Rabu, 13 Maret 2013

Meneropong Konklaf dari Ruang Pojok


Kemarin adalah tanggal 12 Maret 2013. Hari itu adalah hari pertama pemilihan Paus.



Kita semua tahu bahwa sejak tanggal 28 Februari 2013, Paus Benediktus XVI telah mengundurkan diri dari jabatan dan efektif berlaku pukul 20.00 waktu Roma atau pukul 02.00 dini hari tanggal 1 Maret waktu Indonesia. Peristiwa itu berakibat menjadi lowongnya kursi kepemimpinan Tahta Suci.

Tanggal 28 Februari 2013, setelah berpamitan dengan beberapa pihak di Vatikan, Paus menaiki helikopter menuju Castel Gandolfo, istana musim panas milik kepausan. Sesaat setelah sampai, Paus menyapa kerumunan dengan pidato singkat sebagai berikut:

“Sahabat-sahabatku terkasih, aku sangat bahagia bersama kalian, dikelilingi keindahan ciptaan dan doa-doa kalian untuk kebaikanku. Terima kasih atas persahabatan dan kasih kalian. Kalian tahu bahwa hari ini akan sangat berbeda dengan hari-hari ke depan dimana aku tidak lagi menjadi Imam Agung tertinggi Gereja Katolik. Sekarang aku masih menjabatnya sampai jam 8 malam ini dan kemudian tidak lagi.

Aku hanyalah seorang peziarah yang memulai langkah terakhirnya di bumi ini.Namun, aku tetap berterimakasih kepadamu. Aku tetap mengarahkan hati, cinta, doa, refleksi, dan kekuatan batinku, untuk melakukan pekerjaan bagi kesejahteraan umum dan kesejahteraan Gereja dan manusia. Aku merasa sangat terdukung dengan seluruh simpati yang kalian berikan.

Marilah kita terus berjalan bersama Tuhan untuk kebaikan Gereja dan dunia. Terima kasih.Sekarang aku akan memberikan berkat. Diberkatilah kalian semua dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Selamat malam! Terima kasih untuk kalian semua!”    

Setelah itu, pintu gerbang Castel Gandolfo ditutup dan pasukan Swiss Guard ditarik kembali ke Vatikan sebagai tanda kekosongan jabatan Paus. Inilah saat yang disebut dengan SEDE VACANTE KEPAUSAN. 

Yang istimewa pula, di tahun ini, sede vacante kepausan juga terjadi di akun twitter Paus @Pontifex. Tanggal 28 Februari 2013, Paus menulis “Thank you for your love and support. May you always experience the joy that comes from putting Christ at the centre of your lives.” (Terima kasih atas cinta dan dukungan kalian. Semoga kalian senantiasa mengalami kegembiraan yang muncul dengan meletakkan Kristus pada inti hidup kalian). Paul Tighe, Sekretaris Komisi Kepausan untuk Komunikasi Sosial, mengatakan bahwa digunakan atau tidaknya kembali twitter kepausan diserahkan pada paus baru yang terpilih nantinya.

Sede vacante Kepausan pun berefek pada rentetan peristiwa yang harus terjadi selanjutnya.

Sede Vacante merupakan peristiwa besar di Vatikan. Pada saat itu, semua kardinal yang tersebar di seluruh dunia dipanggil untuk datang ke Vatikan. Mereka pun segera bergabung dalam kelompok yang disebut Kolegium. Kolegium inilah yang menangani urusan sehari-hari selama sede vacante. Kelompok ini dipimpin oleh Kardinal Kamerlengo sebagai Administrator. Pada tahun 2013 ini, yang menduduki jabatan sebagai Kardinal Kamerlengo adalah Kardinal Tarcisio Bertone, SDB. Pada tahun ini, kardinal yang memiliki hak untuk memilih dan dipilih ada 117 orang. Dari 117 orang itu, 2 orang menyatakan tidak hadir, yaitu Julius Riyadi Kardinal Darmaatmaja, SJ dari Indonesia dan Keith Michael Patrick Kardinal O’Brien dari Skotlandia.

Sede vacante 2013 ini merupakan peristiwa yang istimewa karena dalam hal ini penyebab sede vacante bukan kematian Paus namun pengunduran diri Paus. Meskipun demikian, tradisi harus tetap dipertahankan.

Sesaat setelah sede vacante, Kardinal Kamerlengo mengambil Cincin Sang Nelayan yang dipakai oleh Paus. Cincin itu kemudian dihancurkan di hadapan Kolegium Para Kardinal. Dulu, tindakan ini diambil untuk menghindari penyalahgunaan pemakaian cincin karana pada zaman dulu, cincin digunakan untuk mengesahkan dokumen-dokumen yang dikeluarkan oleh Tahta Suci. Jika sebuah dokumen telah dibubuhi lilin dengan tanda simbol yang tertera pada cincin Paus, dokumen tersebut telah dianggap sebagai dokumen resmi. Sekarang, penghancuran cincin menjadi tanda berakhirnya masa pelayanan Paus.

Setelah Cincin Sang Nelayan dihancurkan, Kardinal Kamerlengo juga harus menyegel apartemen Paus untuk menghindari penyalahgunaan barang-barang pribadi Paus.

Selama masa sede vacante kepausan, semua logo Vatikan - dalam setiap dokumen, mata uang, perangko, dan sebagainya - harus mencantumkan nama Kardinal Kamerlengo yang menjabat. Pada masa sede vacante, lambang yang dipakai oleh Tahta Suci, sebagai organisasi pemerintahan adalah lambang dua kunci emas dan perak yang di atasnya dinaungi dengan umbraculum. Umbraculum merupakan payung berwarna merah dan kuning yang menjadi bagian lambang masa kekosongan tahta kepausan. Kehadirannya dalam lambang masa kekosongan tahta muncul pada mata uang logam yang dikeluarkan pada tahun 1521. Lambang Kardinal Kamerlengo yang menjadi pimpinan sementara selama kekosongan tahta juga menggunakan lambang kunci bersilang yang berada di depan umbraculum.

Selama masa ini, Kardinal Kamerlengo didampingi tiga kardinal lain – dalam presidium - yang berganti setiap tiga hari sampai terpilih seorang Paus. Sampai terpilihnya Paus baru, tidak ada pengganti Petrus di dunia ini sebagai wakil Kristus. Pokok perhatiannya hanya satu, yaitu memilih Paus. Kardinal Kamerlengo dan presidiumnya juga akan menentukan waktu pelaksanaan konklaf.

Konklaf berasal dari bahasa Latin con/cum = dengan/bersama dan clavis = kunci”. Pertemuan itu merupakan sidang tertutup para Kardinal untuk memilih seorang Paus sebagai wakil Kristus.

Tata cara dan adat pemilihan Paus ini berubah dari zaman ke zaman. Konklaf pertama diadakan tahun 1216. Sejarah pemilihan Paus dapat ditelusuri mulai abad pertama sejak Tahta Suci di Roma dikukuhkan Petrus dan Paulus pada tahun 62. Pemilihan pengganti Petrus waktu itu mengikuti tradisi pemilihan uskup diosesan dalam komunitas Gereja Perdana melalui pemungutan suara para imam dan awam yang tinggal di wilayah keuskupan yang bersangkutan. Karena pada waktu itu – sampai sekarang – Paus juga menjabat Uskup Roma, pemilihan Paus dilakukan melalui pemungutan suara para imam dan awam Keuskupan Roma. Cara ini bertahan sampai menjelang tahun 1000 Masehi.

Lambat laun, cara ini tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan karena jumlah umat Kristen makin tahun makin banyak sehingga makin sulit untuk mengatur pemungutan suara. Tidak jarang, ada kelompok-kelompok yang melakukan protes atas terpilihnya seorang Paus. Memasuki millennium kedua, Paus Nikolas II yang terpilih bulan Januari 1059 melakukan reformasi dengan mengundang Sinode Roma dan mengeluarkan dekrit tentang pemilihan Paus. Keputusan itu menyatakan bahwa pemilihan Paus berlangsung tiga tahap: 1) Para Kardinal Uskup bersidang dan memilih calon; 2) Para Kardinal Uskup mengundang para Kardinal Rohaniwan non Uskup untuk mendapat persetujuan lain; dan 3) Rohaniwan lain dan awam Roma dimintai dukungan. Sejak itu, kepausan secara prinsip dipisahkan dari campur tangan awam Roma.

Dekrit pemilihan Paus yang dikeluarkan Paus Nikolas II ini kemudian diamandemen oleh Konsili Lateran III yang menetapkan bahwa tidak ada perbedaan kelas cardinal dan pemenang harus mendapat suara dari dua pertiga peserta sidang para cardinal. Persyaratan ini sering membua pemilihan menjadi lebih lama. Konsili Lyons II di bawah Paus Gregorius X pada taun 1274 mengeluarkan dekrit baru yang menyatakan bahwa pemilihan Paus bersifat tertutup.

Sekarang, konklaf diatur dengan beberapa dekrit terbaru antara lain Romano Pontifici Eligendo yang dikeluarkan oleh Paus Paulus VI pada tahun 1975 dan Universi Dominici Gregis oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1996. Berkenaan dengan peristiwa pengunduran diri Paus pada tahun ini, Paus Benediktus XVI pun mengeluarkan beberapa perubahan atas dokumen Universi Dominici Gregis melalui Motu Proprio Normas Nonnullas yang dikeluarkan tanggal 22 Februari 2013.

Tidak ada yang pernah melihat pemilihan Paus secara langsung, kecuali para kardinal pemilih dan beberapa orang yang berkepentingan. Semua yang terlibat di dalam konklaf disumpah untuk tidak mengatakan rahasia-rahasia dalam pemilihan itu. Itu termasuk rahasia jabatan. Namun, kita akan mencoba meneropong jalannya pemilihan Paus itu dengan bantuan dari Michael Collins melalui buku berjudul Vatikan yang diterbitkan oleh Penerbit Erlangga pada tahun 2009.

Konklaf dimulai dengan seruan Extra omnes – semua keluar”. Mereka yang bukan peserta konklaf diharap keluar dari kompleks Kapel Sistina. Kapel yang disebut juga Kapel Sixtus IV ini merupakan tempat pemilihan dan pengumuman Paus baru. Kapel ini didesain oleh Giovaninno de Dolci tahun 1473. Bagian dalam kapel ini dipenuhi lukisan indah karya indah seniman besar sepanjang masa yang mengisahkan perjalanan panjang umat manusia mulai dari Penciptaan karya Michaelangelo sampai Pengadilan Terakhir. Yang boleh tinggal dalam kompleks Kapel Sistina hanyalah para kardinal peserta konklaf, Pemimpin Upacara Liturgi, perwakilan Komisi Kepausan untuk Negara Vatikan, anggota badan legislatif Vatikan, dan beberapa staf penting lainnya.

Tingkat kerahasiaan konklaf sangatlah tinggi. Bahkan setelah proses konklaf, para kardinal dilarang untuk membicarakannya, kecuali dengan kardinal lain dan bapa pengakuan yang melayaninya untuk mengakukan dosa. Selama konklaf, para kardinal diinapkan di Rumah Santa Marta dan tidak boleh mengadakan kontak dengan siapapun. Kapel Sisitina sekarang dilengkapi peralatan untuk mengacau sinyal radio, televisi dan telepon genggam. Pintu kapel dikunci dan disegel dari dalam dan luar dengan pita dan lilin.

Konklaf dimulai dengan ekaristi Pro Eligendo Papa. Diadakan renungan sebelum konklaf untuk memaparkan situasi dan kondisi Gereja masa kini. Setelah itu, dimulailah pemungutan suara. Pemungutan suara dilakukan 2 kali pada pagi hari dan 2 kali pada sore hari. Dalam kapel Sistina, telah disediakan kursi dan meja bagi para kardinal. Pada setiap pemungutan suara, para kardinal duduk di tempatnya masing-masing dan mengisi titik-titik kosong pada kartu yang bertuliskan “Eligo in summum pontificem … - Aku memilih sebagai Paus …” dengan nama calon yang dianggap paling sesuai seturut hati nurani dan kehendak Tuhan. Jika seorang kardinal sakit dan tidak dapat menghadiri pemilihan, tiga kardinal akan mengantar dan mengumpulkan kertas suara kardinal yang sakit tersebut.

Kertas-kertas itu kemudian dibawa maju menuju ke altar tinggi yang di atasnya terletak sebuah jambangan. Sambil mengangkat kertas pilihan yang terlipat, setiap kardinal berkata dengan lantang, “Kristus Tuhan menjadi saksiku bahwa suaraku diberikan kepada orang yang di hadapan Tuhan kukatakan adalah orang yang seharusnya kupilih.” Suara dihitung dan nama yang terpilih disebutkan secara lantang. Perolehan suara tersebut dicatat oleh presidium kardinal.

Syarat terpilihnya seorang Paus adalah adanya seorang kardinal yang mendapat 2/3 suara dari sidang. Jika hasil perhitungan belum mencapai persyaratan, kertas suara dikumpulkan oleh para kardinal untuk diserahkan pada Pemimpin Upacara Liturgi yang akan membawanya ke tungku di bagian belakang Kapel Sistina. Kertas suara akan dibakar bersama zat kimia sehingga menimbulkan asap hitam yang keluar dari cerobong di luar atap dan dapat dilihat oleh umat yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus.

Jika setelah 3 hari belum ada seorang kardinal yang terpilih sebagai Paus, sidang ditunda selama 1 hari. Satu hari itu digunakan untuk berdoa dan meditasi meminta petunjuk Tuhan dalam memilih Paus. Setelah itu, akan diadakan lagi sesi pemilihan selama empat belas kali diselingi istirahat setelah sesi pemilihan ketujuh. Ketika ada kardinal yang memperoleh 2/3 plus 1 suara, ia dinyatakan sebagai Paus baru. Kertas suara hasil pemilihan tersebut kemudian dibakar di tungku sehingga mengeluarkan asap putih.

Setelah terpilih Paus baru, Kardinal yang usia tahbisannya termuda memanggil Sekretaris Kolegium Kardinal dan Kepala Liturgi Kepausan. Kardinal terpilih tersebut kemudian ditanya dalam bahasa Latin: “Acceptasne electonem de te canonice factam in Summum Pontificem - Apakah Anda menerima pemilihan sebagai Paus?” Jika dijawab “Accepto - Ya”, ia ditanya lagi tentang nama yang akan dipakainya. Jika kardinal terpilih belum menerima tahbisan uskup, Kardinal Kamerlengo akan secepatnya menahbiskan dia.

Paus yang baru kemudian diantar ke sakristi yang terletak di sebelah kiri altar tinggi yang terkenal sebagai Ruang Air Mata untuk berganti pakaian Kardinal yang berwarna merah menjadi pakaian Paus yang berwarna putih. Di ruang itu telah disiapkan tiga ukuran pakaian: kecil, sedang, besar. Paus yang baru melepas kelengkapan kardinalnya dan mengenakan pakaian sebagai Paus. Pengurus Protokoler kemudian membuat Akta Pemilihan Paus. Paus yang baru kemudian diantar ke altar tinggi yang berada di bawah lukisan “Pengadilan Terakhir” karya Michaelangelo untuk menduduki singgasananya. Paus yang baru menerima penghormatan dari para kardinal yang lain. Penghormatan ini menandai berakhirnya sesi tertutup konklaf. Paus baru kemudian diperkenalkan kepada dunia.

Didahului prosesi salib emas, Dekan Para Kardinal menyerukan “Annuntio vobis gaudium magnum. Habemus Papam – Saya mengumumkan kegembiraan besar kepada anda sekalian. Kita mempunyai Paus.” Ia kemudian menyebutkan nama kardinal yang terpilih dan nama panggilannya sebagai Paus. Kebiasaan memilih nama baru ini dimulai sejak tajun 1009. Tidak lama setelah pemberitahuan itu, Paus dikawal menuju balkon utama untuk memperkenalkan dirinya dan memberikan kotbah singkat. Setelah itu, ia memberikan berkat apostolik untuk pertama kalinya. Setelah kembali ke istana kepausan, Paus berdiskusi dengan para staf untuk menentukan hari inaugurasi. Misa Inaugurasi menandakan dimulainya pekerjaan pengganti Petrus. Saat misa, Paus menerima Cincin Sang Nelayan yang berukir gambar Santo Petrus. Paus kemudian diantar untuk menempati apartemen kepausan yang sebelumnya disegel setelah wafatnya paus sebelumnya.

Beberapa hari setelah Misa Inaugurasi, Paus akan mengunjungi Katedral Santo Yohanes Lateran dan merayakan ekaristi dengan umat Keuskupan Roma. Setelah misa, Paus baru menerima para pembesar dan kepala negara yang mengikuti misa tersebut.

Marilah kita berdoa agar “dengan pertolongan Bunda Tersuci, Santa Perawan Maria, semoga Gereja Kristus mendapatkan pengganti Santo Petrus yang akan memimpin Gereja, dalam peziarahannya menuju kepenuhan keselamatan.”

Kita tunggu cerobong di atas Kapel Sistina mengeluarkan ASAP PUTIH yang menandai “Habemus Papam – Kita telah memiliki Paus.”

Senin, 04 Maret 2013

Doa Syukur dan Permohonan untuk Gereja Katolik Semesta


Allah Bapa, Maha Pengasih dan Penyayang, Penyelenggara hidup kami, Engkau telah memilih Bapa Suci Paus Benedictus XVI untuk memimpin Gereja-Mu. Dengan penuh kebebasan karena usia dan kesehatannya, beliau mengundurkan diri dari tugas pelayanan itu. Terdorong oleh cinta kepada Gereja-Mu, kami mempercayakan Gereja Kudus ini ke dalam penggembalaan Tuhan Yesus Kristus, Sang Gembala Utama.
Semoga Gereja-Mu yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik, tetap bersatu baik dalam kegembiraan dan harapan, tahan uji dalam duka dan kecemasan masyarakat di dunia ini,
senantiasa menjadi sakramen keselamatan,tanda kehadiran-Mu di tengah-tengah umat manusia.

Kami bersyukur atas penggembalaan hamba-Mu Bapa Benedictus XVI selama ini,
yang dengan penuh kasih telah melayani Gereja-Mu, sebagai penerus pelayanan Santo Petrus. Semoga Engkau mendampingi beliau untuk menjadi pendoa bagi Gereja,
dan menjadi hamba-Mu yang setia dalam memberikan kesaksian iman yang teguh,
harapan yang kokoh dan kasih yang membara.

Kami berdoa pula untuk pemilihan Pemimpin Gereja yang baru. Semoga Engkau membimbing Gereja-Mu dengan kuasa Roh Kudus, yang bekerja melalui para Kardinal dalam pemilihan Paus baru. Semoga dengan hati terbuka dan doa yang penuh iman, mereka dapat memahami kehendak-Mu dalam melaksanakan pemilihan Paus yang baru.

Dengan pertolongan Bunda Tersuci, Santa Perawan Maria, semoga Gereja Kristus mendapatkan pengganti Santo Petrus yang akan memimpin Gereja, dalam peziarahannya menuju kepenuhan keselamatan, dengan Pengantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.

Dikutip dari: http://www.sesawi.net/2013/02/27/doa-syukur-dan-permohonan-untuk-gereja-katolik-semesta-untuk-paus-benedictus-xvi-dan-konklaf-2/

Doa ini diunggah untuk didoakan selama masa Sede Vacante dan masa Konklaf

Rabu, 20 Februari 2013

Natalan Sederhana

Sabtu (12/01/2013), keluarga besar Kristiani SMK Negeri 3 Surakarta mengadakan Perayaan Natal Bersama. Seperti biasa, perayaan kali ini juga masih digawangi oleh para guru dan siswa-siswi Katolik dan Kristen SMK Negeri 3 Surakarta. Yang menjadi koordinator panitia pada tahun ini adalah Catherin Jodi van Kris dari Sub Seksi Kerohanian Kristen.



Perayaan Natal tahun ini adalah perayaan yang sederhana. Tidak ada band. Tidak ada tarian. Tidak ada keramaian-keramaian. Hanya ada musik dan pembawa firman yang sederhana. Oleh karena itu, pantaslah disebut dengan Natalan Sederhana.


Sesuai dengan tema yang ditetapkan oleh Konferensi Waligereja Indonesia dan Persatuan Gereja-gereja di Indonesia (KWI-PGI), Natalan di SMK Negeri 3 kali ini mengambil tema "Allah telah Mengasihi Kita" (1 Yoh 4:9 - Yoh 3:16)








Tahun ini, firman dibawakan oleh Bapak Katariksa Dani Putra, S.Th. Beliau adalah pelayan jemaat di Gereja Kristen Jawa Kerten. Dalam firman yang dibawakan, beliau menandaskan bahwa kasih perlu diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti Allah yang telah mengasihi kita manusia dengan memberikan PutraNya yang tunggal kepada manusia, manusia pun diajak untuk mengasihi sesama dengan memberikan kasih yang telah dialami sebagai anugerah Allah.


Firman yang disampaikan itu terasa semakin nyata ketika diputarkan video singkat berjudul “The Bridge - Jembatan.” Kisah itu bercerita seperti berikut:

“Ada seorang bapak penjaga jembatan kereta api. Dia mempunyai anak laki-laki. Anak itu adalah satu-satunya anaknya. Tidak ada harta lain yang lebih berharga daripada anak itu. Bapak dan anak itu sangat mencintai kereta api. Mereka mencintai pekerjaan yang diberikan kepada mereka. Pekerjaan itu sederhana, yaitu menurunkan dan menaikkan jembatan agar jembatan kereta api bisa terlewati dengan benar saat ada kereta api yang akan lewat. Kereta api harus tetap lewat dengan selamat meskipun tidak semua orang yang ada dalam kereta api itu adalah orang baik. Ada orang yang egois, pemadat, pemabuk, orang yang putus asa, tidak mau peduli dengan orang lain, dan sebagainya.

