Sabtu, 18 Oktober 2014

Menghormati Maria secara Katolik

Gereja Katolik dan Maria
Maria itu orang kudus paling populer dalam Gereja Katolik, bahkan mungkin bagi seluruh dunia. Jika kita mencari berapa versi lagu Ave Maria, kita akan menemukan ratusan versi. Setidaknya, ada beberapa versi yang lazim dinyanyikan, antara lain: Ave Maria Schubert, Ave Maria Bach Gounod, dan Ave Maria Caccini. Gereja Katolik menempatkan Maria secara istimewa. Dikatakan bahwa “De Maria numquam satis – Berbicara tentang Maria tidak akan ada habisnya.” Gereja Katolik mengakui peran istimewa Maria dalam rencana keselamatan Allah serta merefleksikan dan meneladan pribadi Maria. Maria berada di posisi antara manusia dan Allah. Lewat Maria, umat Katolik memohonkan karunia keselamatan dan merasakan kedekatan dengan Allah. Oleh karena itu, praktek kebaktian terhadap Maria tumbuh dan berkembang di kalangan umat Katolik.

Awal Mulanya
Pada dua abad pertama, Maria belum dihormati seperti sekarang, meskipun saat itu sudah ada penghormatan kepada para rasul dan martir. Penghormatan kepada para rasul dan para martir itu didasarkan pada tindakan mereka yang mengikuti Yesus dalam kematian (Mrk 8:34 dan Luk 14:27). Penghormatan kepada Maria mulai muncul sejak abad 2. Saat itu, diinspirasikan oleh peran Kristus sebagai Adam baru (Rm 5:12-21), berkembanglah pandangan Maria sebagai Hawa baru yang turut membawa keselamatan karena ketaatannya kepada Allah. Gelar Hawa baru yang diterapkan kepada Maria diungkapkan oleh Santo Yustinus Martir (+ 163 M). “Hawa ditipu oleh ucapan malaikat yang jahat sehingga ia tidak taat kepada perintah  Allah dan semua itu membawa kematian, sedangkan Maria, Perawan  yang setia memperhatikan perkataan malaikat dengan baik sehingga dengan kesediaannya melahirkan Sumber Kehidupan bagi dunia.” Bahkan, Santo Hieronimus (+ 419 M) menyatakan, “Kematian ada melalui Hawa, kehidupan lahir melalui Maria.” Lukisan dinding paling awal tentang Perawan Maria dibuat pertengahan abad 2 dan ditemukan di Katakombe Priscilla.

Doa Awali untuk Maria
Penghormatan kepada Maria semakin lazim mulai abad 3 seiring semakin lazimnya penghormatan kepada orang-orang kudus. Bahkan, sekitar tahun 250, sudah muncul doa “Di Bawah Perlindunganmu,” sebuah doa singkat untuk memohon perlindungan kepada Maria. Teks paling awal doa ini ditemukan dalam liturgi Natal Gereja Ortodox Koptik dan tertulis dalam bahasa Yunani. Doa tersebut digunakan baik dalam liturgi Gereja Koptik maupun ritus Konstantinopel, Ambrosius, dan Romawi sampai sekarang. Dokumen ini pertama kali dimuat dalam buku Catalogue of the Greek and Latin Papyri in the John Rylands Library, III,Theological and Literacy Texts, Manchester pada  tahun 1938. Doanya kurang lebih seperti berikut, “Kami mengungsi ke dalam perlindungan-Mu, ya Bunda Allah yang Amat Suci; janganlah menganggap remeh permohonan yang kami panjatkan dalam kesesakan ini, tetapi lepaskanlah kami selalu dari segala marabahaya, ya Perawan yang mulia dan terberkati. Amin.” Jejak-jejak doa ini terekam dalam kidung-kidung yang digunakan dalam Ibadat Penutup (Completorium) seperti dinyatakan dalam kidung berikut ini: “Santa Maria, Bunda Kristus, kami berlindung padamu, janganlah mengabaikan doa kami bila kami dirundung nestapa, bebaskanlah kami selalu dari segala mara bahaya, ya Perawan yang terpuji” atau “Salam ya Ratu, Bunda yang berbelas kasih, kami semua memanjatkan permohonan, kami amat susah, mengeluh mengesah, dalam lembah duka ini. Ya Ibunda, ya Pelindung kami, limpahkanlah kasih sayangmu yang besar kepada kami. Dan Yesus Puteramu yang terpuji itu, smoga Kautunjukkan kepada kami, o Ratu, o Ibu, o Maria, Bunda Kristus.”

