Selasa, 12 September 2017

Merekam Kegiatan Selama Satu Semester

Tidak terasa bahwa waktu terus berjalan dan sudah masuk bulan September... Tidak terasa juga bahwa sudah lama tidak menulis untuk merekam kegiatan Kerohanian Katolik di SMK Negeri 3 Surakarta... Catatan singkat ini semoga dapat menjadi ingatan tentang peristiwa-peristiwa yang telah berlalu...

Memulai Kegiatan dengan Ikut Ekaristi Siswa-siswi Katolik Kota Surakarta
Kegiatan di tahun 2017 dimulai dengan Ekaristi untuk Seluruh Siswa Katolik Kota Surakarta. Ekaristi ini diadakan pada hari Jumat, 6 Januari 2017. Saat itu, masih dalam suasana Natal, sebagian siswa Katolik di Kota Surakarta memenuhi Gereja Santo Antonius Purbayan untuk mengikuti Ekaristi. Ekaristi menjadi sumber yang ingin ditimba di awal tahun ini. Sayang, tidak ada anggota Ruang Podjok yang mengikuti Ekaristi ini karena sekolah sudah menerapkan lima hari sekolah. Hal ini membuat siswa-siswi tidak begitu longgar untuk mengikuti Ekaristi. Ya sudahlah... yang penting tahun baru sudah dimulai dengan menimba kekuatan dari Ekaristi... Paling tidak Penjaga Podjok sudah ikut bergabung disana...

Menyesuaikan Diri dengan Aturan Lima Hari Sekolah
Awal tahun 2017 ini, disambut oleh Ruang Podjok dengan penyesuaian diri terhadap siklus baru. Mulai semester genap, SMK Negeri 3 Surakarta menerapkan sistem lima hari sekolah. Lima hari sekolah ini membuat para siswa hanya menempuh proses pembelajaran dalam lima hari sepekan. Dengan demikian, jadwal pun disesuaikan karena hari Sabtu ditetapkan sebagai hari libur. Praktis, seluruh elemen sekolah ini pun menyesuaikan, termasuk Ruang Podjok. Akhirnya, seluruh kegiatan berjalan menyesuaikan dengan ritme sekolah... Beberapa kegiatan memang tidak dapat terlaksana, tetapi puji Tuhan beberapa tetap berjalan dengan baik... Semoga ke depan, seluruh kegiatan di Ruang Podjok dapat berjalan dengan baik.

Natalan di GKJ Danukusuman
Salah satu kegiatan yang terlaksana di bulan Januari 2017 adalah Natalan Bersama di GKJ Danukusuman. Natalan tahun ini sudah dipersiapkan sejak bulan Desember 2016. Panitia dari kelas X yang dikoordinir oleh Josefa Sindy telah menyiapkan rangkaian acara untuk memperingati Natal yang memiliki tema yang ditetapkan oleh Konferensi Waligereja Indonesia dan Persatuan Gereja-gereja Indonesia, “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus Tuhan di Kota Daud” (Luk 2:11). Sengaja memang Natalan kali ini diselenggarakan di GKJ Danukusuman karena Kerohanian Katolik dan Kristen SMK Negeri 3 Surakarta ingin melibatkan gereja-gereja sekitar untuk dijadikan tempat perayaan.
Setelah disiapkan beberapa saat, tibalah hari yang telah ditetapkan. Hari itu, Sabtu (21/01/2017), berbagai persiapan telah dibuat untuk memeriahkan suasana gedung GKJ Danukusuman. Panitia telah bekerja sekuat tenaga untuk menyiapkan berbagai hal untuk merayakan Natal Bersama Siswa, Guru, dan Karyawan Kristiani SMK Negeri 3 Surakarta.  Sekitar jam 09.oo pagi, acara pun dimulai.












