Kamis, 11 Februari 2016

Ajakan untuk Semakin Menghayati Hidup Bersama sebagai Keluarga Allah

Sabtu (16/1), suasana Aula Gereja Katolik San Inigo Dirjodipuran berubah dari yang biasanya sepi menjadi ingar bingar. Hari itu, warga Kristiani SMK Negeri 3 Surakarta, baik dari siswa-siswi kelas X, XI, dan XII sampai Bapak Ibu Guru dan Karyawan memadati ruangan aula untuk mengadakan Perayaan Natal Bersama Keluarga Besar Kristiani SMK Negeri 3 Surakarta. Perayaan Natal Bersama ini mengambil tema sesuai dengan tema Natal Nasional, yaitu HIDUP BERSAMA SEBAGAI KELUARGA ALLAH. Tahun ini, Natal dikoordinir oleh Catharina Vivi Wijayanti dari Sub Seksi Kerohanian Katolik. Karena yang menjadi panitia tahun ini dari Kerohanian Katolik, pelaksanaannya pun di Gereja Katolik. Tradisi ini sudah dimulai tahun lalu. Sejak tahun lalu, Perayaan Natal diadakan di luar sekolah. Tahun yang lalu, Perayaan Natal diselenggarakan di GBI Gading. Tahun ini, giliran Perayaan Natal diadakan di Gereja Katolik San Inigo Dirjodipuran.

Penyelenggaraan Perayaan Natal tahun ini tidak lepas dari perjuangan panitia yang begitu gigih. Sebenarnya, panitia Natal sudah sejak lama merencanakan kegiatan ini. Sudah sejak awal Desember diadakan rapat dan dibuat proposal. Namun, proposal tersebut memerlukan waktu yang panjang untuk diperjuangkan sehingga perayaan Natal kali ini layak disebut perayaan Natal yang penuh perjuangan. Tidak sedikit hambatan dan kedala yang dihadapi oleh panitia, tetapi yang perlu sangat dihargai adalah kegigihan panitia untuk memperjuangkan acara ini sehingga acara ini dapat berlangsung dengan baik. Tidak mudah menyatukan gerak bersama dan kadangkala gerak bersama ini diliputi oleh kesalahpahaman. Oleh karena itu, salut untuk panitia yang telah memperjuangkan dan mengelola acara ini dengan baik. Perayaan Natal Bersama ini dimulai sekitar pukul 09.30. Seperti biasanya, puji-pujian dilantunkan untuk membuka perayaan. Setelah beberapa pujian, diadakanlah penyalaan lilin oleh Romo Agustinus Sudarisman, Bapak Sutopo Priyo Hutomo, Penjaga Podjok, dan Ketua Panitia Natal 2015 SMK Negeri 3. Setelah itu, disambung dengan firman yang diberikan oleh Romo Agustinus Sudarisman. 
Dalam renungannya, Romo Sudarisman mengajak para warga Kristiani SMK Negeri 3 Surakarta untuk semakin menghayati hidup bersama sebagai keluarga Allah. Warga Kristiani SMK Negeri 3 Surakarta sebenarnya sudah menghayati hidup bersama sebagai keluarga Allah karena setiap hari warga Kristiani sudah hidup bersama dengan warga SMK Negeri 3 yang beragama lain. Ketika seorang Kristiani hidup bersama dengan orang yang beragama lain, sebenarnya sudah dihayati hidup bersama sebagai keluarga Allah karena orang beragama lain itu pun juga menyembah Allah. Bukankah kita semua orang beragama menyembah Allah yang sama dan hidup sebagai keluarga Allah yang sama? Hidup bersama sebagai keluarga Allah berarti menghargai orang lain juga sebagai keluarga Allah meskipun orang tersebut memiliki cara yang berbeda untuk menyembah Allah. Namun, Gereja juga tetap mewartakan bahwa Yesus adalah jalan kebenaran dan hidup. Ini sejalan dengan apa yang diamanatkan oleh Konsili Vatikan II melalui dokumen Nostra Aetate, “Gereja katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, Tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun, Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya” (NA 3). Melalui Natal kali ini, warga Kristiani SMK Negeri 3 diajak untuk semakin hidup bersama sebagai keluarga Allah bersama dengan warga SMK Negeri 3 yang memeluk iman dan kepercayaan lain. 
Setelah renungan, acara kembali dilanjutkan sampai kira-kira pukul 11.30. Ibu Kepala Sekolah berkenan memberikan sambutan. Ada berbagai pertanyaan untuk membagikan doorprize. Ada banyak foto-foto narsis yang diambil bersama.  Perayaan Natal kali ini tampak lebih guyub karena banyak Bapak Ibu Guru dan Karyawan Kristiani yang hadir. Terima kasih kepada Bapak Ibu Guru Kristiani yang sudah berkenan hadir. Namun sayang, Pembina Kerohanian Kristen SMK Negeri 3, Bapak Heru Siswanto, tidak dapat hadir karena baru pulang dari perjalanan melayat keluarga di Malang. Meskipun demikian, tentu Bapak Heru Siswanto mendukung dalam doa sehingga acara tersebut dapat berjalan dengan lancar. Terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam Perayaan Natal Bersama kali ini. Semoga Tuhan semakin memampukan kita untuk hidup bersama sebagai keluarga Allah.


Rangkaian Perayaan Natal tersebut ditutup dengan rapat evaluasi. Rapat Evaluasi kali ini membahas banyak seputar pelaksanaan Perayaan Natal Bersama 2015. Ada banyak masukan, gagasan, dan usulan untuk lebih membuat semuanya baik. Kiranya semua hal yang disampaikan membuat semuanya menjadi lebih baik. Rapat evaluasi ini juga sekaligus menentukan panitia untuk pelaksanaan Retret untuk peserta didik baru. Terima kasih kepada seluruh panitia yang telah merelakan waktu dan tenaganya untuk menyelenggarakan Perayaan Natal Bersama pada tahun ini. Tuhan memberkati kita semua.

