Jumat, 31 Juli 2015

Melatih Diri Menjadi Orang Muda yang Hidup dan Berarti

Kesibukan sekolah tahun ini terasa bertubi-tubi karena berbagai agenda yang terasa berjalan sangat cepat dan saling mengejar. Tahun kemarin, awal puasa jatuh beberapa hari setelah Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB). Namun, tahun ini, awal puasa terjadi jauh sebelum MOPDB. Malahan, beberapa hari sebelum penerimaan Laporan Hasil Belajar, bulan Ramadhan sudah dimulai. Bulan Ramadhan yang datang lebih cepat daripada tahun kemarin membuat jadwal yang terjadi di SMK Negeri 3 Surakarta juga terasa sangat cepat.
Di tengah waktu yang bergulir amat cepat itu, Ruang Podjok punya agenda rutin tahunan untuk mengadakan Retret bagi siswa baru. Mau tidak mau, agenda Retret tahun ini juga menyesuaikan agenda Pesantren Kilat yang juga direncanakan dengan secepat kilat. Siswa-siswi Kristiani kelas XI hanya punya waktu kurang lebih dua minggu untuk mengadakan persiapan. Tadinya, Retret sebenarnya tidak akan dilaksanakan dengan alasan keterbatasan waktu. Namun, semangat siswa-siswi Kristiani kelas XI yang amat membara membuat Retret akhirnya jadi dilaksanakan. 
Beberapa hari setelah pelaksanaan Ujian Kenaikan Kelas, beberapa siswa-siswi Kristiani kelas XI yang saat itu masih duduk di kelas X mendatangi Penjaga Podjok untuk menanyakan kepastian tentang kegiatan Pesantren Kilat. Namun, sampai saat itu belum ada kepastian apakah Pesantren Kilat akan diadakan atau tidak. Beberapa saat kemudian, didapat kabar bahwa Pesantren Kilat jadi diadakan mulai tanggal 3-7 Juli 2015. Setelah didapat tanggal pasti, dimulailah pembentukan Panitia Retret di bawah koordinasi Aloisia Christi Intan Utami. Mulai saat itu, panitia mulai bekerja keras. 
Panitia benar-benar bekerja keras. Mereka tidak henti-hentinya melakukan sesuatu untuk membuat pelaksanaan Retret berhasil dengan baik. Mulai dari membuat proposal, berjuang untuk mendapatkan tanda tangan, menunggu setoran uang dari orangtua, survei lapangan untuk mencari tempat pelaksanaan, mengumpulkan perlengkapan untuk pelaksanaan retret, dan masih banyak hal lain yang dilakukan. Panitia Retret kali ini memang benar-benar bekerja keras. Penjaga Podjok merasa bersyukur karena mendapat panitia yang kompak dan benar-benar mau bekerja. Memang kadangkala ada keluhan bahwa ada teman-teman yang tidak mau aktif, tetapi Penjaga Podjok menyemangati untuk terus bekerja tanpa memperhatikan apakah orang lain mau aktif atau tidak. Yang penting diri sendiri dulu yang aktif dan mau bekerja. Penjaga Podjok sendiri juga berkeliling untuk mencari pembicara. Akhirnya, diperolehlah 2 pembicara untuk kegiatan Retret tersebut, yaitu Bruder Bernard, B.M. dari Panti Asuhan Karuna dan Romo Marcellinus Tanto dari  Gereja San Inigo Dirjodipuran. Dalam pembicaraan bersama panitia, akhirnya diputuskan bahwa Retret akan dilaksanakan pada tanggal 3-4 Juli 2015 di Wisma Bhayangkara, Tawangmangu, Karanganyar dilanjutkan pada tanggal 6 Juli 2015 di SMK Negeri 3 Surakarta.

Sebelum Retret dilaksanakan, diadakanlah pertemuan persiapan retret. Kebetulan, sekolah juga membuat wadah untuk mempersiapkan MOPDB dan Kerohanian Islam ingin mempersiapkan Pesantren Kilat. Jadi sekalianlah Kerohanian Kristen dan Katolik nimbrung untuk mempersiapkan Retret. Pertemuan persiapan Retret dilaksanakan dua kali mengikuti jadwal yang direncanakan oleh sekolah. 
Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Tanggal 3 Juli 2015, seluruh siswa-siswi Kristiani kelas X yang baru dan panitia berkumpul di halaman depan gapura sekolah. Setelah diadakan persiapan sebentar, mulailah bersiap-siap untuk berangkat menuju Wisma Bhayangkara. Perjalanan menuju tempat Retret ditempuh selama kurang lebih 1,5 jam. Sesampai di tempat kegiatan, siswa-siswi diberi kesempatan untuk beristirahat sejenak. Setelah beristirahat sejenak, dimulailah sesi pembukaan yang dipandu oleh panitia. Tidak lama berselang, hadirlah Bruder Bernard sebagai pembicara pertama dalam retret tersebut. Dalam materinya, Bruder Bernard menyampaikan pentingnya orang muda menjadi garam dan terang dunia (Mat 5:13-16). Menjadi garam dan terang dunia harus dimulai dari pengenalan diri. Dalam pengenalan diri ini, Bruder mengajak para peserta untuk merenung sejenak untuk kemudian menorehkan gambar dalam sebuah kertas. Setelah beberapa saat menggambar, ada beberapa peserta yang gambarnya “diterawang” oleh Bruder. Bruder menyebutkan karakter peserta yang memiliki gambar tersebut dan karakter itu ternyata benar dimiliki oleh peserta seperti yang mereka akui sendiri. Dalam sesi pertama ini, Bruder mengajak para peserta untuk memiliki kepribadian yang kuat agar mampu membangun diri menjadi lebih baik di masa depan.