Suatu saat, terjadilah situasi yang sulit. Saat itu, sang ayah sedang mengangkat jembatan. Namun pada saat yang sama, kereta api akan segera lewat. Padahal jembatan itu macet. Sang anak segera tanggap dengan berlari menuju jembatan untuk menarik tuas yang membuat jembatan itu dapat bekerja dengan sempurna. Namun, alangkah malang, sang anak tidak kuasa menahan kekuatan tuas itu dan dia terjatuh di bawah jembatan. Sang ayah pun terlibat dalam situasi yang sulit. Pilihannya hanya dua: menahan tuas jembatan untuk menyelamatkan anaknya sehingga mengorbankan seluruh orang dalam kereta api atau menarik tuas yang bisa mengakibatkan jembatan melindas tubuh anaknya untuk menyelamatkan seluruh orang dalam kereta api. Sebuah keputusan yang sangat sulit. Akhirnya, sang ayah memilih. Ia memilih menarik tuas.”

Kisah ini seperti kisah Allah. Dia telah memberikan anaknya yang tunggal untuk menyelamatkan seluruh manusia. Anak yang Tunggal itu adalah Yesus Kristus. Melalui salib, Dia menebus dosa manusia dan menyelamatkan manusia. Melalui kelahiran Yesus, kita mempunyai harapan untuk diselamatkan dan dibangkitkan untuk hidup yang kekal.



Setelah firman, acara persembahan lagu, kuis Kitab Suci, dan permainan-permainan diadakan. Semua itu pun ditutup dengan doa bersama.

Sebagai pemungkas acara, ada sesi TRIMAKASIH TRIMAKASIH. Trimakasih, trimakasih, trimakasih... trimakasih, trimakasih, trimakasih... Terima kasih kepada siapa saja yang sudah mendukung, membantu, meluangkan waktu, dan memberikan perhatian kepada perayaan ini sehingga perayaan ini menjadi perayaan sederhana yang meriah. Trimakasih, trimakasih, trimakasih... trimakasih, trimakasih, trimakasih...



  
Akhirnya, TERIMA KASIH atas Natal yang sederhana ini.

Sabtu, 19 Januari 2013

Memeriahkan Misa Pelajar

Bulan Januari ini, kegiatan Ruang Podjok dimulai dengan persiapan Perayaan Natal Bersama 2012. Namun, di sela-sela kesibukan itu, beberapa anggota Ruang Podjok diam-diam mengikuti Misa Pelajar untuk memperingati Natal 2012 di Paroki Santo Antonius Purbayan.
Tanggal 8 Januari 2012, datanglah sebuah undangan yang intinya meminta keterlibatan guru dan siswa Katolik dalam Perayaan Ekaristi Pelajar tanggal 11 Januari 2013. Undangan tersebut dikirim oleh Ikatan Siswa Katolik Surakarta (ISKS) dan ditandatangani oleh Romo Agus Sriyono, SJ. Ketika undangan itu sampai ke Penjaga Podjok, disusunlah sebuah tim untuk menghadiri Ekaristi tersebut. Tim itu terdiri dari empat siswa kelas X Pemasaran, yaitu Aditya Yanuar Probo, Agnes Rezkha Dyanthika Putri, Fransisca Dea Triastuti, dan Jessica Tissa Septyana. Selain dari anggota Ruang Podjok, seluruh guru Katolik sebenarnya diundang untuk menghadiri, namun yang bisa berangkat ada dua, yaitu Penjaga Podjok dan Bapak Fajar Kriscahyo Herlambang. Guru yang lain tidak dapat hadir karena memiliki jam mengajar. Tim inilah yang kemudian meluncur ke Purbayan pada hari Jumat itu.

Misa Pelajar hari itu dipimpin oleh Romo Vikep Surakarta, yaitu Romo Antonius Budi Wihandono. Dalam Misa tersebut, Romo Budi mendorong para pelajar untuk lebih disiplin karena kedisiplinan itu akan menentukan maju atau tidaknya sebuah bangsa. “Kemajuan sebuah bangsa tidak tergantung dari pintar atau tidaknya orang-orang di dalamnya. Juga tidak tergantung pada kuno atau tidaknya bangsa tersebut. Tidak pula tergantung pada kaya atau miskinnya bangsa tersebut. Namun, tergantung pada disiplin atau tidaknya orang-orang dalam bangsa tersebut,” demikian tandas beliau. Dalam Misa tersebut, Romo Vikep juga mengapresiasi para guru dengan menyanyikan lagu pujian untuk para guru bersama dengan para pelajar yang mengikuti Misa. Misa yang riuh itu pun berakhir sekitar pukul 11.


Ke depan, Misa Pelajar ini akan diadakan setiap bulan pada hari Jumat Pertama jam 12 siang. Siapapun yang ingin mengikuti dipersilakan bergabung dalam Misa Pelajar. Selamat datang pada era baru pelayanan kepada siswa Katolik di Kota Surakarta. Terima kasih karena beberapa pihak menaruh hati pada perkembangan iman siswa-siswi Katolik di Kota Surakarta. Terima kasih juga kepada anggota Ruang Podjok yang telah ikut memeriahkan Misa Pelajar bulan Januari ini. Untuk bulan-bulan selanjutnya, semoga semakin banyak anggota Ruang Podjok yang bisa datang ke Misa Pelajar.