Jumat, 22 Januari 2016

Menyiapkan Diri untuk Merasakan Kerahiman Allah

Tahun ini, kita mengalami masa yang sangat luar biasa. Tahun ini, kita memasuki masa yang ditetapkan oleh Paus Fransiskus sebagai Tahun Yubelium Luar Biasa. Pada perayaan syukur dua tahun diangkat sebagai pimpinan tertinggi Gereja (13 Maret 2015), Paus Fransiskus mengumumkan tahun 2016 sebagai Tahun Suci (Yubileum) Luar Biasa Kerahiman Allah. Tahun Suci ini dimulai pada tanggal 8 Desember 2015 (Pesta Maria dikandung tanpa noda dan peringatan 50 tahun penutupan Konsili Vatikan II) dan akan berakhir pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, tanggal 20 November 2016. Pemakluman resmi dilakukan oleh Paus Fransiskus pada Hari Minggu Kerahiman Ilahi, 11 April 2015, dengan mengeluarkan bulla yang berjudul “Misericordiae Vultus” (Wajah Kerahiman). 
Tahun Suci (Yubelium) berasal dari tradisi Perjanjian Lama. Setiap lima puluh tahun, Tahun Suci dirayakan untuk mengembalikan keseimbangan hidup bersama sebagai Umat Allah. Pada tahun itu semua warga Umat Allah yang menjadi hamba harus dibebaskan, semua tanah yang dijual harus dikembalikan kepada pemiliknya, semua hutang dihapus (lih. Im 25). Gereja mengambil alih tradisi ini dan sejak tahun 1475, atas penetapan Paus Paulus II, merayakannya setiap 25 tahun. Tahun Suci Biasa terakhir kita rayakan pada tahun 2000, ketika umat manusia memasuki milenium yang ketiga. Selain Tahun Suci Biasa, Gereja juga merayakan Tahun Suci Luar Biasa. Tahun Suci Luar Biasa terakhir kita rayakan pada tahun 1983, untuk mengenangkan seribu sembilan ratus lima puluh tahun karya penebusan Kristus. 
Tema yang diambil untuk Yubelium ini adalah "Berbelaskasih seperti Allah - Merciful Like the Father" (Luk 6:36). Tema ini merupakan undangan bagi setiap orang untuk mengikuti teladan belas kasih seperti yang dilakukan Allah, yang mengajak kita tidak untuk mengadili atau mengutuk, tetapi untuk memaafkan, mencintai, dan memberikan pengampunan tanpa batas (lih, Luk 6:37-38). Logo Yubelium Kerahiman Allah dibuat oleh RP Marko I. Rupnik, SJ. Logo ini menampakan gagasan teologis mengenai belas kasih. Logo itu menampakkan gambar yang memiliki arti penting dalam kehidupan Gereja Perdana, dimana tergambar Sang Putera yang memanggul jiwa-jiwa yang hilang. Logo ini menunjukkan cinta Kristus yang mengarahkan pemenuhan misteri inkarnasiNya yang berpuncak pada penebusan. Logo ini didesain sedemikian rupa agar mengeskpresikan bagaimana Sang Gembala Baik menyentuh kemanusiaan dan kedagingan dengan cinta yang mampu mengubah hidup seseorang. Unsur unik yang perlu diperhatikan dalam logo itu adalah bahwa ketika Sang Gembala Baik, dalam belas kasihnya yang amat besar, memanggul manusia, mata Sang Gembala Baik bersatu dengan manusia yang dipanggulnya. Kristus melihat dengan mata Adam dan Adam melihat dengan mata Kristus. Setiap orang menemukan Adam baru dalam diri Kristus. Setiap orang yang memiliki rasa kemanusiaan dan masa depan merenungkan cinta kasih Allah dalam Kristus.
Dalam bulla pemakluman Tahun Suci Luar Biasa ini, Paus Fransiskus menyatakan, “Janganlah jatuh ke dalam pola pikir yang mengerikan, yang beranggapan bahwa kebahagiaan bergantung pada uang dan bahwa, dibandingkan dengan uang, semua yang lain tidak ada nilai atau martabatnya… Kekerasan yang ditimpakan kepada orang lain demi menimbun kekayaan yang berlumuran darah tidak akan mampu membuat seorang pun berkuasa atau tidak mati.” Dalam tulisan yang sama, Paus juga menyinggung gejala korupsi dan menulis, “Luka-luka bernanah akibat korupsi merupakan dosa berat yang berteriak keras ke surga untuk mendapatkan pembalasan, karena luka itu merongrong dasar-dasar kehidupan pribadi dan masyarakat. Korupsi membuat kita tidak mampu melihat masa depan dengan penuh harapan, karena kerakusannya yang lalim itu menghancurkan harapan-harapan kaum lemah dan menginjak-injak orang yang paling miskin di antara kaum miskin. Korupsi adalah …skandal publik yang berat.” Di tengah-tengah keadaan dunia yang seperti inilah, Paus Fransiskus mengajak kita semua untuk memperdalam pemahaman dan keyakinan kita bahwa Allah adalah Maharahim, mengalaminya secara pribadi, menjalankan pertobatan dan mewujudkan pertobatan itu dalam kehidupan yang nyata.
Dalam Tahun Suci Kerahiman Allah ini, Paus mengajak kita semua untuk merefleksikan kerahiman Allah melalui pewartaan Nabi Zefanya. Pertama, Tuhan telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atas umat-Nya (3:15). Kedua, Ia hadir di tengah-tengah umat-Nya (3:17) menyatakan belarasa dan kesetiakawanan-Nya. Ketiga, Ia membarui umat dengan kasih-Nya (3:17). Kerahiman Allah itu menjelma dan masuk ke dalam sejarah umat manusia, dalam diri Yesus Kristus. Dialah wajah sempurna kerahiman Allah. “Semoga warta kerahiman menjangkau setiap orang, dan semoga tidak seorang pun acuh tak acuh terhadap panggilan untuk mengalami kerahiman-Nya. Dengan penuh harapan saya menyampaikan undangan untuk bertobat ini kepada orang-orang yang perilaku hidupnya menjauhkan mereka dari rahmat Allah.” Kita dipanggil untuk menampakkan wajah belas kasih Allah. Ada pihak-pihak tertentu yang secara khusus diundang untuk menjalankan pertobatan, antara lain para pelaku dan organisasi-organisasi kriminal, para koruptor, orang-orang yang menjadikan uang sebagai berhala baru. 
Lalu, apa yang dapat kita perbuat dalam Tahun Suci Kerahiman Allah ini? Laman Youcat Indonesia membantu kita dalam melewatkan waktu dengan membangun kehidupan rohani selama masa khusus ini. 



Kita semua diajak untuk bertobat, memperbarui haluan hidup dan mewujudkannya dalam tindakan nyata. Dengan demikian, kita bisa merasakan dan membagikan kerahiman Allah yang begitu besar. Apa pun yang baik dapat kita lakukan untuk mewartakan kerahiman Allah yang membaharui kehidupan. Tuhan memberkati. 

Sumber:
http://www.im.va/content/gdm/en/giubileo/logo.html
https://www.facebook.com/youcatid/
Komisi Liturgi dan Jaringan Persaudaraan Antar Kelompok Doa (Jaringan KODOK) KAS. Panduan Umum Tahun Yubelium Kerahiman Allah Keuskupan Agung Semarang. Muntilan: Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan. 2016.

Senin, 18 Januari 2016

Dibuang Sayang: Rangkaian Catatan Peristiwa Ruang Podjok 2015

Sudah lama sekali Penjaga Podjok tidak menulis di laman ini. Tulisan terakhir dibuat sepeninggal Monsinyur Johanes Pujasumarta pada bulan November lalu. Saat itu, Penjaga Podjok sedang banyak pekerjaan. Lagipula, Ruang Podjok mengalami perbaikan sehingga harus berpindah ke lantai 3 untuk sementara karena Ruang Podjok sedang terdampak pembangunan ruang kelas baru. Ketidaknyamanan inilah yang membuat Penjaga Podjok tidak jenak di ruang baru sehingga tidak muncul ide untuk tulis menulis. Di awal tahun 2016 ini, Ruang Podjok sudah kembali normal. Kenormalan di Ruang Podjok ini pun menggerakkan hati untuk kembali menulis berbagai peristiwa yang telah terlewat. Tulisan ini sedikit demi sedikit akan mencoba merekam aktivitas yang telah terlewat. Semoga catatan-catatan yang sayang untuk dibuang ini menjadi pengingat bahwa jantung kehidupan Ruang Podjok Agama Katolik di SMK Negeri 3 Surakarta tetap hidup. 

Diskusi Bulan Kitab Suci Nasional pada bulan September 
Rekaman peristiwa terakhir yang sempat ditulis oleh Penjaga Podjok adalah seputar kegiatan awal tahun pelajaran yang terjadi bulan Agustus. Saat itu, semua warga Ruang Podjok mengadakan pertemuan awal tahun dan Ekaristi untuk menentukan arah ke depan. Memasuki bulan September, seturut dengan geliat yang ada dalam Gereja Katolik Indonesia, Ruang Podjok mengadakan kegiatan pertemuan bulan Kitab Suci Nasional. Pertemuan ini diadakan sebanyak dua kali yang diadakan seperti biasa pada bulan ganjil. Tema yang didalami dalam pertemuan tahun 2015 adalah “Keluarga Melayani Seturut Sabda Allah.” Tema BKSN 2015 meru-pakan kelanjutan dari tema tahun 2014 dan 2013 yang juga bicara seputar keluarga. Sudah sejak 2013, BKSN bicara mengenai keluarga: “Keluarga Beribadah dalam Sabda” (2014) dan “Keluarga yang Bersekutu dan Mendengarkan Sabda Allah” (2013). Tema 2013 mengajak keluarga untuk menghayati sabda Allah sebagai penuntun hidup. Tema 2014 mengajak keluarga melakukan ibadah menurut sabda Allah. Melalui tema tahun 2015, keluarga diharapkan mampu menggunakan sabda Allah sebagai dasar dan semangat pelayanan yang dilakukan dalam  kehidupan. 

Pertemuan pertama yang diadakan Jumat (4/9) membahas keberadaan Yesus dalam keluarga dan meneladani pelayananNya. Disana dilihat bagaimana Yesus menjadi teladan pelayanan dalam keluarga dan bagaimana keluarga dapat  saling melayani seturut teladan Yesus dengan bahan Yoh 13:1-15 dan Kol 3:18-4:1. Seperti biasa, ada beberapa pertanyaan yang perlu dibicarakan dalam pertemuan itu. Masing-masing kelompok membahas pertanyaan-pertanyaan yang harus ditanggapi. 

Setelah diskusi kelompok, secara bersamaan dibahas mengenai arti “pelayanan.” Orang Katolik sangat akrab dengan kata “pelayanan.” Dalam berbagai kesempatan, kita banyak menggunakan istilah tersebut. Perjanjian Lama meng-gunakan kata “abad” yang berarti mengabdi atau melayani. Istilah itu ingin menyebut orang yang bekerja untuk orang lain. Pekerjaan yang ditujukan untuk kepentingan orang lain akhirnya disebut pengabdian atau pelayanan. Perjanjian Baru menggunakan beberapa kata: “diakonia” – pekerjaan rumah), “diakoneo” – melayani, “diakonos” – orang  yang melayani meja), dan “diakonat” – jabatan pelayanan jemaat dalam Gereja. Semua istilah dalam Perjanjian Baru itu merujuk pada pekerjaan yang ditujukan bagi kepentingan orang lain, baik dalam jemaat, rumah tangga, maupun persekutuan lain. Dalam tradisi Gereja Katolik, Yesus merupakan model pelayanan yang diikuti. Paulus sendiri mengatakan kepada jemaat agar menjadi pengikut Kristus (1 Kor 11:1). Mengikuti teladan Kristus, umat beriman diundang untuk hidup “dalam Kristus.”   Paulus menyebutnya “mengenakan   Kristus” meninggalkan manusia lama dan hidup seperti Kristus. Dalam pelayananNya, Yesus menghayati dua peran, yaitu Hamba Allah Yang Menderita (Mrk 9:31; 10:33) dan Anak Manusia yang Datang untuk Melayani (Mat 20: 28). Kristus menjadi teladan pelayanan karena telah memberikan dirinya sendiri kepada orang lain, bahkan rela mati untuk kepentingan orang lain lewat jalan salib (Rm 12:1-2). Yang menjadi dasar pemberian diri Kristus ini adalah kasih tanpa batas. Kasih tanpa batas ini dinyatakan lewat pemberian nyawa (Ef 5:1-2). Kasih harus dinyatakan lewat perbuatan. Kasih kepada Allah dinyatakan melalui kasih kepada sesama dan kasih itu harus dilakukan lewat tindakan harian (1 Yoh 4:7-8. 20). Salah satu wujud kasih dalam tindakan itu adalah pelayanan kepada sesama. Karena kasih harus dinyatakan lewat pelayanan, Yesus pun melibatkan manusia yang lain untuk melaksanakan kasih itu. Dalam hal ini, Yesus pertama-tama memanggil dua belas rasul. Mereka diutus untuk   memberikan pelayanan kepada sesamanya (Mrk 3:13-15). Selain itu, Yesus juga memanggil tujuh puluh murid yang lain untuk diutus dengan tugas yang mirip dengan dua belas rasul (Luk 10:1-12). Bahkan, di dalam kelompok yang dibentuk Yesus dalam perjalanan pelayananNya, juga ada perempuan-perempuan yang memberikan pelayanan kepada kelompok tersebut (Luk 8:3). Seruan Yesus untuk melayani juga berlaku dalam keluarga kristiani. Allah menjadi alasan keluarga kristiani untuk melayani dan mengasihi. Dalam setiap keluarga kristiani, harus ada sikap pelayanan dan kasih. Perlu disadari bahwa setiap anggota keluarga memerlukan pelayanan dan kasih yang saling dibagikan. Dalam keluarga, suami istri memerlukan dukungan, kekaguman, ucapan terima kasih, perhatian, komunikasi, kejujuran, dan keter-bukaan yang akan menguatkan. Anak-anak memerlukan rasa dipercaya, diterima, dipahami, didukung, dikasihi, disayangi, diberi kebebasan, yang akan meneguhkannya. Jika masing-masing kebutuhan dasar anggota keluarga ini terpenuhi, tangki cinta yang dalam keluarga akan selalu penuh dan tidak akan mencari pemenuhan di tempat lain. Bagaimana anggota keluarga dapat saling memenuhi tangki cinta yang ada di setiap anggota keluarga? Untuk memenuhi tangki cinta itu, ada lima hal yang bisa dilakukan: 
1) Kata-kata peneguhan. Kata-kata peneguhan dapat berupa kata-kata yang menegaskan, memantapkan, mendorong, menyenangkan, memohon, memuji, berterima kasih; 
2) Waktu bersama khusus. Waktu bersama merupakan waktu khusus yang diluangkan untuk berelasi dengan sesama anggota keluarga, omong-omong, bepergian bersama, rekreasi bersama, dll; 
3) Hadiah. Hadiah berupa pemberian yang dilakukan dengan hati yang tulus dan perhatian yang penuh kepada sesama anggota keluarga untuk saat istimewa, rasa terima kasih, dll.; 
4) Pelayanan. Pelayanan berupa tindakan yang ditujukan demi kepentingan sesama anggota keluarga dan bukan untuk kepentingan diri sendiri; dan 
5) Sentuhan fisik. Sentuhan fisik dapat berupa pelukan, sentuhan tangan, bergandengan tangan, dan berbagai aktivitas fisik yang memperlihatkan perhatian kepada sesama anggota keluarga. 
Semoga dengan begitu, kita mampu untuk meneladan sikap pelayanan Yesus untuk melakukan sesuatu demi orang lain dalam keluarga kita sendiri terlebih dahulu.
Dua minggu kemudian, hari Jumat (18/9), diadakanlah pertemuan kedua BKSN. Dalam pertemuan pertama, sudah dibahas bagaimana Yesus menjadi teladan pelayanan kita dan bagaimana kita seharusnya memberikan pelayanan dan keluarga. Yesus memberikan model sebagai pelayan yang rendah hati dan keluarga perlu memberikan pelayanan sebagai bentuk perhatian dan cinta kasih antar anggota keluarga. Pertemuan kedua mengajak untuk mencermati bagaimana keluarga bisa melayani Gereja dan bagaimana keluarga bisa melayani masyarakat dengan bahan: Luk 10:38-42 dan 1 Ptr 2:13-17. Model pembahasan tema masih dilakukan dengan diskusi kelompok dengan menjawab pertanyaan. 

Setelah itu ada beberapa pokok yang perlu ditekankan. Dari Injil Lukas, kita belajar mengenai pelayanan dalam Gereja. Penginjil Lukas menempatkan sikap Marta dan Maria dalam posisi sejajar. Penginjil tidak bermaksud menilai dan tidak menyuruh kita untuk membuat pilihan. Marta memang berusaha menjadi tuan rumah yang baik dan Yesus menghargainya.Namun, Yesus mau memberi arti yang lebih dalam atas pertemuan itu. Saat berhadapan dengan Yesus, ada sesuatu yang lebih perlu, yaitu mendengarkan. Maria menangkap mak-sud kedatangan Yesus. Dengan mendengarkan Yesus, Maria menangkap yang dikehendaki oleh Yesus. Mendengarkan Yesus adalah jalan masuk untuk mengasihiNya. Menjalankan aktivitas untuk memberikan pe-layanan dalam Gereja merupakan perbuatan terpuji. Namun, jangan sampai pelayanan dan aktivitas itu tidak memiliki makna bagi kita sendiri. Karena itu, sebelum melakukan sesuatu, kita perlu mendengarkan sabda Allah. Teladan mendengarkan sabda Allah ini telah diteladankan oleh Maria. 
Selain menjalankan aktivitas dalam Gereja, orang Katolik juga diminta untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pelayanan kita kepada masyarakat harus dilandasi dengan sikap pengabdian kepada Allah. Pelayanan kepada Allah dihayati sebagai wujud pelayanan atau sembah bakti kita kepada Allah (Kol 3:23). Surat Petrus mengajarkan bahwa jemaat harus patuh kepada pemerintah namun juga harus memberikan kritik apabila ada hal-hal yang menyimpang dalam pemerintahan. Oleh karena itu, dasar kepatuhan jemaat adalah Allah. Jika ada yang menyimpang, jemaat perlu mengingatkan karena Allah adalah dasar segala kebenaran. Orang Kristiani harus menghormati semua orang karena setiap orang adalah makhluk Tuhan yang dipanggil untuk hidup mulia. Sikap penghormatan itu tampak pada sikap melayani semua orang. Kita harus memberikan pelayanan kepada setiap orang yang kita jumpai tanpa membeda-bedakan. Setiap manusia adalah saudara. Berkenaan dengan pelayanan kepada masyarakat, kita diberi contoh oleh para pahlawan nasional yang beragama Katolik: Albertus Soegijapranata, Ignatius Slamet Riyadi, Yosafat Sudarso, Agustinus Adisoetjipto, serta Ignatius Jozef Kasimo. Orang Katolik di Indonesia mendapat warisan berharga dari Monsinyur Albertus Soegijapranata yang pernah mengatakan bahwa orang Katolik Indonesia harus menjadi 100 % Katolik dan 100 % Nasional. Panggilan kita adalah menjadi benar-benar umat Katolik dan benar-benar warga negara Indonesia.
Dua pertemuan BKSN ini diharapkan mampu mendorong semua anggota Ruang Podjok untuk semakin melayani dengan tulus di manapun dan dalam situasi apapun. Semoga demikian yang terjadi.

Menghormati Maria di Bulan Oktober
Memasuki bulan Oktober, Gereja Katolik mengajak seluruh warganya untuk menghormati Maria, Bunda Gereja yang Tersuci. Ruang Podjok pun tidak ketinggalan untuk mengadakan kegiatan yang berkenaan dengan penghormatan pada Maria. Kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan yang sangat sederhana, yaitu devosi kepada Maria melalui Doa Rosario. Ada banyak orang kudus yang memiliki devosi Rosario ini. Doa Rosario ini juga dilakukan untuk sekaligus menandai peristiwa peringatan Bunda Maria sebagai Ratu Rosario setiap tanggal 7 Oktober untuk mengenang kemenangan armada Kristiani dalam pertempuran di Lepanto. 

Bulan Oktober juga menjadi penanda usia Ruang Podjok yang semakin bertambah. Tahun 2015, Ruang Podjok berulang tahun yang keempat. Usia empat tahun adalah usia yang masih perlu banyak belajar dan berkembang. Semoga ke depan, Ruang Podjok semakin dapat mengembangkan para warganya. Empat tahun sudah Ruang Podjok ini berkiprah. Diharapkan dari tahun ke tahun, pelayanan yang diberikan bisa semakin berkualitas.

Kebaktian Bersama Minggu Kelima Bulan Oktober

Menutup bulan Oktober, Ruang Podjok bersama dengan teman-teman dari Kerohanian Kristen mengadakan kebaktian bersama. Direncanakan kebaktian semacam ini akan terselenggara setiap ada Minggu Kelima. Hal ini diharapkan semakin membangun persaudaraan dan persekutuan antar sesama murid Kristus meskipun berbeda gereja dan berbeda aliran Kristiani. Kebaktian bersama ini dilaksanakan pada hari Jumat (30/10) terakhir dalam bulan Oktober. Beberapa hari sebelum kebaktian bersama itu, siswa-siswi Kristen dan Katolik telah menyiapkan kegiatan dengan baik. Mereka mulai berlatih bernyanyi dan bermusik. Mereka mencari pembicara yang akan menyampaikan firman. Mereka meminta ijin kepada sekolah untuk menggunakan tempat yang lebih luas daripada ruangan agama. Banyak hal yang telah dilakukan sehingga acara tersebut akhirnya dapat dilaksanakan di Aula SMK Negeri 3 Surakarta. 
Dalam kebaktian bersama itu, datanglah seorang pembicara muda bernama Henokh Anugrah Adhi Bargowo. Teman muda ini memberikan pelayanan di Kantor Pelayanan Notosuman. Kesaksian demi kesaksian dilontarkan yang membuat banyak teman-teman Kristiani semakin ditantang untuk menampilkan imannya tentang Yesus kepada orang banyak. Kebaktian yang terlaksana sampai jam 13.00 ini pun membawa semangat bagi siswa-siswi Kristiani. Memang... harus disadari bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Semoga siswa-siswi Kristiani semakin mampu mewartakan iman mereka tanpa takut. 

Mendalami Indulgensi di Bulan November
Kegiatan Ruang Podjok terakhir yang dapat dilaksanakan di tahun 2015 adalah Sekolah Iman. Sekolah Iman bulan November ini bicara mengenai indulgensi dalam Gereja Katolik. Dalam sekolah iman ini, Penjaga Podjok sudah menyiapkan teks untuk pembahasan bersama yang diambil dari website katolisitas. Ada dua laman yang sempat dikutip, yaitu: yang pertama adalah http://www.katolisitas.org/2193/indulgensi-harta-kekayaan-gereja dan yang kedua adalah http://www.katolisitas.org/8829/bagaimana-agar-memperoleh-indulgensi. Diharapkan dengan bahan-bahan ini, para pengikut Sekolah Iman menjadi paham tentang indulgensi dan dapat mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.



Belajar Bersama Teman-teman Guru Menelaah Kurikulum 2013
Di sela-sela waktu berkegiatan di Ruang Podjok, Penjaga Podjok di tahun 2015 diberi kepercayaan oleh Kantor Kementrian Agama Kota Surakarta untuk memberikan pendampingan kepada teman-teman Guru Agama Katolik dari SD sampai SMA-SMK untuk semakin mendalami Kurikulum 2013. Sebagai tindak lanjut dari Bimbingan Teknis Kurikulum 2013 yang diselenggarakan pada bulan Juli 2015, Penjaga Podjok diminta untuk membagikan ilmu yang didapatkan kepada teman-teman Guru Agama Katolik di wilayah Surakarta. Ada dua kesempatan dimana Penjaga Podjok diminta untuk berbicara dalam forum tersebut, yaitu pada tanggal 27 Agustus 2015 dan 4 November 2015 di Hotel Sarila, Jalan Kalilarangan 103, Surakarta. Materi yang disampaikan Penjaga Podjok saat itu adalah Penilaian dalam Kurikulum 2013. 



Menjadi penyampai materi bukan berarti Penjaga Podjok tahu segala akan materi yang disampaikan. Penjaga Podjok lebih menempatkan diri sebagai orang yang lebih dulu tahu tentang materi yang dibicarakan dan siap menjadi orang yang mau belajar jika ada orang lain yang memberikan wawasan baru. Penjaga Podjok menekankan bahwa penilaian dalam Kurikulum 2013 adalah penilaian yang menggunakan pendekatan penilaian autentik. Penilaian Autentik adalah bentuk penilaian yang menghendaki peserta didik menampilkan sikap, menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari pembelajaran dalam melakukan tugas pada situasi yang sesungguhnya. Penilaian dalam Kurikulum 2013 juga harus memenuhi prinsip-prinsip berikut: Sahih, Objektif, Adil, Terbuka, Terpadu, Menyeluruh dan Berkesinambungan, Sistematis, Beracuan Kriteria, Akuntabel, dan Edukatif. Kesempatan belajar bersama selama sehari dalam dua kesempatan itu dimanfaatkan sungguh oleh Penjaga Podjok untuk membagikan wawasan kepada teman-teman Guru Agama Katolik. Harapannya, jika semua guru benar-benar paham tentang Kurikulum yang dihadapinya, niscaya pelayanan kepada siswa akan menjadi lebih baik. Terima kasih kepada Ibu Penyelenggara Katolik Kementrian Agama Kota Surakarta yang telah memberi kepercayaan sebesar ini kepada Penjaga Podjok. Mengingat itu semua, Penjaga Podjok hanya bisa merenung sambil menelaah kutipan berikut ini, “Kami ini adalah hamba-hamba yang tidak berguna. Kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan” (Luk 17:10). Semoga wawasan yang sedikit dari hamba yang tidak berguna ini dapat membantu teman-teman Guru Agama Katolik untuk menjalankan tugas pelayanannya.

Menemani Panitia Natal Mempersiapkan Natal Bersama SMK Negeri 3 Surakarta
Di penghujung tahun 2015, ada tugas rutin yang selalu disandang oleh Penjaga Podjok dan Bapak Heru Siswanto, pembina Kerohanian Kristen, yaitu menemani panitia Natal untuk mempersiapkan Natal Bersama Guru-Karyawan-Siswa-siswi Kristiani SMK Negeri 3 Surakarta. Seperti biasa, panitia telah berkumpul dan berdiskusi jauh hari sebelum perayaan dimulai. Setiap tahun, ketika Perayaan Natal disiapkan, selalu ada hal-hal yang menarik. Kisah seputar perayaan Natal akan diceritakan di bagian lain. Berkah Dalem...

Minggu, 15 November 2015

In Memoriam Monsinyur Johanes Pujasumarta: Meneladan Yesus, Sang Pelikan Sejati

"Aku sudah menyerupai burung undan di padang gurun, sudah menjadi seperti burung ponggok pada reruntuhan. Aku tak bisa tidur dan sudah menjadi seperti burung terpencil di atas sotoh" (Mzm 102:6-7)

"Pie Pellicane, Iesu Domine, veni in corde meo! O Pelikan yang saleh, Yesus Tuhan, datanglah dalam hati saya!" inilah status Blackbery Messenger milik Monsinyur Johannes Maria Trilaksyanta Pujasumarta, Uskup Agung Semarang sampai meninggalnya dengan gambar tiga pelikan yang sedang berenang di air yang tenang seperti yang terlihat pada gambar di bagian ini. Profil status itu pulalah yang mengiringi Monsinyur Pujasumarta masuk ke dalam kedamaian abadi, kembali ke rumah Bapa. Jauh sebelum menuliskan status itu, Monsinyur Puja telah menggubah lirik tersebut menjadi sebuah lagu yang berjudul "Pie Pellicane.Lagu ini merupakan pengembangan dari bait keenam lagu "Adoro te devote" ciptaan Santo Thomas Aquinas: “Pie pellicane, Iesu Domine, me immundum munda tuo sanguine; cuius una stilla salvum facere totum mundum quit ab omni scelere.” Lagu Thomas Aquinas itu mengisahkan Yesus, Sang Pelikan yang baik.
Pelikan menjadi simbol dalam Ekaristi dan sering dilukiskan pada dinding, kanvas, dan kaca patri. Kisah pelikan itu bercerita tentang burung pelikan yang mematuk leher dengan paruhnya sendiri supaya darah yang mengucur bisa menjadi makanan bagi anak-anaknya. Simbol ini ditemukan dalam Physiologus, sebuah karya Kristiani awal yang muncul sekitar abad kedua di Alexandria, Mesir. Karya ini disinggung oleh Santo Epifanius, Santo Basilius, dan Santo Petrus dari Alexandria. Karya ini menjadi terkenal pada Abad Pertengahan serta menjadi sumber simbol-simbol yang terukir pada batu atau karya seni pada saat itu. Dalam karya seni Kristiani, pelikan menyimbolkan pengurbanan Kristus yang paling sempurna di salib untuk keselamatan manusia. Seperti si pelikan, Kristus menumpahkan darahnya di salib untuk penebusan dosa kita dan Kristus menyerahkan dirinya sendiri dalam kurban Ekaristi untuk menyuburkan dan menguatkan kerohanian kita. Sepanjang prosesi persemayaman di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Randusari, Semarang sampai pemakaman di Seminari Tinggi Santo Paulus Yogyakarta, lirik lagu Pie Pellicane senantiasa mengiringi. 
Pendalaman Monsinyur Pujasumarta tentang burung pelikan ternyata sudah mulai dilakukan sejak awal karyanya di Keuskupan Agung Semarang. Pada peristiwa instalasi Uskup Agung Semarang pada tanggal 7 Januari 2011, Monsinyur Pujasumarta mendapatkan warisan tongkat gembala dengan simbol burung pelikan. Desain tongkat gembala itu disesuaikan dengan simbol yang dipakai oleh Kardinal Yustinus Darmojuwono. Sesudah Kardinal Damajuwono, pemakaian tongkat gembala itu dilanjutkan oleh uskup-uskup berikutnya. Pada peringatan Hari Pangan Sedunia Tahun 2011, Monsinyur Pujasumarta juga menulis refleksi tentang burung pelikan dalam Surat Gembala yang dibacakan pada tanggal 15-16 Oktober 2011. Kisah itu dinyatakan sebagai berikut:

Di kalangan bangsa burung ada kisah tentang keluarga burung pelikan di hutan yang subur. Konon, ketika musim kemarau tiba, kekeringan terjadi. Makhluk-makhluk hutan menderita, tidak terkecuali keluarga burung pelikan. Bencana kelaparan melanda hutan tersebut. Induk pelikan tidak diam saja menyaksikan anak-anaknya hampir mati kelaparan dan kehausan. Ada suara lirih namun jelas terdengar oleh induk pelikan, “Kamu harus memberi mereka makan!” Namun, tidak tersedia makan dan minum lagi untuk mereka. Induk pelikan tidak kehilangan akal. Ia sorongkan temboloknya, seakan berkata kepada anak-anaknya, “Makanlah tubuhku, minumlah darahku!”

Kisah burung pelikan ini nampaknya begitu menjadi inspirasi tersendiri bagi Monsinyur Pujasumarta sampai-sampai ia memiliki gagasan agar kolam yang akan dibangun di Pusat Pastoral Sanjaya Muntilah dirancang menjadi habitat burung pelikan seperti yang dituliskan pada tanggal 20 September 2014 ini:

Saya mendengar ada rencana untuk membuat kolam air di kawasan Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan (PPSM). Sebagai sarana animasi yang hidup saya berpikir, sangatlah baik bila kolam tersebut dirancang untuk menjadi habitat yang nyaman bagi burung pelikan. Pemeliharaan dan pengamatan langsung mengenai kehidupan pelikan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi hidup beriman kita.
Ayo kita bermimpi dapat berternak burung pelikan di PPSM. Siapa mau membantu untuk mewujudkan mimpi itu? May the dreams come true.

Yesus, Sang Pelikan Sejati, yang sudah mengurbankan tubuh dan darahnya sendiri demi keselamatan manusia, telah menjadi inspirasi yang tiada habisnya bagi Monsinyur Pujasumarta. Inspirasi rohani ini juga ditawarkan kepada kita. Kita diajak untuk meneladan Yesus, Sang Pelikan Sejati. Selamat jalan Monsinyur Pujasumarta. Selamat bertemu dengan Sang Pelikan Sejati, Yesus Kristus, yang telah memanggil Monsinyur Pujasumarta saat ini dan kami pada saatnya nanti menuju rumah kediaman abadi di surga. Terima kasih atas warisan ajaran yang ditinggalkan. Semoga kami juga boleh meneladan Yesus, Sang Pelikan Sejati. 

Jumat, 16 Oktober 2015

Surat Gembala Hari Pangan Sedunia Keuskupan Agung Semarang 2015

Saudari-saudaraku yang terkasih,
“Bumi sebagai Rahim Pangan Milik Bersama” adalah tema Hari Pangan Sedunia (HPS) yang dibuat oleh KWI untuk tahun 2015. Hari Pangan Sedunia diperingati setiap tanggal 16 Oktober. Sejarah peringatan HPS bermula dari konferensi “Food and Agriculturale Organization” (FAO) ke-20, bulan Nopember 1976 di Roma. Salah satu keputusan hasil konferensi tersebut adalah dicetuskannya resolusi No.179 mengenai World Food Day (Hari Pangan Sedunia). Resolusi disepakati oleh 147 negara anggota FAO, termasuk Indonesia, dan menetapkan mulai tahun 1981, semua Negara anggota FAO, memperingati HPS setiap tanggal 16 Oktober bertepatan dengan tanggal berdirinya FAO. HPS merupakan momentum ketika masyarakat dunia diajak merenungkan dan memperhatikan kembali keadaan pangan dunia.
Tujuan peringatan HPS untuk meningkatkan kesadaran dan perhatian masyarakat internasional akan pentingnya penanganan masalah pangan baik di tingkat global, regional, nasional maupun lokal. Peringatan HPS mendorong masyarakat dunia untuk memperhatikan produksi pangan pertanian, meningkatkan partisipasi masyarakat pedesaan dengan melibatkan perempuan, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang masalah kelaparan dunia,memperkuat solidaritas lokal, nasional dan internasional dalam perjuangan melawan kelaparan, kekurangan gizi dan kemiskinan serta meningkatkan pembangunan pangan berkelanjutan melalui dunia pertanian yang lestari. Upaya memberi perhatian pada pengembangan perkebunan, peternakan dan kelautan memerlukan usaha nyata untuk mewujudkan kedaulatan dan ketahanan pangan. Dengan tujuan mulia itu, kita semakin disadarkan bahwa HPS merupakan gerakan kemanusiaan, kesejahteraan, kepedulian dan solidaritas pangan. Sejak tahun 1982 Gereja Katolik Indonesia ikut berperan aktif dalam peringatan HPS. Gereja diutus membangun gerakan iman yang membentuk perilaku manusia untuk menghargai pangan dan kehidupan.
Umat Allah Keuskupan Agung Semarang terlibat dalam gerakan HPS ini. Gerakan HPS menjadi semakin nyata ketika pada tanggal 16 Oktober 1990, disponsori oleh Konferensi Uskup-Uskup Asia (FABC) diadakan seminar kaum tani se-Asia di Ganjuran. Dalam seminar tersebut dicetuskan Deklarasi Ganjuran sekaligus ditandai lahirnya wadah kaum tani dengan nama Paguyuban Tani Hari Pangan Sedunia.
Selanjutnya berkembang menjadi Paguyuban Tani-Nelayan HPS. Amanat pokok Deklarasi Ganjuran mengajak masyarakat untuk membangun pertanian dan pedesaan lestari yang: bersahabat dengan alam (ecologically sound), murah secara ekonomis sehingga tergapai (economically feasible), sesuai dengan/berakar dalamkebudayaan setempat (culturally adapted/rooted) dan berkeadilan sosial (socially just).
Injil hari ini menunjukkan pencarian makna kehidupan dan apa yang perlu untuk hidup yang kekal . Agar layak menjadi murid-murid Yesus Kristus kita berani bersikap atas harta kekayaan yang kita miliki dan tidak diperbudak olehnya. Dalam konteks gerakan HPS, ungkapan ini dapat kita maknai dengan berani menerapkan pola hidup secara baru, yaitu pola produksi dan konsumsi lestari, menentang konsumerisme dan memperjuangkan pertanian organik sebagai pola pertanian masa kini dan masa depan.
Peringatan HPS tahun 2015 menjadi istimewa karena bertepatan dengan peringatan 25 tahun Deklarasi Ganjuran. Menjadi sebuah peristiwa penting untuk mawas diri bagaimana kita sebagai umat beriman peduli terhadap kedaulatan dan solidaritas pangan serta keutuhan ciptaan. Ensiklik Paus Fransiskus “Laudato Si – Terpujilah Engkau Tuhan” memperteguh usaha kita untuk terus melestarikan lingkungan sebagai rumah bersama yang harus dijaga dan dirawat. Kebakaran hutan di lereng gunung Merapi-Merbabu serta kabut asap yang terjadi di tanah air kita akibat pembakaran lahan, pencemaran air dan tanah dari zat-zat polutan, posisi lemah para petani berhadapan dengan mekanisme pasar bukanlah hal yang jauh dari keadaan harian kita untuk kita sikapi.
Sejalan dengan Ensiklik Paus Fransiskus tentang Pertobatan Ekologis, Komisi PSE KWI telah merancang program HPS dengan tema besar “Mencintai dan Merawat Bumi untuk Pangan Sehat Bagi Semua” (2013-2015). Tema ini dijabarkan ke dalam tema tahunan. Tahun 2013 “Mencintai dan Merawat Bumi, tahun 2014 “Pangan Sehat Keluarga Sehat”, tahun 2015 “Bumi sebagai Rahim Pangan Milik Bersama”.
Tahun 2004 KWI menulis Nota Pastoral mengenai Habitus Baru dengan menunjuk habitus lamanya adalah pengrusakanlingkungan hidup. Nota Pastoral KWI tahun 2013 tentang “Keterlibatan Gereja dalam melestarikan Keutuhan Ciptaan”. Gerak langkah merawat dan memelihara alam ciptaan, juga telah dirumuskan dalam empat fokus Pastoral ARDAS KAS 2011-2015 dengan menetapkan kesadaran dan upaya Umat Allah KAS untuk pemeliharaan keutuhan ciptaan.
Saudari-saudaraku yang terkasih
Kita bersyukur karena di Keuskupan kita muncul banyak gerakan untuk mencintai bumi dan lingkungan hidup. Formatio Iman Berjenjang dengan sadar memasukkan kecintaan terhadap lingkungan hidup yang ditanamkan dalam diri anak-anak baik yang dijalankan melalui pendidikan formal di sekolah ataupun gerakan dalam keluarga, komunitas maupun di paroki.Beberapa contoh dapat disebut, misalnya pendidikan cinta lingkungan yang diterapkandi SD Kalirejo Samigaluh Kulon Progo melalui pertanian organik, SD Prontakan di Sumber dengan sekolah sawah, gerakan sanggar anak di Kampung Sodong Paroki Bedono, pemeliharaan kambing „bergulir bagi anak-anak bersama keluarga, dan masih banyak lagi gerakan lain yang menjadi secercah harapan bagi keutuhan ciptaan. Dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia 2015 Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) KWI menerbitkan film pendek, berjudul “Kembali ke Alam dan Bersyukur kepadaNya”
Marilah kita mohon rahmat kebijaksanaan jaksana dapat merawat dan memelihara “Bumi sebagai Rahim Pangan Milik Bersama”. Dari bumilah sumber pangan bagi semua orang dan bagi semua makhluk ciptaan-Nya tersedia berlimpah-limpah. Diperlukan pertobatan rohani pada diri kita sebagai bentuk pertobatan ekologis yang ditindaklanjuti dengan pertobatan bersama (komunitas) hingga membawa perubahan pada penghormatan dan pemeliharaan alam ciptaan.
Saudari-saudaraku yang terkasih
Saya mengucapkan terima kasih kepada siapa pun yang dengan gigih memperjuangkan agar bumi dan alam ini tetap lestari melalui gerakan-gerakan yang sangat konkret meski sederhana. Aneka gerakan dan kepedulian yang telah ikembangkan melalui bentuk solidaritas dan belarasa, kekuatan jejaring dengan komunitas lain serta Pemerintah, akan menjadi tindakan yang bermakna agar pencemaran lingkungan dikurangi dan pelestarian lingkungan hidup diperjuangkan. Kita yakin, melalui gerakan sederhana dan jejaring yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, kearifan lokal akan semakin tumbuh dan berkembang. Saya berdoa bagi para petani yang dengan gigih menyediakan pangan bagi kita semua. Semoga Tuhan memberkati usaha dan niat baik saudari-saudara semua.

Salam, doa dan Berkah Dalem,
Semarang, pada pesta Kelahiran SP. Maria, 8 September 2015
+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Rabu, 16 September 2015

Menyamakan Persepsi dan Menimba Kekuatan Rohani untuk Memulai Dinamika Baru

"We keep moving forward, opening new doors, and doing new things, because we're curious and curiosity keeps leading us down new paths."

- Walt Disney, animator (1901-1966) -

Secara efektif pembelajaran di SMK Negeri 3 Surakarta baru dimulai pada bulan Agustus 2015 karena bulan Juli masih dipenuhi dengan agenda awal tahun yang seringkali membuat pembelajaran tidak begitu berjalan dengan baik. Sesuai keputusan Rapat Kesiswaan yang dilaksanakan pada tanggal 30 Juli 2015, ditetapkan bahwa mulai 1 Agustus 2015 kegiatan kesiswaan di SMK Negeri 3 Surakarta berjalan secara normal. Ruang Podjok pun juga mengikuti keputusan itu dengan memulai dinamika yang baru untuk setahun ini. 
Mengawali pelaksanaan kegiatan kesiswaan di tahun pelajaran yang baru ini, Penjaga Podjok menyusun sebuah rancangan kegiatan yang akan dilaksanakan selama 1 tahun. Rancangan kegiatan selama 1 tahun itu dituangkan dalam profil singkat yang diberi judul “Sekilas Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta Tahun Pelajaran 2015-2016.” Profil singkat ini memuat berbagai hal yang bisa disampaikan untuk memberi gambaran tentang rencana kegiatan yang akan diselenggarakan selama setahun ini. Setelah jadi, profil singkat itu pun dipaparkan kepada para anggota Rohkat SMK Negeri 3 Surakarta pada hari Jumat (7/8). Pertemuan Jumat Ganjilan perdana ini ingin memberikan informasi kepada seluruh anggota Rohkat mengenai berbagai kegiatan dan hal-hal yang perlu dipahami bersama. Dalam pertemuan itu, Penjaga Podjok memaparkan beberapa hal penting.
Sebagai informasi, tahun ini Rohkat SMK Negeri 3 Surakarta memiliki 31 anggota yang terdiri dari 14 orang dari kelas X, 10 orang dari kelas XI, dan 7 orang dari kelas XII. Kegiatan Rohkat dikoordinir oleh Cicilya Oni Yosyana Ochtifani, siswi dari Kelas XII Pemasaran 1 dan Anna Niken Kresno Wati, siswi dari kelas XI Administrasi Perkantoran 1. Sejalan dengan visi Keuskupan Agung Semarang, Rohkat SMK Negeri 3 melaksanakan pendampingan serta pembinaan iman dan kerohanian bagi siswa-siswi Katolik SMK Negeri 3 Surakarta. Rohkat SMK Negeri 3 Surakarta telah melakukan berbagai kegiatan. Yang telah dilakukan dalam kegiatan ini adalah pertemuan pada Jumat Ganjil (Jumat 1, 3, dan 5) setiap bulan dan piket kebersihan Ruang Agama setiap hari Jumat. Semua anggota dalam Rohkat SMK Negeri 3 terlibat dalam kepengurusan, baik sebagai Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara, maupun Seksi-seksi. Tahun ini, ada beberapa seksi: Acara, Kebersihan, Dekorasi, dan Sosial. Dengan pembagian seksi ini, diharapkan ada pembelajaran keterlibatan dalam organisasi bagi setiap siswa Katolik.
Mulai tahun ini, pembinaan dalam Kerohanian Katolik ingin mengajak siswa-siswi Katolik untuk menempa diri dengan semangat “FORWARD.” Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, forward berarti maju. Menjadi generasi FORWARD, siswa-siswi Katolik diajak untuk menghidupi beberapa nilai: faithful, obedient, religious, workmanlike, adaptive, resourceful, dan decisive. Semangat dalam ketujuh nilai itu dapat dipaparkan sebagai berikut:
1) Faithful berarti setia, terutama setia kepada Tuhan. Tuhan adalah satu-satunya pribadi yang pantas disetiai karena kesetiaan pada apapun di dunia ini menjadi wujud kesetiaan pada Tuhan. 
2) Obedient berarti taat. Ketaatan dapat ditujukan kepada Tuhan, orangtua, aturan, serta hati nurani. Hati nurani merupakan pedoman dalam kehidupan kita. 
3) Religious berarti beriman. Iman bukan sekedar berdoa atau beribadah. Iman lebih pada penghayatan hidup. Sesuatu yang diucapkan dalam doa harus dilakukan dalam kehidupan.
4) Workmanlike berarti cekatan dan trampil. Kerja keras adalah kunci kesuksesan. Kerja keras melatih orang menjadi cekatan dan trampil. Perlu diingat kata-kata berikut, “Bekerjalah sekeras mungkin sampai Tuhan menangis karena melihat kita bekerja keras” (oleh-oleh dari perjalanan ke Kampoeng Kidz, Malang).
5) Adaptive berarti mudah menyesuaikan diri. Adatif bukan berarti plin plan. Prinsip tetap harus dipegang, tetapi pelaksanaan dalam kehidupan sehari-hari perlu disesuaikan dengan keadaan.
6) Resourceful artinya berdaya. Orang yang berdaya bisa memberi kehidupan bagi siapapun di sekitarnya. Sebuah baterai kalau berdaya bisa menghidupkan alat elektronik.
7) Decisive berarti bisa menentukan atau memutuskan. Seseorang harus mampu memutuskan. Tanda kedewasaan diri seseorang adalah bisa atau tidaknya membuat keputusan, terutama untuk diri sendiri. Orang harus menggantungkan hidup pada keputusan diri sendiri. Orang lain bukanlah penentu hidup seseorang. Seseorang harus menjadi pribadi yang mandiri. 
Ketujuh nilai – Faithful, Obedient, Religious, Workmanlike, Adaptive, Resourceful, dan Decisive yang disingkat FORWARD – inilah yang ditawarkan kepada siswa-siswi Katolik untuk dihidupi bersama. Harapannya, siswa-siswi Katolik SMK Negeri 3 Surakarta menjadi generasi muda Katolik yang hidup, beriman mendalam, gembira, serta berani menghidupi dan mewartakan iman Katolik.
Dalam pertemuan itu, dipaparkan pula berbagai kegiatan yang direncanakan, baik yang secara rutin maupun secara periodik. Kegiatan lama yang direncanakan untuk dilaksanakan terdiri dari 1) Perayaan Ekaristi, 2) Doa Bersama, 3) Sekolah Iman, 4) Pertemuan Bulan Kitab Suci, 4) Natalan dan Paskahan Bersama, 5) Pertemuan Aksi Puasa Pembangunan, 6) Pembinaan Kepekaan Sosial; 7) Pertemuan Bulan Katekese Liturgi, dan 8) Retret. Kegiatan baru yang direncanakan adalah 1) Tabungan Rohkat untuk membantu meringankan siswa ketika ada kegiatan-kegiatan yang memerlukan biaya besar dan dengan tabungan yang diharapkan ketika ada kegiatan besar, orangtua tidak dibebani dengan biaya yang mendadak dan 2) Dana Sosial Pendidikan berupa kolekte setiap hari Jumat (setelah Jumat Bersih) untuk membantu siswa yang membutuhkan yang diharapkan dapat mengembangkan kepekaan siswa terhadap sesama yang berkekurangan dan melatih siswa untuk berbagi kepada sesama yang memerlukan bantuan. 
Pemaparan program semacam ini dirasa penting untuk menyamakan persepsi agar seluruh aktivitas dapat digunakan demi perkembangan pribadi siswa-siswi. Semoga semua hal yang direncanakan ini dapat membantu proses perkembangan diri menuju arah yang lebih baik.  
Dua minggu setelah pemaparan program, Ruang Podjok mengadakan Ekaristi. Kali ini, Romo Tanto kembali berkenan untuk mempersembahkan Ekaristi bersama para anggota Ruang Podjok. Siang itu, Jumat (21/8), sekitar jam setengah 12, Ekaristi diselenggarakan dalam cuaca yang cukup panas. Namun, itu tidak menyurutkan para anggota Ruang Podjok untuk terlibat dalam Ekaristi. Dalam kotbahnya, Romo Tanto menyatakan bahwa kasih itu harus diwujudkan dalam kehidupan. Bacaan hari itu bicara mengenai kasih. Kasih itu harus dibuktikan dalam tindakan yang nyata. Kasih hanya akan menjadi omong kosong kalau tidak ada wujudnya. Melalui Ekaristi ini, para anggota Ruang Podjok diajak untuk melakukan kasih. Bagaimana cara melakukan kasih ini? Salah satunya adalah menjadi pribadi yang kontras. Kontras artinya tidak sekedar ikut-ikutan. Temannya jalan kesana ikut kesana. Temannya jalan kesini ikut kesini. Para anggota Ruang Podjok diajak untuk menjadi pribadi yang memiliki prinsip hidup. Di akhir homilinya, Romo Tanto mengajak siswa-siswi untuk memasang aplikasi e-Katolik di smartphone yang mereka miliki masing-masing. Aplikasi ini diharapkan dapat membantu siswa-siswi untuk semakin menghayati iman Katolik yang mereka miliki seturut perkembangan zaman. Semoga para anggota Ruang Podjok bisa menjadi pribadi yang kontras, beriman mendalam dan tangguh, serta mampu mewujudkan kasih dalam kehidupan sehari-hari. Berkah Dalem...





Selasa, 18 Agustus 2015

Surat Gembala Uskup Keuskupan Agung Semarang Menyambut Hari Syukur 70 Tahun Indonesia Merdeka

“MEMPERKOKOH PERUTUSAN MENEGARA”

1. Umat Allah Keuskupan Agung Semarang yang terkasih.
Senin, 17 Agustus 2015 kita rayakan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-70. Anugerah kemerdekaan ini patut disyukuri dan kita rayakan. Bersyukur karena dengan proklamasi kemerdekaan yang dianugerahkan Allah dan dibacakan Soekarno-Hatta atas nama Bangsa Indonesia, merupakan jembatan emas menghantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Republik Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

2. Kemerdekaan yang salah satu tujuannya memajukan kesejahteraan umum, disusun dalam negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar Pancasila. Pancasila merupakan asas keutamaan kebijaksanaan yang menjadi basis bagi asas kenegaraan (politik) berupa bentuk Republik yang berkedaulatan rakyat. Hal ini menjadi basis bagi penyelenggaraan kemerdekaan kebangsaan Indonesia, yang tercantum dalam peraturan pokok hukum positif, termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945. Dengan asas UUD 1945 itu pula, berdiri bentuk susunan pemerintahan dan seluruh hukum positif, yang mencakup segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dalam pertalian hidup bersama, kekeluargaan dan gotong royong untuk kebahagiaan nasional dan internasional, baik rohani maupun jasmani (lih. Notonagoro, 1955). Pancasila kita gunakan bukan hanya karena asas kepentingan, tetapi karena kita yakin bahwa Pancasila itu benar (lih. Driyarkara, 1966).

3. Hari ini bersama seluruh Gereja, kita rayakan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Bunda Maria, karena keterlibatannya yang total dalam karya keselamatan Allah, dianugerahi mahkota kemuliaan surgawi, bercahaya dengan berselubungkan matahari, bermahkotakan dua belas bintang dan beralaskan bulan. Bunda Maria sejak awal telah membangun keutamaan kehidupan. Sebagai Ibu Tuhan, ia terlibat sangat aktif dan total pada setiap karya kebaikan, menghidupi iman kepercayaannya pada penyelenggaraan Tuhan. Dalam Pujian Magnifikat, Bunda Maria menyadari diri sebagai manusia yang rapuh, namun ia percaya bahwa bekerja dan berjuang bersama Tuhan untuk mewujudkan kebaikan dan keselamatan, tidak ada yang mustahil. Bunda Maria percaya bahwa Allah, Sang Juruselamat, telah dan akan melakukan perbuatan besar bagi umat yang dikasihi-Nya.

4. Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan.
Seraya memuji anugerah Allah yang dilimpahkan kepada Bunda Maria, kita patut bersyukur dengan tampilnya pribadi-pribadi umat beriman Katolik yang terlibat aktif sejak masa perjuangan hingga mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Tidak terbilang mereka yang aktif berjuang mewujudkan kesejahteraan dan kepentingan bersama (bonum commune), terlibat dalam dinamika menegara, sosial politik dan kemasyarakatan. Mereka hadir sebagai individu maupun berkelompok di partai-partai politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat dan berbagai bentuk lainnya. Patut disyukuri kegairahan umat dalam memahami dan merespon dinamika menegara akhir-akhir ini.

5. Kita semua menyadari bahwa perjuangan mewujudkan kesejahteraan tidaklah gampang. Masyarakat kita masih didera ketidakadilan dan rentan terhadap berbagai tindakan serta provokasi politik mendasarkan pada isu SARA, yang berujung pada tindakan kekerasan fisik maupun verbal. Peran dan kehadiran negara/ pemerintah dari pusat sampai daerah dalam memastikan warga negaranya terlindungi kehidupan dan martabatnya serta memperoleh hak-hak ekonomi, sosial dan politik masih kita pertanyakan.

6. Semua umat beriman diharapkan hadir bersama Negara menguduskan kehidupan menegara agar semangat dan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan dan semangat para Bapak Pendiri Bangsa dapat kita wujudkan, alami, nikmati dan kembangkan. “Sekarang telah tiba keselamatan, kuasa dan pemerintahan Allah kita! Sekarang telah tiba kekuasaan Dia yang diurapi Allah! Sebab para pendakwa yang siang malam mendakwa saudara-saudara kita di hadapan Allah telah dilemparkan ke bawah!” (Wahyu 12:10). Tugas khas kaum awam untuk menguduskan kehidupan menegara dengan terlibat langsung atau tidak langsung guna mengadakan tata-tertib umum dan menciptakan kemakmuran bersama (Driyarkara, 1966). Keterlibatan bukan demi keterlibatan itu sendiri melainkan keterlibatan dalam proses pengawalan kebijakan publik yang muaranya kesejahteraan bersama dan menggerakkan kehidupan bersama.

7. Kita semua bersyukur bahwa tugas mulia ini akan ditanggapi semakin bersemangat. Diperlukan upaya nyata untuk mewujudkannya, dengan cara:
a) Setiap umat Katolik di wilayah Keuskupan Agung Semarang menyadari keterlibatan kehidupan menegara sebagai bentuk kehadiran Gereja dalam dunia. Diperlukan usaha terencana misalnya dengan pendampingan kaum muda dan perempuan agar terlibat dalam sosial kemasyarakatan. Formatio iman berjenjang perlu mewujudnyatakan pengajaran iman yang menyuburkan kepedulian dalam kehidupan memasyarakat dan menegara, mulai dari keluarga, sekolah dan di paroki.
b) Dunia perutusan terbentang luas. Umat Katolik KAS diharapkan menjadi pegiat dan penggerak secara langsung untuk mewarnai dunia sosial-politik-kemasyarakatan agar semakin nyata “terang telah hadir” di tengah bangsa ini. Aktif terlibat dan mengurus kegiatan RT/RW, Kelurahan, Kecamatan; Kaum muda yang telah berumur 18 tahun ikut terlibat aktif dalam Organisasi Kemasyarakatan seperti Wanita Katolik RI, PMKRI, Pemuda Katolik, Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI), terlibat di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), menjadi pengurus Partai Politik, anggota Legislatif, dan sebagainya. Kegiatan pengudusan kehidupan menegara mendesak untuk dimasuki oleh umat Katolik agar kehidupan menjadi lebih baik. Ormas-ormas Katolik dan Pengurusnya perlu bangkit dan bergerak, membawa sinar terang.
c) Dalam menanggapi pelaksanaan pemilihan umum kepala daerah / wakil kepala daerah (PILKADA) serentak tanggal 9 Desember 2015 dan sudah mulai berproses sejak bulan Juli, diharapkan umat Katolik menggunakan hak pilih secara cerdas dan bijak, menolak politik uang dan mendasarkan diri pada pertimbangan pilihan pasangan calon yang paham dan mampu mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kebijakan publik di daerahnya. Perlu dipertimbangkan rekam jejak calon yang telah menunjukkan jiwa kepemimpinan yang arif-bijaksana dan mengedepankan nilai-nilai persaudaraan yang inklusif-toleran. Upaya ini merupakan bagian dari tugas menguduskan kehidupan menegara di tingkat lokal dan perlu dipegang teguh.
d) Saya mendorong keluarga-keluarga Katolik, guru/pendidik Katolik, sekolah Katolik dan Yayasan Katolik untuk mengajarkan nilai-nilai luhur Pancasila dan implementasinya dalam kehidupan bermasyarakat dan menegara, agar masa depan bangsa diisi oleh pribadi-pribadi yang mencintai bangsa dan negara ini secara sungguh-sungguh. Gerakan anti tindakan koruptif dan membela para korban penyalahgunaan obat/narkoba menjadi prioritas perhatian kita.

Kita ucapkan: Dirgahayu Indonesia! Sambutlah cinta umat Katolik Indonesia, khususnya di KAS ini. Semoga menjadi bangsa yang bertaburkan cinta, solidaritas, kerukunan, damai dan sejahtera, gemah ripah loh jinawi.

Semarang, 12 Agustus 2015
Salam, doa dan Berkah Dalem
† Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Teks diambil dari:
http://paroki-sragen.or.id/2015/08/15/surat-gembala-uskup-keuskupan-agung-semarang-menyambut-hari-syukur-70-tahun-indonesia-merdeka/#sthash.FnWINlmx.dpbs
Gambar diambil dari: 
http://setkab.go.id/logo-70-tahun-kemerdekaan-indonesia/