Dalam perayaan Natal kali ini, Bapak Pendeta Uri Kristian Sakti Labeti, pemimpin jemaat GKJ Danukusuman, dimohon untuk memberikan renungan. Dalam renungan yang dibawakannya, beliau menyinggung pentingnya unsur kebaruan pada setiap diri orang Kristiani saat merayakan Natal, “Natal itu adalah cerita tentang kebaruan. Maka, ada Dies Natalis, hari yang dipakai untuk merayakan kelahiran sekaligus kebaruan. Kebaruan itu pasti ada spirit. Natal selalu mengingatkan kita aka hidup dan semangat baru.” Beliau pun juga mengaitkan Natal dengan masa remaja yang sangat berharga, “Usia sekolah merupakan usia yang sangat berharga untuk mengembangkan diri. Oleh karena itu, usia seperti ini sudah seharusnya diarahkan dan diatur. Natal itu harus memperbarui hidup, Bagaimana kemudian Natal mempengaruhi kita dalam membarui hidup di usia remaja ini.” Di akhir renungannya, beliau mengajak seluruh hadirin untuk meneladan para gembala. Dalam Injil Lukas dikisahkan para malaikat yang menyampaikan kabar dan gembala menerima kabar itu dengan penuh sukacita. Meneladan para gembala, setiap orang Kristiani diajak untuk menjadi orang yang luar biasa. Kita diberi banyak anugerah yang siap untuk kita kembangkan. Tuhan telah memberikan banyak hal kepada kita dan sudah seharusnya semua itu kita kembangkan dengan penuh sukacita.











Siang itu, acara perayaan Natal dipungkasi sekitar pukul 13.00. Terima kasih kepada seluruh panitia yang telah terlibat dalam seluruh acara Natalan pada tahun ini... Tuhan memberkati kalian semua...

Membaca Keteladanan Awam Muda dalam Ujian Sekolah
Kegiatan berikutnya yang terjadi di Ruang Podjok adalah penyelenggaraan Ujian Nasional Praktek Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti untuk Kelas XII. Masih melanjutkan tema tahun yang lalu seputar orang kudus dari kaum awam, tahun ini, Ruang Podjok mengajak teman-teman kelas XII untuk mendalami dan membaca keteladanan awam muda. Tema yang diusung tahun ini adalah “Young Saints: Joyful and Holy.” Tema ini diangkat seiring dengan penyelenggaraan Asian Youth Day of Catholic Church yang melibatkan Keuskupan Agung Semarang sebagai tuan rumah pada bulan Juli sampai Agustus 2017 dengan tema  “Joyful Asian Youth! Living the Gospel in Multicultural Asia.” Menjadi orang muda dalam Gereja merupakan suatu anugerah. Dalam Ujian Praktek tahun ini, teman-teman kelas XII diajak untuk mendalami hidup dan perjuangan anak-anak muda yang telah memperjuangkan hidup mereka seutuhnya demi kesucian dan pengabdian kepada Allah.
Terima kasih kepada seluruh siswa-siswi kelas XII yang telah terlibat dalam seluruh proses Ujian Sekolah. Terima kasih atas kerja keras dan perjuangan kalian untuk mendalami kehidupan para kudus yang masih belia ini. Karya kalian akan menjadi warisan yang sangat berharga untuk banyak orang dalam belajar beriman.

Menemani Doa Bersama untuk Kelas XII
Tidak lama berselang, di penghujung bulan Maret, Penjaga Podjok kembali menemani siswa-siswi kelas XII untuk mengadakan Doa Bersama. Seperti biasa, Doa Bersama kali ini diselenggarakan untuk mohon berkat dalam rangka persiapan Ujian Nasional. Seperti biasanya, Doa Bersama ini diselenggarakan untuk seluruh siswa-siswi kelas XII. Yang beragama Islam ada kajian tersendiri. Yang beragama Kristen dan Katolik bergabung salam satu persekutuan.






Tahun ini, Penjaga Podjok dipercaya untuk memberikan renungan sekaligus penguatan bagi siswa-siswi dalam menyiapkan Ujian Nasional. Semoga sabda Kitab Suci dan pendalamannya yang sedikit ini boleh menjadi bekal untuk mengikuti Ujian Nasional pada bulan April 2017.

Mengenalkan Pelayanan Sosial Kepada Siswa-siswi Kelas X
Kesempatan hari kosong Ujian Nasional pada tanggal 3-6 April 2017 dimanfaatkan oleh  Penjaga Podjok untuk mengenalkan pelayanan sosial kepada siswa-siswi kelas X. Karya sosial menjadi salah satu karya khas yang dimiliki oleh Gereja Katolik. Melalui karya sosial ini, Gereja Katolik secara khusus memberikan perhatian kepada kaum Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, dan Difabel. Tahun ini merupakan tahun ketiga pelaksanaan Pelayanan Sosial Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta. Terselip harapan bahwa kegiatan ini akan memberikan sedikit kesan kepada siswa-siswi Katolik kelas X. Ada harapan bahwa suatu hari nanti, pengalaman ini menjadi pengalaman berharga yang dapat dibagikan kepada orang-orang dalam perjumpaan bersama dengan yang lain...




