Senin, 30 September 2013

Berjalan dalam Terang Firman Tuhan


Bapa Suci Benediktus XVI mencanangkan tanggal 11 Oktober 2012 sampai dengan 24 November 2013 sebagai Tahun Iman. Dalam Surat Apostolik Porta Fidei (Pintu Kepada Iman) Bapa Suci mengajak seluruh umat Katolik untuk menggali kembali dan menghayati kekayaan iman yang dimiliki oleh Gereja. Selama Bulan September 2013, yang selama ini ditetapkan sebagai Bulan Kitab Suci, kita diajak untuk mendalami kekayaan iman itu. Tema besar yang diangkat dalam BKSN kali ini adalah “FirmanMu adalah terang bagi langkahku” (Mzm 119:105). Tema besar itu dijabarkan menjadi sub-sub tema kecil yang berfokus pada refleksi atas tokoh-tokoh Kitab Suci. Dua tokoh iman dari Perjanjian Lama: Abraham dan Musa. Dua tokoh dari Perjanjian Baru: Bunda Maria dan Para Rasul. Tujuan dari pendalaman ialah supaya Firman Tuhan menjadi pedoman kita untuk menjadi semakin dekat dengan Sang Sumber hidup yaitu Allah dalam diri Yesus.
Metode yang ditawarkan oleh Komisi Kitab Suci KAS adalah Lectio Divina (Pembacaan Ilahi). Tetapi dibuka kemungkinan bagi para pemandu dan peserta pendalaman, untuk membuat kreasi yang tujuannya agar bahan pendalaman dapat dipahami dan direnungkan dengan lebih mudah dan mengena pada sasaran. Dei Verbum 25 menyatakan bahwa Konsili suci mendesak dengan sangat dan istimewa semua orang beriman, terutama para religius, supaya dengan seringkali membaca kitab-kitab ilahi memperoleh "pengertian yang mulia akan Yesus Kristus" (Flp 3:8). Namun hendaklah mereka ingat, bahwa doa harus menyertai pembacaan Kitab Suci, supaya terwujudlah wawancara antara Allah dan manusia. Sebab "kita berbicara dengan-Nya bila berdoa; kita mendengarkan-Nya bila membaca amanat-amanat ilahi".
Pada hari Kaum Muda Sedunia 9 April 2006, Bapa Suci Benediktus XVI berpesan agar kaum muda akrab dengan Alkitab. Dengan membacanya, mereka belajar untuk mengenal Kristus dengan cara Lectio Divina. Lectio Divina secara harafiah berarti Pembacaan ilahi. Pembacaan Kitab Suci yang direnungkan ini memiliki tujuan berdoa dari Kitab Suci dan hidup dari Sabda Allah.
Ada 6 langkah melakukan Lectio Divina:
1.      Lectio: membaca dan membaca kembali sebuah perikop dari Kitab Suci dan mengambil unsur-unsur utamanya,
2.      Meditatio: refleksi batin di mana jiwa berpaling kepada Allah dan berusaha memahami apa yang dikatakan oleh Sabda-Nya kepada kita sekarang. 
3.      Oratio: berbicara kepada Allah secara langsung.   
4.      Contemplatio: hati penuh perhatian pada kehadiran Kristus, yang Sabda-Nya bagaikan “pelita yang bercahaya di tempat yang gelap…” (2 Ptr 1:19).
5.      Actio: Membaca, mempelajari, dan merenungkan Sabda harus mengalir ke dalam kehidupan selalu setia pada Kristus dan ajaranNya.
Adapun penjelasan masing-masing tahap adalah sebagai berikut:
LECTIO dilakukan melalui aktivitas membaca teks untuk memahami apa yang dikatakan oleh teks.
MEDITATIO bertujuan untuk menemukan arti teks dan menerapkannya pada diri sendiri. Dengan hening, mata terpejam, kita diajak untuk merenung melalui 1) membayangkan peristiwa yang diceritakan/ mengingat kembali isi teks; 2) mencari: “Pesan apa yang saya pelajari dari Firman yang baru direnungkan?” dan “Apa peran pesan itu bagi saya?”, misalnya: mengingatkan, menegur, menguatkan, menghibur. Setelah merenung, kita diajak berbagi pesan dengan orang lain. Yang dibagikan adalah pesan teks untuk diri saya dan peran dari pesan itu untuk saya.
ORATIO terwujud melalui doa yang digerakkan dan diilhami oleh Firman serta merupakan tanggapan saya atas Firman yang baru saya dengarkan. Bagian ini bisa ditutup dengan “Bapa Kami”
CONTEMPLATIO berarti hidup di hadirat Allah. Melalui tahap ini, kita diajak selalu menyadari bahwa Allah selalu bersama saya dan Sabda-Nya menggema di dalam diri saya
ACTIO dilakukan untuk melaksanakan firman Allah yang telah didengarkan. Dengan demikian, setelah membaca atau mendengarkan, merenungkan, berdoa, dan menghayati Firman, kita diajak untuk menjalani hidup sesuai kehendak Allah.
Dalam Lectio Divina, ada pembagian pelaksanaan tahapan. Dalam pertemuan dilakukan tahap Lectio, Meditatio, dan Oratio. Dalam kehidupan, dilaksanakan tahap Contemplatio dan Actio.
Tahun ini, Lectio Divina Bulan Kitab Suci ingin mendalami tentang Abraham, Musa, Maria, dan Para Rasul. Mengapa dipilih tokoh? Kiranya jawaban yang menarik dapat kita lihat dari kutipan berikut: ”bagi Gereja, upaya pertama mewartakan Injil ialah kesaksian hidup otentik Kristiani, dalam penyerahan diri kepada Allah, dalam persekutuan yang pantang dihancurkan, dan sekaligus dalam komitmen kepada sesama dengan semangat tanpa batas. Seperti baru-baru ini kami sampaikan kepada sejumlah ahli hukum: ”Manusia modern lebih suka mendengarkan saksi-saksi daripada guru-guru, dan kalau ia mendengarkan guru-guru, itu karena mereka saksi”. Santo Petrus mengungkapkannya dengan tepat, ketika ia mengutarakan teladan hidup saleh dan murni, yang bahkan tanpa kata-kata pun menarik mereka yang tidak mau mematuhi sabda. Oleh karena itu terutama melalui perilaku dan corak hidupnyalah Gereja akan mewartakan Injil kepada dunia; dengan kata lain, melalui kesaksiannya yang hidup akan kesetiaan terhadap  Tuhan Yesus-kesaksian kemiskinan dan sikap lepas-bebas, kesaksian kebebasan menghadapi berbagai kekuasaan dunia ini, pendek kata, kesaksian kekudusan” (EN 41)

