Selasa, 04 Maret 2014

Surat Gembala Konferensi Waligereja Indonesia tentang Pemilihan Umum 2014


“JADILAH PEMILIH YANG CERDAS DENGAN BERPEGANG PADA HATI NURANI” 

Saudara-saudari, segenap umat Katolik Indonesia yang terkasih, 
Bangsa kita sedang bersiap diri menyambut Pemilu legislatif untuk memilih DPR, DPD dan DPRD yang akan diselenggarakan tanggal 9 April 2014. Sebagai negara yang menganut sistem demokrasi, Pemilu menjadi peristiwa penting dan strategis karena merupakan kesempatan memilih calon legislatif dan perwakilan daerah yang akan menjadi wakil rakyat.

Hak dan Panggilan Ikut Serta Pemilu 
Warga negara yang telah memenuhi syarat berhak ikut menentukan siapa yang akan mengemban kedaulatan rakyat melalui Pemilu. Mereka yang terpilih akan menempati posisi yang menentukan arah dan kebijakan negeri ini menuju cita-cita bersama, yaitu kesejahteraaan bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena itu, selain merupakan hak, ikut memilih dalam Pemilu merupakan panggilan sebagai warga negara. Dengan ikut memilih berarti Anda ambil bagian dalam menentukan arah perjalanan bangsa ke depan. Penting disadari bagi para pemilih untuk tidak saja datang dan memberikan suara, melainkan menentukan pilihannya dengan cerdas dan sesuai dengan hati nurani. Dengan demikian, pemilihan dilakukan tidak asal menggunakan hak pilih, apalagi sekedar ikut-ikutan. Siapa pun calon dan partai apa pun pilihan Anda, hendaknya dipilih dengan keyakinan bahwa calon tersebut dan partainya akan mewakili rakyat dengan berjuang bersama seluruh komponen masyarakat mewujudkan cita-cita bersama bangsa Indonesia. Pertanyaannya adalah calon legislatif macam apa yang mesti dipilih dan partai mana yang mesti menjadi pilihan kita. 

Kriteria Calon Legislatif 
Tidak mudah bagi Anda untuk menjatuhkan pilihan atas para calon legislatif. Selain karena banyak jumlahnya, mungkin juga tidak cukup Anda kenal karena tidak pernah bertemu muka. Para calon legislatif yang akan Anda pilih, harus dipastikan bahwa mereka itu memang orang baik, menghayati nilai-nilai agama dengan baik dan jujur, peduli terhadap sesama, berpihak kepada rakyat kecil, cinta damai dan anti kekerasan. Calon legislatif yang jelas-jelas berwawasan sempit, mementingkan kelompok, dikenal tidak jujur, korupsi dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kedudukan tidak layak dipilih. Hati-hatilah dengan sikap ramah-tamah dan kebaikan yang ditampilkan calon legislatif hanya ketika berkampanye, seperti membantu secara material atau memberi uang. Hendaklah Anda tidak terjebak atau ikut dalam politik uang yang dilakukan para caleg untuk mendapatkan dukungan suara. Perlulah Anda mencari informasi mengenai para calon yang tidak Anda kenal dengan pelbagai cara. Demi terjaga dan tegaknya bangsa ini, perlulah kita memperhitungkan calon legislatif yang mau berjuang untuk mengembangkan sikap toleran dalam kehidupan antarumat beragama dan peduli pada pelestarian lingkungan hidup. Pilihan kepada calon legislatif perempuan yang berkualitas untuk DPR, DPD dan DPRD merupakan salah satu tindakan nyata mengakui kesamaan martabat dalam kehidupan politik antara laki-laki dan perempuan, serta mendukung peran serta perempuan dalam menentukan kebijakan dan mengambil keputusan. 

Kriteria Partai Politik 
Kita bersyukur atas empat kesepakatan dasar dalam berbangsa dan bernegara yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika. Kita percaya bahwa hanya dengan mewujudkan keempat kesepakatan tersebut, bangsa ini akan mampu mewujudkan cita-citanya. Oleh karena itu, dalam memilih partai perlu memperhatikan sikap dan perjuangan mereka dalam menjaga keempat kesepakatan tersebut. Hal yang penting untuk menjadi pertimbangan kita adalah partai yang memiliki calon legislatif dengan kemampuan memadai dan wawasan kebangsaan yang benar. Partai yang memperjuangkan kepentingan kelompoknya apalagi tidak berwawasan kebangsaan, hendaknya tidak dipilih.  