Setelah makan siang, Bruder kembali mengawal sesi. Dalam sesi kali ini, Bruder mengajak para peserta untuk diam merenung. Setelah mencoba memahami diri sendiri, Bruder mengajak para peserta untuk berpikir tentang apa yang bisa mereka lakukan dalam kehidupan. Permenungan ini diawali dengan video singkat tentang seorang anak yang berhasil membebaskan seorang tua dari hukuman pengadilan karena anak tersebut memberi kesaksian yang benar atas kejadian yang menimpa seorang tua yang dituduh mencopet dompet seorang ibu kaya. Menjadi garam dan terang dunia berarti melakukan sesuatu bagi sekitarnya. Kitab Suci mengungkapkan bahwa iman tanpa perbuatan itu mati (Yak 2:17). Oleh karena itu, orang muda Kristiani dapat menjadi garam dan terang dunia dengan berbuat sesuatu untuk mewujudkan imannya. Setelah sesi kedua selesai, para peserta dan panitia mendapat kesempatan untuk beristirahat sejenak.
Dalam retret kali ini, banyak Bapak Ibu Guru dan Karyawan yang hadir. Sepanjang perjalanan retret di SMK Negeri 3 Surakarta, tampaknya retret tahun ini paling banyak pendampingnya. Bapak Sutopo, Ibu Rosawati, Ibu Susiati, Bapak Heru, Ibu Setya, Ibu Mei, dan Penjaga Podjok hadir sejak pagi. Siang dan malam harinya, datanglah Bapak Yudhistira, Bapak Dilar, dan Bapak Suryo. Bahkan, keesokan paginya, Bapak Fajar menyusul memeriahkan suasana retret. Terima kasih kepada Bapak Ibu Guru dan Karyawan yang telah hadir dalam pelaksanaan retret kali ini. Terima kasih juga kepada Bapak Ibu Guru Karyawan yang meskipun tidak bisa hadir secara langsung tetap mendukung acara ini dengan caranya masing-masing.
Setelah beristirahat sejenak, acara retret dimulai lagi sejak sore. Acara malam itu adalah permainan dan renungan malam. Dalam acara malam itu, setiap kelompok peserta diminta untuk menyiapkan sebuah tampilan untuk mengisi acara api unggun. Setelah acara permainan dan renungan malam selesai, dimulailah acara api unggun. Suasana terasa hangat sampai akhirnya acara harus diakhiri pada sekitar pukul 22.30. 






Pagi harinya, tanggal 4 Juli 2015, acara dimulai dengan Doa Pagi. Kali ini, Penjaga Podjok yang diminta untuk menggawangi doa pagi. Dalam doa kali ini, para peserta diajak untuk menyadari betapa pentingnya arti doa. Betapa pentingnya doa diajarkan oleh Yesus. Sebelum memulai pekerjaan dan aktivitas, Yesus selalu menyempatkan diri untuk berdoa. Doa menjadi dasar seluruh hidup harian orang Kristiani. Oleh karena itu, doa pagi menduduki tempat yang sangat penting dalam hidup manusia. Setelah doa pagi, seluruh peserta pun diajak untuk berjalan-jalan di seputar tempat retret. Ini merupakan kesempatan yang sangat langka karena kadangkala kita tidak punya waktu untuk berjalan-jalan pagi. Oleh karena itu, kesempatan ini tidak dilewatkan begitu saja.
Setelah acara jalan-jalan, para peserta diberi kesempatan untuk mempersiapkan diri melaksanakan outbound. Suasana gembira terasa benar dalam kegiatan outbound itu. Setelah outbound selesai, para peserta diberi kesempatan untuk membersihkan diri sembari membereskan perlengkapan pribadi yang mereka bawa karena pada jam 13.00 acara harus sudah benar-benar diselesaikan. Acara retret tahun ini pun ditutup dengan pemilihan kakak-kakak panitia yang paling disenangi. Penjaga Podjok pun menutup acara retret itu dengan memberi penghargaan pada panitia dan berdoa singkat. Siang itu, setelah makan siang, perjalanan pulang ke Solo pun dimulai dan tiba di Solo sekitar pukul 15.30-an. 














Sehari setelah beristirahat pada hari Minggu, acara retret pun dipuncaki dengan sesi dari Romo Tanto. Tanggal 6 Juli 2015, mulai jam 08.00, para siswa-siswi baru kelas X mulai berproses bersama untuk mengolah diri. Dalam sesi ini, Romo Tanto mengajak para peserta untuk menjadi orang muda yang hidup. Ajakan itu dimulai dengan kutipan kata-kata Paus Fransiskus, “Kaum muda, tanyakanlah kepada Tuhan Yesus apa yang Dia maui dari kamu dan jadilah pribadi yang berani!” Kesadaran ini mengawali peran orang muda Kristiani sebagai garam dan terang dunia. Garam itu putih, mencegah kebusukan, dan memberi rasa; sedangkan terang itu memangkas kegelapan dan memberi tuntunan. Menjadi garam dan terang berarti menjadi pribadi yang bersih, tidak busuk, bisa mempengaruhi orang lain, menjadi terang, dan bisa diteladan oleh orang lain. Dalam sesi ini, Romo Tanto menekankan agar orang muda Kristiani memiliki semangat YOUTHFUL yang berciri OPTIMIS, KREATIF, dan PUNYA VISI HIDUP. Namun, hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan karena berbagai tantangan seperti konsumerisme, budaya instan, dan pandangan hidup yang keliru banyak bertebaran di sekitar manusia. Untuk menghadapi itu, Romo Tanto mengajak para peserta untuk menghidupkan diri “Urip Iku Urup – Hidup itu Menyala.” Dalam melaksanakan itu, kaum muda Kristiani diajak untuk BERGERAK, TERLIBAT, dan BERBUAT. Untuk menyalakan hidup, Romo Tanto mengajak kaum muda untuk merenungkan beberapa kutipan kata-kata Paus Fransiskus ini:

“Wahai kaum muda, Yesus ingin menjadi sahabatmu dan ingin agar kamu menyebarkan kegembiraan persahabatan ini kemanapun”

“Wahai kaum muda, jangan menjadi pribadi yang setengah-setengah karena kehidupan Kristiani menantang kita dengan tuntutan-tuntutan yang tinggi”

“Wahai kaum muda, jangan kubur talenta yang telah Tuhan berikan padamu! Jangan takut untuk memimpikan hal-hal besar dalam dirimu!”

“Wahai kaum muda, Gereja mengharapkan hal-hal besar dan kesediaanmu. Jangan takut untuk mencapai hal-hal yang tinggi!”





Setelah sesi dari Romo Tanto selesai, rangkaian Retret tahun ini ditutup dengan pemutaran film berjudul “Miracle in Cell No. 7.” Demikianlah seluruh rangkaian olah rohani yang dijalankan tahun ini. Terima kasih kepada Bapak Ibu Guru, Karyawan, segenap panitia, dan peserta yang telah membuat acara ini begitu bermakna bagi setiap orang yang mengikutinya. Berkah Dalem...

Kamis, 09 Juli 2015

Membangun Harapan lewat Bangau Kertas

Hari ini adalah hari pertama tahun ajaran baru 2015/2016. Hari pertama selalu menentukan dalam berbagai kegiatan. Di manapun, hari pertama selalu membawa harapan-harapan untuk waktu ke depan. Itulah yang terjadi di Ruang Podjok. Suasana Ruang Podjok di tahun ini tampaknya ingin menyiratkan harapan itu. Tahun ini, Ruang Podjok dihiasi dengan berbagai lipatan kertas berbentuk bangau. Lipatan kertas bangau itu digantungkan dengan tali di plafon dan kipas angin. Bulan Mei lalu, beberapa teman membuat hiasan-hiasan ini. Kebetulan, Penjaga Podjok beberapa kali menemani prosesnya. Setelah dipasang, hiasan-hiasan bangau ini terasa sangat memeriahkan Ruang Podjok.

Saat memandang hiasan-hiasan ini, Penjaga Podjok sempat teringat pada sebuah kisah dari Jepang. Setelah melakukan penelusuran secara daring, Penjaga Podjok menemukan kisah ini:

“Seribu Bangau Kertas (Senbazuru) adalah kumpulan origami berbentuk bangau (tsuru) yang dirangkai bersama dengan benang. Legenda Jepang menyatakan bahwa siapapun yang melipat kertas-kertas menjadi seribu bangau maka satu permohonannya akan dikabulkan, misalnya memperoleh umur yang panjang atau sembuh dari penyakit. Rakyat Jepang percaya bahwa bangau adalah salah satu makhluk suci yang konon dapat hidup selama ribuan tahun. Di Jepang, ada kisah turun temurun bahwa melipat seribu bangau kertas dapat mengabulkan permohonan seseorang. Ini membuatnya menjadi hadiah spesial bagi keluarga dan teman. Secara tradisional, seribu bangau kertas diberikan sebagai hadiah pernikahan oleh pihak ayah, yang mengharapkan kebahagiaan dan kemakmuran jangka panjang kepada anak dan menantunya. Seribu bangau kertas juga dapat diberikan kepada bayi yang baru lahir agar berumur panjang dan sehat sentosa. Menggantung seribu bangau kertas di rumah juga dipercaya sebagai jimat pembawa keberuntungan. 
Seribu bangau kertas menjadi simbol perdamaian dunia melalui kisah Sadako Sasaki, seorang gadis kecil berusia 12,5 tahun. Di pagi yang kelabu, 25 Oktober 1955, ia sedang berjuang untuk tetap hidup. Tubuhnya kepayahan. Kakinya bengkak dan berwarna ungu. Ia sempat menelan sesuap nasi yang dicampur teh panas. “Rasanya enak,” kata dia sebelum menghembuskan nafas penghabisan. Penderitaannya berawal dari tragedi besar yang mengguncang dunia. 6 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom 'Little Boy' di Hiroshima, Jepang dan membunuh 140.000 orang di kota itu. Sadako yang masih berusia 2 tahun berada dalam jarak 1 mil dari titik jatuhnya bom di dekat Jembatan Misasa. Ia dan seluruh keluarganya berhasil lari. Neneknya yang kembali ke rumah untuk mengambil barang yang tertinggal tak pernah diketahui nasibnya. Seusai perang, Sadako menjalani masa kecil yang relatif normal meski serba kekurangan. Ia seorang gadis yang ceria juga pelari unggul. Berkat kemampuannya itu, kelasnya langganan juara lari estafet. 
Suatu hari, di tengah perlombaan, Sadako terjatuh. Usianya saat itu 11 tahun. Hari demi hari, tubuhnya makin lunglai. Pada November 1954, leher dan bagian belakang telinga Sadako membengkak. Dua bulan kemudian bercak ungu bermunculan di kedua kakinya. Sadako dilarikan ke rumah sakit pada Februari 1955. Dokter mendiagnosis penyakit leukemia, kanker darah seperti yang banyak diderita para korban bom atom. Orangtuanya diberi tahu bahwa putri kesayangan mereka hanya punya waktu kurang dari setahun. “Aku dan suamiku menangis di dekat Sadako yang sedang tertidur tenang,” demikian isi surat yang ditulis sang ibu, Fujiko Sasaki pada 1956 seperti dimuat situs The Global Human. Menghadapi penyakit Sadako, orangtuanya menulis, “Jika di dunia ada obat untuk menyembuhkan penyakitnya, aku akan pinjam uang, 10 juta yen sekalipun. Atau, jika mungkin, biarkan aku mati untuknya...” 
Suatu hari, seorang sahabat Sadako, Chizuko Hamamoto datang menjenguk dan bercerita tentang sebuah legenda. Konon, seseorang yang bisa melipat 1000 bangau kertas akan dikabulkan permintaannya. Bangau adalah simbol panjang umur. “Kau ingat legenda yang menyebut jika kau melipat 1.000 bangau kertas, para Dewa akan mengabulkan keinginanmu?” kata dia. Hamamoto lalu melipat selembar kertas berwarna emas menjadi sebuah bangau kertas. Lipatannya sangat bagus. Ia memberikannya ke Sadako. “Ini milikmu yang pertama.” Sadako tak punya kertas lipat karena harganya sangat mahal saat itu. Jadi, ia menggunakan apapun, koran, bungkus obat, juga kertas pelapis bingkisan semoga cepat sembuh. Ia melipat dan terus melipat. 
Masahiro Sasaki, kakak Sadako, mengatakan bahwa origami adalah semacam pelarian Sadako yang tahu soal usianya yang tak bakal panjang tapi memilih diam dan berpura-pura tak tahu di depan keluarganya. “Kupikir, melipat bangau membantunya mengalihkan pikiran dari kesedihan, penderitaan, dan rasa sakit...Itu bukan hanya sekedar lipatan kertas, namun penuh dengan seluruh emosi Sadako,” kata dia seperti dimuat Japan Times. Dalam menyelesaikan lipatan bangaunya, Sadako hanya bisa setengah jalan saat maut menjemputnya. Namun, hingga kematiannya, gadis kecil itu tak pernah menyerah, tabah, dan bersikap ceria hingga akhir hidupnya. Masahiro mengatakan, dengan bantuan keluarga dan teman, Sadako berhasil menyelesaikan 1.000 bangau kertas. Sadako mencoba membuat seribu bangau kertas, namun hanya mampu mencapai jumlah 644 sebelum meninggal. Teman-temannya pun melanjutkan impiannya. Setelah genap seribu, mereka menguburkan semuanya bersamanya. 
Teman-teman sekelas Sadako yang sangat terpukul karena kepergiannya menggalang dana untuk mendirikan peringatan untuk Sadako dan anak-anak lain yang tewas akibat bom atom. Mereka menulis dan mempublikasikan buku tentang Sadako. Butuh tiga tahun bagi mereka untuk mendapatkan cukup dana pembangunan Children's Peace Monument di Peace Memorial Park, Hiroshima. Ada patung Sadako di puncak monumen. Di bawahnya terdapat plakat berisi pesan dari anak-anak bertuliskan, “Kore wa bokura no sakebi desu. Kore wa watashitachi no inori desu. Sekai ni heiwa o kizuku tame no - Ini adalah seruan kami. Ini adalah doa kami. Untuk membangun perdamaian di dunia.” Setiap tahun, ribuan anak-anak datang ke sana, meninggalkan lipatan origami burung bangau untuk mengenang jiwa-jiwa kecil yang tewas akibat bom atom. Patung Sadako juga terdapat di Taman Perdamaian di Seattle. Ia menjadi simbol dampak perang nuklir. 
Setelah kematiannya, sang ayah membagikan hampir semua bangau kertas ke orang-orang yang datang dan ingin mendengar kisah Sadako. Setelah dibagikan, hanya lima yang tersisa. Alih-alih menyimpannya, Masahiro Sasaki memutuskan untuk menyumbangkan sisa lipatan bangau itu ke beberapa tempat di dunia. Bangau pertama pada tahun 2010 disumbangkan ke Tribute WTC Visitor Center di New York, yang didirikan untuk memperingati orang-orang yang tewas dalam serangan teror 11 September 2001. Satu bangau lagi diberkan kepada museum perdamaian di Austria. Bangau kertas ketiga, dengan bantuan Clifton Truman Daniel, cucu tertua Presiden AS Harry Truman, yang memerintahkan pemboman di Hiroshima dan Nagasaki, diletakkan di USS Arizona Memorial di Pearl Harbor.”


Mendengar kisah ini, Penjaga Podjok semakin diteguhkan. Ternyata, secara kebetulan, teman-teman yang menyemarakkan Ruang Podjok telah memberikan harapan baik di tahun pelajaran ini. Semoga harapan-harapan baik yang disimbolkan melalui lipatan bangau-bangau kertas ini semakin membuat kegiatan dan aktivitas di Ruang Podjok semakin baik. Tuhan memberkati kegiatan dan aktivitas yang akan dilaksanakan di Ruang Podjok.

Sumber Pustaka:
http://news.liputan6.com/read/2124194/25-10-1955-kisah-tragis-gadis-sadako-dan-1000-bangau-kertas
https://id.wikipedia.org/wiki/Seribu_bangau_kertas


Rabu, 24 Juni 2015

Tiada Syukur Tanpa Peduli, Sekelumit Catatan tentang Paska

Perayaan Paska Bersama di SMK Negeri 3 Surakarta sudah beberapa waktu berlalu. Seiring berjalannya Waktu, Cicilya Oni Yosyana Ochtifani, Ketua Panitia Paska tahun ini, mencoba menggoreskan ingatannya untuk menemukan pelajaran-pelajaran hidup yang diambil dari Perayaan Paska tahun ini...

“Pelayanan sebagai ketua panitia dalam suatu kepengurusan bukanlah suatu tugas yang mudah karena harus dapat mempersatukan semua orang untuk saling membantu demi kelangsungan dan keberhasilan sebuah acara yang direncanakan. Benar-benar sebuah pengalaman besar bagi saya dilibatkan sebagai ketua pelaksana Perayaan Paska tahun ini. Tidak mudah mempersatukan teman-teman dalam sebuah panitia karena dalam sebuah kepanitiaan pasti ada yang cocok dan ada yang tidak cocok. Barangkali, ada beberapa teman yang tidak cocok dengan cara kerja saya. Dalam kepanitiaan ini, saya bekerja agak santai, tidak terlalu tegas, dan banyak mengerem perkataan. Ini memang saya lakukan untuk mengurangi konflik antar panitia. Jujur saja, saya senang ketika saya bisa membuat kejutan, terlebih ketika semua orang berpikir bahwa pekerjaan belum selesai padahal pekerjaan itu sudah dalam kendali saya.
Berbagai dinamika yang dialami oleh panitia akhirnya membawa kami kepada tujuan akhir yang membuat kami cukup lelah. Ada banyak faktor yang membuat kami lelah: bolak-balik merevisi proposal, komentar tentang penggunaan dana, komentar tentang susunan panitia, dan sebagainya. Bagaimana saya bisa bertahan untuk membela kegiatan kerohanian ini? Memang sempat terpikir bahwa kegiatan Kerohanian Katolik dan Kristen ini jarang mendapat dukungan karena memang minoritas. Namun, meskipun kecil, kami tetap akan bertahan dan berjuang. Tujuan saya hanya satu, yaitu membuat Kerohanian Katolik dan Kristen tetap hidup di tengah keluarga besar SMK Negeri 3 Surakarta.  Setelah kami mendapatkan izin dan bantuan keuangan yang kami ajukan dalam proposal, kami pun mulai menyebarkan undangan dan meminta kontribusi dari teman-teman siswa-siswi maupun Bapak Ibu Guru Kristiani. Berbagai persiapan kami lakukan, termasuk membereskan perlengkapan, konsumsi, doorprize, MMT, souvenir, serta mempersiapkan bakti sosial yang akan kami lakukan di Panti Asuhan Karuna.
Hari yang dinantikan pun tiba. Di hari Sabtu (25/4), tibalah perayaan itu. Satu hal yang tidak kami duga bahwa salah satu pembimbing dalam kegiatan ini dan Kepala Sekolah tidak dapat hadir karena menjalankan tugas dinas di luar kota. Kami sedikit kecewa tetapi semua itu kami kesampingkan demi kelancaran acara yang telah direncanakan. Acara Perayaan Paska berjalan cukup lancar. Keseruan, kebersamaan, dan sukacita terluap di antara panitia dan peserta. Pada acara itu, Romo Agustinus Nunung Wuryantoko berkenan untuk memberikan renungan. Kedatangan beliau sangat kami tunggu-tunggu. Dalam renungan itu, beliau bercerita tentang pengalamannya berkumpul bersama orang-orang yang menyukai batu akik. Ada seorang anak kecil yang kemudian mendekati beliau dan dengan polosnya berkata, “Mas kok mirip dengan Romo saya ya?” Semua orang pun pasti akan sedikit heran dan terkejut saat bertemu kembaran Romonya di pasar batu akik. Dalam renungan itu, beliau berpesan untuk menjadi pribadi yang hebat dan berani meninggalkan daerah nyaman untuk bergerak ke daerah yang penuh resiko, untuk hidup bagi orang lain. Hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi hidup untuk orang lain. Di akhir renungan itu, ada pesan yang ditandaskan: Marilah kita peduli. Seusai perayaan di sekolah, acara dilanjutkan dengan membagikan telur asin kepada masyarakat yang ditemui di sekitar wilaya sekolah. Namun, saya tidak mengikuti acara pembagian telur ini karena sudah ada teman-teman yang lebih dulu berangkat melakukan pembagian telur. Akhirnya, saya dengan beberapa panitia yang masih di sekolah berkemas-kemas untuk acara selanjutnya di Panti Asuhan Karuna. Puji Tuhan karena acara di sekolah tidak mengalami kesulitan. Semua ini berkat kerja keras dan kerja sama panitia sehingga acara berlangsung tepat waktu.




















Pukul 12 siang, teman-teman panitia sudah berangkat satu per satu ke Panti Asuhan Karuna. Saya dan Ardi Kurniawan menunggu Pak Heru yang akan membantu membawa perlengkapan ke panti asuhan. Menunggu memang bukan waktu yang bersahabat. Gelisah, merasa tidak enak, dan takut semuanya tidak berjalan sesuai rencana menghantui. Akhirnya Pak Heru datang juga. Begitu Pak Heru datang, kami langsung mengemasi perlengkapan dengan bantuan kakak kelas. Alat musik, air minum dan sumbangan bakti sosial yang telah terkumpul kami masukkan ke dalam mobil dan kami langsung berangkat ke panti asuhan.
Sesampai di sana, saya terkejut karena teman-teman panti asuhan sudah berkumpul sejak pukul 1 siang sedangkan acara direncanakan mulai pukul 2 siang. Melihat semua yang sudah berkumpul, perasaan saya tidak menentu dan terdengar bisikan-bisikan yang membuat nyali saya menciut: Bagaimana jika tidak berjalan dengan baik? Bagaimana kalau saya tidak dapat melakukan yang terbaik? Hal-hal inilah yang membuat saya khawatir. Dalam situasi itu, Pak Heru memanggil saya dan mengatakan bahwa beliau tidak bisa mengikuti acara bakti sosial sampai selesai karena ada acara keluarga. Waduh, semakin kacau perasaan saya karena tidak didampingi sampai selesai. Namun, saya segera mengatasi diri dengan mulai merencanakan yang harus kami lakukan. Saya pun mulai menurunkan barang-barang bawaan dan membawanya ke tempat berlangsungnya acara.
Panitia pun dengan segera berkoordinasi. Susunan acara yang telah dibuat diusahakan dilaksanakan sesuai rencana. Acara pun kami mulai dengan Pujian dan Doa Pembuka. Pandangan saya menjelajah seisi ruangan. Saya terkejut dengan kehadiran teman-teman dari Rokris Rokat yang sebenarnya tidak masuk dalam panitia tetapi ikut terlibat dalam kegiatan bakti sosial. Terima kasih untuk kehadiran teman-teman baik panitia maupun bukan panitia untuk menyemarakkan kegiatan bakti sosial. Niat teman-teman untuk bergembira bersama teman-teman panti asuhan yang sangat besar membuat saya semakin bersemangat. Awalnya teman-teman dari Rokris Rokat agak canggung bergabung dengan teman-teman panti, tetapi rasa canggung itu mulai terlepas ketika kami benar-benar bergabung dengan teman-teman panti, terutama ketika menyanyikan lagi “Hari Ini Kurasa Bahagia,” saya mulai memberanikan diri bergabung dengan keasyikan teman-teman panti asuhan. Saya bersyukur diberi kelebihan mudah bergaul dengan orang baru sehingga saya boleh menjadi cepat akrab dengan teman-teman baru saya. Mungkin sampai disini dulu cerita saya. Barangkali kapan-kapan akan disambung lagi...” 




Rabu, 20 Mei 2015

Mari Tebarkan Damai Sejahtera untuk Membangun Persaudaraan Sejati

Beberapa minggu yang lalu, Pejaga Podjok didatangi oleh pengelola Mading Karya Ilmiah Remaja SMK Negeri 3 Surakarta. Kedatangannya memberikan tugas yang tidak begitu mudah karena Penjaga Podjok harus membuat siraman rohani yang akan dimuat di Mading. Setelah merenung beberapa saat, inilah siraman rohani yang berhasil ditulis itu. Semoga dapat bermanfaat bagi semua...

Ketika tulisan ini dibuat, Gereja Katolik masih merayakan Masa Paska, sebuah masa yang digunakan untuk mengenangkan kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Setelah bangkit dari kematian, Yesus menampakkan diri kepada murid-muridNya selama 40 hari. Dalam berbagai kisah penampakan yang dicatat dalam Alkitab, ada sebuah pesan dominan yang dibawa oleh Yesus. Pesan itu berbunyi, “Damai Sejahtera Bagimu” atau “Salam Bagimu.” Damai sejahtera atau salam merupakan bentuk sapaan yang berakar dari kata “shalom” dari bahasa Ibrani. Dari sudut pandang Katolik, damai berkaitan dengan kata “shalom” yang muncul dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.  Dalam Perjanjian Lama, “shalom” berarti kesejahteraan pribadi dan masyarakat yang terus-menerus harus diusahakan (bdk. Mzm 34:15). Dalam Perjanjian Baru, “shalom” berarti upaya membersihkan dunia ini dari segala macam kejahatan dan kedurhakaan. Damai terjadi jika kita berani mengampuni (lih. Mat 18:22). Damai tidak tergantung pada manusia lain. Damai diciptakan oleh setiap orang dan berakar dalam kebenaran. Orang yang menghidupi kebenaran akan memperoleh damai. 
Pesan damai ini bukan monopoli Gereja Katolik. Pesan damai itu juga dikenal dalam tradisi agama lain. Umat Islam memiliki sebuah salam yang sangat indah. Kata-kata dari bahasa Arab, “Assalamu 'alaikum” secara harafiah berarti “Semoga damai besertamu.” Nabi Muhammad menasehatkan kepada kaum muslim untuk memberikan salam kepada saudara-saudari umat Muslim dengan mengucapkan kalimat lengkap “Assalamu 'laikum warahmatullahi wabarakatuh.” Kata 'rahmah' dan 'barakah' yang dtambahkan disana secara lugas berarti “berkat” dan “kesejahteraan.” Jadi, kalimat salam tersebut secara lengkap berarti “Semoga damai yang diiringi berkat dan kesejahteraan yang berasal dari Allah selalu besertamu.” Umat Hindu juga memiliki salam yang sangat mendalam maknanya dan kurang lebih bermakna sama yaitu “Om swastiastu” dan “Om Shanti Shanti Shanti Om.” Salam ini merupakan sebuah doa agar Tuhan memberi berkat kepada semua makhluk. Kata “Om” menunjuk pada Yang Mahakuasa, “Swasti” berarti keadaan sejahtera, dan “Shanti” berarti damai. Umat Kristen Protestan pun memiliki salam khas untuk menyapa saudara-saudari seimannya dengan kata “Shalom.” Shalom berarti damai sejahtera. Berbagai macam salam dalam beragam tradisi agama ini menunjukkan bahwa semua agama mengenal konsep damai sejahtera.
Melalui hubungan yang harmonis antar sesama umat beragama, pesan “Damai Sejahtera” yang disampaikan oleh Yesus Kristus yang sudah bangkit pada Masa Paska ini terasa sangat relevan. Damai sejahtera merupakan keadaan yang memungkinkan setiap orang berkembang dan hidup secara penuh. Kepenuhan hidup yang dialami manusia membuat manusia mampu bersyukur atas segala yang diterimanya dalam kehidupan. Kalau setiap orang bisa bersyukur atas hidup yang diberikan oleh Allah, niscaya tidak akan ada lagi perselisihan dan terciptalah perdamaian di antara semua manusia.
Setiap manusia dipanggil untuk menjadi saudara bagi manusia lain. Ilmu Filsafat memandang bahwa manusia memiliki dua hakikat yang berkenaan dengan manusia lain, yaitu sebagai homo sociale dan sebagai zoon politikon. Sebagai homo sociale, manusia memiliki kemampuan bersosialisasi dengan manusia lain dan selalu membutuhkan manusia lain. Sebagai zoon politikon, manusia memiliki kemampuan untuk menciptakan relasi dan menetapkan tata aturan dalam berelasi dengan manusia lain. Dalam kenyataannya sebagai homo sociale dan zoon politikon, manusia dipanggil untuk membangun persaudaraan sejati dengan mewujudkan damai sejahtera dalam kehidupan bersama. Dengan kemampuan sebagai homo sociale dan zoon politikon, kita diajak untuk menebarkan pesan damai sejahtera untuk membangun persaudaraan sejati dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga demikianlah yang terjadi. Tuhan memberkati.

Selasa, 19 Mei 2015

Memberikan Sedikit Bagian dari Hidup Kita

Paska dalam tradisi Gereja Katolik menjadi peringatan akan pemberian diri Yesus kepada manusia melalui salib. Yesus tahu bahwa diriNya akan mengalami penderitaan di salib. Dengan merentangkan tangan di kayu salib, Yesus memberikan hidupNya sepenuh-penuhnya dan sehabis-habisnya. Teladan pemberian diri inilah yang seringkali menjadi poin refleksi bagi umat beriman. Dalam Masa Paska ini, Penjaga Podjok juga mengajak siswa-siswinya untuk memberikan diri kepada sesama. Kegiatan yang dilakukan untuk menghayati pemberian diri ini adalah Pelayanan Sosial yang dilakukan untuk siswa kelas X dan XI. Tentang pelayanan sosial ini, Penjaga Podjok pernah menulis posting ini: Mengujicobakan Pelayanan Sosial dalam Proses Pendidikan. 
Tahun ini, pelayanan sosial dibagi dalam dua kegiatan, yaitu Pelayanan Sosial untuk Panti Asuhan dan Pelayanan Sosial Pengambilan Donasi untuk lembaga Karitas Indonesia Keuskupan Agung Semarang. Pelayanan Sosial untuk Panti Asuhan sebenarnya sudah dimulai sejak tahun lalu. Tahun lalu, Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta bekerjasama dengan Panti Asuhan Karuna Putri sebagai tempat pelayanan sosial. Tahun ini, kerjasama dilebarkan dengan Panti Asuhan Karuna Putra. Sementara itu, Pelayanan Sosial Pengambilan Donasi Karina Keuskupan Agung Semarang baru dimulai tahun ini karena di tahun-tahun sebelumnya, pengambilan donasi dilakukan oleh para sukarelawan. Kegiatan Pelayanan Sosial ini digagas untuk memfasilitasi amanat Kurikulum 2013 yang salah satu karakteristiknya adalah “mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik; menjadikan sekolah sebagai bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar terencana dimana peserta didik menerapkan apa yang dipelajari di sekolah ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar; memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta  menerapkannya dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat; serta memberi waktu yang cukup leluasa untuk mengembangkan berbagai sikap, pengetahuan, dan keterampilan.” Untuk  menanggapi hal tersebut, dicetuskanlah kegiatan Pelayanan Sosial untuk memberi tempat bagi siswa dalam mengembangkan dirinya. Disesuaikan dengan agenda kegiatan sekolah, kegiatan Pelayanan Sosial ini dibuat saat siswa-siswi kelas X dan XI sedang tidak ada kegiatan. Setelah dipertimbangkan masak-masak, waktu yang dipilih adalah saat sekolah mengadakan Ujian Sekolah dan Ujian Nasional bagi kelas XII. 
Dalam Pelayanan Sosial Panti Asuhan, siswa-siswi diajak untuk berempati bersama warga panti asuhan. Mereka diajak untuk terlibat langsung dalam kegiatan panti asuhan. Siswa-siswi diajak untuk memberikan tenaga dan waktunya untuk kepentingan panti asuhan. Ada yang diutus untuk memasak, mengepel, bersih-bersih, mendampingi adik-adik panti asuhan untuk belajar dan sebagainya. Sementara itu, Pelayanan Sosial Pengambilan Donasi dilakukan dengan cara mendatangi alamat para donatur yang telah ditetapkan dalam daftar dan mengambil donasi yang telah mereka kumpulkan selama periode tertentu. Pengambilan donasi ini memerlukan waktu yang cukup karena harus ada janji untuk ketemu dan mengambil donasi agar perjalanan pengambilan donasi itu tidak sia-sia. Dalam pelaksanaannya, kedua kegiatan ini dilakukan dalam waktu yang tidak bersamaan. Pelayanan Sosial Pengambilan Donasi dimulai terlebih dahulu sejak tanggal 16 Maret 2015 sampai 16 April 2015, sedangkan Pelayanan Sosial Panti Asuhan diadakan tanggal 13-15 April 2015.









Tidak banyak yang diharapkan dari kegiatan pelayanan sosial ini. Penjaga Podjok hanya ingin memberikan pengalaman berbagi hidup dengan orang lain. Kegiatan ini tentu tidak akan lengkap kalau tidak ada sesuatu yang direfleksikan. Refleksi menjadi salah satu cara belajar dari kehidupan. Melalui refleksi, diharapkan seorang manusia menjadi pribadi yang semakin manusiawi. Satu hal yang menarik dari kegiatan Pelayanan Sosial Panti Asuhan ini adalah siswi-siswi yang melakukan pelayanan sosial di Panti Asuhan tergerak untuk memberikan sedikit dari apa yang mereka punyai kepada Panti Asuhan. Ini merupakan awal dari kepedulian. Semoga ke depan, kegiatan-kegiatan semacam ini semakin dapat membangun kepedulian dalam diri orang-orang muda yang sedang belajar di sekolah. Terima kasih atas kerelaan dalam berbagi hidup. Seperti Yesus yang telah lebih dulu membagikan hidupnya, semoga kita juga mampu memberikan sedikit dari hidup kita sebagai tanda pembagian diri. Seperti roti yang dipecah dan dibagikan kepada setiap orang dalam Perayaan Ekaristi, kita diajak untuk memecah hidup kita dan membagikannya kepada mereka yang ada di sekitar kita, terutama yang memerlukan perhatian dan bantuan kita. 

Kamis, 16 April 2015

Buku Perdana Kolaborasi Warga Ruang Podjok

Bulan-bulan ini, warga Ruang Podjok Agama Katolik SMK Negeri 3 Surakarta menerima kado istimewa. Bukan uang, bukan perhiasan, apalagi batu akik yang sekarang sedang ngetren. Kado istimewa yang diterima adalah sebuah buku. Mengapa buku ini menjadi istimewa? Karena buku ini adalah hasil kolaborasi Penjaga Podjok dengan sebagian warga Ruang Podjok.
Buku ini berawal dari sepenggal kisah yang terjadi kira-kira dua tahun yang lalu. Saat itu, Penjaga Podjok mendapat inspirasi yang muncul menjelang Ujian Praktek Pendidikan Agama Katolik tahun 2013. Saat itu, terbersit sebuah ide untuk membuka peti depositum fidei (harta kekayaan iman) Gereja Katolik. Kebetulan, saat itu juga baru dicanangkan Tahun Iman oleh Paus (sekarang Paus Emeritus) Benediktus XVI. Jadi cocok. Ide yang muncul saat itu adalah menantang siswa-siswi untuk mengungkap kembali pengetahuan iman mereka tentang Gereja Katolik. Saat itu, idenya masih sangat sederhana sehingga yang diungkapkan oleh siswa-siswi saat itu adalah materi-materi yang sudah pernah mereka pelajari. Memang ada beberapa yang kemudian berani mengangkat materi yang baru. Oleh karena itu, sangat patut diacungi jempol untuk siswa-siswi yang berani keluar dari zona nyamannya ini. Untuk kisah ini, para pembaca bisa menengok ke posting berikut: UjianPraktek Agama: Belajar Berani dan Berani Belajar Mengungkapkan Iman”
Setelah Ujian tahun 2013 itu, gagasan untuk membuka peti depositum fidei menjadi semakin liar. Penjaga Podjok ingin semakin menantang anak-anaknya untuk semakin berani masuk ke dalam peti depositum fidei itu dan menemukan hal-hal berharga. Akhirnya, muncullah gagasan untuk membahas tema yang sama sekali baru dan tampaknya belum banyak dibahas dalam kehidupan iman umat, yaitu “Orang-orang Kudus dari Kaum Awam.” Untuk merealisasikan ide ini, Penjaga Podjok terlebih dulu harus melakukan riset untuk menentukan nama-nama orang-orang yang bisa dibahas para siswa. Sekian banyak penelusuran dibuat. Akhirnya ditemukanlah beberapa puluh nama yang kiranya dapat dibahas dalam Ujian Praktek tahun berikutnya. Gagasan terus bergulir, membesar, dan matang.
Ketika tiba masa untuk mempersiapkan Ujian Praktek tahun 2014, gagasan itupun digulirkan. Para siswa mengambil undian untuk menentukan nama dari orang yang akan dibuat biografinya. Saat itu, ada beragam tanggapan dari para siswa: ada yang bingung, ada yang antusias, ada yang mengeluh. Ya wajarlah. Terhadap sebuah perubahan, reaksi spontan manusia adalah defensif. Namun, mau tidak mau  ya harus mau karena Ujian Praktek adalah salah satu syarat kelulusan. Dari waktu ke waktu, para siswa mengerjakan tugas tersebut. Mereka menelusuri berbagai kisah orang yang menjadi bagian mereka. Ada berbagai kesan yang muncul selama mereka mendalami kisah orang-orang kudus tersebut. Dengan bimbingan Penjaga Podjok, mereka menyusun sebuah teks yang dapat disajikan dalam presentasi Ujian Praktek.
Pasca Ujian Praktek selesai, tiba-tiba muncullah ide untuk mengumpulkan teks-teks yang terserak itu dalam satu kompilasi. Penjaga Podjok pun mulai mengumpulkan, menambah, memperkaya, dan mengomposisi teks yang berisi kisah orang-orang kudus dari kaum awam. Kira-kira bulan Mei 2014, Penjaga Podjok mengirimkan naskah tersebut kepada Penerbit Kanisius dengan harapan tulisan sederhana itu bisa diterbitkan dan bermanfaat bagi khalayak luas. Beberapa waktu ditunggu, akhirnya keputusan untuk terbit pun datang. Terima kasih kepada Penerbit Kanisius yang telah membuat tulisan sederhana ini dapat beredar untuk semakin banyak orang.   
Ingin tahu tentang bagaimana proses pengangkatan sebagai orang kudus? Ingin tahu berapa banyak awam yang sudah diproses menjadi orang kudus? Buku ini kiranya dapat memberikan gambaran awal tentang orang-orang kudus dari kaum awam. Ada berbagai kisah yang terungkap di dalamnya. Ada orang kudus yang dulunya adalah seorang budak. Ada orang kudus yang dulunya adalah seorang pemuja setan. Ada orang kudus yang bekerja sebagai ahli ekonomi dan sebagainya. Kisah-kisah para awam kudus itu membuat kita semakin diteguhkan bahwa siapapun dalam Gereja Katolik bisa memeluk hidup baik nan suci. Dengan demikian, nyatalah yang diamanatkan oleh Konsili Vatikan II melalui dokumen Lumen Gentium tentang Panggilan untuk Menjadi Kudus (LG 40) berikut ini:

“Jadi bagi semua jelaslah, bahwa semua orang kristiani, bagaimanapun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan cinta kasih. Dengan kesucian itu juga dalam masyarakat di dunia ini cara hidup menjadi lebih manusiawi. Untuk memperoleh kesempurnaan itu hendaklah kaum beriman mengerahkan tenaga yang mereka terima menurut ukuran yang dikurniakan oleh Kristus, supaya dengan mengikuti jejak-Nya dan menyerupai citra-Nya, dengan melaksanakan kehendak Bapa dalam segalanya, mereka dengan segenap jiwa membaktikan diri kepada kemuliaan Allah dan pengabdian terhadap sesama. Begitulah kesucian Umat Allah akan bertumbuh dan menghasilkan buah berlimpah, seperti dalam sejarah Gereja telah terbukti dengan cemerlang melalui hidup sekian banyak orang kudus.”

Oleh karena itu, ambil dan bacalah buku ini! Informasi tentang buku ini dapat dilihat dalam tautan berikut: Sumber Tak Pernah Mengering. Para pembaca sekalian bisa belajar untuk menjalani hidup yang baik. Semua ini kita lakukan demi kemuliaan Allah karena kemuliaan Allah tampak dalam hidup manusia seperti yang dikatakan oleh Santo Irenius.