Merayakan Paska untuk Bebas dari Kuasa Kematian dan Membuat Diri Menjadi Pelopor Peradaban Kasih
Selepas menemani siswa-siswi kelas XII untuk menempuh ujian akhir dan siswa-siswi kelas X untuk kegiatan pelayanan sosial, kegiatan di Ruang Podjok berlanjut untuk menyiapkan Paska. Tahun ini, Perayaan Paska Bersama seperti biasa dikoordinir oleh siswa-siswi kelas XI. Mereka yang baru pulang dari kegiatan Praktek Kerja Lapangan langsung diberi tanggung jawab untuk menyelenggarakan kegiatan perayaan Paska. Tahun ini, korodinator panitia Paska menjadi bagian Kerohanian Katolik. Akhirnya, setelah berbagai pembicaraan disana sini, posisi Ketua Panitia Paska ditangani oleh Frisca Bunga Avilia. Dalam waktu yang tidak begitu lama, panitia mulai dibentuk dan mulai ada pembicaraan-pembicaraan untuk menentukan jalannya kegiatan Paska. Tema Paska pada tahun ini adalah “Kebangkitan Kristus Membebaskan Kita dari Kuasa Kematian dan Menjadikan Kita Pelopor Peradaban Kasih” (Rm 6 : 10). Tema ini adalah tema gabungan yang telah ditetapkan oleh PGI dan Panitia APP Keuskupan Agung Semarang.

Awalnya, panitia Paska mengalami kesulitan dalam menyelenggarakan acara ini. Salah satu hal yang menjadi pergulatan adalah apakah kegiatan dilaksanakan langsung di panti asuhan atau ada kegiatan dulu di sekolah baru bakti sosial di panti asuhan. Penjaga Podjok dan Pak Heru yang menemani dinamika panitia menyerahkan seluruh format acara kepada panitia Paska. Akhirnya diputuskan bahwa kegiatan akan diselenggarakan di dua tempat: ibadah dilakukan di sekolah dan dilanjutkan dengan bakti sosial di panti asuhan. Setelah format acara diputuskan, kendala yang kemudian muncul adalah pemberi renungan. Tidak mudah bagi panitia untuk mencari pemberi renungan karena berbagai kesibukan yang dimiliki oleh para imam yang melayani umat di Solo. Setelah pembicaraan demi pembicaraan, akhirnya diputuskan membuat permohonan kepada Bruder Carolus, BM untuk memberikan renungan. Puji Tuhan, pada hari dan jam yang diminta, beliau sedang tidak ada jadwal. Terima kasih kepada Bruder Carolus, BM yang telah berkenan memberikan pelayanan firman dalam Paska tahun ini.
Akhirnya, tibalah hari pelaksanaan. Jumat (12/05/2017), Perayaan Paska untuk Siswa, Guru, dan Karyawan Kristiani diselenggarakan di sekolah mulai pukul 08.30-an. Hari itu, Penjaga Podjok didaulat untuk menjemput Bruder Carolus, BM dan memandu beliau sampai di SMK Negeri 3 Surakarta. Dalam perayaan itu, seluruh acara diselenggarakan sesuai dengan rencana. Semua berjalan dengan lancar dan baik. Dalam renungannya, Bruder Carolus, BM menyatakan makna Paska yang erat dengan pembicaraan tentang kebangkitan. Di awal renungannya, beliau membawa sebuah kertas putih dan mengandaikan hal itu sebagai hidup manusia yang masih bersih. Dalam perjalanan waktu, kertas yang putih itu mulai ditulisi, dicorat-coret, bahkan diremas-remas. “Kisah penciptaan menyatakan kepada kita bagaimana manusia diciptakan dalam keadaan yang bersih. Saat berada di dunia, hidup manusia mulai mengalami kotor dan kusut. Namun, Allah tetap mengasihi kita. Kasih Allah itu perlu kita tanggapi dengan sikap bangkit melalui pembaruan diri.” Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah bagaimana pembaruan diri itu diwujudkan? Bruder Carolus memberikan jawaban, “Gampang. Yang dapat kita lakukan adalah Senyum, Sapa, dan Salam. Tiga hal ini akan melatih kita dalam memperlakukan orang lain. Senyum, sapa, dan salam membuat hubungan kita dengan orang lain menjadi lebih baik.”  Yang diungkapkan Bruder Carolus ini – kebetulan atau tidak – merupakan tiga hal yang selalu didengungkan oleh Bagian Kesiswaan SMK Negeri 3 Surakarta. Semoga renungan ini selalu mengingatkan siswa-siswi Kristiani SMK Negeri 3 Surakarta untuk melakukan tiga hal itu... Sekitar jam 10-an, Perayaan Paska pun berakhir dan panitia akan melanjutkan acara Bakti Sosial di Panti Asuhan Karuna, Gentan, Sukoharjo. 