Perkembangan Ajaran Iman
Sejak abad keempat, para teolog mulai memikirkan hubungan antara Yesus dan BundaNya. Ajaran yang paling terkenal pada masa itu adalah ajaran mengenai Maria sebagai Bunda Allah atau Theotokos yang dikeluarkan oleh Konsili Efesus pada tahun 431. Sekitar tahun 430, dibuatlah mosaik pada Basilika Santa Maria Maggiore, Roma. Dalam mosaik itu, belum ada halo (lingkaran kudus) di sekitar kepala Maria. Bisa disimpulkan bahwa Maria saat itu belum begitu populer sebagai orang yang dikuduskan. Mulai abad 5, dirayakanlah beberapa pesta Santa Maria seperti Kelahiran Maria (8 September), Kabar Sukacita (25 Maret), dan Yesus Dipersembahkan ke Kenisah (2 Februari). Saat itu, lagu dan madah pujian bagi Maria mulai disusun. Seiring dengan itu, lukisan-lukisan mengenai Maria mulai dibuat. Awalnya, lukisan Maria selalu digambarkan dengan Puteranya. Lama-lama, mulai abad 6, Maria banyak digambarkan sendiri sebagai Ratu. Berikut ini adalah beberapa kisah seputar lukisan tentang Maria:

1)        Eudokia (istri Theodosius II, + 460) mengirimkan lukisan Bunda Allah" yang diberi nama Ikon Hodegetria dari Yerusalem kepada Pulcheria, puteri Kaisar Arcadius
2)        Gereja Santa Maria Antiqua memiliki lukisan yang menggambarkan Maria menerima kabar gembira yang dibuat antara tahun 565-578
3)       Pada abad 6, dilukislah sebuah ikon Maria yang tersimpan di Biara Santa Katarina
4)       Ukiran tentang Maria dari gading dibuat sekitar tahun 800 sebagai sampul buku Kodeks Aureus dari Lorsch, Jerman
5)       Pertapaan Vatopedi, Gunung Athos, Yunani menyimpan sebuah ikon Maria yang dibuat sebelum tahun 870
6)       Evengelarium Svanhild memiliki sampul lukisan Maria yang dibuat antara tahun 1058-1085
7)       Ikon Kristen Orthodoks Theotokos Iverskaya dibuat sekitar abad 10
8)       Sekitar abad 13 dibuatlah ikon Maria bergaya Italo-Konstantinopel

Perkembangan Devosi
Mulai abad 14, para teolog, sastrawan, seniman dan umat berlomba-lomba memuji Maria dan mengharapkan pertolongan melalui perantaraan Maria. Saat itu, mulai muncul devosi populer kerakyatan seperti Doa Rosario, Angelus, dan Ziarah. Bahkan, devosi saat itu kadang-kadang agak menyimpang dari akal sehat. Terimakasih kepada kalangan Protestan karena kritikan mereka membuat Gereja Katolik kembali memberikan arah yang benar terhadap devosi ini. Pada awal abad 19 sampai Konsili Vatikan II, para teolog dan umat semakin memperlihatkan devosi yang besar kepada Maria. Dalam kurun waktu ini, mulai bermunculan tempat-tempat ziarah yang terkenal seperti: La Salette (1846), Lourdes (1858), Sendangsono (1904), dan Fatima (1917).

Puncak Penghormatan
Penghormatan Gereja Katolik kepada Maria semakin berpuncak pada tahun 1854 dan 1950. Tahun 1854, Paus Pius IX mengeluarkan dogma Maria yang dikandung tanpa noda. Dosa asal pada diri Maria terhapus oleh rahmat yang luar biasa dari Tuhan. Tahun 1950, Paus Pius XII mengeluarkan dogma Maria diangkat ke surga. Penghapusan dosa Maria memberikan dampak bahwa dia tidak dapat mati. Penghapusan dosa ini membuat Maria lepas dari hukum kematian badan.

Pedoman Berdevosi
Inilah cara-cara kita menghormati Maria sepanjang masa. Devosi kepada Maria menjadi jawaban orang beriman Katolik atas peranan Maria dalam rencana keselamatan Allah. Sekarang, devosi terhadap Maria diatur dalam ajaran Konsili Vatikan II, khususnya Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium artikel 52-69 (1964) dan Surat Apostolik Marialis Cultus (1974).

Bahan di atas yang telah dituliskan ini merupakan bahan sekolah iman Kerohanian Katolik SMK Negeri 3 Surakarta pada tanggal 17 Oktober 2014. Bulan Oktober adalah bulan yang dipakai oleh Gereja Katolik sebagai saat untuk menghormati Maria. Oleh karena itu, sekolah iman yang dilaksanakan bulan ini juga mengambil tema tentang Maria. Semoga bermanfaat bagi semuanya. 




Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar