Sabtu, 21 September 2019

Belajar Dari Nuh: Menyikapi Krisis Lingkungan Hidup

Seiring sejalan dengan gerak Gereja Keuskupan Agung Semarang, pada bulan September ini, Ruang Podjok pun mengadakan kegiatan pertemuan Bulan Kitab Suci Nasional atau yang populer disebut BKSN. Tema BKSN tahun ini mengikuti tema besar empat tahunan, yaitu Pewartaan Kabar Gembira di Tengah Dunia Modern. Tema besar yang diambil adalah “Mewartakan Injil di Tengah Arus Zaman” Inilah penjabaran tema tersebut: Kabar Gembira di tengah Gaya Hidup Modern (2017), Kabar Gembira di tengah Kemajemukan (2018), Kabar Gembira di tengah Krisis Lingkungan Hidup (2019), Kabar Gembira di tengah Krisis Iman dan Identitas Diri (2020). Tema BKSN tahun 2019 adalah Mewartakan Kabar Baik di Tengah  Krisis Lingkungan Hidup. Melalui tema Bulan Kitab Suci Nasional tahun ini, kita diajak untuk belajar untuk melakukan tindakan yang baik terhadap alam sekitar. 
Kisah yang dipilih untuk dijadikan bahan refleksi adalah Kisah Nuh. Nuh merupakan gambaran manusia yang dipilih Allah untuk memulihkan keutuhan alam ciptaan. Kisah Nuh dimuat dalam Kitab Kejadian Bab 6 sampai 9. Kisah Nuh merupakan salah satu kisah Kitab Suci yang sangat populer. Saking populernya kisah Nuh ini membuat Wikipedia memberikan tautan tersendiri berkenaan dengan kisah Nuh dalam budaya populer. Berbagai adaptasi kisah Nuh menyebar secara luas dan dikenal dalam kehidupan manusia. Ada banyak buku, karya sinematografi, drama, permainan, maupun komposisi lagu yang bersinggungan dengan kisah Nuh ini. Beberapa buku yang bisa disebut adalah All Abroad for Ararat (1940), Doctor Dolittle and the Secret Lake (1948), The Flowering Peach (1954), The Log of the Ark (1923), dan Many Waters (1986). Beberapa film yang dapat disebut adalah Father Noah's Ark (1933), Noah (2014), 40 Days and Nights (2012), dan The Day the Earth Stood Still (2008) Syukur karena Gereja Katolik pada tahun ini juga mengambil Nuh sebagai sosok yang menginspirasi terutama berkenaan dengan sikap Gereja terhadap krisis lingkungan hidup.
Berkenaan dengan tema yang disajikan, pertemuan BKSN dilakukan dua kali sesuai jadwal kegiatan rohani yang sudah diagendakan, yaitu Jumat Pertama (6/9/2019) dan Jumat Ketiga (20/9/2019). Kisah Nuh yang meliputi 4 bab dalam Kitab Kejadian pun dibagi menjadi dua: pada Jumat Pertama, dibahas Kejadian Bab 6 dan 7 sedangkan pada Jumat Ketiga dibahas Kejadian Bab 8 dan  9. Karena kegiatan rohani yang dilakukan dibatasi oleh waktu, Penjaga Podjok pun mencoba mencari metode yang cocok untuk mendalami Kitab Suci dalam waktu singkat. Karena pusing mencari metode kesana kemari tidak ada yang sesuai, Penjaga Podjok pun mencoba metode penceritaan kembali. Dalam metode ini, peserta diminta untuk membaca bagian-bagian Alkitab dan kemudian menceritakan kembali yang dibaca dengan bahasa sendiri (Uff... metode darimana ini? Kalau tahu dosen Kitab Suci dulu, pasti dimarahi habis-habisan karena yang diterapkan aji pengawuran). Tapi nekad saja diterapkan karena Penjaga Podjok sudah bingung. Akhirnya begitulah yang terjadi.
Di pertemuan pertama, untuk memberi gambaran besar kisah Nuh, Penjaga Podjok mengajak peserta pertemuan untuk menyaksikan cuplikan video klip kisah Nuh dari film The Bible: In The Beginning. Cuplikan ini diharapkan bisa memberikan gambaran besar tentang kisah Nuh. Setelah menyaksikan video klip, peserta diminta untuk  membaca dan menceritakan kembali. Kisah Nuh yang meliputi Bab 6 dan 7 dibagi dalam empat bagian (menyesuaikan peserta yang datang, termasuk Penjaga Podjok), dibaca dan diceritakan kembali. Setelah membaca bagian yang menjadi jatahnya, masing-masing peserta menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri. Ternyata menceritakan kembali itu tidak mudah ya... Setelah masing-masing saling menceritakan bagiannya, Penjaga Podjok membantu pengolahan refleksinya. Ini yang dipaparkan: "Kisah Nuh di bab 6 dan 7 ingin menunjukkan bagaimana Allah ingin mengakhiri sekaligus memulai. Ia mengakhiri kejahatan manusia dengan memusnahkan semuanya, tetapi Ia juga memulai babak yang baru dengan memilih seorang manusia, yaitu Nuh, untuk memulihkan keutuhan alam semesta. Meskipun alam musnah, Allah tetap memilih manusia untuk memulihkannya kembali.  Kerusakan alam yang terjadi saat ini adalah ulah manusia. Kita terlibat dalam menyumbang kerusakan alam. Namun, kita juga dipanggil untuk memulihkan kembali alam sekitar kita. Nuh juga merupakan bagian dari masyarakat saat itu dan Allah memilihnya untuk melakukan pekerjaan besar untuk memulihkan alam ciptaan." Refleksi ini mengakhiri pertemuan pertama.
Dua minggu kemudian, di pertemuan kedua, yang hadir lebih banyak. Dalam pertemuan itu, dibahas apa yang menjadi bahan pertemuan yang lalu. Setelah mengulas sebentar refleksi pertemuan yang lalu, seperti yang terjadi di pertemuan pertama, dilaukan pula metode membaca dan menceritakan kembali. Yang dijadikan bahan pertemuan kedua adalah Kejadian Bab 8 dan Bab 9. Kisah di bab 8 dan 9 dibagi menjadi lima bagian dan diceritakan kembali. Setelah masing-masing menceritakan kembali kutipan yang dibaca, Penjaga Podjok mendalami tema pertemuan kedua dengan memaparkan beberapa infografis di bawah ini:








Setelah melihat beberapa infografis ini, Penjaga Podjok lalu mengajak peserta untuk berefleksi dengan pertanyaan: "Lalu apa yang dapat kita lakukan?" Untuk menjawab itu, Penjaga Podjok mengajak peserta melihat dua cuplikan video klip berjudul Berkat Sadiman Air Mengalir dan Menikmati Nyamannya Suroboyo Bus, Bayar Tiket dengan Sampah. Harapannya, dua videoklip ini bisa memberi inspirasi untuk menentukan apa yang mau dilakukan. Kiranya bahan BKSN tahun ini bisa menggugah kesadaran para anggota Ruang Podjok untuk bersikap yang tepat untuk membantu masyarakat dunia mengatasi krisis lingkungan hidup.



Infografis yang dipakai dalam postingan ini antara lain diambil dari beberapa sumber: http://jasapowerpoint.com/wp-content/uploads/2019/03/Infografis-Penghasil-Sampah-Plastik-Terbesar-di-Dunia.png, 
https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/ouQhXLpJBWhWrWuCmgxsk1kxF4g=/640x853/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2480544/original/034339100_1543313523-HL_Sampah_Laut.jpg, 
https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2018/11/22/7a2309a1-f1b4-489c-b194-2a2085b1ab71.gif?a=1, 
https://asset.kompas.com/crops/iRT4vRvfE_BF895fBIr660oLjZU=/96x104:864x616/750x500/data/photo/2019/09/15/5d7e0ebf2e33c.jpg, 
https://www.google.com/url?sa=i&source=imgres&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwj2yvXD4t7kAhUWXSsKHfvyBXUQjRx6BAgBEAQ&url=https%3A%2F%2Fkatadata.co.id%2Finfografik%2F2015%2F12%2F17%2Frp-221-triliun-kerugian-akibat-kebakaran-hutan&psig=AOvVaw1YD31_WflMlQ21ZTmmp9EF&ust=1569047221449310
Terima kasih kepada yang sudah mengunggahnya...

Senin, 19 Agustus 2019

Ambil Bagian Memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74

Setelah memulai kegiatan dengan Doa Jumat Pertama sebagai rasa bakti kepada Sakramen Mahakudus di hari Jumat Pertama (02/08/2019), Ruang Podjok kembali mengadakan kegiatan pada hari Jumat Ketiga (16/08/2019). Kegiatan yang diadakan pada hari Jumat Ketiga itu adalah Renungan Menjelang Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74. Kepada seluruh anggota Ruang Podjok, Penjaga Podjok ingin menghidupkan kembali kesadaran menjadi bagian dari warga negara Indonesia yang pada hari-hari ini sedang grengseng-grengsengnya menyambut ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus. Di usia Republik Indonesia yang ke-74 ini, Pemerintah Indonesia menyampaikan tema HUT RI ke-74 yaitu: “SDM Unggul, Indonesia Maju”. 
Sejalan dengan berbagai kegiatan yang terjadi di tengah masyarakat, kegiatan Kerohanian Katolik kali ini diisi dengan nonton bareng tayangan mengenai Monsinyur Albertus Soegijapranata dari MetroTV berjudul "Mgr. A. Soegijapranata: Jalan Iman Seorang Patriot." Tayangan dokumenter di MetroTV ini ditayangkan pada rubrik Melawan Lupa. Monsinyur Albertus Soegijapranata, SJ (lahir 25 November 1896 – meninggal 22 Juli 1963 pada umur 66 tahun) merupakan Vikaris Apostolik Semarang yang kemudian menjadi Uskup Agung Semarang. Ia merupakan uskup pribumi Indonesia pertama dan dikenal karena pendiriannya yang pro-nasionalis, yang sering disebut "100% Katolik, 100% Indonesia". Sampai dengan sekarang Soegijapranata masih dihormati oleh bangsa Indonesia, baik pemeluk Katolik maupun bukan. Berbagai biografi tentang ia sudah ditulis oleh berbagai penulis, dan pada tahun 2012 sebuah film biopik fiksi garapan Garin Nugroho besutan Studio Audio Visual PUSKAT, yang diberi judul Soegija, diluncurkan.
Melalui tayangan tersebut, Penjaga Podjok ingin mengajak seluruh anggota Ruang Podjok untuk membangkitkan rasa berbangsa dan bernegara. Sejak tahun 2002, Gereja Keuskupan Agung Semarang menetapkan bulan Agustus sebagai Bulan Keterlibatan Sosial untuk menyadarkan bahwa orang Katolik perlu terlibat dalam masyarakat. Seiring sejalan dengan hal tersebut, ada pesan-pesan dari Monsinyur Soegijapranata yang dapat direnungkan antara lain: “100 % Katolik dan 100 % Nasional” dan “Cinta kepada tanah air tidak cukup diwujudkan dengan mengibarkan bendera pada hari besar nasional. Cinta kepada tanah air berarti berbakti untuk kemakmuran, keteraturan, dan kesejahteraan tanah airnya.”
Kegiatan yang dilakukan di Ruang Podjok ini juga diteguhkan oleh sapaan Monsinyur Robertus Rubiyatmoko. Menyambut ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 tahun ini, Monsinyur Robertus Rubiyatmoko, yang sekarang menduduki jabatan pelayanan sebagai Uskup Keuskupan Agung Semarang menuliskan Surat Gembala sebagai berikut:

“Menjadi Manusia dan Bangsa yang Unggul serta Bermartabat”

Saudari-Saudara, umat Katolik di Keuskupan Agung Semarang yang terkasih.
Pemerintah Indonesia melalui Surat Nomor: B-779/M.Sesneg/SET/TU.00.04/07/2019 tertanggal 23 Juli 2019 menyampaikan tema HUT RI ke-74 yaitu: “SDM Unggul, Indonesia Maju”. Sumber daya manusia (SDM) yang unggul merupakan syarat penting bagi terwujudnya Indonesia maju. Hal tersebut selaras dengan pernyataan Presiden RI dalam sambutannya pada Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2018 yang dilaksanakan di Pusdiklat Kemendikbud, Sawangan, Depok, Jawa Barat, Selasa 6 Februari 2018: “Kemajuan sebuah negara sangat bergantung pada kemampuan sumber daya manusia yang dimiliki. Faktor lain yang tak kalah penting adalah stabilitas sosial dan politik, manajemen pemerintahan, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kreativitas dan inovasi dari SDM-nya.”
Indonesia memiliki sumber daya manusia yang sangat banyak. Negara kita berpenduduk terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat (sumber: The Spectator Index, tahun 2018). Jumlah 265 juta jiwa merupakan modal sosial yang sangat besar bagi Indonesia. Namun demikian masih sangat diperlukan perbaikan menyeluruh guna meningkatkan kualitas SDM Indonesia. Sebab berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bank Dunia tahun 2018, kualitas SDM Indonesia masih berada pada peringkat 87 dari 157 negara yang diteliti. Kondisi ini masih sangat memprihatinkan. Hal itu menjadi tantangan bagi kita seluruh warga bangsa untuk berupaya sekuat tenaga meningkatkan kualitas SDM agar menjadi unggul demi kemajuan bangsa.
Pada perayaan peringatan kemerdekaan RI yang ke-74 ini kita diajak untuk bersyukur kepada Tuhan atas anugerah-Nya, baik berupa sumber daya manusia yang besar maupun sumber daya alam yang melimpah. Kita juga bersyukur atas anugerah hidup damai, persaudaraan, dan kerukunan yang tercipta karena sikap saling menghargai dan menerima kebebasan serta perbedaan, khususnya perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA), juga perbedaan aspirasi dan pilihan politiknya. Secara khusus kita bersyukur atas terselenggaranya Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden secara damai dan lancar. Juga atas selesainya sidang Mahkamah Konstitusi yang mengadili perselisihan tentang proses dan hasil pemilu. Kita telah memiliki Presiden dan Wakil Presiden definitif dari Pilpres 2019, juga anggota-anggota legislatif dari Pileg 2019. Kita berdoa semoga Presiden, Wakil Presiden, dan para wakil rakyat terpilih dapat bekerja optimal dalam mewujudkan kesejahteraan bersama.
Bacaan pertama hari ini (Sirakh 10:1-8) mewakili kerinduan kita akan hadirnya Pemerintah yang bijak, yang menjamin ketertiban dalam masyarakat, serta pemerintah yang arif. Pemimpin yang tidak bijaksana membinasakan rakyatnya, tetapi suatu bangsa akan sejahtera berkat kearifan para pemimpinnya. Jangan sampai perjalanan bangsa terganggu akibat kelaliman, kekerasan dan cinta uang para pembesarnya.

Saudari-saudara yang terkasih dalam Kristus,
Kita sebagai bangsa masih harus terus meningkatkan penghargaan terhadap hak asasi manusia (HAM). Hal yang sangat penting adalah penghormatan terhadap hak kebebasan beragama dan beribadah sesuai agama yang dianutnya. Pesan tentang pentingnya peran agama dalam pembangunan perdamaian dunia tertuang dalam deklarasi persaudaraan umat manusia untuk perdamaian dunia dan hidup bersama yang ditandatangani bersama oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Ahmad Al-Tayyib di Abu Dhabi, 4 Februari 2019.
Salah satu poin penting dari deklarasi itu menyatakan: “Kebebasan adalah hak setiap orang: setiap individu berhak menikmati kebebasan berkeyakinan, berpikir, berekspresi dan bertindak. Pluralisme dan keragaman agama, warna kulit, jenis kelamin, ras dan bahasa dihendaki oleh Tuhan dalam kebijaksanaan-Nya, yang melaluinya Dia menciptakan manusia. Kebijaksanaan ilahi ini adalah sumber dari mana berasal hak kebebasan berkeyakinan dan kebebasan untuk menjadi berbeda. Oleh karena itu, fakta bahwa orang dipaksa untuk memeluk agama atau budaya tertentu harus ditolak, seperti juga pengenaan cara hidup budaya yang tidak diterima orang lain.”
Panggilan untuk menghormati kebebasan sesama adalah panggilan untuk melaksanakan kehendak Allah, yaitu hidup sebagai orang-orang merdeka yang tidak menyalahgunakan kemerdekaan yang dianugerahkan Tuhan ini, tetapi hidup sebagai hamba-hamba Allah yang saling menghormati satu sama lain (bacaan II, 1Petrus 2:13-17). Janganlah ada persekongkolan jahat untuk merusak nama baik atau reputasi seseorang dan menghancurkan orang baik dan yang sungguh-sungguh mau bekerja untuk bangsa serta negara seperti dilakukan oleh orang-orang Farisi dan kaum Herodian yang berunding untuk dapat menjerat atau menjebak Yesus (bacaan Injil, Matius 22:15-21).

Saudari-Saudara terkasih dalam Kristus,
Saya ingin menutup Surat Gembala ini dengan sekali lagi mengajak Anda semua untuk berdoa dan bekerja giat bersama para pemimpin negara kita guna mewujudkan cita-cita luhur dan mulia dibentuknya pemerintah negara Indonesia sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 dengan tujuan: “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.” Caranya adalah dengan memajukan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pengembangan semangat kebangsaan sehingga kita memiliki dan menjadi putra-putri bangsa yang unggul dan bermartabat.
Berkat Tuhan melimpah kepada Saudari-Saudara semua, dan lebih khusus bagi bangsa dan negara kita. Dirgahayu Indonesia kita. Pekik dan salam kebangsaan: Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Semarang, 6 Agustus 2019
Berkah Dalem.
Pada Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya
Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang
† Mgr. Robertus Rubiyatmoko

Sehari setelah mengadakan Renungan Menjelang Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74, seluruh anggota Ruang Podjok mengikuti Upacara Bendera. Ini juga menjadi salah satu wujud rasa cinta kepada tanah air. Memang bukan satu-satunya cara tetapi salah satu cara saja.





Mencermati berbagai kebetulan yang terjadi di bulan Agustus ini, tampak benar bahwa tema Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 ini sudah pernah digemakan oleh Monsinyur Soegijapranata sebagai berikut “...orang Katolik memang bukan bagian yang lebih besar (pars major) tetapi orang Katolik harus berusaha menjadi bagian yang lebih baik (pars sanior) dengan melakukan kegiatan agama, kesusilaan, kejujuran, kesetiaan pada perjanjian, keadilan, cinta pada sesama, cinta pada pekerjaan, menghormati pembesar, taat pada peraturan dan undang-undang.” Monsinyur Rubiyatmoko pun mengingatkan, "Sumber daya manusia (SDM) yang unggul merupakan syarat penting bagi terwujudnya Indonesia maju." Semoga Penjaga Podjok dan seluruh anggota maupun mantan anggota Ruang Podjok dimanapun berada boleh menjadi sumber daya manusia yang unggul demi kemajuan bangsa ini. Merdeka!!!

Selasa, 23 Juli 2019

Tahun Ajaran Baru... Semangat Baru...

Tidak terasa sudah tahun ajaran baru lagi... Setahun sudah perjalanan ditempuh... Terima kasih dan syukur atas penyertaan Tuhan yang tiada henti selama tahun yang lalu...
Kemarin pagi, Penjaga Podjok dihubungi oleh pengelola media sosial SMK Negeri 3 Surakarta dan ditanya, "Pak... apakah tidak ada poster promosi ekstrakurikuler?" Penjaga Podjok pun hanya ????? Lalu bertanya balik, "Poster promosi seperti apa?" Lalu dijelaskan bahwa setiap ekstrakurikuler dan kegiatan di SMK Negeri 3 pada tahun ini membuat poster kegiatan. Dan ditunjukkanlah berbagai macam contoh poster yang amat menarik... Penjaga Podjok pun tertarik untuk membuat.. 




