Setelah sejenak bersiap-siap, seluruh panitia Paska pun menuju Panti Asuhan Karuna, Gentan, Sukoharjo. Siang itu, selain Penjaga Podjok, ada beberapa Bapak Ibu Guru Kristiani yang menemani kegiatan di panti asuhan. Acara di panti asuhan berlangsung lancar dengan perkenalan, pujian, dan permainan. Suasana gembira menyelimuti acara bakti sosial itu. Acara bakti sosial siang itu diakhiri dengan makan siang bersama dan penyerahan bantuan dari Kerohanian Katolik dan Kristen SMK Negeri 3 Surakarta untuk kepentingan penyelenggaraan karya sosial Panti Asuhan Karuna. Terima kasih kepada seluruh siswa-siswi Kristiani yang telah tergerak untuk memberikan sumbangan dalam acara bakti sosial ini. 



Terima kasih kepada Bapak Ibu Guru Kristiani yang telah terlibat dalam penyelenggaraan acara Paska dari ibadah sampai bakti sosial. Terima kasih kepada panitia Paska yang telah berjuang sekuat tenaga untuk mengelola acara ini dengan baik...

Bersama Umat Keuskupan Agung Semarang Menyambut Uskup Baru
Hari Sabtu (18/03/2017), seluruh umat Keuskupan Agung Semarang mendengar berita bahwa Paus Fransiskus menunjuk gembala baru bagi Keuskupan Agung Semarang. Romo Robertus Rubiyatmoko, Vikaris Yudisial yang sekaligus Formator Seminari Tinggi Keuskupan Agung Semarang, dipilih menjadi Uskup Agung yang baru. Keuskupan Agung Semarang mengalami kekosongan gembala sejak Uskup Agung Yohannes Pujasumarta meninggal pada tanggal 10 November 2015.  Penunjukan Paus ini terjadi menjelang perhelatan Asian Youth Day of the Catholic ‎Church ke-7 yang melibatkan Keuskupan Agung Semarang sebagai tuan rumah pada tanggal 30 Juli sampai 9 Agustus tahun ini.  “Joyful Asian Youth! Living the Gospel in Multicultural Asia” adalah tema perayaan kaum muda yang berpusat di Yogyakarta.
Sebenarnya sudah lama terdengar bahwa Romo Rubi merupakan kandidat kuat Uskup Agung Semarang. Romo Rubi – begitu beliau sering dipanggil oleh para mahasiswanya  di Fakultas Teologi Kepausan – lahir di Sleman, 10 Oktober 1963. Ia menyelesaikan studi di Fakultas Teologi Kepausan Yogyakarta dan ditahbiskan sebagai imam Keuskupan Agung Semarang pada tanggal 12 Agustus 1992. Setelah itu, ia menjalankan beberapa tugas berikut ini: Pastor Pembantu Paroki di Gereja Santa Maria Assumpta Pakem (1992-1993); Menempuh Studi Hukum Gereja di Universitas Kepausan Gregoriana, Roma (1993-1997); Menjadi Dosen Hukum Gereja di Fakultas Teologi Wedhabakti Yogyakarta sekaligus formator di Seminari Tinggi Santo Paulus Yogyakarta (sejak 1998), Wakil Rektor Fakultas Teologi Wedhabakti Yogyakarta (2004-2011), dan Vikaris Yudisialis Keuskupan Agung Semarang (sejak 2011). Pada bulan Maret 2017, ia terpilih untuk menggembalakan lebih dari 400.000 umat Keuskupan Agung Semarang. Di Keuskupan Agung Semarang, ada 98 paroki dengan 399 imam (203 imam diosesan dan 196 imam religius). Selain itu, ada 221 biarawan, 1162 biarawati, serta 60 calon imam.

Dua bulan setelah penunjukannya, Misa Tahbisan Uskup digelar di Lapangan Akademi Kepolisian Semarang Jawa Tengah pada hari Jumat (19/05/2017). Betapa gembiranya seluruh umat Keuskupan Agung Semarang saat itu karena telah kembali mendapatkan gembala. Uskup Agung Semarang yang baru ini memiliki motto penggembalaan “Quarere et Salvum Facere – Mencari dan Menyelamatkan.” Semoga ke depan semakin banyak umat Keuskupan Agung Semarang yang merasakan bagaimana sang Uskup mencari dan menyelamatkan seluruh umat. Bersama dengan seluruh umat Keuskupan Agung Semarang, 











Ruang Podjok pun bergembira menyambut Uskup yang baru ini.. Puji Tuhan atas kehadiran Imam Agung di wilayah kami...

Menyepi untuk Meningkatkan Kompetensi
Tidak lama setelah bergembira bersama umat Keuskupan Agung Semarang dan Uskupnya yang baru, datanglah surat tugas kepada Penjaga Podjok untuk mengikuti kegiatan peningkatan kompetensi Guru Pendidikan Agama Katolik se Regio Jawa. Kegiatan ini merupakan undangan dari Bimas Katolik Kementrian Agama Republik Indonesia. Undangan ini mengharuskan Penjaga Podjok meninggalkan Ruang Podjoknya untuk pergi ke Jogja, tempat pelaksanaan kegiatan ini. Selama 4 hari, mulai tanggal 23 sampai 26 Mei, Penjaga Podjok mengikuti kegiatan di @HOM Platinum Hotel, Gowongan, Malioboro, Jogjakarta. Bagi Penjaga Podjok, kegiatan seperti ini menjadi sarana untuk semakin memperkaya wawasan demi pelayanan pendidikan. 
Selama 3 hari, Penjaga Podjok menerima berbagai materi untuk meningkatkan kompetensi sebagai guru. Ada materi Visi Misi serta Kebijakan Bimas Katolik; Pembinaan Guru Agama Katolik di Yogyakarta; Spiritualitas Guru Pendidikan Agama Katolik, Implementasi Kurikulum 2013; Proses Pembelajaran di Era Digital; Literasi dalam Pembelajaran; Penilaian (Terbaru) dalam Kurikulum 2013; Kesadaran Berbangsa dan Bernegara; serta Pencegahan dan Penanggulangan Narkoba dan Pornografi. Materi-materi ini menjadi tambahan wawasan bagi Penjaga Podjok agar boleh semakin melayani denga baik. Terima kasih kepada Kementrian Agama Republik Indonesia yang telah memperhatikan pengembangan kompetensi para guru Pendidikan Agama Katolik. 

Memuncaki Tahun Pelajaran dengan Pendalaman Rohani
Kegiatan paling akhir yang terjadi di Ruang Podjok adalah Retret Pendalaman Rohani untuk siswa-siswi Kelas X. Tidak lama setelah acara Paska, siswa-siswi kelas XI kembali diberi tanggung jawab untuk menyelenggarakan acara. Kali ini, acara yang diadakan adalah Retret Pendalaman Rohani untuk siswa-siswi kelas X. Retret merupakan acara rutin yang diadakan oleh Kerohanian Kristen dan Katolik SMK Negeri 3 Surakarta. Acara retret biasanya memang diadakan dalam rangka pendalaman rohani bersamaan dengan kegiatan Pesantren Kilat di bulan Ramadhan bagi siswa yang beragama Islam. Tahun ini, retret pun diadakan pada bulan Ramadhan yang tahun ini jatuh mulai akhir bulan Mei. Karena di bulan Mei, sekolah biasanya mengadakan Ulangan Kenaikan Kelas, kegiatan retret pun mengalami penyesuaian dan diselenggarakan pada akhir tahun pelajaran. Akhirnya, ditetapkan bahwa retret diselenggarakan pada tanggal 15-16 Juni 2017. Dengan segera, panitia retret pun dibuat. Retret kali ini dikoordinir oleh Kerohanian Kristen dan dikomandoi oleh Ayu Febita Sari. Begitu selesai acara Paska, panitia pun segera diberitahu untuk bekerja menyiapkan retret. Panitia pun dengan sigap bekerja, mulai dari survei lokasi sampai persiapan acara. Semua dilaksanakan dalam waktu yang tidak begitu lama. Puji Tuhan semua persoalan dapat teratasi sehingga persiapan pun berjalan dengan lancar.


Begitu selesai Ulangan Kenaikan Kelas, persiapan akhir untuk retret pun dibuat. Segala persiapan dilakukan dengan matang agar hasilnya pun baik. Penjaga Podjok tidak henti-hentinya mengingatkan panitia untuk mengiringinya dengan doa. Penjaga Podjok ingin belajar meyakini ajaran iman ini, “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yak 5:16b). Penjaga Podjok menyadari bahwa doa memiliki kekuatan yang luar biasa. Inilah yang ingin coba dibagikan kepada seluruh panitia.
Hari H pun tiba. Siang hari, Kamis (15/06/2017), mulailah dinamika retret. Siang itu, para peserta mulai berangkat bersama dari sekolah pukul 13.00. Penjaga Podjok menemani panitia sampai semua berangkat karena Pak Heru, Ibu Susi, dan Ibu Setya telah lebih dulu berangkat ke lokasi untuk mempersiapkan beberapa hal. Setelah seluruh peserta berangkat, barulah Penjaga Podjok beranjak menuju tempat pelaksanaan.