Selasa, 25 Desember 2012

Natal Bagiku Adalah...


Natal ini adalah natal kedua Ruang Podjok. Sudah dua tahun ini anggota keluarga Ruang Podjok menjalani Natal bersama. Di tahun ini, ada penghuni baru yang menyemarakkan Natal di Ruang Podjok. Penghuni itu adalah pohon Natal hijau dari tripleks dengan hiasan-hiasan mungil. Meskipun kecil, pohon Natal itu turut menghidupkan suasana Natal di Ruang Podjok. Pohon Natal adalah sebuah pohon yang sudah dihias dengan berbagai ornamen. Biasanya, pohon itu dipilih dari pohon pinus, cemara, atau sejenisnya dan dikaitkan dengan Hari Natal sebagai peringatan hari kelahiran Yesus Kristus, Sang Juruselamat.

Awalnya, pohon itu dihiasi dengan apel dan kacang. Namun, pada abad 18, pohon itu mulai diterangi dengan lilin. Sekarang, lilin digantikan dengan lampu listrik yang dapat menyala berkedip-kedip secara bergantian. Pohon itu sekarang banyak dihiasi dengan berbagai macam ornamen yang berkaitan dengan Hari Natal seperti malaikat, bola bundar yang berkilau, bintang-bintang, dan sebagainya. Figur seorang malaikat atau bintang yang besar biasanya dipasangkan di puncak pohon sebagai lambang malaikat yang menaungi kandang tempat Yesus dilahirkan atau bintang yang menunjukkan tempat lahir Sang Juruselamat seperti yang dikisahkan oleh para pengarang Injil. Tradisi memasang pohon Natal ini dimulai dari Jerman dan berasal dari kebiasaan abad 15 atau 16 yang menyatakan bahwa “orang-orang Kristiani yang saleh memasang pohon hias di dalam rumahnya.” Sejak paruh kedua abad 19, kebiasaan ini mulai populer di seluruh Jerman dan menyebar ke seluruh dunia.

Nuansa Natal semakin terasa saat terdengar suara Michael Buble mendendangkan lagi “It's Beginning to Look a Lot Like Christmas.” Suaranya terasa mengayun-ayun langkah untuk memasuki Masa Natal.

It's beginning to look a lot like Christmas 
Ev'rywhere you go; 
Take a look in the five and ten glistening once again 
With candy canes and silver lanes aglow. 
It's beginning to look a lot like Christmas 
Toys in ev'ry store 
But the prettiest sight to see is the holly that will be 
On your own front door. 
A pair of hopalong boots and a pistol that shoots 
Is the wish of Barney and Ben; 
Dolls that will talk and will go for a walk 
Is the hope of Janice and Jen; 
And Mom and Dad can hardly wait for school to start again. 
It's beginning to look a lot like Christmas 
Ev'rywhere you go; 
There's a tree in the Grand Hotel, 
one in the park as well, 
The sturdy kind that doesn't mind the snow. 
It's beginning to look a lot like Christmas; 
Soon the bells will start, 
And the thing that will make them ring 
is the carol that you sing 
Right within your heart.

Di Natal ini, tercetus ide untuk mendokumentasikan komentar-komentar kecil yang diutarakan oleh anggota keluarga Ruang Podjok. Ide untuk mengumpulkan komentar ini didapat oleh Penjaga Pojok saat melihat videoklip “Michael Buble - Christmas Trailer”. Dalam video itu, Buble mengungkapkan bahwa Natal selalu membawanya pada kenangan saat ia berusia 8 tahun, dimana ia selalu rindu dengan suasana dalam keluarganya. Videoklip itu mengisyaratkan bahwa Natal selalu memberikan kesan tersendiri bagi setiap orang. Oleh karena itu, paling tidak di tahun ini dan semoga setiap tahun mendatang, setiap anggota keluarga Ruang Podjok bisa mengungkapkan kesan yang dibingkai dengan judul “Natal Bagiku Adalah...”

Inilah komentar-komentar itu: 

Kelahiran Tuhan Yesus ke dunia sebagai Sang Juru Selamat yang membawa kedamaian, pengampunan, dan cinta kasih. Itu menuntut kita menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari seturut ajaranNya 
Kurnia Suliestiyani Putri 

Momen yang paling berharga dan paling kunantikan dalam setahun karena dalam momen itu semua kisah duka berganti menjadi tawa"
Anasthasia Bethi Candrarini 

Hari dimana Tuhan Yesus Juru Selamat bagi hidupku terlahir di dunia untuk menebus segala dosa-dosa manusia dan menjadi teladan bagi kita semua untuk selalu hidup di jalan yang benar dan untuk mewartakan kabar sukacita serta untuk selalu memuliakan Tuhan. Merry Christmas"
Giyana Margiyanti 

Hari yang sangat spesial untuk umat Katolik dan Kristen dan bisa dirayakan dengan senang bersama keluarga di Gereja"
Rikha Saputri 

Dimana kita meneladan Keluarga Kudus saat mereka bersukacita dalam kesederhanaan atas kelahiran Yesus Penyelamat dunia dan tetap hidup melayani sesama dengan tulus seturut kehendak Tuhan sebagai seorang pelayan yang tidak berjubah 
Advendiyanto 

Saat dimana pohon Natal dipajang, keluarga besar berkumpul, masak banyak dan enak, dan saat dimana keluarga besar saya bersama ke Gereja 
Happy Setia Budi 

