Jumat, 29 November 2013

Tiga Misteri Iman Akhirat: Surga, Neraka, dan Api Penyucian

Berbicara Mengenai Surga, Neraka dan Api Penyucian
Sekolah Iman di Ruang Podjok bulan November 2013 ini akan membahas tentang seputar kehidupan setelah kematian. Mengapa? Karena bulan November adalah bulan yang dikhususkan oleh Gereja sebagai bulan arwah. Di bulan ini, Gereja mengajak kita semua untuk mengingat orang-orang yang telah mendahului dipanggil oleh Tuhan. Hidup setelah kematian memang selalu menjadi misteri bagi manusia. Namun, tidak ada salahnya kita pun kemudian berusaha untuk mendekati misteri itu. Atas dasar inilah, Sekolah Iman Ruang Podjok bulan ini bicara mengenai surga, neraka, dan api penyucian. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal berbagai macam misteri. Kata “misteri” selalu dikaitkan dengan sebuah hal yang belum dapat kita pahami secara penuh dan lengkap. Ketika kita ingin menjelaskan sebuah misteri, tidak akan ada penjelasan yang dapat memadai dan lengkap. Ada banyak misteri yang dimiliki oleh Gereja Katolik. Berbagai misteri itu tersimpan dalam harta kekayaan iman Gereja yang sering diistilahkan dengan depositum fidei.Gereja memiliki berbagai penjelasan resmi mengenai berbagai misteri iman dalam sebuah buku yang disebut Katekismus Gereja Katolik. Selain katekismus, Gereja Katolik juga memiliki berbagai ajaran resmi yang disampaikan melalui terbitan-terbitan lain maupun ulasan dari para teolog. Yang akan kita bicarakan hari ini adalah tiga misteri iman yang berkenaan dengan akhir hidup manusia. Tiga misteri iman itu adalah SURGA, NERAKA, dan API PENYUCIAN. Tidak ada yang bisa menjelaskan ketiga hal itu secara pasti. Namun, kita akan mencoba mendekatinya melalui pemahaman kita.


Surga: Kesatuan Sempurna dengan Allah
Ketika kecil, mungkin orangtua kita memberitahu bahwa letak surga itu ada di atas. Namun, sampai sekarang, tidak ada orang yang secara pasti mengetahui letak surga. Juga, tidak ada yang mengetahui bagaimana bentuk dan rupa surga itu. Berbagai gambaran yang ada mengenai surga selalu berupa KIASAN. Mengapa? Karena tidak ada orang yang betul-betul memahami bagaimana surga itu sesungguhnya. Oleh karena itu, kita akan memahami surga seturut yang disampaikan oleh Kitab Suci.
Kitab Suci menyatakan beberapa kutipan. Paulus mengatakan, “Bila kemah kediaman kita di bumi telah dibongkar, Allah menyediakan bagi kita suatu tempat kediaman di surga” (2 Kor 5:1) dan “Kewargaan kita ada di surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini sehingga menjadi serupa dengan tubuhNya yang mulia” (Flp 3:20-21). Dari beberapa kutipan Kitab Suci itu, kita dapat menyimpulkan bahwa surga merupakan tempat bersemayamnya Allah dan situasi kebersatuan dengan Allah. Apapun gambarannya, yang menjadi pokok berkenaan dengan surga adalah Allah dan kesatuan denganNya.Pertanyaan yang kiranya bisa diajukan kemudian adalah “bagaimana mencapai surga?” Yesus berkata, “Tidak ada seorangpun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Ia pun berjanji “akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” (Yoh 14:3). Iman Katolik menyatakan bahwa satu-satunya jalan menuju surga adalah melalui Yesus. Oleh karena itu, kita harus meneladan Yesus.