Pengawasan atas Jalannya Pemilu  
Setiap warga negara diharapkan ikut memantau dan mengawasi proses dan jalannya Pemilu. Pengawasan itu bukan hanya pada saat penghitungan suara, melainkan selama proses Pemilu berlangsung demi terlaksananya Pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil (Luber Jurdil). Kita perlu mendorong dan memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok dalam masyarakat yang dengan cermat mengikuti dan mengritisi proses jalannya Pemilu. Hendaknya Anda mengikuti secara cermat proses penghitungan suara bahkan harus terus mengawasi pengumpulan suara dari tingkat Tempat Pemungutan Suara (TPS) sampai ke tingkat kecamatan dan kabupaten agar tidak terjadi rekayasa dan kecurangan. 

Pemilu yang Aman dan Damai  
Amat penting bagi semua warga masyarakat untuk menjaga Pemilu berjalan langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, adil, damai dan berkualitas. Jangan sampai terjadi kekerasan dalam bentuk apapun, baik secara terbuka maupun terselubung, karena bila sampai terjadi kekerasan maka damai dan rasa aman tidak akan mudah dipulihkan. Perlu tetap waspada terhadap usaha-usaha memecah belah atau mengadu domba yang dilakukan demi tercapainya suatu target politik. Bila ada sesuatu yang bisa menimbulkan kerawanan, khususnya dalam hal keamanan dan persatuan ini, partisipasi segenap warga masyarakat untuk menangkalnya sangat diharapkan. 

Calon Legislatif 
Para calon legislatif, kami hargai Anda karena tertarik dan terpanggil terjun dalam dunia politik. Keputusan Anda untuk mempersembahkan diri kepada Ibu Pertiwi melalui jalan itu akan menjadi kesempatan untuk berkontribusi secara berarti bahkan maksimal bagi tercapainya cita-cita bangsa Indonesia. Karena itu, tetaplah memegang nilai-nilai luhur kemanusiaan, serta tetap berjuang untuk kepentingan umum dengan integritas moral dan spiritualitas yang dalam. Anda dipanggil dan diutus menjadi garam dan terang!

Saudara-saudari terkasih,
Ikutlah memilih. Dengan demikian Anda ikut serta dalam menentukan masa depan bangsa. Sebagai umat beriman, marilah kita mengiringi proses pelaksanaan Pemilu dengan doa memohon berkat Tuhan, semoga Pemilu berlangsung dengan damai dan berkualitas serta menghasilkan wakil-wakil rakyat yang benar-benar memperhatikan rakyat dan berjuang untuk keutuhan Indonesia. Dengan demikian cita-cita bersama, yaitu kebaikan dan kesejahteraan bersama semakin mewujud nyata.
Semoga Bunda Maria, Ibu segala bangsa, senantiasa melindungi bangsa dan negara kita dengan doa-doanya.

 Jakarta, Januari 2014
KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA




Mgr. Ignatius Suharyo                                                  Mgr. Johannes Pujasumarta
Ketua                                                                  Sekretaris Jenderal

Surat Gembala Prapaska 2014 Keuskupan Agung Semarang




“Allah Peduli dan Kita Menjadi Perpanjangan Tangan Kasih-Nya untuk Melayani”  


Saudari-saudaraku yang terkasih,
Tidak lama lagi kita akan memasuki masa Prapaskah, masa penuh rahmat yang setiap tahun kita jalani. Masa Prapaskah menjadi penuh rahmat karena kita mengalami bahwa Allah sungguh baik kepada kita dan memberi kesempatan untuk membangun pertobatan terus menerus.
Ada kisah-kisah kehidupan yang menampakkan solidaritas dan belarasa yang nyata dari situasi banjir ataupun bencana yang terjadi pada hari-hari ini. Namun yang lebih keras terdengar adalah situasikehidupan harianyang diwarnai dengan korupsi, aneka bentuk keserakahan, egoisme, dan orang mengejar segala kepentingan diri dengan pelbagai cara. Akibatnya orang tidak lagi peduli dengan kesengsaraan banyak orang. Orang hidup untuk dirinya sendiri. Orang menjadi mudah cemas, kuatir, terutama terhadap pemenuhan kebutuhan jasmani. Kekuatiran itu membuat orang tidak mudah bersyukur atas apa yang diterimanya, juga tidak mudah untuk mengambil penderitaan orang lain sebagai tanggung jawabnya.
Dalam dunia yang semacam itu, sabda Tuhan memberi peneguhan dan pengharapan. Kasih Allah akan mengatasi segala kekuatiran kita. ”Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian?” (Mat 6:25). Kasih Tuhan melebihi kasih seorang ibu  “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya,Aku tidak akan melupakan engkau” (Yes 49:15). Kasih-Nya memberi pengharapan pada semua orang dalam perjuangan hidupnya. Ia akan menerangi dalam setiap langkah hidup kita, terutama saat hidup ada dalam kegelapan (bdk. 1Kor 4:5).

Saudari-saudara terkasih,
Belum lama ini Paus Fransiskus mengeluarkan surat apostolik “Evangelii Gaudium”. Dalam suratnya itu, Paus meneguhkan iman kita semua bahwa Allah sungguh mencintai semua orang. Melalui Yesus Kristus, Ia menyelamatkan kita bukan janya orang perorangan, tetapi dalam relasi sosial dengan semua orang (Evangelii Gaudium art. 178).  Ia berharap agar iman akan Allah yang begitu mengasihi dibangun terus menerus, sehingga kita bisa bersyukur dalam keadaan apapun dan tidak mudah kuatir; kita bisa terus tergerak untuk membantu orang lain, meringankan beban mereka yang menderita dan mau berkorban tanpa pamrih, walaupun kita hidup di dalam masyarakat yang banyak egois, mengejar kepentingan diri. Semua itu karena kita tidak berpusat pada diri sendiri, tetapi pada Allah yang dengan cara-Nya akan mencukupi segala kebutuhan dan keselamatan kita.

Saudari-saudara terkasih,
Untuk mengembangkan iman yang demikian, Keuskupan Agung Semarang menjadikan tahun 2014 sebagai Tahun Formatio Iman. Formatio Iman adalah pembinaan atau pendampingan iman yang terus menerus kepada semua orang beriman dalam setiap jenjang usia, mulai dari usia dini sampai usia lanjut. Pembinaan itu melibatkan keluarga, sekolah maupun paroki. Harapannya, melalui pendampingan iman yang terus menerus, kita semua bisa menjadi orang-orang katolik yang beriman cerdas, tangguh dan misioner. Cerdas karena kita mampu memahami dan mempertanggungjawabkan imannya.Tangguh karena kita tetap bisa bertahan dan berkembang dalam iman walaupun ada dalam pergulatan hidup yang berat dan tantangan iman yang semakin kompleks. Dan misioner karena iman mengajak kita bergerak keluar untuk menghadirkan Kerajaan Allah di tengah Gereja dan masyarakat.
Iman yang cerdas, tangguh dan misioner itu terumuskan secara jelas dalam tema APP 2014, ”Berikanlah Hatimu untuk Mencintai dan Ulurkanlah Tanganmu untuk Melayani”.Tema itu tidak hanya menyapa sisi manusiawi kita, tetapi juga menyapa iman kita. Pengalaman akan Allah yang mengasihi, meneguhkan dan mengorbankan diri-Nya membuat kita juga mampu mencintai sesama dan mengulurkan tangan-tangan kita untuk melayani orang lain, terutama yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Keprihatinan sosial yang ada sekarang ini menjadi kesempatan kita untuk memberikan kesaksian iman.

Saudari-saudara yang terkasih,
Kita menjadikan masa Prapaskah menjadi masa untuk formatio iman, yakni masa untuk mengolah iman secara terus menerus sampai akhirnya kita merasakan bahwa:
  • Iman adalah rahmat yang membawa hidup penuh berkat;
  • Iman adalah keyakinan bahwa Allah berkarya dalam hidup kita;
  • Iman adalah penyerahan yang membuat kita tidak kuatir dalam segala hal.
  • Iman adalah kesadaran bahwa hidup ini semakin berarti saat hati bisa mencintai dan tangan bisa melayani.
Maka formatio iman tidak bisa dilepaskan dengan pertobatan dan pembaruan. Pertobatan adalah kesediaan diri untuk mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah, sehingga kita tidak kuatir karena Allah bersama kita dan mencukupkan segala kebutuhan kita. Pertobatan juga merupakan penyangkalan diri untuk mewujudkan kasih dalam kehidupan bersama. Pertobatan itu kita bangun melalui puasa, pengakuan dosa dan amal kasih. Puasa menjadi bentuk pengendalian diri dan penyangkalan diri; pengakuan dosa menjadi bentuk kerendahan hati bahwa kita masih lemah dan membutuhkan pengampunan dan pertolongan Tuhan. Amal kasih menjadi tindakan nyata bahwa kita bisa ambil bagian dalam kasih dan kepedulian Allah untuk umat manusia. Dengan demikian, pertobatan membawa pembaruan relasi kita dengan Allah dan sesama. 

Saudari-saudara yang terkasih,
Secara tulus saya mengucapkan banyak terima kasih kepada ibu, bapak, saudari-saudara, anak-anak, remaja, orang muda, para Romo, Bruder, Suster, Frater yang dengan berbagai macam cara terlibat dalam formatio iman, mengembangkan pelayanan kasih, tiada henti mewujudkan persaudaraan sejati di antara sesama pemeluk agama dan pelayanan lain di Keuskupan Agung Semarang. Saya yakin bahwa usaha dan niat-niat baik Anda akan berbuah bagi terwujudnya tatanan kehidupan yang semakin beriman, bersaudara dan manusiawi.
Secara khusus saya berdoa bagi Anda yang sedang sakit, menanggung beban-beban kehidupan yang berat, berada di Lembaga Pemasyarakatan, menjadi korban penyalahgunaan Narkoba, difabel atau berkebutuhan khusus serta yang lanjut usia; semoga Tuhan yang Mahakasih memberikan keteguhan iman kepada Anda semua dan diantara umat dapat saling menghibur-meneguhkan. Tuhan yang Mahamurah senantiasa melimpahkan berkat bagi keluarga dan komunitas Anda.

Salam, doa dan Berkah Dalem,
Semarang, 22 Februari 2014, pada Pesta Tahta Santo Petrus, Rasul 
+ Johannes Pujasumarta 
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Sumber Gambar:  
http://loveufull.files.wordpress.com/2011/01/mother_teresa_corrected.jpg

Sabtu, 22 Februari 2014

Kasih adalah Hukum Tertinggi


Mengikuti tema populer yang sering muncul setiap bulan Februari akibat adanya hari Valentine, Ruang Podjok mengangkat KASIH sebagai tema Sekolah Iman bulan ini.

Pengantar untuk Memahami Kasih
Kasih merupakan tema pokok yang selalu dibicarakan oleh Gereja. Tema ini tidak habis-habisnya dibicarakan. Tema pokok tentang kasih ini pertama-tama perlu kita dekati melalui apa yang tertulis dalam Kitab Suci. Dalam Kitab Suci, tema kasih tersebar luas mulai dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Bahkan dapat dikatakan bahwa seluruh Kitab Suci adalah uraian mengenai bagaimana kasih Allah diwujudkan kepada umatnya. Allah mulai mewujudkan kasih kepada umatNya melalui pemilihan bangsa Israel sebagai umatNya dan akhirnya memberikan Yesus Kristus PutraNya sendiri untuk menebus dosa umat manusia yang telah dipilih menjadi umatNya. Meskipun manusia tidak membalas kasih Allah secara sepadan, Allah tetap mencintainya dengan kasih yang tidak terbatas. Dalam pembahasan ini, kita akan membatasi pembicaran dalam beberapa pokok mengenai kasih.

Mengapa Allah adalah Kasih?
Dalam Surat Yohanes, tertulis, “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah sebab Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:8). Dalam kutipan ini, kita diberi pemahaman bahwa Allah adalah kasih. Dengan demikian, orang yang tidak mengasihi adalah orang yang tidak mengenal Allah. Allah adalah sumber kasih karena kebaikan hatinya yang begitu melimpah kepada ciptaanNya, terutama kepada manusia. Pernahkah kita berpikir mengapa kita diciptakan di dunia ini? Kalau dipikir-pikir, tindakan menciptakan atau tidak menciptakan sebenarnya tidak akan menambah keuntungan sedikitpun bagi Allah. Malah, tindakan menciptakan itu kadangkala menjadi kerugian bagi Allah karena ciptaan – terutama manusia – sering tidak taat kepadaNya. Namun, Allah tetap menciptakan kita. Mengapa begitu? Salah satu kemungkinan jawaban yang saya temukan adalah karena Allah mengasihi kita dan memberi kesempatan kepada ciptaanNya untuk melakukan sesuatu. Dengan menciptakan kita, Ia ingin mengutus kita untuk berbuat sesuatu di dunia ini. Kita tidak mungkin diciptakan di dunia ini tanpa suatu tujuan. Kalau kita diciptakan, pasti ada tujuan yang diinginkan Allah dengan penciptaan kita. Kalau dilihat dalam kerangka penciptaan, kiranya dapat dipahami bahwa satu-satunya motivasi Allah untuk menciptakan adalah karena Ia mengasihi ciptaanNya. Penjelasan ini kiranya dapat memberi gambaran kepada kita mengapa Allah adalah kasih. Ia adalah kasih karena Ia mengasihi dengan memberikan kesempatan bagi ciptaanNya untuk menjalani kehidupan.    

Allah Mengasihi Manusia Sepanjang Perjalanan Hidupnya
Kita mengetahui bahwa Allah begitu mengasihi manusia sehingga Ia ingin bahwa manusia senantiasa selamat. Sejak awal mula dunia, Allah telah menunjukkan kasih ini dengan menempatkan manusia pertama di Taman Eden, di mana segala hal yang dibutuhkan manusia disediakan oleh Allah (bdk. Kej 1:29). Tetapi, manusia menjadi makhluk yang kurang berterima kasih dengan melanggar larangan Allah. Allah pun menghukum manusia dengan mengusirnya dari Taman Eden. Meskipun diusir, Allah tetap membekali manusia dengan kemampuan untuk mengusahakan kehidupannya (Kej 3). Setelah manusia keluar dari Taman Eden, Allah tetap memperhatikan hidup manusia. Ia selalu menginginkan agar ciptaanNya selamat. Ini terlihat salah satunya melalui kisah Nuh (Kej 6:9 dst). Ia pun memilih suatu bangsa untuk dijadikan umatNya dan memberikan janji-janji keselamatan kepadanya. Abraham dipilih untuk mewakili pemilihan ini. Ia diberi janji sebagai tanda keselamatan dari Allah (Kej 12 dan 17).
Dalam perjalanan waktu, Allah menyertai kehidupan bangsa pilihannya ini. Ia hadir melalui berbagai macam hal. Kepada Musa, Ia menampakkan penyertaannya “dari muka ke muka” (Kel 3 dan 24) Kepada bangsa Israel, ia hadir melalui tiang awan dan tiang api pada saat pembebasan dari Mesir (Kel 13) dan melalui Tabut Perjanjian dan Kemah Suci pada saat mengembara di padang gurun (Kel 25 dan 26). Setelah masa itu berlalu, Allah tetap menunjukkan kasihNya kepada umat pilihannya melalui kehadiran orang-orang terpilih mulai dari Yosua, hakim-hakim, raja-raja, dan para nabi. Kisah penyertaan Allah kepada manusia pilihannya ini dapat kita lihat dalam kisah Perjanjian Lama, baik Protonakonika maupun Deuterokanonika.

Yesus Kristus sebagai Puncak Wujud Kasih Allah kepada Manusia
Menurut Gereja, kasih yang dimiliki oleh Allah itu kemudian diejawantahkan dalam kehidupan manusia secara penuh dalam diri Yesus Kristus Putra Allah. Penulis Injil Yohanes menyatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal” (Yoh 3:16). Yesus Kristus adalah wujud kasih Allah sehabis-habisnya karena Dialah menampakkan kasih Allah yang total. Kalau kita melihat kisah hidup Yesus dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam Injil, kita akan melihat bagaimana kasih Allah itu ditampakkan secara nyata dalam kehidupanNya. Yesus hidup bersama dan mengalami pahit getir kehidupan manusia. Ia sungguh tahu bagaimana manusia harus menjalani hidupnya. Ia tertawa tetapi juga menangis. Ia dipuja namun juga pernah ditolak. Ia bergembira namun pernah juga bersedih. Melalui hidupNya yang sederhana, Ia mengalami bagaimana senang dan sulitnya menjadi manusia normal.   
Kehidupan Yesus sebagai perwujudan kasih tidak berhenti sampai di situ saja. Ia bahkan memberikan contoh untuk melakukan kasih secara total, yaitu dengan mengorbankan dirinya. Pengorbanan diri itu dilakukan melalui wafatNya di kayu salib. Ia memberikan nyawanya sebagai tebusan dosa manusia. Hidupnya menjadi pembelaan bagi orang-orang yang ingin diselamatkannya. Pengorbanan Yesus ini secara indah dinyatakan oleh rasul Paulus bahwa Yesus Kristus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:6-8). Yesus memberikan hidupNya secara total bagi manusia. Maka, sangat wajarlah jika kita menganggap Yesus sebagai puncak perwujudan kasih Allah kepada manusia. Inilah yang diajarkan Benediktus XVI dalam ensiklik Deus Caritas Est yang manyatakan bahwa puncak karya kasih Allah tampak dalam seluruh hidup Yesus. Dia adalah kasih Allah yang menjelma (Deus Caritas Est 12).

Kasih Sebagai Hukum yang Utama
Dalam hidupNya, Yesus membawa kasih sebagai hukum yang terutama. Penulis Injil Markus mengisahkan sebagai berikut, “Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepadaNya dan bertanya: Hukum manakah yang paling utama? Jawab Yesus: Hukum yang terutama ialah: Dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini. Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: Tepat sekali, Guru, benar kataMu itu, bahwa Dia esa dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan. Yesus melihat bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah! Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus (Mrk 12:28-34).
Hukum ini bukanlah hukum baru. Hukum ini sudah ada sejak lama. Hukum ini ada dalam kehidupan bangsa Israel di Perjanjian Lama. Hukum tentang mengasihi Allah dapat kita lihat dalam Kitab Ulangan (Ul 6:4-5) dan hukum tentang mengasihi manusia dapat kita lihat dalam Kitab Imamat (Im 19:18). Yesus tidak membawa hukum baru tetapi Ia mengungkap kembali kebijaksanaan-kebijaksanaan yang sudah ada sebelumnya. Ia ingin agar manusia di zamannya – dan tentunya di zaman kita – untuk melihat berbagai kebijaksanaan yang sebenarnya sudah ada dalam kehidupan kita. Ia menyatakan, “Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini” (Mrk 12:31b). Hukum terutama yang diajarkan oleh Yesus adalah kasih. Kasih dijadikan dasar oleh Yesus untuk bertindak dalam kehidupan. Dengan demikian, setiap pengikut Yesus dan orang yang mengakui ajaranNya diajak untuk melakukan yang diajarkan oleh Yesus ini.

Tanggapan Manusia (Seharusnya) terhadap Kasih
Kita telah memahami bagaimana kasih yang berasal dari Allah itu hidup sepanjang sejarah manusia. Kasih itu hidup dan menjiwai relasi antara Allah dan manusia. Nah, setelah Allah memberikan kasihNya kepada manusia, pertanyaan yang dapat diajukan sekarang adalah bagaimana manusia harus membalas kasih itu? Jawaban yang singkat tetapi mengena diberikan oleh penulis Surat Yohanes, “Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yoh 4:19). Kutipan ini dengan jelas menyatakan pada kita bahwa yang seharusnya kita lakukan adalah mengasihi.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana melakukan kasih itu? Saya menawarkan dua konsep yang kiranya dapat dijadikan sarana untuk melakukan kasih, yaitu mengasihi sesama manusia dan mengasihi sesama ciptaan. Pertama, mengasihi sesama manusia dapat dilakukan melalui tindakan memanusiakan manusia. Memanusiakan manusia merupakan pemahaman dasar yang wajib dipunyai saat manusia ingin berhubungan dengan sesamanya. Konsep “memanusiakan manusia” akan membimbing kita kepada nilai persaudaraan, kebersamaan, persatuan, dan sebagainya. Dengan memanusiakan manusia, seseorang menempatkan dirinya dalam derajat yang sama dengan orang lain, tidak lebih tinggi dan tidak lebih rendah. Bahkan, orang yang derajatnya rendah diangkat agar mempunyai derajat yang sama. Kedua, mencintai sesama ciptaan diwujudkan melalui tindakan menciptakan keutuhan alam ciptaan. Keutuhan alam ciptaan adalah keseluruhan hidup dan relasi yang harmonis dan terjadi serta berkembang di antara manusia dan ciptaan lainnya. Pelestarian keutuhan alam ciptaan mendesak untuk diwujudkan karena merupakan panggilan dan tugas mendasar manusia untuk mengusahakan dan memelihara alam ciptaan. Dua hal inilah yang saya pikir dapat kita lakukan untuk mewujudkan kasih kita kepada dunia.