Kehadiran Tuhan Yesus dalam hidup dan dengan bimbinganNya, saya dapat membangun diri agar menjadi lebih baik dan lebih mencintai Yesus"
Maria Goretti Lariska Larasati 

Datangnya Sang Juru Selamat, Yesus Kristus, ke dalam dunia untuk menebus dosa-dosa manusia dan waktu berkumpulnya keluarga dan sahabat untuk merayakannya secara bersama-sama"
Michael Kurniawan Adi Pramana 

Hari dimana satu keluarga berkumpul bersama untuk pergi ke gereja dan mengikuti misa bersama. Hari itu juga merepotkan karena bingung dengan acara di gereja dan lingkungan dan khususnya untuk Sekolah Minggu karena harus mencarikan hadiah buat anak-anak 
Dominica Tiffani Dewi Artyanti 

Hari kelahiran Juru Selamat kita dan sangat istimewa bagiku 
Debi Perpitasari 

Saat-saat yang dinantikan semua orang dimana Tuhan Yesus Sang Juru Selamat yang lahir menyelamatkan dunia dan disambut dengan hati yang damai dan kebersamaan 
Erna Yuniati 

Hal istimewa yang ditunggu-tunggu umat Kristiani karena Juru Selamat kita telah lahir di dunia dan menyelamatkan manusia 
Hari Maryana Putri 

Hari dimana ada kebahagiaan dan kedamaian, dimana yang tidak lengkap menjadi lengkap” 
Dewi Mutiarasani 

Saat yang tepat untuk ke gereja dan berkenalan dengan teman-teman, khususnya yang perempuan dan saat yang tepat untuk bertobat 
Agustinus Haryanto Robert 

Saat yang agak menyakitkan karena saya tidak pergi ke gereja dengan keluarga saya sendiri tetapi dengan keluarga teman. Namun saya masih tetap bahagia karena saya merasa memiliki keluarga baru. 
Bernardus Aldio Minda Kurniawan 

Saat yang tepat untuk berbagi bersama keluarga dan mencari kenalan di gereja 
Dea Putra Pratama 

Natal 
Ellanda Surya Kusuma 

Hari besar dimana saya dan keluarga menyambut kelahiran Sang Kristus di Gereja bersama-sama dengan penuh sukacita 
Thomas Diky Wahyudi 

Berkumpul bersama keluarga untuk merayakan kegembiraan 
Valentinus Satrio Tegar 

Kehidupan baru 
Yama Rucika Diana Sari 

Suatu saat yang spesial, bermakna bagi umat Katolik, menyenangkan hati karena memperingati hari kelahiran Yesus 
Maria Regina Chintya Nifan Ngeliau 

Kelahiran Tuhan Yesus yang ditunggu-tunggu semua umat Kristiani dan di situlah kebahagiaan terbesar bagi umat Kristiani 
Meitalia Triana Prabandari 

Hari yang kutunggu-tunggu karena hari itu adalah hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus 
Aditya Yanuar Probo Saputro 

Saat yang menyenangkan dan membanggakan. Saya bisa berkumpul dengan keluarga besar. Natal tahun ini adalah Natal yang baik untuk bisa membangun kerjasama dan hari yang spesial buat aku. 
Agnes Rezkha Dyanthika Putri 

Hari yang sangat indah di kehidupanku dimana Sang Juru Selamat kita lahir, hari yang tidak bisa aku lewatkan dimana hari yang sangat membahagiakan. 
Fransisca Dea Triastuti 

Lahirnya Juru Selamat ke dunia untuk menebus dosa manusia 
Jessica Tissa Septyana 

Hari yang penuh sukacita, keselamatan, hari dimana umat Kristiani , sesuai dengan tradisi Gereja Katolik, merayakan kelahiran Yesus Sang Penyelamat Dunia 
Bayu Sigit Pamungkas 

Kegembiraan yang tak terbatas 
Paulus Agung Wibowo 

Suatu momen dimana aku dan seluruh hidupku berada dalam puncak sukacita dan kebahagiaan. Harapanku adalah ingin menjadi lebih baik 
Natasha Karunia Paska 

Kebahagiaan tersendiri dari hati dimana ada suatu kelegaan yang dialami secara pribadi, suatu saat dimana kita mampu berbagi kebahagiaan pribadi tersebut secara sederhana kepada orang yang kita sayangi. 
Veronica Wening Budi Lestari

Minggu, 23 Desember 2012

Being Volunteers on Collecting Coins of Donation




From November 16 to December 8, 2012, some members of Ruang Podjok volunteered at Karitas Indonesia Keuskupan Agung Semarang (KARINA KAS). As volunteers, they collected coins of donation from many families in the region of Saint Peter Purwosari Parish and other parishioners. On August 2012, Father Banu Kurnianto promoted coin donation program to the parishioners of Saint Peter Purwosari Solo. At that moment, KARINA KAS offered small red yellow saving boxes to the parishioners who were willing to donate their money for KARINA KAS activities. After three months, KARINA KAS would collect those saving boxes.
In mid of November 2012, Mr Albertus Deby offered Ruang Podjok members to join KARINA KAS as volunteers who would collect those saving boxes. It’s a great chance and opportunity to train Ruang Podjok members in serving the Church. Serving the Church is not only at the altar, but also in the street among the people. At November 16, 2012, Mr Albert Deby came to Ruang Podjok and explained about KARINA KAS and Coin Donation Programs. He gave several tools to help the volunteers doing this service. Several members of Ruang Podjok were very enthusiatic to help collecting the donation.
At Monday, November 19, 2012, Ruang Podjok makes some groups of volunteers. Each group was responsible for 8 to 9 destination address in collecting donation. Each group also received some bundels of receipt and plastics to keep the donation. Their services were began. For some three weeks, they are trying to find the destination adrresses they have. They began to knock and ask local people to find the persons who hold KARINA KAS saving box. They were working hard to find those people. Many volunteers shared that they were feeling glad after they found an address or two. Then, they were encouraged to find more. They also did this service in total dedication. Many told that they have to go to some regions they didn't know before. They also told that they had to endure many small and bad roads. During the collecting of donation, they gathered every two or three days to recount their achievement. They recount the donation they got two or three days before. They did those activities happily. Their activities continued until December 9, 2012.
Thanks to Ruang Podjok members who were willing to serve in this activity. We're proud of you, your story of willingness, commitment, and service. Hopefully our Lord Jesus Christ bless our service from now on. 

