Minggu, 25 Desember 2016

I’m Dreaming of A White Volkswagen Bus...

Tulisan ini bisa dikatakan sebagai doa permohonan saya di hari Natal ini... Menurut tradisi yang sampai sekarang saya yakini, Natal adalah saat orang datang kepada Sang Bayi Yesus yang hadir di palungan, bersyukur atas kebaikan Allah yang telah diberikan, serta memohon hal-hal yang menjadi keperluannya. Juga berkembang kisah bahwa pada saat Natal, ada seorang bernama Santa Claus dalam bahasa Inggris atau Sinterklaas dalam bahasa Belanda (yang sekarang atributnya baru jadi perbincangan sebagian orang di Indonesia) yang membawa karung berisi hadiah-hadiah. Konon... sebelum Natal, orangtua dengan janggut putih panjang dan perut gendut itu menerima beribu-ribu surat dari anak-anak berbagai  negara yang mengutarakan keinginannya. Menjelang Natal, orangtua ini akan meneropong setiap anak dengan kriteria NAUGHTY or NICE (NAKAL atau BAIK). Anak yang tergolong baik akan diberi hadiah, sedangkan anak yang nakal akan dimasukkan karung dan dihukum oleh Piet Hitam... Saya pun menjadi bertanya apakah saya termasuk yang baik atau yang nakal ya...
Hmmm... nakal atau tidak, kalau saya ditanya mengenai apa yang diinginkan, salah satu jawaban saya termuat dalam tulisan ini: I’m dreaming of a White Volkswagen Bus. Kebetulan, ketika menulis ini, saya sedang mendengar Michael Buble yang berdendang, “I’m dreaming of a white christmas just like the one I used to know... When the tree tops glisten and children listen to hear sleigh bells in the snow...” Lagu ini menginspirasi saya untuk membuat judul permohonan ini “I’m dreaming of a White Volkswagen Bus.” Mengapa saya bermimpi untuk memilikinya? Ini muncul dari keprihatinan seputar pelayanan yang selama ini saya berikan kepada anak-anak didik dan masyarakat sekitar saya. 
Yang saya inginkan adalah sebuah Volkswagen Bus. Volkswagen Bus dikenal banyak orang dengan nama VW Kombi. Mobil keluaran perusahaan Volkswagen dengan nama resmi Kombinationskraftwagen ini diperkenalkan secara resmi pada tahun 1950 dan diproduksi sampai tahun 2014. Mobil ini desain oleh Ben Pon dan dikenal sebagai Volkswagen Type 2 yang muncul setelah Volkswagen Type 1 atau yang familiar dikenal di Indonesia sebagai VW Kodok.

Mengapa saya menginginkan mobil ini? Ceritanya panjang... Semasa kecil, saya memiliki saya memiliki seorang pakdhe yang menjadi pastor. Suatu saat, pakdhe saya ini pulang ke rumah membawa sebuah mobil VW Kodok berwarna putih. Ikut bangga rasanya ketika saya boleh menaiki mobil itu meskipun harus berdesakan (Jawa: untel-untelan) dengan saudara yang lain. Sekian tahun berselang, ketika menginjak remaja, saya kembali mendapat pengalaman dengan Volkswagen. Saat itu, kakak saya yang mulai bekerja di Jakarta membeli sebuah mobil. Pada hari Lebaran, terdengar berita bahwa mobil itu akan dibawa pulang. Hati ini bersorak ketika tahu bahwa yang akan dibawa pulang adalah sebuah VW Kodok berwarna merah. Rasa bangga ketika untel-untelan menaiki mobil itu kembali terasa ketika mobil kecil itupun dipaksa membawa 6 orang untuk pergi bersilaturahmi kepada keluarga di desa pada hari Lebaran. Mengingat hal itu... hati ini rasanya pengen tersenyum. Pengalaman demi pengalaman itu membuat hati saya seakan-akan terbakar dan bersemangat setiap kali mendapat pengalaman bersentuhan dengan Volkswagen. Tidak seperti VW Kodok yang kecil meskipun bisa dipakai untel-untelan, saya berpikir ingin punya VW Kombi supaya yang menimpang merasa lebih nyaman.
Sampai sekarang, saya masih memendam keinginan untuk memiliki sebuah Volkswagen yang bisa memuat banyak orang. Salah satu pengalaman yang semakin membuat saya ingin memiliki VW Kombi adalah kiprah saya di dunia pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Saya bekerja sebagai guru Pendidikan Agama Katolik di sebuah sekolah negeri. Ada tantangan tersendiri menjadi guru Agama Katolik di sekolah negeri karena jumlah siswa-siswi Katolik pasti tidak banyak. Nah... yang tidak banyak itu dibina menjadi anak-anak yang unggul. Dari situlah muncul gagasan untuk memiliki sebuah VW Kombi yang dapat dijadikan pusat pelayanan kerohanian. VW Kombi itu akan dilengkapi perpustakaan mini berisi buku-buku rohani yang siap dibaca oleh siswa-siswi maupun orang-orang lain yang memerlukan pelayanan rohani. Dengan begitu, kehadiran VW Kombi itu akan menjadi titik simpul komunitas yang mau bediskusi soal iman. Selain itu, VW Kombi itu pun siap menjadi alat transportasi bagi siswa-siswi Katolik ketika harus bepergian menyambangi kegiatan-kegiatan di berbagai tempat. Saya sendiri pernah mengalami kesulitan ketika akan mengajak siswa-siswi Katolik untuk berkegiatan di luar sekolah. Mayoritas, kendala yang ada ketika ada kegiatan keluar adalah transportasi seperti yang saya alami bulan Oktober yang lalu ketika saya mengajak mereka ke Gua Maria Mojosongo. Ketika ada kesulitan transportasi, VW Kombi itulah yang saya harapkan menjadi tulang punggung untuk membantu saya. Selain bekerja di dunia pendidikan, kegiatan saya di bidang sosial kemasyarakatan juga membuat saya tergerak untuk memiliki VW Kombi. Ada beberapa alasan yang mendasari. Kegiatan masyarakat selalu melibatkan banyak orang sehingga dibutuhkan alat transportasi yang dapat memuat banyak orang. Selain itu, dalam bidang sosial kemasyarakatan, saat ini saya bersama dengan beberapa warga kampung sedang merintis kegiatan Bank Sampah. Salah satu kendala yang kami jumpai dalam kegiatan itu adalah persoalan transportasi. Kami tidak memiliki armada ketika harus menyetorkan sampah kepada pengepul. Hal inilah yang membuat saya berpikir untuk memiliki VW Kombi, yaitu supaya saya bisa membantu sedikit mengatasi persoalan yang ada.

Kecintaan saya terhadap Volkswagen tidak pernah pudar. Saat berjumpa Volkswagen di jalan, saya selalu menaruh kekaguman sekalipun Volkswagen itu sudah berkarat dan buruk rupa. Saya pun tidak melewatkan berbagai peristiwa berkenaan dengan Volkswagen. Saat bertandang ke Museum Angkut di Batu, Malang, saya tidak melewatkan kesempatan ngeksis dengan beberapa Volkswagen yang dipajang di sana. Saya pun tidak pernah melewatkan kesempatan nampang bersama Volkswagen yang hadir di berbagai event kuliner maupun budaya, seperti yang ada di ajang Jagongan Ngopi neng Solo kemarin. Tidak lupa, ketika ada Wing Days Volkswagen di Solo, saya pun mewajibkan diri untuk datang. Yang baru-baru saja, di Hari Guru kemarin, saya menghadiahi diri saya dengan mainan die-cast metal VW Kombi 1963 Double Cabin Pickup.




Inilah berbagai macam pengalaman yang muncul di benak saya ketika saya menorehkan judul  I’m Dreaming of A White Volkswagen Bus... Di hari Natal ini, kalau boleh meminta, inilah salah satu hal yang saya inginkan.
Menuliskan hal ini, saya teringat akan tulisan Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, “Jadi, gambaran kami tentang gembala diaspora ialah seorang pastor (imam atau awam) yang bergerak dengan mobilitas lincah dan selalu membawa telepon genggam. Ia tidak berkantor birokratis di sebuah gedung ber-AC di belakang meja jati seberat setengah ton dengan suatu set kursi empuk setebal 50 cm di sudut salon. Akan tetapi, ia berada dalam suatu mobil van (kombi) tahan banting yang dilengkapi dengan meja kerja, telepon, komputer data dan informasi (membonceng hubungan dengan modem/internet keuskupan), kotak makanan-minuman dan seperangkat radio-kaset, syukurlah TV dan video informatif. Jok mobil sewaktu-waktu dapat disetel  menjadi tempat tidur bila perlu menginap bebas, dengan pakaian, alat cukur, sikat-pasta gigi, dsb. yang praktis untuk perjalanan yang bersinambung...” (Gereja Diaspora. Yogyakarta: Kanisius. 1999. Hlm. 140-141). Tulisan ini memang banyak mempengaruhi saya dalam pelayanan.
Akhirnya, demi pelayanan yang dipercayakan, saya ingin tetap bernyanyi, “I’m Dreaming of A White Volkswagen Bus...”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar