Sabtu, 01 Agustus 2020

Catatan Penjaga Podjok: Mengelola Kelas Daring #3

Tahun pelajaran yang baru telah dimulai dan tampaknya kebijakan Belajar dari Rumah masih akan dilakukan untuk waktu yang agak lama. Dilansir dari KOMPAS.com, pemerintah telah memutuskan untuk kembali membuka sekolah di kabupaten/kota yang termasuk dalam golongan zona hijau Covid-19. Nadiem menyebut bahwa tahun ajaran baru 2020/2021 akan dimulai sekitar pertengahan Juli 2020. Zona hijau, kuning, oranye, dan merah Hingga 15 Juni 2020, pihaknya mengatakan bahwa ada 94 persen peserta didik yang tinggal di 429 kabupaten/kota zona kuning, oranye, dan merah. Para peserta didik di dalam tiga zona ini tetap wajib mengikuti pembelajaran namun melalui metode jarak jauh (PJJ). Adapun 6 persen peserta didik yang berada di 85 kabupaten/kota yang masuk dalam zona hijau Covid-19 bisa melakukan pembelajaran tatap muka. Namun untuk dapat menyelenggarakan pembelajaran tatap muka di zona hijau, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Pertama, lokasi sekolah tersebut harus berada di zona hijau. Kemudian, mengantongi izin dari Pemerintah Daerah dan kantor wilayah/kantor Kementerian Agama setempat. Ketiga, pemenuhan oleh satuan pendidikan terhadap seluruh daftar protokol kesehatan dan siap melakukan pembelajaran tatap muka. Terakhir, orang tua/wali murid menyetujui anaknya untuk melakukan pembelajaran tatap muka.  

Melansir Keputusan Bersama dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Dalam Negeri, berikut adalah tahapan pembukaan kembali sekolah: Tahap I: SMA, SMK, MA, MAK, SMTK, SMAK, Paket C, SMP, MTs, Paket B Tahap II dilaksanakan dua bulan setelah tahap I: SD, MI, Paket A, dan SLB Tahap III dilaksanakan dua bulan setelah tahap II: PAUD formal (TK, RA, TKLB) dan non formal Namun, ditambahkan pula catatan, begitu ada penambahan kasus atau level risiko daerah naik, maka satuan pendidikan diwajibkan untuk menutup kembali pembelajaran tatap muka tersebut. Adapun pembelajaran tatap muka di zona hijau sendiri terdiri atas dua fase, yaitu fase transisi dan normal baru. Mengutip Harian Kompas, 16 Juni 2020, waktu paling cepat untuk memenuhi kesiapan di jenjang SMA, SMP, dan sederajat untuk fase transisi adalah Juli 2020 dan fase normal baru pada September 2020. Sedangkan waktu paling cepat untuk memenuhi kesiapan fase transisi jenjang SD, MI, Paket A, dan SLB adalah September 2020 dan normal baru pada November 2020. Kemudian, waktu paling cepat untuk memenuhi kesiapan fase transisi pada jenjang PAUD formal dan non formal adalah November 2020 dan normal baru pada Januari 2021.

Menghadapi kenyataan bahwa sekolah masih harus tutup, namun pembelajaran tetap harus berjalan, Penjaga Podjok pun menyiapkan sebuah alat bantu yang semoga bisa digunakan oleh siswa-siwi untuk melakukan pembelajaran mandiri terbimbing. Dan inilah alat bantu yang disiapkan oleh Penjaga Podjok untuk melaksanakan kelas daring, yaitu tiga situs berisi materi pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti tingkat SMA dan SMK dengan rincian:

  1. Situs berjudul "Aku dan Imanku seturut Ajaran Gereja Katolik" bisa diakses melalui link https://sites.google.com/view/kelasxdaringruangpodjokskaga
  2. Situs berjudul "Hidup dalam Gereja Katolik" bisa diakses melalui link https://sites.google.com/view/kelasxidaringruangpodjokskaga 
  3. Situs berjudul "Hidup dalam Masyarakat" bisa diakses melalui link https://sites.google.com/view/kelasxiidaringruangpodjokskaga 
Alat bantu berisi materi pembelajaran ini diharapkan dapat diakses oleh siswa-siswi di manapun dan kapanpun mereka sempat belajar. Situs yang difasilitasi oleh Google ini ingin mengajak siswa-siswi Katolik SMK Negeri 3 Surakarta untuk mengembangkan kemampuan literasi mereka. Sesuai yang digaungkan oleh pemerintah melalui program "Belajar dari Rumah" yang ditayangkan oleh TVRI, Penjaga Podjok juga ingin agar pembelajaran yang dilakukan oleh siswa-siswi dari rumah akan semakin meningkatkan kemampuan literasi, numerasi dan karakter peserta didik. 
Selain digunakan oleh siswa-siswi SMK Negeri 3 Surakarta, link situs ini juga dibagikan oleh Penjaga Podjok melalui grup WhatsApp MGMP Pendidikan Agama Katolik SMK Cabang Dinas Wilayah VII Propinsi Jawa Tengah. Harapannya, semakin banyak guru Agama Katolik dan siswa-siswi Katolik SMK yang terbantu dalam melakukan pembelajaran Agama Katolik dari rumah. Inilah yang bisa dilakukan oleh Penjaga Podjok untuk tetap mendampingi siswa-siswi untuk belajar dari rumah... Semoga ada sedikit manfaatnya, tidak hanya bagi Penjaga Podjok dan siswa-siswinya, tetapi juga guru-guru Agama Katolik yang lain beserta siswa-siswi yang mereka layani... Salam... Berkah Dalem

Daftar Pustaka:
Vina Fadhrotul Mukaromah. "Sekolah Akan Kembali Dibuka, Simak Waktu dan Tahapan dari Kemendikbud" dalam https://www.kompas.com/tren/read/2020/06/16/113000365/sekolah-akan-kembali-dibuka-simak-waktu-dan-tahapan-dari-kemendikbud?page=all.

Jumat, 19 Juni 2020

Menyelami Liturgi yang Mengubah Kehidupan

Ini merupakan hal baru yang sangat pantas disyukuri. Baru kali ini rasanya Ruang Podjok mengalami Pendalaman Bulan Katekese Liturgi. Pandemi Covid-19 malah memungkinkan pendalaman itu terjadi. 
Selama hampir 9 tahun berjaga di Ruang Podjok, Penjaga Podjok merasa belum pernah mengadakan pendalaman Bulan Katekese Liturgi karena biasanya bulan Mei sudah masuk bulan-bulan akhir pembelajaran sehingga tidak dimungkinkan untuk diadakan pertemuan siswa. Tahun ini, karena wabah, pendalaman malah bisa dilakukan. Pendalaman Bulan Katekese Liturgi kali ini dilakukan secara daring melalui wadah Whatsapp Grup Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta. Pendalaman kali ini menjadi selingan di antara pembelajaran daring yang dilakukan. Seminggu sekali, siswa-siswi diajak untuk menyelami bahan pendalaman yang ditawarkan. 
Tema Bulan Katekese Liturgi tahun ini adalah Ekaristi, Sumber Transformasi Hidup. Tema ini sebenarnya ingin menyiapkan umat untuk menyongsong Kongres Ekaristi Keuskupan Agung Semarang dan Kongres Ekaristi Internasional yang sedianya dilaksanakan pada tahun ini. Namun, karena situasi pandemi, tampaknya acara tersebut akan dijadwalkan ulang. Selama 31 hari di bulan Mei, seluruh umat Keuskupan Agung Semarang diajak untuk mendalami berbagai hal seputar liturgi, terutama Ekaristi. Inilah ringkasan bahan pendalaman yang bisa disajikan.


Hari 1:
Renungan hari ini mau mengatakan bahwa Ekaristi yang diikuti oleh umat beriman seharusnya berdampak pada hidup sehari-hari. Seperti apa yang dilakukan keluarga Pak Tarjo itu merupakan buah-buah dari Ekaristi yang diikutinya. Salah satu ajaran Gereja Katolik menyatakan, "Apa yang diterima umat dengan iman dan secara sakramental dalam Perayaan Ekaristi harus memberikan dampak nyata dalam tingkah laku mereka...Dengan demikian, setiap orang yang mengambil bagian dalam Perayaan Ekaristi haruslah penuh gairah ingin berbuat baik, menyenangkan Allah dan hidup pantas sambil membaktikan diri kepada Gereja, melaksanakan apa yang diajarkan kepadanya,dan bertumbuh dalam kesalehan.." (Dokumen Eucharistium Mysterium no. 13. 25 Mei 1967)

Hari 2:
Renungan hari ini mengajak kita mendalami berbagai macam devosi Ekaristi: Adorasi, Prosesi dan Kongres. Adorasi Ekaristi itu yang biasa kita ikuti setelah Misa Jumat Pertama pas pentahtaan Sakramen Mahakudus. Prosesi Sakramen Mahakudus itu perarakan Sakramen Mahakudus dari satu tempat ke tempat lain dalam rangka pemberkatan. Kongres Ekaristi itu adalah pertemuan para klerus (mereka yang menerima Tahbisan) dan awam dalam Gereja Katolik untuk mendalami,  menghidupi dan menghayati Ekaristi melalui devosi, ajaran-ajaran, ceramah dan diskusi. Kongres Ekaristi ini bisa dalam skala internasional, nasional atau keuskupan. Dalam skala internasional, utusannya dari negara-negara. Kalau skala Nasional, utusannya dari keuskupan-keuskupan. Kalau skalanya Keuskupan, utusannya dari paroki-paroki.