Berikut ini adalah ulasan singkat masing-masing tokohnya.

ABRAHAM, BAPA TELADAN KAUM BERIMAN (Kej 22:1-19)
Abraham dipanggil untuk menjadi Bapa bangsa. Panggilan dan janji Allah kepada Abraham adalah Tanah, Keturunan, Berkat. Usia Abraham sudah 75 tahun ketika dipanggil. Dia taat akan panggilan Allah yang disertai dengan janji.Isi janji yang diulang: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga. Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu.“  (Kej 13:14-17)
Abraham berani melepaskan jaminan konkrit: perlindungan dari keluarga dan suku. Berani mengandalkan Tuhan yang memberikan janji: tanah, keturunan dan berkat. Abraham teguh percaya. Kej 12:10-20 menunjukkan dalam sukar dan takut  Abraham gagal percaya pada Tuhan. Ketika terjadi kelaparan di Mesir Sara diminta mengaku sebagai adiknya.  Supaya diperistri Firaun dan Abraham mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, dll. Kej 15:1-6 menunjukkan iman Abraham yang kuat kembali,  Setelah Tuhan mengulangi janji akan memberikan keturunan. Kej 16:1-4a iman Abraham lemah kembali.  Atas saran Sarai, Abraham mengambil Hagar hambanya, dan melahirkan Ismael. Kej 17: 15-19 Tuhan mengulangi janjinya lagi untuk memberikan keturunan.  Dan sekali lagi Abraham percaya. Kepercayaan kepada Tuhan membuahkan hasil.  Ishak lahir. Tuhan benar-benar menepati janji-Nya (Kej 21). Kej 22 Tuhan yang  memberi keturunan kini meminta Abraham mengurbankannya. Tapi iman Abraham sudah semakin mantab Ia teguh percaya pada Tuhan.
Berbagai peristiwa mengancam Abraham dan mencobai ketekunan imannya. Allah selalu melindungi dan memberi jalan keluar atas kesulitan Abraham.Abraham menjadi berkat. Abraham menjadi teladan iman.
Pencobaan iman Abraham membuatnya jatuh-bangun,  percaya-tidak percaya, mantap- ragu. Tetapi dengan pencobaan itu Iman abraham makin kuat.  Dan Abraham menjadi mengerti bahwa Allah itu Maha Kuasa dan setia. Tindakan Abraham ini telah menyadarkan kita bahwa beriman itu proses.  Dengan beriman tidak dengan sendirinya hidup menjadi mudah. Tetapi Tuhan selalu mendampingi dan setia.