Keteladanan Kasih yang Konkret
Bulan Februari ini, Paus Fransiskus melelang Harley-Davidson Dyna Super Glide miliknya. Proses pelelangannya ditangani oleh rumah lelang Bonhams. Motor itu menarik banyak perhatian peminat lelang dari berbagai penjuru dunia. Sehari menjelang acara lelang pada Kamis di  Paris, Prancis, rumah lelang Bonhams mengemukakan bahwa telah menerima sekitar 30 tawaran yang harganya jauh di atas perkiraan. Seperti dilaporkan AFP,  Bonhams memperkirakan moge Dyna Super Glide dengan tanda tangan Paus Fransiskus itu akan lepas dengan harga antara 12 ribu hingga 15 ribu euro. “Seperti yang kami perkirakan, peminatnya banyak. Lelang moge Paus akan menjadi bintang. Hasilnya pasti akan sesuai dengan keinginan si pemilik pertama. Tanda tangan paus, yang pertama kali ada pada kendaraan jenis ini, membuat moge tersebut unik,” kata juru bicara Rumah Lelang Bohhams Prancis. Moge tersebut dipajang di Grand Palais, Paris, tempat lelang berlangsung.
Motor Harley Davidson berjenis Dyna Super Glide 1.585cc itu adalah hadiah dari perusahaan Harley-Davidson kepada Paus Fransiskus pada Juni 2013. Motor itu diberikan oleh Willie G. Davidson, cucu pendiri Harley-Davidson, kepada Paus Fransiskus dalam rangka ulang tahun ke-110 perusahaan motor tersebut. Hadiah tersebut diberikan karena  Roma menjadi salah satu kota yang menjadi tuan rumah pesta perayaan ulang tahun perusahaan motor itu. Tanda tangan  "Francesco" ada di tangki Harley-Davidson itu. Perusahaan sepeda motor asal Milwaukee itu memberikan sebuah sepeda motor plus jaket kepada pemimpin umat Katolik itu untuk ditandatangani. Pada November 2013, Paus Fransiskus menyumbangkan motor dan jaket yang diterimanya tersebut kepada Caritas Roma yang merupakan badan amal Gereja Katolik Roma. Dana dari penjualan dua barang itu akan dipakai untuk biaya renovasi hostel Don Luigi di Liegro dan  dapur umum di stasiun kereta Termini, Roma yang menjadi tempat penampungan dan dapur umum bagi para tunawisma.
Pada hari Jumat, 7 Februari 2014, Harley-Davidson milik Paus Fransiskus tersebut laku terjual senilai Rp 4 miliar. Pembeli di Balai Lelang Bonhams tersebut adalah seorang Eropa yang tidak disebutkan namanya. Pria yang menolak disebut namanya itu membayar jauh melebihi harga penawaran yaitu Rp 192 juta. “Ini bakal jadi rekor penjualan Harley-Davidson di abad XXI,” kata Ben Walker, kepala pelelangan sepeda motor di Bonhams. Selain sepeda motor, Bonhams juga melepas jaket kulit Harley-Davidson dengan tanda tangan Paus Fransiskus seharga Rp 939 juta. Pembelinya hanya disebut seorang dari luar Prancis. “Tidak ada jaket lain semahal itu,” kata Walker.
Kisah ini hanya salah satu dari sekian banyak perwujudan kasih dalam kehidupan kita. Pemimpin Gereja kita telah memberikan teladan untuk berbuat kasih. Ia tidak mementingkan kesenangan pribadinya namun berpikir mengenai keperluan orang lain yang lebih membutuhkan.