Kamis, 13 Desember 2012

Diutus sebagai Orang Muda 100 % Katolik 100 % Indonesia



Sabtu-Minggu, 3-4 November 2012, enam orang utusan Warung Podjok diminta mengikuti Pembinaan Guru Siswa di Wisma El Betel Karangpandan dalam rangka menyambut Tahun Iman 2012. Mereka adalah Agnes Rezkha Dyanthika Putri, Bayu Sigit Pamungkas, Paulus Agung Wibowo, Veronika Wening Budi Lestari, Advendiyanto, dan Michael Kurniawan Adi Pramana. Sesuai undangan yang disampaikan, enam anggota keluarga Warung Podjok itu datang tepat waktu pukul 13.00 di SMA Negeri 4 Surakarta untuk melakukan registrasi ulang dan pengisian biodata pribadi. Sampai sekitar pukul 14.30 mereka menunggu lalu berangkat ke Karangpandan naik bis NUSA.


Kira-kira  pukul 16.30, sesampai di El Betel, seluruh peserta yang berjumlah 45 orang itu dikumpulkan di aula untuk pembagian kamar dan tempat tidur. Mereka terdiri dari berbagai daerah seputar wilayah Karesidenan Surakarta.  Kegiatan tersebut terbagi dalam tiga sesi yang terdiri dari 1 sesi Ibadat Pembukaan dan 2 sesi Materi.  Setelah makan malam, sesi diisi dengan sharing seputar kegiatan di sekolah. Setelah itu, pemandu sesi lalu menjelaskan tentang makna kegiatan yang dilakukan. Setelah sesi pertama, tibalah saat-saat yang ditunggu, yaitu saat santai yang diisi dengan kegiatan bakar jagung. Tidak hanya bakar jagung, tetapi juga bakar ayam. Setelah bakar jagung – dan juga ayam – ada acara Theguk-thenguk Crita. Ini biasanya yang dilakukan anak-anak muda kalau ketemu dengan temannya.


Hari Minggu, pagi-pagi, sekitar pukul 05.30, kegiatan diawali dengan olahraga. Betapa beruntungnya karena olahraga hari itu diisi dengan jalan-jalan. Jadi, yang bangun kesiangan bisa langsung nyusul jalan. Setelah mandi dan sarapan, kegiatan lalu dilanjutkan dengan sesi hari itu mengenai Tahun Iman. Tidak terasa, kegiatan itu pun berakhir. Sebelum makan siang dan pulang, ada Perayaan Ekaristi yang menjadi penutup.






Kegiatan tersebut tampaknya sangat mengesan di hati utusan Warung Podjok. 

Agnes menulis, 
“Menurut sudut pandang saya, kegiatan-kegiatan waktu di El Betel menyenangkan sekali karena saya bisa bertemu teman-teman yang berada di luar Solo. Di sana kegiatannya menarik karena bisa memperdalam iman kita untuk berbuat baik kepada sesama maupun kepada diri sendiri.” 

Agung dan Wening menuliskan kesan berikut ini,  
“Kita diajarkan untuk melayani sesama, berbagi kebahagiaan kepada orang lain, dan menjadi orang muda yang 100 % Katolik dan 100 % Indonesia.” 

Wawan menyatakan,  
“Kegiatan yang dilakukan pada rekoleksi tersebut sangat menyenangkan. Terasa sekali rasa kekeluargaan antar peserta dan sangat menambah pengetahuan yang bermanfaat bagi generasi muda Katolik. Banyak sekali nilai yang saya dapatkan dari kegiatan ini, yaitu rasa kekeluargaan, spontanitas diri yang harus dikembangkan, cara membangun motivasi, mengetahui hal-hal yang daat menghalangi berkembangnya motivasi, pengetahuan tentang Gereja dan banyak sekali nilai-nilai serta pelajaran yang saya dapatkan dari kegiatan ini yang pasti sangat bermanfaat sekali bagi kaum muda seperti saya.” 

Kegiatan yang merupakan program tahunan Komisi Pendidikan Kevikepan Surakarta ini merupakan wadah yang dirindukan oleh para guru dan siswa-siswi Katolik. Dari kesan yang didapatkan, tampak ada keinginan besar untuk terlibat dalam kegiatan semacam ini. Terima kasih kepada Komisi Pendidikan Kevikepan Surakarta yang telah membuka kesempatan bagi kami untuk terlibat dalam kegiatan tersebut. Akhirnya, terima kasih kepada enam utusan Warung Podjok yang berani terlibat bersama teman-teman siswa-siswi se-Karesidenan Surakarta dalam kegiatan Pembinaan Guru Siswa tersebut.