Neraka: Keterpisahan dengan Allah
Setelah mencoba memahami tentang surga, kita akan mencoba memahami tentang neraka. Neraka harus dimengerti sebagai lawan dari surga. Karena surga merupakan kesatuan sempurna dengan Allah, neraka pun berarti keterpisahan dari Allah. Tidak ada juga orang yang bisa mengerti sepenuhnya mengenai neraka. Semua itu hanya berupa bahasa kiasan saja. Gambaran mengenai api yang menyala-nyala dan berbagai macam siksaan yang menimpa manusia yang masuk neraka juga bersifat kiasan.Kitab Suci menyatakan demikian, “Lalu setan-setan itu memohon kepada Yesus supaya Ia jangan memerintahkan mereka masuk ke dalam jurang maut” (Luk 8:31) dan “Semua akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi” (Mat 13:42). Dari beberapa kutipan tersebut, kita dapat membayangkan bahwa neraka adalah tempat yang sangat tidak membahagiakan. Mengapa? Karena manusia hidup dalam keterpisahan dengan Allah. Tanpa Allah manusia tidak dapat hidup bahagia. Di dunia ini, mungkin ada yang merasa tidak membutuhkan Allah, tetapi bila manusia sudah mengenal dirinya dengan baik, ia merasakan dan mengalami bahwa hidup tanpa Allah sama saja dengan maut. Maka, jelaslah bahwa keterpisahan dari Allah berarti maut.Lalu, bagaimana kita dapat menghindari neraka? Ketika ditanya mengenai siapa saja yang dapat diselamatkan, Yesus bersabda, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak” (Luk 13:24). Ajaran iman menyatakan bahwa neraka dapat dihindari jika kita berjuang sekuat tenaga untuk melakukan hal-hal yang baik. Hal baik sulit dilakukan karena manusia cenderung menyukai sesuatu yang menyenangkan dan mudah. Padahal hal baik itu seringkali tidak menyenangkan dan tidak mudah. 


Api Penyucian: Pemurnian Terakhir
Setelah mencoba memahami surga dan neraka, kita kemudian akan masuk pada misteri iman yang ketiga yaitu api penyucian. Kebanyakan orang Katolik menganggap bahwa ada tiga pintu, yaitu surga, neraka dan api penyucian. Api penyucian dianggap sebagai pintu yang ‘normal”. Dalam bahasa resmi Gereja, sebenarnya tidak ada istilah “api penyucian”, namun hanya penyucian saja (Istilah resminya adalah purgatorium).  Istilah api dilekatkan karena biasanya api memang digunakan untuk membuat sesuatu steril atau murni sehingga dapat digunakan secara sempurna.
Keyakinan tentang api penyucian tidak secara eksplisit diungkapkan dalam Kitab Suci. Beberapa ayat yang menjadi indikasi adanya iman tentang api penyucian dapat dilihat dalam kutipan 2 Mak 12:38-45, Mat 21:31, dan 2 Tim 1:18. Dalam kitab Makabe, doa untuk keselamatan para prajurit yang gugur dimungkinkan karena mereka belum masuk ke surga, tetapi juga tidak masuk neraka. Kurban silih untuk orang-orang mati itu dilakukan “supaya mereka dibebaskan dari dosa-dosanya” (2 Mak 12:45). Yesus mengatakan tentang “sunia yang akan datang” (Mat 21:31). Inilah yang dimaksud dengan api penyucian. Paulus juga menyinggung tentang api penyucian, “Kiranya Tuhan menunjukkan rahmatNya kepadanya ada hariNya” (2 Tim 1:18). Ajaran tentang api penyucian salah satunya diungkapkan oleh Santo Isidorus dari Sevilla. Ia menyatakan, “beberapa dosa akan diampuni dan dimurnikan oleh api penyucian” Dari kutipan tersebut, kita bisa melihat bahwa api penyucian merupakan tahap terakhir dalam proses pemurnian pada perjalanan kepada Allah. Saat kematian, manusia melihat dirinya sendiri dalam keadaan yang sesungguhnya. Kematian merupakan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Oleh karena itu, segala ketidakmurnian yang ada pada diri manusia merupakan ketidakcocokan yang menyakitkan. Dalam hal ini, manusia pun memerlukan proses pemurnian.


Kita Berada dalam Gereja yang Masih Berziarah Menuju Keselamatan Abadi
Tiga misteri iman yang telah kita dalami ini ada dalam Gereja Katolik. Gereja Katolik yang menaungi kita ini merupakan Gereja yang masih ada dalam perjalanan. Dalam perjalanan ini, Gereja masih mengalami jatuh bangun dan berjuang bersama untuk menuju pada kepenuhan keselamatan kerajaan Allah. Dalam peziarahan itu, kita semua bersama-sama menghidupkan pengharapan akan keselamatan Kerajaan Allah. Karena itu, Santo Paulus mengatakan, “Sekarang kita melihat suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka” (1 Kor 13:12). Semua hal yang dilakukan oleh manusia di dunia ini mengandung tujuan pula untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Yang ingin dicapai oleh manusia adalah keselamatan kekal. Inilah yang diupayakan melalui segala aktivitas yang dilakukan manusia.