Hari 3:
Hari ini kita merayakan Hari Minggu Panggilan yang dirayakan pada Minggu Paskah IV. Hari Minggu Panggilan ini dicetuskan oleh Paus Paulus VI pada tahun 1963. Pada Hari Minggu ini, kita diajak untuk berdoa bagi suburnya panggilan pelayan Gereja, terutama imam,bruder dan suster. Renungan hari ini mau mengatakan bahwa semua panggilan itu pada dasarnya adalah jalan menuju kekudusan. Maka, apapun panggilan yang dipilih (menjadi imam, bruder, suster, atau bapak ibu keluarga) adalah panggilan yang suci. Konsili Vatikan II mengajarkan, "...bahwa semua orang Kristiani,bagaimanapun status dan corak hidup.mereka,dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan cinta kasih... Kekudusan itu dengan aneka cara terungkapkan pada masing-masing orang, yang dalam corak hidupnya menuju kesempurnaan cinta kasih dengan memberi teladan baik kepada sesama." (Dokumen Lumen Gentium no. 39-40)

Hari 4:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan Ekaristi yang menumbuhkan semangat persaudaraan di antara kita. Ekaristi membangun kebersamaan di antara kita karena Ekaristi pertama-tama menunjukkan dimensi persekutuan umat beriman. Lalu bagaimana Ekaristi menampakkan kebersamaan di tengah wabah seperti ini dimana saat ini kita kan tidak boleh berkumpul? Pada dasarnya, Ekaristi itu menyatukan umat apapun kondisinya. Dalam situasi seperti ini, kebersamaan umat dihayati dalam keluarga masing-masing. Keluarga seringkali disebut Gereja Mini atau ecclesia domestica. Keluarga sebagai Gereja Mini menghadirkan seluruh Gereja di dunia dalam bentuknya yang paling konkret dan sederhana. Dalam keluarga yang merayakan Ekaristi secara online atau lewat tayangan, dimensi kebersamaan ini tetap tampak dalam keluarga. Selain itu, kebersamaan juga dihayati dalam kesatuan bersama keluarga-keluarga lain yang juga ikut merayakan Ekaristi secara online.

Hari 5:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan hubungan Ekaristi dan Evangelisasi.Evangelisasi adalah tindakan mewartakan kabar gembira.Ekaristi dihayati sebagai peristiwa yang menggerakan dan memberi semangat kepada umat untuk mewartakan kabar gembira. Setelah dikuatkan dengan sabda dan roti dalam Ekaristi, kita pun diutus untuk mewartakan kabar gembira.

Hari 6:
Hari ini kita diajak bercermin dari apa yang dialami para rasul.  "Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan" (Kis 2:42-47). Ekaristi membawa sukacita, kepedulian dan semangat berbagi.Kepedulian dan semangat berbagi ini kita lakukan secara konkret melalui kolekte. Sebagian dari kolekte kita setiap Minggu dikhususkan untuk membantu orang miskin yang disebut Dana Papa Miskin atau Danpamis.

Hari 7:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan Liturgi sebagai peristiwa yang membawa semangat dalam hidup. Artinya,Liturgi itu harus memberikan kekuatan dalam hidup kita. Dokumen Sacrosanctum Concillium no. 10 menyatakan bahwa Liturgi itu merupakan puncak dan sumber kehidupan dan kegiatan Gereja. Oleh karena itu, kita sebagai umat beriman diajak mengarahkan hidup dan menimba kekuatan hidup dari liturgi. Inilah mengapa kita selalu diundang untuk merayakan Ekaristi Hari Minggu. Ekaristi Hari Minggu menjadi saat untuk mempersembahkan seluruh jerih payah kehidupan dari hari Senin-Sabtu serta saat untuk memohon berkat untuk hari Senin-Sabtu berikutnya. Kalau kita tidak mengikuti Ekaristi di Hari Minggu bagaimana kita mempersembahkan dan menimba kekuatan untuk hidup kita?

Hari 8:
Hari ini kita diajak untuk bersyukur atas Lingkungan yang menjadi bagian hidup kita. Lingkungan merupakan persekutuan yang dibentuk oleh keluarga-keluarga yang tinggal di lokasi yang berdekatan. Lingkungan merupakan perwujudan yang paling nyata Gereja sebagai satu Tubuh. Keluarga merupakan Gereja Mini. Gereja-gereja Mini itu membentuk persekutuan paguyuban yang mewujud nyata dalam Lingkungan. Semoga Lingkungan kita semakin guyub dan dijiwai oleh Ekaristi yang kita ikuti setiap kali.

Hari 9:
Hari ini kita diajak untuk belajar bagaimana Liturgi membantu kita untuk memiliki hidup rohani yang semakin baik. Prosesnya memang tidak bisa instan. Harus sedikit demi sedikit.Maka Gereja Katolik itu sangat menghargai proses. Lihat saja bahwa setiap pertumbuhan rohani umat selalu mengutamakan proses. Mau menikah ya harus pacaran,kursus perkawinan dan penyelidikan kanonik. Mau menerima sakramen-sakramen ya harus ada persiapan dulu. Inilah yang diajarkan Gereja bahwa semua itu ada prosesnya.

Hari 10 dan 11:
Dua hari ini kita diajak menyelami Kongres Ekaristi. Pada hari ke-10, kita diajak mendalami tema Kongres Ekaristi Internasional Tahun 2020 yang sedianya akan dilaksanakan di Budapest. Namun,berita terakhir menyatakan bahwa Tahta Suci telah memutuskan untuk menunda pelaksanaan kongres itu karena wabah Covid-19. Tema kongres itu ingin mengajak kita kembali menyadari bahwa Ekaristi adalah sumber hidup dan kekuatan untuk menjalankan misi atau perutusan bagi orang Katolik. Jadi, dalam Ekaristi,kita diajak untuk menimba kekuatan hidup dan perutusan. Kongres Ekaristi Internasional sudah diadakan sejak tahun 1881. Kongres Ekaristi pertama diadakan di Perancis dan digagas oleh seorang awam perempuan bernama Emile Tamisier. Kongres itu awalnya diadakan setahun sekali. Namun, dalam perkembangan waktu menjadi 2 tahun sekali, 3 tahun sekali dan akhirnya menjadi 4 tahun sekali sampai sekarang.
Pada hari ke-11, kita diajak mendalami Kongres Ekaristi Keuskupan. Kongres Ekaristi Keuskupan diadakan pada tahun 2008 di Ambarawa dan digagas oleh Romo Pujasumarta yang saat itu menjadi Vikjen KAS. Kongres Ekaristi Keuskupan memang diadakan untuk memeriahkan gema Kongres Ekaristi Internasional yang juga diadakan pada tahun yang sama.
Inilah salah satu hal yang bagi saya membuat bangga sebagai orang Katolik. Orang Katolik itu jaringannya internasional di bawah satu komando. Untunglah kita punya Petrus dan para pengganti-penggantinya...

Hari 12:
Hari ini kita masih diajak untuk mendalami sejarah Kongres Ekaristi Keuskupan. Sampai saat ini, Keuskupan Agung Semarang sudah pernah mengadakan 3 kali kongres: 2008, 2012, dan 2016. Rencananya tahun ini akan ada kongres lagi. Namun,karena wabah ini, sejauh saya dengar belum ada keputusan lagi. Semoga Kongres Ekaristi yang sudah dan akan berlangsung boleh membuat kita, umat Keuskupan Agung Semarang, semakin mencintai Ekaristi.

Hari 13:
Hari ini kita diajak merenungkan tema Kongres Ekaristi Keuskupan IV yang menyatakan bahwa Roh Kudus yang satu dan sama itu memberi karunia yang berbeda-beda tetapi itu semua demi kepentingan Gereja. Syukur karena kita boleh menyadari bahwa perbedaan itu justru akan membawa kepada kebaikan.

Hari 14:
Hari ini kita diajak untuk belajar dua hal yang agak sulit,yaitu Gnostisisme dan Pelagianisme. Ini adalah paham yang pernah berkembang melawan Gereja saat Gereja Katolik masih muda pada abad-abad pertama. Sekarang, berkembang paham yang baru tentang dua hal itu. Gnostisisme baru merupakan sikap dan pandangan bahwa keselamatan dan kesucian dapat dicapai melalui ilmu yang dipelajari oleh diri sendiri dan tidak memerlukan praktek kasih kepada sesama. Pelagianisme baru merupakan pandangan bahwa keselamatan dapat dicapai dengan perbuatan baik dari manusia saja tanpa bantuan rahmat Allah. Dua hal ini merupakan gejala masyarakat modern yang dilihat oleh Paus Fransiskus. Dua hal ini disampaikan dalam dokumen Gaudete et Exultate.

Hari 15:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan istilah Ars Celebrandi. Istilah ini digunakan untuk menerangkan bagaimana kita seharusnya merayakan liturgi. Dengan istilah ini,kita disadarkan bahwa liturgi tidak sama dengan  aktivitas biasa yang lain. Liturgi merupakan aktivitas yang berhubungan dengan Allah. Maka,perlu penghayatan yang khusus. Kita diarahkan dengan istilah Ars Celebrandi ini. Contoh penghayatan yang mengikuti Ars Celebrandi itu termasuk tidak membuka aplikasi hape saat Ekaristi berlangsung atau membuka aplikasi lain saat Misa Online. Saya sendiri sering merasa terganggu dan risih melihat orang yang membuka aplikasi di ponsel saat Misa di Gereja. Harus disadari bahwa kita memang senang membuka hape - apalagi WA - tapi semoga kita bisa belajar menahan diri. Bukan berarti saya lebih baik, tapi ini merupakan usaha untuk menghayati Perayaan Liturgi dengan baik.

Hari 16:
Hari ini kita diajak merenungkan bagaimana kita mengembangkan musik liturgi. Bagi siswa-i yang aktif dalam kelompok koor, perlu diperhatikan bahwa jangan sampai lagu yang dipilih dan dinyanyikan menyulitkan umat untuk ikut bernyanyi. Seperti kata Paus Fransiskus, koor itu melayani umat dalam berliturgi. Silakan melihat link berikut: Paus minta koor membantu umat bernyanyi, bukan mengganti suara umat 


Hari 17:
Hari ini kita masih diajak untuk merenungkan tentang musik liturgi. Yang dibahas kali ini adalah nyanyian Liturgi. Kita diajak untuk sadar bahwa ada 4 hal penting dalam memilih nyanyian liturgi. Ini penting juga bagi kalian yang tergabung dalam kelompok paduan suara. Semoga dengan renungan malam ini kita boleh semakin sadar bahwa perayaan liturgi merupakan ajang pelayanan kelompok paduan suara dan bukan ajang untuk mencari popularitas atau pujian.

Hari 18:
Hari ini kita masih diajak untuk merenungkan bahwa Perayaan Ekaristi bukan pertunjukan. Dasarnya adalah Ars Celebrandi atau Seni Merayakan Liturgi.Ekaristi bukan One Man Show atau A Group Show. Ekaristi adalah perayaan seluruh umat, bahkan seluruh Gereja. Semoga kita boleh terus menyadari hal ini.

Hari 19:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan Ekaristi sebagai ungkapan Syukur. Jadi,inti dari Ekaristi adalah syukur. Maka,Gereja Katolik memandang Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan umat beriman. Dalam Ekaristi, umat diajak untuk mensyukuri segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya sekalipun kadangkala ada yang tidak menyenangkan. Dalam Ekaristi,kita satukan segala hal yang terjadi dalam hidup kita dan kita syukuri.

Hari 20:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan Busana dan Ruang Liturgi. Busana Liturgi merupakan pakaian khusus yang dipakai untuk merayakan liturgi, sedangkan Ruang Liturgi adalah tempat khusus untuk merayakan liturgi. Saya masih ingat bahwa dulu busana liturgi tidak boleh digunakan sembarangan, sekalipun oleh mereka yang sedang menjadi calon imam. Kasula dan stola seorang imam tidak boleh dikenakan oleh para frater yang belum menerima tahbisan. Ruang Liturgi juga menjadi tempat yang dikhususkan untuk kegiatan liturgi. Oleh karena itu,selama wabah Corona ini, setiap kali kita merayakan Ekaristi di rumah, kita diajak untuk mengikuti dari tempat yang pantas supaya Ruang Liturgi bisa tercipta.

Hari 21:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan salah satu bagian dari Perayaan Ekaristi, yaitu Pengantar. Dalam buku disebutkan bahwa pengantar Ekaristi itu harus singkat dan tidak boleh panjang-panjang. Fungsinya memang hanya mengantar umat untuk masuk dalam inti perayaan. Maka, tidak boleh mendominasi. Semoga para pemuka jemaat juga belajar agar kalau memberi pengantar juga tidak usah panjang-panjang,secukupnya saja. Sejalan dengan pendalaman hari ke-21 itu, Paus Fransiskus pernah juga mengatakan agar homili juga tidak bertele-tele. Silakan melihat link berikut: Pesan Paus kepada Para Imam "Jaga Homili Singkat, Tidak Lebih dari 10 Menit!" Kalau pengantarnya saja sudah panjang,bisa jadi homilinya akan lebih panjang lagi.

Hari 22:
Hari ini kita masih diajak merenungkan hakikat Perayaan Ekaristi.Ekaristi merupakan perayaan kurban Kristus untuk keselamatan manusia. Oleh karena itu,tidak boleh ada tujuan lain yang "menggeser" makna Ekaristi. Jika memang ada "tujuan khusus," harus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan tatacara yang digariskan oleh Gereja Katolik. Kalau misalnya ada Misa untuk Penggalangan Dana, tujuan itu harus disampaikan secara pantas dan elegan, misalnya diumumkan Minggu sebelumnya supaya tidak "mengganggu" hakikat Ekaristi.

Hari 23:
Hari ini kita diajak untuk belajar tentang bentuk pewartaan verbal yang termasuk pewartaan mimbar, yaitu Homili dan Kotbah. Dalam Buku Panduan Bulan Katekese Liturgi, sudah dipaparkan perbedaan antara Homili dan Kotbah. Semoga kita terbantu untuk lebih menghayati iman kita, terutama dalam kegiatan liturgi.

Hari 24:
Hari ini kita diajak untuk merenungkan penggunaan teknologi dalam Ekaristi. Hal ini sangat lazim kita lakukan saat wabah ini terutama ketika kita mengikuti Misa Online atau Live Streaming.yang jelas, ketika ikut Misa Online, sikap harus seperti ikut Misa Langsung, tidak boleh "nyambi" WA-nan, Youtube-an, ngobrol, gojek dan sebagainya. Dalam wabah ini, kita diajak untuk semakin dewasa dalam beriman. Karena kalau tidak mengikuti Perayaan liturgi, tidak ada orang lain yang menegur. Kontrolnya adalah diri sendiri. Yang ingin tahu bagaimana menghayati Misa Online bisa membuka kembali link ini: Misa Online Cara Baru Menghayati Warisan Tradisi? Saya ingin membagikan apa yang pernah saya tulis. Sekedar berbagi penghayatan Misa Online.

Hari 25:
Renungan Bulan Katekese Liturgi hari ini berbicara mengenai bagaimana Ekaristi mempererat persaudaraan. Bicara mengenai persaudaraan,memang secara nyata terlihat saat kita bisa berkumpul. Kardinal Darmoyuwono pernah mengatakan seperti yang disampaikan dalam renungan hari. Pertanyaan kemudian adalah bagaimana kita mempererat persaudaraan kita saat kita tidak mungkin berkumpul seperti waktu terjadi wabah ini? Semoga kita boleh semakin menyadari betapa berarti dan berharganya perjumpaan dengan orang lain.

Hari 26:
Hari ini kita masih diajak merenungkan Ekaristi sebagai sumber persaudaraan. Kisah inspiratif yang disajikan bercerita tentang persaudaraan yang dibangun oleh Angelo Roncalli (yang akhirnya terpilih menjadi Paus Yohanes XXIII). Ia berhasil membangun relasi yang baik antara Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodox. Gereja Katolik Roma itu ya Gereja Katolik yang kita ikuti ini, yaitu Gereja yang mengakui kepemimpinan Paus di Roma.Gereja Katolik Roma mengaku diri sebagai Gereja yang asali yang didirikan oleh Yesus dan dipercayakan di bawah kepemimpinan Petrus. Gereja Katolik Ortodox adalah "sempalan" pertama Gereja Katolik Roma.Gereja Ortodox ini mulai berdiri pada tahun 1054 di wilayah Eropa Timur. Saat itu,wilayah Gereja Katolik itu sangat luas,meliputi Eropa Barat dan Eropa Timur. Dalam perkembangan waktu,tata liturgi dan ajaran antara Barat dan Timur agak berbeda. Inilah yang membuat hubungan antara wilayah Barat dan Timur merenggang. Gereja bagian Timur kemudian sedikit demi sedikit melepaskan diri sampai akhirnya benar-benar lepas pada tahun 1054. Gereja Ortodox tidak mengakui kepemimpinan Paus serta memiliki hirarki kepemimpinan yang berbeda dan lepas dari Gereja Katolik. Pemimpin Gereja Katolik Ortodox disebut Batrik atau Patriark. Ada beberapa Patriark dalam Gereja Katolik Ortodox. Sampai sekarang,Gereja Katolik Roma dan Gereja Katolik Ortodox merupakan lembaga yang berbeda dengan tata kepemimpinan sendiri-sendiri. Gereja Katolik Roma dan Gereja Katolik Ortodox pernah tidak saling menyapa selama 900 tahun. Baru pada zaman Paus Paulus VI,komunikasi antara keduanya dijalin kembali. Sampai sekarang Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodox belum bisa bersatu sepenuhnya. Masih ada beberapa unsur yang belum bisa disatukan. Salah satu tokoh yang merintis perbaikan relasi antara Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodox adalah Angelo Roncalli yang dikisahkak dalam Buku Pendalaman Katekese Liturgi pada hari ke-26 itu.

Hari 27:
Hari ini kita diajak merenungkan Ekaristi sebagai sumber kekudusan. Paham ini berkaitan erat dengan Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan umat beriman. Ekaristi menjadi saat kita untuk menimba kesucian dari Yesus Kristus melalui Sakramen Mahakudus. Di tengah wabah ini, kita tetap bisa menimba kekudusan dalam Ekaristi melalui Komuni Batin atau Komuni Spiritual. Jika dihayati secara benar, Komuni Batin membuat Kristus benar-benar hadir dalam diri kita. Semoga kita boleh menimba kekudusan dari Ekaristi meskipun sedang berada dalam masa sulit ini.

Hari 28: 
Hari ini kita masih diajak merenungkan Ekaristi sebagai sumber kekudusan. Dikisahkan bahwa ada pasangan suami istri yang diangkat sebagai orang kudus karena berhasil membangun keluarganya sebagai persekutuan yang kudus. Diyakini bahwa Ekaristi menjadi sumber kekudusan bagi keluarga tersebut. Semoga kisah tersebut menginspirasi kita untuk semakin mencintai Ekaristi.

Hari 29: 
Hari ini kita diajak belajar dari Maria yang disebut sebagai Wanita Ekaristi. Maria digambarkan sebagai perempuan yang memiliki hubungan erat dengan Ekaristi. Dalam beberapa film yang berkisah tentang Yesus, Maria digambarkan sebagai perempuan yang menyertai Sang Putra dalam mewartakan Kerajaan Allah. Bahkan, saat Yesus menetapkan Ekaristi dalam Perjamuan Terakhir, Maria juga digambarkan ada disana. Oleh karena itu, sangat tepatlah Maria disebut Wanita Ekaristi. Kisah Para Rasul juga menceritakan bagaimana Maria hadir saat para rasul menantikan Roh Kudus dan saat terjadi peristiwa Pentakosta. Semoga kita boleh belajar mencintai Ekaristi dari Maria.

Hari 30: 
Hari ini kita diajak untuk merenungkan peran para kudus dalam kehidupan iman kita. Orang kudus adalah orang-orang yang pernah hidup dunia dan setelah meninggal dinyatakan sebagai orang suci serta pantas diteladani hidupnya oleh umat beriman. Orang kudus yang paling dekat dengan kita adalah santo atau santa pelindung kita. Sudahkah kita mengenal dengan baik kisah santo atau santa pelindung kita?

Hari 31: 
Hari ini kita diajak merenungkan perutusan kita untuk menjadi Gereja yang Misioner. Roh Kudus yang hari ini dicurahkan kepada kita setelah kita mohon selama 9 hari melalui Novena diharapkan menjadi kekuatan kita untuk bersaksi dengan cara mempraktekkan apa yang kita Imani dalam hidup sehari-hari. Nah,setelah kita diajak belajar tentang Liturgi selama sebulan ini, kita diutus untuk menghayati Perayaan Liturgi dengan lebih baik lagi. Tentu tidak boleh dilupakan bahwa kita tidak boleh berhenti hanya menghayati liturgi saja, tetapi juga harus berbuat nyata dalam hidup sehari-hari demi kesejahteraan umum dan kebaikan bersama.


Demikianlah selama 31 hari Penjaga Podjok sudah mengajak seluruh warga Ruang Podjok untuk menyelami liturgi. Harapannya, semoga liturgi yang sudah didalami ini mengubah kehidupan setiap orang yang sudah terlibat mendalaminya.

Jumat, 29 Mei 2020

Catatan Penjaga Podjok: Mengelola Kelas Daring #2

Minggu ini adalah minggu terakhir untuk seluruh proses pembelajaran di tahun pelajaran ini. Minggu ini menjadi minggu untuk menyelesaikan seluruh bahan yang akan digunakan untuk Ulangan Kenaikan Kelas. Penjaga Podjok pun melakukan hal yang sama meskipun pada saat ini semua harus dilakukan secara daring. Minggu ini, Penjaga Podjok kembali akan menorehkan catatan yang sudah dilakukan selama kurang lebih lima minggu sebagai pertanggungjawaban kinerja selama mengelola kelas daring, tentunya dari rumah saja... Dalam catatan Mengelola Kelas Daring #1, Penjaga Podjok sudah bercerita mengenai bagaimana kelas daring Ruang Podjok diampu selama kurang lebih enam minggu. Dalam catatan kali ini, akan dilanjutkan cerita untuk mengelola kelas daring sampai minggu ini.

Menyelenggarakan Kelas Whatsapp
Setelah enam minggu mengelola kelas daring dengan berbagai dinamikanya, Penjaga Podjok merasakan ada sesuatu yang kurang dalam kelasnya. Entah mengapa, selama enam minggu itu, serasa ada yang kurang dalam proses pembelajaran daring ini. Setelah dicari dan direnung-renungkan, ternyata ketemu yang membuat kurang. Kekurangan kelas daring yang selama ini dijalankan adalah interaksi dengan siswa-siswi. Selama enam minggu, dinamika yang dibangun adalah penugasan. Relasi yang dibangun selama itu adalah guru memberikan tugas dan murid merespon dengan mengerjakan tugas. Kalau relasi semacam itu yang dilakukan lagi, kemungkinan guru dan siswa akan mengalami kebosanan. Oleh karena itu, di akhir minggu keenam, Penjaga Podjok mulai berpikir bagaimana membangun dinamika baru di kelas daring yang dikelolanya. Akhirnya, diputuskan bahwa akan diadakan sesi pembahasan materi. Prinsip penyelenggaraan sesi pembahasan materi ini masih sama, yaitu 1) harus terjangkau oleh semua siswa, 2) mudah, 3) murah, serta 4) tidak terlalu menyulitkan bagi siswa maupun orangtua. 
Cara yang dipilih kemudian adalah Kelas Whatsapp. Inspirasi dari Kelas Whatsapp ini adalah Kulwap. Apa itu Kulwap? Menurut pengertian yang didapat dari https://kursusku.id/blogs/Kulwap, Kulwap adalah singkatan dari Kuliah Whatssap yang dibuat oleh suatu grup untuk melakukan sharing materi yang bermanfaat. Jadi narasumber akan memberikan sharing materi di grup Whatsapp yang sudah dibuat kepada anggota yang bergabung dalam grup tersebut. Ada banyak orang yang sudah memulai Kulwap ini, bahkan ada yang bisa meraup penghasilan tambahan dari sana. Nah, belajar dari pengalaman itu, Penjaga Podjok pun menginisiasi Kelas Whatsapp sebagai model baru pembelajaran di Ruang Podjok. Kelas Whatsapp ini memungkinkan guru dan siswa untuk berinteraksi meskipun hanya lewat aplikasi Whatsapp, tapi paling tidak ada dialog yang dijalin di sana.
Lalu bagaimana teknis pembahasan materi yang dilakukan? Setiap minggu, akan diambil waktu 3 x 45 menit atau 135 menit seperti pembelajaran reguler per minggu sebagai kesempatan pembahasan tentang materi yang sudah dicatat. Sesi pembahasan materi dibagi dalam dua hari per minggu; di hari pertama 2 x 45 menit dan di hari kedua 1 x 45 menit. Jamnya pun selalu sama. Pembahasan materi untuk kelas X selalu dimulai pukul 08.30 sedangkan untuk kelas XI selalu dimulai pukul 10.30. Mengapa itu dilakukan? Supaya suasana pembahasan materi tidak terlalu melelahkan sekaligus menjaga ritme. 
Pembahasan materi lewat Kelas Whatsapp ini memang tidak sangat ideal. Penjaga Podjok kadangkala mengalami bahwa yang diajar adalah kelas kosong. Artinya, tidak ada atau belum ada siswa yang join tetapi pembahasan sudah dimulai (Bisa dicek lewat siapa yang sudah membaca pesan Whatsapp saat itu juga). Tapi ya sudahlah... paling tidak sudah mencoba... Meskipun banyak hal yang dirasakan sebagai kekurangan, Kelas Whatsapp ini dirasakan cukup membantu dalam membangun relasi antara guru dan siswa. Sebenarnya, Penjaga Podjok sesekali ingin mengadakan tatapmuka melalui konferensi video, entah itu Zoom atau Google Meet. Namun, Penjaga Podjok sadar bahwa siswa-siswi yang dilayaninya tidak semua berasal dari kalangan yang mampu, bahkan kuota internet pun mungkin harus dibeli harian atau mingguan. Oleh karena itu, tampaknya untuk konferensi video belum bisa dilakukan. Mungkin besok kalau sekolah mampu menanggung seluruh pembiayaan pembelajaran daring, termasuk untuk siswa, kesempatan tatapmuka ini bisa diselenggarakan.
Kesempatan untuk menjalankan Kelas Whatsapp ini dilakukan Penjaga Podjok selama beberapa minggu: minggu ketujuh (28-30 April 2020), minggu kedelapan (4-8 Mei 2020), minggu kesembilan (11-15 Mei 2020), dan minggu kesepuluh (18-20 Mei 2020). Kelas Whatsapp minggu ketujuh sampai kesembilan diisi dengan pembahasan materi yang sudah ada dalam silabus, sedangkan minggu kesepuluh diisi dengan pembahasan kisi-kisi Ulangan Kenaikan Kelas.

Meskipun Daring, Tetap Ada Ulangan
Pembelajaran daring di Ruang Podjok memang tidak sempurna, tetapi Penjaga Podjok terus berusaha untuk membangun dinamika yang hidup.  Semoga bisa terus begitu... Nah, satu hal yang tetap dilakukan di Ruang Podjok selama kelas daring ini adalah Ulangan. Ada pepatah Latin yang mengatakan, "Repetitio est mater studiorum - Pengulangan adalah induk dari proses pembelajaran." Inilah yang sangat disadari oleh Penjaga Podjok. Kalau ada siswa yang bertanya: mengapa tetap ada ulangan selama pembelajaran daring, inilah jawaban yang akan diberikan. Pengulangan itu merupakan induk dari proses belajar. Belajar itu butuh pengulangan. Jika orang belajar sesuatu tetapi tidak pernah diulangi, pembelajaran itu akan sirna. Proses pengulangan menjadi sebuah latihan dari proses pembelajaran. Salah satu pepatah Inggris menyatakan, "Practice makes perfect - Latihan itu menyempurnakan." Oleh karena itu, logikanya jelas: pengulangan itu akan menyempurnakan proses pembelajaran. Maka dari itu, di Kelas Daring Ruang Podjok, tetap ada ulangan selama pembelajaran daring ini. 
Ulangan di Kelas Daring Ruang Podjok terjadi antara minggu kesepuluh (18-20 Mei 2020) dan kesebelas (26-29 Mei 2020). Ulangan untuk kelas X terjadi satu kali dan Ulangan untuk kelas XI terjadi dua kali. Selain alasan yang sudah dikemukakan di atas, ulangan di Kelas Daring Ruang Podjok bisa menjadi alat untuk mendeteksi karakter siswa. Dari ulangan  yang diikuti, akan tampak mana siswa yang sungguh-sungguh dan mana siswa yang seenaknya sendiri. Sebenarnya, karakter siswa ini tidak hanya bisa dideteksi dari ulangan saja. Penjaga Podjok sebenarnya malah bersyukur dengan adanya wabah virus Corona ini. Wabah virus Corona yang membuat sekolah dipaksa berevolusi melalui pembelajaran daring ini dengan sendirinya akan menunjukkan karakter siswa yang sebenarnya: mana yang penuh perhatian, mana yang tidak perhatian, mana yang rajin, mana yang malas, mana yang belajar sungguh-sungguh, mana yang hanya rebahan, mana yang hanya main game, mana yang malas-malasan, mana yang suka sambat, mana yang gigih, mana yang hatinya baik, dan banyak lagi. Semuanya menjadi terungkap. Saya sudah pernah menulis bahwa belajar di rumah menjadi saat manusia untuk kembali menyadari jati diri sebagai manusia pembelajar. Di tengah wabah ini, saya juga semakin belajar untuk memahami karakter siswa-siswi saya melalui pembelajaran daring yang saya kelola.

Mengembangkan Administrasi Pembelajaran
Cerita lain yang mewarnai perjalanan minggu-minggu ini adalah pembuatan administrasi pembelajaran. Sudah menjadi kebiasaan bagi para guru untuk mulai menyusun perangkat adminitrasi pembelajaran ketika suatu tahun pelajaran hampir usai. Penjaga Podjok pun demikian. Di sela-sela kelas daring, Penjaga Podjok pun mengisi waktu untuk menyiapkan perangkat pembelajaran untuk tahun pelajaran baru. Tahun ini formatnya bebas... RPPnya satu lembar... sesuai dengan konsep yang diusung yaitu Merdeka Belajar. Konsep ini memang konsep yang baru sama sekali... Entah bagaimana konsep ini diimplementasikan... Namun, kebebasan yang diberikan di awal tampaknya ingin memberikan tekanan bahwa belajar itu harus dilandasi dengan sikap merdeka dan tidak terkekang. Dengan memegang penuh kebebasan dan kemerdekaan (tentu dilandasi dengan tanggung jawab), seseorang diajak untuk belajar secara maksimal. Inilah konsep yang sekilas ditangkap.
Sejalan dengan konsep Merdeka Belajar itu, Penjaga Podjok sedang menyiapkan sebuah alat bantu baru bagi siswa-siswi yang akan bergabung di Ruang Podjok. Alat bantu yang berisi materi pembelajaran ini semoga nantinya bisa membantu siswa-siswi belajar dengan merdeka, tanpa rasa terkekang, bahkan diharapkan mampu mengembangkan apa yang dipelajarinya agar bisa diterapkan dan menjadi inspirasi bagi hidup sehari-hari. Apa alat bantu itu? Tunggu saja nanti... pasti akan ditulis.

Inilah cerita Penjaga Podjok dalam mengelola kelas daring dari minggu ketujuh sampai kesebelas. Cerita apalagi yang nanti bisa dikisahkan, kita sambung di tulisan berikutnya...

Senin, 04 Mei 2020

Bukan Pejuang Garis Depan, Tidak Ingin Populer, dan Hanya Melakukan yang Bisa Dilakukan

Hari ini, ketika membuka Facebook, saya menemukan posting yang menyentuh hati... Posting ini bukan milik saya. Saya melihatnya di alamat https://www.facebook.com/Roy.Lo81/posts/10158456323937074
Melihat posting itu, izinkan saya membagikannya di laman ini...
Sungguh ini adalah posting sederhana, tetapi posting ini menyuarakan apa yang ada dalam hati saya sebagai seorang guru...
Kami memang tidak berada di garis depan untuk membantu masyarakat selama pandemi ini. Kami hanya melakukan yang kami bisa lakukan, tidak untuk mencari popularitas tetapi semata-mata supaya anak-anak yang kami layani boleh mencapai tujuan hidupnya dengan baik meskipun saat ini tidak bisa berjumpa secara fisik
Terima kasih karena boleh merasa terwakili melalui posting ini...

Minggu, 03 Mei 2020

Catatan Penjaga Podjok: Pendidikan dalam Keluarga dengan Kolaborasi antara Orangtua, Guru, dan Teknologi

https://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/wp-content/uploads/2017/09/16.12.28-Mendampingi-Anak-Belajar-di-Rumah.pdf
Kemarin kita baru saja memperingati Hari Pendidikan Nasional. Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini dirayakan dalam saat yang sangat istimewa dimana pendidikan dipaksa untuk berubah karena wabah virus Corona yang sedang melanda. Wabah ini memang memaksa manusia untuk berubah secara cepat. Yang termasuk harus cepat menyesuaikan adalah sektor pendidikan. Semoga refleksi ini boleh memberikan wawasan yang baru tentang pendidikan yang sedang dipaksa untuk berubah itu.
Beberapa hari sebelum peringatan Hari Pendidikan Nasional, beredar link Youtube yang berjudul “#Covid19 Masa Depan Dunia Pendidikan & Keluarga Akibat Pandemi dari kacamata Akademis & Rohaniwan.” Link ini menampilkan perbincangan antara Vidion Widyantara, Bapak B. Danang Setianto (Wakil Rektor Unika Soegijapranata Semarang), dan Romo P. Sunu Hardianto, SJ (Provinsial Serikat Yesus Indonesia). Dalam perbincangan tersebut, didiskusikan bagaimana nasib dunia pendidikan dan keluarga akibat pandemi Covid-19. Harus diakui bahwa pandemi ini mengubah proses pembelajaran. Proses pembelajaran online mengubah wajah pendidikan. Pendidikan yang selama ini terkesan tidak mau berubah dipaksa untuk berubah.  Selama ini, pendidikan selalu punya alasan untuk mempertahankan sistem yang dipakainya. Pendidikan tidak mau online dengan alasan pengajaran nilai-nilai. Wabah ini memporakporandakan semua alasan yang ingin mempertahankan sistem itu. Situasi yang tidak memungkinkan perjumpaan membuat pendidikan harus membuat formula yang baru untuk mengajarkan nilai-nilai yang selama ini diusungnya. Demikian pula keluarga. Keluarga yang selama ini sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri sekarang dipaksa untuk bertemu dan saling berinteraksi. Pandemi ini telah mengubah wajah keluarga karena keluarga dipaksa menjadi tempat berlangsungnya pendidikan. Sebenarnya ini mengembalikan pendidikan dalam bentuknya yang paling asli. Pendidikan yang paling asli itu terjadi dalam keluarga. Yang penting dalam pendidikan itu adalah Kedalaman Spiritualitas, Kedalaman Intelektual, dan Kedalaman Sosial. Pandemi Covid ini menjadi kesempatan bagi keluarga untuk bergerak lebih mendalam karena kedalaman ini berasal dari keluarga. 
Senada dengan gerak diskusi itu, peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini juga menyatakan hal yang kurang lebih sama. Dikutip dari pemberitaan KOMPAS, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim menyatakan bahwa dampak terkecil pandemi ini dimulai dari keluarga. “Dampak mikro ialah di dalam keluarga. Karena keluarga itu luar biasa sebagai unit terpenting kita,” ujar Nadiem Makarim saat berdiskusi dengan Najwa Shihab dalam tayangan live streaming di kanal Youtube Kemdikbud RI, Sabtu (2/5/2020) malam. Sedangkan yang kedua, lanjut Nadiem, adalah kemampuan orang untuk bisa beroperasi dari manapun. Potensi untuk bekerja menjadi lebih efektif dari manapun juga menjadi pembelajaran. Dampak ketiga ialah masyarakat semakin sadar begitu pentingnya kesehatan. Tak heran jika sekarang masyarakat mulai kembali menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Ini jadi salah satu dampak positif bagi masyarakat. Pada diskusi dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2020 bertema “Belajar dari Covid-19” tersebut, Nadiem juga menyinggung persoalan pendidikan di masa wabah virus corona. Mas Menteri, begitu sapaan Nadiem Makarim menjelaskan bahwa pembelajaran daring yang saat ini diterapkan menjadikan orang tua sadar betapa sulitnya mendidik anak. “Kini, empati orang tua terhadap guru jadi meningkat. Tapi, guru juga menyadari tanpa adanya peran orang tua maka pendidikan itu tidak akan selesai,” kata Mas Menteri. “Krisis ini antara kolaborasi orang tua dan guru. Itulah dimana pembelajaran terjadi,” imbuhnya. “Mau secanggih apapun teknologi, tapi ujung-ujungnya yang melakukan perubahan ialah guru. Kini guru dan orang tua yang melakukan perubahan itu,” tegas Nadiem. 
Pembicaraan demi pembicaraan yang berkembang tentang pendidikan pada saat wabah ini seakan ingin menggali kembali kebijaksanaan yang telah dimiliki oleh para pendahulu seputar pendidikan. Adalah Ki Hadjar Dewantara yang tanggal lahirnya dipakai sebagai tanggal peringatan Hari Pendidikan Nasional. Dalam buku berjudul Karja I (Pendidikan) yang diterbitkan oleh Pertjetakan Taman Siswa Jogjakarta pada tahun 1962, Ki Hadjar Dewantara menulis bahwa pendidikan  adalah  daya upaya untuk  memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh anak, dalam rangka kesempurnaan hidup dan keselarasan dengan dunianya. Jika dicermati, pertama-tama yang menjadi fokus dalam pendidikan adalah budi pekerti, baru kemudian rasio, dan yang terakhir fisik. Oleh karena itu, dalam pendidikan, budi pekerti ini seharusnya mendapatkan perhatian yang sangat besar. Dan sekarang lazim dipahami bahwa budi pekerti salah satunya merupakan pokok yang diajarkan dalam agama sehingga mata pelajaran agama dalam Kurikulum 2013 selalu ditambah dengan frasa “Budi Pekerti” seperti “Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti,” “Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti,” dan sebagainya. Selain itu, jauh hari sebelum terjadi fenomena “sekolah di rumah,” beliau sudah pernah mengatakan pernyataan yang kurang lebihnya seperti ini, “Setiap orang menjadi guru dan setiap rumah menjadi sekolah.” Menjelang Hari Pendidikan Nasional kemarin, inilah yang menjadi status saya di media sosial. Konsep pendidikan yang dimiliki oleh beliau ini sebenarnya ingin menekankan bahwa pendidikan itu bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, tidak tergantung apakah ada sekolah atau lembaga pendidikan. Jika setiap rumah menjadi sekolah, orang yang lebih tualah yang harus menjadi guru di sana.
Sejalan dengan pendapat Ki Hadjar Dewantara, Gereja Katolik juga memiliki pendapat tentang pendidikan. Pendapat itu berbunyi seperti ini, “Karena orang tua telah menyalurkan kehidupan kepada anak- anak, terikat kewajiban amat berat untuk mendidik anak mereka. Maka orang tualah yang harus diakui sebagai pendidik mereka yang pertama dan utama. Begitu pentinglah tugas mendidik itu, sehingga bila diabaikan, sangat sukar pula dapat dilengkapi. Sebab merupakan kewajiban orang tua: menciptakan lingkungan keluarga, yang diliputi semangat bakti kepada Allah dan kasih sayang terhadap sesama sedemikian rupa, sehingga menunjang keutuhan pendidikan pribadi dan sosial anak-anak  mereka. Maka keluarga itulah lingkungan pendidikan pertama keutamaan-keutamaan sosial, yang dibutuhkan oleh setiap masyarakat.” (Gravissimum Educationis nomor 3). Dari sini, para orangtua harus terus menyadari bahwa mereka adalah pendidik yang pertama dan utama dalam keluarga dari segi iman dan moral. Melanjutkan pendapat itu, Gereja juga menyatakan, Hak maupun kewajiban orangtua untuk mendidik bersifat hakiki,  karena berkaitan dengan penyaluran hidup manusiawi. Selain itu bersifat asali dan utama terhadap peranserta orang-orang lain dalam pendidikan, karena keistimewaan hubungan cinta  kasih antara orangtua dan anak-nak. Lagi pula  tidak tergantikan dan tidak dapat diambil-alih, dan karena itu tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada orang-orang lain atau direbut oleh mereka” (Familiaris Consortio nomor 36). Sejalan dengan tanggung jawab orangtua terhadap pendidikan, Gereja Katolik memberikan catatan mengenai kerjasama antara orangtua, negara dan Gereja dalam mendidik anak, Negara dan Gereja wajib sedapat mungkin membantu keluarga-keluarga, supaya mereka mampu menjalankan peranan mereka  sebagai pendidik seperti layaknya. Maka dari itu baik Gereja maupun  negara wajib menciptakan dan mendukung lembaga-lembaga serta kegiatan-kegiatan, yang secara wajar diminta oleh keluarga-keluarga, dan  bantuan itu harus sepadan dengan kebutuhan keluarga-keluarga. Akan tetapi dalam masyarakat mereka yang diserahi pengelolaan sekolah-sekolah jangan pernah lupa, bahwa para orangtua telah ditetapkan oleh Allah sendiri sebagai pendidik-pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anak mereka, dan bahwa hak mereka  sama sekali tidak boleh diganggu gugat. Akan tetapi selaras dengan hak mereka para orangtua mempunyai kewajiban serius, untuk sepenuhnya menyanggupkan diri memelihara hubungan yang akrab dan aktif dengan para guru serta para pemimpin sekolah (Familiaris Consortio nomor 40).
Dalam situasi pandemi seperti ini, berbagai pendapat yang pernah diungkap di atas menjadi sangat relevan. Saya sendiri mencoba melihat bahwa pandemi ini menjadi saat untuk kembali. Keluarga kembali menjadi tempat pendidikan yang pertama dan utama. Pendidikan kembali dalam bentuk yang paling asli, yaitu di dalam keluarga. Bapak Ibu yang putra-putrinya sedang belajar di rumah sebenarnya kembali mengalami apa yang disabdakan oleh Kitab Suci. Kitab Amsal sudah jauh hari mengajarkan bahwa orangtualah yang wajib membimbing dan mendidik anak-anak, "Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu" (Ams 1:8). Kitab Amsal menyatakan bahwa tugas ayah ibu merupakan tugas yang sangat mulia karena dari merekalah anak-anak mendapat didikan yang pertama kalinya. Meskipun demikian, sungguh tidak mudah bagi orangtua yang kemudian hari-hari ini dipaksa untuk mendampingi anak-anak dalam pendidikan di rumah karena mereka sudah tidak terbiasa lagi mendidik anak-anak secara penuh. Urusan pendidikan kemudian sebagian besar diserahkan kepada sekolah. Pandemi ini mengembalikan urusan pendidikan kepada orangtua. Sekolah dan guru menjadi pendukung. Bagi orangtua yang ingin menemukan gagasan bagaimana mendampingi anak belajar di rumah, silakan klik link ini: https://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/wp-content/uploads/2017/09/16.12.28-Mendampingi-Anak-Belajar-di-Rumah.pdf  
Yang terakhir, berkaitan dengan pendidikan dan keluarga di tengah pandemi ini, satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah kehadiran teknologi. Untunglah ada teknologi yang memudahkan orangtua berkolaborasi dengan sekolah dan guru meskipun kehadirannya belum merata. Perlu disadari bahwa teknologi itu pedang bermata dua. Kalau digunakan secara baik, buahnya positif. Kalau digunakan secara tidak baik, hasilnya negatif. Teknologi yang berdampak negatif terlihat saat seluruh anggota keluarga: ayah, ibu, dan anak lengkap tampak berkumpul tetapi masing-masing memegang smartphone dan sibuk dengan smartphone masing-masing. Mereka asyik dengan “screen time” mereka masing-masing dan tak peduli satu sama lain. Tak jarang mereka senyum-senyum sendiri sambil mata tak bisa lepas dari screen. Mereka highly-connected (sangat terhubung) dengan jagad internet, tapi celakanya highly-disconnected (sangat terlepas) dengan sesama anggota keluarga. Di sisi lain, teknologi yang berdampak terlihat saat orangtua bisa memanfaatkan teknologi untuk membantu anak-anak mereka menemukan hal-hal baik. Teknologi menjadi jalan untuk belajar hal-hal untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik. Pandemi Covid-19 ini sebenarnya memberi peluang bagi orangtua (dan guru) untuk menemukan dampak positif dari teknologi. Teknologi yang sebelumnya hanya dipakai untuk eksis dan narsis, sekarang berubah menjadi alat yang sangat efektif untuk mengembangkan diri. Media sosial yang tadinya hanya dipakai untuk update status dan haha hihi sekarang berubah peran menjadi ruang diskusi.  
Di Hari Pendidikan Nasional tahun ini, saya bersyukur karena boleh merayakan pendidikan dalam bentuk aslinya, yaitu keluarga. Situasi pendidikan yang berlangsung dalam kelarga ini ternyata memerlukan kerjasama antara orangtua dan guru. Kerjasama itu semakin efektif bila masing-masing pihak sadar dalam memanfaatkan teknologi sejauh ada. Ternyata, pandemi ini juga ada sisi positifnya ya... Selamat merayakan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2020... Selamat menempuh bentuk baru pendidikan Indonesia...  

Sumber Pustaka:
Albertus Adit. “Diskusi Mendikbud dan Najwa Shihab, Ini Dampak Positif-Negatif Corona di Dunia Pendidikan” dalam https://www.kompas.com/edu/read/2020/05/03/092749071/diskusi-mendikbud-dan-najwa-shihab-ini-dampak-positif-negatif-corona-di?page=all. Diakses 3 Mei 2020.
Bartolomeus Samho dan Oscar Yasunari. Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Tantangan-tantangan Implementasinya di Indonesia Dewasa ini. Bandung: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Katolik Parahyangan. 2010.
Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia. Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia. 1993.
Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia. Familiaris Consortio (Keluarga), Seri Dokumen Gerejawi No. 30. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia. 2019.

Minggu, 26 April 2020

Catatan Penjaga Podjok: Mengelola Kelas Daring #1

https://itjen.kemdikbud.go.id/public/post/detail/pengembang-teknologi-pendidikan-untuk-pembelajaran-daring
Sudah enam minggu Ruang Podjok ikut ditutup karena sekolah tutup. Tutupnya Ruang Podjok tidak berarti berhenti aktivitas. Aktivitas belajar tetap berlangsung meskipun tidak bertemu. Inilah yang disebut Kelas Daring Ruang Podjok. Waktu enam minggu bukan waktu yang singkat. Selama empat minggu, tugas demi tugas diberikan kepada para anggota Ruang Podjok. Di minggu kelima, Penjaga Podjok mengajak semua anggota Ruang Podjok untuk merefleksikan seluruh aktivitas yang terjadi di Kelas Daring Ruang Podjok. Minggu ini, sebagai pertanggungjawaban kinerja, Penjaga Podjok berusaha untuk menyusun sebuah laporan yang memuat aktivitas Work From Home. Semoga ini memberi gambaran tentang apa saja yang sudah terjadi selama mengelola Kelas Daring Ruang Podjok dari rumah.

Memulai Pembelajaran Online Mengikuti Instruksi Dinas
Berdasarkan Surat dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah nomor 0522/KADIN/III/2020 tertanggal 17 Maret 2020, ditetapkan bahwa sekolah-sekolah yang berada di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah wajib mengadakan Kegiatan Belajar Mengajar secara online (menggunakan WA atau medsos lainnya). Instruksi yang disampaikan kepada Kepala Sekolah ini kemudian ditindaklanjuti dengan perintah agar para guru menjalankan kegiatan belajar secara online. Selain itu, pada tanggal 16 Maret 2020, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menyatakan bahwa seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) diperintahkan untuk bekerja dari rumah untuk meminimalisasi penyebaran virus Corona. Hal ini merupakan tindak lanjut dari himbauan Presiden Joko Widodo pada konferensi pers di Istana Bogor Jawa Barat pada tanggal 15 Maret 2020. Presiden mengimbau untuk meminimalisasi penyebaran virus corona tipe baru (SARS-CoV-2) penyebab Covid-19, masyarakat diminta untuk bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah, yang salah satunya dilakukan melalui sistem bekerja dari rumah. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi pun mengeluarkan Surat Edaran nomor 19 Tahun 2020 tentang Penyesuaian Sistem Kerja Aparatur Sipil Negara dalam Upaya Pencegahan Covid-19 di Lingkungan Instansi Pemerintah. Isinya, ASN dapat bekerja di rumah/tempat tinggal, tetapi dipastikan ada dua level pejabat struktural tertinggi yang bekerja di kantor. Selain itu, ada larangan kegiatan tatap muka yang menghadirkan banyak peserta untuk ditunda atau dibatalkan. Penjaga Podjok sebagai bagian dari sekolah pun segera menindaklanjuti perintah tersebut.

Bekerja dan Belajar dari Rumah
Work From Home atau Bekerja dari Rumah merupakan istilah untuk menggambarkan aktivitas bekerja dari jarak jauh, lebih tepatnya bekerja dari rumah. Jadi, pekerja tidak perlu datang ke kantor tatap muka dengan para pekerja lainnya. Work From Home ini sebenarnya sudah tidak asing bagi para pekerja lepas atau freelance. Namun, mereka lebih sering menyebutnya dengan istilah Remote Working. Work From Home dan Remote Working sebenarnya tidak ada bedanya. Hanya beda istilah saja. Yang membedakan hanyalah peraturan perusahaan yang mengatur pekerjaan. T Crosbie dan J Moore menyebut bahwa bekerja dari rumah berarti pekerjaan berbayar yang dilakukan terutama dari rumah (minimal 20 jam per minggu). Begitu pula Belajar dari Rumah atau Learn From Home atau Study From Home. Pengertiannya hampir sama dengan Work From Home, tetapi aktivitas bekerja yang dilakukan adalah belajar karena yang menjalani pekerjaan itu adalah pelajar. Oleh karena itu, berkenaan dengan  Work From Home, guru tetap bekerja mengelola kelas dari rumah sedangkan siswa tetap belajar dari rumah dalam kelas yang dikelola oleh guru. Berbagai tulisan sudah mencoba mengulas kelebihan dan kekurangan Work From Home. Kelebihannya antara lain adalah 1) Biaya operasional kantor menurun, 2) Lebih fleksibel, 3) Produktivitas meningkat, 4) Kepuasan kerja meningkat, 5) Keseimbangan kerja dan hidup meningkat, 6) Terhindar dari gangguan lingkungan kerja, dan 7) Lebih dekat dengan keluarga. Namun, ada kelemahan juga, antara lain: 1) Sulit melakukan monitoring pekerja, 2) Hilangnya motivasi kerja, 3)  Banyak gangguan kerja, 4)  Miskomunikasi, 5)  Masalah keamanan data, 6)  Biaya operasional rumah meningkat, dan 7)  Tidak semua pekerjaan bisa dilakukan dari rumah. Tetapi, apapun kelebihan dan kelemahannya, Work From Home harus dilakukan untuk memutus rantai penyebaran wabah.

Persiapan Kelas Daring Ruang Podjok
Begitu mendengar bahwa setiap sekolah harus mengadakan kelas daring, Penjaga Podjok pun segera menyiapkan sistem pendukung. Yang pertama disiapkan adalah anggota Ruang Podjok. Hari-hari pertama, Penjaga Podjok menggunakan waktu untuk menyiapkan siswa dan siswi untuk mengikuti kelas daring. Yang terpenting adalah bahwa siswa dan siswi sadar bahwa pertemuan di kelas diubah menjadi pertemuan yang bisa diikuti darimana saja. Saat itu, Penjaga Podjok juga mulai berpikir aplikasi apa yang dapat digunakan untuk mengelola kelas daring ini. Yang terpikir untuk menyelenggarakan kelas daring ini adalah 1) harus terjangkau oleh semua siswa, 2) mudah, 3) murah, serta 4) tidak terlalu menyulitkan bagi siswa maupun orangtua. Akhirnya, yang dipilih oleh Penjaga Podjok adalah memberdayakan Whatsapp Grup Mata Pelajaran Agama Katolik dan Budi Pekerti per tingkat. Inilah cara yang menurut Penjaga Podjok cukup efektif untuk menyelenggarakan kelas daring karena sebelum diadakan kelas daring, grup Mata Pelajaran ini sudah diaktifkan untuk penyebarluasan informasi dalam pembelajaran reguler.