MUSA, PEMBEBAS DAN PEMIMPIN BANGSA (Kel 17:1-7)
Sejak lahir telah kelihatan bahwa Allah memilih Musa. Kehidupan di istana Firaun tidak menghilangkan niatnya untuk kembali kepada bangsanya. Musa pergi ke tanah Midian untuk menghindari kemarahan Firaun. Musa dipanggil untuk kembali ke Mesir dan membawa bangsanya keluar dri Mesir.
Musa dipanggil ketika sedang menggembala domba. Pada awalnya Musa keberatan untuk menerima panggilan Tuhan karena merasa tidak mampu. Tuhan memaksanya untuk menaati perintah itu lewat berbagai jaminan dan bukti. Keberatan Musa tampak dalam beberapa hal berikut ini:
"Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?”
"Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? apakah yang harus kujawab kepada mereka?"
 "Bagaimana jika mereka (orang Mesir) tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?”
 "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.”
 "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus."
Musa berhasil membebaskan bangsanya dari Mesir. Dalam perjalanan pembebasan itu, ia belajar menjadi pemimpin. Ia menjadi penengah antara kehendak Tuhan dan kekerasan hati bangsanya. Ia mengalami banyak tantangan untuk membangun jati diri bangsa sebagai umat pilihan. Akhirnya, ia menjadi pemimpin yang sabar dan lembut hati.
Tuhan selalu mendampingi Musa sejak kelahirannya. Episode Midian adalah episode persiapan untuk diutus: dari gembala domba sampai ke gembala bangsa. Musa diajak merumuskan Perjanjian Sinai. Berbagai reaksi melawan Musa dapat dihadapi berkat campur tangan Tuhan.
Pengalaman Musa menunjukkan“ Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya.”  Tuhan  mengingatkan kita untuk selalu percaya  dalam segala rencana Tuhan dalam hidup kita.

MARIA, IBU YANG SETIA SAMPAI AKHIR (Yoh 19:23-30)
Maria dipanggil ketika masih gadis remaja, berusia sekitar 15 tahun. Tidak ada penolakan. Maria taat sebagai hamba Tuhan: “Terjadilah kehendak-Mu. Panggilan adalah sungguh inisiatif yang datang dari Tuhan. Manusia menaati kehendak-Nya dengan penuh iman.
Kitab Suci menuliskan panggilan Tuhan kepada Maria sebagai berikut:
26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, 27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. 28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.“ 29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. 31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. 32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."
Terhadap panggilan itu, Kitab Suci mencatat tanggapan atas panggilan itu sebagai berikut:
34 Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?“ 35 Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. 36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.  37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.“ 38 Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
Dalam menghayati panggilan itu, Maria berjuang melewati banyak peristiwa antara lain: mengunjungi Elisabet, kelahiran Yesus, mendengarkan nubuat Simeon, digelisahkan akan kehilangan Yesus di Bait Allah, “tidak dianggap sebagai orang dekat Yesus” pada karya publik Yesus, menerima kematian Yesus, dan bersama para rasul menantikan kedatangan Roh Kudus.
Dalam hidup kita, Maria kita terima sebagai teladan dalam iman, pengantara doa, pengungsian di kala duka, pelindung terhadap godaan, penolong, dan Bunda pengantara rahmat
Wafat Yesus di salib menjadi wujud cinta Tuhan yang total sehabis-habisnya. Salib bukan tanda kekalahan tetapi penyerahan diri. Hal ini menyadarkan bahwa Tuhan mencintai kita. Kita bangga menjadi pengikut Kristus dan menjadi orang katolik.  Sudah seharusnya, kita tidak takut membuat tanda Salib karena itu adalah tanda kemenangan kita.

DUA BELAS MURID, PARA UTUSAN YANG HANDAL (Luk 24:36-52)
Yesus memanggil mereka dengan cara datang kepada mereka. Para murid diutus untuk: menjala manusia, melakukan berbagai karya keselamatan, menjadikan semua orang murid Yesus.
Para murid meninggalkan segalanya dan mengikuti Yesus. Mereka berjuang melawan segala hal yang tidak sesuai dengan panggilan. Mereka berjuang untuk memahami: “Siapakah Yesus?” Mereka pun menjadi takut di sekitar peristiwa wafat dan kebangkitan Yesus. Namun, dengan berani mewartakan Injil karena Roh Kudus.
Para murid meninggalkan kemapanan duniawi untuk memenuhi panggilan sorgawi. Mereka ikut serta dalam suka duka Yesus. Iman mereka tergoncang ketika Yesus disalibkan. Kebangkitan Yesus mengembirakan hati mereka namun mereka masih “kebingungan dan kehilangan orientasi”. Akhirnya, mereka dipenuhi Roh Kudus sebagai utusan.
Pada awalnya para rasul selalu bersama Yesus, mengikuti Dia ke manapun Dia pergi. Mereka dibimbing untuk semakin mengenal Yesus dan karya misi-Nya di dunia yang berakhir dengan wafat dan kebangkitan. Mereka mewartakan Injil ke mana-mana dan menghadapi berbagai ancaman. Pendampingan Tuhan selama perutusan untuk mewartakan Injil.
Para murid diutus mewartakan Injil. Kita sebagai murid Yesus juga disadarkan untuk mewartakan Injil. Mewartakan Injil tidak selalu harus berkotbah kemana-mana, tetapi mewartakan Injil dengan cara yang paling sederhana dilakukan melalui kesaksian akan hidup yang baik.