Senin, 30 September 2013

Berjalan dalam Terang Firman Tuhan


Bapa Suci Benediktus XVI mencanangkan tanggal 11 Oktober 2012 sampai dengan 24 November 2013 sebagai Tahun Iman. Dalam Surat Apostolik Porta Fidei (Pintu Kepada Iman) Bapa Suci mengajak seluruh umat Katolik untuk menggali kembali dan menghayati kekayaan iman yang dimiliki oleh Gereja. Selama Bulan September 2013, yang selama ini ditetapkan sebagai Bulan Kitab Suci, kita diajak untuk mendalami kekayaan iman itu. Tema besar yang diangkat dalam BKSN kali ini adalah “FirmanMu adalah terang bagi langkahku” (Mzm 119:105). Tema besar itu dijabarkan menjadi sub-sub tema kecil yang berfokus pada refleksi atas tokoh-tokoh Kitab Suci. Dua tokoh iman dari Perjanjian Lama: Abraham dan Musa. Dua tokoh dari Perjanjian Baru: Bunda Maria dan Para Rasul. Tujuan dari pendalaman ialah supaya Firman Tuhan menjadi pedoman kita untuk menjadi semakin dekat dengan Sang Sumber hidup yaitu Allah dalam diri Yesus.
Metode yang ditawarkan oleh Komisi Kitab Suci KAS adalah Lectio Divina (Pembacaan Ilahi). Tetapi dibuka kemungkinan bagi para pemandu dan peserta pendalaman, untuk membuat kreasi yang tujuannya agar bahan pendalaman dapat dipahami dan direnungkan dengan lebih mudah dan mengena pada sasaran. Dei Verbum 25 menyatakan bahwa Konsili suci mendesak dengan sangat dan istimewa semua orang beriman, terutama para religius, supaya dengan seringkali membaca kitab-kitab ilahi memperoleh "pengertian yang mulia akan Yesus Kristus" (Flp 3:8). Namun hendaklah mereka ingat, bahwa doa harus menyertai pembacaan Kitab Suci, supaya terwujudlah wawancara antara Allah dan manusia. Sebab "kita berbicara dengan-Nya bila berdoa; kita mendengarkan-Nya bila membaca amanat-amanat ilahi".
Pada hari Kaum Muda Sedunia 9 April 2006, Bapa Suci Benediktus XVI berpesan agar kaum muda akrab dengan Alkitab. Dengan membacanya, mereka belajar untuk mengenal Kristus dengan cara Lectio Divina. Lectio Divina secara harafiah berarti Pembacaan ilahi. Pembacaan Kitab Suci yang direnungkan ini memiliki tujuan berdoa dari Kitab Suci dan hidup dari Sabda Allah.
Ada 6 langkah melakukan Lectio Divina:
1.      Lectio: membaca dan membaca kembali sebuah perikop dari Kitab Suci dan mengambil unsur-unsur utamanya,
2.      Meditatio: refleksi batin di mana jiwa berpaling kepada Allah dan berusaha memahami apa yang dikatakan oleh Sabda-Nya kepada kita sekarang. 
3.      Oratio: berbicara kepada Allah secara langsung.   
4.      Contemplatio: hati penuh perhatian pada kehadiran Kristus, yang Sabda-Nya bagaikan “pelita yang bercahaya di tempat yang gelap…” (2 Ptr 1:19).
5.      Actio: Membaca, mempelajari, dan merenungkan Sabda harus mengalir ke dalam kehidupan selalu setia pada Kristus dan ajaranNya.
Adapun penjelasan masing-masing tahap adalah sebagai berikut:
LECTIO dilakukan melalui aktivitas membaca teks untuk memahami apa yang dikatakan oleh teks.
MEDITATIO bertujuan untuk menemukan arti teks dan menerapkannya pada diri sendiri. Dengan hening, mata terpejam, kita diajak untuk merenung melalui 1) membayangkan peristiwa yang diceritakan/ mengingat kembali isi teks; 2) mencari: “Pesan apa yang saya pelajari dari Firman yang baru direnungkan?” dan “Apa peran pesan itu bagi saya?”, misalnya: mengingatkan, menegur, menguatkan, menghibur. Setelah merenung, kita diajak berbagi pesan dengan orang lain. Yang dibagikan adalah pesan teks untuk diri saya dan peran dari pesan itu untuk saya.
ORATIO terwujud melalui doa yang digerakkan dan diilhami oleh Firman serta merupakan tanggapan saya atas Firman yang baru saya dengarkan. Bagian ini bisa ditutup dengan “Bapa Kami”
CONTEMPLATIO berarti hidup di hadirat Allah. Melalui tahap ini, kita diajak selalu menyadari bahwa Allah selalu bersama saya dan Sabda-Nya menggema di dalam diri saya
ACTIO dilakukan untuk melaksanakan firman Allah yang telah didengarkan. Dengan demikian, setelah membaca atau mendengarkan, merenungkan, berdoa, dan menghayati Firman, kita diajak untuk menjalani hidup sesuai kehendak Allah.
Dalam Lectio Divina, ada pembagian pelaksanaan tahapan. Dalam pertemuan dilakukan tahap Lectio, Meditatio, dan Oratio. Dalam kehidupan, dilaksanakan tahap Contemplatio dan Actio.
Tahun ini, Lectio Divina Bulan Kitab Suci ingin mendalami tentang Abraham, Musa, Maria, dan Para Rasul. Mengapa dipilih tokoh? Kiranya jawaban yang menarik dapat kita lihat dari kutipan berikut: ”bagi Gereja, upaya pertama mewartakan Injil ialah kesaksian hidup otentik Kristiani, dalam penyerahan diri kepada Allah, dalam persekutuan yang pantang dihancurkan, dan sekaligus dalam komitmen kepada sesama dengan semangat tanpa batas. Seperti baru-baru ini kami sampaikan kepada sejumlah ahli hukum: ”Manusia modern lebih suka mendengarkan saksi-saksi daripada guru-guru, dan kalau ia mendengarkan guru-guru, itu karena mereka saksi”. Santo Petrus mengungkapkannya dengan tepat, ketika ia mengutarakan teladan hidup saleh dan murni, yang bahkan tanpa kata-kata pun menarik mereka yang tidak mau mematuhi sabda. Oleh karena itu terutama melalui perilaku dan corak hidupnyalah Gereja akan mewartakan Injil kepada dunia; dengan kata lain, melalui kesaksiannya yang hidup akan kesetiaan terhadap  Tuhan Yesus-kesaksian kemiskinan dan sikap lepas-bebas, kesaksian kebebasan menghadapi berbagai kekuasaan dunia ini, pendek kata, kesaksian kekudusan” (EN 41)

Berikut ini adalah ulasan singkat masing-masing tokohnya.

ABRAHAM, BAPA TELADAN KAUM BERIMAN (Kej 22:1-19)
Abraham dipanggil untuk menjadi Bapa bangsa. Panggilan dan janji Allah kepada Abraham adalah Tanah, Keturunan, Berkat. Usia Abraham sudah 75 tahun ketika dipanggil. Dia taat akan panggilan Allah yang disertai dengan janji.Isi janji yang diulang: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga. Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu.“  (Kej 13:14-17)
Abraham berani melepaskan jaminan konkrit: perlindungan dari keluarga dan suku. Berani mengandalkan Tuhan yang memberikan janji: tanah, keturunan dan berkat. Abraham teguh percaya. Kej 12:10-20 menunjukkan dalam sukar dan takut  Abraham gagal percaya pada Tuhan. Ketika terjadi kelaparan di Mesir Sara diminta mengaku sebagai adiknya.  Supaya diperistri Firaun dan Abraham mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, dll. Kej 15:1-6 menunjukkan iman Abraham yang kuat kembali,  Setelah Tuhan mengulangi janji akan memberikan keturunan. Kej 16:1-4a iman Abraham lemah kembali.  Atas saran Sarai, Abraham mengambil Hagar hambanya, dan melahirkan Ismael. Kej 17: 15-19 Tuhan mengulangi janjinya lagi untuk memberikan keturunan.  Dan sekali lagi Abraham percaya. Kepercayaan kepada Tuhan membuahkan hasil.  Ishak lahir. Tuhan benar-benar menepati janji-Nya (Kej 21). Kej 22 Tuhan yang  memberi keturunan kini meminta Abraham mengurbankannya. Tapi iman Abraham sudah semakin mantab Ia teguh percaya pada Tuhan.
Berbagai peristiwa mengancam Abraham dan mencobai ketekunan imannya. Allah selalu melindungi dan memberi jalan keluar atas kesulitan Abraham.Abraham menjadi berkat. Abraham menjadi teladan iman.
Pencobaan iman Abraham membuatnya jatuh-bangun,  percaya-tidak percaya, mantap- ragu. Tetapi dengan pencobaan itu Iman abraham makin kuat.  Dan Abraham menjadi mengerti bahwa Allah itu Maha Kuasa dan setia. Tindakan Abraham ini telah menyadarkan kita bahwa beriman itu proses.  Dengan beriman tidak dengan sendirinya hidup menjadi mudah. Tetapi Tuhan selalu mendampingi dan setia.

MUSA, PEMBEBAS DAN PEMIMPIN BANGSA (Kel 17:1-7)
Sejak lahir telah kelihatan bahwa Allah memilih Musa. Kehidupan di istana Firaun tidak menghilangkan niatnya untuk kembali kepada bangsanya. Musa pergi ke tanah Midian untuk menghindari kemarahan Firaun. Musa dipanggil untuk kembali ke Mesir dan membawa bangsanya keluar dri Mesir.
Musa dipanggil ketika sedang menggembala domba. Pada awalnya Musa keberatan untuk menerima panggilan Tuhan karena merasa tidak mampu. Tuhan memaksanya untuk menaati perintah itu lewat berbagai jaminan dan bukti. Keberatan Musa tampak dalam beberapa hal berikut ini:
"Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?”
"Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? apakah yang harus kujawab kepada mereka?"
 "Bagaimana jika mereka (orang Mesir) tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?”
 "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.”
 "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus."
Musa berhasil membebaskan bangsanya dari Mesir. Dalam perjalanan pembebasan itu, ia belajar menjadi pemimpin. Ia menjadi penengah antara kehendak Tuhan dan kekerasan hati bangsanya. Ia mengalami banyak tantangan untuk membangun jati diri bangsa sebagai umat pilihan. Akhirnya, ia menjadi pemimpin yang sabar dan lembut hati.
Tuhan selalu mendampingi Musa sejak kelahirannya. Episode Midian adalah episode persiapan untuk diutus: dari gembala domba sampai ke gembala bangsa. Musa diajak merumuskan Perjanjian Sinai. Berbagai reaksi melawan Musa dapat dihadapi berkat campur tangan Tuhan.
Pengalaman Musa menunjukkan“ Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya.”  Tuhan  mengingatkan kita untuk selalu percaya  dalam segala rencana Tuhan dalam hidup kita.

MARIA, IBU YANG SETIA SAMPAI AKHIR (Yoh 19:23-30)
Maria dipanggil ketika masih gadis remaja, berusia sekitar 15 tahun. Tidak ada penolakan. Maria taat sebagai hamba Tuhan: “Terjadilah kehendak-Mu. Panggilan adalah sungguh inisiatif yang datang dari Tuhan. Manusia menaati kehendak-Nya dengan penuh iman.
Kitab Suci menuliskan panggilan Tuhan kepada Maria sebagai berikut:
26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, 27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. 28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.“ 29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. 31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. 32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."
Terhadap panggilan itu, Kitab Suci mencatat tanggapan atas panggilan itu sebagai berikut:
34 Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?“ 35 Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. 36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.  37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.“ 38 Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
Dalam menghayati panggilan itu, Maria berjuang melewati banyak peristiwa antara lain: mengunjungi Elisabet, kelahiran Yesus, mendengarkan nubuat Simeon, digelisahkan akan kehilangan Yesus di Bait Allah, “tidak dianggap sebagai orang dekat Yesus” pada karya publik Yesus, menerima kematian Yesus, dan bersama para rasul menantikan kedatangan Roh Kudus.
Dalam hidup kita, Maria kita terima sebagai teladan dalam iman, pengantara doa, pengungsian di kala duka, pelindung terhadap godaan, penolong, dan Bunda pengantara rahmat
Wafat Yesus di salib menjadi wujud cinta Tuhan yang total sehabis-habisnya. Salib bukan tanda kekalahan tetapi penyerahan diri. Hal ini menyadarkan bahwa Tuhan mencintai kita. Kita bangga menjadi pengikut Kristus dan menjadi orang katolik.  Sudah seharusnya, kita tidak takut membuat tanda Salib karena itu adalah tanda kemenangan kita.

DUA BELAS MURID, PARA UTUSAN YANG HANDAL (Luk 24:36-52)
Yesus memanggil mereka dengan cara datang kepada mereka. Para murid diutus untuk: menjala manusia, melakukan berbagai karya keselamatan, menjadikan semua orang murid Yesus.
Para murid meninggalkan segalanya dan mengikuti Yesus. Mereka berjuang melawan segala hal yang tidak sesuai dengan panggilan. Mereka berjuang untuk memahami: “Siapakah Yesus?” Mereka pun menjadi takut di sekitar peristiwa wafat dan kebangkitan Yesus. Namun, dengan berani mewartakan Injil karena Roh Kudus.
Para murid meninggalkan kemapanan duniawi untuk memenuhi panggilan sorgawi. Mereka ikut serta dalam suka duka Yesus. Iman mereka tergoncang ketika Yesus disalibkan. Kebangkitan Yesus mengembirakan hati mereka namun mereka masih “kebingungan dan kehilangan orientasi”. Akhirnya, mereka dipenuhi Roh Kudus sebagai utusan.
Pada awalnya para rasul selalu bersama Yesus, mengikuti Dia ke manapun Dia pergi. Mereka dibimbing untuk semakin mengenal Yesus dan karya misi-Nya di dunia yang berakhir dengan wafat dan kebangkitan. Mereka mewartakan Injil ke mana-mana dan menghadapi berbagai ancaman. Pendampingan Tuhan selama perutusan untuk mewartakan Injil.
Para murid diutus mewartakan Injil. Kita sebagai murid Yesus juga disadarkan untuk mewartakan Injil. Mewartakan Injil tidak selalu harus berkotbah kemana-mana, tetapi mewartakan Injil dengan cara yang paling sederhana dilakukan melalui kesaksian akan hidup yang baik.

Keempat tokoh ini menyampaikan pesan bahwa mereka telah lebih dulu mencoba berjalan dalam terang Firman Tuhan. Mereka pun manusia biasa. Mereka telah membuktikan bahwa mereka bisa mengandalkan Tuhan. Sebagai manusia biasa dan wajar, mari kita mencoba berjalan dalam terang Firman Tuhan.

Gambar diambil dari:
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/4f/Rembrandt_Harmensz._van_Rijn_035.jpg;
http://www.12apostoles.com/jesusviveenlacasadeallado/wp-content/uploads/2011/03/Moises-Masa-y-Meriba.jpg;
http://jamestabor.com/wp-content/uploads/2012/08/MaryAtFootOfCross.jpg; http://www.catholicjournal.us/wp-content/uploads/LastSupper11.jpg

