Selasa, 04 Maret 2014

Surat Gembala Prapaska 2014 Keuskupan Agung Semarang




“Allah Peduli dan Kita Menjadi Perpanjangan Tangan Kasih-Nya untuk Melayani”  


Saudari-saudaraku yang terkasih,
Tidak lama lagi kita akan memasuki masa Prapaskah, masa penuh rahmat yang setiap tahun kita jalani. Masa Prapaskah menjadi penuh rahmat karena kita mengalami bahwa Allah sungguh baik kepada kita dan memberi kesempatan untuk membangun pertobatan terus menerus.
Ada kisah-kisah kehidupan yang menampakkan solidaritas dan belarasa yang nyata dari situasi banjir ataupun bencana yang terjadi pada hari-hari ini. Namun yang lebih keras terdengar adalah situasikehidupan harianyang diwarnai dengan korupsi, aneka bentuk keserakahan, egoisme, dan orang mengejar segala kepentingan diri dengan pelbagai cara. Akibatnya orang tidak lagi peduli dengan kesengsaraan banyak orang. Orang hidup untuk dirinya sendiri. Orang menjadi mudah cemas, kuatir, terutama terhadap pemenuhan kebutuhan jasmani. Kekuatiran itu membuat orang tidak mudah bersyukur atas apa yang diterimanya, juga tidak mudah untuk mengambil penderitaan orang lain sebagai tanggung jawabnya.
Dalam dunia yang semacam itu, sabda Tuhan memberi peneguhan dan pengharapan. Kasih Allah akan mengatasi segala kekuatiran kita. ”Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian?” (Mat 6:25). Kasih Tuhan melebihi kasih seorang ibu  “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya,Aku tidak akan melupakan engkau” (Yes 49:15). Kasih-Nya memberi pengharapan pada semua orang dalam perjuangan hidupnya. Ia akan menerangi dalam setiap langkah hidup kita, terutama saat hidup ada dalam kegelapan (bdk. 1Kor 4:5).

Saudari-saudara terkasih,
Belum lama ini Paus Fransiskus mengeluarkan surat apostolik “Evangelii Gaudium”. Dalam suratnya itu, Paus meneguhkan iman kita semua bahwa Allah sungguh mencintai semua orang. Melalui Yesus Kristus, Ia menyelamatkan kita bukan janya orang perorangan, tetapi dalam relasi sosial dengan semua orang (Evangelii Gaudium art. 178).  Ia berharap agar iman akan Allah yang begitu mengasihi dibangun terus menerus, sehingga kita bisa bersyukur dalam keadaan apapun dan tidak mudah kuatir; kita bisa terus tergerak untuk membantu orang lain, meringankan beban mereka yang menderita dan mau berkorban tanpa pamrih, walaupun kita hidup di dalam masyarakat yang banyak egois, mengejar kepentingan diri. Semua itu karena kita tidak berpusat pada diri sendiri, tetapi pada Allah yang dengan cara-Nya akan mencukupi segala kebutuhan dan keselamatan kita.

Saudari-saudara terkasih,
Untuk mengembangkan iman yang demikian, Keuskupan Agung Semarang menjadikan tahun 2014 sebagai Tahun Formatio Iman. Formatio Iman adalah pembinaan atau pendampingan iman yang terus menerus kepada semua orang beriman dalam setiap jenjang usia, mulai dari usia dini sampai usia lanjut. Pembinaan itu melibatkan keluarga, sekolah maupun paroki. Harapannya, melalui pendampingan iman yang terus menerus, kita semua bisa menjadi orang-orang katolik yang beriman cerdas, tangguh dan misioner. Cerdas karena kita mampu memahami dan mempertanggungjawabkan imannya.Tangguh karena kita tetap bisa bertahan dan berkembang dalam iman walaupun ada dalam pergulatan hidup yang berat dan tantangan iman yang semakin kompleks. Dan misioner karena iman mengajak kita bergerak keluar untuk menghadirkan Kerajaan Allah di tengah Gereja dan masyarakat.
Iman yang cerdas, tangguh dan misioner itu terumuskan secara jelas dalam tema APP 2014, ”Berikanlah Hatimu untuk Mencintai dan Ulurkanlah Tanganmu untuk Melayani”.Tema itu tidak hanya menyapa sisi manusiawi kita, tetapi juga menyapa iman kita. Pengalaman akan Allah yang mengasihi, meneguhkan dan mengorbankan diri-Nya membuat kita juga mampu mencintai sesama dan mengulurkan tangan-tangan kita untuk melayani orang lain, terutama yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Keprihatinan sosial yang ada sekarang ini menjadi kesempatan kita untuk memberikan kesaksian iman.

Saudari-saudara yang terkasih,
Kita menjadikan masa Prapaskah menjadi masa untuk formatio iman, yakni masa untuk mengolah iman secara terus menerus sampai akhirnya kita merasakan bahwa:
  • Iman adalah rahmat yang membawa hidup penuh berkat;
  • Iman adalah keyakinan bahwa Allah berkarya dalam hidup kita;
  • Iman adalah penyerahan yang membuat kita tidak kuatir dalam segala hal.
  • Iman adalah kesadaran bahwa hidup ini semakin berarti saat hati bisa mencintai dan tangan bisa melayani.
Maka formatio iman tidak bisa dilepaskan dengan pertobatan dan pembaruan. Pertobatan adalah kesediaan diri untuk mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah, sehingga kita tidak kuatir karena Allah bersama kita dan mencukupkan segala kebutuhan kita. Pertobatan juga merupakan penyangkalan diri untuk mewujudkan kasih dalam kehidupan bersama. Pertobatan itu kita bangun melalui puasa, pengakuan dosa dan amal kasih. Puasa menjadi bentuk pengendalian diri dan penyangkalan diri; pengakuan dosa menjadi bentuk kerendahan hati bahwa kita masih lemah dan membutuhkan pengampunan dan pertolongan Tuhan. Amal kasih menjadi tindakan nyata bahwa kita bisa ambil bagian dalam kasih dan kepedulian Allah untuk umat manusia. Dengan demikian, pertobatan membawa pembaruan relasi kita dengan Allah dan sesama. 

Saudari-saudara yang terkasih,
Secara tulus saya mengucapkan banyak terima kasih kepada ibu, bapak, saudari-saudara, anak-anak, remaja, orang muda, para Romo, Bruder, Suster, Frater yang dengan berbagai macam cara terlibat dalam formatio iman, mengembangkan pelayanan kasih, tiada henti mewujudkan persaudaraan sejati di antara sesama pemeluk agama dan pelayanan lain di Keuskupan Agung Semarang. Saya yakin bahwa usaha dan niat-niat baik Anda akan berbuah bagi terwujudnya tatanan kehidupan yang semakin beriman, bersaudara dan manusiawi.
Secara khusus saya berdoa bagi Anda yang sedang sakit, menanggung beban-beban kehidupan yang berat, berada di Lembaga Pemasyarakatan, menjadi korban penyalahgunaan Narkoba, difabel atau berkebutuhan khusus serta yang lanjut usia; semoga Tuhan yang Mahakasih memberikan keteguhan iman kepada Anda semua dan diantara umat dapat saling menghibur-meneguhkan. Tuhan yang Mahamurah senantiasa melimpahkan berkat bagi keluarga dan komunitas Anda.

Salam, doa dan Berkah Dalem,
Semarang, 22 Februari 2014, pada Pesta Tahta Santo Petrus, Rasul 
+ Johannes Pujasumarta 
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Sumber Gambar:  
http://loveufull.files.wordpress.com/2011/01/mother_teresa_corrected.jpg

Sabtu, 22 Februari 2014

Kasih adalah Hukum Tertinggi


Mengikuti tema populer yang sering muncul setiap bulan Februari akibat adanya hari Valentine, Ruang Podjok mengangkat KASIH sebagai tema Sekolah Iman bulan ini.

Pengantar untuk Memahami Kasih
Kasih merupakan tema pokok yang selalu dibicarakan oleh Gereja. Tema ini tidak habis-habisnya dibicarakan. Tema pokok tentang kasih ini pertama-tama perlu kita dekati melalui apa yang tertulis dalam Kitab Suci. Dalam Kitab Suci, tema kasih tersebar luas mulai dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Bahkan dapat dikatakan bahwa seluruh Kitab Suci adalah uraian mengenai bagaimana kasih Allah diwujudkan kepada umatnya. Allah mulai mewujudkan kasih kepada umatNya melalui pemilihan bangsa Israel sebagai umatNya dan akhirnya memberikan Yesus Kristus PutraNya sendiri untuk menebus dosa umat manusia yang telah dipilih menjadi umatNya. Meskipun manusia tidak membalas kasih Allah secara sepadan, Allah tetap mencintainya dengan kasih yang tidak terbatas. Dalam pembahasan ini, kita akan membatasi pembicaran dalam beberapa pokok mengenai kasih.

Mengapa Allah adalah Kasih?
Dalam Surat Yohanes, tertulis, “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah sebab Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:8). Dalam kutipan ini, kita diberi pemahaman bahwa Allah adalah kasih. Dengan demikian, orang yang tidak mengasihi adalah orang yang tidak mengenal Allah. Allah adalah sumber kasih karena kebaikan hatinya yang begitu melimpah kepada ciptaanNya, terutama kepada manusia. Pernahkah kita berpikir mengapa kita diciptakan di dunia ini? Kalau dipikir-pikir, tindakan menciptakan atau tidak menciptakan sebenarnya tidak akan menambah keuntungan sedikitpun bagi Allah. Malah, tindakan menciptakan itu kadangkala menjadi kerugian bagi Allah karena ciptaan – terutama manusia – sering tidak taat kepadaNya. Namun, Allah tetap menciptakan kita. Mengapa begitu? Salah satu kemungkinan jawaban yang saya temukan adalah karena Allah mengasihi kita dan memberi kesempatan kepada ciptaanNya untuk melakukan sesuatu. Dengan menciptakan kita, Ia ingin mengutus kita untuk berbuat sesuatu di dunia ini. Kita tidak mungkin diciptakan di dunia ini tanpa suatu tujuan. Kalau kita diciptakan, pasti ada tujuan yang diinginkan Allah dengan penciptaan kita. Kalau dilihat dalam kerangka penciptaan, kiranya dapat dipahami bahwa satu-satunya motivasi Allah untuk menciptakan adalah karena Ia mengasihi ciptaanNya. Penjelasan ini kiranya dapat memberi gambaran kepada kita mengapa Allah adalah kasih. Ia adalah kasih karena Ia mengasihi dengan memberikan kesempatan bagi ciptaanNya untuk menjalani kehidupan.    

Allah Mengasihi Manusia Sepanjang Perjalanan Hidupnya
Kita mengetahui bahwa Allah begitu mengasihi manusia sehingga Ia ingin bahwa manusia senantiasa selamat. Sejak awal mula dunia, Allah telah menunjukkan kasih ini dengan menempatkan manusia pertama di Taman Eden, di mana segala hal yang dibutuhkan manusia disediakan oleh Allah (bdk. Kej 1:29). Tetapi, manusia menjadi makhluk yang kurang berterima kasih dengan melanggar larangan Allah. Allah pun menghukum manusia dengan mengusirnya dari Taman Eden. Meskipun diusir, Allah tetap membekali manusia dengan kemampuan untuk mengusahakan kehidupannya (Kej 3). Setelah manusia keluar dari Taman Eden, Allah tetap memperhatikan hidup manusia. Ia selalu menginginkan agar ciptaanNya selamat. Ini terlihat salah satunya melalui kisah Nuh (Kej 6:9 dst). Ia pun memilih suatu bangsa untuk dijadikan umatNya dan memberikan janji-janji keselamatan kepadanya. Abraham dipilih untuk mewakili pemilihan ini. Ia diberi janji sebagai tanda keselamatan dari Allah (Kej 12 dan 17).
Dalam perjalanan waktu, Allah menyertai kehidupan bangsa pilihannya ini. Ia hadir melalui berbagai macam hal. Kepada Musa, Ia menampakkan penyertaannya “dari muka ke muka” (Kel 3 dan 24) Kepada bangsa Israel, ia hadir melalui tiang awan dan tiang api pada saat pembebasan dari Mesir (Kel 13) dan melalui Tabut Perjanjian dan Kemah Suci pada saat mengembara di padang gurun (Kel 25 dan 26). Setelah masa itu berlalu, Allah tetap menunjukkan kasihNya kepada umat pilihannya melalui kehadiran orang-orang terpilih mulai dari Yosua, hakim-hakim, raja-raja, dan para nabi. Kisah penyertaan Allah kepada manusia pilihannya ini dapat kita lihat dalam kisah Perjanjian Lama, baik Protonakonika maupun Deuterokanonika.

Yesus Kristus sebagai Puncak Wujud Kasih Allah kepada Manusia
Menurut Gereja, kasih yang dimiliki oleh Allah itu kemudian diejawantahkan dalam kehidupan manusia secara penuh dalam diri Yesus Kristus Putra Allah. Penulis Injil Yohanes menyatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal” (Yoh 3:16). Yesus Kristus adalah wujud kasih Allah sehabis-habisnya karena Dialah menampakkan kasih Allah yang total. Kalau kita melihat kisah hidup Yesus dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam Injil, kita akan melihat bagaimana kasih Allah itu ditampakkan secara nyata dalam kehidupanNya. Yesus hidup bersama dan mengalami pahit getir kehidupan manusia. Ia sungguh tahu bagaimana manusia harus menjalani hidupnya. Ia tertawa tetapi juga menangis. Ia dipuja namun juga pernah ditolak. Ia bergembira namun pernah juga bersedih. Melalui hidupNya yang sederhana, Ia mengalami bagaimana senang dan sulitnya menjadi manusia normal.   
Kehidupan Yesus sebagai perwujudan kasih tidak berhenti sampai di situ saja. Ia bahkan memberikan contoh untuk melakukan kasih secara total, yaitu dengan mengorbankan dirinya. Pengorbanan diri itu dilakukan melalui wafatNya di kayu salib. Ia memberikan nyawanya sebagai tebusan dosa manusia. Hidupnya menjadi pembelaan bagi orang-orang yang ingin diselamatkannya. Pengorbanan Yesus ini secara indah dinyatakan oleh rasul Paulus bahwa Yesus Kristus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:6-8). Yesus memberikan hidupNya secara total bagi manusia. Maka, sangat wajarlah jika kita menganggap Yesus sebagai puncak perwujudan kasih Allah kepada manusia. Inilah yang diajarkan Benediktus XVI dalam ensiklik Deus Caritas Est yang manyatakan bahwa puncak karya kasih Allah tampak dalam seluruh hidup Yesus. Dia adalah kasih Allah yang menjelma (Deus Caritas Est 12).

Kasih Sebagai Hukum yang Utama
Dalam hidupNya, Yesus membawa kasih sebagai hukum yang terutama. Penulis Injil Markus mengisahkan sebagai berikut, “Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepadaNya dan bertanya: Hukum manakah yang paling utama? Jawab Yesus: Hukum yang terutama ialah: Dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini. Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: Tepat sekali, Guru, benar kataMu itu, bahwa Dia esa dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan. Yesus melihat bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah! Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus (Mrk 12:28-34).
Hukum ini bukanlah hukum baru. Hukum ini sudah ada sejak lama. Hukum ini ada dalam kehidupan bangsa Israel di Perjanjian Lama. Hukum tentang mengasihi Allah dapat kita lihat dalam Kitab Ulangan (Ul 6:4-5) dan hukum tentang mengasihi manusia dapat kita lihat dalam Kitab Imamat (Im 19:18). Yesus tidak membawa hukum baru tetapi Ia mengungkap kembali kebijaksanaan-kebijaksanaan yang sudah ada sebelumnya. Ia ingin agar manusia di zamannya – dan tentunya di zaman kita – untuk melihat berbagai kebijaksanaan yang sebenarnya sudah ada dalam kehidupan kita. Ia menyatakan, “Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini” (Mrk 12:31b). Hukum terutama yang diajarkan oleh Yesus adalah kasih. Kasih dijadikan dasar oleh Yesus untuk bertindak dalam kehidupan. Dengan demikian, setiap pengikut Yesus dan orang yang mengakui ajaranNya diajak untuk melakukan yang diajarkan oleh Yesus ini.

Tanggapan Manusia (Seharusnya) terhadap Kasih
Kita telah memahami bagaimana kasih yang berasal dari Allah itu hidup sepanjang sejarah manusia. Kasih itu hidup dan menjiwai relasi antara Allah dan manusia. Nah, setelah Allah memberikan kasihNya kepada manusia, pertanyaan yang dapat diajukan sekarang adalah bagaimana manusia harus membalas kasih itu? Jawaban yang singkat tetapi mengena diberikan oleh penulis Surat Yohanes, “Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yoh 4:19). Kutipan ini dengan jelas menyatakan pada kita bahwa yang seharusnya kita lakukan adalah mengasihi.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana melakukan kasih itu? Saya menawarkan dua konsep yang kiranya dapat dijadikan sarana untuk melakukan kasih, yaitu mengasihi sesama manusia dan mengasihi sesama ciptaan. Pertama, mengasihi sesama manusia dapat dilakukan melalui tindakan memanusiakan manusia. Memanusiakan manusia merupakan pemahaman dasar yang wajib dipunyai saat manusia ingin berhubungan dengan sesamanya. Konsep “memanusiakan manusia” akan membimbing kita kepada nilai persaudaraan, kebersamaan, persatuan, dan sebagainya. Dengan memanusiakan manusia, seseorang menempatkan dirinya dalam derajat yang sama dengan orang lain, tidak lebih tinggi dan tidak lebih rendah. Bahkan, orang yang derajatnya rendah diangkat agar mempunyai derajat yang sama. Kedua, mencintai sesama ciptaan diwujudkan melalui tindakan menciptakan keutuhan alam ciptaan. Keutuhan alam ciptaan adalah keseluruhan hidup dan relasi yang harmonis dan terjadi serta berkembang di antara manusia dan ciptaan lainnya. Pelestarian keutuhan alam ciptaan mendesak untuk diwujudkan karena merupakan panggilan dan tugas mendasar manusia untuk mengusahakan dan memelihara alam ciptaan. Dua hal inilah yang saya pikir dapat kita lakukan untuk mewujudkan kasih kita kepada dunia.


Keteladanan Kasih yang Konkret
Bulan Februari ini, Paus Fransiskus melelang Harley-Davidson Dyna Super Glide miliknya. Proses pelelangannya ditangani oleh rumah lelang Bonhams. Motor itu menarik banyak perhatian peminat lelang dari berbagai penjuru dunia. Sehari menjelang acara lelang pada Kamis di  Paris, Prancis, rumah lelang Bonhams mengemukakan bahwa telah menerima sekitar 30 tawaran yang harganya jauh di atas perkiraan. Seperti dilaporkan AFP,  Bonhams memperkirakan moge Dyna Super Glide dengan tanda tangan Paus Fransiskus itu akan lepas dengan harga antara 12 ribu hingga 15 ribu euro. “Seperti yang kami perkirakan, peminatnya banyak. Lelang moge Paus akan menjadi bintang. Hasilnya pasti akan sesuai dengan keinginan si pemilik pertama. Tanda tangan paus, yang pertama kali ada pada kendaraan jenis ini, membuat moge tersebut unik,” kata juru bicara Rumah Lelang Bohhams Prancis. Moge tersebut dipajang di Grand Palais, Paris, tempat lelang berlangsung.
Motor Harley Davidson berjenis Dyna Super Glide 1.585cc itu adalah hadiah dari perusahaan Harley-Davidson kepada Paus Fransiskus pada Juni 2013. Motor itu diberikan oleh Willie G. Davidson, cucu pendiri Harley-Davidson, kepada Paus Fransiskus dalam rangka ulang tahun ke-110 perusahaan motor tersebut. Hadiah tersebut diberikan karena  Roma menjadi salah satu kota yang menjadi tuan rumah pesta perayaan ulang tahun perusahaan motor itu. Tanda tangan  "Francesco" ada di tangki Harley-Davidson itu. Perusahaan sepeda motor asal Milwaukee itu memberikan sebuah sepeda motor plus jaket kepada pemimpin umat Katolik itu untuk ditandatangani. Pada November 2013, Paus Fransiskus menyumbangkan motor dan jaket yang diterimanya tersebut kepada Caritas Roma yang merupakan badan amal Gereja Katolik Roma. Dana dari penjualan dua barang itu akan dipakai untuk biaya renovasi hostel Don Luigi di Liegro dan  dapur umum di stasiun kereta Termini, Roma yang menjadi tempat penampungan dan dapur umum bagi para tunawisma.
Pada hari Jumat, 7 Februari 2014, Harley-Davidson milik Paus Fransiskus tersebut laku terjual senilai Rp 4 miliar. Pembeli di Balai Lelang Bonhams tersebut adalah seorang Eropa yang tidak disebutkan namanya. Pria yang menolak disebut namanya itu membayar jauh melebihi harga penawaran yaitu Rp 192 juta. “Ini bakal jadi rekor penjualan Harley-Davidson di abad XXI,” kata Ben Walker, kepala pelelangan sepeda motor di Bonhams. Selain sepeda motor, Bonhams juga melepas jaket kulit Harley-Davidson dengan tanda tangan Paus Fransiskus seharga Rp 939 juta. Pembelinya hanya disebut seorang dari luar Prancis. “Tidak ada jaket lain semahal itu,” kata Walker.
Kisah ini hanya salah satu dari sekian banyak perwujudan kasih dalam kehidupan kita. Pemimpin Gereja kita telah memberikan teladan untuk berbuat kasih. Ia tidak mementingkan kesenangan pribadinya namun berpikir mengenai keperluan orang lain yang lebih membutuhkan.

Pengantar Memasuki Masa Prapaska
Melalui sedikit contoh dan pembahasan ini, kita diajak bersiap untuk memasuki Masa Prapaska tahun 2014 ini. Tema Aksi Puasa Pembangunan Keuskupan Agung Semarang kali ini adalah “Berikanlah Hatimu untuk Mencintai, Ulurkanlah Tanganmu untuk Melayani.” Tema ini merupakan kutipan dari seorang pelayan Gereja yang sangat terkenal, yaitu Ibu Teresa dari Kalkuta. Melalui sedikit permenungan ini, marilah kita memasuki Masa Prapaska dengan hati yang terbuka untuk mencintai dan tangan yang terulur untuk melayani.

Jumat, 07 Februari 2014

Alih Tangan Kunci

Setiap orang selalu memiliki ritual. Ritual ini menandai saat-saat khusus dalam kehidupan seseorang. Ruang Podjok pun juga memiliki beberapa ritual. Dan salah satu ritual yang dimiliki oleh Ruang Podjok adalah Alih Tangan Kunci.
Ritual Alih Tangan Kunci merupakan ritual yang digagas oleh Penjaga Podjok sebagai tanda bahwa penerusan tanggung jawab pelayanan Kerohanian Katolik dari koordinator yang lama kepada koordinator yang baru. Alih Tangan Kunci ini terinspirasi dari kisah Petrus yang diberi kunci Kerajaan Surga oleh Yesus (Mat 16:19). Kunci inilah yang kemudian menjadi lambang dalam jabatan Paus karena Gereja Katolik meyakini bahwa Paus menjadi menjadi pengganti Petrus untuk melaksanakan tugas sebagai wakil Kristus di dunia ini.


Dalam refleksi saya, kunci melambangkan tanggung jawab yang besar. Seseorang yang diberi kunci berarti diberi kepercayaan atas apa saja yang ada dalam sebuah bangunan. Jika sebuah rumah kehilangan barang, yang pertama kali akan dicari adalah si pemegang kunci. Dia akan dimintai pertanggungjawaban atas tugas yang dipercayakan kepadanya. Dalam sebuah majalah komputer terbitan luar negeri, saya pernah melihat iklah komputer dengan kata-kata “for keyholder.” Digambarkan disana ada seorang bapak sepuh yang membawa tongkat dengan kunci yang bergelantungan disana. Ia adalah penjaga kota selama kota itu ditinggalkan warganya yang berlibur saat kota tersebut mengalami musim salju. Setiap warga kota memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjaga rumah-rumah mereka selama mereka tinggalkan. Untuk tugas itu, ia pasti membutuhkan sarana. Sebuah perusahaan komputer membidik peluang itu dengan menawarkan komputer sebagai sarana bantu baginya untuk melaksanakan tugas itu. Memegang kunci berarti memegang tanggung jawab. Penjaga Podjok ingin setiap siswa yang memegang kunci menyadari hal ini.



Ritual Alih Tangan Kunci ini telah dilaksanakan dua kali. Tahun lalu, pada tahun 2013, diadakanlah Alih Tangan Kunci dari Dominica Tiffani Dewi Artyanti kepada Fransisca Dea Triastuti. Tiffani adalah Koordinator Sub Seksi Kerohanian Katolik OSIS SMK Negeri 3 Surakarta Tahun Pelajaran 2011-2012, sedangkan Sisca adalah Koordinator Sub Seksi Kerohanian Katolik OSIS SMK Negeri 3 Surakarta Tahun Pelajaran 2012-2013. Tahun ini, di tahun 2014, terjadilah Alih Tangan Kunci dari Fransisca Dea Triastuti kepada Sinta Raras Swargani, Koordinator Sub Seksi Kerohanian Katolik OSIS SMK Negeri 3 Surakarta Tahun Pelajaran 2013-2014. Dengan Alih Tangan Kunci ini, tanggung jawab pun beralih. Namun, Koordinator Kerohanian Katolik yang lama tidak langsung berhenti tetapi tetap menjadi Koordinator Kerohanian Katolik bagi teman-temannya yang seangkatan. 
Terima kasih kepada Koordinator Kerohanian Katolik yang sudah selesai menjalankan tugas strukturalnya. Selamat bekerja kepada Koordinator Kerohanian Katolik yang sedang menjalankan tugas selama masa jabatannya. Tuhan memberkati pelayanan kalian semua. Mari bekerjasama dan bekerja bersama untuk semakin menjadikan kita semua berkat bagi sesama.

Sumber gambar:
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/b4/Entrega_de_las_llaves_a_San_Pedro_%28Perugino%29.jpg

Jumat, 31 Januari 2014

Mencari Terang Natal dalam Kegelapan

Perayaan Natal Bersama SMK Negeri 3 Surakarta memang telah berlangsung selama beberapa tahun. Beberapa tahun ini, Natal memberikan berbagai macam kesan. Tahun ini, seperti digambarkan dalam judul posting, Perayaan Natal terjadi di SMK Negeri 3 Surakarta di tengah kegelapan. Mengapa begitu? Perayaan Natal tahun ini memang sungguh-sungguh gelap karena terjadi dalam situasi mati lampu. Dua hari sebelum Perayaan Natal, datanglah sebuah surat dari Perusahaan Listrik Negara yang memberikan kabar bahwa hari Senin akan diadakan pemadaman listrik mulai jam 09.00 sampai 15.00. Padahal, acara Natal Bersama diadakan sekitar pukul 10.00 sampai 12.00. Akhirnya, Perayaan Natal yang diadakan pada Senin (13/1) itu terjadi di tengah kegelapan. Namun, meskipun berada dalam kegelapan, Perayaan Natal SMK Negeri 3 Surakarta dapat berlangsung dengan lancar.







Acara Natal yang terjadi di tengah kegelapan ini malah menimbulkan kesan tersendiri. Bukankah memang setiap Natal kita selalu mencari dan menunggu-nunggu Sang Terang? Bukankah orang Kristiani memang selalu dipanggil untuk menjadi terang di tengah dunia yang kadangkala dipenuhi dengan kegelapan ini? Diterangi dengan sinar temaram empat buah lilin Natal, seluruh keluarga besar warga Kristiani SMK Negeri 3 berusaha menemukan terang yang dibawa oleh Yesus Kristus, Sang Juruselamat. Yesus Kristus adalah Sang Terang yang mengusir kegelapan hati kita. Hal ini mengingatkan saya pada homili yang disampaikan oleh Paus Fransiskus pada Misa Malam Natal tahun lalu:

“Orang yang berjalan dalam kegelapan akan melihat terang yang besar” (Yes 9:1). Nubuat nabi Yesaya ini tidak pernah berhenti menyentuh kita, khususnya ketika kita mendengarnya saat diwartakan dalam liturgi Malam Natal. Ini bukanlah sesuatu yang emosional atau sentimental saja. Nubuat ini menggerakkan kita karena menyatakan kenyataan yang sebenar-benarnya siapa diri kita: orang-orang yang sedang berjalan dan di sekeliling kita dan dalam diri kita ada gelap dan terang. Pada malam ini, seiring kuasa kegelapan yang menutupi dunia, ada peristiwa yang memperbarui serta selalu mengherankan dan mengejutkan kita: orang-orang yang berjalan melihat terang besar. Sebuah terang mengajak kita merefleksikan misteri ini: misteri perjalanan dan penglihatan.
Perjalanan. Kata ini mengajak kita merefleksikan soal sejarah, yaitu perjalanan panjang sejarah keselamatan, dimulai dari Abraham, bapa kita dalam iman, yang pada suatu hari telah dipanggil Allah untuk pergi meninggalkan tanah airnya menuju daerah yang akan ditunjukkan kepadanya. Sejak saat itu, identitas kita sebagai orang-orang beriman adalah orang-orang yang melakukan perjalanan ziarah menuju tanah yang dijanjikan. Sejarah ini selalu didampingi oleh Allah. Dia setia kepada perjanjian dan janjiNya. “Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan” (1 Yoh 1:5). Meskipun demikian, dalam diri manusia, ada terang dan gelap, kesetiaan dan ketidaksetiaan, kepatuhan dan pemberontakan; saat menjadi peziarah dan saat menjadi pembelot.
Dalam sejarah pribadi kita, ada peristiwa terang dan gelap, cahaya dan bayang-bayang. Jika kita mencintai Allah dan saudara-saudari kita, kita berjalan dalam terang; tapi jika hati kita tertutup, jika kita didominasi oleh kebanggaan, tipu daya, dan kepentingan diri sendiri, kegelapan akan melingkupi diri dan sekitar kita. “Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi karena kegelapan itu telah membutakan matanya” (1 Yoh 2:11).
Pada malam ini, seperti percikan cahaya yang sangat terang, ada seruan keras dari Sang Rasul: “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata” (Tit 2:11). Rahmat yang terungkap dalam dunia kita adalah Yesus, yang lahir dari Perawan Maria, sungguh manusia dan sungguh Allah. Dia telah memasuki sejarah kita. Dia terlibat dalam perjalanan kita. Dia datang untuk membebaskan kita dari kegelapan dan menganugerahkan terang kepada kita. Dalam dia, kita menyingkap rahmat, belas kasih, dan cinta yang lembut dari Allah. Yesus adalah cinta yang mewujudnyata.  Dia bukan sekedar guru kebijaksanaan, dia bukanlah idola yang dengan susah payah kita perjuangkan sementara kita tahu bahwa kita tidak dapat menggapainya. Dia, memberi makna pada kehidupan dan sejarah, yang mendirikan kemahNya di tengah-tengah kita.
Pada gembala pertama-tama melihat “kemah” ini dan menerima kabar kelahiran Yesus. Merekalah yang pertama karena mereka berada di antara yang terakhir, yang tersingkir. Mereka menjadi yang pertama karena mereka waspada, berjaga di waktu malam, melindungi kawanan ternaknya. Bersama dengan mereka, marilah kita berdiam sejenak di hadapan Sang Putra, berhenti sejenak dalam keheningan. Bersama dengan mereka, marilah kita bersyukur pada Tuhan yang telah memberikan Yesus kepada kita, dan bersama mereka kita mengangkat pujian dari kedalaman hati kita bagi kesetiaan Allah: Kami memujiMu, Allah yang Mahatinggi, yang telah merendahkan diri bagi kepentingan kami. Sangat agunglah Engkau namun Engkau membuat dirimu kecil; Sangat kayalah engkau namun Engkau membuat dirimu miskin; Sangat berkuasalah Engkau namun Engkau membuat dirimu sangat rapuh.
Pada malam ini, marilah kita membagikan kegembiraan Injil: Allah mencintai kita. Dia sangat mencintai kita sehingga memberikan anakNya sebagai saudara kita, sebagai terang dalam kegelapan kita. Kepada kita, Tuhan menyatakan: “Jangan takut!” (Luk 2:10). Dan saya mengulangi: Jangan takut! Bapa kita sabar. Dia mencintai kita. Dia memberi kita Yesus untuk membimbing kita pada jalan yang akan mengarahkan kita ke tanah terjanji. Yesus adalah terang yang mencerahkan kegelapan. Dialah damai kita. Amin.


Tahun ini, acara Perayaan Natal Bersama dikoordinir oleh Sub Seksi Kerohanian Katolik, yaitu Sinta Raras Swargani. Bersama dengan sekitar 20 teman, dia berusaha mengorganisir acara Natal Bersama. Tidak mudah perjuangan yang dialami oleh panitia. Ketidakmudahan itu antara lain disebabkan karena acara yang kemudian terpaksa diundur. Perayaan Natal Bersama yang sedianya dilaksanakan tanggal 10 Januari itu harus diundur ke tanggal 13 Januari karena tanggal 10 Januari ada acara Peresmian Gedung Baru SMK Negeri 3 Surakarta oleh Bapak Walikota Surakarta yang dihadiri pula oleh Bapak Menteri Pemuda dan Olahraga. Karena sifat acara peresmian yang lebih besar itu, acara Natal Bersama pun diundur pada tanggal 13.



Pemunduran acara ini juga mempengaruhi perubahan pemberi renungan karena tidak mudah menemukan romo yang berkenan memberi renungkan dikarena jadwal para romo yang begitu padat. Akhirnya, Romo Mateus Wahyudi, MSF dari Paroki Santo Petrus Purwosari Surakarta dengan rela hati berkenan hadir dan memberikan renungan bagi seluruh warga Kristiani SMK Negeri 3 Surakarta. Dalam renungan yang dibawakan, Romo Wahyudi memberikan tiga hal untuk direnungkan, yaitu Berdoa, Bersyukur, dan Berusaha. Dengan tiga hal itu, kita menanggapi kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari. Tiga hal itu juga merupakan usaha manusia untuk menemukan terang Allah. Melalui tiga hal itu, kita diajak untuk memancarkan terang dalam kehidupan sehari-hari. Ingat bahwa kita orang Kristiani adalah garam dan terang dunia. Tiga hal ini yang dapat menjadi sarana kesaksian kita. Orang Kristiani adalah orang yang selalu berdoa, bersyukur, dan berusaha.











Perayaan Natal Bersama ini akhirnya dipungkasi sekitar pukul 12.00. Setelah itu, panitia bekerjasama membereskan segala hal yang digunakan dalam perayaan ini. 


Tidak ada kata lain yang bisa diucapkan selain kata TERIMA KASIH kepada segenap panitia, Bapak Ibu Guru dan Karyawan, seluruh siswa Kristiani dan semua pihak yang telah membantu dalam penyelenggaraan Natal ini. Seluruh perhatian dan bantuan merupakan sumbangan yang besar bagi kami sehingga Perayaan Natal dalam kegelapan di tahun ini benar-benar menerbitkan terang. Tuhan memberkati kita semua. Berkah Dalem

Minggu, 05 Januari 2014

Persembahan Seluruh Hidup dari Tiga Orang Majus




“Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur” 
(Mat 2:11)

Setiap tahun, Perayaan Natal selalu merupakan rangkaian panjang. Masa ini dimulai dengan Masa Adven yang menjadi masa bagi umat beriman untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan. Perayaan Natal ditutup dengan Perayaan Epifani atau Hari Raya Penampakan Tuhan, yaitu perayaan datangnya tiga orang majus untuk menyembah Yesus. Penampakan Tuhan kepada orang majus dari timur itu ternyata sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya. Ketika bernubuat kepada Yerusalem, Yesaya berkata, “Terang Tuhan terbit atasmu dan kemuliaanNya menjadi nyata atasmu. Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu dan raja-raja menyongsong cahaya yang terbit bagimu. Sejumlah besar unta akan datang menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan-perbuatan masyhur Tuhan” (Yes 60:2.6). Hari ini adalah Hari Raya Penampakan Tuhan itu.
Dalam perayaan liturgi Gereja Katolik, hari ini dibacakan kisah tiga orang majus dari timur yang datang menyembah bayi Yesus dan membawa tiga buah persembahan: emas, kemenyan, dan mur. Kisah inilah yang diingat dalam Hari Raya Epifani atau Hari Raya Penampakan Tuhan. Sebenarnya, Kitab Suci hanya menyebut “orang-orang majus” (lih. Mat 2:1). Tidak ada keterangan berapa banyak jumlah mereka. Namun, karena ada tiga benda yang dipersembahkan, kemudian muncullah pandangan yang mengatakan bahwa para Majus yang datang ke tempat kelahiran Yesus ada tiga orang. Tulisan ini tidak hendak membahas jumlah para Majus, namun akan menyoroti tiga benda pemberian para Majus itu yang ternyata mewakili seluruh kehidupan Yesus sendiri. Selain itu, kita akan sedikit merefleksikan apa yang disampaikan oleh cerita tersebut.



EMAS: Pemberian Untuk Seorang Raja 

Emas sering disebut di dalam Alkitab, bahkan emas adalah logam pertama yang disebutkan (Kej.2:11). Emas adalah logam mulia yang mudah ditempa dan dibentuk menjadi peralatan atau perhiasan. Emas adalah satu-satunya logam yang ketika dipanaskan dengan api tidak kehilangan sifat, berat, dan warnanya. Kesempurnaan logam inilah yang secara simbolis melambangkan kedudukan tertinggi, datangnya seorang raja.
Pada zaman Yesus, ada kebiasaan dimana tidak seorang pun dapat datang kepada Raja tanpa membawa persembahan. Seorang raja tidak mungkin dapat ditemui tanpa membawa berbagai macam pemberian. Emas adalah persembahan yang paling cocok. Emas adalah raja dari segala logam. Maka, pemberian emas adalah pemberian terhormat dan tepat untuk seorang raja. Emas dipersembahkan kepada bayi Yesus. Jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah seorang Raja.Persembahan emas menyatakan bahwa Yesus dilahirkan untuk menjadi Raja. Ia adalah penguasa Kerajaan Allah dan Raja di atas segala raja. Ia tidak memerintah dengan menggunakan pasukan, tetapi menggunakan bahasa kasih; bukan dengan tangan besi atau dengan kekuatan senapan, tetapi dengan cinta kasih. Ia tidak memerintah dari atas tahta kerajaan, namun dari atas kayu salib. Ia memerintah dengan merendahkan diri, mengorbankan diri demi rakyat Kerajaan-Nya.
Kalau kita ingin menjadikan Yesus sebagai Raja dalam kehidupan kita, maka langkah awalnya adalah kita perlu datang dan bertemu dengan Dia; meletakkan seluruh kehidupan kita di hadapan-Nya atau dengan kata lain kita perlu takluk dibawah kehendak dan kuasa Yesus.

KEMENYAN: Pemberian Untuk Seorang Imam

Kemenyan adalah hasil pengeringan getah pohon tertentu yang digunakan sebagai wangi-wangian. Pohon yang menghasilkan kemenyan ini sering disebut ‘arbor thurisfrom’  dan tumbuh  di daerah Persia, Arab, dan India. Getah itu dikumpulkan dan dikeringkan selama tiga bulan sehingga menjadi seperti damar yang keras atau permen karet. Kemenyan digunakan  sebagai wangi-wangian dan dipakai sebagai bau-bauan harum selama pelaksanaan ibadah. Di dalam kitab Keluaran, Harun membakar kemenyan di altar sebagai persembahan yang harum bagi Tuhan.
Sejak dulu sampai sekarang, kemenyan dipakai sebagai pewangian yang digunakan didalam ibadat dan upacara. Kemenyan digunakan oleh para imam untuk menguduskan persembahan. Tradisi ini masih dijalankan di kalangan gereja Katolik. Wangi-wangian hasil bakaran yang harum menyerbak memenuhi ruangan melambangkan cinta kasih yang dibagi kepada semua orang. Persembahan kemenyan kepada bayi Yesus hendak menunjukkan bahwa Yesus adalah seorang imam, Imam yang Agung. Tugas imam adalah menjadi perantara antara umat dan Allah. Imam menjadi penengah. Seperti sifat kemenyan, imam harus membawa jemaat kepada kemuliaan dan kebesaran Tuhan. Dan ini yang dilakukan Yesus. Dialah Imam Agung yang membuka jalan untuk manusia, yang membawa manusia kepada Allah. Dia membangun jembatan – hubungan baru dengan Sang Bapa. Bahkan Yesus sendirilah jembatan itu. Melalui Yesus hubungan manusia – Allah yang pernah putus di zaman Adam dan Hawa dipulihkan. Melalui Yesus manusia dapat menghampiri Allah, yang kemudian dipanggil Bapa.
Kalau kita datang, berusaha mencari, dan menemukan Yesus; kita sedang mencari jalan untuk bertemu dengan Allah. Kita mengembangkan kerinduan untuk datang pada Allah. Yesus Kristus adalah jembatan kerinduan itu karena Dialah jalan, kebenaran dan hidup serta tidak seorangpun dapat datang kepada Bapa tanpa melaluiNya.