Keempat tokoh ini menyampaikan pesan bahwa mereka telah lebih dulu mencoba berjalan dalam terang Firman Tuhan. Mereka pun manusia biasa. Mereka telah membuktikan bahwa mereka bisa mengandalkan Tuhan. Sebagai manusia biasa dan wajar, mari kita mencoba berjalan dalam terang Firman Tuhan.

Gambar diambil dari:
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/4f/Rembrandt_Harmensz._van_Rijn_035.jpg;
http://www.12apostoles.com/jesusviveenlacasadeallado/wp-content/uploads/2011/03/Moises-Masa-y-Meriba.jpg;
http://jamestabor.com/wp-content/uploads/2012/08/MaryAtFootOfCross.jpg; http://www.catholicjournal.us/wp-content/uploads/LastSupper11.jpg

Sabtu, 28 September 2013

Membangun Gereja Sekolah Bersama Orangtua

Rangkaian acara Kerohanian Katolik Skaga tahun ini agak berbeda. Untuk memulai rangkaian acara setahun, Penjaga Podjok mengundang Bapak/Ibu Orangtua/Wali Siswa-siswi Katolik SMK Negeri 3 Surakarta dalam sebuah pertemuan. Mungkin ada banyak pertanyaan di benak para orangtua dan wali siswa-siswi. Nah, dalam pertemuan hari Jumat (6/9) itulah semua pertanyaan itu terjawab. Tujuan pertemuan ini tidak lain dan tidak bukan pertama-tama adalah untuk saling mengenal. Perkenalan dan perjumpaan itu sangat penting. Ketika orang saling kenal, hal-hal tidak terduga akan muncul dari perjumpaan itu. Selama ini, Penjaga Podjok baru mengenal beberapa gelintir orangtua/wali siswa-siswi Katolik. Itu pun belum tentu setahun sekali. Bahkan, ada yang selama 3 tahun ini belum pernah berjumpa sama sekali. Oleh karena itu, pertemuan kali ini bertujuan untuk membuka perjumpaan. Siapa tahu ada hal-hal yang bisa bermanfaat setelah perjumpaan itu.Perjumpaan ini sekaligus juga berfungsi untuk saling membangun dan menguatkan. Penjaga Podjok ingin bahwa pertemuan ini menjadi pembuka bagi semua saja untuk membangun Gereja bersama sekolah dan orangtua. Selama ini, Penjaga Podjok sudah membangun Gereja bersama dengan siswa-siswi. Sebagai kelanjutannya, ada kerinduan untuk membangun Gereja bersama orangtua.Selain untuk berjumpa, forum ini juga digunakan oleh Penjaga Podjok untuk memaparkan program yang akan dilaksanakan. Program yang dipaparkan tersebut diharapkan dapat dijalankan selama setahun demi perkembangan dan pembinaan iman siswa-siswi. Program besar masih sama dengan tahun lalu yaitu Natalan dan Ziarah - Bakti Sosial Bersama. Namun, ada perkembangan untuk program yang kecil. Program kecil akan dijalankan per minggu dengan perincian: Minggu I Ibadat/Adorasi, Minggu II PGMS bersama Kerohanian Kristen, Minggu III Sekolah Iman, Minggu IV Doa/Devosi, dan Minggu V Ekaristi. Program yang baru untuk tahun ini adalah Sekolah Iman dan Ekaristi. Sekolah Iman diadakan untuk menanggapi ajakan Paus Benediktus XVI yang mencanangkan Tahun Iman 2012-2013 dan Ekaristi ingin menggugah kesadaran seluruh keluarga besar Ruang Podjok sebagai kesatuan yang diikat dalam Tubuh dan Darah Kristus. Demikianlah, forum ini diharapkan dapat menjadi awal bagi Penjaga Podjok dan orangtua untuk saling melengkapi dalam mendampingi siswa-siswi putra-putri yang dipercayakan Tuhan kepada kami. Di akhir pertemuan, Penjaga Podjok mengajak orangtua merenung sejenak dengan belajar dari video “Children See Children Do.” Video ini mengajak kepada mereka yang dituakan dan dipercaya untuk mendidik anak bahwa anak-anak akan melakukan apa yang mereka lihat. Maka, benarlah perkataan ini, “Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya” dan “Kacang kuwi ora arep ninggal lanjarane.” Jika anak berlaku demikian, jangan cepat-cepat menyalahkan anak tetapi sebaiknya kita melihat dulu apa yang kita lakukan. Semoga perjumpaan ini menjadi perjumpaan yang bermakna.

Jumat, 16 Agustus 2013

“Soegija” dan Nasionalisme Kita

Setahun yang lalu, pada 7 Juni 2012, film layar lebar “Soegija” memasuki masa tayang. Dalam waktu singkat, film itu pun menjadi buah bibir umat. Film ini tampaknya berhasil menggugah kembali ingatan kolektif umat Katolik terhadap semangat “beriman di tengah masyarakat”. Berbagai komentar dituai oleh film ini. Ada yang pro dan ada yang kontra. Apapun komentarnya, pemutaran film ini berjalan terus dengan peminat yang begitu luar biasa.
Pasca menonton “Soegija”, ada sebuah pertanyaan yang menggelitik. “Pelajaran apa yang dapat ditilik dari film ini? Adakah cukup hanya berhenti di sini atau adakah sesuatu yang dapat dilakukan?” Jawaban atas pertanyaan itu dapat didekati dari berbagai macam segi, tergantung sudut pandang masing-masing. Salah satu sudut pandang yang kiranya dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan itu adalah sudut pandang pendidikan bela negara. 
Pendidikan bela negara merupakan upaya yang dilakukan oleh negara untuk menanamkan kesadaran bela negara dalam diri masyarakat di suatu negara tertentu. Di beberapa negara, perwujudan dari pendidikan bela negara ini adalah dengan mengikuti wajib militer. Di Indonesia, pendidikan bela  negara diwujudkan melalui berbagai macam kegiatan untuk membangkitkan kesadaran untuk membela negara dalam diri masyarakat. Pada masa awal kemerdekaan, di bawah pemerintahan Soekarno, pendidikan bela negara dialami langsung melalui berbagai perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan. Saat itu, rakyat dididik oleh situasi bangsa yang baru saja merdeka dalam situasi di mana kemerdekaan itu akan direbut kembali oleh bangsa penjajah. Setelah benar-benar merdeka, pendidikan bela negara diwadahi oleh Pelajaran Civics (Kewarganegaraan). Di era Soeharto, pendidikan bela negara menemukan perwujudannya dalam berbagai macam aktivitas, mulai dari Penataran P4 di semua lini masyarakat serta Pendidikan Moral Pancasila dan Pendidikan Kewiraan di lingkungan pendidikan formal. Masuk era Reformasi, pendidikan bela negara seakan-akan lenyap ditelan bumi karena masyarakat tidak lagi percaya penuh kepada pemerintah dan negara. Metode penanaman kesadaran bela negara warisan Orde Baru diemohi oleh masyarakat karena masyarakat telah menengarai berbagai penyelewengan.
Di saat masyarakat ragu terhadap negara dan menjauhi pengabdian kepada negara ini, “Soegija” hadir menyegarkan memori masyarakat dan umat terhadap peran warga negara atas kesadaran untuk membela negara. Sebuah fragmen dalam film “Soegija” mengisahkan bagaimana Sang Uskup bersikap menghadapi banyak pengungsi yang sedang berlindung di Gereja Bintaran. “Saya akan meminta umat dan Gereja untuk mengumpulkan obat-obatan, bahan-bahan makanan dan selimut.” Di bagian lain, Uskup Soegija juga mengatakan, “Ini saatnya kita terpanggil mempertahankan hak Allah, hak agama, dan hak bangsa.” Ungkapan-ungkapan ini seakan ingin menggali kembali kesadaran umat untuk berperan serta dalam mewujudkan keselamatan bangsa dan negara. Melalui “Soegija”, umat digugah untuk terlibat dan berbagi dengan masyarakat sezamannya.
Jalinan kisah yang ada di dalam film “Soegija” juga ingin berbicara kepada masyarakat mengenai  lima nilai dasar dalam bela negara, yaitu a) Cinta Tanah Air; b) Kesadaran Berbangsa dan Bernegara; c) Keyakinan terhadap Pancasila sebagai Ideologi Bangsa; d) Sikap Rela Berkorban untuk Bangsa dan Negara; serta e) Kemampuan Awal Bela Negara. “Soegija” mampu mengungkapkan lima nilai dasar ini melalui kisah-kisah kecil nan sederhana. Heroisme tidak selalu ditunjukkan melalui tindakan mengangkat senjata, namun ditampakkan melalui kegiatan sehari-hari. Fragmen keteguhan sikap saat Gereja hendak dirampas Jepang dan pemindahan tahta Keuskupan dari Semarang ke Jogjakarta sebagai dukungan kepada Republik merupakan cuplikan-cuplikan kisah yang mampu berbicara mengenai keberpihakan kepada bangsa dan negara.
Betapa banyak pelajaran yang dapat kita petik dari “Soegija”. Kali ini, kita belajar untuk menjadi umat beriman yang siap untuk membela negara. UUD 1945 Pasal 31 menyatakan, “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam pembelaan negara.” Panggilan untuk membela negara ini selaras dengan apa yang dinasehatkan oleh Monsinyur Soegijapranata dalam Surat Gembala berjudul “Alit Ning Mentes – Kecil Namun Berisi” berikut ini:

“Orang Katolik sudah semestinya bersatu dalam kesatuan yang tertata dan mempunyai disiplin; mempunyai jiwa merdeka dan bertanggungjawab; mempunyai tata susila dan sopan santun, rendah hati; mempunyai semangat rela berkorban untuk kesejahteraan Gereja dan Negara. Orang Katolik memang bukan bagian yang besar, tetapi harus menjadi bagian yang lebih baik.
Di bulan Agustus ini, terlebih menjelang Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-68, kita diajak merenungkan kembali peran kita – orang Katolik – sebagai warga negara dan warga masyarakat. Sudahkah kita menjalankan apa yang dinasehatkan oleh beliau Monsinyur Soegijapranata? Inilah panggilan kita, seluruh orang Katolik, sebagai warga negara Indonesia. Dengan caranya sendiri, melalui bahasa khas sinema, “Soegija” telah membangkitkan kesadaran akan panggilan tersebut.

Gambar diambil dari:
http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2012/06/Soegija-Pidato.jpg;
http://kebuncerita.com/wp-content/uploads/2012/10/Soegija.png;
http://www.sesawi.net/wp-content/uploads/2012/05/Mgr-pidato.jpg

Rabu, 31 Juli 2013

Menerangkan dan Mengasinkan Diri


Masuk sekolah tahun ini diwarnai dengan hal yang istimewa, yaitu masuk sekolah dalam bulan Puasa. Nah, kalau sudah bicara tentang bulan Puasa, di SMK Negeri 3 pasti ada pembicaraan mengenai Pesantren Kilat. Kalau bicara tentang Pesantren Kilat, pasti juga ada pembicaraan tentang Retret. Seperti yang telah diketahui oleh semua, retret di SMK Negeri 3 sudah menjadi kegiatan rutin bagi siswa-siswi Kristiani ketika siswa-siswi Muslim-Muslimah menjalankan pesantren kilat.
Kekoordinatoran retret tahun ini digawangi oleh siswa-siswi Katolik. Fransisca Dea Triastuti sebagai Koordinator Sie Kerohanian Katolik menjadi ketua panitia retret ini. Tentunya, seluruh siswa-siswi Kristiani bersatu untuk melaksanakan kegiatan ini. Seperti kegiatan tahun lalu, tema retret kali ini dipilih oleh panitia dari siswa-siswi sendiri. Tema yang diambil adalahSalt and LightGaram dan Terang.Inspirasi tema retret ini diambil dari Injil Matius Bab 5 ayat 13 sampai 16 yang berbunyi sebagai berikut, “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”
Sejak awal perencanaan, kami – saya dan Pak Heru – meminta panitia untuk memastikan dan mengkoordinasikan bersama Sie Kerohanian Islam mengenai tanggal pelaksanaan pesantren kilat. Penetapan tanggal ini sangatlah penting karena kegiatan retret memerlukan pemesanan tempat jauh-jauh hari karena tidak setiap tempat retret bisa dipesan secara mendadak. Setelah melalui berbagai diskusi dan tanya sana-sini, akhirnya diperoleh tanggal 25-27 Juli 2013. Setelah diperoleh tanggal, panitia pun mulai survei kesana kemari untuk mendapatkan tempat. Akhirnya, yang dipilih sebagai tempat retret adalah Wisma Doa El Betel, Karangpandan, Karanganyar.
Seperti ide tahun yang lalu, retret kali ini dilayani oleh para pemuka agama. Pilihan pemuka agama dalam retret ini jatuh pada para pastor dari Gereja Katolik. Sedianya, panitia meminta pelayanan retret dari Romo Marcelinus Roselawanto yang bertugas di Paroki San Inigo Dirjodipuran. Namun, karena kesibukan mempersiapkan kepindahan dan lanjut studi, Romo Marcel merasa tidak sanggup untuk memberikan pelayanan itu. Akhirnya, pilihan pelayan jatuh kepada Romo Ignatius Supriyatno, MSF dari Paroki Santo Petrus Purwosari yang sekaligus menjadi Ketua Komisi Keluarga Kevikepan Surakarta.
Pemilihan ini didasarkan pada fokus pastoral yang dimiliki oleh Komisi Keluarga Kevikepan Surakarta. Menurut arah yang telah ditetapkan oleh Komisi Keluarga Keuskupan Agung Semarang, komisi di setiap kevikepan memiliki 9 fokus pendampingan yang bisa digambarkan sebagai berikut: 1) Pendampingan kepada remaja dan mahasiswa lewat temaRemaja Terang Keluarga; 2) Pendampingan untuk mereka yang berpacaran serius melalui temaDiscovery; 3) Pendampingan bagi mereka yang mempersiapkan perkawinan dengan temaKatekese Persiapan Perkawinan; 4) Pendampingan untuk mereka yang baru saja menikah lewat temaAftercare Tujuh Aturan Emas Perkawinan; 5) Pendampingan kepada mereka yang sudah memiliki anak balita melalui temaMenjadi Suami Istri dan Ayah Ibu; 6) Pendampingan bagi mereka yang memiliki anak remaja dengan temaMalam Orangtua; 7) Pendampingan kepada mereka yang sudah ditinggal anak-anak yang sudah dewasa melalui temaSarang Kosong; 8) Pendampingan kepada pasangan suami istri yang sudah beranjak senja lewat temaKemuning Senja; 9) Pendampingan untuk suami atau istri yang sudah ditinggalkan pasangannya dengan temaSendiri Tidak Sepi.Sembilan tema ini diberikan sesuai dengan jejang usia atau situasi yang dialami oleh masing-masing tingkatan. Nah, karena Komisi Keluarga Kevikepan memiliki fokus dalam pendampingan berjenjang dan tema yang diambil sesuai dengan fokus pendampingan yang pertama, dipilihlah tim dari Komisi Keluarga Kevikepan Surakarta untuk memberikan pelayanan kepada siswa-siswi SMK Negeri 3.
Setelah semuanya siap, acara gladi rohani Kerohanian Kristen dan Katolik pun dimulai pada tanggal 25 Juli 2013. Hari itu, kegiatan diadakan di sekolah. Sesi hari itu diisi oleh para guru agama, yaitu Pak Heru dan saya. Di sesi pertama, Pak Heru memberikan ulasan firman dari Matius 5:13-16 tentang garam dan terang dunia. Tema ini menjadi pembuka sekaligus bingkai besar dari seluruh dinamika gladi rohani yang ada. Setelah sesi pertama selesai, giliran saya yang kemudian mengisi. Yang menjadi fokus pembicaraan sesi kedua adalah You Are The Heroes EverydayKamu adalah Pahlawan Setiap Hari. Di sesi ini, seperti biasanya yang menjadi kesenangan saya, saya mengisinya dengan menyaksikan film. Kali ini, filmnya berjudulFreedom Writer.Film ini berkisah tentang seorang guru bernama Erin Gruwell yang mencoba mengubah karakter anak-anak didiknya yang berlatarbelakang kekerasan, terpecah-pecah, dan berpotensi gagal menjadi anak-anak yang mau maju dan berkembang lebih baik. Berbagai macam usaha ditempuh untuk menjadikan anak-anak didiknya menjadi anak-anak yang berhasil. Akhirnya, Erin berhasil membentuk anak-anak didiknya menjadi peduli satu sama lain dan merasa menjadi sebuah keluarga. Hal itu berdampak pada keberhasilan anak-anak. Beberapa di antara mereka berhasil melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan menjadi yang pertama mengenyam jenjang kuliah di keluarganya. Yang ingin saya tekankan dalam refleksi ini adalah mengajak siswa-siswi Kristiani untuk menjadi pahlawan setiap hari. Pahlawan itu berbuat kebaikan. Dia dikenang karena melakukan sesuatu yang baik. Siswa-siswi pun diajak untuk menjadi pahlawan setiap hari.