Sabtu, 28 September 2013

Membangun Gereja Sekolah Bersama Orangtua

Rangkaian acara Kerohanian Katolik Skaga tahun ini agak berbeda. Untuk memulai rangkaian acara setahun, Penjaga Podjok mengundang Bapak/Ibu Orangtua/Wali Siswa-siswi Katolik SMK Negeri 3 Surakarta dalam sebuah pertemuan. Mungkin ada banyak pertanyaan di benak para orangtua dan wali siswa-siswi. Nah, dalam pertemuan hari Jumat (6/9) itulah semua pertanyaan itu terjawab. Tujuan pertemuan ini tidak lain dan tidak bukan pertama-tama adalah untuk saling mengenal. Perkenalan dan perjumpaan itu sangat penting. Ketika orang saling kenal, hal-hal tidak terduga akan muncul dari perjumpaan itu. Selama ini, Penjaga Podjok baru mengenal beberapa gelintir orangtua/wali siswa-siswi Katolik. Itu pun belum tentu setahun sekali. Bahkan, ada yang selama 3 tahun ini belum pernah berjumpa sama sekali. Oleh karena itu, pertemuan kali ini bertujuan untuk membuka perjumpaan. Siapa tahu ada hal-hal yang bisa bermanfaat setelah perjumpaan itu.Perjumpaan ini sekaligus juga berfungsi untuk saling membangun dan menguatkan. Penjaga Podjok ingin bahwa pertemuan ini menjadi pembuka bagi semua saja untuk membangun Gereja bersama sekolah dan orangtua. Selama ini, Penjaga Podjok sudah membangun Gereja bersama dengan siswa-siswi. Sebagai kelanjutannya, ada kerinduan untuk membangun Gereja bersama orangtua.Selain untuk berjumpa, forum ini juga digunakan oleh Penjaga Podjok untuk memaparkan program yang akan dilaksanakan. Program yang dipaparkan tersebut diharapkan dapat dijalankan selama setahun demi perkembangan dan pembinaan iman siswa-siswi. Program besar masih sama dengan tahun lalu yaitu Natalan dan Ziarah - Bakti Sosial Bersama. Namun, ada perkembangan untuk program yang kecil. Program kecil akan dijalankan per minggu dengan perincian: Minggu I Ibadat/Adorasi, Minggu II PGMS bersama Kerohanian Kristen, Minggu III Sekolah Iman, Minggu IV Doa/Devosi, dan Minggu V Ekaristi. Program yang baru untuk tahun ini adalah Sekolah Iman dan Ekaristi. Sekolah Iman diadakan untuk menanggapi ajakan Paus Benediktus XVI yang mencanangkan Tahun Iman 2012-2013 dan Ekaristi ingin menggugah kesadaran seluruh keluarga besar Ruang Podjok sebagai kesatuan yang diikat dalam Tubuh dan Darah Kristus. Demikianlah, forum ini diharapkan dapat menjadi awal bagi Penjaga Podjok dan orangtua untuk saling melengkapi dalam mendampingi siswa-siswi putra-putri yang dipercayakan Tuhan kepada kami. Di akhir pertemuan, Penjaga Podjok mengajak orangtua merenung sejenak dengan belajar dari video “Children See Children Do.” Video ini mengajak kepada mereka yang dituakan dan dipercaya untuk mendidik anak bahwa anak-anak akan melakukan apa yang mereka lihat. Maka, benarlah perkataan ini, “Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya” dan “Kacang kuwi ora arep ninggal lanjarane.” Jika anak berlaku demikian, jangan cepat-cepat menyalahkan anak tetapi sebaiknya kita melihat dulu apa yang kita lakukan. Semoga perjumpaan ini menjadi perjumpaan yang bermakna.

Jumat, 16 Agustus 2013

“Soegija” dan Nasionalisme Kita

Setahun yang lalu, pada 7 Juni 2012, film layar lebar “Soegija” memasuki masa tayang. Dalam waktu singkat, film itu pun menjadi buah bibir umat. Film ini tampaknya berhasil menggugah kembali ingatan kolektif umat Katolik terhadap semangat “beriman di tengah masyarakat”. Berbagai komentar dituai oleh film ini. Ada yang pro dan ada yang kontra. Apapun komentarnya, pemutaran film ini berjalan terus dengan peminat yang begitu luar biasa.
Pasca menonton “Soegija”, ada sebuah pertanyaan yang menggelitik. “Pelajaran apa yang dapat ditilik dari film ini? Adakah cukup hanya berhenti di sini atau adakah sesuatu yang dapat dilakukan?” Jawaban atas pertanyaan itu dapat didekati dari berbagai macam segi, tergantung sudut pandang masing-masing. Salah satu sudut pandang yang kiranya dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan itu adalah sudut pandang pendidikan bela negara. 
Pendidikan bela negara merupakan upaya yang dilakukan oleh negara untuk menanamkan kesadaran bela negara dalam diri masyarakat di suatu negara tertentu. Di beberapa negara, perwujudan dari pendidikan bela negara ini adalah dengan mengikuti wajib militer. Di Indonesia, pendidikan bela  negara diwujudkan melalui berbagai macam kegiatan untuk membangkitkan kesadaran untuk membela negara dalam diri masyarakat. Pada masa awal kemerdekaan, di bawah pemerintahan Soekarno, pendidikan bela negara dialami langsung melalui berbagai perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan. Saat itu, rakyat dididik oleh situasi bangsa yang baru saja merdeka dalam situasi di mana kemerdekaan itu akan direbut kembali oleh bangsa penjajah. Setelah benar-benar merdeka, pendidikan bela negara diwadahi oleh Pelajaran Civics (Kewarganegaraan). Di era Soeharto, pendidikan bela negara menemukan perwujudannya dalam berbagai macam aktivitas, mulai dari Penataran P4 di semua lini masyarakat serta Pendidikan Moral Pancasila dan Pendidikan Kewiraan di lingkungan pendidikan formal. Masuk era Reformasi, pendidikan bela negara seakan-akan lenyap ditelan bumi karena masyarakat tidak lagi percaya penuh kepada pemerintah dan negara. Metode penanaman kesadaran bela negara warisan Orde Baru diemohi oleh masyarakat karena masyarakat telah menengarai berbagai penyelewengan.
Di saat masyarakat ragu terhadap negara dan menjauhi pengabdian kepada negara ini, “Soegija” hadir menyegarkan memori masyarakat dan umat terhadap peran warga negara atas kesadaran untuk membela negara. Sebuah fragmen dalam film “Soegija” mengisahkan bagaimana Sang Uskup bersikap menghadapi banyak pengungsi yang sedang berlindung di Gereja Bintaran. “Saya akan meminta umat dan Gereja untuk mengumpulkan obat-obatan, bahan-bahan makanan dan selimut.” Di bagian lain, Uskup Soegija juga mengatakan, “Ini saatnya kita terpanggil mempertahankan hak Allah, hak agama, dan hak bangsa.” Ungkapan-ungkapan ini seakan ingin menggali kembali kesadaran umat untuk berperan serta dalam mewujudkan keselamatan bangsa dan negara. Melalui “Soegija”, umat digugah untuk terlibat dan berbagi dengan masyarakat sezamannya.
Jalinan kisah yang ada di dalam film “Soegija” juga ingin berbicara kepada masyarakat mengenai  lima nilai dasar dalam bela negara, yaitu a) Cinta Tanah Air; b) Kesadaran Berbangsa dan Bernegara; c) Keyakinan terhadap Pancasila sebagai Ideologi Bangsa; d) Sikap Rela Berkorban untuk Bangsa dan Negara; serta e) Kemampuan Awal Bela Negara. “Soegija” mampu mengungkapkan lima nilai dasar ini melalui kisah-kisah kecil nan sederhana. Heroisme tidak selalu ditunjukkan melalui tindakan mengangkat senjata, namun ditampakkan melalui kegiatan sehari-hari. Fragmen keteguhan sikap saat Gereja hendak dirampas Jepang dan pemindahan tahta Keuskupan dari Semarang ke Jogjakarta sebagai dukungan kepada Republik merupakan cuplikan-cuplikan kisah yang mampu berbicara mengenai keberpihakan kepada bangsa dan negara.
Betapa banyak pelajaran yang dapat kita petik dari “Soegija”. Kali ini, kita belajar untuk menjadi umat beriman yang siap untuk membela negara. UUD 1945 Pasal 31 menyatakan, “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam pembelaan negara.” Panggilan untuk membela negara ini selaras dengan apa yang dinasehatkan oleh Monsinyur Soegijapranata dalam Surat Gembala berjudul “Alit Ning Mentes – Kecil Namun Berisi” berikut ini:

“Orang Katolik sudah semestinya bersatu dalam kesatuan yang tertata dan mempunyai disiplin; mempunyai jiwa merdeka dan bertanggungjawab; mempunyai tata susila dan sopan santun, rendah hati; mempunyai semangat rela berkorban untuk kesejahteraan Gereja dan Negara. Orang Katolik memang bukan bagian yang besar, tetapi harus menjadi bagian yang lebih baik.
Di bulan Agustus ini, terlebih menjelang Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-68, kita diajak merenungkan kembali peran kita – orang Katolik – sebagai warga negara dan warga masyarakat. Sudahkah kita menjalankan apa yang dinasehatkan oleh beliau Monsinyur Soegijapranata? Inilah panggilan kita, seluruh orang Katolik, sebagai warga negara Indonesia. Dengan caranya sendiri, melalui bahasa khas sinema, “Soegija” telah membangkitkan kesadaran akan panggilan tersebut.

Gambar diambil dari:
http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/06/Soegija-Pidato.jpg;
http://kebuncerita.com/wp-content/uploads/2012/10/Soegija.png;
http://www.sesawi.net/wp-content/uploads/2012/05/Mgr-pidato.jpg