur teknik bangunan. Selain menjadi arsitek dan pastor, ia pernah menjadi dosen luar biasa Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Seiring perjalanan waktu, orang-orang mengenalnya sebagai novelis, kolumnis berbagai surat kabar dan majalah, pekerja sosial, budayawan, dan tokoh besar. Perhatiannya terhadap banyak masalah di negeri Indonesia ini diungkapkan dalam banyak tulisan dan karyanya melalui lembaga pendidikan yang didirikannya, Yayasan Dinamika Edukasi Dasar. 
Banyak orang mengenalnya sebagai seorang rohaniwan yang memiliki kepedulian terhadap nasion dan masyarakat Indonesia, terutama kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, dan tersingkir. Berkenaan dengan politik yang harus dijalani oleh orang Katolik, Y.B. Mangunwijaya mengungkapkan melalui artikel “Rohaniwan Tak Boleh Berpolitik?” (Y.B. Mangunwijaya. Politik Hati Nurani. Jakarta: Grafiasri Mukti. 1997):

“Memanglah ada dua paradigma dan pengARTIan dasar politik. Yang pertama lebih terkenal dan biasanya dikira satu-satunya, yakni politik dalam aspek kekuasaan. Penyelenggaraan kekuasaan, pemilihan, pertahanan, perebutan, penikmatan, pelestarian, status-quo kekuasaan, dst., pendek kata segala yang menyangkut power atau might, kekuasaan (PK). Termasuk kekuasaan mental, spiritual, rohani, agama, yakni yang berciri pemaksaan atau hegemoni kehendak oleh pihak yang lebih kuat kepada yang nisbi lemah. Lazimnya khalayak ramai mengartikan politik melulu dalam arti pertama ini. Sehingga ada ucapan yang terbang di mana-mana: ‘politik itu kotor.’
Namun bagi orang terpelajar, ada politik berparadigma ke-2 yang sebenarnya lebih asli dan otentik, bisa ilmiah tetapi dengan praksis, ataupun sesuai koderat alam manusia dan masyarakat, (tetapi kurang terkenal populer) yakni politik dalam arti: segala usaha demi kepentingan dan kesejahteraan umum. Jasmani rohani. Bukan untuk kepentingan golongan saya atau faksi dia atau partai itu atau umat agama tertentu, akan tetapi demi kepentingan dan kesejahteraan umum, semua warga bahkan universal semua bangsa, tanpa pandang siapa dan golongan, luas, misalnya sila ke-2, kemanusiaan yang adil dan beradab, sila ke-5, keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Juga demi perdamaian, kemerdekaan dan nilai-nilai moral, kebenaran, dsb. demi tata hidup bersama yang membangun iklim budaya mulia, budi pekerti tinggi, yang menyemarakkan kesetiakawanan dan menumpas egoisme, individualis maupun kolektivisme yang mencekik serta penghapusan hukum rimba survival of the fittest, dsb. dst. Ini politik dalam arti asli kodrat alami, demi kehidupan dan penghidupan bersama yang sejahtera umum atau politik dalam dimensi moral (dan iman). (PM).”

Y.B. Mangunwijaya mengungkapkan bahwa semua orang harus terlibat dalam politik dalam arti yang kedua. Semua orang diajak terlibat. Politik tidak hanya ditujukan untuk orang-orang tertentu. Semua orang wajib terlibat dalam politik yang ditujukan untuk kesejahteraan umum. Orang Katolik termasuk yang dipanggil untuk berbuat sesuatu demi kesejahteraan bersama.

Kesadaran berpolitik orang Katolik juga perlu dipelajari dari Monsinyur Albertus Soegijapranata, S.J. atau lebih akrab disapa Monsinyur Soegija. Ia adalah seorang imam pribumi yang hidup dalam masa revolusi kemerdekaan. Ia diangkat sebagai pemimpin Gereja Katolik untuk wilayah Semarang pada tahun 1940. Sebagai seorang pemimpin Gereja Katolik, ia mempunyai tugas untuk memelihara dan membina kehidupan rohani umatnya. Namun, situasi negara yang sedang bergolak saat itu menuntutnya untuk tidak hanya melakukan kegiatan bagi umatnya sendiri, tetapi juga memberikan sumbangan bagi kehidupan bersama masyarakat seluruhnya. Keterlibatannya dalam situasi negara ditunjukkan dengan kemauannya mengikuti gerak perjuangan bangsa Indonesia saat itu. Informasi lebih lengkap tentang keterlibatan Mgr. Soegijapranata dalam kehidupan masyarakat dapat dilihat dalam buku karangan G. Budi Subanar, S.J berjudul Kesaksian Revolusioner Seorang Uskup di Masa Perang, Catatan Harian Mgr. A. Soegijapranata, S.J. 13 Februari 1947-17 Agustus 1949. (Yogyakarta: Galang Press. 2003). Ia menjalin hubungan baik dengan para pemimpin negara, terutama Presiden Sukarno. Ia bahkan secara terang-terangan menunjukkan keberpihakannya kepada negara Indonesia dengan memindahkan pusat penggembalaannya dari Semarang – yang saat itu menjadi daerah kekuasaan Belanda – ke Yogyakarta – yang saat itu menjadi daerah kekuasaan Republik Indonesia – mulai tanggal 17 Februari 1947 setelah beberapa hari berada di Jakarta untuk menyelesaikan beberapa urusan bersama Monsinyur Petrus Joannes Willekens, S.J. 
Monsinyur Soegija adalah seorang Gerejawan besar (lih. Y.B. Mangunwijaya. “Mengenang Seorang Yesuit Gerejawan Besar, Mgr. A. Soegijopranata” dalam A. Budi Susanto, S.J. Harta dan Surga, Peziarahan Jesuit dalam Gereja dan Bangsa Indonesia Modern. Yogyakarta: Kanisius. 1990). Ia mempunyai dua fokus perhatian saat itu. Pertama, ia mempunyai tugas menyelamatkan Gereja dan umat Katolik agar tidak porak poranda karena seluruh imam, biarawan, dan biarawati – yang saat itu masih banyak yang berkebangsaan Belanda – ditawan Jepang. Saat itu, umat belum berdikari. Menurut perhitungan normal, Gereja Katolik di Indonesia yang masih sangat muda itu seharusnya sudah hancur. Namun, berkat kepemimpinan dan gelora juang yang hanya dibantu beberapa imam praja yang masih ingusan dan belum berpengalaman, kaum awam malah bangkit dan menjadi dewasa (lih. Y.B. Mangunwijaya. “Mengenang Seorang Yesuit Gerejawan Besar, Mgr. A. Soegijopranata” dalam A. Budi Susanto, S.J. Harta dan Surga, Peziarahan Jesuit dalam Gereja dan Bangsa Indonesia Modern. Yogyakarta: Kanisius. 1990). Kedua, ia mempunyai perhatian pada pergolakan bangsa dan masyarakat Indonesia sesudah pemerintah Hindia Belanda lenyap. Ia  merasa  harus berusaha keras agar agama Katolik tidak dicap sebagai agama orang Barat, orang asing, dan seolah-olah orang-orang Katolik atau Kristen menjadi kaki tangan musuh, kaum penjajah. Orang Katolik harus membuktikan bahwa umat Katolik adalah patriot sejati justru karena Kekatolikannya (lih. Y.B. Mangunwijaya. “Mengenang Seorang Yesuit Gerejawan Besar, Mgr. A. Soegijopranata” dalam A. Budi Susanto, S.J. Harta dan Surga, Peziarahan Jesuit dalam Gereja dan Bangsa Indonesia Modern. Yogyakarta: Kanisius. 1990). Ia adalah uskup yang terkenal dengan kata-katanya: 100 % Katolik dan 100 % Nasional. Kata-kata inilah yang digunakannya untuk menggugah kesadaran orang Katolik saat itu untuk sungguh menjadi warga Gereja Katolik sekaligus warga negara Indonesia yang terlibat secara penuh dalam kehidupan menggereja, memasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ia adalah uskup yang berpolitik. Seruan agar orang Katolik terlibat dalam politik diungkapkannya pada tahun 1954 melalui surat gembala - surat dari pemimpin Gereja setempat  kepada umat - yang ditulisnya bersama para uskup di Pulau Jawa. Cinta kepada tanah air tidak cukup diwujudkan dengan mengibarkan bendera pada hari besar nasional. Cinta kepada tanah air berarti berbakti untuk kemakmuran, keteraturan, dan kesejahteraan tanah airnya (bdk. Mgr. A.E.J. Albers, O.C., Mgr. A. Soegijapranata, S.J., Mgr. W. Schoemaker, M.S.C., Mgr. P.M. Arntz, O.S.C., Mgr. A. Djajasepoetra, S.J., Mgr. J.A.M. Klooster, C.M., Mgr. N. Geise, O.F.M. “Nawala Para Rama Kangdjeng” dalam PRABA No. 16. Th. VI. 20 Agustus 1954). Monsinyur Soegija mengajak seluruh umat Katolik untuk terlibat dalam hidup bermasyarakat. 

Dasar Keterlibatan Politik bagi Orang Katolik
Setiap tindakan, apapun tindakan itu, perlu dasar yang jelas, termasuk tindakan politik. Mangunwijaya mengatakan bahwa keterlibatan setiap orang dalam hal politik didasarkan pada pengajaran agamanya masing-masing. Bagi orang Katolik, keterlibatan itu didasarkan pada ajaran Yesus. Ia menulis melalui artikel “Rohaniwan Tak Boleh Berpolitik?” (Y.B. Mangunwijaya. Politik Hati Nurani. Jakarta: Grafiasri Mukti. 1997):

“Dan memang Nabi Isa mengajar para penganutnya demikian. Jangan pakai pedang, tetapi lewat kebenaran, iman, harapan, cintakasih. Karena yang didambakan masyakarat umum yang normal sejati, apalagi yang berkeTuhanan, berPancasila, akhirnya dan akhirnya justru inilah, tata negara dan masyarakat yang berpijak pada moralitas dan etika fair play (serta iman) dalam arti luas di atas.”

Pendapat Mangunwijaya ini dengan jelas didasarkan pada kisah Yesus dalam Alkitab. Dalam Kitab Suci, dinyatakan bagaimana Yesus melakukan karyaNya demi mewartakan Kerajaan Allah (Luk 4:18-20). Karya Yesus itu didasarkan pada cinta kasih (Mat 22:34-40. par.), tindakan tanpa kekerasan (Mat 5:38-44), dan pengampunan (Mat 18:21-35). Nafas cintakasih dan anti kekerasan menjadi roh dari keterlibatan politik orang Katolik dalam masyarakat supaya orang mampu untuk hidup dalam lingkungan sekitarnya demi kesejahteraan bersama.  
Monsinyur Soegija menyatakan bahwa ada dua hal yang menjadi dasar kewajiban keterlibatan orang Katolik dalam masyarakat, yaitu kewajiban kerasulan yang berasal dari keadaan hidup kita dan kewajiban kerasulan yang berasal dari sifat sosial yang ada pada kita. Ia menulis dalam Surat Gembala Prapaska tertanggal 12 Februari 1952.:

“Sedjak kita dipermandikan menjadi Katholik dan mengatur hidup setjara Katholik, berkat kemurahan dan kerelaan Tuhan, kita merasa senang dan tenang, merasa selamat bahagia, sedjahtera, dan sentosa dalam kejakinan kita... maka dengan sendirinja kita merasa terdorong untuk berdoa, berkorban dan berusaha supaja sesama kita pun pula ambil bagian dalam kesedjahteraan dan kebahagiaan jang kita alami dalam djiwa kita dari anugerah Tuhan jang berupa iman dan kepertjajaan itu... Sebagai makluk jang bersifat sosial kita ta’ mampu hidup tiada dengan pertolongan sesama kita. Sepandjang hidup kita harus pergaulan dengan orang lain. Banjaklah keuntungan jang kita terima dari masjarakat jang kita duduki, banjak pulalah djasa jang harus kita lakukan kepada chalajak ramai sekitar kita...”

Kegiatan keterlibatan dalam masyarakat tidak dapat dilepaskan dari kondisi sebagai orang Katolik yang hidup di tengah masyarakat. Monsinyur Soegija tampaknya sejak awal sadar bahwa orang-orang Katolik tidak dapat lepas dari masyarakat setempat sehingga peran orang Katolik dalam masyarakat sangatlah penting. Pendapat Monsinyur Soegija ini secara ringkat menyiratkan ajaran yang disampaikan oleh penulis Surat Pertama Rasul Petrus yang menasehatkan orang-orang Kristiani untuk takut kepada Allah, tunduk kepada pemerintah, berbuat sebaik-baiknya dalam masyarakat, serta menghormati semua orang sebagai wujud nyata kemerdekaan yang dialaminya (1 Ptr 2:13-17). Selain itu, ajaran Monsinyur Soegija serasa menyuarakan apa yang ditulis oleh Rasul Paulus yang menasehatkan agar orang Kristiani saling memberikan pelayanan atas dasar kemerdekaan yang telah dia terima (Gal 5:13). 
Mangunwijaya dan Soegijapranata telah memberikan dasar mengapa orang Katolik harus terlibat dalam kehidupan masyarakat. Mereka berdua telah kembali menyadarkan kita, orang Katolik untuk berlaku adil baik kepada setiap pihak seperti yang disampaikan Yesus ketika ditanya apakah boleh membayar pajak kepada kaisar atau tidak. Pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang ditujukan untuk menjebak-Nya. Namun dengan lihai, Yesus memberi jawaban untuk berlaku adil kepada setiap pihak dengan mengatakan, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kami berikan kepada Allah” (Mat 22:21).

Menjadi Orang Benar dalam Masyarakat Berdasar Hati Nurani
Panggilan politik orang Katolik dapat dirumuskan sebagai berikut: menjadi orang benar berdasar hati nurani. Y.B. Mangunwijaya menyatakan bahwa hati nurani harus diwujudkan melalui keberpihakan kepada nilai-nilai universal, “Yang utama adalah berbuat adil untuk membela orang kecil dan solider terhadap yang menderita... demi perdamaian dunia, kemanusiaan, keadilan sosial, dan kemerdekaan.” Hati nurani sebenarnya bukan hanya sumber dan dasar tindakan politik manusia saja, tetapi harus menjadi sesuatu yang integral dalam diri manusia dan menjadi sumber seluruh tindakan manusia. Hati nurani merupakan unsur yang perlu dimekarkan dalam kehidupan. Hati nurani harus dimasukkan sebagai salah satu daya yang harus dimekarkan dalam pendidikan. Ada lima macam daya yang harus dikembangkan, yaitu daya kognitif atau daya nalar; cita rasa dan kemampuan afektif yaitu rasa, intusisi dan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan; kemampuan untuk saling berkomunikasi, bergaul, bekerjasama, teratur, tenggang rasa; kesehatan raga; dan hati nurani, sikap atau semangat tolong menolong, setia kawan, sopan, dan cinta kasih. Pemekaran hati nurani ini akan membuahkan kehidupan yang subur dan berbuah. Pendidikan hati nurani itu dapat dilakukan melalui komunikasi iman – bukan agama – dalam kehidupan, dialog, percakapan, dan lebih-lebih perbuatan. Tujuan komunikasi iman ini adalah untuk menumbuhkan sikap dasar yang benar, hati nurani yang peka terhadap segala yang baik, adil, benar, senang menolong, dan membuat orang lain gembira, sekaligus memekarkan watak yang menolak segala yang buruk, menghina teman yang miskin, cacat, atau lambat belajar (lih. A. Supratiknya dan A. Atmadi. “Romo Mangun sebagai Guru” dalam Y.B. Priyanahadi et all. Romo Mangun di Mata Para Sahabat. Yogyakarta: Kanisius. 1999).
Pemekaran hati nurani ini menjadi sebuah modal untuk terlibat dalam kehidupan masyarakat. Hati nurani yang mampu mempertimbangkan baik buruk, bersikap adil, suka menolong menjadi sebuah dasar untuk bertindak dalam masyarakat. Yang menjadi patokan dalam bertindak bukanlah sikap suka atau tidak suka, tetapi unsur-unsur keadilan, kemanusiaan, perdamaian dan kemerdekaan: apakah tindakan yang aku buat membantuku dan orang lain untuk mewujudkan nilai-nilai itu. Hati nurani yang sudah mekar akan membuat orang Katolik dapat mengusahakan diri untuk menjadi orang benar dalam masyarakat. Monsinyur Soegija pernah menyatakan bahwa orang Katolik memang bukan bagian yang lebih besar (pars major) tetapi orang Katolik harus berusaha menjadi bagian yang lebih baik (pars sanior). Dengan melakukan kegiatan agama, kesusilaan, kejujuran, kesetiaan pada perjanjian, keadilan, cinta para sesama, cinta pada pekerjaan, menghormati pembesar, taat pada peraturan dan undang-undang, orang Katolik diajak untuk memberikan kesaksian yang kuat dalam hidup bermasyarakat. 

Penutup
Kehidupan Soegijapranata dan Mangunwijaya menun-jukkan bagaimana mereka berpolitik dalam arti sesungguhnya, terlibat dalam masyarakat demi kesejahteraan bersama. Mereka berdua telah menunjukkan kesadaran-nya untuk menjadi bagian dari masyarakat Indonesia dan Gereja Katolik Indo-nesia. Kita melihat bahwa kehidupannya sebagai orang Katolik telah me-nyumbangkan sesuatu ke-pada bangsa dan negara Indonesia. Melalui kiprah dua tokoh tersebut, kita diingatkan kembali kepada pertanyaan Monsinyur Soegija yang dituliskan dalam Surat Gembala berjudul “Alit Nanging Mentes” (PRABA, 5 Djanuwari 1955): apakah Gereja Katolik beserta umatnya sungguh-sungguh mempunyai manfaat bagi negara dan rakyat Indonesia? Semoga kita semua tergerak berbuat dan menyumbangkan sesuatu bagi kehidupan bangsa dan masyarakat Indonesia.