Pengantar Memasuki Masa Prapaska
Melalui sedikit contoh dan pembahasan ini, kita diajak bersiap untuk memasuki Masa Prapaska tahun 2014 ini. Tema Aksi Puasa Pembangunan Keuskupan Agung Semarang kali ini adalah “Berikanlah Hatimu untuk Mencintai, Ulurkanlah Tanganmu untuk Melayani.” Tema ini merupakan kutipan dari seorang pelayan Gereja yang sangat terkenal, yaitu Ibu Teresa dari Kalkuta. Melalui sedikit permenungan ini, marilah kita memasuki Masa Prapaska dengan hati yang terbuka untuk mencintai dan tangan yang terulur untuk melayani.

Jumat, 07 Februari 2014

Alih Tangan Kunci

Setiap orang selalu memiliki ritual. Ritual ini menandai saat-saat khusus dalam kehidupan seseorang. Ruang Podjok pun juga memiliki beberapa ritual. Dan salah satu ritual yang dimiliki oleh Ruang Podjok adalah Alih Tangan Kunci.
Ritual Alih Tangan Kunci merupakan ritual yang digagas oleh Penjaga Podjok sebagai tanda bahwa penerusan tanggung jawab pelayanan Kerohanian Katolik dari koordinator yang lama kepada koordinator yang baru. Alih Tangan Kunci ini terinspirasi dari kisah Petrus yang diberi kunci Kerajaan Surga oleh Yesus (Mat 16:19). Kunci inilah yang kemudian menjadi lambang dalam jabatan Paus karena Gereja Katolik meyakini bahwa Paus menjadi menjadi pengganti Petrus untuk melaksanakan tugas sebagai wakil Kristus di dunia ini.


Dalam refleksi saya, kunci melambangkan tanggung jawab yang besar. Seseorang yang diberi kunci berarti diberi kepercayaan atas apa saja yang ada dalam sebuah bangunan. Jika sebuah rumah kehilangan barang, yang pertama kali akan dicari adalah si pemegang kunci. Dia akan dimintai pertanggungjawaban atas tugas yang dipercayakan kepadanya. Dalam sebuah majalah komputer terbitan luar negeri, saya pernah melihat iklah komputer dengan kata-kata “for keyholder.” Digambarkan disana ada seorang bapak sepuh yang membawa tongkat dengan kunci yang bergelantungan disana. Ia adalah penjaga kota selama kota itu ditinggalkan warganya yang berlibur saat kota tersebut mengalami musim salju. Setiap warga kota memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjaga rumah-rumah mereka selama mereka tinggalkan. Untuk tugas itu, ia pasti membutuhkan sarana. Sebuah perusahaan komputer membidik peluang itu dengan menawarkan komputer sebagai sarana bantu baginya untuk melaksanakan tugas itu. Memegang kunci berarti memegang tanggung jawab. Penjaga Podjok ingin setiap siswa yang memegang kunci menyadari hal ini.



Ritual Alih Tangan Kunci ini telah dilaksanakan dua kali. Tahun lalu, pada tahun 2013, diadakanlah Alih Tangan Kunci dari Dominica Tiffani Dewi Artyanti kepada Fransisca Dea Triastuti. Tiffani adalah Koordinator Sub Seksi Kerohanian Katolik OSIS SMK Negeri 3 Surakarta Tahun Pelajaran 2011-2012, sedangkan Sisca adalah Koordinator Sub Seksi Kerohanian Katolik OSIS SMK Negeri 3 Surakarta Tahun Pelajaran 2012-2013. Tahun ini, di tahun 2014, terjadilah Alih Tangan Kunci dari Fransisca Dea Triastuti kepada Sinta Raras Swargani, Koordinator Sub Seksi Kerohanian Katolik OSIS SMK Negeri 3 Surakarta Tahun Pelajaran 2013-2014. Dengan Alih Tangan Kunci ini, tanggung jawab pun beralih. Namun, Koordinator Kerohanian Katolik yang lama tidak langsung berhenti tetapi tetap menjadi Koordinator Kerohanian Katolik bagi teman-temannya yang seangkatan. 
Terima kasih kepada Koordinator Kerohanian Katolik yang sudah selesai menjalankan tugas strukturalnya. Selamat bekerja kepada Koordinator Kerohanian Katolik yang sedang menjalankan tugas selama masa jabatannya. Tuhan memberkati pelayanan kalian semua. Mari bekerjasama dan bekerja bersama untuk semakin menjadikan kita semua berkat bagi sesama.

Sumber gambar:
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/b4/Entrega_de_las_llaves_a_San_Pedro_%28Perugino%29.jpg