MUR: Pemberian Untuk Seorang yang Akan Mati

Mur adalah persembahan bagi orang yang akan meninggal. Seperti halnya kemenyan, mur juga merupakan getah pohon yang dikeraskan dan kemudian digunakan. Namun, tidak sama dengan kemenyan yang wangi, mur rasanya pahit. Mur sering kali digunakan untuk membalsam orang mati karena orang mati itu memiliki harta yang harus dijaga. Mur juga digunakan sebagai wewangian, bahan untuk minyak urapan yang disebutkan di kitab Keluaran. Akan tetapi, bagi Maria dan Yusuf, mur digunakan untuk pengobatan. Saat ini, mur banyak digunakan untuk pasta gigi, pencuci mulut, dan tata rias.Mur yang dipersembahkan kepada bayi Yesus menunjukkan bahwa kelak Yesus akan mati juga untuk manusia. Dengan demikian lengkaplah penggambaran akan bayi Yesus. Dia adalah seorang Raja yang memerintah dengan kasih, Dia adalah seorang Imam yang menjadi pengantara manusia dan Allah, Dia juga yang akhirnya mati bagi seluruh umat manusia. Yesus datang ke dunia untuk hidup bagi manusia, bersama manusia – namun akhirnya Dia juga mati untuk manusia. Mur melambangkan cawan pahit yang harus diminum oleh Yesus, di mana cawan pahit adalah penderitaan-Nya untuk menebus dosa manusia sekaligus lambang persatuan yang hidup dan yang mati. Persembahan ini menggambarkan bahwa Yesus datang ke dunia: Dia HIDUP untuk manusia dan MATI untuk manusia.

Kalau kita datang menghormati Yesus, kita diperingatkan bahwa Dia mengorbankan nyawa; menyerahkan hidup untuk menebus dosa-dosa kita. Dalam Dia kita menjadi anak-anak Allah. Melalui pengorbananNya, dosa kita ditebus dan kita dipulihkan kembali agar dapat bersatu dengan Allah.Pemberian para majus merupakan persembahan yang melambangkan kehidupan Yesus sendiri. Pemberian para majus menggambarkan perjalanan hidup yang akan dilalui oleh Yesus. Walaupun baru saja dilahirkan, arah hidupnya sudah ditentukan dengan pasti. Ia tidak melawan kehendak Bapa-Nya. Ia setia, bahkan setia sampai di kayu salib. Tampak jelas bahwa semua pemberian ini melambangkan perjalanan hidup yang akan dilalui Yesus Sang Bayi Mungil yang lahir di kandang hina itu. Namun, di balik semuanya itu, ada sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu bahwa kehadiran orang-orang bijak ini mengungkapkan pengakuan dunia atas kehadiran Yesus. 

Catatan Kecil untuk Kisah Ini...

Kitab Suci menyebutkan apa yang ingin dicari oleh para majus itu, “Kami telah melihat bintangNya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia” (Mat 2:2). Sikap inilah yang perlu kita miliki saat kita memutuskan untuk mencari Yesus. Ada berbagai macam tradisi Kristiani. Ada berbagai macam profesi yang kita miliki. Kita berasal dari latar belakang yang beragam. Namun, kita datang bukan untuk menunjukkan kehebatan masing-masing, tetapi kita datang untuk menyembah Dia, Sang Raja Damai. Bersama dengan para majus, kita melakukan dua perjalanan: 1) perjalanan menuju Betlehem untuk menemukan Raja Damai dan 2) perjalanan dari Betlehem untuk membawa Damai kepada dunia luas. Dalam perjalanan menuju Betlehem, seperti para majus yang mengikuti bintang, kita belajar untuk menjalani hidup sesuai arahan Sang Bintang. Sang Bintang telah  menjadi pedoman para majus dan kita dalam mencari Yesus. Bintang zaman sekarang adalah firman Allah. Firman Allah itulah yang perlu menjadi pegangan untuk melakukan hal-hal yang lebih baik dalam kehidupan kita. Kita disadarkan bahwa kita memiliki Allah yang berfirman baik melalui sabda dalam Kitab Suci maupun sapaan dalam kehidupan sehari-hari. Kita pun diajak untuk hidup sesuai dengan sabda dan sapaan Allah. Dalam perjalanan pulang dari Betlehem, seperti para majus yang diminta kembali kepada Herodes, kita kadangkala ditarik untuk bertemu dengan Herodes. Herodes-Herodes zaman sekarang adalah orang yang tidak ingin hidup baik dan mengembangkan hidup yang tidak baik. Maka sadar atau tidak, seperti para majus yang mengikuti bintang dan diperingatkan untuk mengambil jalan lain, kita pun sedang diperingatkan untuk selalu ambil mengikuti bintang, sabda Allah dalam kehidupan kita dan selalu siap jika harus menempuh jalan lain, bukan jalan Herodes, tetapi jalan menuju damai.
Selamat Tahun Baru 2014. Semoga kita selalu dikuatkan untuk selalu mengambil jalan lain, jalan yang dikehendaki Allah untuk membuat hidup yang lebih baik seraya berdoa, “Ya Allah, pada hari ini dengan bimbingan bintang, Engkau telah mewahyukan Putra TunggalMu kepada bangsa-bangsa. Kami mohon semoga kami yang telah mengenal Engkau dalam iman kelak Engkau perkenankan memandang wajahMu dalam kemuliaan. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, PuteraMu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.”

Gambar diambil dari:
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/f4/The_magi_henry_siddons_mowbray_1915.jpg