Mulai hari kedua, kegiatan dilaksanakan di Wisma Doa El Betel, Karangpandan. Pagi-pagi, sekitar jam 7, semua sudah berkumpul dan siap berangkat. Sekitar jam 8, rombongan mulai berangkat menuju tempat retret. Kira-kira jam 10, rombongan tiba di tempat retret. Setelah beristirahat sebentar, sesi pun dimulai. Di sesi pertama dan kedua, para peserta diajak untuk menyadari diri dalam berelasi dengan sesama dan lingkungan sekitarnya. Tema yang diangkat adalahTopeng KehidupandanAku Dibentuk Sesama dan Keluarga.Sesi ini dibawakan oleh pasangan suami istri Eduardus Didy Djati Oetama & Bernadeta Ratna Surya Dwiwati, tim Komisi Keluarga Kevikepan Surakarta. Dalam sesi ini, para peserta diajak menyadari bahwa dalam berelasi, masing-masing orang kadangkala menggunakan topeng. Topeng-topeng inilah yang membuat orang tidak bebas dalam berelasi karena jaga image. Para peserta diajak untuk tampil asli sehingga dapat berelasi dengan lebih sehat bersama orang lain. Di sesi selanjutnya, peserta diajak menyadari bahwa cara berelasi dengan orang lain itu dipengaruhi oleh keluarga dan sesama. Dalam berelasi dengan orang lain, kita diajak menyadari bahwa diri kita memiliki latar belakang yang unik, potensi yang bisa dikembangkan, perlunya berdamai dengan diri-sesama-Tuhan, dan perlu merumuskan cita-cita untuk bertindak. Semuanya ini diperlukan untuk bisa menjadi Garam dan Terang Dunia.
























