Kamis, 16 April 2015

Buku Perdana Kolaborasi Warga Ruang Podjok

Bulan-bulan ini, warga Ruang Podjok Agama Katolik SMK Negeri 3 Surakarta menerima kado istimewa. Bukan uang, bukan perhiasan, apalagi batu akik yang sekarang sedang ngetren. Kado istimewa yang diterima adalah sebuah buku. Mengapa buku ini menjadi istimewa? Karena buku ini adalah hasil kolaborasi Penjaga Podjok dengan sebagian warga Ruang Podjok.
Buku ini berawal dari sepenggal kisah yang terjadi kira-kira dua tahun yang lalu. Saat itu, Penjaga Podjok mendapat inspirasi yang muncul menjelang Ujian Praktek Pendidikan Agama Katolik tahun 2013. Saat itu, terbersit sebuah ide untuk membuka peti depositum fidei (harta kekayaan iman) Gereja Katolik. Kebetulan, saat itu juga baru dicanangkan Tahun Iman oleh Paus (sekarang Paus Emeritus) Benediktus XVI. Jadi cocok. Ide yang muncul saat itu adalah menantang siswa-siswi untuk mengungkap kembali pengetahuan iman mereka tentang Gereja Katolik. Saat itu, idenya masih sangat sederhana sehingga yang diungkapkan oleh siswa-siswi saat itu adalah materi-materi yang sudah pernah mereka pelajari. Memang ada beberapa yang kemudian berani mengangkat materi yang baru. Oleh karena itu, sangat patut diacungi jempol untuk siswa-siswi yang berani keluar dari zona nyamannya ini. Untuk kisah ini, para pembaca bisa menengok ke posting berikut: UjianPraktek Agama: Belajar Berani dan Berani Belajar Mengungkapkan Iman”
Setelah Ujian tahun 2013 itu, gagasan untuk membuka peti depositum fidei menjadi semakin liar. Penjaga Podjok ingin semakin menantang anak-anaknya untuk semakin berani masuk ke dalam peti depositum fidei itu dan menemukan hal-hal berharga. Akhirnya, muncullah gagasan untuk membahas tema yang sama sekali baru dan tampaknya belum banyak dibahas dalam kehidupan iman umat, yaitu “Orang-orang Kudus dari Kaum Awam.” Untuk merealisasikan ide ini, Penjaga Podjok terlebih dulu harus melakukan riset untuk menentukan nama-nama orang-orang yang bisa dibahas para siswa. Sekian banyak penelusuran dibuat. Akhirnya ditemukanlah beberapa puluh nama yang kiranya dapat dibahas dalam Ujian Praktek tahun berikutnya. Gagasan terus bergulir, membesar, dan matang.
Ketika tiba masa untuk mempersiapkan Ujian Praktek tahun 2014, gagasan itupun digulirkan. Para siswa mengambil undian untuk menentukan nama dari orang yang akan dibuat biografinya. Saat itu, ada beragam tanggapan dari para siswa: ada yang bingung, ada yang antusias, ada yang mengeluh. Ya wajarlah. Terhadap sebuah perubahan, reaksi spontan manusia adalah defensif. Namun, mau tidak mau  ya harus mau karena Ujian Praktek adalah salah satu syarat kelulusan. Dari waktu ke waktu, para siswa mengerjakan tugas tersebut. Mereka menelusuri berbagai kisah orang yang menjadi bagian mereka. Ada berbagai kesan yang muncul selama mereka mendalami kisah orang-orang kudus tersebut. Dengan bimbingan Penjaga Podjok, mereka menyusun sebuah teks yang dapat disajikan dalam presentasi Ujian Praktek.
Pasca Ujian Praktek selesai, tiba-tiba muncullah ide untuk mengumpulkan teks-teks yang terserak itu dalam satu kompilasi. Penjaga Podjok pun mulai mengumpulkan, menambah, memperkaya, dan mengomposisi teks yang berisi kisah orang-orang kudus dari kaum awam. Kira-kira bulan Mei 2014, Penjaga Podjok mengirimkan naskah tersebut kepada Penerbit Kanisius dengan harapan tulisan sederhana itu bisa diterbitkan dan bermanfaat bagi khalayak luas. Beberapa waktu ditunggu, akhirnya keputusan untuk terbit pun datang. Terima kasih kepada Penerbit Kanisius yang telah membuat tulisan sederhana ini dapat beredar untuk semakin banyak orang.   
Ingin tahu tentang bagaimana proses pengangkatan sebagai orang kudus? Ingin tahu berapa banyak awam yang sudah diproses menjadi orang kudus? Buku ini kiranya dapat memberikan gambaran awal tentang orang-orang kudus dari kaum awam. Ada berbagai kisah yang terungkap di dalamnya. Ada orang kudus yang dulunya adalah seorang budak. Ada orang kudus yang dulunya adalah seorang pemuja setan. Ada orang kudus yang bekerja sebagai ahli ekonomi dan sebagainya. Kisah-kisah para awam kudus itu membuat kita semakin diteguhkan bahwa siapapun dalam Gereja Katolik bisa memeluk hidup baik nan suci. Dengan demikian, nyatalah yang diamanatkan oleh Konsili Vatikan II melalui dokumen Lumen Gentium tentang Panggilan untuk Menjadi Kudus (LG 40) berikut ini:

“Jadi bagi semua jelaslah, bahwa semua orang kristiani, bagaimanapun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan cinta kasih. Dengan kesucian itu juga dalam masyarakat di dunia ini cara hidup menjadi lebih manusiawi. Untuk memperoleh kesempurnaan itu hendaklah kaum beriman mengerahkan tenaga yang mereka terima menurut ukuran yang dikurniakan oleh Kristus, supaya dengan mengikuti jejak-Nya dan menyerupai citra-Nya, dengan melaksanakan kehendak Bapa dalam segalanya, mereka dengan segenap jiwa membaktikan diri kepada kemuliaan Allah dan pengabdian terhadap sesama. Begitulah kesucian Umat Allah akan bertumbuh dan menghasilkan buah berlimpah, seperti dalam sejarah Gereja telah terbukti dengan cemerlang melalui hidup sekian banyak orang kudus.”

Oleh karena itu, ambil dan bacalah buku ini! Informasi tentang buku ini dapat dilihat dalam tautan berikut: Sumber Tak Pernah Mengering. Para pembaca sekalian bisa belajar untuk menjalani hidup yang baik. Semua ini kita lakukan demi kemuliaan Allah karena kemuliaan Allah tampak dalam hidup manusia seperti yang dikatakan oleh Santo Irenius.

Selasa, 31 Maret 2015

Menghidupkan Iman Melalui Perbuatan

Tahun ini, Ruang Podjok kembali mengadakan pertemuan Aksi Puasa Pembangunan. Pertemuan yang oleh Keuskupan Agung Semarang direncanakan dalam 5 kali pertemuan terpaksa disingkat menjadi 2 kali pertemuan karena keterbatasan waktu. Meskipun dengan cara dan bentuk yang amat terbatas, Ruang Podjok Agama Katolik SMK Negeri 3 Surakarta berusaha mewujudkan imannya melalui perbuatan sehari-hari. Semoga dengan demikian, iman yang kami hidupi menjadi semakin hidup lewat perbuatan kami.

Tema APP 2015
Tema APP 2015 adalah “Iman Disertai Perbuatan Kasih Semakin Hidup.” Melalui tema ini, umat beriman diajak membangun Iman yang Cerdas, Tangguh, dan Misioner. Beriman cerdas: memiliki pemahaman yang benar dan tepat akan iman Katolik serta menjadikannya sebagai dasar untuk mengambil keputusan harian. Iman mendasari tindakan harian. Agar tindakannya benar, iman yang dimiliki juga harus benar. Untuk mendapatkan iman yang benar, kita perlu belajar tentang imannya sendiri. Orang yang tidak memahami imannya secara benar ibarat orang memakai baju tetapi tidak tahu warna baju yang dipakainya. Beriman tangguh: berakar dalam iman sehingga tak mudah goyah, tak mudah putus asa dalam segala persoalan, dan tetap tegak berdiri walaupun godaan dan tantangan iman terus menerpa. Iman menjadi teguh karena berakar pada Yesus. Ketangguhan iman tidak muncul karena ujian dari luar tetapi lebih karena pengolahan serius dari dalam diri manusia. Jika iman rapuh dari dalam, tak usah digoda atau diuji dari luar pun pasti iman akan runtuh dengan sendirinya. Beriman misioner: berani menjadi saksi atas imannya, berani bicara tentang Kristus, serta mampu mengakui dan menunjukkan kekatolikannya. Setelah dibaptis, orang Katolik menjadi saksi atas iman. Menjadi saksi atas iman tidak cukup sekedar menyatakan iman dengan kata-kata tetapi harus berbuat sesuatu melalui tindakan. Dunia sekarang lebih menyukai kesaksian nyata daripada kata-kata yang diucapkan tanpa bukti. Paus Paulus VI menyatakan, Manusia modern lebih suka mendengarkan saksi-saksi daripada guru-guru, dan kalau ia mendengarkan guru-guru, itu karena mereka saksi.

APP dan Kaum Muda
Dalam pertemuan Kaum Muda Asia 2014 di Daejon, Korea, Paus Fransiskus mengatakan “Bangun! Bangun! Orang bernyanyi, menari dan bergembira dalam keadaan bangun. Tidak baik ketika orang muda tidur. Jangan! Bangun, majulah.” Paus Fransiskus mengajak seluruh kaum muda Katolik untuk “Bangun!”, Bangun dan bergerak, berbuat dan berkarya dalam masyarakat serta Gereja. Hal itu menunjukkan bahwa iman harus diwujudkan lewat perbuatan seperti ditulis dalam Surat Yakobus (Yak 2:17).
Di Ruang Podjok, tema APP yang telah dipaparkan tersebut coba diolah dalam dua kali pertemuan. Pertemuan 1 bicara tentang Iman sebagai Anugerah dan Proses Beriman sedangkan Pertemuan 2 bicara mengenai Iman dan Perbuatan serta Menjadi Manusia Baru. Berikut ini adalah bahan-bahan dalam setiap pertemuan.

Pertemuan 1
Setiap orang memiliki iman dan iman itu ditemukan dalam kehidupan. Mengapa orang bisa beriman? Karena orang memiliki Roh yang memungkinkan seseorang dapat berelasi dengan Allah. Oleh karena itu, salah satu sudut pandang filsafat terhadap manusia menyatakan manusia sebagai Homo Religiousus. Setiap orang memiliki kisah imannya masing-masing. Silakan hening sejenak dan menuliskan kisah imanmu sendiri dengan bantuan pertanyaan berikut: 1) Bagaimana kita mengenal iman Kristiani: dari apa atau siapa, sejak kapan, dan dimana, apa yang menarik dalam pengenalan iman itu? 2) Bagaimana perasaan kita menjadi orang Kristiani? Mengapa kita merasakan hal yang demikian dalam kehidupan kita? 3) Apakah kita mengalami pasang surut dalam beriman: kadang bersemangat dan kadang tidak? Apa yang menyebabkan?







Membaca Yoh 4:1-42. Setiap orang memiliki kisah iman masing-masing. Perempuan Samaria yang kita saksikan dalam cuplikan film maupun dalam kisah Kitab Suci juga memiliki kisah imannya sendiri. Perempuan itu meng-alami perubahan sete-lah bertemu Yesus. Awalnya, ketika Yesus menyapa meminta air, perempuan itu ragu-ragu karena orang Yahudi tidak boleh bergaul dengan orang Samaria (Yoh 4:7-9). Tindakan Yesus meminta air menjadi jalan pembuka bagi perempuan itu untuk berubah. Ia mulai membangun keyakinan pada Yesus dengan memberikan air kepadanya. Interaksi antara perempuan dengan Yesus ini menjadi kesempatan bagi Yesus untuk mengajar. Yesus pun mulai mengajar tentang air hidup dan iman yang membuat orang tidak haus lagi (Yoh 4:13-24). Pengajaran itu diterima oleh perempuan Samaria itu karena ia mulai membuka hatinya dan meninggalkan keraguannya sehingga ia pun mulai percaya pada yang dikatakan oleh Yesus (Yoh 4:25). Yesus pun meneguhkan apa yang diyakini oleh perempuan Samaria itu dengan mengatakan bahwa diriNyalah yang disebut Mesias atau Kristus yang kedatangannya telah diramalkan (Yoh 4:26). Setelah beriman, perempuan Samaria itu pun mewartakan apa yang diimaninya kepada orang-orang lain dan orang-orang lain pun datang kepada Yesus (Yoh 4:28-30).
Iman merupakan tanggapan kita terhadap pernyataan diri Allah yang menyapa dan menyelamatkan. Kehadiran Allah ini disebut wahyu. Dalam sejarah manusia, wahyu Allah muncul dalam berbagai cara dan sarana. Ada yang melalui mimpi, tanda-tanda alam, kejadian-kejadian yang luar biasa dan sebagainya. Dalam tradisi Kristiani, sebagai puncaknya, Allah mewahyukan diri melalui Yesus Kristus yang hadir di dunia dan menyelamatkan manusia. Selama hidupNya, Yesus mewartakan Kerajaan Allah yang menyatakan bagaimana Allah sangat mengasihi manusia dan sangat ingin memberikan keselamatan kepada manusia. Oleh karena itu, Yesus membuat banyak hal yang menjadi bentuk kasih Allah melalui berbagai mujizat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang tuli mendengar, orang lapar dikenyangkan, orang mati dibangkitan, dan sebagainya (Luk 7:22-23). Terhadap apa yang dilakukan Yesus, ada berbagai tanggapan. Ada orang yang menerima dan kemudian percaya. Ada yang menerima tetapi tidak begitu percaya dan meninggalkan Yesus. Ada juga yang menolak, bahkan sampai membenci Yesus. Ini adalah tanggapan yang manusiawi. Salah satu tanggapan yang baik diberikan oleh perempuan Samaria yang kisahnya kita saksikan hari ini. Kita juga mengalami seperti perempuan Samaria itu. Iman yang kita miliki juga iman yang berproses. Proses yang benar akan membuat iman kita semakin matang dan dewasa. Tanda dari iman yang matang dan dewasa adalah iman yang cerdas, tangguh, dan misioner. Cerdas berarti tahu tentang imannya dan bisa mempraktekkan. Tangguh berarti berani bertahan karena iman. Misioner berarti dapat menerapkan imannya dalam tindakan sehari-hari. Langkah yang harus kita lakukan dalam beriman ada tiga: MENDALAMI IMAN, MENGAKARKAN IMAN, dan   MEWARTAKAN IMAN. Seperti perempuan Samaria, kita pun diajak untuk mendalami, mengakarkan, dan mewartakan iman kita, baik melalui kata-kata maupun melalui tindakan dalam hidup sehari-hari. Santo Filipus Neri pernah mengatakan, “Beruntunglah kalian orang-orang muda karena kalian punya banyak waktu untuk berbuat baik.” Semoga kita semakin tergerak untuk berbuat baik dalam kehidupan kita.

Pertemuan 2
Dalam pertemuan yang lalu, kita sudah melihat iman sebagai karunia Allah dan manusia menanggapi karunia Allah itu dengan proses beriman. Masing-masing orang memiliki kisah imannya sendiri. Kisah iman itulah yang terus dibangun melalui kehidupan sehari-hari sampai nanti Tuhan memanggil kita untuk kembali kepadaNya. Dalam pertemuan yang lalu, kita sudah melihat contoh yang diberikan oleh perempuan Samaria yang juga memiliki kisah imannya sendiri. Perempuan itu awalnya ragu-ragu terhadap Yesus, namun ia membuka hati dan mulai percaya. Bahkan, ia tidak berhenti sampai percaya tetapi juga mewar-takan imannya kepada orang lain. Hari ini, kita diajak untuk mewujudkan iman kita dalam tindakan sehari-hari. Iman harus diwujudkan melalui perbuatan sebagaimana ditegaskan oleh penulis Surat Yakobus, “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yak 2:17). Iman harus diwujudkan dalam hidup sehari-hari supaya iman itu bermakna. Iman tidak bisa hanya disimpan dalam diri tetapi harus diungkapkan dan diwujudkan. Kita akan melihat beberapa kisah yang menggambarkan bagaimana keyakinan atau gagasan yang baik harus diungkapkan agar bermakna bagi orang-orang di sekitarnya (Lead India).



Membaca Yak 2:14-26. Penulis Surat Yakobus menyatakan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Seseorang yang tahu saudaranya kelaparan tetapi tidak memberi makan tidak berbuat apa-apa untuk kebaikan (Yak 2:15-16). Iman seseorang terlihat dari perbuatannya. Oleh karena itu, tindakan sangatlah penting dalam usaha mewujudkan iman kita. Tanpa tindakan, iman tidak akan ada guna dan manfaatnya. Iman selalu bekerjasama dengan perbuatan. Perbuatan membuat iman menjadi sempurna (Yak 2:22). Dalam hidup sehari-hari, kita mungkin sering mengatakan bahwa kita percaya pada Tuhan. Namun, kadangkala tindakan kita tidak menunjukkan kepercayaan itu. Apakah orang bisa dikatakan beriman kalau dia tidak pernah berdoa? Apakah orang bisa dikatakan jujur kalau tidak pernah menjalankan kejujuran? Apakah orang bisa dikatakan setia jika dia tidak pernah menunjukkan kesetiaan itu? Apakah orang bisa dikatakan tertib kalau terus melanggar? Keyakinan, sifat, karakter, pembawaan seseorang selalu tampak dari apa yang dilakukannya.  
Dalam masa APP ini, kita diajak untuk berbuat sesuatu berdasarkan iman kita. Melihat situasi yang ada di sekitar kita, kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, “apa yang akan aku lakukan untuk meringankan beban orang-orang di sekitarku?” Berbuat sesuatu dapat dimulai dari lingkungan yang terdekat. Mari kita lakukan sesuatu yang baik untuk diri kita sendiri, untuk orangtua kita, untuk keluarga kita, untuk teman kita, untuk lingkungan hidup kita, untuk kelas kita, untuk sekolah kita, dan untuk Gereja kita. Lambat laun, kita akan bisa melakukan hal yang baik untuk lingkungan yang semakin luas. Dengan perbuatan baik yang kita usahakan, kita diajak untuk menjadi manusia baru. Kita diajak untuk menghayati hidup baru dengan menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Manusia baru adalah manusia yang berani mengubah dirinya menjadi lebih baik karena sudah mengenal Yesus (Ef 4:20-21). Menjadi manusia baru berarti menjadi pribadi yang lebih baik daripada yang sekarang. Mari kita menjadi pribadi yang lebih baik karena kita mengenal Yesus yang memberi teladan kebaikan. Yang dapat kita pedomani adalah JADIKAN DIRI KITA BERKAT BAGI ORANG DI SEKITAR KITA dan LAKUKAN MINIMAL SATU PERBUATAN BAIK SETIAP HARI (Giving is The Best Communication).

Selasa, 24 Februari 2015

Awali Semester dengan Kepengurusan dan Semangat Baru

Segera setelah perayaan Natal Bersama, kegiatan di Ruang Podjok mulai berjalan. Kegiatan Ruang Podjok mulai terlaksana di akhir Januari (30/1). Di minggu terakhir bulan Januari itu, diadakan perjumpaan singkat antar anggota Ruang Podjok. Perjumpaan ini sebenarnya ditujukan untuk acara Serah Terima Kunci seperti yang telah dilakukan tahun lalu. Namun, karena pengurus Rokat yang lama – Sinta Raras Swargani – berhalangan hadir, acara diubah menjadi pertemuan awal semester.

Dalam perjumpaan itu, disampaikan beberapa informasi seputar kegiatan Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta. Pertama, kegiatan Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 mulai dilaksanakan secara efektif sejak minggu pertama bulan Februari 2015 dengan Perayaan Ekaristi. Kedua, seluruh anggota Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta – khususnya yang masih duduk di kelas X dan XI – dilibatkan dalam kepengurusan yang berlaku selama 1 tahun. Ketiga, untuk menjaga kebersihan Ruang Podjok, diadakanlah pembagian kerja piket per minggu. Pembagiannya adalah sebagai berikut: 1) Minggu I untuk kelas X dan XI AK, 2) Minggu II untuk kelas X dan XI AP, 3) Minggu III untuk kelas X dan XI PM, 4) Minggu IV untuk kelas X dan XI MM, serta 5) Minggu V untuk Sie Kebersihan. Keempat, diucapkan terima kasih kepada kepengurusan yang lalu, terutama kepada Sinta Raras Swargani, yang telah menjalankan tugas dengan baik. Untuk selanjutnya, Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta mulai semester ini akan dilayani oleh Cicilya Onny Yosyana Ochtifani. Selamat bekerja untuk kepengurusan baru. Tuhan memberkati.
Seminggu setelah perjumpaan awal, Perayaan Ekaristi dipersembahkan oleh Romo Marcelinus Tanto dari Paroki San Inigo Dirjodipuran. Ide untuk merayakan Ekaristi di Ruang Podjok ini telah dimulai sejak tahun lalu sebelum Ujian Sekolah bagi Kelas XII. Karena ini dipandang sebagai tradisi yang baik, kebiasaan ini dilanjutkan. Seperti semester gasal yang telah dibuka dengan Ekaristi, semester genap ini pun juga diawali dengan Ekaristi. Sekitar seminggu sebelum Ekaristi, Penjaga Podjok menghubungi Romo Tanto untuk memohon kesediaan mempersembahkan Ekaristi. Syukur karena beliau kebetulan memiliki waktu longgar sehingga berkenan untuk membantu memberikan pelayanan ini. Hari Jumat (6/2) seusai jam pelajaran sekolah, ruang kelas di dekat Ruang Podjok disulap menjadi tempat untuk merayakan Ekaristi. Seperti situasi jemaat perdana yang menurut ceritanya sering berkumpul di rumah-rumah dengan situasi seadanya untuk memecahkan roti dan memuji Allah, begitu pula situasi yang dialami oleh anggota Ruang Podjok. Dengan segala peralatan yang dimiliki, sebuah Perayaan Ekaristi disiapkan sebaik-baiknya.

Perayaan Ekaristi sederhana tanpa nyanyian yang dirayakan pada hari Peringatan Santo Paulus Miki ini terasa sangat menggugah semangat. Dalam homilinya, Romo Tanto mengajak semua warga Ruang Podjok untuk mengembangkan semangat militansi dalam beriman seperti Santo Paulus Miki yang menjadi martir  dan memberi contoh orang yang berani membela iman. Mati membela iman tampaknya menjadi tindakan bodoh bagi sebagian orang, tetapi tidak bagi orang Katolik. Membela iman merupakan salah satu tugas bagi orang Katolik. Membela iman dapat dilakukan melalui berbagai macam tindakan. Pergi ke gereja setiap hari Minggu menjadi perwujudan membela iman karena dengan tindakan itu seseorang menunjukkan kesetiaan terhadap iman yang diyakininya. Berpegang teguh pada prinsip merupakan perwujudan membela iman karena dengan tindakan itu seseorang berani memperjuangkan keyakinan yang selama ini dipegangnya. Masih banyak hal lain yang dapat dilakukan untuk membela iman. Membela iman merupakan bagian dalam semangat militansi iman. Militansi iman sangat dibutuhkan, terutama di sekolah negeri karena di sekolah negeri, anak-anak Katolik secara khusus dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia. Semoga demikianlah yang terjadi...






Semester ini telah diawali dengan berbagai hal yang baik. Kiranya hal-hal baik yang telah terjadi ini semakin mengundang hal-hal baik yang lain demi kemajuan kegiatan di Ruang Podjok.

Rabu, 28 Januari 2015

Natal Membuat Hidup Bersukacita dan Tidak Seperti Biasanya

“Natal adalah sukacita karena yang diberitakan adalah kabar sukacita dan membuat kita berubah dalam menjalani kehidupan,” demikian Bapak Pendeta Paulus Bantara Nusantara dalam acara Perayaan Natal Keluarga Besar Kristiani SMK Negeri 3 Surakarta (17/1). Acara Natal kali ini telah dipersiapkan jauh-jauh hari oleh Sub Seksi Kerohanian Kristen dan Katolik SMK Negeri 3 Surakarta. Di bawah koordinasi Tiwi, panitia Natal yang terdiri dari siswa-siswi Kristiani SMK Negeri 3 Surakarta berhasil membawa perayaan Natal kali ini berjalan dengan baik.


Tidak seperti biasanya, acara perayan Natal Keluarga Besar Kristiani SMK Negeri 3 Surakata kali ini diadakan di Gereja Baptis Indonesia Gading. Terima kasih kepada pengurus GBI Gading yang telah bekerjasama dengan kami dalam menyelenggarakan perayaan Natal ini. Perayaan Natal kali ini tidak mengalami pemunduran seperti tahun kemarin, tetapi bersamaan dengan perayaan Natal yang diselenggarakan oleh Korps Pegawai Republik Indonesia Kota Surakarta. Bukan salah siapa-siapa karena memang rencana sudah disusun jauh-jauh hari dan tidak ada informasi. Akhirnya, ditempuh jalan tengah. Bapak Ibu Guru dipersilakan dengan bebas merdeka memilih ingin menghadiri perayaan yang mana. Namun, syukur ada banyak Bapak Ibu Guru Kristiani yang meluangkan waktu – meskipun harus kesana kemari – untuk menghadiri perayaan Natal SMK Negeri 3 Surakarta. Terima kasih atas dukungan Bapak Ibu Guru Kristiani SMK Negeri 3 Surakarta dalam perayaan tersebut.
Acara Natal kali ini dimulai sekitar pukul 10.00. Seperti biasa, acara dimulai dengan puji-pujian untuk membuka perayaan. Kali ini, beberapa siswa-siswi kelas X SMK Negeri 3 berhasil membentuk tim musik di bawah asuhan Mas Henry, putra Bapak Heru Siswanto yang membimbing mereka untuk mempersiapkan iringan musik untuk perayaan Natal ini. 
Setelah beberapa pujian, dinyalakanlah lilin oleh Bapak Pendeta Paulus Bantara Nusantara, Bapak Sutopo Priyo Hutomo, Bapak Heru Siswanto, dan Ananda Tiwi. Tidak seperti biasanya pula, penyalaan lilin kali ini tidak diiringi dengan lagu “Silent Night” tetapi “O Holy Night.” Sesaat, suasanya Gereja terasa hening. Semua yang hadir kembali mengenangkan kehadiran Yesus Kristus dalam rupa bayi di malam yang kudus itu. 



Setelah penyalaan lilin, Bapak Pendeta Paulus Bantara Nusantara menyampaikan firman Tuhan. Ia menyitir tema Natal PGI dan KWI Tahun 2014: Berjumpa Allah dalam Keluarga. Kalau Allah hadir dalam keluarga, ada kuasa Allah yang ada dalam keluarga itu sehingga keluarga dapat menjadi berkat bagi sesama. Tema ini sangat aktual karena ada banyak keluarga Kristiani saat ini yang tidak menyebarkan kasih Kristus. Ada beberapa tanda kehadiran Allah dalam keluarga: 1) Kalau Allah hadir dalam keluarga, akan ada keharmonisan dan hubungan yang baik antar keluarga; 2) Kalau Allah hadir dalam keluarga, akan ada rasa takut akan Tuhan sehingga orangtua pun dapat melaksanakan kewajibannya untuk mengenalkan Tuhan kepada anak-anak; 3) Kalau Allah hadir dalam keluarga, seluruh keluarga akan hidup dalam kebenaran. Natal berjalan setiap tahun secara rutin, tetapi yang paling penting dari Natal adalah perubahan yang terjadi dalam diri seseorang. Keluarga Kristiani seharusnya menjadi berkat bagi sesama. Perubahan untuk menjadi berkat bagi sesama inilah yang perlu dibuat setelah perayaan Natal.    
Acara Natal kali ini berjalan dengan sangat lancar. Rangkaian acara dari awal sampai akhir dapat dijalani dengan baik. Sejak awal, panitia sudah khawatir kalau-kalau acara berjalan tidak lancar karena bersamaan dengan perayaan Natal di Balaikota. Namun, semua terlampaui dengan baik. Ibu Kepala Sekolah, Ibu Dra. Sri Haryanti, MM., yang kehadirannya dinantikan untuk memberikan sambutan, akhirnya datang tepat waktu sehingga panitia tidak harus mengubah susunan acara yang telah dirancang. Dalam sambutan kali ini, Ibu Kepala Sekolah mengangkan satu tema: bagaimana menghadirkan Allah dalam keluarga. Cara yang dapat ditempuh untuk menghadirkan Allah dalam keluarga adalah berubah dari yang tidak baik menjadi baik, dari yang baik menjadi lebih baik, dari yang lebih baik menjadi yang terbaik. Yang dapat kita lakukan dalam hidup harian kita paling sederhana adalah jangan menyakiti orang lain.


Tidak seperti biasanya pula, dalam acara Natal kali ini, semua yang hadir berdoa untuk ibunda Bapak Wiharta Raharjo yang hari itu akan dimakamkan. Semua berdoa untuk arwah yang sudah dipanggil Tuhan agar mendapatkan jalan yang lapang dan berbahagia abadi serta untuk keluarga agar diberi ketabahan dalam menjalani kehidupan selanjutnya.
Akhirnya, tidak ada kata lain yang bisa diucapkan selain kata TERIMA KASIH kepada segenap panitia, Bapak Ibu Guru dan Karyawan, seluruh siswa Kristiani dan semua pihak yang telah membantu dalam penyelenggaraan Natal ini. Seluruh perhatian dan bantuan merupakan sumbangan yang besar bagi kami. Semoga perayaan Natal yang tidak seperti biasanya tahun ini bisa membawa kita kepada hidup yang penuh sukacita dan hidup yang tidak seperti biasanya. Tuhan memberkati kita semua. Berkah Dalem...



Rabu, 17 Desember 2014

Pesan Natal Bersama KWI-PGI Tahun 2014


Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga
“Mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu” (Luk 2:16)
DALAM  perayaan Natal tahun ini, kami mengajak seluruh umat Kristiani untuk menyadari kehadiran Allah di dalam keluarga dan bagaimana keluarga berperan penting dalam sejarah keselamatan. Putera Allah menjadi manusia. Dialah Sang Imanuel; Tuhan menyertai kita. Ia hadir di dunia dan terlahir sebagai Yesus dalam keluarga yang dibangun oleh pasangan saleh Maria dan Yusuf.
Melalui keluarga kudus tersebut, Allah mengutus Putera Tunggal-Nya ke dalam dunia yang begitu dikasihi-Nya. Ia datang semata-mata untuk menyelamatkan manusia dari kekuasaan dosa. Setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa, tetapi akan memperoleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16-17).
Natal: Kelahiran Putera Allah dalam Keluarga
Kelahiran Yesus menguduskan keluarga Maria dan Yusuf dan menjadikannya sumber sukacita yang mengantar orang berjumpa dengan Allah. Gembala datang bergegas menjumpai keluarga Maria, Yusuf, dan Yesus yang terbaring dalam palungan.
Perjumpaan itu menyebabkan mereka pulang sebagai kawanan yang memuliakan Allah (Luk 2: 20). Orang-orang Majus dari Timur sampai pada Yesus dengan bimbingan bintang, tetapi pulang dengan jalan yang ditunjukkan Allah dalam mimpi (Mat 2: 12). Perjumpaan dengan Yesus menyebabkan orientasi hidup para gembala dan Majus berubah. Mereka kini memuji Allah dan mengikuti jalan-Nya.
Natal merupakan sukacita bagi keluarga karena Sumber Sukacita memilih hadir di dunia melalui keluarga. Sang Putera Allah menerima dan menjalani kehidupan seorang manusia dalam suatu keluarga. Melalui keluarga itu pula, Ia tumbuh dan berkembang sebagai manusia yang taat pada Allah sampai mati di kayu salib. Di situlah Allah yang selalu beserta kita turut merasakan kelemahan-kelemahan kita dan kepahitan akibat dosa walaupun ia tidak berdosa (bdk. Ibr. 4:15).
Keluarga sebagai Tanda Kehadiran Allah
Allah telah mempersatukan suami-istri dalam ikatan perkawinan untuk membangun keluarga kudus. Mereka dipanggil untuk menjadi tanda kehadiran Allah bagi satu sama lain dalam ikatan setia dan bagi anak-anaknya dalam hubungan kasih. Keluarga merekapun menjadi tanda kehadiran Allah bagi sesama.
Berkat perkawinan Kristen, Yesus, yang dahulu hadir dalam keluarga Maria dan Yusuf, kini hadir juga dalam keluarga kita masing-masing. Allah yang bertahta di surga tetap hadir dalam keluarga dan menyertai para orangtua dan anak-anak sepanjang hidup.
Dalam keluarga, sebaiknya Firman Tuhan dibacakan dan doa diajarkan. Sebagai tanggapan atas Firman-Nya, seluruh anggota keluarga bersama-sama menyampaikan doa kepada Allah, baik yang berupa pujian, ucapan syukur, tobat, maupun permohonan. Dengan demikian, keluarga bukan hanya menjadi rumah pendidikan, tetapi juga sekolah doa dan iman bagi anak-anak.
Dalam Perjanjian Lama kita melihat bagaimana Allah yang tinggal di surga hadir dalam dunia manusia. Kita juga mengetahui bahwa lokasi yang dipergunakan untuk beribadah disebut tempat kudus karena Allah pernah hadir dan menyatakan diri di tempat itu untuk menjumpai manusia. Karena Sang Imanuel lahir dalam suatu keluarga, keluargapun menjadi tempat suci. Di situlah Allah hadir. Keluarga menjadi ”bait suci”, yaitu tempat pertemuan manusia dengan Allah.
Tantangan Keluarga Masa Kini
Perubahan cepat dan perkembangan dahsyat dalam berbagai bidang bukan hanya memberi manfaat, tetapi juga membawa akibat buruk pada kehidupan keluarga. Kita jumpai banyak masalah keluarga yang masih perlu diselesaikan, seperti kemiskinan, pendidikan anak, kesehatan, rumah yang layak, kekerasan dalam rumah tangga, ketagihan pada minuman dan obat-obatan terlarang, serta penggunaan alat komunikasi yang tidak bijaksana.
Apalagi ada produk hukum dan praktek bisnis yang tidak mendukung kehidupan seperti pengguguran, pelacuran, dan perdagangan manusia. Permasalahan-permasalahan tersebut mudah menyebabkan konflik dalam keluarga. Sementara itu, banyak orang cenderung mencari selamat sendiri; makin mudah menjadi egois dan individualis.
Dalam keadaan tersebut, keluhuran dan kekudusan keluarga mendapat tantangan serius. Nilai-nilai luhur yang mengekspresikan hubungan cinta kasih, kesetiaan, dan tanggungjawab bisa luntur. Saat-saat kudus untuk beribadat dan merenungkan Sabda Allah mungkin pudar. Kehadiran Allah bisa jadi sulit dirasakan. Waktu-waktu bersama untuk makan, berbicara, dan berekreasipun menjadi langka. Pada saat itu, sukacita keluarga yang menjadi dasar bagi perkembangan pribadi, kehidupan menggereja, dan bermasyarakat tak mudah dialami lagi.
Natal: Undangan Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga
Natal adalah saat yang mengingatkan kita akan kehadiran Allah melalui Yesus dalam keluarga. Natal adalah kesempatan untuk memahami betapa luhurnya keluarga dan bernilai- nya hidup sebagai keluarga karena di situlah Tuhan yang dicari dan dipuji hadir. Keluarga sepatutnya menjadi bait suci di mana kesalahan diampuni dan luka-luka disembuhkan.
Natal menyadarkan kita akan kekudusan keluarga. Keluarga sepantasnya menjadi tempat di mana orang saling menguduskan dengan cara mendekatkan diri pada Tuhan dan saling mengasihi dengan cara peduli satu sama lain. Para anggotanya hendaknya saling mengajar dengan cara berbagi pengetahuan dan pengalaman yang menyelamatkan. Mereka sepatutnya saling menggembalakan dengan memberi teladan yang baik, benar, dan santun.
Natal mendorong kita untuk meneruskan sukacita keluarga sebagai rumah bagi setiap orang yang sehati-sejiwa berjalan menuju Allah, saling berbagi satu sama lain hingga merekapun mengalami kesejahteraan lahir dan batin. Natal mengundang keluarga kita untuk menjadi oase yang menyejukkan, di mana Sang Juru Selamat lahir.
Di situlah sepantasnya para anggota keluarga bertemu dengan Tuhan yang bersabda: ”Datanglah kepadaKu, kamu yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat 11: 29) Dalam keluarga di mana Yesus hadir, yang letih disegarkan, yang lemah dikuatkan, yang sedih mendapat penghiburan, dan yang putus asa diberi harapan.
Kami bersyukur atas perjuangan banyak orang untuk membangun keluarga Kristiani sejati, di mana Allah dijumpai. Kami berdoa bagi keluarga yang mengalami kesulitan supaya diberi kekuatan untuk membuka diri agar Yesus pun lahir dan hadir dalam keluarga mereka.
Marilah kita menghadirkan Allah dan menjadikan keluarga kita sebagai tempat layak untuk kelahiran Sang JuruSelamat. Di situlah keluarga kita menjadi rahmat dan berkat bagi setiap orang; kabar sukacita bagi dunia.
Selamat Natal 2014 dan Tahun Baru 2015
Jakarta, November 2014
Atas nama,
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia
Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe
Ketua Umum
Pdt. Gomar Gultom
Sekretaris Umum
Konferensi Waligereja Indonesia
Mgr. Ignatius Suharyo
Ketua
Mgr. Johannes Pujasumarta
Sekretaris Jenderal