Retret kali ini dilaksanakan di Wisma Suwandi, Tawangmangu. Selama satu hari satu malam, para peserta dibimbing oleh Ibu Pendeta Magdalena Eli dari GKJ Kerten. Materi yang disampaikan beliau adalah materi penemuan diri. Materi ini menjadi dasar untuk pendalaman rohani agar setiap peserta menemukan hal-hal baik yang dapat mereka kembangkan untuk hidup di kemudian hari. Materi penemuan diri disampaikan dalam dua kali sesi. Sore itu, para peserta diajak untuk melihat ke dalam diri sendiri dan berpikir mengenai apa yang dapat dilakukan setelah memahami dirinya sendiri. Rangkaian acara retret malam itu ditutup dengan Jelajah Malam dan penampilan dalam Api Unggun. Setelah itu, para peserta pun beristirahat malam.

Pagi harinya, dinamika retret dilanjutkan kembali. Agenda pagi itu ialah outbound. Kemeriahan acar outbound dengan segera melingkupi para peserta. Berbagai permainan dialami untuk dipetik nilai-nilainya. Permainan dalam outbound memang tidak sekedar permainan, tetapi permainan itu mengandung nilai-nilai yang siap untuk diambil dan direfleksikan oleh para peserta. Berikut ini adalah beberapa refleksi yang diungkapkan oleh peserta retret:

“Melalui retret, kami dapat lebih mengenal satu sama lain, mengerti tentang pentingnya kebersamaan, memperoleh pengalaman baru, belajar tentang kedisiplinan, serta mendapatkan pengalaman berharga tentang asin, pahit, dan manisnya kehidupan...”

“Melalui retret, kami mendapatkan pelajaran untuk melangkah menjadi anak terang, belajar mengenali diri sendiri, mengatur diri, melakukan tugas yang menjadi utusan Tuhan dengan penuh kerelaan dan kesetiaan, mendalami kebersamaan dengan saudara seiman, mendapatkan berbagai rasa kehidupan, serta mendapatkan pelajaran tentang makna menjadi garam dan terang dunia...”

“Melalui retret, kami diajarkan tentang arti kebersamaan, menghargai, menolong, dan kekompakan, belajar tentang kehidupan, terutama saat pahit harus tetap bersyukur kepada Tuhan dan menerima semuanya, diajari untuk menjadi garam dan terang dunia, diajari menghadapi masalah dengan kerelaan hati dan sabar, serta diajari untuk selalu berdoa, berusaha, saling bekerjasama, dan saling menghargai dalam menjalankan setiap kegiatan...”

“Melalui retret, kami menjadi sadar bahwa kebersamaan itu sangat penting, diajari untuk menjadi terang dunia bagi diri sendiri maupun orang lain, diajari untuk bekerja keras saat menghadapi persoalan hidup entah itu pahit atau manis sambil percaya bahwa semua akan indah pada waktunya, serta diajari untuk mengenali diri, mengatur diri, dan melakukan apa yang ditugaskan dan diutuskan oleh Tuhan...”












Selesai outbound, para peserta segera membersihkan diri untuk masuk dalam sesi terakhir. Sesi terakhir ini merupakan sesi kesimpulan yang disampaikan oleh Penjaga Podjok. Siang itu, para peserta diajak untuk membangun diri menjadi remaja yang menampakkan terang kepada banyak orang. Kadangkala orang menjadi ragu untuk bertindak hanya karena dia masih merasa muda. Namun, sebenarnya kemudaan bukanlah halangan untuk berbuat sesuatu. Sesi ini ingin membakar semangat para peserta untuk melakukan sesuatu, terlebih sebagai remaja Kristiani di SMK Negeri 3 Surakarta. 
Semangat yang ingin ditularkan adalah semangat yang diungkapkan oleh Santo Filipus Neri, “Beruntunglah kalian orang-orang muda karena kalian punya banyak waktu untuk berbuat baik.” Semoga retret ini semakin menggerakkan para peserta untuk berbuat baik dalam kehidupan.

Minggu, 25 Desember 2016

I’m Dreaming of A White Volkswagen Bus...

Tulisan ini bisa dikatakan sebagai doa permohonan saya di hari Natal ini... Menurut tradisi yang sampai sekarang saya yakini, Natal adalah saat orang datang kepada Sang Bayi Yesus yang hadir di palungan, bersyukur atas kebaikan Allah yang telah diberikan, serta memohon hal-hal yang menjadi keperluannya. Juga berkembang kisah bahwa pada saat Natal, ada seorang bernama Santa Claus dalam bahasa Inggris atau Sinterklaas dalam bahasa Belanda (yang sekarang atributnya baru jadi perbincangan sebagian orang di Indonesia) yang membawa karung berisi hadiah-hadiah. Konon... sebelum Natal, orangtua dengan janggut putih panjang dan perut gendut itu menerima beribu-ribu surat dari anak-anak berbagai  negara yang mengutarakan keinginannya. Menjelang Natal, orangtua ini akan meneropong setiap anak dengan kriteria NAUGHTY or NICE (NAKAL atau BAIK). Anak yang tergolong baik akan diberi hadiah, sedangkan anak yang nakal akan dimasukkan karung dan dihukum oleh Piet Hitam... Saya pun menjadi bertanya apakah saya termasuk yang baik atau yang nakal ya...
Hmmm... nakal atau tidak, kalau saya ditanya mengenai apa yang diinginkan, salah satu jawaban saya termuat dalam tulisan ini: I’m dreaming of a White Volkswagen Bus. Kebetulan, ketika menulis ini, saya sedang mendengar Michael Buble yang berdendang, “I’m dreaming of a white christmas just like the one I used to know... When the tree tops glisten and children listen to hear sleigh bells in the snow...” Lagu ini menginspirasi saya untuk membuat judul permohonan ini “I’m dreaming of a White Volkswagen Bus.” Mengapa saya bermimpi untuk memilikinya? Ini muncul dari keprihatinan seputar pelayanan yang selama ini saya berikan kepada anak-anak didik dan masyarakat sekitar saya. 
Yang saya inginkan adalah sebuah Volkswagen Bus. Volkswagen Bus dikenal banyak orang dengan nama VW Kombi. Mobil keluaran perusahaan Volkswagen dengan nama resmi Kombinationskraftwagen ini diperkenalkan secara resmi pada tahun 1950 dan diproduksi sampai tahun 2014. Mobil ini desain oleh Ben Pon dan dikenal sebagai Volkswagen Type 2 yang muncul setelah Volkswagen Type 1 atau yang familiar dikenal di Indonesia sebagai VW Kodok.

Mengapa saya menginginkan mobil ini? Ceritanya panjang... Semasa kecil, saya memiliki saya memiliki seorang pakdhe yang menjadi pastor. Suatu saat, pakdhe saya ini pulang ke rumah membawa sebuah mobil VW Kodok berwarna putih. Ikut bangga rasanya ketika saya boleh menaiki mobil itu meskipun harus berdesakan (Jawa: untel-untelan) dengan saudara yang lain. Sekian tahun berselang, ketika menginjak remaja, saya kembali mendapat pengalaman dengan Volkswagen. Saat itu, kakak saya yang mulai bekerja di Jakarta membeli sebuah mobil. Pada hari Lebaran, terdengar berita bahwa mobil itu akan dibawa pulang. Hati ini bersorak ketika tahu bahwa yang akan dibawa pulang adalah sebuah VW Kodok berwarna merah. Rasa bangga ketika untel-untelan menaiki mobil itu kembali terasa ketika mobil kecil itupun dipaksa membawa 6 orang untuk pergi bersilaturahmi kepada keluarga di desa pada hari Lebaran. Mengingat hal itu... hati ini rasanya pengen tersenyum. Pengalaman demi pengalaman itu membuat hati saya seakan-akan terbakar dan bersemangat setiap kali mendapat pengalaman bersentuhan dengan Volkswagen. Tidak seperti VW Kodok yang kecil meskipun bisa dipakai untel-untelan, saya berpikir ingin punya VW Kombi supaya yang menimpang merasa lebih nyaman.
Sampai sekarang, saya masih memendam keinginan untuk memiliki sebuah Volkswagen yang bisa memuat banyak orang. Salah satu pengalaman yang semakin membuat saya ingin memiliki VW Kombi adalah kiprah saya di dunia pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Saya bekerja sebagai guru Pendidikan Agama Katolik di sebuah sekolah negeri. Ada tantangan tersendiri menjadi guru Agama Katolik di sekolah negeri karena jumlah siswa-siswi Katolik pasti tidak banyak. Nah... yang tidak banyak itu dibina menjadi anak-anak yang unggul. Dari situlah muncul gagasan untuk memiliki sebuah VW Kombi yang dapat dijadikan pusat pelayanan kerohanian. VW Kombi itu akan dilengkapi perpustakaan mini berisi buku-buku rohani yang siap dibaca oleh siswa-siswi maupun orang-orang lain yang memerlukan pelayanan rohani. Dengan begitu, kehadiran VW Kombi itu akan menjadi titik simpul komunitas yang mau bediskusi soal iman. Selain itu, VW Kombi itu pun siap menjadi alat transportasi bagi siswa-siswi Katolik ketika harus bepergian menyambangi kegiatan-kegiatan di berbagai tempat. Saya sendiri pernah mengalami kesulitan ketika akan mengajak siswa-siswi Katolik untuk berkegiatan di luar sekolah. Mayoritas, kendala yang ada ketika ada kegiatan keluar adalah transportasi seperti yang saya alami bulan Oktober yang lalu ketika saya mengajak mereka ke Gua Maria Mojosongo. Ketika ada kesulitan transportasi, VW Kombi itulah yang saya harapkan menjadi tulang punggung untuk membantu saya. Selain bekerja di dunia pendidikan, kegiatan saya di bidang sosial kemasyarakatan juga membuat saya tergerak untuk memiliki VW Kombi. Ada beberapa alasan yang mendasari. Kegiatan masyarakat selalu melibatkan banyak orang sehingga dibutuhkan alat transportasi yang dapat memuat banyak orang. Selain itu, dalam bidang sosial kemasyarakatan, saat ini saya bersama dengan beberapa warga kampung sedang merintis kegiatan Bank Sampah. Salah satu kendala yang kami jumpai dalam kegiatan itu adalah persoalan transportasi. Kami tidak memiliki armada ketika harus menyetorkan sampah kepada pengepul. Hal inilah yang membuat saya berpikir untuk memiliki VW Kombi, yaitu supaya saya bisa membantu sedikit mengatasi persoalan yang ada.

Kecintaan saya terhadap Volkswagen tidak pernah pudar. Saat berjumpa Volkswagen di jalan, saya selalu menaruh kekaguman sekalipun Volkswagen itu sudah berkarat dan buruk rupa. Saya pun tidak melewatkan berbagai peristiwa berkenaan dengan Volkswagen. Saat bertandang ke Museum Angkut di Batu, Malang, saya tidak melewatkan kesempatan ngeksis dengan beberapa Volkswagen yang dipajang di sana. Saya pun tidak pernah melewatkan kesempatan nampang bersama Volkswagen yang hadir di berbagai event kuliner maupun budaya, seperti yang ada di ajang Jagongan Ngopi neng Solo kemarin. Tidak lupa, ketika ada Wing Days Volkswagen di Solo, saya pun mewajibkan diri untuk datang. Yang baru-baru saja, di Hari Guru kemarin, saya menghadiahi diri saya dengan mainan die-cast metal VW Kombi 1963 Double Cabin Pickup.




Inilah berbagai macam pengalaman yang muncul di benak saya ketika saya menorehkan judul  I’m Dreaming of A White Volkswagen Bus... Di hari Natal ini, kalau boleh meminta, inilah salah satu hal yang saya inginkan.
Menuliskan hal ini, saya teringat akan tulisan Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, “Jadi, gambaran kami tentang gembala diaspora ialah seorang pastor (imam atau awam) yang bergerak dengan mobilitas lincah dan selalu membawa telepon genggam. Ia tidak berkantor birokratis di sebuah gedung ber-AC di belakang meja jati seberat setengah ton dengan suatu set kursi empuk setebal 50 cm di sudut salon. Akan tetapi, ia berada dalam suatu mobil van (kombi) tahan banting yang dilengkapi dengan meja kerja, telepon, komputer data dan informasi (membonceng hubungan dengan modem/internet keuskupan), kotak makanan-minuman dan seperangkat radio-kaset, syukurlah TV dan video informatif. Jok mobil sewaktu-waktu dapat disetel  menjadi tempat tidur bila perlu menginap bebas, dengan pakaian, alat cukur, sikat-pasta gigi, dsb. yang praktis untuk perjalanan yang bersinambung...” (Gereja Diaspora. Yogyakarta: Kanisius. 1999. Hlm. 140-141). Tulisan ini memang banyak mempengaruhi saya dalam pelayanan.
Akhirnya, demi pelayanan yang dipercayakan, saya ingin tetap bernyanyi, “I’m Dreaming of A White Volkswagen Bus...”