Setelah sesi selesai, para peserta diberi kesempatan untuk beristirahat sejenak. Sore harinya, dinamika dilanjutkan dengan game. Game-game ini dimaksudkan untuk melatih relasi dalam tim. Setelah game, acara pun dilanjutkan dengan makan malam dan api unggun. Pada kesempatan api unggun itu, Ibu Kepala Sekolah berkenan hadir menengok acara ini. Beliau memberikan sambutan berkenaan dengan kasih. Menjadi garam dan terang dunia berarti menyebarkan kasih kepada semua orang yang ada di sekitar dimanapun berada. Akhirnya, kegiatan hari kedua diakhiri dengan istirahat.

























































 
Pagi-pagi hari ketiga, kegiatan dimulai dengan Saat Teduh yang dibawakan oleh Bapak Fajar Kriscahyo Herlambang dari SMK Negeri 3. Saat teduh ini digunakan untuk memberikan kesadaran kepada para peserta bahwa masing-masing dari kita memilikiTangki Cinta.Tangki cinta adalah wadah kasih yang ada dalam diri kita masing-masing. Wadah itu bisa kosong, sedikit isi, separuh isi, sebagian besar isi, maupun penuh. Penuh atau tidaknya tangki cinta itu tergantung dari kondisi masing-masing pribadi. Seseorang yang tangki cintanya penuh tidak akan mencari-cari cinta di berbagai situasi. Seseorang yang tangki cintanya kosong atau hanya sedikit terisi pasti akan haus cinta di manapun berada. Penuh atau tidaknya tangki cinta ini bisa dilihat dari perilaku yang dilakukan, nada bicara yang disampaikan, kata yang diucapkan, dan sinar mata yang dipancarkan seseorang. Untuk memenuhi tangki cinta ini, bisa dilakukan 5 cara, yaitu Kata-kata Peneguhan, Waktu Bersama, Hadiah, Pelayanan, dan Sentuhan Fisik. Seseorang yang tangki cintanya penuh akan dapat menjalankan tugasnya sebagai Garam dan Terang Dunia dengan baik.










Setelah saat teduh, tibalah saat makan pagi. Setelah makan pagi, dimulailah acara outbound. Ada 6 pos yang harus ditempuh oleh peserta dalam outbound ini. Berbagai macam permainan dilakukan untuk membangun kekompakan dan kebersamaan di antara kelompok. Di sekolah negeri, siswa-siswi Kristiani itu sedikit. Nah, yang sedikit ini harus menampakkan kebersamaan dan kekompakan.


























































Selesai outbound, rangkaian acara retret dilanjutkan dengan sesi ketiga. Sesi ketiga yang berbicara tentang “Menjadi Terang bagi Keluarga” ini sedianya akan dibawakan oleh Romo Ignatius Supriyatno, MSF. Namun, karena beliau mendadak harus bertemu dengan Romo Ekonom Keuskupan Agung Semarang, beliau mendelegasikan tugas ini kepada Bapak Phillipus Ispriyanto, salah seorang tim dari Komisi Keluarga Kevikepan Surakarta. Dalam sesi ini, para peserta diajak untuk membangun kesadaran dan memupuk niat untuk menjadi Terang dan Garam bagi sekitarnya. Caranya bagaimana? Pertama-tama, yang harus dilakukan adalah menjadi terang bagi keluarga. Terang dan Garam adalah identitas kita sebagai orang Kristiani. Tuhan Yesus tidak bersabda, “Jadilah garam dan terang dunia,” tetapi Ia bersabda, “Kamulah garam dan terang dunia.” Jadi, kita masing-masing sudah memiliki potensi terang dan garam itu. Yang perlu dilakukan kemudian adalah membuat terang dan garam itu bermakna dan berguna bagi sekitar. Di akhir sesi ini, para peserta diajak untuk menuliskan hal-hal yang bisa dilakukan sebagai garam dan terang bagi keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar.







Di penghujung acara retret, setelah makan siang, diadakanlah presentasi butir-butir retret oleh masing-masing kelompok peserta. Setelah berproses selama kurang lebih tiga hari, masing-masing kelompok membuat kliping majalah dinding yang memuat berbagai poin yang mereka dapatkan dalam retret tahun ini. Inilah sebuah cara yang indah untuk mengakhiri. Dan akhirnya, di paling penghujung acara, tibalah saatnya untuk ucapan terima kasih.Terimakasih seribu... pada panitiaku... aku bahagia karena dicinta... Terima kasih...Terima kasih kepada para peserta, para panitia, para bapak ibu guru, bapak ibu pemateri, dan semua pihak yang telah membantu berlangsungnya kegiatan ini.Terimakasih seribu...





















Akhir kata, yang paling mengejutkan dalam retret ini adalah lagu GEDHANG. Syairnya begini,Geee...dhang... Cek... dioncek... cek... cek... dioncek... Cok... dikocok... cok... cok... dikocok... Ngan... dipangan... ngan... ngan... dipangan... Tok... ditokke... tok... tok... ditokke...Ini lagunya Wening yang tentunya sangat dikenal oleh peserta retret kali ini.... hahahaha....