Selasa, 18 November 2014

Doa untuk Anggota Keluarga yang Sudah Meninggal

Ini adalah judul sebuah doa dalam buku Puji Syukur, tepatnya Puji Syukur nomor 169. Setiap kali ada doa 7 hari, 40 hari, 100 hari dan seterusnya, doa ini kerap ditengok dan dibacakan baik secara pribadi maupun bersama. Bulan November ini, judul doa tersebut menginspirasi anggota keluarga besar Ruang Podjok untuk mengadakan acara pengenangan bagi mereka yang telah berpulang. Bulan November memang menjadi bulan istimewa bagi para arwah orang beriman. Di bulan ini, Gereja secara khusus memberikan kesempatan untuk mengingat mereka yang telah mendahului. Seperti biasa, di Minggu I, jadwal di Ruang Podjok adalah jadwal doa bersama. Doa bersama kali ini yang memang dikhususkan bagi orang yang telah meninggal dunia dilaksanakan Jumat I (07/11).
Seminggu sebelum doa, Penjaga Podjok mengedarkan sebuah kertas folio bergaris dengan judul “Mereka yang Akan Didoakan.” Kertas itu beredar dari kesempatan ke kesempatan, dipegang dan ditulisi oleh para anggota Ruang Podjok yang ingin mendoakan sanak saudaranya yang telah mendahului menghadap Allah. Ada berbagai tulisan di sana, mulai dari nama lengkap seperti Margareta Lasmani dan Catharina Widyastuti sampai panggilan sayang nan singkat seperti Mbah Lasimin dan Nenek Yuli. Sejenak terbayang bagaimana mereka menuliskan nama-nama itu dengan seluruh kenangan yang menyertainya. Doa bersama tersebut berlangsung selama kurang lebih setengah jam dengan format Ibadat Sabda. 





Sebagai renungan, hal inilah yang disampaikan:

“Hidup di dunia ini hanya sementara dan setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Penciptanya. Bacaan yang kita dengar hari ini mengingatkan kita akan kenyataan bahwa pada akhirnya, setiap manusia pasti akan kembali kepada Allah. Kehidupan yang ada di dunia ini akan diubah menjadi kehidupan bersama dengan Allah. Tidak ada yang tahu bagaimana bentuk kehidupan bersama Allah itu karena sampai sekarang belum ada orang mati yang pernah hidup kembali dan berkotbah tentang kehidupan bersama Allah. Oleh karena itu, semua gambaran tentang akhir hidup manusia merupakan gambaran pengharapan. Hari ini Paulus menyatakan bahwa kita, orang beriman yang percaya kepada Yesus, adalah warga Kerajaan Allah sehingga kita menantikan Tuhan Yesus yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini menjadi tubuh yang mulia. Bagaimana tubuh yang mulia itu juga tidak ada yang tahu. Semua itu merupakan gambaran pengharapan di masa depan. Nah, persoalannya sekarang adalah bagaimana kita bisa mengusahakan diri selama hidup di dunia agar kita bisa mendapat tubuh yang mulia nantinya? Kita bisa belajar dari bacaan Injil. Bacaan ini mengisahkan bendahara yang pokil atau cerdik.
Karena dipecat dari jabatannya, bendahara tersebut mencari cara untuk mempertahankan hidupnya. Caranya adalah dengan memperbarui surat utang seseorang yang pernah berhutang kepada majikannya. Hutang yang tadinya ditulis dalam jumlah banyak dikurangi sehingga orang yang berhutang mendapat kesan bahwa bendahara tersebut adalah bendahara yang baik. Dengan demikian, orang yang berhutang tersebut akan berhutang budi kepada bendahara tersebut. Akibatnya, karena berhutang budi pada bendahara tersebut, orang yang berhutang harus membalas budi kepada bendahara tersebut. Benar-benar cara yang cerdik. Belajar dari bendahara tersebut, sebagai warga Kerajaan Allah, kita juga harus secara cerdik mencari cara untuk mengusahakan diri agar hidup kita berkenan di hadapan Allah. Kita diajak untuk membangun hidup yang berkenan di hadapan Allah agar nantinya tubuh kita yang hina ini diubah menjadi tubuh yang mulia.
Kita sebagai anak-anak terang perlu belajar dari anak-anak dunia soal kecerdikan ini. Bagaimana hidup yang berkenan di hadapan Allah dapat dilakukan? Mudah. Caranya sangat sederhana: mencintai Allah dengan segenap hati, pikiran, akal budi serta mencintai manusia seperti diri sendiri. Pedomannya hanya dua ini. Semoga kita semakin mampu mencintai Allah dengan segenap hati, pikiran, dan akal budi serta mencintai manusia seperti diri sendiri. Berkah Dalem.

Terima kepada para anggota keluarga Ruang Podjok yang telah terlibat dalam kegiatan tersebut. Para arwah anggota keluarga yang telah meninggal tentunya akan sangat berbahagia karena sudah dikirim doa oleh mereka yang masih hidup dan sangat mencintai mereka. Tuhan memberkati.

Senin, 10 November 2014

Sembah Bakti untuk Hormati Maria




Bulan Oktober sudah berlalu beberapa waktu yang lalu. Ruang Podjok telah melewatkan bulan Oktober ini dengan melakukan sembah bakti kepada Bunda Maria. Sembah bakti bulan Oktober dimulai dengan Doa Rosario pada Jumat pertama, 3 Oktober, dilanjutkan dengan Sekolah Iman pada 17 Oktober, dan diakhiri dengan Doa Rosario pada Jumat terakhir, 31 Oktober. Kebetulan, hari terakhir di bulan Oktober ini adalah hari Jumat tanggal 31 Oktober sehingga Ruang Podjok dapat menutup devosi kepada Maria di hari terakhir bulan Oktober. Terima kasih atas keterlibatan keluarga besar Ruang Podjok yang telah mengikuti Doa Rosario maupun Sekolah Iman. Tuhan memberkati...