Mengelola Kelas Daring
Enam minggu sudah Penjaga Podjok mencoba mengelola Kelas Daring. Inilah kisah Kelas Daring Ruang Podjok dari minggu ke minggu. Pada minggu pertama (16-20 Maret 2020), kelas daring yang dikelola masih bersifat pendampingan awal dan pemantauan. Pada minggu itu, Penjaga Podjok menggunakan kelas daringnya untuk menyadarkan para siswa tentang bahaya virus Corona dan bagaimana seluruh anggota Ruang Podjok bisa terlibat mengatasi pandemi ini. Selain itu, materi kelas daring minggu pertama sangat terbantu dengan tugas yang sebelumnya sudah disampaikan kepada para siswa. Sudah menjadi kebiasaan selama bertahun-tahun bahwa siswa-siswi Katolik Kelas X dan XI akan mendapatkan tugas tertentu ketika mereka belajar di rumah karena kakak kelasnya sedang menjalani Ujian Nasional dan Ujian Sekolah. Nah, untuk materi minggu pertama, Penjaga Podjok terbantu dengan tugas yang sudah diberikan itu. Oleh karena itu, Penjaga Podjok di minggu pertama itu hanya memantau pelaksanaan tugas yang sudah diberikan. 
Pada minggu kedua (23-27 Maret 2020), barulah Kelas Daring Ruang Podjok dikelola secara agak serius. Pada minggu itu, Penjaga Podjok mengenalkan suatu cara belajar yang baru. Prinsipnya sederhana: Menjaga ritme. Apa itu? Menjaga ritme artinya melakukan hal-hal yang dilakukan seperti sewaktu kegiatan belajar mengajar di sekolah. Oleh karena itu, di awal minggu kedua, Penjaga Podjok memulai kelas daring dengan ajakan berikut melalui grup, “Untuk pembelajaran online, saya hanya menyarankan kepada kalian untuk meluangkan waktu selama 135 menit atau 3 x 45 menit sesuai dengan jam pelajaran saya di sekolah untuk mengerjakan tugas yang saya berikan. Di luar itu, waktu silakan diatur sendiri.”  Tulisan ini sangatlah penting. Mengapa penting? Supaya orang tahu batas. Saat pembelajaran reguler, aktivitas di Ruang Podjok untuk setiap siswa hanya dibatasi selama 135 menit atau 3 x 45 menit per minggu. Patokan itulah yang digunakan juga untuk menyelenggarakan kelas daring. Selain itu, tujuannya adalah supaya siswa-siswi juga memberikan perhatian pada mata pelajaran yang lain – kalau memang gurunya juga mengadakan kelas daring. Pembatasan waktu juga penting agar orang tidak egois. Kadangkala seseorang ingin menguasai seluruh waktu dan menjadikan dirinya pusat perhatian. Ini tidak sehat. Oleh karena itu, perlu dibatasi supaya orang menjadi sehat. Ritme inilah yang terus dijaga sampai minggu keempat. Prinsipnya, waktu belajar yang digunakan Kelas Daring Ruang Podjok adalah 135 menit. Selebihnya, itu urusan siswa-siswi sendiri.
Di minggu kedua itu, model tugas yang diberikan kepada siswa kelas X dan XI sama, yaitu membuat catatan. Mengapa membuat catatan? Tugas ini didasari pada sebuah penelitian yang menyatakan bahwa “menulis di kertas ternyata memperkuat daya ingat  dan kemampuan memahami konsep.” Penelitian terbaru yang dimuat di Jurnal Psychological Science mencatat dengan pulpen dan kertas lebih meningkatkan kualitas belajar dibandingkan menggunakan laptop. Penelitian itu juga menyimpulkan bahwa menulis merupakan strategi yang lebih baik untuk menyimpan ide dalam waktu yang panjang. Selain itu, para peneliti mendapati bahwa menulis dapat menguatkan proses belajar yang tak dapat disamai dengan mengetik. Penelitian tersebut dilakukan oleh Pam Mueller dan Daniel Oppenheimer yang merupakan psikolog dari Princeton dan Universitas California, Los Angeles. Mereka menguji efek menulis catatan pada mahasiswa dalam dua seri percobaan. Dua kelompok mahasiswa diminta mendengarkan materi kuliah dari dosen yang sama. Mereka diperbolehkan menggunakan semua strategi untuk menyimpan hal-hal penting di perkuliahan. Satu setengah jam kemudian, partisipan diuji soal materi kuliah itu. Hasil studi menunjukkan bahwa mahasiswa yang menulis dengan tangan jauh lebih baik dalam kualitas belajar. Penelitian itu menunjukkan bahwa menulis merupakan strategi yang lebih baik untuk menyimpan dan mengendapkan ide dalam kurun waktu lama dibandingkan dengan mengetik. Studi sejenis yang dipublikasikan Intech menemukan bahwa menulis dengan tangan memberikan kesempatan kepada otak untuk menerima umpan balik. Hal tersebut tidak terjadi jika orang menggunakan papan ketik (keyboard). Pergerakan saat menulis dengan tangan "meninggalkan memori atau daya ingat pada bagian sensormotorik otak." Aktivitas ini membantu orang mengenal huruf dan membangun hubungan antara membaca dan menulis. Inilah dasar mengapa tugas di minggu kedua itu adalah mencatat. Seorang kawan pernah mengatakan, “Tubuh itu merekam.” Dalam hal ini, Penjaga Podjok meyakininya. Keyakinan inilah yang kemudian ingin ditularkan kepada para siswa. Tugas membuat catatan ini masih dilanjutkan di minggu ketiga  untuk siswa-siswi kelas XI  dan di minggu keempat untuk para siswi kelas X.
Di minggu ketiga (30 Maret – 3 April 2020) Kelas Daring Ruang Podjok, aktivitas untuk siswa-siswi kelas X dan XI berbeda. Siswa-siswi kelas XI masih melanjutkan tugas membuat catatan, sedangkan para siswi kelas X mengerjakan tugas Ulangan 2 dan Ulangan 3. Ulangan 2 dan Ulangan 3 untuk kelas X ini merupakan tugas Take Home Exam yang sudah diberikan sejak tanggal 12 Maret 2020. Ada serangkaian pertanyaan yang harus dijawab untuk mendapatkan nilai. Begitu pula di minggu keempat (6-9 April 2020), ada aktivitas yang berbeda untuk kelas X dan XI. Para siswi kelas X diberi tugas membuat catatan, sedangkan siswa-siswi kelas XI diminta menyusun Struktur Kepengurusan Dewan Paroki yang ada di parokinya masing-masing. Siswa-siswi kelas XI juga sudah mendapatkan tugas ini sejak 12 Maret 2020. Di penghujung minggu keempat Kelas Daring Ruang Podjok, seluruh anggota Ruang Podjok diajak untuk mengalami perayaan liturgi Paskah yang tentunya dirayakan dari rumah saja.
Setelah Paskah, Penjaga Podjok mendapat jatah untuk piket di sekolah. Hari itu, mulai berpikir apa yang akan dilakukan di minggu kelima (13-17 April 2020). Pada minggu keempat, sudah terpikir untuk mengadakan refleksi dan evaluasi. Hari itu, gagasan tersebut semakin dimatangkan. Mengapa dipilih Refleksi? Refleksi merupakan sebuah cara yang dipakai untuk mengembangkan pembelajaran. Ki Hadjar Dewantara mengungkapkan filosofi pendidikan: “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani – Di depan memberi teladan, di tengah membangun niat, di belakang memberi daya.” Filosofi itu mensyaratkan bahwa pendidik harus mampu menjadi teladan, pelayanan, pengayoman, dan inspirator bagi peserta didik. Untuk dapat menerapkan filosofi tersebut terutama pada bagian pelayanan, perlulah tindakan yang dapat memuaskan peserta didik berupa kegiatan dimana kedua belah pihak yang terlibat dalam proses belajar mengajar diberikan ruang untuk saling menilai. Kalau pendidik menilai peserta didik, itu biasa. Namun, peserta didik menilai pendidik, itu hal yang luar biasa dan istimewa. Refleksi menjadi kegiatan yang sangat penting untuk memberikan informasi positif tentang bagaimana pendidik melakukan tugasnya sekaligus sebagai bahan observasi untuk mengetahui sejauh mana tujuan pendidikan itu tercapai. Refleksi juga akan mengungkap tingkat kepuasan peserta didik dalam proses belajar mengajar, sehingga dapat dijadikan wahana untuk menjalin komunikasi yang baik antara pendidik dengan peserta didik.  Inilah  refleksi dalam pendidikan. Refleksi semacam inilah yang kemudian dibuat di minggu kelima. Tujuannya satu: semoga Kelas Daring Ruang Podjok bisa menjadi semakin baik dari hari ke hari. Proses refleksi dibantu dengan alat teknologi modern yang disebut Google Forms. Inilah alat yang kemudian banyak membantu proses pembelajaran di Kelas Daring Ruang Podjok. Kisah tentang Minggu Refleksi ini sudah dimuat dalam postingan sebelumnya (Lihat posting Berhenti Sejenak untuk Berefleksi tentang Pembelajaran dari Rumah).
Akhirnya, tibalah minggu keenam (20-22 April 2020). Minggu keenam di Kelas Daring Ruang Podjok diisi dengan Ulangan Tengah Semester. Lho kok kelas daringnya cuma 3 hari? Tenang Bro... Kelas Daring Ruang Podjok mengikuti aturan pemerintah. Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah nomor 443.2/09004 tertanggal 13 April 2020 menyatakan bahwa tanggal 23, 24 dan 27 April 2020 ditetapkan sebagai libur awal puasa Ramadhan. Karena aturannya begitu, ya Kelas Daring Ruang Podjok hanya beraktivitas sampai tanggal 22 April 2020 saja ya... Sekali lagi, ini untuk menjaga ritme. 
Waktu belajar yang hanya 3 hari ini akhirnya diisi dengan aktivitas yang sedikit sajalah: Ulangan Tengah Semester. Beberapa siswa sempat kebingungan dan bertanya apakah Ulangan Tengah Semester ini untuk semua mata pelajaran? Ini yang menjadi jawaban saya: “Tidak. Setiap guru diberi kebebasan untuk mengelola pembelajaran daring termasuk pertemuan, tugas, Ulangan dan sebagainya selama proses Pembelajaran dari Rumah. Saya memilih untuk tetap mempertahankan ritme yang berjalan ketika sekolah biasa, termasuk mengadakan tugas, Ulangan, UTS...” Sekali lagi, hanya ingin mempertahankan ritme... Lagi-lagi, Ulangan ini pakai Google Forms... Open Book lagi... Itulah yang dijalani sampai di minggu keenam...

Ke depan apalagi ya yang mau dilakukan? Entahlah... Tapi yang jelas perlu terus berinovasi dari minggu ke minggu... Sampai kapan Kelas Daring Ruang Podjok ini akan berjalan? Penjaga Podjok pun tidak tahu... Yang jelas, sampai saat ini sekolah masih menetapkan untuk belajar secara daring sampai tanggal 30 April 2020... Kelanjutannya, tunggu informasi terbaru dari sekolah...