Dan inilah jadinya... Inilah poster yang bisa dibuat untuk promosi kegiatan. Poster ini dibingkai dengan sabda Yesus kepada murid-murid pertamaNya seperti yang ditulis dalam Injil Yohanes. Di sana, dikisahkan seperti ini:

"Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: 'Lihatlah Anak domba Allah!' Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: 'Apakah yang kamu cari?' Kata mereka kepada-Nya: 'Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?' Ia berkata kepada mereka: 'Marilah dan kamu akan melihatnya.' Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: 'Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).' Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: 'Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).' Pada keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya: 'Ikutlah Aku!' Filipus itu berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus. Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: 'Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.' Kata Natanael kepadanya: 'Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?' Kata Filipus kepadanya: 'Mari dan lihatlah!' Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: 'Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!' Kata Natanael kepada-Nya: 'Bagaimana Engkau mengenal aku?' Jawab Yesus kepadanya: 'Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.' Kata Natanael kepada-Nya: 'Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!' Yesus menjawab, kata-Nya: 'Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.' Lalu kata Yesus kepadanya: 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia."

Kisah ini sengaja dijadikan inspirasi agar seluruh siswa-siswi Katolik di SMK Negeri 3 Surakarta mau belajar dari para murid ini untuk semakin mau mengenal Yesus serta mengambil bagian dalam kehidupan Yesus dan GerejaNya... Marilah dan kita akan melihatnya... Semoga

Salam dan Berkah Dalem - Penjaga Podjok

Selasa, 06 November 2018

Mengumpulkan Serpih-Serpih Kisah #2

Melanjutkan kisah-kisah yang belum termuat selama ini, inilah beberapa kisah lainnya. Selamat membaca...

Terlibat dalam Menyusun Soal USBN Pendidikan Agama Katolik SMA-SMK

Tidak lama setelah Perayaan Natal Bersama terlaksana, datanglah undangan dari Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta yang ditujukan kepada Penjaga Podjok. Dalam undangan itu tertulis bahwa Penjaga Podjok diundang sebagai salah satu orang penyusun soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional untuk Mata Pelajaran Agama Katolik tingkat SMA dan SMK. Undangan yang berasal dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Jawa Tengah itu mengharuskan Penjaga Podjok untuk meninggalkan Ruang Podjok beberapa hari untuk menunaikan tugas mulia mempersiapkan soal bagi siswa-siswi Katolik kelas XII dalam Ujian Sekolah.
Setelah mempersiapkan serangkaian tugas yang bisa dikerjakan oleh siswa-siswi yang harus ditinggalkan selama menjalankan tugas, Penjaga Podjok pun berangkat menuju Hotel Neo Candi yang berada di wilayah Gajah Mungkur, Semarang. Merupakan suatu kehormatan bagi Penjaga Podjok untuk bergabung dalam penyusunan soal USBN ini. Ada 40 orang guru yang diundang dari tingkat SMP, SMA maupun SMK dalam acara ini.
Ini merupakan kali kedua Penjaga Podjok diundang untuk menjadi tim penyusun soal USBN Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti. Tahun 2017, sekitar bulan Februari juga, Penjaga Podjok juga harus meninggalkan Ruang Podjok untuk bertugas menjadi salah satu penyusun soal. Saat itu, kegiatan dilaksanakan di Asrama Putri Brayat Minulya, Surakarta. Kalau tidak salah ingat, selama 2 atau 3 hari, Penjaga Podjok bersama teman-teman guru lain dari seputaran Propinsi Jawa Tengah mencoba menyiapkan soal-soal Ujian Sekolah. Berikut ini adalah dokumentasi yang sempat didapatkan Penjaga Podjok seputar kegiatan tahun 2017 yang lalu:


Acara yang berlangsung dari tanggal 20 sampai 23 Februari 2018 ini terdiri dari dua kegiatan besar. Pertama, dilakukan Persiapan Penyusunan Soal yang diisi dengan pengarahan dari Pembimas Katolik dan Kepala Kantor Kementerian Agama Propinsi Jawa Tengah. Setelah disampaikan beberapa pengarahan, kegiatan Penyusunan Soal USBN untuk SMP, SMA, dan SMK pun dimulai. Selama 3 hari, 40 orang guru yang diundang bekerja keras untuk menghasilkan soal yang akan digunakan dalam Ujian Sekolah. Dalam proses penyusunan soal, penyusun soal juga didampingi oleh Tim Verifikasi dari Komisi Kateketis Keuskupan Agung Semarang yang bertugas menelaah soal yang disiapkan. Puji Tuhan, soal yang harus disiapkan bisa diselesaikan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Tugas mulia sudah selesai. Terima kasih atas kesempatan yang dianugerahkan Tuhan ini...   

Mengembangkan Toleransi dan Penghargaan melalui Tamasya Lintas Agama

Tidak lama setelah mengikuti kegiatan penyusunan soal di Semarang, Penjaga Podjok langsung tenggelam dalam aktivitas bersama para siswa kelas XII yang telah berjuang sekuat tenaga untuk menyusun Tugas Akhir. Tugas akhir merupakan pekerjaan yang lazim dilakukan oleh setiap orang yang akan menyelesaikan tahap pendidikannya. Melalui tugas akhir, seseorang diajak untuk mempersembahkan yang terbaik di penghujung tingkat pendidikan yang sedang dijalaninya.
Nah, tugas akhir untuk Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti tahun ini membahas tentang keberagaman hidup dalam masyarakat. Dalam tugas akhir ini, para anggota Ruang Podjok yang sudah duduk di kelas XII diminta untuk membuat suatu kisah Tamasya Lintas Agama. Tamasya Lintas Agama merupakan istilah yang dipakai untuk menjelaskan aktivitas kunjungan dan observasi tempat ibadah atau lokasi keagamaan dalam rangka menggali kebijaksanaan yang dimiliki agama tertentu. Tamasya Lintas Agama merupakan suatu istilah yang dikenal oleh Penjaga Podjok ketika diundang oleh PaPPIRus (lihat postingan berjudul “Tamasya Lintas Agama Bersama PaPPIRus”). Hasil pertemuan itu menggerakkan Penjaga Podjok untuk mengajak setiap anggota Ruang Podjok yang sudah duduk di kelas XII untuk mengembangkan toleransi beragama. 
Setiap anggota Ruang Podjok diminta untuk mengunjungi tempat ibadah yang berbeda-beda. Satu syarat yang ditetapkan oleh Penjaga Podjok adalah tidak boleh tempat ibadah agama Kristen dan Katolik. Oleh karena itu, para anggota Ruang Podjok kemudian ada yang mengunjungi masjid, wihara, klenteng, maupun pura. Beberapa hal yang ingin dilatihkan dalam penyusunan Tugas Akhir ini antara lain adalah 1) Berperilaku  santun  dengan saling menghargai sesama manusia yang diciptakan sebagai citra Allah yang bersaudara satu sama lain; 2) Berperilaku tanggung jawab sebagai anggota Gereja yang merupakan umat Allah dan persekutuan yang terbuka; dan 3) Berperilaku proaktif untuk berdialog serta bekerjasama dengan umat beragama lain. Setelah mengadakan observasi, mereka pun diajak untuk membuat Laporan Observasi dan melakukan presentasi atas kegiatan yang dilakukannya itu. Dilihat dari refleksi yang mereka buat, pengalaman Tamasya Lintas Agama ini menjadi pengalaman yang mendebarkan sekaligus menyenangkan. 










Awalnya, mereka merasa ragu-ragu untuk meninggalkan zona nyaman dan aman mereka berada di lingkungan agama sendiri. Namun, ketika mulai berinteraksi dan menyapa, tersingkaplah betapa ramahnya mereka yang menganut agama lain itu. Ya... semoga pengalaman kecil ini membuat para anggota Ruang Podjok semakin siap untuk hidup dalam keragaman dan mulai membuka wawasan mereka terhadap orang maupun pandangan yang lain. Dengan kata lain, semoga mereka tidak tergolong dalam kelompok yang “bacanya kurang banyak, maennya kurang jauh, dan pulangnya kurang pagi...”

Menemani Siswa-siswi Kelas XII dalam Doa Menyongsong Ujian Nasional


Masih bersinggungan dengan siswa-siswi kelas XII, ada kegiatan lain yang juga menjadi agenda rutin, yaitu Doa Menyongsong Ujian Nasional. Tahun ini, kegiatan itu dilaksanakan pada hari Jumat, 16 Maret 2018. Saat itu, seluruh siswa-siswi kelas XII berkumpul untuk memohon kemurahan hati Allah agar mereka didampingi dalam menjalankan tugas terakhir mereka, Ujian Nasional. Memang, dalam saat-saat yang tidak mudah seperti itu, ketika seluruh usaha sudah dikerahkan, manusia hanya bisa menyerahkan segala sesuatunya kepada Sang Pencipta. Ini sudah merupakan naluri seorang yang beriman. Dan inipun menjadi sarana bagi para siswa untuk melaksanakan apa yang ditulis dalam Surat Yakobus, “Jangan melupakan Tuhan dalam perencanaan” (Yak 4:13-17). 









Rabu, 31 Oktober 2018

Mengumpulkan Serpih-Serpih Kisah #1

Beberapa waktu yang lalu, saya terlibat suatu obrolan dalam grup WhatsApp alumni Ruang Podjok. Grup alumni Ruang Podjok ini dibuat untuk mengumpulkan kembali mereka yang dalam beberapa tahun belakangan ini sempat mampir ke Ruang Podjok Kerohanian Katolik Skaga. Dalam beberapa kesempatan, mereka yang bergabung dalam grup tersebut mengenang banyak cerita dan kisah yang sempat dijalani bersama. Menanggapi hal itu, saya sebagai Penjaga Podjok pun melemparkan sebuah link yang bisa diakses untuk mengenang kembali kisah-kisah yang sudah terjadi. Penjaga Podjok pun terkesiap. Ternyata sudah lama sekali tidak menulis kisah tentang Ruang Podjok. Sepuluh bulan sudah Penjaga Podjok tidak menulis. Pembicaraan itu pun menggerakkan hati untuk kembali menulis dan mengisi laman ini... Akhirnya, selamat membaca... 

Perayaan Natal di Tengah Pekan Doa untuk Umat Kristiani Sedunia

Selalu ada pertanyaan mengapa Natalan di SMK Negeri 3 Surakarta dilakukan pada minggu ketiga bulan Januari? Banyak orang mengatakan bahwa Natalnya sudah basi. Saya mengatakan, “Ah, yo ben – Biar saja.” Saya sempat ditanya oleh Romo Daris - R.D. Agustinus Sudarisman, pastor paroki San Inigo Dirjodipuran - mengapa saya mengadakan Natalan baru bulan Januari. Ini yang menjadi jawaban saya, “Sebenarnya yang inti dalam perjumpaan ini adalah doa di salah satu hari dalam Pekan Doa untuk Kesatuan Umat Kristiani. Namun, tidak lazim doa itu dilakukan tanpa judul. Oleh karena itu, dibungkuslah persekutuan doa ini dengan judul Natalan Bersama karena masih dekat bulan Desember.” Mendengar penjelasan tersebut, Romo Daris hanya manggut-manggut sambil mengatakan, “Wah... apik... apik.. – Baik... baik.” Akhirnya, terlaksanalah acara Natalan Bersama Persekutuan Umat Kristiani SMK Negeri 3 Surakarta yang terdiri dari para guru, karyawan, dan siswa-siswi. Beberapa minggu sebelum acara tersebut, panitia mulai bekerja untuk mempersiapkan segalanya mulai dari peminjaman tempat dan peralatan sampai pengurusan proposal. Puji Tuhan bahwa pengurusan proposal tidak begitu memerlukan waktu lama. Memang sempat ada kendala di sana sini tetapi secara umum, seluruh persiapan acara dapat berjalan dengan baik. 
Natalan tahun ini dijatuhkan pada hari Jumat (19/01/2018) di Gereja San Inigo Dirjodipuran karena tahun ini kegiatan dikelola oleh Kerohanian Katolik. Satu hari sebelum hari H, panitia yang dikoordinir oleh Reginatalia Cahyaning Putri Menge dari Kelas X MM 1 sudah bekerja mempersiapkan acara tersebut. 
Pada hari H, sebelum acara, Romo Daris pun ikut terlibat mempersiapkan. Beliau menyiapkan brosur yang memuat informasi mengenai Pekan Doa untuk Kesatuan Umat Kristiani. Menurut tradisi, waktu untuk menyelenggarakan Pekan Doa Untuk Kesatuan Umat Kristiani di belahan utara adalah 18-25 Januari. Tanggal-tanggal itu diusulkan oleh Paul Wattson pada tahun 1908 yang meliputi hari-hari antara Pesta Santo Petrus dan Pesta Santo Paulus, dan karena itu memiliki suatu makna simbolik. Di belahan selatan, di mana Januari merupakan hari libur, Gereja-Gereja sering memilih hari-hari lain untuk menyelenggarakan Pekan Doa, misalnya sekitar Pentakosta (yang disarankan oleh gerakan Faith and Order pada tahun 1926), yang juga merupakan tanggal simbolik oleh kesatuan Gereja (Lih. http://www.katolisitas.org/pekan-doa-untuk-kesatuan-umat-kristiani/ Diakses 22 Februari 2018). 
“Tangan kanan-Mu, Tuhan, mulia karena kekuasaan-Mu (bdk. Keluaran 15:1-21)” menjadi tema Pekan Doa se-Dunia untuk Persatuan Umat Kristiani dalam refleksi dan doa selama satu pekan, 18-25 Januari 2018. Tema ini lahir berdasarkan pengalaman konkret umat dan masyarakat di Karibia. Saat ini umat Kristiani dan masyarakat Karibia dari berbagai tradisi melihat tangan Tuhan aktif berkarya membebaskan mereka dari belenggu penjajahan dan perbudakan. Mereka mengalami tindakan penyelamatan Tuhan yang membawa kebebasan. Karena itulah nyanyian Musa dan Miriam (Kel 15: 1-21) yang merupakan nyanyian kemenangan atas penindasan, dijadikan tema pekan doa itu untuk 2018. Tema ini telah diangkat dalam himne “The Right Hand of God” yang ditulis dalam sebuah lokakarya Konferensi Gereja-Gereja di Karibia bulan Agustus 1981, dan telah menjadi “lagu kebangsaan” gerakan ekumenis di wilayah itu, yang diterjemahkan ke dalam sejumlah bahasa berbeda. Tangan kanan Tuhanlah yang membawa orang keluar dari perbudakan, memberi harapan dan keberanian yang terus-menerus kepada umat-Nya. Itulah yang terus membawa harapan kepada umat dan masyarakat di Karibia. Dalam menyaksikan harapan bersama ini, Gereja-Gereja bekerja sama untuk melayani semua orang di wilayah itu, terutama yang paling rentan dan terbengkalai. Dalam kata-kata nyanyian rohani, “tangan kanan Allah sedang menanam di tanah kita, menanam benih kebebasan, harapan dan cinta”, mereka mengalami tangan kanan Tuhan yang menyelamatkan. Berdasarkan pengalaman itu, dalam rangka pekan doa 2018, Dewan Kepausan untuk Persatuan Umat Kristiani (Vatikan, Katolik Roma) dan Komisi Iman dan Hukum Dewan Gereja-Gereja se-Dunia (Gereja-Gereja Protestan) bekerjasama mempersiapkan bahan-bahan renungan yang dibagikan kepada umat Kristiani. Bahan-bahan itu kemudian diterbitkan sesuai situasi dan konteks pengalaman di Indonesia dalam rupa booklet dan brosur untuk didistribusikan ke paroki-paroki, komunitas-komunitas religius serta gereja-gereja Kristen (Lih. http://penakatolik.com/2018/02/04/gerakan-pekan-doa-untuk-persatuan-umat-kristiani-di-kas-makin-berkembang/ Diakses 22 Februari 2018). Brosur inilah yang kemudian dibagikan oleh Romo Daris kepada yang hadir saat itu.
Setelah prosesi penyalaan lilin, Romo Daris memulai renungannya dengan pertanyaan, “Apa tandanya kalau damai sejahtera memerintah dalam hati kita?” Yang menjadi tanda adalah pengembangan tiga keutamaan (iman, harapan, dan kasih). Iman yang dipunyai ada 2 macam, yaitu 1) iman akan penciptaan yang membimbing kita pada kesadaran bahwa Tuhan itu adalah asal dan tujuan hidup serta 2) iman akan penebusan yang menyadarkan kita bahwa Tuhan mau mengajari kita sebagai manusia yang benar karena Tuhan sudah menjadi manusia. Harapan mengandung cita-cita atau hal-hal yang kita tunggu di depan. Ada nasehat yang mengajak kita untuk menggantungkan cita-cita setinggi mungkin. Kasih berarti memberikan segala sesuatu sepenuhnya. Yang dapat mencintai sepenuhnya hanyalah Allah. Manusia dapat mengusahakan untuk mencapai kasih yang sempurna seturut kemampuannya. Dalam mengembangkan tiga keutamaan ini, perlu diingat nasehat ini, “Ad mayora natur sum – Aku dilahirkan untuk membuat hal-hal  yang besar.” Setiap orang yang lahir ke dunia ini memang diciptakan untuk membuat hal-hal yang besar. Seperti Tuhan Yesus Kristus yang memang lahir untuk membuat hal-hal yang besar, tampaknya setiap orang perlu mencari hal-hal besar apa yang dikehendaki oleh Tuhan untuk ia perbuat.




Terima kasih kepada segenap panitia, para pendukung acara, Bapak Ibu Guru dan Karyawan, para pastor beserta karyawan-karyawati Paroki San Inigo Dirjodipuran, dan seluruh pihak yang telah membuat acara Natalan ini berjalan dengan baik. Semoga melalui semangat Natal yang ada, kita semua tergerak untuk membuat hal-hal besar dalam hidup kita.

Hadiah Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 untuk Ruang Podjok

Ada suatu kejadian yang tidak terduga untuk Ruang Podjok di awal tahun ini. Belum usai bergembira atas kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus, ketika melaksanakan piket di akhir tahun 2017, Penjaga Podjok dikejutkan dengan hadiah yang tidak terduga. Pagi itu, Bapak Suwarno, penjaga sekolah yang memang tinggal di kompleks SMK Negeri 3 Surakarta, memberi kabar bahwa Ruang Podjok mendapatkan suatu kiriman. Penjaga Podjok pun agak bingung karena merasa tidak pernah memesan barang dari siapapun.
Kiriman itu diterima oleh Bapak Suwarno yang kemudian disampaikan kepada saya. Pada kemasan luar, tertulis, “Kepada Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta d/a Brigjend Sudiarto No. 34 Surakarta – Jateng.” Di bawahnya tertulis, “Isi: Alkitab = 40 exp” Puji Tuhan. Ini ternyata hadiah dari Tuhan yang dikirimkan melalui Bimas Katolik Kementerian Agama Republik Indonesia. Saya jadi ingat, pada suatu pelatihan, entah dimana dan kapan, saya pernah diminta menuliskan berbagai macam kebutuhan yang diperlukan untuk kegiatan Agama Katolik di sekolah. Saat itu, saya menulis daftar panjang berbagai keperlukan yang saya butuhkan. Sekian waktu berlalu, ternyata inilah jawaban dari daftar panjang yang saya tuliskan itu. Dengan penuh sukacita, kiriman itu kemudian saya buka dan saya tempatkan di Ruang Agama Katolik untuk membantu siswa-siswi saya dalam mendalami iman. 

Terima kasih kepada Bimas Katolik Kementerian Agama Republik Indonesia yang telah memberikan sarana-prasarana untuk membantu pelayanan pendalaman iman kepada siswa-siswi Katolik di SMK Negeri 3 Surakarta. Tuhan memberkati pelayanan panjenengan semua.