Dasar Kitab suci yang paling kuat mengenai Maria Pengantara Segala Rahmat adalah kisah Perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11). Saat itu, Yesus menuruti permintaan ibuNya untuk membantu menyelesaikan masalah pada acara pesta kawin di Kana meski belum tiba saatnya tampil dan berkarya. Dalam kisah itu, Maria hanya menyampaikan permohonan kita kepada Yesus dan Yesuslah yang menyelesaikan persoalan. Yesus membawa permohonan kita kepada Bapa, tetapi Maria membawa permohonan kita kepada Yesus seperti dalam perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11). Saat Maria memberitahu peristiwa kehabisan anggur kepada Yesus, jawaban Yesus seperti menolak (Yoh 2:4). Meski demikian, Yesus kemudian mengabulkan permohonan Maria dengan mengubah air menjadi anggur. Peristiwa ini menunjukkan keampuhan peran Maria bagi kita di hadapan Yesus. Maria mengajarkan kepada kita apa yang harus dimohonkan, bagaimana cara memohon yang tepat melalui Yesus, dan juga kapan waktu yang tepat untuk memohon kepada Tuhan. Demikian pula Maria menunjukkan hal-hal apa yang harus kita lakukan agar permohonan kita bisa dikabulkan oleh Allah. Dengan demikian menjadi jelas, bahwa kehadiran Maria sama sekali tidak menghalangi atau mengaburkan kepengantaraan Yesus Kristus, tetapi malah membuat kepengantaraan itu semakin bersinar cemerlang. Kehadiran Maria tidak mempersulit kita dalam memohon kepada Allah, tetapi justru memperlancar terkabulnya doa permohonan kita. Dalam pengertian yang tepat seperti inilah Maria bisa disebut sebagai pengantara segala rahmat.
Dasar kisah Kitab Suci untuk gelar Keselamatan Orang Sakit yang paling kuat adalah ketika kita merenungkan Maria yang berdiri di bawah salib (Yoh 19:25-27). Di Golgota, Maria tidak dapat menghilangkan penderitaan fisik Putranya, tetapi ia tetap setia di sisiNya. Kehadiran Maria mengungkapkan kebenaran yang mendalam: kasih tidak selalu menghilangkan penderitaan, tetapi bisa meneguhkan di tengah penderitaan. Dengan cara yang sama, Maria menemani mereka yang merasa tak berdaya di hadapan penyakit. Ia mengajari kita untuk tidak kehilangan harapan ketika doa-doa tampaknya tidak dijawab dan untuk tidak percaya bahwa Tuhan telah melupakan kita ketika penderitaan terus berlanjut. Di bawah salib, Maria menunjukkan kepada kita bagaimana tetap setia bahkan ketika jalan terasa gelap. Melalui teladan keibuan Maria, Keselamatan Orang Sakit, setiap orang Katolik dipanggil untuk menjadi perpanjangan belas kasih Allah. Melalui gelar ini, Gereja meniru kasih Maria lewat tindakan mengunjungi orang sakit, menghibur orang yang menderita, merawat orang yang rentan, dan berdoa bagi mereka yang tidak dapat berdoa bagi diri mereka sendiri.
Gereja Katolik menaruh penghormatan khusus kepada orang yang berkekurangan dan lemah. Orang sakit dan cacat perlu ditolong untuk melangsungkan kehidupannya senormal mungkin. Gereja Katolik memberikan pelayanan khusus yang sering disebut pastoral orang sakit berdasarkan Kitab Suci (Yak 5:14-15). Melalui teladan keibuan Maria, Keselamatan Orang Sakit, setiap orang Katolik dipanggil untuk menjadi perpanjangan belas kasih Allah. Melalui gelar ini, Gereja meniru kasih Maria lewat tindakan mengunjungi orang sakit, menghibur orang yang menderita, merawat orang yang rentan, dan berdoa bagi mereka yang tidak dapat berdoa bagi diri mereka sendiri.
Gereja Katolik menaruh penghormatan khusus kepada orang yang berkekurangan dan lemah. Orang sakit dan cacat perlu ditolong untuk melangsungkan kehidupannya senormal mungkin. Gereja Katolik memberikan pelayanan khusus yang sering disebut pastoral orang sakit berdasarkan Kitab Suci (Yak 5:14-15). Gereja Katolik mempunyai hari khusus untuk mendoakan orang sakit di seluruh dunia setiap tanggal 11 Februari yang dikenal dengan Hari Orang Sakit Sedunia. Tanggal itu merupakan peringatan bagi Bunda Maria Lourdes dan menjadi saat bagi semua orang beriman untuk meluangkan “waktu khusus untuk berdoa dan berbagi kepada saudara-saudara yang menderita sakit.”
Orang sakit pasti memiliki keterkaitan dengan obat. Berkaitan dengan penggunaan obat, terutama obat yang berbahaya, Gereja Katolik pertama-tama mengambil alih pandangan sesuai hukum negara sejauh tidak bertentangan dengan iman dan moral. Pemakaian obat yang memiliki resiko bahaya (termasuk narkotika) tetap diperbolehkan asal diawasi dan dikendalikan oleh orang yang ahli dalam bidang medis (dokter atau paramedis). Gereja Katolik menganggap penyalahgunaan obat berbahaya atau narkoba (baik pemakaian, pembuatan secara ilegal, dan perdagangan gelap) sebagai hal yang tidak bermoral karena narkoba membuat seseorang tidak dapat berpikir dan menilai secara wajar serta mengakibatkan kerusakan tubuh (Katekismus Gereja Katolik 2291).
“Pemakaian narkotika mengakibatkan kerugian besar bagi kesehatan dan kehidupan manusia. Selain penggunaan obat-obatan karena alasan medis semata-mata, pemakaian narkotika merupakan kesalahan susila yang bobotnya berat. Pembuatan narkotika secara tersembunyi dan perdagangan narkotika sungguh memalukan; oleh daya godanya, mereka secara langsung turut menyebabkan pelanggaran-pelanggaran berat melawan hukum moral”
(Katekismus Gereja Katolik 2291)
Berkenaan dengan zat lain yang menimbulkan efek bagi tubuh diluar narkoba (seperti rokok, alkohol, dan obat-obatan ringan), Gereja menyarankan kebajikan untuk pengendalian diri. Barangsiapa yang terjerumus pada tindakan berlebihan berkaitan dengan zat tersebut dianggap sebagai dosa (Katekismus Gereja Katolik 2290).
“Kebajikan penguasaan diri menjauhkan segala bentuk keterlaluan: tiap penggunaan makanan, minuman, rokok, dan obat-obatan yang berlebihan. Siapa yang dalam keadaan mabuk atau dengan kecepatan tinggi membahayakan keamanan orang lain dan keamanannya sendiri di jalan, di air, atau di udara, membuat dosa besar”
(Katekismus Gereja Katolik 2290)
Santo Bernardus dari Clairvaux (1090-1153)




.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)