Sabtu, 22 Februari 2014

Kasih adalah Hukum Tertinggi


Mengikuti tema populer yang sering muncul setiap bulan Februari akibat adanya hari Valentine, Ruang Podjok mengangkat KASIH sebagai tema Sekolah Iman bulan ini.

Pengantar untuk Memahami Kasih
Kasih merupakan tema pokok yang selalu dibicarakan oleh Gereja. Tema ini tidak habis-habisnya dibicarakan. Tema pokok tentang kasih ini pertama-tama perlu kita dekati melalui apa yang tertulis dalam Kitab Suci. Dalam Kitab Suci, tema kasih tersebar luas mulai dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Bahkan dapat dikatakan bahwa seluruh Kitab Suci adalah uraian mengenai bagaimana kasih Allah diwujudkan kepada umatnya. Allah mulai mewujudkan kasih kepada umatNya melalui pemilihan bangsa Israel sebagai umatNya dan akhirnya memberikan Yesus Kristus PutraNya sendiri untuk menebus dosa umat manusia yang telah dipilih menjadi umatNya. Meskipun manusia tidak membalas kasih Allah secara sepadan, Allah tetap mencintainya dengan kasih yang tidak terbatas. Dalam pembahasan ini, kita akan membatasi pembicaran dalam beberapa pokok mengenai kasih.

Mengapa Allah adalah Kasih?
Dalam Surat Yohanes, tertulis, “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah sebab Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:8). Dalam kutipan ini, kita diberi pemahaman bahwa Allah adalah kasih. Dengan demikian, orang yang tidak mengasihi adalah orang yang tidak mengenal Allah. Allah adalah sumber kasih karena kebaikan hatinya yang begitu melimpah kepada ciptaanNya, terutama kepada manusia. Pernahkah kita berpikir mengapa kita diciptakan di dunia ini? Kalau dipikir-pikir, tindakan menciptakan atau tidak menciptakan sebenarnya tidak akan menambah keuntungan sedikitpun bagi Allah. Malah, tindakan menciptakan itu kadangkala menjadi kerugian bagi Allah karena ciptaan – terutama manusia – sering tidak taat kepadaNya. Namun, Allah tetap menciptakan kita. Mengapa begitu? Salah satu kemungkinan jawaban yang saya temukan adalah karena Allah mengasihi kita dan memberi kesempatan kepada ciptaanNya untuk melakukan sesuatu. Dengan menciptakan kita, Ia ingin mengutus kita untuk berbuat sesuatu di dunia ini. Kita tidak mungkin diciptakan di dunia ini tanpa suatu tujuan. Kalau kita diciptakan, pasti ada tujuan yang diinginkan Allah dengan penciptaan kita. Kalau dilihat dalam kerangka penciptaan, kiranya dapat dipahami bahwa satu-satunya motivasi Allah untuk menciptakan adalah karena Ia mengasihi ciptaanNya. Penjelasan ini kiranya dapat memberi gambaran kepada kita mengapa Allah adalah kasih. Ia adalah kasih karena Ia mengasihi dengan memberikan kesempatan bagi ciptaanNya untuk menjalani kehidupan.    

Allah Mengasihi Manusia Sepanjang Perjalanan Hidupnya
Kita mengetahui bahwa Allah begitu mengasihi manusia sehingga Ia ingin bahwa manusia senantiasa selamat. Sejak awal mula dunia, Allah telah menunjukkan kasih ini dengan menempatkan manusia pertama di Taman Eden, di mana segala hal yang dibutuhkan manusia disediakan oleh Allah (bdk. Kej 1:29). Tetapi, manusia menjadi makhluk yang kurang berterima kasih dengan melanggar larangan Allah. Allah pun menghukum manusia dengan mengusirnya dari Taman Eden. Meskipun diusir, Allah tetap membekali manusia dengan kemampuan untuk mengusahakan kehidupannya (Kej 3). Setelah manusia keluar dari Taman Eden, Allah tetap memperhatikan hidup manusia. Ia selalu menginginkan agar ciptaanNya selamat. Ini terlihat salah satunya melalui kisah Nuh (Kej 6:9 dst). Ia pun memilih suatu bangsa untuk dijadikan umatNya dan memberikan janji-janji keselamatan kepadanya. Abraham dipilih untuk mewakili pemilihan ini. Ia diberi janji sebagai tanda keselamatan dari Allah (Kej 12 dan 17).
Dalam perjalanan waktu, Allah menyertai kehidupan bangsa pilihannya ini. Ia hadir melalui berbagai macam hal. Kepada Musa, Ia menampakkan penyertaannya “dari muka ke muka” (Kel 3 dan 24) Kepada bangsa Israel, ia hadir melalui tiang awan dan tiang api pada saat pembebasan dari Mesir (Kel 13) dan melalui Tabut Perjanjian dan Kemah Suci pada saat mengembara di padang gurun (Kel 25 dan 26). Setelah masa itu berlalu, Allah tetap menunjukkan kasihNya kepada umat pilihannya melalui kehadiran orang-orang terpilih mulai dari Yosua, hakim-hakim, raja-raja, dan para nabi. Kisah penyertaan Allah kepada manusia pilihannya ini dapat kita lihat dalam kisah Perjanjian Lama, baik Protonakonika maupun Deuterokanonika.

Yesus Kristus sebagai Puncak Wujud Kasih Allah kepada Manusia
Menurut Gereja, kasih yang dimiliki oleh Allah itu kemudian diejawantahkan dalam kehidupan manusia secara penuh dalam diri Yesus Kristus Putra Allah. Penulis Injil Yohanes menyatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal” (Yoh 3:16). Yesus Kristus adalah wujud kasih Allah sehabis-habisnya karena Dialah menampakkan kasih Allah yang total. Kalau kita melihat kisah hidup Yesus dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam Injil, kita akan melihat bagaimana kasih Allah itu ditampakkan secara nyata dalam kehidupanNya. Yesus hidup bersama dan mengalami pahit getir kehidupan manusia. Ia sungguh tahu bagaimana manusia harus menjalani hidupnya. Ia tertawa tetapi juga menangis. Ia dipuja namun juga pernah ditolak. Ia bergembira namun pernah juga bersedih. Melalui hidupNya yang sederhana, Ia mengalami bagaimana senang dan sulitnya menjadi manusia normal.   
Kehidupan Yesus sebagai perwujudan kasih tidak berhenti sampai di situ saja. Ia bahkan memberikan contoh untuk melakukan kasih secara total, yaitu dengan mengorbankan dirinya. Pengorbanan diri itu dilakukan melalui wafatNya di kayu salib. Ia memberikan nyawanya sebagai tebusan dosa manusia. Hidupnya menjadi pembelaan bagi orang-orang yang ingin diselamatkannya. Pengorbanan Yesus ini secara indah dinyatakan oleh rasul Paulus bahwa Yesus Kristus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:6-8). Yesus memberikan hidupNya secara total bagi manusia. Maka, sangat wajarlah jika kita menganggap Yesus sebagai puncak perwujudan kasih Allah kepada manusia. Inilah yang diajarkan Benediktus XVI dalam ensiklik Deus Caritas Est yang manyatakan bahwa puncak karya kasih Allah tampak dalam seluruh hidup Yesus. Dia adalah kasih Allah yang menjelma (Deus Caritas Est 12).

Kasih Sebagai Hukum yang Utama
Dalam hidupNya, Yesus membawa kasih sebagai hukum yang terutama. Penulis Injil Markus mengisahkan sebagai berikut, “Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepadaNya dan bertanya: Hukum manakah yang paling utama? Jawab Yesus: Hukum yang terutama ialah: Dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini. Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: Tepat sekali, Guru, benar kataMu itu, bahwa Dia esa dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan. Yesus melihat bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah! Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus (Mrk 12:28-34).
Hukum ini bukanlah hukum baru. Hukum ini sudah ada sejak lama. Hukum ini ada dalam kehidupan bangsa Israel di Perjanjian Lama. Hukum tentang mengasihi Allah dapat kita lihat dalam Kitab Ulangan (Ul 6:4-5) dan hukum tentang mengasihi manusia dapat kita lihat dalam Kitab Imamat (Im 19:18). Yesus tidak membawa hukum baru tetapi Ia mengungkap kembali kebijaksanaan-kebijaksanaan yang sudah ada sebelumnya. Ia ingin agar manusia di zamannya – dan tentunya di zaman kita – untuk melihat berbagai kebijaksanaan yang sebenarnya sudah ada dalam kehidupan kita. Ia menyatakan, “Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini” (Mrk 12:31b). Hukum terutama yang diajarkan oleh Yesus adalah kasih. Kasih dijadikan dasar oleh Yesus untuk bertindak dalam kehidupan. Dengan demikian, setiap pengikut Yesus dan orang yang mengakui ajaranNya diajak untuk melakukan yang diajarkan oleh Yesus ini.

Tanggapan Manusia (Seharusnya) terhadap Kasih
Kita telah memahami bagaimana kasih yang berasal dari Allah itu hidup sepanjang sejarah manusia. Kasih itu hidup dan menjiwai relasi antara Allah dan manusia. Nah, setelah Allah memberikan kasihNya kepada manusia, pertanyaan yang dapat diajukan sekarang adalah bagaimana manusia harus membalas kasih itu? Jawaban yang singkat tetapi mengena diberikan oleh penulis Surat Yohanes, “Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yoh 4:19). Kutipan ini dengan jelas menyatakan pada kita bahwa yang seharusnya kita lakukan adalah mengasihi.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana melakukan kasih itu? Saya menawarkan dua konsep yang kiranya dapat dijadikan sarana untuk melakukan kasih, yaitu mengasihi sesama manusia dan mengasihi sesama ciptaan. Pertama, mengasihi sesama manusia dapat dilakukan melalui tindakan memanusiakan manusia. Memanusiakan manusia merupakan pemahaman dasar yang wajib dipunyai saat manusia ingin berhubungan dengan sesamanya. Konsep “memanusiakan manusia” akan membimbing kita kepada nilai persaudaraan, kebersamaan, persatuan, dan sebagainya. Dengan memanusiakan manusia, seseorang menempatkan dirinya dalam derajat yang sama dengan orang lain, tidak lebih tinggi dan tidak lebih rendah. Bahkan, orang yang derajatnya rendah diangkat agar mempunyai derajat yang sama. Kedua, mencintai sesama ciptaan diwujudkan melalui tindakan menciptakan keutuhan alam ciptaan. Keutuhan alam ciptaan adalah keseluruhan hidup dan relasi yang harmonis dan terjadi serta berkembang di antara manusia dan ciptaan lainnya. Pelestarian keutuhan alam ciptaan mendesak untuk diwujudkan karena merupakan panggilan dan tugas mendasar manusia untuk mengusahakan dan memelihara alam ciptaan. Dua hal inilah yang saya pikir dapat kita lakukan untuk mewujudkan kasih kita kepada dunia.


Keteladanan Kasih yang Konkret
Bulan Februari ini, Paus Fransiskus melelang Harley-Davidson Dyna Super Glide miliknya. Proses pelelangannya ditangani oleh rumah lelang Bonhams. Motor itu menarik banyak perhatian peminat lelang dari berbagai penjuru dunia. Sehari menjelang acara lelang pada Kamis di  Paris, Prancis, rumah lelang Bonhams mengemukakan bahwa telah menerima sekitar 30 tawaran yang harganya jauh di atas perkiraan. Seperti dilaporkan AFP,  Bonhams memperkirakan moge Dyna Super Glide dengan tanda tangan Paus Fransiskus itu akan lepas dengan harga antara 12 ribu hingga 15 ribu euro. “Seperti yang kami perkirakan, peminatnya banyak. Lelang moge Paus akan menjadi bintang. Hasilnya pasti akan sesuai dengan keinginan si pemilik pertama. Tanda tangan paus, yang pertama kali ada pada kendaraan jenis ini, membuat moge tersebut unik,” kata juru bicara Rumah Lelang Bohhams Prancis. Moge tersebut dipajang di Grand Palais, Paris, tempat lelang berlangsung.
Motor Harley Davidson berjenis Dyna Super Glide 1.585cc itu adalah hadiah dari perusahaan Harley-Davidson kepada Paus Fransiskus pada Juni 2013. Motor itu diberikan oleh Willie G. Davidson, cucu pendiri Harley-Davidson, kepada Paus Fransiskus dalam rangka ulang tahun ke-110 perusahaan motor tersebut. Hadiah tersebut diberikan karena  Roma menjadi salah satu kota yang menjadi tuan rumah pesta perayaan ulang tahun perusahaan motor itu. Tanda tangan  "Francesco" ada di tangki Harley-Davidson itu. Perusahaan sepeda motor asal Milwaukee itu memberikan sebuah sepeda motor plus jaket kepada pemimpin umat Katolik itu untuk ditandatangani. Pada November 2013, Paus Fransiskus menyumbangkan motor dan jaket yang diterimanya tersebut kepada Caritas Roma yang merupakan badan amal Gereja Katolik Roma. Dana dari penjualan dua barang itu akan dipakai untuk biaya renovasi hostel Don Luigi di Liegro dan  dapur umum di stasiun kereta Termini, Roma yang menjadi tempat penampungan dan dapur umum bagi para tunawisma.
Pada hari Jumat, 7 Februari 2014, Harley-Davidson milik Paus Fransiskus tersebut laku terjual senilai Rp 4 miliar. Pembeli di Balai Lelang Bonhams tersebut adalah seorang Eropa yang tidak disebutkan namanya. Pria yang menolak disebut namanya itu membayar jauh melebihi harga penawaran yaitu Rp 192 juta. “Ini bakal jadi rekor penjualan Harley-Davidson di abad XXI,” kata Ben Walker, kepala pelelangan sepeda motor di Bonhams. Selain sepeda motor, Bonhams juga melepas jaket kulit Harley-Davidson dengan tanda tangan Paus Fransiskus seharga Rp 939 juta. Pembelinya hanya disebut seorang dari luar Prancis. “Tidak ada jaket lain semahal itu,” kata Walker.
Kisah ini hanya salah satu dari sekian banyak perwujudan kasih dalam kehidupan kita. Pemimpin Gereja kita telah memberikan teladan untuk berbuat kasih. Ia tidak mementingkan kesenangan pribadinya namun berpikir mengenai keperluan orang lain yang lebih membutuhkan.

Pengantar Memasuki Masa Prapaska
Melalui sedikit contoh dan pembahasan ini, kita diajak bersiap untuk memasuki Masa Prapaska tahun 2014 ini. Tema Aksi Puasa Pembangunan Keuskupan Agung Semarang kali ini adalah “Berikanlah Hatimu untuk Mencintai, Ulurkanlah Tanganmu untuk Melayani.” Tema ini merupakan kutipan dari seorang pelayan Gereja yang sangat terkenal, yaitu Ibu Teresa dari Kalkuta. Melalui sedikit permenungan ini, marilah kita memasuki Masa Prapaska dengan hati yang terbuka untuk mencintai dan tangan yang terulur untuk melayani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar